BAB 5: Ancaman Pertama dari Bayangan
2762Please respect copyright.PENANAwYpusZ5RlW
Pagi Senin itu terasa lebih berat dari biasanya bagi Ayu. Dia bangun dengan tubuh yang masih bergetar sisa malam sebelumnya. Kalung kulit hitam yang masih melingkar erat dilingkari, cincin logam dingin menempel di tulang selangka setiap kali dia menelan ludah. Vibrator 12 cm yang dimasukkan malam tadi sudah dia keluarkan pelan-pelan saat subuh, tapi vaginanya tetap sensitif—setiap gesek kain celana dalam membuat ceri-nya berdenyut pelan seperti ingatan yang tak mau hilang. Plug anal stainless masih di dalam, dingin dan berat, membuat setiap langkah terasa penuh dan malu. Dia berdiri di depan cermin kamar mandi apartemen kecilnya, telanjang bulat, memandang tubuh yang dulu dia coba lupakan.
2762Please respect copyright.PENANA0ZDO7CJ6yx
Payudara E+ cup-nya naik-turun cepat karena napas tersengal. puting-putingnya merah karena semalaman dia memilin sendiri sambil menahan desah. Kulit putihnya berkilau keringat tipis, rambut hitam panjang acak-acakan menempel di punggung dan dada. Bokong bulatnya terasa panas karena plug yang menekan dari dalam. Dia menyentuh kalung itu, jari gemetar. “Ini cuma mimpi buruk,” gumamnya sendiri. Tapi tubuhnya berkata lain—vaginanya sudah basah lagi hanya dengan memikirkan pesan terakhir dari nomor anonim itu.
2762Please respect copyright.PENANA4x3ZtwRgDf
Dia mandi cepat, air panas menyiram tubuhnya. Saat sabun mengalir di antara paha, dia tanpa sadar mengusap ceri-nya pelan. “Ahh…” desah kecil keluar tanpa sengaja. Dia berhenti, malu. “Lo gila, Ayu. Lo lagi diancam, tapi malah basah.” Tapi tangannya tidak berhenti. Dua jari masuk ke vagina yang licin, mengaduk pelan sambil plug anal bergeser di analnya. Rasa penuh dari belakang membuat sensasi dobel—panas di depan, tekanan dingin di belakang. