Matahari pagi di hari berikutnya memancarkan sinar yang cukup terik, menembus celah-celah gorden kain brokat hijau di kamar tidur utama Ratna. Di atas ranjang berukuran king size dengan seprai bermotif bunga yang rapi, Ratna terbangun dengan tubuh yang terasa remuk dan berat. Namun, rasa lelah fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan siksaan yang kini sedang dirasakan oleh pusat saraf di selangkangannya. Begitu ia menggeser posisi duduknya di tepi ranjang, rasa ngilu, gatal, dan denyutan yang teramat sangat langsung menyengat memek togenya yang tembam.
Ratna menunduk, menatap gamis tidur tipisnya. Di balik kain itu, ia bisa merasakan betapa sensitifnya klitorisnya saat ini. Kemarin, setelah Fadhli menggagahinya habis-habisan di dalam mobil minibus sewaan di perbatasan kota, pemuda licik itu menanamkan sebuah aturan baru yang benar-benar menyiksa batin dan raganya. Fadhli melarang Ratna untuk menyentuh dirinya sendiri, membasuh memeknya dengan sabun, ataupun melakukan apa pun yang bisa meredakan gairahnya tanpa izin tertulis dari Fadhli. Fadhli sengaja membiarkan Ratna pulang dengan sisa-sisa peju yang mengering di celah pahanya, mengunci wanita matang itu dalam kondisi "gantung" atau kecanduan berahi yang akut selama berhari-hari.
"Fadhli... kamu benar-benar iblis," bisik Ratna dengan napas yang mendadak memburu hanya karena membayangkan wajah dominan pemuda itu.
Tangannya secara refleks merayap turun ke atas paha, berniat memberikan sedikit gosokan dari balik kain untuk meredakan rasa gatal yang menyiksa pada biji kemaluannya. Namun, baru saja jemarinya menyentuh area selangkangan, layar ponsel rahasianya yang tersembunyi di bawah bantal bergetar pelan. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor Fadhli.
*“Jangan berani-berani menyentuh memekmu pagi ini, Ratna. Aku tahu kamu sedang gatal dan becek di atas ranjang suamimu. Biarkan rasa gatal itu menyiksamu seharian ini sebagai hukuman karena kamu terlalu berisik di mobil kemarin. Kalau aku tahu kamu nekat orgasme sendiri, video saat kamu mendongak memohon kontolku dengan cadar menggantung akan langsung menyebar.”*
Ratna tersentak, tangannya langsung ditarik kembali dengan cepat seolah baru saja menyentuh besi panas yang membara. Jantungnya berdegup kencang, dipenuhi rasa takut yang berbaur dengan gairah yang semakin meledak-ledak. Bagaimana Fadhli bisa tahu apa yang sedang ia pikirkan? Apakah pemuda itu sedang mengawasinya dari seberang jalan? Pengendalian psikologis yang dilakukan Fadhli benar-benar telah mengubah hidup Ratna menjadi sebuah penjara kenikmatan yang mengerikan. Ia sepenuhnya tidak berdaya, menjadi tawanan dari nafsunya sendiri yang dikendalikan oleh remote kontrol tak kasat mata di tangan Fadhli.
Dengan tubuh yang gemetar menahan denyutan di selangkangannya, Ratna terpaksa bangkit berdiri. Setiap langkah yang diambilnya menuju kamar mandi terasa seperti siksaan erotis yang murni. Celana dalam katun tipis yang dipakainya sejak semalam terasa lengket, menempel ketat pada bibir memeknya yang bengkak dan dipenuhi sisa cairan alami yang mengering bersama peju Fadhli. Lendir asmaranya yang baru kembali mengocor perlahan, membuat area sensitif itu semakin lembap, pengap, dan berdenyut kencang menuntut pelepasan yang tak kunjung diberikan.
