KOLEKSI CERITA GAY NAKAL LOKAL
8878Please respect copyright.PENANA3zL9ryd2nI
********
8878Please respect copyright.PENANA8GbK5mwQXX
8878Please respect copyright.PENANAcS3bC1MmTk
Semua teman-temannya sudah memainkan video game terbaru yang mulai dijual dipasaran sejak dua bulan lalu, tapi orang tua Fajar terlalu kolot dan super irit jika harus membelikannya barang-barang seperti itu, alasannya karena game tidak ada hubungannya dengan sekolah Fajar dan video game milik Fajar yang lama juga masih bagus.
“Tapi kan video game lama milikku itu adalah bekasmu ketika remaja, Dad! Sudah sangat ketinggalan zaman!”
Tapi orang tua Fajar tidak mempedulikan rengekan putranya itu dan malah mengunci diri di kamar selama berjam-jam.
Fajar coba memikirkan cara lain untuk membeli apa yang diinginkannya, yakni dengan menabung dari uang jajannya, tapi itu terlalu lama untuk terkumpul dan dia sudah tak sabar ingin pamer. Fajar coba memikirkan cara lain, yaitu dengan sengaja merusak video game lama miliknya, kalau yang lama rusak, pasti akan dibelikan yang baru kan?
Sialnya, ayahnya itu justru memberikan Fajar video game lama milik temannya yang sudah bertahun-tahun tinggal di gudang! Ini lebih jadul daripada miliknya sebelumnya!
“Keterlaluan!”
Sekarang Fajar dengan sangat terpaksa harus ikut ayah dan ibunya pulang ke rumah nenek mereka yang ada di Pulau Bali.
Terakhir kali Fajar datang ke Bali adalah ketika kelas 2 SMP, sejak memiliki geng Fajar jadi sangat sibuk dengan pertemanannya dan selalu menolak untuk diajak pergi, tapi kali ini agak berbeda, dia dipaksa, mungkin juga bakalan dapat warisan karena neneknya sudah sangat tua, yah meski Fajar pun juga tak yakin kalau neneknya sekaya itu. Bukan berarti dia mendoakan neneknya supaya cepat mati, loh, ya!
Bali tentu saja sangat berbeda dengan Bandung, tempat tinggalnya.
Banyak warga lokal yang mengantungkan hidupnya pada hasil laut dan pariwisata di sini. Mungkin yang paling membedakan adalah budayanya, di sini ada banyak sekali orang-orang lokal yang beribadah setiap pagi dengan memakai pakaian adat dan kain — untuk laki-laki — di atas kepala mereka.
“Ahh, aku harus belajar bahasa Bali mulai besok.” Fajar menggerutu, karena dia akan tinggal di Bali selama seminggu, menghabiskan musim panas di sini. Sementara orang tuanya, akan bersenang-senang bersama menikmati pantai. “Sial, aku juga ingin punya pacar.”
Atau setidaknya, dia akan memiliki banyak waktu luang untuk memikirkan cara merayu neneknya agar mau membelikannya video game. Karena Fajar adalah cucu tunggal, tentu semua limpahan kasih sayang hanya tertuju padanya.
Siang itu cuaca sungguh terik, Fajar tak akan mengeluh karena itu adalah pantai dan meski pun begitu, udaranya sangat lembab. Suncrean diseluruh badannya dan dua cup es krim jumbo rasa cokelat cukup lah untuk meredakan kekesalannya sambil berjalan-jalan di pinggir pantai menikmati deburan ombak menerpa kakinya.
Sambil berjalan, Fajar mengambil banyak foto untuk dipamerkan kepada teman-temannya di Bandung ketika pulang nanti.
“Mereka pasti akan sangat iri melihat ini nanti, di sini sangat luar biasa , ada banyak sekali dikunjungi artis-artis—ah!”
Payah. Karena terlalu fokus pada urusannya sendiri, Fajar sampai tak sadar kalau dia menabrak seseorang hingga orang itu jatuh dan bajunya kotor terkena pasir dan air. Bahkan kameranya yang dia pinjam dari ayahnya pun tak luput dari kesialannya.
Tanpa mempedulikan orang yang Fajar tabrak barusan, dia memungut kamera tersebut sambil meratapi nasibnya. Air mukanya bahkan kentara sekali kalau dia akan segera menangis.
Orang yang Fajar tabrak itu berdiri sendiri sambil menggerutu, awalnya dia mau marah-marah tapi setelah melihat wajahnya, dia mengurungkan niat tersebut.
Sambil mengulurkan tangan, dia berkata seperti ini, “Are you okay?”
Fajar lalu tersadar bahwa dia tadi menabrak seseorang, dia menatap uluran tangan itu agak lama sebelum menerimanya untuk berdiri.
Fajar cuma mengangguk, bukan berarti dia tak bisa bahasa inggris, hanya saja kalau sedang kesal, Fajar memang tak terlalu suka bicara, itu cuma akan membuatnya makin gondok.
Cowok itu lalu menatap kamera digenggaman Fajar yang basah, mungkin juga sudah rusak, dia merasa bersalah meski pun itu bukan kesalahannya.
“Aku punya kamera ditempatku, bekas sih, tapi ku jamin itu masih bagus dan cukup layak untuk mengantikan kameramu ini,” ucapnya sambil tersenyum lebar.
Angin pantai yang sejuk dan matahari yang terik membuatnya terlihat semakin bersinar, Fajar menatapnya hampir tanpa kedip, kagum dengan ketampanan itu. Lalu ketika cowok itu mengibas-ibaskan tangannya di depan muka Fajar, Fajar baru tersadar dari kebodohannya.
“Eh, iya, apa barusan?”
Saking terpesonanya, dia bahkan tak sadar kalau cowok itu berbicara dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata.
“Kamu bisa bahasa Indonesia ?” tanyanya.
Fajar mengangguk. “Sudah jelas, kan. Kamu juga?”
Cowok itu tertawa, tawa yang sangat renyah dan menyenangkan. “Lumayan, aku udah agak lama tinggal di sini.” Dia mengulurkan tangannya, mengajak berkenalan.
Fajar menerima uluran tangan itu. “Senang kamu betah di sini.”
“Liburan?” tanyanya lagi. Kini mereka ngobrol sambil jalan dibibir pantai.
Fajar mau mengangguk, tapi akhirnya dia meralatnya dan menggeleng. “Nenekku orang asli sini.”
Cowok itu membulatkan bibirnya seperti mengatakan wow. “Pantas kamu tak perlu melihat kakimu meski pun berjalan di pinggir pantai, rupanya sudah terbiasa.”
Fajar menyenggol pinggangnya, soalnya ditelinganya itu terdengar seperti godaan karena sudah menabraknya tadi. “Aku Fajar, kalau kamu?”
“Jonathan,” jawabnya.
