Setelah sejenak terpisah, hasrat yang menggelegak dalam darahku membuatku kembali menarik tubuh Khalisa ke dalam pelukanku. Kali ini, dengan lebih berani, tanganku merayap naik, menyusuri lekuk tubuhnya yang ramping, hingga menemukan tonjolan payudaranya yang padat di balik daster sederhananya.
"Ah jangan!" Khalisa menghela napas pendek saat tanganku meremas payudaranya dengan penuh nafsu.
Aku kembali mencium bibirnya lebih dalam, lebih liar. Lidahku menjelajahi setiap sudut mulutnya yang manis, sementara jari-jariku dengan mahir memainkan putingnya yang mulai mengeras di balik kain dasternya yang tipis. Aku bisa merasakan bagaimana tubuhnya bergidik, bagaimana napasnya semakin tersengal-sengal di antara ciuman yang aku lancarkan.
Dan aku ingin lebih. Tanpa ragu, tanganku yang lain menyusup ke bawah dasternya, menyibak kain yang menghalangi. Kulit pahanya yang mulus dan hangat segera memenuhi telapak tanganku. Aku mengelusinya perlahan, merasakan betapa lembutnya, betapa sempurnanya setiap inci tubuhnya.
"Mas, tolong kita tidak boleh—" protes Khalisa, tapi suaranya terputus saat tanganku bergerak lebih tinggi, meremas pantat bulatnya yang padat.
Dia begitu sempurna.
Jari-jariku menjelajahi setiap lekuk tubuhnya yang mempesona, dari pinggang yang ramping, turun ke pantat yang bulat, hingga—Selangkangannya.
Aku merasakan betapa hangatnya di sana, betapa basahnya kain dalamnya saat jari tengahku tanpa sengaja menyentuhnya. Khalisa mengerang pelan, tubuhnya gemetar di pelukanku.
"Kamu basah," bisikku di telinganya, sementara bibirku terus menyerang lehernya yang jenjang.
“Tidak…. jangan stopppp!”
Khalisa mencoba menyangkal. Tangannya mencengkeram bahuku erat-erat, kukunya yang pendek nyaris melukai kulitku melalui kain bajuku.
"Tolong... hentikan..." pintanya, tapi tubuhnya justru semakin mendekat, semakin menempel padaku.
Aku tahu ini salah. Aku tahu aku sudah melewati batas. Tapi di saat ini, dengan nafsu yang membara, dengan tubuhnya yang begitu sempurna di genggamanku—
Aku tidak peduli. Tanganku mulai menarik dasternya ke atas, ingin melihat lebih banyak, ingin menyentuh lebih dalam—
Tiba-tiba, terdengar suara dari depan yang membuat kami berdua kaget.
"ASSALAMUALAIKUM…Khalisa? AKU PULANG!"
Suara Ridwan yang keras menggema dari depan rumah.
Wajah Khalisa langsung pucat. Matanya yang mulai terlihat terangsang sekarang dipenuhi ketakutan murni.
Kami berdua membeku, seperti patung yang ketakutan, sementara langkah kaki Ridwan semakin dekat ke arah dapur—
Ke arah kami.
Suara langkah kaki Ridwan semakin mendekat, setiap hentakan sepatunya di lantai seperti detak bom waktu yang akan meledakkan segalanya. Khalisa bereaksi cepat—dengan dorongan kuat, dia mendorong tubuhku ke arah kamar mandi yang terletak di ujung lorong.
"Mas, cepat masuk!" bisiknya panik, suaranya gemetar namun penuh ketegasan.
Aku tidak sempat berpikir panjang. Dengan langkah gesit, aku menyelinap masuk ke dalam kamar mandi, menutup pintu perlahan tapi tidak sepenuhnya terkunci. Dari celah sempit, aku bisa melihat Khalisa yang sedang berusaha menenangkan diri—merapikan dasternya yang kusut dan tetnu saja hijabnya yang juga yang tak kalah berantakan dengan jari-jarinya yang masih gemetar.
Tak lama kemudian, Ridwan muncul di ambang pintu dapur. Debar jantungku makin kencang, apakah yang akan terjadi. Apa Khalisa akan mengadu pada suaminya tentang apa yang aku lakukan. Rasanya tidak mungkin karena dia justru meminta aku sembunyi di kamar mandi. Tapi rasa cemas tetap ada di hatiku.
"Lagi ngapain kenapa gak jawab salam?" tanyanya, suaranya kasar seperti biasa.
Khalisa tersenyum, tapi aku bisa melihat dari celah pintu kamar mandi betapa kaku ekspresinya. "Aku baru saja minum, Sayang. Kok sudah pulang? Sudah selesai kerjaannya?"
Ridwan menggerutu sambil melepas jaketnya. "Proyeknya dibatalkan. Lagian, aku kangen sama istriku," katanya sambil mendekati Khalisa. Tangannya yang besar meraih pinggang Khalisa, menariknya mendekat.
Jantungku berdegup kencang.
"Btw kok ada motor mas Arif di depan." tiba-tiba terdengar Ridwan berkata.
Aku makin cemas mendengar pertanyaan Ridwan itu.
Khalisa tidak kehilangan akal. "Oh, itu tadi dia kebelet mau buang air, mampir ke sini. Sekarang lagi di kamar mandi."
