
******
Prolog :
209Please respect copyright.PENANA6a0S0Ezzi6
Taiwan, 24 Januari 1994
Rumah Keluarga Abraham
209Please respect copyright.PENANA2EJ5xbuKpI
KAKI anak laki-laki itu bergetar. Sebuah pemandangan yang baginya lebih mustahil daripada membalikkan bumi dan langit kini ada di depannya. Bagaikan ada petir di siang bolong yang menggelegar di ruangan itu, membuat jantungnya bak berhenti berdegup dan matanya membulat sempurna. Kegelapan seakan menyelimuti ruangan itu meskipun malam belum tiba.
Anak laki-laki itu hilang akal, matanya melebar dan pandangannya kosong. Mainan pemberian ibunya jatuh begitu saja ke lantai seolah tangannya tak sanggup lagi memegang mainan itu. Mata anak itu menatap tak percaya ke satu arah.
Ekspresi wajahnya berubah nelangsa, wajahnya pucat, dan air matanya sudah siap meluncur.
209Please respect copyright.PENANAlVh4VQx9bB
"Ma…ma?”
209Please respect copyright.PENANAaFIxW0P5C1
Ibunya. Bertelanjang dada di pangkuan seseorang yang bukan ayahnya. Mencium satu sama lain dan terhenti ketika anak itu masuk ke ruangan. Anak itu kini menangis. Ia terduduk dan menutup mata beserta wajahnya, lalu mulai menangis semakin kencang.
Mata ibunya kontan memelotot, tak menyangka bahwa ia akan akan dilihat oleh anaknya, dan ia tak mampu bergerak. Air matanya jatuh tatkala ia menyadari betapa bejatnya dia terlihat di mata anak laki-lakinya. Ia turun dari pangkuan pria itu, lalu dengan langkah tertatih-tatih ia menghampiri anaknya. Ia terperanjat ketika ia justru melihat anaknya berteriak lebih kencang saat ia dekati. Ia segera mengambil bajunya di lantai hanya untuk sekadar menutupi dadanya. Baju itu tidak ia pakai sama sekali; baju itu ia gunakan hanya untuk menutupi dadanya seraya menghampiri anak tersebut yang meraung-raung, terus memanggil-manggil ibunya.
"Sayang, Mama bukan—"
"JANGAN DEKAT-DEKAT!!!" teriak anak itu. Sembari menangis, wanita itu tetap mendekati anaknya, berusaha untuk menggapai tubuh anaknya.
"Sayang—"
Anak itu dengan cepat berdiri dan melangkah mundur, menjauhi ibunya. "Mama—itu siapa, Mama? Kenapa Mama sama orang itu, Mama? Dia bukan Papa! Mama jahat sama Papa, Mama jahat! Sama Papa, sama aku! Mama nggak sayang sama Papa lagi, ya? Mama nggak sayang sama Arco lagi?"
Wanita itu mendadak merasa seperti tercekik, dadanya terasa sesak dan air matanya jatuh lebih deras. Dengan berjuta kepedihan, ia berlari menghampiri tubuh anak kandungnya itu dan memaksa anak itu untuk berada di dalam pelukannya. Ia duduk di sana seraya mendekap tubuh anak itu dan mengecup kepala anak itu berkali-kali dengan pilu. Anak itu memberontak keras. "LEPASIN ARCO!!! MAMA JAHAT!! MAMA JAHAT!!! MAMA JAHAT!!!!!!"
"Maafin Mama, Sayang, tolong maafin Mama…"
"TIDAK!! ARCO NGGAK MAU! PAPA SAYANG SAMA MAMA DAN SAMA ARCO, ARCO TAHU!!"
Berontakan keras itu menunjukkan bahwa tak ada lagi tempat untuk ibunya di dalam hatinya. Tak ada lagi bagian dari dirinya yang menyukai ibunya; semua penilaiannya telah berubah.
Wanita itu terkejut. Serena terkejut bukan main. Ia dibenci oleh anaknya sendiri. Tuhan, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada ini. Dia kotor. Dia juga dibenci oleh anaknya. Dia mengkhianati suaminya hanya karena ingin mendapat perhatian lebih dari suaminya yang sibuk bekerja. Serena mendongak dan menatap anaknya yang tengah berdiri; anak itu menangis, tetapi matanya menatap Serena dengan penuh kebencian.