Di dalam kamar mandi, Ratna hanya berani membasuh tubuhnya dengan air dingin tanpa berani menggosok area kemaluannya secara berlebihan, persis seperti ancaman yang dilayangkan Fadhli. Ia membiarkan air dingin mengalir di antara dadanya yang besar, berharap rasa dingin itu bisa meredakan kepungan hawa panas yang membakar seluruh tubuh jalangnya. Namun, setiap kali pancaran air mengenai puting payudaranya yang mengeras, pikirannya justru kembali melayang pada kasarnya remasan tangan Fadhli kemarin.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Ratna mengenakan gamis longgar berwarna hijau tua yang dipadukan dengan jilbab bergo instan yang panjang hingga menutupi perutnya. Hari ini, suaminya, Ustadz Hadi, dijadwalkan akan pulang dari kota sebelah pada siang hari. Ratna harus menyiapkan segala keperluan rumah tangga dan menyambut suaminya dengan wajah seorang istri yang patuh dan suci, seolah-olah tidak ada badai maksiat yang sedang bergemuruh di dalam rahimnya.
Saat Ratna sedang menyapu lantai ruang tamu, sebuah bayangan muncul di balik pintu kaca depan yang transparan. Ratna menoleh dengan cepat, mengira itu adalah Fadhli yang kembali datang untuk menyiksanya. Namun, begitu melihat sosok di balik pintu, jantung Ratna justru mencelos karena alasan yang berbeda.
Itu adalah Nisa. Janda muda tetangga sebelah rumah yang belakangan ini menunjukkan gelagat kecurigaan yang sangat tajam terhadap perubahan sikap Ratna. Nisa berdiri di sana dengan mengenakan daster rumahan bercorak batik yang cukup ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sintal, dengan rambut panjangnya yang digelung asal-asalan ke atas. Matanya yang tajam langsung memandangi Ratna dari balik kaca, sebuah tatapan selidik yang membuat bulu kuduk Ratna meremang seketika.
Ratna menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat sewajar mungkin. Ia meletakkan sapunya di sudut dinding, lalu berjalan membukakan pintu depan untuk tetangganya tersebut.
"Assalamu’alaikum, Mbak Ratna," sapa Nisa dengan nada suara yang terdengar ramah, namun ada intonasi sinis yang terselubung di dalamnya. Matanya dengan lincah bergerak, menyapu dari ujung kepala Ratna, turun ke dada besarnya, hingga berhenti sejenak di area pinggul lebar Ratna yang tampak agak kaku saat bergerak.
"Wa’alaikumussalam, Nisa. Eh, mari masuk. Ada apa pagi-pagi sudah main ke sini?" jawab Ratna, mencoba tersenyum seramah mungkin meskipun selangkangannya saat itu sedang berdenyut hebat akibat jepitan paha yang terlalu rapat.
Nisa melangkah masuk ke dalam ruang tamu tanpa ragu, aroma minyak wangi melati murahannya langsung memenuhi ruangan. Ia duduk di sofa panjang, posisi yang sama dengan tempat duduk Fadhli dua malam lalu. "Ini lho, Mbak... aku cuma mau mengantarkan sedikit kue kukus buatan ibuku di rumah. Sekalian... mumpung suasananya sepi, aku mau mengobrol sebentar sama Mbak Ratna. Kemarin-kemarin kan Ustadz Hadi sibuk terus, jadi tidak enak kalau mau bertamu lama-lama."
Ratna menerima piring berisi kue kukus itu dengan tangan yang sedikit kaku. "Oh, terima kasih banyak ya, Nis. Repot-repot sekali. Mari, duduk dulu. Aku buatkan minum sebentar ke dapur ya."
"Ah, tidak usah repot-repot, Mbak Ratna. Duduk saja dulu di sini bersamaku," sergah Nisa dengan cepat, tangannya bergerak menahan pergelangan tangan Ratna. Sentuhan tangan Nisa yang tiba-tiba membuat Ratna tersentak kecil. Nisa menatap mata Ratna dengan sangat intens, seolah-olah ia sedang mencoba membaca lembar rahasia terlarang yang disembunyikan oleh sang istri ustadz di balik jilbab bergonya. "Lagipula... aku perhatikan belakangan ini Mbak Ratna kelihatan sering melamun dan lemas. Wajah Mbak juga kelihatan agak... pucat tapi berkeringat. Mbak Ratna sedang sakit, atau... ada beban pikiran yang sedang disembunyikan dari Ustadz Hadi?"
Pertanyaan menohok dari Nisa seketika membuat atmosfer di dalam ruang tamu itu berubah menjadi sangat tegang dan berbahaya bagi posisi Ratna.
