Minggu sore, sinar matahari yang mulai redup menyelinap ke kamar kosanku, dan aku sedang duduk di kasur sambil mencoba menenangkan pikiran yang kacau karena godaan Amelia seharian. Tiba-tiba, ketukan keras di pintu membuatku tersentak, dan Amelia, yang melayang di depanku dengan kemejaku yang longgar tergeser hingga memperlihatkan belahan payudaranya yang seperti pepaya matang, putingnya yang mancung samar terlihat di balik kain tipis, langsung berbinar.
“Firman, itu pasti BH-nya! Cepet ambil!” katanya, suaranya genit penuh semangat, tangannya memainkan rambut panjangnya, bikin kemeja bergoyang dan payudaranya yang ranum makin menggoda mataku. Aku menelan ludah, berusaha mengalihkan pandangan dari putingnya yang nyeplak, dan buru-buru berdiri menuju pintu, jantungku berdegup kencang membayangkan apa yang akan terjadi saat dia mencoba pakaian dalam itu.
Di depan pintu, driver GoSend berdiri dengan kotak paket di tangan, matanya menatapku curiga, berkali-kali melirik ke arahku seolah memastikan aku benar-benar pemesan. “Mas Firman? Ini… pesanan pakaian dalam wanita?” tanyanya, nadanya penuh keraguan, matanya menyipit saat melihat kotak bertuliskan “Bra & Panty Set” di tangannya. Aku tersenyum canggung, wajahku memerah, “Iya, betul, buat… ehm, temen,” kataku, suaraku serak, mataku sesekali melirik ke Amelia yang melayang di belakangku, payudaranya yang besar dan putingnya yang mancung bikin aku salah fokus.
Driver itu mengangguk pelan, tapi ekspresinya jelas jijik, pasti mengira aku mesum karena laki-laki memesan tiga pasang pakaian dalam wanita, tapi aku nggak peduli, buru-buru menandatangani tanda terima.Aku membawa kotak paket itu ke kasur, jantungku berdegup kencang, sementara Amelia melayang mendekat, kemejanya terbuka lebih lebar, payudaranya yang ranum dan putingnya yang nyeplak bikin mataku terseret meski aku berusaha fokus ke kotak.
“Firman, buka cepet! Aku nggak sabar lihat BH-nya!” katanya, suaranya riang, tangannya sudah menyentuh kotak, bikin kemeja bergoyang dan putingnya makin menonjol, bikin kepalaku pening. Aku meletakkan kotak di kasur, tanganku gemetar saat membuka selotip, berusaha nggak memikirkan driver tadi yang mungkin masih mengira aku mesum. Amelia cekikikan, “Kamu grogi lagi, ya?” katanya, nadanya genit, bikin aku tersipu sambil membuka kotak itu.
Di dalam kotak, tiga pasang bra dan celana dalam serasi—pink renda, hitam minimalis, dan merah dengan detail bunga—terlipat rapi, bersama baju tidur renda tipis yang aku tambahkan. Amelia menjerit kecil, “Wah, cantik banget, Firman!” katanya, matanya berbinar, tangannya mengambil bra pink renda, bikin kemejanya terangkat hingga payudaranya yang besar dan putingnya yang mancung terekspos lebih jelas, bikin jantungku berdegup seperti drum.
Aku menelan ludah, “Iya, bagus, ya… coba aja,” kataku, suaraku serak, mataku nggak bisa lepas dari putingnya yang nyeplak, berusaha terdengar tenang meski pikiranku penuh fantasi nakal. Dia tersenyum nakal, “Nanti kamu bantu pasang, kan?” katanya, bikin wajahku memerah.Amelia langsung melayang ke samping kasur, meletakkan bra pink renda di depannya, kemejanya dia lepaskan dengan anggun, memperlihatkan tubuh pucatnya yang mulus, payudaranya yang ranum dan putingnya yang mancung bikin aku menahan napas. “Firman, yang ini dulu, ya? Cantik, kan?” tanyanya, suaranya genit, tangannya memegang bra, bikin payudaranya bergoyang lembut, putingnya seperti magnet yang bikin mataku terseret. Aku mengangguk canggung, “Cantik banget, Amelia,” kataku, suaraku serak, berusaha fokus ke bra tapi pandanganku terus ke putingnya yang nyeplak, bikin kepalaku pening.