“Ok, Jonathan. Jadi kita akan pergi ke tempatmu dan mengambil kameramu itu?”
Jonathan mengangguk.
“Sebenarnya tak usah, lagipula ini juga cuma kamera lama.”
Tapi Jonathan berpendapat lain. “Santai saja, itu juga cuma kamera lama kok, dan sudah tak terpakai, jadi akan sangat sempurna sekali jika dia bisa mendapatkan pemiliknya yang baru.”
“Kalau begitu sih, aku sangat berterima kasih padamu, Jonathan,” kata Fajar sambil berjalan di samping Jonathan.
Tapi tiba-tiba Jonathan malah berhenti berjalan sambil menatap punggung Fajar, ditatap seperti itu Fajar juga jadi kebingungan.
“Ada apa?”
“Dari tadi kamu terus memanggilku hanya dengan nama.”
Fajar mengangguk membenarkan. “Memangnya ada yang salah dengan itu?”
“Berapa umurmu?”
“18 tahun,” jawabnya enteng.
“Dan aku 31 tahun.”
“HAHHHHHH?? DEMI UBUR-UBUR?!!!”
“Demi Dewa.”
Demi ubur-ubur berkepala babi, Fajar syok banget sampai rahangnya gak mau menutup.
***8878Please respect copyright.PENANAg7kCvPnqj5
8878Please respect copyright.PENANA35SLoaPFHW
J8878Please respect copyright.PENANAptKcFObP6K
8878Please respect copyright.PENANAiOXRS0k2n6
8878Please respect copyright.PENANAXE0i8guK1d
8878Please respect copyright.PENANA4q9WevHBew
8878Please respect copyright.PENANATboeBTCP1D
onathan yang awet muda dan Fajar yg awet tua, hah lucu sekali seperti Park Jinyoung pemilik JYPE. Entah kenapa sejak tahu perbedaan usia mereka, Fajar jadi agak murung, rasanya dia kayak lagi jalan sama om-om, yah meski pun Jonathan memang sudah om-om, tapi yang bikin tambah kesal adalah mereka yang malah terlihat seumuran!
Belum lagi sekarang Fajar lagi ada di tempatnya Jonathan, ternyata rumah Jonathan adalah bangunan vila mewah bergaya tradisional yang sudah dibelinya, itu karena dia memiliki bisnis emas di Bali dan sering bolak-balik Bali-Seoul.
Bangunannya sangat bagus sampai Fajar tak bosan melihat-lihat, benar-benar jauh lebih bagus daripada rumah milik neneknya.
Semenjak sampai di rumah Jonathan, Fajar terus mengekor di belakangnya seperti seekor kucing yang baru saja dipungut di jalanan. Sampai akhirnya mereka sampai di kamar pribadi Jonathan, itu adalah kamar yang sangat luas dengan patung-patung Budha di sekelilingnya, juga kolam renang di samping jendela kamarnya yang menghadap pantai langsung.
Tapi yang membuat Fajar semakin ternganga adalah di kamar Jonathan ada banyak video game, termasuk video game yang sangat diinginkan Fajar itu hingga membuatnya hampir gila!
“Ini kamera yang aku bilang padamu.”
Jonathan memberikan kamera yang berukuran agak besar itu kepada Fajar, Fajar menerimanya dengan senang hati, itu kamera yang masih sangat bagus, hanya saja catnya mulai agak mengelupas karena tak dirawat dengan baik.
“Aku harap kamu bisa memotret banyak gambar bagus dengan kamera itu.”
Fajar tertawa. “Tentu saja, aku akan menunjukkan kepadamu hasilnya nanti.”
Meski usia mereka terpaut cukup jauh dan mereka baru saling mengenal, tapi Fajar merasa nyaman dengan Jonathan, mungkin karena di Bali dia jarang memiliki teman Korea.
“Kamu mau langsung pulang?” tanya Jonathan.
“Kalau kamu mengusirku, yeah aku akan langsung pulang.”
“Mau main video game dulu bersamaku?”
Fajar tak menyangka akan ditawari hal bagus semacam ini.
“Tentu saja aku mau!”
Sejak saat itu keduanya jadi sering saling bertemu, Fajar bahkan tak ragu untuk main ke rumah Jonathan meski pun tak diundang. Fajar juga mengaku senang bisa berteman dengan Jonathan, apalagi Jonathan memiliki hal yang Fajar sukai. Yaitu video game baru yang ingin sekali dibelinya itu! Tapi bukan berarti Fajar ngode Jonathan untuk memberikannya video game itu, ya!
Tapi mau bagaimana pun Jonathan itu orang dewasa, pemikirannya tak sesederhana Fajar yang masih baru mengenal dunia. Terkadang ketika main game bareng, Fajar tak sengaja menyenggol penis Jonathan, membuatnya terbangun dan mau tak mau Jonathan akan pura-pura ada panggilan alam ke kamar mandi meski aslinya dia sedang bermain dengan sabun sambil membayangkan wajah orang yang ada di rumahnya itu.
Lama-kelamaan dari ketidaksengajaan itu Jonathan mulai berpikir bahwa Fajar sengaja memancingnya selama ini, itu terbukti dengan dia yang sering main ke rumah Jonathan dengan celana pendek yang bahkan ketika dia duduk atau menungging hampir memperlihatkan pantatnya yang bulat.
Hingga suatu hari di Jumat pagi ketika Fajar kembali main ke rumah Jonathan sambil membawa kamera pemberian dirinya karena Sabtu siang besok dia sudah hendak pulang ke Korea. Ketika Fajar sedang asyik diam-diam memotretan Jonathan, Jonathan mengutarakan niatnya yang sudah dia pikirkan sejak semalaman.
“Fajar.”
“Hmm? Kenapa, Jonathan?”
“Aku mau ngomong sesuatu.”
“Ngomong aja sih, emangnya ada apa sampai perlu izin segala?”
Jonathan tersenyum tipis melihat Fajar yang cuek. “Kamu suka video game yang kita mainin baru-baru ini, 'kan?”
Dengan cepat, Fajar langsung meletakkan kameranya. “Eh, iya. Emang ada apa? Aku sukaaaaa banget main video game itu.”
“Kalau aku kasih semua itu ke kamu, kamu mau?”
Gila ya, masak hal bagus kayak gini mau ditolak. Biasanya kalau sudah tidak butuh akan dibuang kan? Jadi kalau menerimanya pun, tidak apa-apa?
“Kalau kamu udah gak butuh, aku sih mau-mau aja, lagian masih bagus itu.” Gengsi banget mau langsung bilang mau banget.
“Tapi aku gak bakalan kasih dengan cuma-cuma kayak kamera itu." Tiba-tiba Jonathan udah di samping Fajar aja, sampai dia agak kaget.
“Apa aku harus bantuin kamu beres-beres rumah dulu, Jonathan?”
