
******
Bab 1 :
Bersamanya
******
79Please respect copyright.PENANAaZnEYBmyII
APABILA seseorang meniti karir sebagai fotografer, sebetulnya perjalanannya tidak selalu mulus. Acap kali, orang mengira bahwa pekerjaan fotografer itu gampang sekali, seperti orang yang sedang bersenang-senang. Ada juga yang mengira bahwa fotografer itu bukanlah karir ‘utama’ atau sungguhan. Pertanyaan seperti, “Oh... Kamu tukang foto, ya? Jadi, kapan mau cari kerja tetap, nih?” sering kali keluar dari mulut orang-orang yang minta ditabok.
Terkadang pula, klien senang dengan hasil jepretan kita, tetapi dia ingin memberi sentuhan lainnya seperti filter. Sangat-sangat tidak menghargai hasil potret orisinalnya. Pokoknya ada saja problem-nya, apalagi soal bayar membayar. Karya yang bagus tidak selalu dihargai dengan bayaran yang setimpal. Sekali lagi, fotografer juga memiliki banyak masalah. Masalah dengan modelnya, masalah dengan teman-teman yang selalu aji mumpung ingin difoto tiap kali jalan bareng (tanpa bayaran), serta masalah dengan para SDM rendah yang mengira kalau fotografer tugasnya hanyalah memfoto orang-orang yang mau pre-wedding.
Josh Andriano juga memiliki permasalahan yang kurang lebih sama. Dulu, saat dia tengah menjadi fotografer di sebuah acara pernikahan anak anggota DPRD, dia mendengar ada seorang anak muda yang mengomentarinya dari belakang. Kira-kira yang Josh dengar itu begini: “Pantas fotonya bagus, kameranya itu pasti mahal banget. Kalau aku punya kamera yang mahal, aku juga pasti bisa kayak dia.”
Ngg…nggak salah dengar, nih?
Benar-benar menyebalkan. Josh belajar menggunakan kamera itu selama bertahun-tahun, lho. Bukan satu hari dua hari.
Josh mulai merintis karirnya pelan-pelan secara part-time saat kuliah dan baru benar-benar mendedikasikan dirinya sebagai fotografer sepenuhnya setelah lulus kuliah. Layaknya pekerjaan yang lain, karir Josh juga awalnya naik turun. Penuh dengan trial dan error. Terkadang bermasalah dengan klien, terkadang juga bermasalah dengan dirinya sendiri yang kekurangan motivasi ataupun kekurangan inspirasi. Namun, Josh begitu menyukai dunia fotografi. Fotografi telah menjadi bagian dari hidupnya. Bagian dari dirinya. Baginya, sebuah foto bisa mengandung ribuan makna. Ribuan kesan. Sebuah foto yang bagus akan terasa seolah hidup. Seolah kau mengetahui segala cerita yang ada di dalamnya dan menonton kejadian di dalam foto itu secara langsung. Inilah yang Josh anggap sebagai seni yang tiada tandingannya.
Namun, meski Josh selalu terpukau dengan fotografi, sesungguhnya Josh belum merasakan makna mendalam dari ‘fotografi’ di dalam kehidupannya sendiri. Dari balik lensa, Josh selalu melihat berbagai momen, berbagai kejadian, berbagai perasaan, danberbagai memori. Akan tetapi, makna terdalam dari fotografi, yaitu ‘melihat’ perspektif baru dari kehidupannya, belum pernah benar-benar ia rasakan sendiri. Dia masih memiliki perspektif lama yang baginya adalah sebuah keabsahan. Sebuah jalan terbaik. Jadi, meski Josh adalah seseorang yang perasa, dia masih belum memahami makna fotografi yang satu itu. Sepertinya, makna tersebut adalah jalan menuju pemahaman penuh pada fotografi yang tengah ia tekuni. Sepertikatafotografer profesional Deniek G. Sukarya, fotografi mengajarkan pada kita cara yang unik dalam melihat dunia dan sekaligus memberikan penyadaran baru akan segala keindahan yang ada di sekitar kita.
Namun, nanti dulu, deh, memikirkan soal itu. Sore ini Josh sedang istirahat dan memutuskan untuk mengiyakan ajakan Alvin, sohibnya, yang kepengin makan mie ayam di warung lesehan langganan mereka. Warung itu lumayan besar. Desainnya simpel; warna bangunannya didominasi oleh warna krem dan coklat. Di warung itu, semua meja kayunya tertata rapi dan kebersihannya terjaga.