Serena menatap anaknya dengan nelangsa. Air matanya berjatuhan ke lantai porselen yang terasa begitu dingin saat itu.
209Please respect copyright.PENANA9Wg595q6dQ
"Arco benci sama Mama."
209Please respect copyright.PENANA55eTLvMwzE
Saat itulah, Serena merasa jantungnya seakan berhenti berdetak. Rasa sakitnya langsung menggerogoti seluruh tubuhnya. Dunia serasa berputar di depan matanya; waktu serasa terhenti. Saat anak laki-lakinya yang selalu ia sayangi di dunia ini...pergi dari ruangan itu, Serena lantas berteriak kencang. Berteriak…seolah harapan hidupnya sirna. Ia berteriak sekencang mungkin.
209Please respect copyright.PENANAXySdjoDbHy
*****
209Please respect copyright.PENANAw12ITg2WND
21 TAHUN KEMUDIAN
Taiwan, 10 Mei 2015
209Please respect copyright.PENANAmKcezudamW
Keringat pria itu mengalir turun melalui rahang tegasnya; matanya menatap ke depan dengan tajam.
Gym memang tempat berolahraga yang luar biasa, yang biasanya rutin dikunjungi oleh orang-orang yang ingin memperindah bentuk tubuhnya. Pria bertubuh proporsional itu terus menjalankan dan menikmati kegiatan olahraganya meskipun hanya ekspresi seriuslah yang ia tunjukkan. Matanya seperti mata seekor binatang buas.
Seorang gadis melihatnya dari pintu masuk ruangan gym pribadi milik pria itu dan gadis itu menggigit bibirnya dengan malu-malu. Ia akan berubah 180 derajat menjadi perempuan centil yang tiba-tiba menyelipkan rambutnya ke belakang telinga saat melihat pria itu. Ia sangat menyukai pria itu. Jadi, apa pun akan ia lakukan, termasuk bersikapmalu-malu.
"Kau di sini?" Gadis itu berkata dengan pelan sembari menggigit bibirnya.
Pria itu berhenti dari aktivitasnya dan melepaskan pec deck machine yang ia gunakan. Ia mengusap wajahnya dengan sapu tangan yang ada di saku celana olahraganya dan melihat ke arah gadis itu.
209Please respect copyright.PENANAx5lZ5bGybV
"Hm."
209Please respect copyright.PENANA6PqvxyYjpi
Pria itu bangkit, berjalan pelan ke kursi panjang yang ada di ujung ruangan, dan meraih air mineralnya yang ia letakkan di sana. Tubuh tegapnya yang tampak dari belakang itu benar-benar maskulin dan seksi; otot-ototnya tampak begitu keras. Tubuhnya begitu proporsional.
"Ada apa? Sampai-sampai kau ke sini," ujar pria itu dengan suara maskulinnya.
Gadis itu mendekat dengan perasaan gembira tatkala pria itu meminum air mineralnya. "Aku ingin melihatmu, apa itu salah? Kita sahabat, bukan? Kau berkata bahwa kau menyayangiku."
Pria itu meletakkan minumannya kembali, lalu ia berbalik dan menatap gadis itu. Ia menghela napas, lalu tersenyum. "Ya, aku sayang padamu karena kau sahabatku, Chintya."
Pria itu lalu berjalan melewati Chintya, sembari ia sempat membelai puncak kepala Chintya.
Chintya bersungut-sungut begitu pria itu pergi; Chintya langsung menghadap ke arah pria itu. "Tsk. Mengapa kau selalu seperti ini?!"
Pria itu berhenti. Ia berbalik; tubuh tegapnya terlihat bersinar akibat terkena sinar matahari yang masuk ke ruangan gym saat itu. Membuatnya terlihat begitu seksi dan berkarisma. Pria itu berkulit putih, tetapi tidak terlalu putih. Dia memiliki rahang yang kokoh dan tajam, bentuk matanya juga tajam seperti elang. Dia memiliki tindik di telinga sebelah kirinya yang ia pasangkan sebuah anting kecil. Tubuhnya kekar dan berotot; sepertinya, Tuhan betul-betul sedang tersenyum tatkala menciptakannya.