Jonathan tersenyum melihat wajah polos Fajar, melihat dari reaksinya yang datar begitu padahal mereka berdua lagi di kamarnya, pasti Fajar masih perjaka.
“Fajar, kamu pernah seks?”
Ditanya begitu Fajar bingung. “Seks?” Dia menggeleng. “Belum pernah. Kalau kamu, udah pernah?”
Jonathan tertawa. “Pernah. Beberapa kali.”
“Wah.” Entah kenapa Fajar menunjukkan ekspresi kagum. “Aku dan temen-temenku belum ada yang pernah ngelakuin itu.”
Jonathan memeluk Fajar dari belakang mesra, dia meletakkan dagunya dipundak Fajar.
“Fajar, sebelum kamu pulang ke Bandung, kamu mau gak ngelakuin seks sama aku?”
Diajakin hal yang sensitif kayak gitu, tubuh Fajar membeku, dia bingung mau jawab apa, takut banget salah jawab dan malah jadi canggung.
“Ta-tapi aku belum pernah ngelakuin yang begituan. Emang gak apa-apa?”
Jonathan tertawa kecil. “Gak apa-apa, yang namanya masih remaja, wajar kalau coba-coba banyak pengalaman baru. Selain koleksi video gameku yang akan jadi milikmu, aku juga akan kasih kamu pengalaman yang tak akan terlupakan. Jadi mau ya, ngelakuin seks pertamamu saja aku?”
Jantung Fajar berdebar-debar, wajah Jonathan terlalu dekat dengannya, belum lagi perasaan aneh disekujur tubuhnya. Meski lama menjawab, tapi pada akhirnya Fajar terbujuk rayuan Jonathan dan mengangguk setuju.
Jonathan berdiri di depan Fajar dan secara sengaja, dia membawa tangan kirinya untuk menggerayangi kemaluan Fajar yang terbungkus celana bahan pendek selutut.
Awalnya Fajar menolak secara halus dengan sedikit melangkah mundur dan menghalangi tangan Jonathan dengan kedua tangannya: perbedaan ukuran tangan keduanya sungguh gila.
Dengan cepat, Jonathan mencegah gerakan Fajar dengan merengkuh pinggang pemuda itu dengan tangannya yang bebas; tangan kanan. Sambil menunduk menatap Fajar, Jonathan menempelkan kening keduanya, menatapnya dengan lebih dekat, keduanya saat ini terlihat sangat intim.
“Kamu juga menginginkannya, kan?” katanya seduksi, “aku bisa merasakannya, loh,” ucapnya sambil meremas-remas kecil penis Fajar dari luar pakaian, merangsangnya, perlahan-lahan penisnya yang terlelap gini mulai terbangun, belum lagi perasaan Fajar yang deg-degan menambah libidonya semakin terpacu.
“Ta-tapi, kalau sampai ada yang tahu, gimana?” jawab Fajar ragu-ragu. Menurutnya ini adalah keputusan yang besar. Sementara Jonathan yang menunggu sejak tadi, sudah tak sabaran.
“Menyenangkan diri sendiri dengan cara yang kita sukai itu bukan aib, Fajar jadi kamu tak perlu terlalu memikirkannya, oke.” Jonathan menarik dagu Fajar lembut dan segera memejamkan matanya lalu menempelkan bibir keduanya, secara naluri Fajar pun mengikuti Jonathan.
Sambil berdiri di dalam kamar hanya berduaan saja, di kelilingi jendela-jendela yang terbuka lebar mempersilakan terik matahari dan sepoi angin masuk, untuk pertama kalinya Fajar bercumbu panas dengan seorang pria, terlebih pria tersebut jauh lebih tua darinya.
Dalam ciuman mereka yang semakin dalam dan intens, Jonathan tersenyum samar, dalam hati bertekat akan menjadikan ini pengalaman tak terlupakan seumur hidup Fajar.
Bunyi erangan samar dan kecapan mulut yang saling menghisap memenuhi ruangan dengan ranjang yang terbuat dari kayu jati itu. Masih sambil menempel satu sama lain, Jonathan mendorong tubuh kecil Fajar menuju ranjang tersebut, membuatnya terlentang.
Fajar yang tak siap tangannya sempat mencengkeram selambu putih tipis yang mengelilingi ranjang tersebut meski pun itu sama sekali tak berguna karena pada akhirnya tujuan Jonathan untuk menindihnya berjalan dengan mulus.
Jonathan melepaskan ciuman mereka, seketika pasokan udara seperti berjejalan masuk ke dalam paru-paru Fajar, dadanya kembang-kempis mengatur oksigen yang masuk, untuk sesaat pandangannya terasa buram setelah sejak tadi terus memejamkan mata.
Sambil menindih perut datar Fajar dengan lututnya, Jonathan menatapnya lapar dari atas tubuh itu. Bibir Fajar kini terlihat bengkak dan berwarna kemerahan dengan saliva keduanya yang kini membasahi leher Fajar hingga terlihat mengkilat.
Sambil menggesek-gesekkan penisnya yang kini mulai terbangun tegak dan mengeras di balik celananya pada gundukan serupa di bawahnya yang jauh lebih kecil, Jonathan melepaskan resleting celananya.
Fajar menatapnya penasaran, lalu ketika gundukan besar milik Jonathan itu semakin jelas terlihat dengan seiring dia melepaskan celana luarnya, kedua daun telinga Fajar bersemu merah, merah sekali hingga menjalar ke seluruh wajahnya yang berkeringat.
Dia lalu memalingkan wajahnya, sambil mengusir bayangan diotaknya tentang apa yang ada di balik gundukan itu, tapi Jonathan justru membawa tangan kanan Fajar untuk menyentuh gundukan itu, meraba-rabanya dan menyelinapkan tangannya masuk.
Rasanya seperti menyentuh benda hidup, milik Jonathan terasa begitu perkasa ketika rasa hangat dan berkedut-kedut itu terasa nyata ditelapak tangannya, padahal Fajar juga memiliki benda serupa milik Jonathan sejak dia bayi.
Tapi miliknya sama sekali tak terasa mirip dengan milik Jonathan yang baru dipegang tanpa melihat saja sudah bisa dia bayangkan seberapa besarnya benda itu, untuk sesaat terbesit niat bahwa Fajar ingin memiliki apa yang Jonathan miliki.
Jonathan menatap Fajar dengan kagum, sejak tadi dia terus menahan mulutnya agar tidak langsung menerkam Fajar dengan beringas, tapi melihat makhluk di bawahnya itu yang masih terlihat suci dan polos, libido Jonathan tiap detik semakin naik. Penisnya terasa sakit dan semakin membengkak setelah Fajar menyentuhnya dengan polos.
Pandangan Jonathan semakin diselimuti kabut nafsu tiap menatap Fajar, jantungnya berdebar-debar ingin segera menyalurkan hasratnya.