Ridwan mengerutkan kening. "Dia gak ke Bandung?"
“Gak tahu mas, aku gak sempat nanya.”
Mendengar itu aku memutuskan untuk keluar. Dengan berpura-pura sedang mengeringkan tangan di celana, aku membuka pintu kamar mandi.
"Eh, Ridwan! Maaf ya aku numpang buang air." sapaku, berusaha terdengar santai meski jantung hampir melompat dari dada.
Ridwan mengangguk. "Oh oke. Gak ke Bandung mas?"
"Gak Rid aku ada kerjaan yang harus diberesin.," jawabku sambil tersenyum, berusaha menutupi kegelisahan.
Ridwan mengangguk-angguk, tapi matanya yang tajam seakan memindai setiap gerak-gerikku. "Oalah. Ya udah," ujarnya sambil memeluk Khalisa dari belakang.
Aku bisa melihat bagaimana tubuh Khalisa menegang saat disentuh suaminya.
"Aku duluan ya, Rid. Masih ada urusan," kataku cepat, bergegas mengambil sepatu dan berjalan ke pintu depan.
Tapi sebelum aku pergi, aku menangkap pandangan terakhir Khalisa—matanya yang penuh sesuatu yang sulit aku mengerti. Sesuatu yang membuatku tahu, ini belum berakhir.
Ridwan mengantarku sampai pintu. Saat aku melangkah keluar, dia tiba-tiba menepuk bahuku.
"Lain kali kalau mau ke rumah, nelpon aku dulu, biar Khalisa bisa siapin makan!" katanya, suaranya datar.
Aku hanya mengangguk, lalu berjalan cepat menuju motorku.
Aku baru saja melewati momen paling menegangkan dalam hidupku untuk yang kedua kalinya. Seperti lolos dari lubang jarum, nyaris tertangkap basah—pertama kali dengan perempuan tak dikenal teman Ridwan di tengah malam yang gelap, dan kini dengan Khalisa istri Ridwan sendiri di siang bolong.
Dan anehnya, aku bukannya kapok. Justru sebaliknya. Peristiwa tadi ciuman panas yang aku lakukan hingga lidahku masuk ke dalam mulutnya, tubuh Khalisa yang sudah menyerah pasrah di pelukanku, amarahnya yang hanya terucap di mulut dan reaksi tubuhnya yang berbeda semua itu justru membuatku semakin gila. Aku belum sampai tuntas. Belum puas. Dan itu yang membuatku semakin bernafsu.
Aku duduk di jok sepeda motorku yang diparkir beberapa blok dari rumah mertua, tangan masih gemetar, bibirku masih tersisa rasa lembut bibir Khalisa. Rasanya seperti baru turun dari rollercoaster—jantung berdegup kencang, adrenalin masih mengalir deras.
Dan aku ingin lagi. Aku membayangkan bagaimana Khalisa sempat aku remas payudaranya yang lumayan besar dan kenyal. Aku juga sudah sempat menyentuh memeknya dengan jemariku. Bagaimana tangannya yang awalnya mendorongku, tiba-tiba mencengkeram bajuku. Bagaimana napasnya yang terengah-engah saat aku melakukan cumbuan padanya.
"Oh Khalisa aku makin menyukai kamu," batinku sambil menarik nafas panjang.
Dia bisa marah sekeras apapun, tapi tubuhnya tidak bisa bohong. Aku merasakannya. Kalau saja si brengsek Ridwan tidak datang tiba-tiba, Khalisa sudah pasti bisa aku taklukan dan dia saat ini sedang menjerit-jerit nikmat menerima hujaman kontolku. Aku yakin tubuhnya menginginkanku sama seperti aku yang begitu menginginkannya. Hanya masalah waktu sebelum aku bisa menuntaskan apa yang sudah dimulai.
NB. lanjutannya bisa dibaca di sini https://victie.com/novels/khalisa_istri_adik_iparku9448Please respect copyright.PENANAo3BTeZ5mjq
Setelah kejadian aku mencoba menaklukan Khalisa, harapanku untuk bisa melanjutkan hasrat terlarang pada istri Ridwan itu justru semakin sulit terwujud. Perempuan itu kini menunjukkan sikap menghindar yang lebih nyata—lebih terang-terangan—seolah aku adalah wabah yang harus dijauhi.
Setiap kali aku berkunjung ke rumah mertua, Khalisa akan segera menghilang ke kamar begitu melihatku. Jika terpaksa harus berada di ruangan yang sama, matanya akan terus menatap lantai, tangannya menggenggam erat hijabnya, tubuhnya tegang seperti kawat yang siap putus. Bahkan dia seperti menghindar untuk berbicara bila ada aku di dekat dia. Seolah dia tidak ingin suaranya aku dengar. Dan itu membuatku semakin gila.
Aku menghabiskan malam-malam dengan memikirkan cara untuk mendekatinya. Berpikir keras bagaimana bisa membuka celah sekecil apapun untuk bisa bicara padanya. Tapi Khalisa seperti benteng yang tak tergoyahkan—setiap pintu masuk yang kucoba tembus, selalu terkunci rapat.
9448Please respect copyright.PENANAAHI7BUFTLl
Bersambung9448Please respect copyright.PENANA6RNT7b1gLc