"Bukankah aku sudah bilang bahwa aku menyayangimu?" Pria itu menghela napas, tetapi ia mengucapkan itu dengan tulus.
"Kau tak pernah tahu rasa sayang apa yang kumaksud dan rasa sayang apa yang kuinginkan darimu. Mengapa kau selalu seperti ini, sih?!"
"Chintya Valissisa!" Ekspresi wajah pria itu itu mendadak berubah; ia menatap gadis itu dengan tajam. Suaranya mampu menekan habis orang lain. Namun, ternyata Chintya kali ini balas menatap tajam padanya. Gadis itu tampak tidak terima.
"Kau pergi ke Indonesia?! Jadi, bagaimana dengan pekerjaanmu di sini?! Kau itu seorang model, Deon. Kau begitu terkenal di Asia! Kau model pria terbaik di Asia. Setelah semua yang kau raih itu, kau mau membuangnya begitu saja? Kau tahu, ‘kan, motivasiku untuk menjadi seorang model? Alasan mengapa aku tinggal di Taiwan—negara asing ini—sementara keluargaku di Indonesia? Itu semua karena aku sayang padamu, Deon, aku tak ingin berpisah denganmu! Kau mau meninggalkanku? Deon, you were born here, in Taiwan," ujar Chintya, ia mulai mengeluarkan air mata. Ia betul-betul menangis; wajahnya memerah. Gadis itu menatap Deon dengan putus asa.
"Chintya, aku tidak benar-benar ingin menjadi seorang model, kau tahu itu. I didn't even know what I was doing and what I'm going to do. Aku hanya berusaha untuk tetap menjalani kehidupanku. Aku sudah mengundurkan diri dari agensiku dan keinginanku sudah mutlak. Perusahaan di sana membutuhkanku."
"Tapi kau membenci ibumu, Deon." Chintya berkata dengan sarkastis.
"Aku akan membeli apartemen di sana. Jadi, aku tak perlu bertemu dengannya." Deon menggeram, sketsa yang ia benci itu kembali terlintas di otaknya, berputar bagaikan kaset rusak yang terus mengganggu akal sehatnya. Deon tahu bahwa dia tak mungkin terus berada di titik yang sama, terus memikirkan potongan masa lalu itu hingga menjadi dendam, tetapi ia juga tak bisa meninggalkan masa lalu itu sebab sosok yang ia benci itu sampai sekarang masih ada di dunia ini.
"Bukankah karena kebencianmu itulah kau tetap tinggal di Taiwan, sementara keluargamu pindah ke Indonesia, tempat kelahiran ayahmu?"
"Aku tak memiliki pilihan lain—bukan, kurasa inilah kesempatanku. Aku takkan membiarkan apa pun terjadi lagi. Aku benci ketika orang yang kusayangi tersakiti." Pria itu menghela napas. Rahangnya mengeras; ia menggeram.
"Tapi Deon..." Chintya merengek.
Pria itu menghela napas. Menormalkan kembali ekspresi wajahnya dan berusaha untuk tetap tenang sebab bila ia tak mengendalikan dirinya, ia bisa saja mencelakai Chintya. Ia malah akan menyakiti salah satu orang yang berharga baginya. Demi Tuhan, dia membenci segala bentuk rasa sakit seperti itu. Dia ingin menjauhkan dirinya dari kata ‘menyakiti orang lain’, tetapi tampaknya tanpa sadar dia malah lebih mudah dalam menyakiti orang lain. Dia keras dan tidak suka ditentang. Dia egois.
"Chintya." Deon mendekat pada Chintya. Berkata dengan suara yang begitu lembut, "aku menyayangimu. Kau sahabatku yang paling kusayangi. Jangan khawatir."
"Deon..." Chintya memeluk Deon erat, mencium aroma tubuh pria itu yang tetap memabukkan meskipun sudah bercampur dengan keringat. Chintya memejamkan matanya dan bibirnya mengerucut seperti anak manja di dalam pelukan Deon. "Aku pasti menyusulmu. Pasti!"
Deon tersenyum dan ia melepaskan tubuh Chintya perlahan, didapatinya bibir Chintya mengerucut sebal seperti anak-anak yang sedang merajuk di hadapannya. Anak-anak dengan sejuta cintanya.