“Fajar,” panggilnya dengan suara serak.
Fajar memenuhi panggilan Jonathan dengan menatapnya.
Jonathan mendekatkan wajahnya ke wajah Fajar, embusan napas Jonathan yang terasa panas dan menggebu-gebu terasa menyentuh permukaan kulit wajah Fajar hingga membuatnya merinding.
“Kita melakukan ini atas dasar suka sama suka, oke,” ucapnya membuat Fajar berjanji.
Fajar yang telah dibutakan rasa penasarannya sendiri dengan sadar mengangguk setuju.
Sambil menjilat leher Fajar, Jonathan berkata, “Aku akan memperkosa mu dengan sangat meriah.”
Lantas detik berikutnya sebelum Fajar sempat merespons kata-katanya, Jonathan sudah lebih dulu menjilati leher Fajar seperti seseorang yang kelaparan dan melihat sosis di depan matanya.
Jilatan Jonathan terasa begitu menggebu-gebu dan sangat intens dengan gigitan kecil-kecil yang diberikannya. Saking bernafsunya, Fajar bahkan tanpa sadar sampai meremas penis Jonathan untuk menyalurkan kelenjar aneh yang tersebar di seluruh tubuhnya bersamaan dengan apa yang sedang Jonathan perbuat pada dirinya.
Sambil masih menyesap leher hingga dada Fajar sambil menahan kerah lehernya, Jonathan dengan tak sabaran merobek baju tersebut mulai dari kerah baju hingga perut, lantas melempar kaos tersebut ke sembarang tempat sambil mengunci kedua tangan Fajar di atas kepalanya dengan satu tangan. Sementara tangan Jonathan yang satu lagi kini mulai melucuti celana Fajar..
Bibir Fajar gemetaran ketika mulut Jonathan kini sampai dipusarnya, lalu dengan cepat sampai di antara selangkangannya yang berkedut-kedut, seumur-umur Fajar belum pernah merasakan sensasi sedahsyat ini selain ketika menonton video dewasa, itu pun dia ingat sensasinya tak sehebat ini.
“Chan—ah!” Napas Fajar seperti tertahan, tapi disaat bersamaan juga begitu boros keluar.
Takut-takut, Fajar mengintip ke bawah selangkangannya dan melihat apa yang sedang Jonathan lakukan padanya.
Kini Jonathan sedang menghisap penis seukuran jari tengah, saking kecilnya bahkan itu sama sekali tak memenuhi mulut Jonathan. Fajar lantas memalingkan wajahnya ketika Jonathan mengurut penis itu, soalnya ukurannya tak jauh lebih besar dari jempol Jonathan.
Jonathan diam-diam tertawa. Pipi Fajar memerah karena malu.
“Ja-jangan tertawa,” dia berkata dengan amat lirih. Mengira Jonathan sedang menertawakan penisnya.
“Oh, aku ketahuan.” Jonathan memindahkan perhatiannya pada sosok telanjang yang kini terlentang di atas kasurnya.
“A-apaan, sih!” Fajar segera menutupi wajahnya malu ketika Jonathan kini sudah melepaskan cengkeramannya pada kedua tangannya.
Tapi dasarnya masih puber, dengan penasaran Fajar mengintip Jonathan dari celah jari-jarinya, dengan mata melotot, Fajar menyaksikan Jonathan sedang melepas celana dalamnya, lalu terlihatlah dengan jelas seperti apa benda besar perkasa yang tadi dipuji-pujinya dalam hati itu.
Milik Jonathan berdiri sangat tegak dengan bagian kepalanya sedikit melengkung ke atas, dibagian tengah lubang kencing itu seperti ada cairan putih yang hendak menyembur keluar. Refleks Fajar mendudukkan tubuhnya dan menyeret tubuhnya mundur dari Jonathan.
Dengan bangga, Jonathan memainkan penisnya di depan Fajar, memutar-mutarnya dengan senyum mengejek. Fajar menelan salivanya, milik Jonathan terasa begitu menggoda, dan tanpa sadar Fajar kini sudah melebarkan kakinya dengan posisi telentang dan menjadikan sikunya sebagai tumpuan tubuhnya di kasur.
Jonathan memegang kaki Fajar, membuatnya semakin mengangkang, dia lalu meraba-raba bokong Fajar sambil membiarkan penisnya bersentuhan dengan penis Fajar: perbedaan ukuran kejantanan keduanya bagaikan tongkat baseball dengan pulpen.
Sambil mengigit bibirnya sendiri, Fajar merasakan jari-jari Jonathan yang menggerayangi lubang anusnya yang sudah sangat basah dan berkedut-kedut, mata Jonathan melebar ketika anus hangat Fajar seperti menyedot jari-jarinya.
“Fajar, kamu udah gak sabar banget aku gagahi, ya?” ucap Jonathan sambil mengeluar-masukkan ketiga jarinya di dalam Fajar.
Fajar hanya memalingkan wajahnya dari Jonathan sambil menutupi — mengigit — jempol tangannya sendiri menahan nafsunya yang meluap-luap.
Setelah puas bermain dengan jari, Jonathan mengeluarkan ketiga jarinya dan menjilati lendir ditangannya. Dia lalu memposisikan bokong Fajar dan penisnya yang sudah sangat kaku hingga terasa sakit tiap kali disentuh.
Jonathan sempat mencium pipi kanan Fajar lembut sebelum dengan perlahan, dia mulai memasukkan penisnya, dimulai dari ujung kepalanya secara perlahan dan langsung mendorongnya masuk hingga menyentuh prostat Fajar.
“Aahhh!” Fajar hampir menjerit ketika benda asing itu tiba-tiba memasuki tubuhnya begitu dalam dan langsung menyentuh sesuatu yang sangat sensitif pada dirinya.
Sambil mengigit bibirnya sendiri dan memalingkan wajahnya dari Jonathan, tubuh Fajar gemetaran, tiba-tiba entah kenapa dia merasakan takut, juga arusnya yang terasa amat perih dan penuh sesak sekarang.
Tapi dengan lembut, Jonathan memegang dagu Fajar agar mau menatapnya dan menciumnya dengan lebih lembut lagi.
Dia lantas berbisik, “Ini tidak akan sakit kok, awal-awal memang terasa tak nyaman karena kamu belum terbiasa, tapi kalau kamu sudah pernah merasakannya meski hanya sekali saja, aku jamin kamu pasti akan sangat menikmatinya, Fajar.”
“Aku takut,” lirihnya.
Jonathan coba menenangkannya. “Ssttt, kalau memang sakit banget sampai udah gak bisa ditahan lagi, kamu bisa minta aku buat berhenti. Aku bakalan berhenti.”
“Beneran?”