Genggaman tangan Nisa di pergelangan tangannya terasa begitu dingin, berbanding terbalik dengan aliran darah Ratna yang mendidih akibat kepungan berahi dan rasa panik. Ratna terpaku di tempatnya berdiri, matanya melebar sesaat sebelum ia berhasil memaksa dirinya untuk menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai gemetar yang merayapi seluruh persendiannya. Di bawah balutan jilbab bergo hijaunya yang longgar, dada Ratna yang besar naik turun dengan ritme yang memburu, membuat puting payudaranya yang mengeras semakin kentara bergesekan dengan kain bra berenda hitamnya.
"N-Nisa... kamu ini bicara apa?" Ratna mencoba tertawa kecil, sebuah tawa gila yang dipaksakan untuk mencairkan suasana yang mendadak mencekam. Ia perlahan menarik tangannya dari cengkeraman Nisa, lalu memosisikan diri duduk di sofa tunggal yang berada di seberang janda muda itu. "Mbak tidak apa-apa. Mungkin cuma kecapekan saja karena belakangan ini banyak urusan rumah tangga dan jadwal pengajian ibu-ibu yang agak padat."
Nisa tidak langsung merespons. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, melipat kedua tangannya di bawah dada yang sintal, membuat belahan dadanya menyembul sedikit dari balik kerah daster batiknya yang rendah. Matanya yang tajam dan sarat akan kelicikan terus mengunci wajah Ratna, menguliti setiap kepalsuan yang mencoba dipasang oleh istri ustadz tersebut.
"Ah, masa cuma kecapekan, Mbak?" Nisa mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua sikunya di atas lutut, memperkecil jarak di antara mereka. Bau minyak wangi melatinyanya yang menyengat kini bercampur dengan hawa pengap ruang tamu. "Mbak Ratna jangan bohong sama aku. Kita ini tetangga dekat, aku tahu betul bagaimana kebiasaan Mbak. Sejak pemuda bernama Fadhli itu mengontrak di seberang jalan, Mbak Ratna kelihatan... berbeda. Lebih sering melamun, jalan bergegas seperti ketakutan, dan... kemarin pagi, aku tidak sengaja melihat Mbak pergi buru-buru pakai baju hitam lengkap dengan cadar. Padahal setahuku, Mbak Ratna tidak pernah pakai cadar kalau cuma ke pasar kota."
*Deg!* Jantung Ratna rasanya seperti dihantam godam besar. Seluruh permukaan kulitnya seketika dibanjiri keringat dingin. Tuduhan Nisa begitu tepat sasaran, meruntuhkan dinding pertahanan mental yang sudah ia bangun susah payah sejak pagi. Risiko kehancuran nama baik suaminya, Ustadz Hadi, dan harga dirinya sendiri kini sedang dipertaruhkan di atas meja ruang tamu ini. Akibat tekanan stres yang luar biasa gila itu, memek toge Ratna di balik celana dalam katunnya justru merespons dengan cara yang paling jalang: liang sanggamannya berdenyut kencang, memeras sisa-sisa lendir asmara hingga semakin becek, menciptakan sensasi gatal dan basah yang luar biasa menyiksa di antara celah bibir kemaluannya. Aturan Fadhli yang melarangnya mencapai puncak benar-benar membuat tubuh Ratna menjadi sangat sensitif; bahkan sebuah ancaman terbongkar pun bisa memicu gairahnya hingga ke ubun-ubun.
"Itu... kemarin Mbak ada keperluan mendesak, Nisa. Ada kerabat dari luar kota yang meminta Mbak berpakaian seperti itu agar tidak mencolok," Ratna berdusta, suaranya terdengar agak serak dan bergetar di ujungnya. Ia meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan, berjuang mati-matian menahan panggul lebarnya agar tidak menggeliat di atas sofa akibat jepitan celana dalam yang basah kuyup.
Nisa tersenyum simpul, sebuah senyuman penuh kemenangan yang menandakan bahwa ia sama sekali tidak mempercayai bualan Ratna. "Oh, begitu ya? Baguslah kalau memang cuma urusan kerabat. Tapi tahu tidak, Mbak? Kemarin sore, setelah Mbak Ratna pulang, aku melihat Fadhli juga baru turun dari sebuah minibus hitam di perbatasan gang. Wajahnya kelihatan segar sekali, seperti baru saja mendapatkan... 'servis' yang sangat memuaskan dari seorang wanita."
Nisa sengaja menjeda kalimatnya, membiarkan kata 'servis' itu menggantung di udara malam dan memukul telinga Ratna dengan telak. Matanya yang jeli beralih turun, menatap ke arah celah paha Ratna yang menjepit rapat di bawah kain gamis hijau tuanya. Nisa menyadari ada getaran halus yang tidak bisa disembunyikan oleh kaki Ratna, sebuah indikasi fisik dari seorang wanita yang sedang menahan gejolak syahwat yang teramat besar.
"Mbak Ratna," bisik Nisa, suaranya kini melunak namun terasa semakin beracun. "Aku ini janda, Mbak. Aku tahu betul bagaimana rasanya jadi wanita yang kesepian, yang suaminya terlalu sibuk dengan urusan luar dan mengabaikan kebutuhan di atas ranjang. Ustadz Hadi itu orang baik, orang alim... tapi semua orang di kampung ini juga tahu kalau dia dingin dan kaku pada istrinya sendiri. Jadi... kalau memang Mbak Ratna punya rahasia kecil dengan pemuda kekar seberang jalan itu, Mbak tidak perlu takut denganku. Aku bisa menjaga rahasia... asal kita bisa saling 'mengerti'."
Mendengar tawaran terselubung dari Nisa, Ratna hanya bisa terpaku dengan bibir terbuka kecil. Lidahnya mendadak kelu untuk membantah. Di dalam benaknya yang mulai dikuasai oleh kabut nafsu dan kepanikan, Ratna menyadari bahwa jerat bahaya yang dipasang di sekelilingnya kini tidak hanya bersumber dari kelicikan Fadhli, melainkan sudah mulai melibatkan pihak ketiga yang siap menyeretnya lebih dalam ke jurang kehinaan yang paling sensual. Sementara di bawah sana, memeknya yang becek terus berdenyut kosong, mengemis pasokan batang kontol besar Fadhli yang semalam mengunci rahimnya tanpa pelepasan.
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruang tamu, hanya diringi oleh deru kipas angin gantung yang berputar lambat di langit-langit. Ratna merasa lidahnya benar-benar kelu, membeku oleh kombinasi rasa takut yang luar biasa dan sengatan berahi yang tak kunjung padam di selangkangannya. Kata-kata Nisa barusan bukan lagi sekadar sindiran, melainkan sebuah konfirmasi bahwa janda muda itu telah mengendus bau maksiat yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik jilbab bergonya. Lebih ngeri lagi, Nisa menuntut sebuah imbalan terselubung—sebuah bentuk kesepakatan rahasia sesama wanita kesepian.
"N-Nisa... kamu jangan sembarangan kalau bicara," Ratna akhirnya berhasil mengeluarkan suara, meskipun terdengar sangat lemah dan tidak memiliki kekuatan untuk membantah. Ia mencoba mengalihkan pandangannya dari mata Nisa yang licik, berpura-pura merapikan lipatan gamis hijau tuanya di atas lutut. Namun, gerakan tangan Ratna justru membuat kain gamisnya sedikit menekan gundukan memeknya yang bengkak, memicu rasa geli yang amat pekat hingga membuat pinggul lebarnya tersentak kecil di atas sofa.
Nisa yang jeli tentu tidak melewatkan respons tubuh Ratna yang begitu sensitif. Ia terkekeh pelan, sebuah suara renyah yang terdengar sangat mengejek di telinga Ratna. Nisa bangkit dari duduknya, melangkah perlahan mendekati sofa tempat Ratna berada. Setiap ketukan langkah kaki Nisa di atas lantai ubin terdengar bagai lonceng kematian bagi harga diri Ratna sebagai istri seorang ustadz terpandang.
"Mbak Ratna, tidak usah berpura-pura di depanku. Aku ini tidak berniat jahat kok," kata Nisa sambil mendudukkan pantat sintalnya tepat di samping Ratna, memangkas habis jarak sosial di antara mereka. Aroma minyak wangi melati murahan milik Nisa kini berbaur dengan bau keringat dingin yang keluar dari pori-pori kulit Ratna. Nisa mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di telinga Ratna yang tertutup jilbab bergo. "Aku tahu betul bagaimana rasanya dikunci oleh gairah, Mbak. Dan aku juga tahu, Fadhli itu bukan pemuda biasa. Kontolnya besar dan tegap, bukan? Pria seperti dia pasti tahu bagaimana cara menghancurkan wanita matang seperti kita sampai becek ke ranjang."
Mendengar kata 'kontol' keluar dari mulut Nisa dengan begitu gamblang, wajah Ratna seketika memerah padam. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa sesak di dada. Di balik rasa syoknya, kalimat Nisa justru bertindak seperti afrodisiak yang kejam. Memek toge Ratna kembali berdenyut-denyut kosong, mengalirkan lendir asmara yang semakin hangat dan kental, membasahi celana dalam katunnya yang sudah lembap sejak pagi. Siksaan aturan Fadhli yang melarangnya menyentuh diri sendiri membuat tubuh Ratna berada dalam kondisi super-sensitif, di mana setiap rangsangan verbal yang cabul langsung direspons dengan produksi cairan yang melimpah.
"Nisa, tolong... jangan bicara sekasar itu di rumah ini. Mas Hadi bisa pulang kapan saja," rintih Ratna, kepalanya tertunduk dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca, menahan rasa malu yang berbaur dengan letupan syahwat yang menggantung di ujung tanduk kenikmatan.
"Ustadz Hadi baru pulang nanti siang, Mbak. Masih ada banyak waktu," Nisa tersenyum menyeringai. Tangannya yang bebas kini dengan berani merayap ke atas pangkuan Ratna, mengelus paha lebar Ratna dari balik kain gamis hijau tuanya. "Mbak Ratna... bagaimana kalau kita bagi rahasia ini bersama? Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya digagahi oleh Fadhli. Kalau Mbak Ratna mau membantuku untuk mengatur waktu agar aku bisa... 'bermain' juga dengan Fadhli di kontrakan belakang, aku berjanji tidak akan pernah membocorkan apa pun yang aku tahu tentang Mbak kepada Ustadz Hadi maupun orang-orang pengajian."
Ratna tersentak, menoleh dengan cepat menatap wajah Nisa yang dipenuhi kabut nafsu yang licik. Pikiran bahwa Fadhli—pria yang telah menjinakkan tubuh dan jiwanya, pria yang kontol besarnya baru saja membanjiri rahimnya dengan peju panas kemarin pagi—akan menyentuh dan menggenjot wanita lain, mendadak membakar rasa cemburu yang luar biasa gila di dalam dada Ratna. Di balik statusnya yang kini telah berubah menjadi wanita jalang, ego Ratna menolak keras untuk berbagi kepemilikan atas kontol besar Fadhli dengan janda muda di sampingnya ini.
Namun, sebelum Ratna sempat memberikan jawaban atau menolak tawaran berbahaya itu, suara deru mesin sepeda motor matic yang sangat mereka kenal terdengar berhenti tepat di depan pagar rumah. Itu adalah suara motor milik Fadhli. Pemuda predator itu rupanya sengaja datang berkunjung, seolah tahu bahwa mangsa utamanya sedang terdesak di dalam rumah oleh jebakan pihak ketiga.
Suara deru mesin motor matic Fadhli yang mendadak mati di luar pagar seolah memutus ketegangan yang hampir saja meremukkan kesadaran Ratna. Namun, bagi Ratna, kedatangan pemuda itu tidak membawa kelegaan, melainkan badai baru yang jauh lebih mengancam. Nisa yang duduk di sampingnya langsung menegakkan punggung, matanya berbinar liar penuh antisipasi, sementara tangan janda muda itu perlahan ditarik dari paha Ratna, menyisakan sensasi dingin yang aneh di balik kain gamis hijau tuanya.
Ratna berjuang menguasai detak jantungnya yang menggila. Di balik celana dalam katunnya, memek togenya yang bengkak berdenyut hebat, memeras lendir asmara yang semakin kental dan hangat hingga mengalir perlahan membasahi celah paha dalamnya. Siksaan dari larangan Fadhli untuk tidak mencapai puncak sejak semalam membuat saraf-saraf sensitif di selangkangannya benar-benar berada di titik paling rapuh. Setiap geseran kain sekecil apa pun terasa seperti sengatan listrik yang memicu gairah jalangnya hingga ke ubun-ubun.
Langkah kaki yang tegap dan berirama terdengar mendekati teras rumah. Tak lama kemudian, sosok Fadhli muncul di balik pintu kasa yang terbuka setengah. Pagi ini ia mengenakan kaos oblong polos berwarna hitam yang membungkus ketat dada bidang dan gumpalan otot lengannya yang kekar, dipadukan dengan celana pendek kargo yang santai. Wajahnya yang maskulin tampak segar, dengan seulas senyuman tipis dan licik yang langsung menusuk tepat ke netra mata Ratna yang ketakutan.
"Assalamu’alaikum, Bu Ratna," sapa Fadhli, suaranya terdengar begitu berat, sopan, dan dalam, seolah ia hanyalah seorang tetangga yang ramah. Namun, begitu matanya beralih ke samping dan mendapati sosok Nisa yang sedang duduk merapat di sofa yang sama, kilat di matanya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan penuh intrik. "Eh, ternyata ada Mbak Nisa juga di sini. Maaf, saya mengganggu ya?"
Nisa segera memasang senyuman manisnya yang paling menggoda, memajukan dadanya yang sintal hingga belahannya menyembul dari balik kerah daster batik. "Wa’alaikumussalam, Fadhli. Ah, enggak mengganggu sama sekali kok. Ini tadi aku cuma lagi main, mengantarkan kue kukus buat Mbak Ratna. Sini, masuk dulu, Fad. Duduk bareng."
Fadhli melangkah masuk tanpa ragu. Aroma maskulin tubuhnya yang bercampur bau sabun jantan langsung memenuhi ruangan, mendominasi wangi melati murahan milik Nisa. Ia memilih duduk di sofa tunggal yang berada tepat di hadapan kedua wanita itu. Posisinya yang strategis membuat pandangan matanya dengan leluasa mengurung pergerakan paha lebar Ratna yang menjepit rapat di bawah gamis hijau tuanya.
"Kebetulan sekali kalau begitu," kata Fadhli, matanya menatap Ratna dengan intensitas yang membuat wanita matang itu menundukkan kepala perlahan, menahan napas yang mendadak terasa sesak. "Saya ke sini sebenarnya mau mengembalikan wadah bekal yang kemarin lusa diberikan Ustadz Hadi. Sekaligus... mau menanyakan apakah Ustadz Hadi sudah pulang atau belum, Bu Ratna?"
Ratna menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokannya. Ia tahu pertanyaan Fadhli hanyalah sebuah sandiwara. Fadhli tahu persis jadwal suaminya, dan kedatangannya saat ini pasti didorong oleh niat tersembunyi untuk mempermainkannya lebih jauh, terutama dengan adanya Nisa di ruangan ini.
"M-Mas Hadi... baru pulang nanti siang, Mas Fadhli," jawab Ratna, suaranya terdengar agak parau dan bergetar hebat. Jari-jarinya di atas pangkuan meremas kain jilbab bergonya dengan sangat kuat, berusaha mati-matian menahan panggul lebarnya agar tidak menggeliat pasrah di depan kedua orang ini. Siksaan gantung yang diberikan Fadhli benar-benar membuatnya merasa seperti berada di dalam neraka kenikmatan.
Fadhli terkekeh pelan, sebuah suara rendah yang terdengar begitu wajar di telinga Nisa, namun terdengar sangat mengancam di batin Ratna. "Oh, begitu ya? Sayang sekali. Padahal ada beberapa hal penting yang ingin saya konsultasikan terkait urusan... lingkungan di sekitar sini."
Nisa yang sejak tadi memperhatikan interaksi itu, langsung menyambar obrolan dengan nada manja. "Urusan lingkungan apa sih, Fad? Kayaknya serius banget. Kalau Ustadz Hadi belum pulang, kan bisa didiskusikan sama kami dulu di sini. Ya kan, Mbak Ratna?" Nisa menyenggol pelan bahu Ratna, memberikan kedipan mata terselubung yang seolah mengingatkan Ratna akan kesepakatan rahasia yang baru saja mereka bicarakan sebelum Fadhli datang.
Fadhli melirik ke arah Nisa, lalu matanya kembali turun, terpaku pada celah di antara kedua paha Ratna di bawah meja kopi yang rendah. Dengan kelicikan seorang predator ulung yang tahu bahwa mangsanya sedang berada dalam posisi terjepit oleh pihak ketiga, Fadhli mulai menyusun sebuah skenario gila di dalam kepalanya. Ia memajukan posisi duduknya ke ujung sofa, merenggangkan kaki panjangnya di atas karpet berbulu, bersiap untuk meningkatkan taruhan bahaya malam ini langsung di bawah hidung janda muda yang mulai ikut campur dalam permainan dosanya.
Ketegangan di ruang tamu itu kini berada di titik didih yang paling krusial. Fadhli, dengan ketenangan seorang predator ulung, menyandarkan punggung tegapnya ke sofa tunggal, menyilangkan satu kaki kekarnya di atas lutut yang lain. Matanya yang tajam dan berkilat penuh intrik beralih dari wajah Nisa yang genit, lalu turun, mengunci area selangkangan Ratna di bawah meja kopi berkaki pendek. Dari posisinya yang rendah, Fadhli bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana paha lebar Ratna bergetar halus di balik kain gamis hijau tuanya, sebuah bukti fisik bahwa siksaan "gantung" yang ia berikan sejak semalam telah bekerja dengan sangat sempurna.
"Mbak Nisa benar," ujar Fadhli, suaranya terdengar begitu berat dan berwibawa, seolah-olah ia sedang memimpin jalannya diskusi yang lumrah. "Sebagai sesama tetangga dekat, kita memang harus saling mengerti dan terbuka. Lingkungan di sekitar sini terasa semakin hangat belakangan ini, dan kurasa... kita semua butuh pelampiasan yang tepat agar tidak stres."
Nisa tertawa renyah, merasa mendapat dukungan penuh dari pemuda yang diincarnya. Ia sengaja menggeser pantat sintalnya semakin merapat ke tubuh Ratna, hingga bahu mereka saling menempel ketat. "Tuh, dengar kan, Mbak Ratna? Fadhli saja setuju. Mbak Ratna jangan terlalu kaku lah jadi orang. Sesekali kita harus menikmati hidup."
Ratna hanya bisa menundukkan kepala sedalam-dalamnya di balik jilbab bergo hijaunya. Wajah cantiknya sudah sewarna kepiting rebus, dibanjiri oleh keringat dingin yang mengalir menetes hingga ke leher. Di bawah sana, memek togenya seolah mengamuk; liang kemaluannya berdenyut-denyut kencang, memeras lendir asmara yang semakin melimpah ruah, membuat celana dalam katunnya terasa sangat basah, lengket, dan menjepit hangat di celah bibir kemaluannya yang bengkak. Rasa gatal dan ngilu yang menyiksa akibat larangan orgasme dari Fadhli kini bercampur aduk dengan rasa cemburu yang membakar dada melihat bagaimana Nisa mencoba merayu pria miliknya.
Melihat kepasrahan dan penderitaan sensual Ratna yang begitu menggemaskan, Fadhli memutuskan untuk melancarkan serangan psikologis yang paling gila. Di bawah meja kopi yang membatasi mereka, Fadhli menjulurkan kaki panjangnya yang beralaskan sandal gunung. Dengan gerakan yang sangat lambat namun terencana, ujung sandal Fadhli merayap maju di atas karpet, menyelinap di antara kedua mata kaki Ratna, lalu dengan berani mendesak masuk memisahkan kedua paha lebar wanita matang itu.
*Deg!* Ratna tersentak kecil, matanya terpejam erat. Ia mencoba menjepit kembali paha lebarnya untuk menahan laju kaki Fadhli, namun kekuatan kaki pemuda itu jauh lebih besar. Perlahan tapi pasti, paha Ratna dipaksa terbuka membentuk huruf V di bawah meja, tepat di samping Nisa yang masih sibuk mengoceh tanpa menyadari pergerakan rahasia di bawah sana.
