Namaku Farisha Aisyah Putri, umurku sekarang 22 tahun. Penampilanku layaknya akhwat bercadar yang lainnya, meskipun begitu aku bukan sosok akhwat yang alim. Karena pergaulanku cenderung bebas dengan lawan jenisku. Berbeda dengan akhwat bercadar yang lain, yang selalu menjaga dirinya dengan menghindari khalwat, ikhtilat, tabarruj dan gadhul bashar. Sedangkan aku jauh dari ekspektasi sebagai seorang akhwat bercadar, karena aku bercadar bukan karena aku benar-benar ingin berhijrah. Namun karena mengikuti trend saja, yang sebatas menganggap cadar sebagai fashion.
49184Please respect copyright.PENANARo5x2IHsK5
Tak hanya itu saja, pengetahuanku tentang agama juga minim. Bahkan orang tuaku pun bukan sosok yang taat beragama. Mereka cenderung sekuler. Mamaku saja, sampai saat ini tidak pernah memakai hijab. Pernah suatu ketika, mamaku menegurku karena aku memutuskan memakai cadar.
49184Please respect copyright.PENANA4uk9O7CxP7
Kata mamaku, ia tidak suka dengan penampilanku sekarang. Karena di keluarga besar Mama atau pun Papa, mereka yang cenderung agamis mendapat stigma buruk. Apalagi yang memilih menutup mukanya memakai cadar, pasti mendapat celaan sebagai teroris.
49184Please respect copyright.PENANAP8x6NYF84U
Meski banyak tantangan, celaan di keluarga besarku. Aku tidak menyerah untuk mengubah penampilanku dengan busana syar'i. Awalnya mamaku cenderung melarangku mengubah penampilanku, lama kelamaan mamaku luluh. Dan sekarang justru mendukungku, bahkan membelaku jika ada siapa saja yang mencelaku dengan kata-kata menyakitkan. Mungkin mamaku berubah sikapnya karena aku anak tunggal, itu sebabnya Mama tidak lagi melarangku karena keputusanku memakai hijab dan cadar bukan atas paksaan dari siapa pun juga.
49184Please respect copyright.PENANAJWXjxdcJq6
Mama tidak tau, jika aku memutuskan memakai hijab dan cadar hanya sekedar mengikuti trend saja. Mama pikir, aku mengubah penampilanku karena perubahan pola pikirku juga.
49184Please respect copyright.PENANAm4ZfPnJbJU
Karena Mama, bahkan papaku yang selalu mendukungku apa pun yang aku lakukan. Mereka memandangku benar-benar sebagai sosok akhwat bercadar yang tak hanya sebatas penampilan. Aku yang mendapat stigma seperti itu, pada akhirnya lambat laun, yang awalnya bergaul bebas dengan siapa saja menjadi sepenuhnya tertutup. Yang menjaga marwah sebagai seorang muslimah yang taat.
49184Please respect copyright.PENANA46eMlnMxXA
Banyak sebayaku yang sudah menikah atau bahkan memiliki anak selepas wisuda. Berbeda dengan aku, meski aku berharap ada sesosok pria yang datang ke rumah untuk mengkhitbahku. Kenyataannya, sampai detik ini pun tidak ada yang datang ke rumahku satu pun ke rumah untuk mengkhitbahku. Padahal sebelum aku benar-benar memutuskan untuk berhijrah, tak hanya mengubah penampilanku yang syar'i. Pergaulanku terbilang cukup luas, yang notabene justru yang paling banyak adalah teman priaku.
49184Please respect copyright.PENANADPrP7HQkhW
Saat aku memutuskan memakai cadar, satu persatu teman-teman priaku menghindariku. Sedih? Tentu saja aku sedih. Seakan-akan aku dikucilkan oleh mereka, namun setelah aku mulai belajar agama dari mengikuti berbagai kajian. Aku mengerti, seorang muslimah tak layak bergaul bebas dengan lawan jenis.
49184Please respect copyright.PENANARQmOtSiSke
Dari berbagai kajian aku mengerti, aku tak hanya wajib menutup aurat. Namun aku harus menjaga pandanganku.
49184Please respect copyright.PENANA00tWy4SY56
Sekarang karena pengaruhku berhijrah, mama dan papaku pun ikut berhijrah. Meski mamaku hanya memakai hijab tanpa cadar.
49184Please respect copyright.PENANA3NoYDNDmLx
Pada suatu hari, mamaku mengabariku tentang kabar yang membuatku terkejut. Bahwa ada seorang anak kyai lulusan Al Azhar akan melamarku.
49184Please respect copyright.PENANAuQanMioE2P
"Beneran, Ma?" tanyaku pada mama, merasa tidak percaya.
49184Please respect copyright.PENANAIwEBUxxKx3
"Beneran dong, masak Mama bo'ong," kata mamaku dengan tersenyum.
49184Please respect copyright.PENANAWWsf9jNddo
Lalu Mama mendekatkan wajahnya ke telingaku, sambil berbisik, "Orangnya tampan lho. Lulusan Al Azhar lagi," kata mamaku.
49184Please respect copyright.PENANAKBnKi78CeP
Dengan senyum malu-malu aku menundukkan pandanganku, salah tingkah.
49184Please respect copyright.PENANATLzI0th738
"Ya ilah, belum ketemu aja udah salah tingkah, hehe," kata mamaku menggodaku.
49184Please respect copyright.PENANA3HISUdn1Er
"Apa sih, Ma. Engga kok, aku biasa-biasa aja," kataku menyangkal.
49184Please respect copyright.PENANAs1aB4Lyi6M
Lalu mamaku berbisik lagi di telingaku, "Kayaknya sih, punya pesantren juga katanya," kata mamaku berbisik lirih di telingaku.
49184Please respect copyright.PENANAc6Xg9RU6Kl
Sebenarnya aku salah tingkah, karena aku merasa minder saja. Karena aku hanya lulusan S1 informatika, yang awam dengan agama. Sedangkan calon suamiku, seorang gus, anak kyai. Yang membuat aku minder lagi, karena ia lulusan Al Azhar, Mesir.
49184Please respect copyright.PENANAlViJ6MfLRM
"Mama tau, kamu minder kan?" tanya mama sambil merangkul tubuhku.
49184Please respect copyright.PENANASudC9OCMzG
Aku yang awalnya menunduk, mengangkat wajahku lalu kutatap mamaku yang berada di sampingku yang sedang merangkulku. "Mama kok tau?" Tanyaku pada mamaku dengan menatapnya sekilas lalu kembali menunduk sambil memainkan ujung hijabku yang panjang sampai menutupi pantatku.
49184Please respect copyright.PENANAsxUf9VWwMR
"Mama kan ibu kamu, jadi wajar Mama tau. Kamu gak perlu minder, Fa! Udah sewajarnya seorang suami lebih paham agama, karena nanti yang bakal jadi imam kan suami kamu," kata mamaku memberi pengertian padaku.
49184Please respect copyright.PENANAZuG9ctxswN
Kucerna semua perkataan mama. Memang benar sih, nanti yang akan menjadi imam suamiku. Entah kenapa pola pikir lamaku masih mengisi otakku. Menurutku, seorang perempuan harus setara dengan pria. Apakah itu statusnya sebagai suami atau pun bukan. Namun, mendengar perkataan mama, pikiranku terasa mindblowing. Ada pertentangan di dalam pikiranku, karena ketidaksetaraanku dengan calon suamiku nanti. Aku merasa tidak rela, jika aku harus dibimbing oleh suamiku untuk belajar agama. Ada perasaan kalah, yang muncul di dalam otakku. Bahkan kata-kata, suami sebagai imam saja, aku merasa tidak sejalan dengan pola pikirku. Ada perasaan tentang suamiku nanti akan mengekangku, sampai-sampai menghirup udara bebas pun tidak bisa. Namun semua sudah menjadi bubur, karena sejak awal aku yang memutuskan untuk berhijrah. Mau tak mau, aku pun harus mengubah pola pikirku.
49184Please respect copyright.PENANApkW6g48kYs
Setelah sekian lama aku berhijrah, bermula dari mengubah penampilanku menjadi bercadar. Aku baru merasakan, jika aku merasa tidak bebas. Membayangkan saja dadaku merasa sesak, rasa-rasanya aku ingin melepas semua yang melekat di tubuhku. Dan kutunjukkan wajahku pada semua orang, jika aku ingin mendapat pengakuan atas keberadaanku.
49184Please respect copyright.PENANAEGDCpay8pT
Namun, keinginan untuk melepas cadarku hanya sebatas di angan-angan saja karena aku takut reputasiku yang selama ini dengan susah payah aku bangun hancur. Setelah aku kembali ke diriku sebelum aku hijrah, keinginanku untuk kembali merekatkan kembali hubunganku dengan teman-teman priaku kembali muncul. Meskipun aku tak serta merta mengubah penampilanku sesuka hatiku. Karena aku paham dengan konsekuensi yang aku ambil akan merugikan diriku sendiri. Bukan hanya karena reputasiku tetapi juga sanksi sosial yang akan aku hadapi.
49184Please respect copyright.PENANAaLkZJKaMhY
Awalnya teman-teman priaku kaget melihat perubahan penampilanku, namun pada akhirnya bisa menerima perubahan penampilanku. Karena aku tidak mau terkesan murahan, saat aku berusaha kembali menjalin kemunikasi dengan mereka tak langsung bertemu langsung dengan tatap muka. Pertama aku menghubungi mereka satu persatu, lalu aku membuat grup rahasia di waku yang anggotanya terdiri dari teman-teman priaku.
49184Please respect copyright.PENANABxX6O54UxE
Rasa kesal karena aku akan menikah dengan seorang pria lulusan Al Azhar itu, aku lupakan sejenak dengan melepas rindu pada teman-temanku. Mereka senang, aku kembali menghubungi mereka. Hanya saja mereka sedikit kecewa saat aku menceritakan bahwa aku sebentar lagi akan menikah.
49184Please respect copyright.PENANA1QI77xaPP2
Sekarang aku sedang mengobrol dengan mereka melalui zoom, "Wah gak bisa bebas lagi dong?" tanya temanku yang bernama Doni.
49184Please respect copyright.PENANAysH1d07pT5
"Aku juga gak mau gini, Don. Tapi mau gimana lagi," kataku dengan mendengus kesal.
49184Please respect copyright.PENANAp6bBV508dn
"Kamu kan bisa batalin lamarannya nanti!" kata Aldo.
49184Please respect copyright.PENANA80bnjXoBNg
"Gak bisa lah, Do. Mau ditaruh dimana muka orang tuaku nanti?" kataku dengan mendengus putusasa di depan layar.
49184Please respect copyright.PENANAAOsjZQ3Lfi
"Lalu gimana sama kita nanti, Fa? Padahal kita baru aja bisa kumpul-kumpul bareng meski sebatas lewat zoom kan?" kata Aris.
49184Please respect copyright.PENANAfNr45SAYzr
"Masih bisa kok. Lagian aku gak mau dikekang. Aku juga gak mau ngerasa inferior di depan dia nanti, aku mau bebas titik," kataku menggebu-gebu.
49184Please respect copyright.PENANA3q3J6uDYw1
"Kamu masih kayak dulu ya, Fa. Penampilanmu gak bisa membohongi diri kamu sebenarnya, hehe," kata Riswan.
49184Please respect copyright.PENANA6yXOVyHSp1
"Emang aku yang dulu kayak gimana?" tanyaku memancing Riswan agar jujur.
49184Please respect copyright.PENANAwLEdpoxWBo
"Lah masak kamu gak inget, kamu dulu kayak gimana, Fa? hehe," tanya Riswan.
49184Please respect copyright.PENANAKVAqW8WezU
"Inget sih," kataku malu-malu sambil menunduk.
49184Please respect copyright.PENANABACZqsEk0v
"Sayangnya kamu gak mau penetrasi. Maunya dianal mulu, haha," kata Aris tertawa.
49184Please respect copyright.PENANAcZPfeWYUQ8
"Sekarang mau kok," kataku percaya diri.
49184Please respect copyright.PENANAeU4qIb0G0C
"Tapi kamu kan mau menikah, Fa?" tanya Aldo.
49184Please respect copyright.PENANAOPJGMoi85A
"Trus gimana enaknya, Do?" tanyaku.
49184Please respect copyright.PENANAXDtJvdvyID
"Gimana kalo kamu nunggu nikah aja dulu. Kalo kamu bosen, kamu bisa hubungi kita. Kita bisa puasin kamu rame-rame kayak dulu, hehe," kata Doni.
49184Please respect copyright.PENANAHPeVHQg4lo
Aku memegang daguku sambil berpikir sejenak. Kupikir berulang-ulang, sepertinya saran Doni ada benarnya. Karena reputasiku sebagai akhwat bercadar di depan calon suamiku nanti tetap terjaga karena kondisiku yang masih perawan. Namun disisi yang lain, aku bebas mencari kepuasan lain selain suamiku.
49184Please respect copyright.PENANAqAUhyndgcS
Dalam hati aku ingin cepat-cepat agar calon suamiku yang katanya adalah lulusan Al Azhar itu mengkhitbahku. Bukan karena aku menginginkannya melainkan karena aku ingin berpaling darinya. Rasanya ingin kutunjukkan ketidaksukaanku padanya, aku gak suka disaingi. Entah dalam hal apa pun, bukan hanya sekedar masalah pendidikan.
49184Please respect copyright.PENANAF081cLOVXQ
Apalagi nanti, jika aku benar-benar dikekang kebebasanku. Aku benar-benar bakal terhina, tak terima jika aku dijadikan seperti burung yang dikurung di dalam sangkar.
49184Please respect copyright.PENANADFwIOnP7Yz
Untung saja, semua masih di dalam angan-anganku. Bahkan keinginan untuk kembali bergaul bebas dengan teman-temanku masih sebatas di grup chat saja. Itu pun masih dalam tahap wajar, hanya sekedar chat biasa tanpa chat sex, phone sex atau pun vcs.
49184Please respect copyright.PENANA7Tmv4lau2H
Ya memang aku menggebu-gebu ingin segera bebas dan melepas perasaan gerah yang menyiksaku. Tetapi penampilanku sebagai akhwat bercadar mencegahku. Tidak hanya itu, seperti kata teman-teman priaku yang memberi saran agar aku menunggu sampai aku menikah agar kelakuanku bisa tersamarkan. Berbeda jika aku memilih untuk have sex dengan teman-teman priaku sekarang, yang tentu saja salah satu dari teman priaku akan mengambil keperawananku. Akibatnya akan merusak pernikahanku, tidak hanya itu tetapi juga nama baik keluargaku.
49184Please respect copyright.PENANAlx5zoA5bmQ
Aku tau, meskipun aku mempunyai rencana nakal setelah menikah seperti saat aku belum bercadar juga akan mempertaruhkan nama baik keluargaku. Namun, saat aku menikah nanti tak lagi menjadi tanggungjawab orang tuaku untuk menanggung nama baik tetapi beralih ke suamiku kelak. Dan aku sudah memikirkannya masak-masak perselingkuhanku nanti akan kulakukan secara rapi. Jika secara tak sengaja terbongkar, justru itu lebih baik. Supaya ia merasa sakit melihat istrinya disetubuhi banyak pria di depannya.
49184Please respect copyright.PENANA9RaQiKgRMy
"Hayo melamun saja!" kata mamaku mengagetkanku.
49184Please respect copyright.PENANA8mbgf89bAx
"Ah Mama, kaget tau!" kataku dengan cemberut.
49184Please respect copyright.PENANArUJQ3GWcJP
"Lagi ngelamunin apa sih?" tanya mamaku sambil duduk di sampingku.
49184Please respect copyright.PENANAjon47AgTHV
"Ah engga, Ma. Gak lagi ngelamunin apa-apa", kataku.
49184Please respect copyright.PENANA5aGUKh38aH
"Udah, jangan bo'ong! Mama tau kok. Ngelamunin nikahan kan? Udah gak perlu grogi! Mama dulu juga kayak kamu, waktu Papa kamu mau melamar mama," kata Mama.
49184Please respect copyright.PENANAksHiPsLmHj
"Hehe, iya, Ma," kataku pura-pura sepaham dengan ucapan mamaku.
49184Please respect copyright.PENANAsFbqOnXaG1
Kusandarkan kepalaku di bahu Mama, Mama pun membelai wajahku lembut. "Mama tau, apa yang kamu pikirin," kata mamaku.
49184Please respect copyright.PENANA7mMBUr5f12
Kuangkat kepalaku dari bahunya, kupandang mata Mama dengan pandangan penuh tanya.
49184Please respect copyright.PENANAX8VT8S3AX3
"Kamu nggak perlu minder, lagian kamu setara kok sama calon suami kamu ntar!" kata mamaku.
49184Please respect copyright.PENANA09lPLb5Uqs
Kuembuskan nafas panjang, yang pada akhirnya perkataan mamaku membuatku semakin down saja. Meski mamaku berusaha menghiburku, aku tak terima dengan kenyataan yang akan kuhadapi. Jelas aku dan calon suamiku nanti tak akan setara, apalagi ia adalah lulusan Al Azhar dan anak kyai pula. Kenyataan itu semakin menguatkan hatiku jika aku akan dipandang rendah olehnya.