Dia cekikikan, mulai mencoba memasang bra, tapi gerakannya kikuk, bikin aku tertawa kecil meski jantungku berdegup kencang.“Firman, ini susah dipake! Bantu, dong!” katanya, suaranya polos tapi matanya nakal, melayang mendekat hingga payudaranya yang besar hampir menyentuh dadaku, putingnya yang mancung bikin aku menelan ludah keras. Aku mengambil bra pink renda, tanganku gemetar, “Ehm, sini, aku bantu… taruh ini di… payudara,” kataku, wajahku panas, berusaha profesional meski mataku nggak bisa lepas dari putingnya yang nyeplak, bikin pikiranku berkabut.
Aku membantu memasang bra, jari-jariku tak sengaja menggesek kulitnya yang dingin gaib, bikin Amelia kegelian dan cekikikan, “Geli, Firman!” katanya, pipinya yang cantik memerah. Aku tersenyum canggung, tahu ini momen yang nggak akan kulupain.Bra pink renda akhirnya terpasang, menutupi payudaranya dengan sempurna, tapi renda tipis itu membuat putingnya masih samar terlihat, bikin jantungku berdegup seperti drum. “Firman, aku cantik, nggak?” tanyanya, melayang berputar kecil, bra renda bergoyang lembut, payudaranya yang ranum dan putingnya yang nyeplak bikin mataku terseret lagi, bikin kepalaku pening. “Cantik banget, Amelia, kayak model,” kataku, suaraku serak, berusaha bercanda meski pikiranku penuh fantasi nakal.
Dia tersenyum lebar, “Makasih, Firman! Aku suka banget!” katanya, nadanya riang, bikin aku ikut senang melihatnya begitu gembira. Hantu bisa sesenang itu, pikirku, sambil nyengir.Amelia lalu mengambil celana dalam pink serasi, mencobanya dengan gerakan anggun, kemejanya yang sudah dilepas membuat tubuh bugilnya sepenuhnya terekspos, payudaranya yang ranum dan putingnya yang mancung bikin aku menahan napas. “Firman, ini juga cantik, ya?” tanyanya, suaranya genit, melayang mendekat hingga celana dalam renda itu menonjolkan pinggulnya yang semok, bikin mataku nggak bisa lepas dari payudaranya. “Iya, Amelia, semua cocok di kamu,” kataku, wajahku memerah, berusaha fokus ke celana dalam tapi pandanganku terus ke putingnya yang nyeplak di balik bra renda.
Dia cekikikan, “Kamu suka lihat aku gini, kan?” katanya, nadanya nakal, bikin aku tersipu. Aku mengangguk, tahu ini momen yang bikin jantungku berdegup kencang.Dia mencoba bra hitam minimalis berikutnya, gerakannya kikuk tapi anggun, bikin payudaranya bergoyang, putingnya yang mancung samar di balik renda hitam, bikin aku menelan ludah keras. “Firman, yang hitam ini seksi, ya?” tanyanya, suaranya riang, melayang berputar hingga bra menempel sempurna di payudaranya yang ranum, bikin mataku terseret lagi, kepalaku pening dengan imajinasi nakal. “Seksi banget, Amelia,” kataku, suaraku canggung, berusaha tenang meski jantungku berdegup seperti drum. Dia tersenyum lebar, “Aku mau pamer ke hantu lain, biar mereka iri!” katanya, cekikikan, bikin aku tertawa kecil. Aku membayangkan Amelia memamerkan bra hitam di dunia hantu, meski itu terdengar absurd.
Aku duduk di kasur, kotak paket masih terbuka dengan bra merah dan baju tidur renda yang belum dicoba, pikiranku kacau karena Amelia yang melayang di depanku, bra hitamnya menonjolkan payudaranya yang besar, putingnya yang nyeplak bikin mataku nggak bisa lepas.
“Firman, nanti aku coba yang merah sama baju tidur, ya! Kamu harus bilang apa aku cantik!” katanya, suaranya genit, tangannya menyentuh bra, bikin putingnya makin menonjol, bikin jantungku berdegup kencang. “Pasti cantik, Amelia,” kataku, suaraku serak, berusaha fokus ke kotak tapi pandanganku terus ke payudaranya yang ranum. Dia cekikikan, “Kamu lucu kalau grogi gitu!” katanya, nadanya nakal, bikin aku nyengir canggung.
Aku tahu hari Minggu ini bakal penuh godaan dari hantu seksi ini.Kamar kecilku terasa seperti panggung petualangan sensual, dengan Amelia yang begitu gembira dengan bra dan celana dalam barunya, payudaranya yang ranum dan putingnya yang nyeplak bikin aku susah fokus pada apa pun selain tubuhnya. “Firman, aku seneng banget! Makasih ya, beliin aku ini!” katanya, melayang mendekat, wajahnya dekat dengan wajahku, payudaranya yang besar hampir menyentuh dadaku, putingnya yang mancung bikin jantungku berdegup seperti drum.
“Sama-sama, Amelia, asal kamu seneng,” kataku, wajahku memerah, mataku nggak bisa lepas dari payudaranya yang menggoda, bikin pikiranku berkabut. Dia tersenyum lebar, “Aku mau coba yang merah sekarang!” katanya, nadanya riang, aroma melatinya memenuhi udara. Aku nyengir, tahu petualangan dengan Amelia dan pakaian dalam renda ini bikin Mingguku tak terlupakan.
----------------------
Langit mulai gelap, suasana kosanku terasa hangat meski jendela tertutup, dan aroma bawang serta cabai yang aku potong mulai memenuhi dapur kecilku. Amelia melayang di sampingku, mengenakan bra renda hitam dan celana dalam serasi yang baru tiba sore tadi, payudaranya yang seperti pepaya matang terbalut renda tapi putingnya yang mancung masih samar terlihat, bikin mataku terseret meski aku berusaha fokus ke talenan.
“Firman, aku mau bantu masak malam ini! Biar kayak istri manusia!” katanya, suaranya genit penuh semangat, tangannya mengambil pisau dengan anggun, bikin bra rendanya bergoyang dan payudaranya yang ranum bergerak kesana-kemari, bikin jantungku berdegup kencang. Dia cekikikan, seolah tahu aku salah fokus, dan aku buru-buru menunduk ke bawang, berharap bisa mengendalikan diri. Aku tahu ini cuma petualangan nakal dengan hantu seksi, tapi godaan visualnya bikin kepalaku pening.
Aku menyerahkan seikat kolplay dan beberapa cabai merah kepadanya, berusaha menjelaskan cara memotong dengan tenang. “Amelia, potong kolplay ini tipis-tipis, ya, cabainya juga kecil-kecil,” kataku, suaraku serak, mataku mencuri pandang ke payudaranya yang bergoyang setiap dia menggerakkan pisau, putingnya yang nyeplak di balik renda hitam bikin aku menelan ludah keras.
Dia mengangguk, “Gampang, Firman! Aku bisa!” katanya, nadanya riang, tapi gerakannya yang anggun bikin bra rendanya bergesek dengan payudaranya, membuatnya bergerak kesana-kemari, bikin aku semakin salah fokus. Dari belakang, dengan rambut panjangnya tergerai dan bra hitamnya yang seksi, dia tampak seperti istri orang kaya yang memasak untuk suami, bikin pikiranku melayang ke fantasi liar.
Aku buru-buru mengalihkan pandangan ke talenan, berusaha fokus pada bawang yang mulai bikin mataku perih.Amelia memotong kolplay dengan hati-hati, tapi setiap gerakan tangannya bikin payudaranya yang ranum bergoyang di balik bra renda, putingnya yang mancung seperti magnet yang bikin mataku selalu kembali ke sana. “Firman, ini bau bawang pedes, ya!” katanya, cekikikan, hidungnya mengernyit lucu, tapi bra hitamnya yang ketat bikin payudaranya bergerak lebih dramatis, bikin jantungku berdegup seperti drum.