Fadhli menekan ujung sandalnya tepat di atas gundukan memek Ratna yang terbungkus gamis. Meskipun terhalang lapisan kain, tekanan yang presisi itu langsung menghantam klitoris Ratna yang sudah super-sensitif dan menonjol keras sejak semalam.
"Ahhh..." sebuah desahan tipis yang sangat sensual hampir saja lolos dari bibir Ratna, namun ia buru-buru menggigit bibir bawahnya hingga memerah untuk membekap suara tersebut. Seluruh tubuhnya menegang sempurna, tangannya meremas lututnya sendiri dengan kuku yang hampir menembus kain.
"Mbak Ratna kenapa? Kok mukanya makin merah begitu? AC-nya kurang dingin ya?" tanya Nisa dengan nada heran, memperhatikan perubahan drastis pada raut wajah istri ustadz di sampingnya.
Fadhli tersenyum menyeringai, matanya menatap tajam ke arah mata Ratna yang kini berkaca-kaca menahan nikmat yang luar biasa menyiksa. Kaki Fadhli di bawah meja mulai bergerak memutar, menggosok-gosok biji kemaluan Ratna dengan ritme yang lambat namun bertenaga, sengaja menyiksanya di depan pihak ketiga.
"Bu Ratna mungkin cuma merasa gerah, Mbak Nisa," sapa Fadhli dengan nada suara yang penuh kemenangan tersembunyi. "Bagaimana kalau Mbak Nisa ambilkan segelas air es ke dapur untuk Bu Ratna? Kasihan, sepertinya beliau sudah sangat... 'kehausan' sejak tadi."
Nisa melihat ke arah Ratna yang memang tampak kepanasan dengan napas yang terengah-engah, lalu beralih menatap Fadhli dengan patuh. "Oh, iya benar juga ya. Sebentar ya, Mbak, aku ambilkan air es dulu ke dapur. Fad, jangan kemana-mana ya, tunggu aku," kata Nisa sambil bangkit berdiri dari sofa, membetulkan letak dasternya, lalu berjalan melangkah menuju area dapur belakang.
Begitu sosok Nisa menghilang di balik sekat koridor dapur, Fadhli langsung menarik kakinya dari bawah meja. Dengan gerakan secepat kilat, ia berpindah tempat duduk, melesat ke sofa panjang dan langsung menindih tubuh Ratna yang sedang lemas tak berdaya.
"Fadhli... jangan... Nisa bisa kembali kapan saja..." Ratna memelas di sela napasnya yang memburu, namun tangannya justru mencengkeram kaos hitam Fadhli, menarik tubuh kekar itu semakin merapat.
"Diam, jalang kecil," bisik Fadhli kejam. Tangan kanannya yang besar merayap masuk ke balik jilbab bergo Ratna, mencengkeram lehernya, sementara tangan kirinya langsung menyusup ke bawah gamis, meremas memek toge Ratna yang sudah basah kuyup oleh lelehan lendir yang ngocor deras. Fadhli melesakkan satu jarinya ke dalam lubang memek Ratna yang hangat, mengocoknya kasar sebanyak tiga kali hingga berbunyi *ecek-ecek* yang mesum, sebelum menariknya kembali dengan cepat.
"Ini peringatan untukmu, Ratna. Aku tahu janda itu ingin mencicipi kontolku, dan kamu cemburu, bukan?" bisik Fadhli seraya menjilat cairan memek Ratna yang melekat di jemarinya sendiri tepat di depan mata wanita itu. "Tetap biarkan memekmu gatal dan becek seperti ini. Jangan berani-berani keluar sebelum aku yang mengizinkanmu. Kalau kamu berani melayani Nisa atau suamimu sebelum aku, aku akan menghancurkanmu sampai tak bersisa."
Fadhli segera bangkit dan kembali ke sofa tunggalnya tepat saat terdengar suara langkah kaki Nisa yang berjalan kembali dari dapur membawa segelas air es. Ratna hanya bisa bersandar di sofa dengan dada yang naik turun, memeknya yang basah berdenyut kosong merindukan tusukan batang besar Fadhli yang sengaja menguncinya dalam penjara kenikmatan yang tiada akhir ini.2059Please respect copyright.PENANAjIPyO2gqhQ