“Beneran, aku gak bakalan bohongi kamu.” Lalu Jonathan kembali mencium bibir Fajar lagi.
Setelah beberapa menit, anus Fajar sudah mulai terbiasa dan menerima penis Jonathan. Jonathan pun mulai menggerak-gerakkan pinggulnya, mencari titik nyaman dan sensitif Fajar.
Fajar kini memeluk leher Jonathan dengan kedua tangannya, sementara satu tangan Jonathan menyangga tubuhnya sendiri agar tak menimpa Fajar sementara tangannya yang satu lagi memeluk punggung Fajar erat.
Mengikuti instingnya, Fajar pun tak mau kalah dan menggerak-gerakkan pinggulnya mengikuti irama yang Jonathan ciptakan lebih dulu.
Dengan kedua kakinya yang melingkar sempurna ditubuh Jonathan, diikuti pelukan erat keduanya, juga kejantanan Jonathan yang memerawani Fajar, untuk sesaat otot-otot tubuh keduanya seperti tertarik ke dalam, Jonathan pun kian mempercepat sodokannya pada anus Fajar hingga Fajar lebih dulu mendapatkan orgasmenya.
“Ah! Ah!” Fajar kaget, tapi juga lega ketika untuk pertama kalinya dia merasakan betapa nikmatnya orgasme sambil disodomi.
Tapi Jonathan belum mendapatkan kenikmatan itu, dia masih terus menyodok anus Fajar dengan begitu brutal hingga tubuh Fajar terhentak-hentak dan ranjang yang keduanya tempati berderit-derit berisik.
Sekilas ujung kepala penis Jonathan bahkan terlihat menyundul di dalam perut Fajar beberapa kali. Meski samar dan terasa begitu hangat disertai kedutan-kedutan percintaan mereka, di dalam arusnya, Fajar merasakan penis Jonathan semakin lama terasa semakin membesar hingga membuatnya penuh sesak.
“Ahh! Ahh! Ah! Aah!”
Ketika Jonathan semakin mempercepat genjotannya, dia langsung menarik wajah Fajar dan menciumnya brutal sambil pinggulnya terus bergerak, tak lama setelah itu tubuh Jonathan menegang dan sambil berciuman, Fajar dapat merasakan semburan hangat sperma Jonathan di dalam arusnya.
Semburan itu tak hanya berlangsung dua kali, tapi lebih dari lima kali selama sekitar dua menitan hingga membuat tubuh Fajar belingsatan.
Ketika Jonathan mencabut penisnya, Fajar merasakan pahanya dipenuhi lelehan hangat yang terasa kental juga menyengat. Perasaannya begitu lega, namun tubuhnya terasa sangat lelah.
“Fajar ahh ah, I love you.”
***8878Please respect copyright.PENANAUfEG2FqUmd
8878Please respect copyright.PENANAwXtawgdxHt
8878Please respect copyright.PENANAdjpGPviVNH
8878Please respect copyright.PENANAjlajZ1Nck3
8878Please respect copyright.PENANACtTZUNP1pk
Jonathan memiliki keluarga yang sempurna, tapi semua kesempurnaan itu sirna ketika dia menginjak sekolah menengah pertama. Kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai.
Jonathan ikut ayahnya, sementara kakak perempuannya ikut sang ibu. Tiap kali dia merindukan satu sama lain, Jonathan dan kakaknya harus memilih untuk kumpul bertiga dengan sang ibu atau kumpul bertiga dengan sang ayah.
Sudah sangat lama hingga mereka berempat bisa kumpul komplit seperti dulu lagi. Terutama sejak kakaknya menikah.
Jonathan lalu memutuskan untuk mencari hobi atau pekerjaan yang membuatnya lupa dengan kesepiannya, kerinduannya pada keluarga yang dia pendam sejak lama.
Hingga tanpa sadar, Jonathan jadi suka bermain-main dengan dunia malam untuk melampiaskan kekesalannya, dan mengambil pekerjaan yang jauh dari rumahnya. Tahu-tahu, Jonathan sudah lama menetap di negara orang hingga sudah sangat jarang menelepon keluarganya sendiri untuk sekadar menanyakan kabar.
“Cih, mikir apa sih aku.”
Selalu seperti ini. Setiap kali Jonathan habis bercinta, dia pasti akan selalu mengingat keluarganya.
Sambil berusaha mengenyahkan rasa rindu yang terpendam dalam itu, tangan Jonathan terus bergerak membuat jus jeruk yang dia tawarkan pada Fajar beberapa menit lalu.
Setelah selesai menghiasnya dengan daun jeruk dan menaruh sedotan, Jonathan membawa dua gelas jus itu dengan sebuah nampan, juga dua potongan kue yang bersisian di nampan yang sama.
Jonathan berjalan menuju kolam yang terletak di samping kamarnya, kolam yang cukup luas dan langsung menghadap ke laut lepas.
“Pemandangan yang sangat cantik.”
Fajar yang sejak tadi diam memandangi lautan di depannya sambil berendam di dalam kolam langsung menoleh ke belakang begitu mendengar suara Jonathan.
Meski Fajar memakai kemeja putih selutut — itu milik Jonathan — tanpa celana, tapi karena dia di dalam air, pakaiannya sama sekali tak berguna menyembunyikan tubuhnya.
“Minumanku?” Fajar berenang mendekati Jonathan yang ada di tepi ujung lain kolam.
Jonathan meletakkan nampan tersebut di pinggir kolam. Fajar segera menyambarnya dan meminumnya. “Uh, manis sekali.”
Jonathan yang sejak tadi memang sudah bertelanjang dada kini melepas celananya dan segera menceburkan diri ke dalam kolam, wajah Fajar terciprat air ketika sedang memakan kue.
“Yah, kuenya basah.” Padahal dia belum selesai memakannya dan rasa kuenya sangat enak. “Jonathan, punyamu ku makan soalnya kamu sudah merusak kue ku!” katanya.
Sementara Jonathan yang sebelumnya menyelam kini menyembul ke permukaan air dan langsung merengkuh pinggang Fajar dari belakang.
Sambil menciumi leher belakang Fajar, Jonathan berkata, “Mau makan adikku juga gak?”
Dia bilang begitu sambil menggesek-gesekkan penisnya diantara belahan bokong Fajar yang tanpa pelindung di bawah air itu.
Fajar mengerlingkan matanya seakan bilang: yang benar saja aku makan manusia terlebih itu adikmu. “Aku bukan kanibal,” katanya.
Jonathan tertawa gemas, dia lalu menenggelamkan dirinya sendiri di dalam air dan tak lama kemudian muncul di depan wajah Fajar dengan mulut belepotan kue, tanpa pikir panjang Jonathan segera menarik wajah Fajar dan mencumbunya saat itu juga.
Fajar melupakan kuenya yang masih tersisa ditelapak tangannya, dia membuang kue itu, membiarkannya tenggelam, sementara tangan Fajar kini bertengger manis diantara leher Jonathan yang terus menyesap bibirnya hingga bengkak.
Setelah tadi keduanya menghabiskan pengalaman pertama Fajar di dalam kamar Jonathan selama berjam-jam, setelah Fajar sadar, keduanya kini berpindah tempat di kolam renang milik Jonathan, sambil menatap pemandangan laut lepas di depannya, Jonathan memposisikan penisnya diantara bokong sintal Fajar.
Omong-omong Fajar, Jonathan sungguh terkesan, hanya diajari sekali saja, dia kini begitu mahir memuaskannya. Lihat saja sekarang, saat dia berpegangan pada tangga kolam, Fajar dengan sadar menyodorkan belahan pantatnya yang merekah pink seperti kuncup bunga mawar di depan wajah Jonathan yang sedang mengurut penisnya sendiri.
Jonathan memegang pinggang ramping Fajar dengan kedua tangannya, lalu dia tersadar betapa mudahnya bagi Jonathan untuk memegang hampir seluruh pinggang Fajar hanya dengan satu tangan, alias sebagai laki-laki pinggang Fajar terbilang sangat kecil. Apa karena dia masih remaja?
“Jonathan, cepatan ahh,” rengek Fajar sambil makin meninggikan pantatnya.
Jonathan lalu menampar pipi pantat Fajar yang seputih awan disiang yang terik itu hingga meninggalkan bekas kemerahan telapak tangan Jonathan yang sebesar bokong Fajar.
“Ahh!” Fajar makin mengeratkan pegangannya pada pinggir kolam ketika Jonathan kini mulai menyodominya. “Uhh penuh, Jonathan pelan-pelan~.”
Fajar menoleh ke belakang ketika disaat yang sama Jonathan makin melesakkan penisnya masuk ke dalam dubur Fajar dan memeluknya lembut dari belakang.
Sambil menggerak-gerakkan kejantanannya di dalam anus Fajar yang sudah begitu nyaman bagi penis Jonathan hingga terasa seperti rumah sendiri, Jonathan mencium bibir Fajar dari samping, Fajar pun menyambut ciuman itu positif dengan lidahnya.
Riak air kolam terciprat kesana-kemari hingga membasahi bagian luar kolam —yang dipenuhi dengan rerumputan pendek yang dipotong rapi setinggi satu senti — tiap kali Jonathan menyodok anus Fajar dengan sangat bersemangat hingga sesi seks mereka kali ini nampak begitu heboh.
“Ahh! Ah! Jonathan ah!” Fajar tak henti meracau tiap kali mulut keduanya tak bercumbu, dengan tanpa malu-malu lagi Fajar mengekspresikan bagaimana dirinya tiap kali bercinta. “Ah, Jonathan yah di sana ahh! Ah ya! Hmhhah!”
Dan Jonathan begitu menikmati saat-saat melihat sosok lain Fajar seperti ini yang hanya bisa disaksikan olehnya seorang.
“I love you, Fajar.”
Embusan angin semakin kuat menerpa wajah, bersamaan dengan awan yang berubah kelabu, Jonathan makin kuat menyodokkan penisnya hingga Fajar menggelinjang keenakan menerima semua sentuhan yang Jonathan limpahkan padanya.
“Tadi kamu bilang apa?”
Jonathan mencabut penisnya dari lubang Fajar, seketika lelehan spermanya tumpah ruah didalam air kolam.
“Emangnya tadi aku bilang apaan?”
Fajar berbalik menghadap Jonathan, tangannya merapat dada bidang Jonathan yang terbentuk sempurna.
“Kamu mau main-main sama aku, ya?!” Fajar kesel ketika sadar Jonathan mempermainkannya.
Padahal Fajar dengar Jonathan mengucapkannya berkali-kali setiap mereka berdua sedang bercinta tadi.
“Ututututu, ada adik kecil yang lagi marah sama om-om, nih.” Tapi Jonathan malah seakan menikmati mengejeknya.
“Ihhhh, apaan, sih! Kamu belum om-om tahu!”
“31 tahun tuh belum om-om?”
“Belum! Pokoknya kamu belum om-om!”
“Kalau begitu, kamu masih bayi, dong?”
“Ihh, apaan, sih. Kalau aku mah udah dewasa.”
Jonathan tertawa. “Karena kamu udah dewasa, gimana kalau habis ini kita langsung nikah?”
Sebenarnya Jonathan hanya suka menggoda Fajar saja karena reaksinya terlihat lucu, tapi daun telinga Fajar tiba-tiba memerah dan langsung menjalar ke seluruh wajahnya.
Secara pribadi Fajar bingung, ucapan Jonathan itu serius atau hanya untuk menggodanya saja? Karena bimbang harus jawab apa, Fajar langsung merangkul leher Jonathan dan segera menciumnya saja.
Rintik hujan mulai membasahi bumi, air hujannya menyatu dengan air kolam. Sementara laut lepas di depan Jonathan dan Fajar seakan menari-nari, diikuti dengan air kolam yang juga mulai terpengaruh dengan air hujan yang terbawa angin.
Sambil digendong Jonathan di depan dadanya menuju ke dalam rumah, Fajar memeluk leher Jonathan erat sambil meletakkan kepalanya dipundak laki-laki dewasa itu dengan nyaman.
Sore itu hingga malam tiba, hujan masih terus mengguyur, pun dengan Fajar dan Jonathan yang masih meneruskan kisah cinta panas mereka di tengah badai hingga pagi menjelang.
Keesokan harinya, Fajar hampir terlambat menuju bandara karena dia bangun kesiangan setelah kelelahan melayani nafsu bejat Jonathan hingga orang tuanya terus meneleponnya.
Pada akhirnya Jonathan mengantarkan Fajar ke bandara dan tak sengaja bertemu dengan orang tua Fajar dan dia malah dikira sebagai pacar Fajar.
Terutama karena wajah Fajar yang nampak sangat kelelahan dengan bekas cupang yang terlihat baru itu mengintip diantara ceruk lehernya yang ditutupi baju kebesaran yang bukan milik Fajar dan cara jalan Fajar yang terlihat mencurigakan, terlebih Fajar yang tak pulang seharian hingga esok paginya padahal orang tuanya tahu betul Fajar tak memiliki teman di Bali hingga dia bisa menginap seenaknya.
“Nak, Jonathan.”
Dengan kikuk Jonathan mengangguk ketika ayah Fajar memanggil namanya dengan wajah galak. “Iya, Paman?”
“Paman tahu usiamu jauh lebih tua dari Fajar, tentu kamu sudah bisa berpikir dewasa dan memiliki pekerjaan tetap, kan.”
Jonathan kebingungan, begitu pun dengan Fajar yang berdiri di sebelah ibunya. “Iya? Maksudnya?”