"Baiklah," jawab Deon pada akhirnya.
Ponsel yang ada di dalam saku celana Deon itu berdering. Dengan segera pria itu mengambil ponselnya, lalu menerima panggilan yang baru saja masuk.
"Mr. Deon. The flight is ready for tomorrow. Everything was settled."
Tatapan mata pria itu perlahan menjadi tajam; rahangnya mengeras lagi. Dia memang lahir di Taiwan, tetapi perjalanan ke luar negeri yang sering dilakukannya membuatnya nyaris selalu berbicara dengan bahasa Inggris.
"Okay. Thank you for everything."
Jakarta, Ibu Kota Indonesia. Dia berangkat ke Jakarta besok dengan penerbangan internasional. Siap menjalankan hidup baru sebagai penerus perusahaan otomotif milik ayahnya, tak peduli apa yang akan ia hadapi dan temui di sana. Yang jelas, ia ke sana dengan tekad untuk menyelamatkan perusahaan ayahnya, meringankan beban ayahnya yang kini begitu membutuhkannya. Telepon dari ayahnya satu minggu yang lalu—yang mengatakan bahwa ayahnya mau pensiun karena sakit—telah membuatnya bereaksi cepat.
Ia tidak akan membiarkan ayahnya menderita lagi.
Tekadnya untuk hidup sukses di Taiwan telah ia raih, bekerja sebagai model sejak kecil setelah lulus dari Harvard University. Ia ditinggal di Taiwan oleh keluarganya dua puluh tahun yang lalu, memilih untuk tetap tinggal di sana bersama neneknya karena ia muak melihat wajah ibunya. Ibunya masih mengikuti ayahnya ke Indonesia setelah kejadian itu. Mereka baru bercerai satu tahun kemudian.
Deon diselimuti kebencian yang mendalam terhadap ibunya.
Ayah hanya terlalu baik, ia selalu berpikir demikian. Ayahnya masih memaafkan ibunya, bahkan masih sempat menerima ibunya kembali selama dua tahun sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai karena terus-menerus bertengkar. Ternyata luka ayahnya tak semudah itu untuk sembuh meskipun memutuskan untuk menerima ibunya kembali.
Persetan dengan hubungan ibu-anak, dia malah jadi tak tahu apa yang harus ia lakukan di dunia ini. Ia seorang pria yang cerdas, tetapi dia buta akan tujuan hidupnya hanya karena dua hal, yaitu trauma dan kebencian.
Dia lepas kontrol ketika mendengar sebuah pengkhianatan. Ia membangun pribadi yang kejam dalam dirinya. Kepribadiannya jadi sedikit tidak masuk akal. Dia selalu berpikir di luar akal sehat, kekejaman dan otoriternya membuat banyak orang takut kepadanya, tetapi dia selalu dihormati karena hal itu. Dia juga tidak mudah percaya lagi kepada siapa pun; dia membenci kebohongan.
Chintya adalah pengecualian. Chintya sudah menjadi temannya sejak kecil, sejak sebelum kejadian laknat itu terjadi. Tidak ada perempuan lain yang dekat dengannya, kecuali Chintya Valissisa. Chintya tidak pernah mengkhianatinya. Setidaknya itulah yang Deon percayai sampai sekarang. Ia hanya harus bersiap jika suatu hari nanti ia terpaksa bertemu dengan wanita laknat bernama Serena itu di Indonesia, tepatnya di Jakarta.
Dialah sang pemimpin baru Abraham Groups, Marco Deon Abraham. []
209Please respect copyright.PENANATujP2ARum7
209Please respect copyright.PENANAZbOCeG2dxx
209Please respect copyright.PENANA5RNyLeMBv5
209Please respect copyright.PENANAfKtOMRgsSP
209Please respect copyright.PENANAhCVfhQO0PQ
209Please respect copyright.PENANAnd2hPGZ1Rc
209Please respect copyright.PENANAaIVg1613T3
209Please respect copyright.PENANA6G7oyAyji0
******
Major Characters: https://jihanseptiveliaa.blogspot.com/2025/02/my-man-major-characters.html
209Please respect copyright.PENANAHUHupABNbZ