“Iya, pedes, makanya hati-hati, jangan sampe kena mata,” kataku, berusaha bercanda, tapi pandanganku terus terseret ke putingnya yang nyeplak, bikin kepalaku pening dengan imajinasi nakal. Dia tersenyum nakal, seolah tahu efeknya padaku, dan terus memotong dengan semangat. Aku menggeleng, berusaha fokus ke panci yang mulai memanaskan air untuk ramen instan.Aku mulai merebus air, menuangkan bumbu ramen instan ke dalam panci, dan aroma kuah kaldu mulai menyebar, membuat Amelia melayang mendekat dengan excited.
“Firman, ini bau enak banget!” katanya, suaranya riang, tubuhnya bergoyang kegirangan hingga payudaranya yang besar di balut bra renda hitam bergerak kesana-kemari, putingnya yang mancung samar terlihat, bikin aku menahan napas. “Iya, ramen ini gampang dibikin, tapi enak,” kataku, suaraku canggung, berusaha fokus ke panci tapi mataku terus mencuri pandang ke payudaranya yang bergoyang, bikin jantungku berdegup kencang.
Dia cekikikan, “Aku suka bau-bauan kayak gini!” katanya, nadanya genit, bikin aku nyengir meski pikiranku kacau. Aku mengaduk kuah, berharap aroma kaldu bisa mengalihkan perhatianku dari tubuhnya.
Amelia menambahkan potongan kolplay dan cabai ke panci, gerakannya anggun tapi bikin bra rendanya bergesek dengan payudaranya, putingnya yang nyeplak makin menonjol, bikin aku menelan ludah keras. “Firman, ini bener, ya, caranya?” tanyanya, matanya polos tapi senyumnya nakal, payudaranya yang ranum bergerak setiap dia mencondongkan tubuh, bikin kepalaku pening. “Bener, Amelia, tinggal masukin sayurannya, aduk, tunggu mateng,” kataku, suaraku serak, berusaha menjelaskan sambil menunduk, tapi pandanganku terus terseret ke putingnya yang mancung, bikin jantungku berdegup seperti drum.
Dari belakang, dia benar-benar tampak seperti istri kaya yang memasak dengan penuh percaya diri, bikin aku membayangkan skenario nakal yang nggak mungkin nyata.
Aku buru-buru mengaduk panci, berharap bisa mengendalikan diri.Aroma kuah ramen semakin kuat, dan Amelia melayang berputar kecil karena excited, bra rendanya menempel ketat di payudaranya yang besar, putingnya yang nyeplak bergerak kesana-kemari, bikin mataku nggak bisa lepas dari sana.
“Firman, ini kayak masakan mewah, ya!” katanya, cekikikan, tangannya memegang sendok kayu, bikin payudaranya bergoyang lebih dramatis, bikin jantungku hampir copot. “Mewah? Ini cuma ramen instan, Amelia,” kataku, tertawa kecil, tapi pandanganku terus ke putingnya yang mancung, bikin pikiranku berkabut dengan imajinasi liar.
Dia tersenyum lebar, “Tapi aku suka, soalnya kita masak bareng!” katanya, nadanya genit, bikin aku ikut senang melihatnya begitu gembira. Aku mengangguk, merasa kamar kecilku jadi panggung petualangan sensual.
Kami akhirnya duduk lesehan di lantai, mangkuk ramen panas di depanku, uapnya membawa aroma kaldu yang menggugah selera, tapi Amelia yang melayang di depanku jauh lebih menggoda. “Firman, aku cium aja, ya, soalnya aku nggak lapar,” katanya, suaranya riang, tubuhnya bergoyang excited, payudaranya yang ranum di balut bra renda hitam bergerak kesana-kemari, putingnya yang nyeplak bikin mataku terseret lagi. “Iya, cium aja, tapi hati-hati panas,” kataku, suaraku canggung, berusaha fokus ke ramen tapi pandanganku terus ke payudaranya yang besar, bikin jantungku berdegup kencang.
Dia cekikikan, “Enak banget baunya, Firman!” katanya, nadanya genit, bikin aku nyengir meski pikiranku penuh fantasi nakal. Aku menyendok ramen, berharap rasa pedasnya bisa mendinginkan kepalaku.Amelia melayang mendekat, wajahnya dekat dengan mangkukku, aroma melatinya bercampur dengan uap ramen, tapi payudaranya yang bergoyang di balik bra renda hitam, putingnya yang mancung, bikin aku tersedak kuah.