“Ku harap kamu segera menikahi putraku setelah dia lulus sekolah nanti.”
8878Please respect copyright.PENANAY3hz18xMcN
8878Please respect copyright.PENANAk2ei8cq4Qo
8878Please respect copyright.PENANApkBuLw9lVr
8878Please respect copyright.PENANAykfkJq2oAi
8878Please respect copyright.PENANAGdUK3X0rUf
8878Please respect copyright.PENANAoZOqhs9AJt
8878Please respect copyright.PENANAq5Rrb8IiDM
8878Please respect copyright.PENANAdE8NmDsYN4
8878Please respect copyright.PENANAeSWTwh3D7y
8878Please respect copyright.PENANAL9I3b7qQQG
8878Please respect copyright.PENANAIxls0VCQrg
8878Please respect copyright.PENANAj75J4wapT9
8878Please respect copyright.PENANAtKOd7uwppS
8878Please respect copyright.PENANAaRbsFCxvIQ
8878Please respect copyright.PENANAEAqw22ZVoS
8878Please respect copyright.PENANAQ90tKFtsUn
8878Please respect copyright.PENANAD7150JKqJC
8878Please respect copyright.PENANAP6VJb2HVx2
8878Please respect copyright.PENANAeFP5CXqrEH
8878Please respect copyright.PENANAhLD2boU2Fy
8878Please respect copyright.PENANA5cs4Aoz5i8
8878Please respect copyright.PENANAEdTmY3UPtN
8878Please respect copyright.PENANAOuEwjqqng3
8878Please respect copyright.PENANAfg95Mn02cX
8878Please respect copyright.PENANATM2ySkm26j
8878Please respect copyright.PENANAlMd2aekTWH
8878Please respect copyright.PENANA3QEduAeL1x
8878Please respect copyright.PENANAq2YUKnZv4X
8878Please respect copyright.PENANAIynVWGZUsR
8878Please respect copyright.PENANAW4E3CWKULY
8878Please respect copyright.PENANAn1dKiMwos9
8878Please respect copyright.PENANAqAzAQR7vs3
8878Please respect copyright.PENANA0PzZhe6kIq
8878Please respect copyright.PENANA1B3v3ay5fu
8878Please respect copyright.PENANASAqGDlRkqU
8878Please respect copyright.PENANACquyjF51qQ
8878Please respect copyright.PENANA1uBUOce71d
8878Please respect copyright.PENANAMdrlz4sSWR
8878Please respect copyright.PENANAxheyXQPNZQ
8878Please respect copyright.PENANAty4WqMDoKm
8878Please respect copyright.PENANA7tCxJPyTLB
8878Please respect copyright.PENANA9j9KxZrjth
8878Please respect copyright.PENANAprqiFDHMl4
8878Please respect copyright.PENANAQLkpdP4OVF
8878Please respect copyright.PENANAROrFp1pL5k
8878Please respect copyright.PENANAp3VEEDqGOB
8878Please respect copyright.PENANA3ZPxzOe6jW
8878Please respect copyright.PENANACDd1548fjy
8878Please respect copyright.PENANAsq9fcJafEz
8878Please respect copyright.PENANATyvIy7blB9
8878Please respect copyright.PENANAcDBHtXdcW5
8878Please respect copyright.PENANAP8UM2lQF5k
8878Please respect copyright.PENANAHFhxaQnYuB
8878Please respect copyright.PENANA1FfkE4Y6pM
8878Please respect copyright.PENANAzOfwSypS3r
8878Please respect copyright.PENANAsBwK3bk2gn
8878Please respect copyright.PENANAFpspwqZdkQ
8878Please respect copyright.PENANAx7tSh6j7or
8878Please respect copyright.PENANA9NU37DXLE3
8878Please respect copyright.PENANAy6DpwlQwey
8878Please respect copyright.PENANAulROvkukrv
8878Please respect copyright.PENANARBTt80YqN8
8878Please respect copyright.PENANAx7BPCHh78W
8878Please respect copyright.PENANAtCnmlGQETK
8878Please respect copyright.PENANAfgEIiKLL0r
8878Please respect copyright.PENANAMUZTbbBGjz
8878Please respect copyright.PENANACJU9IG8zjt
8878Please respect copyright.PENANAyJNR9kyAOa
8878Please respect copyright.PENANAfyfkWJICWj
8878Please respect copyright.PENANAayVInyAyrf
8878Please respect copyright.PENANArgYA78uGDr
8878Please respect copyright.PENANAWh5IjWt35O
8878Please respect copyright.PENANAl4O4kCXCRS
8878Please respect copyright.PENANAymFDRyF0eE
8878Please respect copyright.PENANADWpXrp4s7G
8878Please respect copyright.PENANAHn63XCryQr
8878Please respect copyright.PENANAh2peJiHfil
8878Please respect copyright.PENANAK2SlxQzD7p
8878Please respect copyright.PENANAkW3mRi6pRN
8878Please respect copyright.PENANAajyL3WN8yN
8878Please respect copyright.PENANAzeqjXyVQKr
8878Please respect copyright.PENANALGHjA5AX0n
8878Please respect copyright.PENANAoQ2ZfbZdQh
8878Please respect copyright.PENANA7AZuiDTZtB
8878Please respect copyright.PENANAuDBQN2k2w6
8878Please respect copyright.PENANAbRaIFVsQgR
8878Please respect copyright.PENANALFV4VuHoiu
8878Please respect copyright.PENANAlfhiVACM6Z
8878Please respect copyright.PENANAEGTAwwJ2GU
8878Please respect copyright.PENANA0kSyEiGV8Q
8878Please respect copyright.PENANAMAo6yXkjyl
8878Please respect copyright.PENANA0VNeOQ1mUS
8878Please respect copyright.PENANApUtxg6g8kq
8878Please respect copyright.PENANAENrBC83qBq
8878Please respect copyright.PENANA7Kzr3qJifX
8878Please respect copyright.PENANAhyIK46PU79
8878Please respect copyright.PENANArKjwwhdmZI
8878Please respect copyright.PENANAAWnjZoLvhG
8878Please respect copyright.PENANAgFfcXoddsu
8878Please respect copyright.PENANAfDQroCxgk4
8878Please respect copyright.PENANA402OGKVVSb
8878Please respect copyright.PENANAh7mtZCGzsH
8878Please respect copyright.PENANA9Xq9nZYT1L
8878Please respect copyright.PENANAtfudfZSAuP
8878Please respect copyright.PENANAbFTMZpZNXw
8878Please respect copyright.PENANANXm4xUW0Z0
8878Please respect copyright.PENANA91wUZ7unVO
8878Please respect copyright.PENANAXwwdcsXa8P
8878Please respect copyright.PENANAsmnLw7tZ0p
8878Please respect copyright.PENANARmVgEPvULT