“Makasih, Bu,” ucap Josh dan Alvin—nyaris bersamaan—tatkala ibu-ibu pemilik warung itu tengah duduk bersimpuh untuk menaruh pesanan mereka di atas meja. Pesanan Josh dan Alvin adalah dua mangkuk mie ayam bakso dan dua gelas es teh. Ibu itu berusia sekitar 45 tahunan ke atas dan seperti biasa wanita itu berpakaian kebaya lawas. Wanita itu kemudian berdiri, lalu membungkuk sejenak dan berkata, “Monggo, Mas.”
Setelah wanita paruh baya itu pergi meninggalkan mereka, Alvin dan Josh langsung menambahkan cabai, kecap, serta saus ke dalam mangkuk mie ayam mereka sesuai dengan selera mereka masing-masing. Saat Josh tengah mengaduk mie ayamnya, Alvin yang masih menambahkan saus ke dalam mangkuk mie ayamnya itu tiba-tiba berkata, “Eh, lo masih, ya, sama si Windy?”
Josh menatap Alvin sejenak, lalu dia tersenyum manis—seakan sedang memamerkan kebahagiaannya—dan mengangguk. Setelah itu, seraya mencicipi mie ayamnya, dia pun menjawab, “Iya, masih.”
Tanpa Josh sadari, Alvin menghela napas samar. Alvin Bastian sudah mengenal Josh dan Windy sejak lama, tetapi dari segala hal yang ia sukai dari Josh, ada satu hal yang tidak ia sukai.
Hal yang tidak Alvin sukai adalah kenyataan bahwa Josh terlalu mencintai Windy Alisha, teman sekelas mereka saat SMA dahulu. Josh Andriano sudah lama jatuh cinta sebelah pihak pada Windy Alisha dan cinta yang Josh miliki bertahun-tahun lamanya itu kian menguat seiring dengan kedewasaan mereka.
Alvin tidak menyukai Windy sama sekali. Akan tetapi, melihat Josh yang terlalu mencintai wanita itu, Alvin jadi sedikit kelimpungan. Dia tentu harus berhati-hati dalam mengeluarkan kata-kata larangan pada orang yang tengah dimabuk cinta. Josh dan Windy sekarang malah sudah jadian, sudah berpacaran, selama tiga bulan lamanya.
Namun, Alvin tetap berusaha, mengingat dia juga sebenarnya tak bisa menahan unek-uneknya di dalam hati. “Josh. Lo yakin dia nggak manfaatin lo doang?”
Josh, yang baru saja menyuap sesendok mie ayam ke dalam mulutnya itu pun menatap Alvin seraya mengerutkan dahi. “Vin, lo udah nanyain itu ke gue lebih dari sepuluh kali, tau nggak?”
Alvin—yang baru saja selesai mengaduk mie ayamnya tersebut—hanya mengedikkan bahu, lalu ia memasukkan sebuah bakso ke mulutnya. Ia tampak masih mengunyah saat ia mulai berbicara lagi, “Ya abisnya diliat-liat dia cuma baik sama lo pas ada maunya doang. Dari dulu, kan, dia nggak pernah nunjukin kalo dia suka sama lo. Jadi, agak aneh aja liat dia tiba-tiba nerima lo.”
Alvin, Josh, dan Windy berasal dari SMA yang sama dan kelas yang sama. Mereka bersekolah di salah satu SMA swasta yang ada di Jakarta. Ketika lulus SMA, Alvin dan Josh bernasib baik dan akhirnya berkuliah di universitas yang sama, yaitu ITB. Dahulu, Alvin pernah dengar dari Josh—berhubung Josh selalu memperhatikan Windy—bahwa Windy lanjut kuliah di Yogyakarta dan mengambil jurusan perhotelan. Lama mereka tidak bertemu satu sama lain—wajar saja, Alvin dan Josh tidak dekat dengan Windy, mereka hanya satu kelas—hingga Alvin kira Josh akan melupakan Windy.
Namun, ternyata tidak semudah itu. Kalau Alvin boleh berkomentar pedas, sesungguhnya Alvin juga tak mengerti apa yang Josh lihat dari Windy. Wanita itu tidak begitu cantik. Dia juga tidak menganggap Josh ada selama ini. Dia tidak memedulikan Josh sama sekali. Akan tetapi, Josh terus saja mencintainya.