“Firman, kamu kenapa keselek mulu? Gara-gara aku, ya?” tanyanya, suaranya nakal, tangannya sengaja menyentuh bra, bikin putingnya makin menonjol, bikin jantungku berdegup seperti drum. “Bukan, kuahnya pedes,” kataku, berusaha mengelak, tapi mataku nggak bisa lepas dari payudaranya yang ranum, bikin kepalaku pening. Dia tersenyum genit, “Bohong, kamu ngeliatin aku lagi!” katanya, cekikikan, bikin aku tersipu.
Aku buru-buru menyesap air, berharap bisa mengalihkan perhatian dari tubuhnya.Aku menghabiskan ramen dengan cepat, tapi Amelia terus melayang di depanku, bra rendanya menempel ketat di payudaranya yang besar, putingnya yang nyeplak bergerak setiap dia excited, bikin mataku selalu kembali ke sana. “Firman, masak bareng gini seru, ya! Besok kita masak apa lagi?” tanyanya, suaranya riang, tangannya memainkan rambut, bikin bra bergoyang dan payudaranya bergerak kesana-kemari, bikin jantungku berdegup kencang. “Mmm, mungkin nasi goreng,” kataku, suaraku serak, berusaha fokus ke mangkuk kosong tapi pandanganku terus ke putingnya yang mancung, bikin pikiranku berkabut.
Dari belakang, dia benar-benar tampak seperti istri kaya yang memanjakan suami, bikin aku membayangkan skenario nakal. Aku menggeleng, berusaha menenangkan diri.Amelia melayang duduk di udara di depanku, bra rendanya menonjolkan payudaranya yang ranum, putingnya yang nyeplak bikin mataku nggak bisa lepas, meski aku berusaha mengalihkan pandangan ke dinding. “Firman, aku seneng banget kamu beliin aku BH! Aku mau masak tiap hari buat kamu!” katanya, suaranya genit, tubuhnya bergoyang excited, payudaranya bergerak kesana-kemari, bikin jantungku hampir copot.
“Sama-sama, Amelia, asal kamu seneng,” kataku, wajahku memerah, berusaha tenang meski pandanganku terus ke putingnya yang mancung, bikin pikiranku penuh fantasi liar. Dia tersenyum lebar, “Kamu manis, Firman!” katanya, nadanya riang, bikin aku ikut senang. Aku nyengir, merasa kamar ini jadi panggung petualangan sensual.Aku bangkit untuk mencuci mangkuk, tapi Amelia melayang di sampingku, bra rendanya masih menempel ketat di payudaranya, putingnya yang nyeplak bikin mataku terseret lagi, meski aku berusaha fokus ke sabun.
“Firman, nanti aku coba baju tidur renda, ya! Kamu harus lihat!” katanya, suaranya genit, tangannya menyentuh bra, bikin payudaranya bergoyang, bikin jantungku berdegup kencang. “Iya, pasti cantik,” kataku, suaraku canggung, berusaha fokus ke wastafel tapi pandanganku terus ke putingnya yang mancung, bikin kepalaku pening. Dia cekikikan, “Kamu suka lihat aku gini, kan?” katanya, nadanya nakal, bikin aku tersipu.
Aku buru-buru mengelap tangan, tahu malam ini bakal penuh godaan.Kamar kecilku terasa seperti dunia lain, dengan Amelia yang begitu gembira dalam bra renda hitamnya, payudaranya yang ranum dan putingnya yang nyeplak bergerak kesana-kemari, bikin aku susah fokus pada apa pun selain tubuhnya. “Firman, besok kita masak lagi, ya! Aku mau pake BH merah!” katanya, melayang mendekat, wajahnya dekat dengan wajahku, payudaranya hampir menyentuh dadaku, putingnya yang mancung bikin jantungku berdegup seperti drum. “Iya, Amelia, deal,” kataku, wajahku memerah, mataku nggak bisa lepas dari payudaranya yang menggoda, bikin pikiranku berkabut. Dia tersenyum lebar, “Aku suka bikin kamu seneng, Firman!” katanya, nadanya genit, aroma melatinya memenuhi udara. Aku nyengir, tahu petualangan dengan hantu seksi ini bikin Mingguku tak terlupakan.
ns216.73.217.110da2