49184Please respect copyright.PENANASRLlWuDbFg
Aku paham, dunia pesantren itu seperti apa. Jangankan seorang istri pada suaminya. Seorang santri pada kyai dan nyainya saja harus bersikap layaknya seorang abdi pada tuannya. Membayangkannya saja, aku bergidik.
49184Please respect copyright.PENANAf20EUGag39
Bagaimana bisa aku menikmati hidup dan kebebasanku nanti? Jika aku harus taat pada suamiku. Bukan hanya taat, aku merasa tak rela harus mencari ridho calon suamiku nanti. Karena aku bukan perempuan yang sebatas untuk alat reproduksi saja.
49184Please respect copyright.PENANAxh9NGLyqXp
Memikirkan itu, aku jadi teringat kata seorang kyai kondang di Jawa. Yang menempatkan seorang istri setara dengan ghonimah, yang berupa harta dan perempuan yang dirampas dari seorang kafir. Jika harta yang dirampas dari seorang kafir itu dikembalikan pada seorang kafir, harta itu akan digunakan seorang kafir untuk balik memerangi. Begitu juga dengan seorang istri atau perempuan orang-orang kafir. Jika dikembalikan pada orang-orang kafir, perempuan itu akan dijadikan seperti harta benda dari hasil ghonimah. Lalu dijadikan alat reproduksi untuk melahirkan generasi baru orang-orang kafir.
49184Please respect copyright.PENANAgYYkhKEdw5
Membayangkan saja, aku bergidik. Kenapa tidak? Karena seorang istri tak lebih dari sekedar obyek semata untuk melahirkan anak. Aku sangat-sangat tak rela, karena aku bukan obyek yang bebas untuk dijadikan tempat pembuangan cairan semen semata.
49184Please respect copyright.PENANAAUmSQA1aKi
Percuma aku menempuh pendidikan tinggi, jika pada akhirnya aku harus menghamba. Yang aku mau, seorang istri dan suami itu setara. Dan seorang istri seharusnya diposisikan sebagai partner, bukan malah diobyektifikasi. Yang lebih parah, sampai istri dianggap tak lebih dari sekedar untuk melahirkan anak saja.
49184Please respect copyright.PENANA8wKSdj5Mp1
Setelah aku pikir-pikir, tak ada sedikit pun dari ceramah kyai itu yang mengatakan bahwa seorang suami harus setia pada istrinya sampai sehidup semati. Padahal menikah itu bukan perkara untuk melahirkan generasi penerus saja. Tanpa dilandasi perasaan cinta, bagaimana mungkin bahtera rumah tangga bisa terus tegak tanpa harus dihancurkan dengan perselingkuhan dan ketidaksetiaan.
49184Please respect copyright.PENANAxuGHHmk4n0
"Udah, jangan ngerasa lebih rendah, Fa! Kamu kan juga berpendidikan tinggi kan?" kata mamaku berusaha menguatkan hatiku.
49184Please respect copyright.PENANAMZqvAmpyqu
Mendengar perkataan Mama, aku tersenyum kecut. Karena yang aku pikirkan sekarang bukan sekedar masalah jenjang pendidikan. Namun juga masalah perspektif dalam menjalani rumah tangga.
49184Please respect copyright.PENANAFErPH8LV40
"Iya, Ma. Farisha nggak ngerasa lebih rendah kok. Lagian Farisha nggak mau juga ngerasa lebih rendah," kataku sambil mengembuskan nafas panjang.
49184Please respect copyright.PENANAJTXOCAYC2f
"Bagus, kalo begitu jangan ngerasa down ya! Kalo sampe Mama tau, calon suami kamu nanti bakal memperlakukanmu buruk, Mama nggak bakal tinggal diam. Papamu juga bakal nggak terima, kalo tau anak perempuan semata wayangnya diperlakukan buruk," kata mamaku dengan wajah merah padam.
49184Please respect copyright.PENANAzEbEQaltxK
"Mama jangan khawatir! Farisha bakal bisa jaga diri kok," kataku berusaha menenangkan mamaku, dengan memegang punggung tangannya.
49184Please respect copyright.PENANATP0AJG84tF
Lalu mamaku yang duduk di sampingku memelukku, "Mama sayang banget sama kamu, Fa. Dulu saja, Mama dan Papa nggak sreg saat kamu mutusin make cadar kayak sekarang. Karena pada dasarnya, Mama dan Papa nggak begitu suka," kata mamaku.