Saat Alvin dan Josh lulus kuliah, mereka berdua memutuskan untuk merantau ke Surabaya. Meniti karir di Kota Surabaya. Alvin berprofesi sebagai graphic designer (dia juga berprofesi sebagai fotografer, tetapi hanya part-time) dan Josh berprofesi sebagai full-time fotografer. Saat ini, Josh sudah terbilang fotografer profesional. Dia cukup dikenal banyak orang.
Sialnya, lima bulan yang lalu, mereka tak sengaja bertemu dengan Windy di sebuah restoran tatkala sedang meeting dengan klien perihal proyek advertisement. Mau tidak mau, mereka jadi harus saling menyapa. Josh jadi bertemu dengan cinta lamanya di sana, cinta lama yang belum ia lupakan. Alvin sontak berspekulasi bahwa mungkin saja Josh langsung berpikir bahwa Windy ini adalah “jodohnya” karena mereka dipertemukan lagi meski tak berkabar sekian tahun. Namun, Alvin tak tahu apakah selama beberapa tahun belakangan ini Josh sudah pernah menghubungi media sosial Windy atau belum. Alvin malas mencari tahu sebab Alvin tidak menyukai Windy. Sesuatu terasa mengganjal tiap kali Alvin melihat perempuan itu.
Dari pertemuan itulah, Josh dan Windy jadi bertukar kontak. Setelah bertukar kontak, seperti yang Alvin duga, Josh langsung mengejar-ngejar Windy. Setelah dua bulan ‘dekat’, Josh dan Windy akhirnya resmi menjadi sepasang kekasih. Agak aneh, pasalnya Alvin tahu persis bahwa Windy itu dari dulu cuek-cuek saja; wanita itu tidak berkomentar apa-apa soal perasaan Josh. Dia berpura-pura tidak tahu bahwa Josh menyukainya. Alvin sering memberitahukan hal ini kepada Josh saat SMA dulu, tetapi jawaban Josh hanyalah:
“Jangan gitu, Vin. Lo kok berburuk sangka terus, sih? Dia itu memang nggak tau kalo gue suka sama dia. Gue, kan, nggak pernah kasih tau dia.”
Halah. Cinta memang bisa membuat orang jadi bodoh setengah mampus. Alvin juga punya pacar sampai sekarang, tetapi buktinya pacar Alvin—Meira—tidak serumit itu. Kalau sama-sama suka, ya tinggal gas.
“Vin, kan udah gue bilang berkali-kali sama lo. Tenang aja. Dia sayang kok sama gue. Jangan berburuk sangka mulu sama dia, Vin, karena lo itu sahabat gue,” pinta Josh seraya mendengkus sejenak, lalu ia kembali memakan mie ayamnya.
Alvin menghela napas. Akhirnya, hari ini pun dia memilih untuk menyerah. Entah kapan mata Josh akan terbuka, yang jelas hari ini Alvin sudah mencoba meyakinkan Josh untuk yang kesekian kalinya.
Mereka berdua sama-sama diam dan fokus untuk memakan mie ayam di mangkuk masing-masing. Bukan diam karena canggung, tetapi diam karena mau fokus makan sebentar. Tak lama kemudian, seperti teringat akan sesuatu, Alvin pun menegakkan kepalanya lagi untuk menatap Josh. Matanya agak melebar; kedua tangannya masih memegang sendok dan garpu yang ia gunakan untuk makan. “Oh iya, Josh.”
“Hm?” Josh menatap Alvin dan mengangkat kepalanya singkat untuk mengisyaratkan ‘Apa?’
“Lo nyari orang yang bisa jadi model buat foto-foto lo, ‘kan? Semacam muse gitu, untuk pameran lo?” tanya Alvin.
Josh mengangguk. “Iya, sih, kalau seandainya gue bener-bener bisa bikin pameran gue sendiri.”
Seolah mendapat pencerahan, Alvin langsung menjentikkan jarinya, lalu menunjuk Josh dengan jari telunjuknya. “Nah, bingo! Ya kalau foto-foto lo bagus, kenapa nggak? Pasti sukses. Makanya, lo butuh seseorang yang bener-bener bisa jadi muse lo. Seseorang yang cocok untuk foto-foto lo.”
“Hmm.” Josh mengangguk. “Bener. Emang kenapa?”
Dalam hati, Alvin bersyukur karena Josh tidak kepikiran untuk menjadikan Windy sebagai objek di foto-fotonya. Apa jangan-jangan…diam-diam Josh juga mengakui bahwa Windy kelihatan kurang estetik? Yaa sebenarnya Windy itu tidak jelek, sih, tetapi dia masih kurang untuk dibilang ‘cantik’. Dia manis, tetapi bukan yang semanis gula. Sedang-sedang saja. Namun, dia enak dilihat karena selalu berpakaian rapi dan elegan. Rambutnya sepunggung, agak bergelombang di bagian bawahnya, dan berwarna hitam pekat. Dia juga merupakan orang yang percaya diri. Cocok dengan profesinya sekarang, yaitu resepsionis hotel.