8878Please respect copyright.PENANAQNK1kYriRo
8878Please respect copyright.PENANAZmaSXbhK6F
8878Please respect copyright.PENANA5IUm6YKn9f
8878Please respect copyright.PENANAkXjWY0bZX4
8878Please respect copyright.PENANAuY1766BjK2
8878Please respect copyright.PENANAyLUBiy6ar5
8878Please respect copyright.PENANAj16WLMenzD
8878Please respect copyright.PENANAJCu7osFLAo
8878Please respect copyright.PENANAf412KjEbG0
8878Please respect copyright.PENANAMi3z4bC7IK
8878Please respect copyright.PENANAM3mZdpXUy0
8878Please respect copyright.PENANAUw7QDvrnMi
8878Please respect copyright.PENANAf2tIosnHAc
8878Please respect copyright.PENANAoV79Yp2g6v
8878Please respect copyright.PENANA5Mj4vWZV6V
8878Please respect copyright.PENANA3UaZXOnVec
8878Please respect copyright.PENANAFwCg4eth3y
8878Please respect copyright.PENANAxLgl83qJ5x
8878Please respect copyright.PENANArzMhJBg6ms
8878Please respect copyright.PENANAKP803tc2rk
8878Please respect copyright.PENANABFzxLqK2kw
8878Please respect copyright.PENANA93DbHerdm9
8878Please respect copyright.PENANASL5YXcCwkQ
8878Please respect copyright.PENANAs9OZl5VwYn
8878Please respect copyright.PENANALl3JgQG0I5
8878Please respect copyright.PENANAIAszpNMLOi
8878Please respect copyright.PENANAwBroybEh7K
8878Please respect copyright.PENANArv1zaQcjqP
8878Please respect copyright.PENANADxXIT6yY22
8878Please respect copyright.PENANAYpGA1mWAvB
8878Please respect copyright.PENANAkVElpcdXPE
8878Please respect copyright.PENANA1HprGX6Nd2
8878Please respect copyright.PENANALQ7O7dGB3Z
8878Please respect copyright.PENANA0kPLRuKW6V
8878Please respect copyright.PENANASlDitz5Q7a
8878Please respect copyright.PENANAsDUfhDZq3d
8878Please respect copyright.PENANAl4s8u737sF
8878Please respect copyright.PENANAnAVqKQHbQx
8878Please respect copyright.PENANAXQ9K1ImLll
8878Please respect copyright.PENANAtseLT3HFTw
8878Please respect copyright.PENANAz96JX32VdI
8878Please respect copyright.PENANA2V74c25JAo
8878Please respect copyright.PENANA9mxNirXfxC
8878Please respect copyright.PENANAKsZwjWg2Qd
8878Please respect copyright.PENANAAokc6xQIhQ
8878Please respect copyright.PENANAEdbOSrIWnl
8878Please respect copyright.PENANAXWDp1F4M7D
8878Please respect copyright.PENANAHkbsOcOShW
8878Please respect copyright.PENANAWg4cGZjGec
8878Please respect copyright.PENANAdgORLMb8x4
8878Please respect copyright.PENANAOigrWkoT7S
8878Please respect copyright.PENANAv4WaWzQ65T
8878Please respect copyright.PENANAOo6KFcXjDV
8878Please respect copyright.PENANAEosZkJXAT7
8878Please respect copyright.PENANAK6tZDGx5Lh
8878Please respect copyright.PENANAaH3l6BwaUK
8878Please respect copyright.PENANA6JmfQVH38i
8878Please respect copyright.PENANAwU7AA04eVx
8878Please respect copyright.PENANAw4IxpuG1Ay
8878Please respect copyright.PENANAg4UbRnqCRe
8878Please respect copyright.PENANAzdAMZDW2GB
8878Please respect copyright.PENANA8jYS6C1xyG
8878Please respect copyright.PENANAM3LRwcKryX
8878Please respect copyright.PENANAUlXsvdbAPr
8878Please respect copyright.PENANAvU8IRWyqK3
8878Please respect copyright.PENANADnl1iw7rHt
8878Please respect copyright.PENANAgaOIK7hAKn
8878Please respect copyright.PENANApsmeYf2hfO
8878Please respect copyright.PENANANzjMQBgUvu
8878Please respect copyright.PENANAMD0JrX3qJA
8878Please respect copyright.PENANAfAHyp0XkWG
8878Please respect copyright.PENANACRcBpk0tOn
8878Please respect copyright.PENANAMpvTW8uuL4
8878Please respect copyright.PENANAe45BBbYddQ
8878Please respect copyright.PENANAa1wDW7QdI0
8878Please respect copyright.PENANAUZr1nIVAFG
8878Please respect copyright.PENANAcRiH1gCTW5
8878Please respect copyright.PENANAjssqH9ilzM
8878Please respect copyright.PENANAD8tmThze5C
8878Please respect copyright.PENANAqNWlhCVm2H
8878Please respect copyright.PENANAr3B8kouiD5
8878Please respect copyright.PENANAhW7qArJjsP
8878Please respect copyright.PENANAyizFo9uixe
8878Please respect copyright.PENANA7tqHntB8a2
8878Please respect copyright.PENANAJSsmddnurE
8878Please respect copyright.PENANAQXxXTiHgyB
8878Please respect copyright.PENANA6awelR13ZT
8878Please respect copyright.PENANAa944jIN760
8878Please respect copyright.PENANAQIKvHI6w5c
8878Please respect copyright.PENANAXte8k5NfTp
8878Please respect copyright.PENANAPDkcTuVt3V
8878Please respect copyright.PENANA0LS2AWLunG
8878Please respect copyright.PENANANFRDSAVHhx
8878Please respect copyright.PENANANBMXPo0D5N
8878Please respect copyright.PENANAVkYCsjww11
8878Please respect copyright.PENANAviP0VWri3C
8878Please respect copyright.PENANArT9jEjwg94
8878Please respect copyright.PENANAHDYoClwcQO
8878Please respect copyright.PENANAZlGdzvpUt2
8878Please respect copyright.PENANAedqauJcFRi
8878Please respect copyright.PENANA29ZFTZOYam
8878Please respect copyright.PENANAsztSNo4pjW
8878Please respect copyright.PENANA7qQtuKEOv0
8878Please respect copyright.PENANAq1GXzkyrj6
8878Please respect copyright.PENANAB2efwpRKAU
8878Please respect copyright.PENANA4eRpdybMrW
8878Please respect copyright.PENANAssblWQgQSj
8878Please respect copyright.PENANAgdjCU5w7hU
8878Please respect copyright.PENANAEy9LOmsLz6
8878Please respect copyright.PENANAUdtwABddxx
8878Please respect copyright.PENANAFvtd5TSN08
TAMAT!
ns216.73.217.39da2