49184Please respect copyright.PENANAvN29I9Sadl
"Maaf ya, Ma. Kalo pada akhirnya Mama terpaksa harus ngikutin gaya hidup Farisha," kataku yang tiba-tiba murung.
49184Please respect copyright.PENANArePd8YvD1f
"Nggak apa-apa, Fa. Kalo bukan karena Papa nggak bilang, kalo kita harus membaur di masyarakat. Mama juga nggak bakal mau, make hijab kayak sekarang," kata mamaku.
49184Please respect copyright.PENANA4J9avGS4Xw
"Tapi kenapa... Mama rela aku dinikahi lulusan Al Azhar itu?" tanyaku yang tiba-tiba murung.
49184Please respect copyright.PENANAkzi5buoEzd
"Dia anak dari teman papamu, Fa. Karena perusahaan Papa bisa berdiri karena bantuan dari orang tua Akbar. Orang tua Akbar, bukan cuma kyai tapi juga anggota DPRD. Yang waktu itu, saat papamu akan mendirikan pabrik. Banyak penolakan dari warga dan orang tua Akbarlah yang membantu papamu," kata mamaku sambil mengembuskan nafas panjang.
49184Please respect copyright.PENANAgt6dBfV8aX
"Jadi demi balas budi? Kenapa Papa sama Mama tega sih, lakuin ini sama Farisha? Hiks hiks. Papa sama Mama sama aja kayak ngejual Farisha buat bayar utang budi," kataku sesengukkan.
49184Please respect copyright.PENANA6JUUlmrXj4
"Bu.. bukan begitu, Sayang!" Mama menghambur memelukku erat.
49184Please respect copyright.PENANAvL2nwRZxnq
"Mama tega sama Farisha!" kataku sesengukkan dalam dekapan mamaku.
49184Please respect copyright.PENANA8upDH4NYdX
"Maafin Mama, nggak bisa berbuat apa-apa, Fa! Hiks hiks," kata mamaku yang menangis sesenggukan.
49184Please respect copyright.PENANAcGYXqqX3kG
Di dalam hatiku semakin timbul perasaan benci pada calon suamiku yang bernama Akbar. Ada dendam yang ingin aku tuntaskan, untuk menyakiti hatinya lebih dalam. Dan aku akan membuat hidupnya menderita.
49184Please respect copyright.PENANAIVaA0eKG4o
"Udah, udah! Nggak apa-apa, Ma. Lagian udah terlanjur juga," kataku ketus pada mamaku.
49184Please respect copyright.PENANAnWF7hxXKQD
"Kamu marah sama Mama, Fa?" tanya mamaku.
49184Please respect copyright.PENANAfxHJW3JvXB
"Enggak! Farisha nggak marah kok, Ma!" kataku masih ketus pada mamaku.
49184Please respect copyright.PENANA8s6zqQViUz
"Andai aja, Mama bisa batalin. Bakal Mama batalin, Fa. Tapi Mama nggak bisa, maafin Mama, Fa!" kata mamaku menangis sesenggukan sambil memeluk tubuhku.
49184Please respect copyright.PENANAHsBbRBIcEw
Kupegang punggung tangan mamaku, kuusap-usap sambil kutepuk-tepuk perlahan.
49184Please respect copyright.PENANA6bZaW7Pc9i
"Maaf, Ma. Kalo Farisha kasar sama Mama. Farisha nggak ada maksud nyakitin hati Mama," kataku menyesali kata-kataku yang ketus tadi.
49184Please respect copyright.PENANAupzwRVzFSB
Pelukan mamaku pada tubuhku semakin erat, dengan tangis Mama yang semakin terisak-isak. Sebenarnya aku sama sekali tak ada keinginan untuk menyakiti perasaan mamaku. Namun, aku benar-benar tak bisa menyembunyikan perasaan kecewaku pada kedua orang tuaku. Karena tega menjadikanku alat untuk membalas budi.
49184Please respect copyright.PENANAn1bu42DTsV
"Mama pengen menebus kesalahan Mama. Katakan Farisha! Apa yang bisa Mama lakukan?" tanya mamaku.
49184Please respect copyright.PENANAMJgU5piPxe
Kupandang wajah mamaku, lalu aku dekatkan wajahku ke telinga Mama sambil berbisik. Wajah Mama terlihat kaget, karena yang aku katakan adalah ingin menyiksa Akbar di rumah ini secara seksual.
49184Please respect copyright.PENANAM6PHB67gnR