“Gini. Inget waktu kita ngerjain proyek Humanity bareng Kak Aji?” tanya Alvin, memastikan.
Josh mengangguk. “Iya, inget. Kenapa?”
Alvin pun tersenyum. Dia kelihatan bersemangat. “Nah. Itu Kak Aji punya kenalan. Model. Namanya Keisha; Keisha Nathalie. Lo pernah denger?”
Josh menyatukan alis, matanya melihat ke arah lain; dia tampak sedang berpikir. “Hmm…nggak, pernah, sih.” Josh lalu menatap Alvin lagi. “Orangnya gimana?”
“Hah, seriusan lo? Dia terkenal, lho, Josh,” ucap Alvin, pria itu memutar bola matanya jengkel. “Lo jarang ngefoto cewek, sih, makanya nggak tau. Lagian, lo sibuk mikirin Windy terus.”
Sialnya Josh malah tersenyum malu-malu bak sedang kasmaran. Astaga, padahal tadi itu Alvin bermaksud untuk mengolok-oloknya. Alvin sedang menyindirnya.
Namun, setelah mengembuskan napasnya (mencoba untuk bersabar), Alvin pun melanjutkan, “Kak Aji pernah ngerjain proyek bareng si Keisha itu, makanya kenal. Jadi, pas gue bilang kalo lo lagi nyari model, Kak Aji langsung rekomendasiin Keisha ke gue. Gue udah kenalan sama Keisha dan setelah gue perhatiin, dia memang cocok banget buat jadi model lo. Breath of fresh air banget. Lo nggak bakal nyesel.”
Mendengar itu, Josh jadi mengangguk-angguk. Dia pun menatap Alvin dengan bersemangat. Dalam hatinya, dia betul-betul berterima kasih kepada Alvin yang mau membantunya dalam segala hal walau tanpa diminta. “Wah, mantap, dong, kalau gitu! Thank you banget, Vin. Eh, tapi Kak Aji keren juga, ya, punya kenalan model terkenal gitu.”
“Dia udah lebih senior dari kita, Bro. Wajar,” ujar Alvin, lalu Josh tertawa.
“Iya, sih. Okelah kalau gitu,” ujar Josh. “Jadi, gimana? Lo udah dapat nomornya?”
“Nomor Keisha?” tanya Alvin, sedikit mengangkat alisnya untuk mengonfirmasi. Setelah itu, Alvin mengangguk. “Aman. Udah gue minta. Kami udah ngobrol-ngobrol dan dia udah tau soal proyek lo. Dia bilang, tentukan aja kapan mau ketemuannya. Dia mau ketemu lo dulu buat mutusin dia mau atau nggaknya.”
“Gila, Man, makasih banget, ya,” ujar Josh, lalu ia bertos ria dengan Alvin. Mereka sama-sama tertawa, lalu Josh melanjutkan, “Banyak banget utang budi gue sama lo.”
Mendengar itu, Alvin langsung tertawa terbahak-bahak. “Aman. Ganti emas batangan aja nanti.”
“Kampret,” umpat Josh, lalu mereka berdua kembali tertawa.
“Ya udah. Deal, nih, ‘kan?” tanya Alvin. “Biar gue ajak Kei ketemuan.”
“Oh, panggilannya Kei, ya?” tanya Josh, pria itu sedikit memiringkan kepalanya.
79Please respect copyright.PENANACMiMRo1FEn
Namanya cantik.
79Please respect copyright.PENANAR6EBr57tuf
Alvin mengangguk mengiyakan. “Yoi.”
Josh pun tersenyum pada Alvin. Matanya yang jernih itu tampak berkilat; dia merasa bahwa rencananya untuk mengadakan pameran tunggal itu kini bisa terlaksana, bahkan mungkin bisa sukses. “Oke. Deal. Ajak dia ketemuan, ya. Gue mau ketemu sama dia.”
Alvin mengangguk, dia juga sangat antusias. Pria itu lalu mengacungkan jempolnya pada Josh. “Oke, Bro. Sip!”
Saat Alvin baru saja selesai berbicara, tiba-tiba ponsel Josh berbunyi, pertanda ada sebuah chat dari aplikasi WhatsApp yang baru saja masuk. Josh langsung merogoh saku celana jeans denimnya dan meraih ponselnya yang ada di dalam sana. Begitu memeriksa siapa pengirim chat tersebut, Josh pun langsung tersenyum.
Alvin, yang memperhatikan gerak-gerik Josh sedari tadi, kontan mendengkus. Itu pasti chat dari Windy. Alvin langsung mengedikkan bahu dan kembali memakan mie ayamnya.
Terlihat Josh yang terus tersenyum tatkala membalas chat di ponselnya.Dia membalas chat itu seraya memakan mie ayam yang belum habis di mangkuknya. Alvin hanya men-scroll Shorts di YouTube tatkala Josh sibuk senyum-senyum sendiri seraya membalas chat.
Namun, tiba-tiba saja Josh bersuara. Membuat Alvin langsung mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan menatap Josh dengan mata yang melebar.
“Eh, Vin, gue duluan, ya,” ujar Josh. “Windy minta dijemput.”
“Lah, sekarang?” tanya Alvin. “Serius lo? Makanan kita belum habis, nih.”
“Nggak apa apa. Lo di sini aja, habisin makanan lo. Gue duluan, ya?” ujar Josh dengan terburu-buru. Josh langsung membereskan barang-barangnya yang ada di atas meja dan mulai mengenakan tasnya. Alvin kontan menganga. Mata pria itu melebar.
“Kampret, gue ditinggalin, nih?!” tanya Alvin dengan kesal dan Josh malah tertawa.
“Sorry, sorry. Soalnya dia udah pulang. Ntar dia ngambek,” ujar Josh, kalimatnya terdengar seperti sebuah protes, tetapi nyatanya dia mengucapkannya dengan penuh kasih sayang. Tatapan matanya juga terlihat lembut tatkala mengucapkan itu.
Dia benar-benar sedang dimabuk cinta.
Alvin hanya bisa menghela napas. Dia pun mengizinkan Josh untuk pergi terlebih dahulu, meninggalkannya di warung mie ayam itu sendirian demi menjemput Windy. Alhasil, Alvin hanya duduk sendirian di meja itu, memakan mie ayamnya sampai habis seraya menonton YouTube.
79Please respect copyright.PENANAtt9LyyRSxl
******
79Please respect copyright.PENANAfxPNSI3Z4Q
Josh menghentikan mobilnya di depan pintu putar hotel tempat Windy bekerja. Mobil Josh tadi masuk ke halaman hotel itu dan melewati sebuah air mancur yang berbentuk lingkaran. Hotel itu adalah salah satu hotel bintang empat yang ada di Kota Surabaya.
Tak lama kemudian, Josh melihat sosok Windy yang tengah berlari menghampiri mobilnya. Belum sempat Josh keluar dari mobilnya untuk menyambut Windy, Windy sudah sampai di samping mobilnya dan mengetuk kaca mobil Josh seraya tersenyum manis.
Josh lantas membukakan pintu mobil itu dari dalam. Josh tersenyum, ia terlihat senang tatkala melihat wajah kekasihnya sore ini. Windy masuk ke dalam mobil, lalu menutup pintu mobil itu kembali.
Tatkala sudah masuk ke mobil, Windy pun langsung memeluk tubuh Josh singkat dan hal itu sukses membuat Josh membulatkan mata. Jantung pria itu berdegup kencang. Siapa sangka rasa cintanya yang ia pendam bertahun-tahun akan menjadi kenyataan seperti ini?
Dia bahagia bukan kepalang.
Saat Windy melepaskan pelukannya, wanita itu pun langsung tersenyum pada Josh dan berkata, “Hai, Sayang.”
Ah. Rasanya Josh seperti berada di langit ketujuh. Tubuhnya ringan seperti sedang berada di awang-awang. Melihat Windy yang tersenyum manis padanya, memeluknya, lalu mengucapkan panggilan ‘Sayang’ untuknya…ini luar biasa. Josh benar-benar bahagia.
“Hai, Sayang,” jawab Josh. “Lama nggak kamu nunggunya tadi?”
Windy menggeleng. “Nggak kok.”
Setelah itu, Windy kembali ke posisinya; dia duduk di jok penumpang depan (di samping jok pengemudi). Setelah memasang seat belt, Windy pun menatap Josh lagi dan tersenyum manis. “Ayo, jalan, Sayang.”
Josh membalas senyuman Windy, mengangguk, kemudian berkata, “Oke, Sayang.”
Tak lama kemudian, Josh pun mulai menjalankan mobilnya untuk keluar dari area hotel itu. Akhirnya, mobil itu mulai masuk ke jalan besar.
“Gimana kerjaan tadi, Sayang?” tanya Josh, pria itu menoleh sejenak kepada Windy yang terlihat sedang memainkan ponselnya. Sesekali Windy tampak tersenyum saat memainkan ponselnya; Windy agaknya sedang mengetikkan sesuatu di sana.
Ketika mendengar pertanyaan Josh, Windy yang sedang asyik memainkan ponselnya itu lantas melihat ke arah Josh. Wajah Windy mulai menampilkan sebuah senyuman yang manis. Familierkah kau dengan senyuman yang teramat manis hingga tak terlihat seperti benar-benar ingin tersenyum, melainkan hanya karena ingin menghormati atau menghargai? Senyuman Windy hampir selalu terlihat seperti itu, tetapi Josh tidak terlalu memperhatikannya. Atau lebih tepatnya, Josh punya firasatsoal itu, tetapi memilih untuk tak mengacuhkannya. Soalnya, mungkin itu hanya perasaan Josh saja.
Kedua mata Windy pun tertutup seolah ikut tersenyum. Josh tidak mengatakan sesuatu yang sangat luar biasa untuk membuat Windy bisa tersenyum semanis itu.
“Nggak ada apa-apa kok, Sayang,” jawab Windy, masih tersenyum manis. Wanita itu sedikit memiringkan kepalanya. “Aku terus-terusan mikirin kamu pas aku lagi kerja.”
Josh yang mendengar pengakuan itu kontan terkekeh. Ada sedikit semburat merah pertanda kebahagiaan yang muncul di pipi pria itu. “Kamu ini ada-ada aja, Sayang.”
Windy yang mendengar Josh terkekeh itu pun kontan tertawa pelan. Tertawa ala kadarnya untuk merespons Josh. Setelah itu, ketika Josh menoleh kepadanya, ia pun lagi-lagi memberikan Josh sebuah senyuman yang manis, sebelum akhirnya ia menatap ponselnya kembali.
Josh tengah fokus membelokkan kemudinya ke kanan tatkala ada sebuah chat yang masuk ke ponsel Windy. Windy kontan tersenyum saat menerima chat tersebut; matanya berbinar karena merasa senang. Dia terlihat bersemangat saat membuka chat itu; sebetulnya, ia sudah chatting-an dengan si pengirim chat itu sejak tadi.
Windy langsung membuka chat terbaru itu dengan jemari lentiknya.
79Please respect copyright.PENANAUJljhjLtrM
Frans Mahendra❤️
Udah sampai rumah, Sayang?
79Please respect copyright.PENANAeCmM0CJwk5
Windy tersenyum, lalu membalas chat dari manager umum hotelnya itu.
79Please respect copyright.PENANAubEeF0Mlp7
Me
Belum, Sayang. Lagi diantar sama dia, nih.
79Please respect copyright.PENANAP9OVRwVbhX
Frans Mahendra❤️
Kalo udah sampai ntar kabarin, ya, Sayang. Kangen. Ntar video call, ok?
79Please respect copyright.PENANAkU7VbmmVQ1
Me
Iya, Sayang. Aku juga kangen kamu 😚
79Please respect copyright.PENANABiPn79nuPU
“Oh ya, Sayang, malam ini mau jalan, nggak?” tanya Josh, suara pria itu tiba-tiba terdengar lagi.
Mendengar pertanyaan itu, Windy pun kontan menoleh kepada Josh lagi dan tersenyum dengan canggung. Wanita itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal; ia merasa tidak enak pada Josh. Ia lantas menggigit bibirnya sejenak karena merasa bingung.
“Duh… Gimana, ya, Sayang…” ujar Windy. Bibirnya melengkung ke bawah; ia terlihat sedih. Ia lantas melanjutkan dengan manja, “Aku…kayaknya hari ini agak capek… Besok-besok aja, ya? Gapapa, ‘kan, Sayang?”
Josh melebarkan matanya; dia langsung menatap Windy dan menjawab, “Oh…gitu, ya, Sayang? Oke, Sayang. Nggak apa-apa. Kamu istirahat dulu, ya. Jangan sampai kecapekan… Ntar malam langsung istirahat, oke?”
Setelah mendengar jawaban dari Josh, wajah Windy pun langsung berseri-seri.
Dia tersenyum sangat manis.
“Oke, Sayang.” []
79Please respect copyright.PENANAQWtBuV77hk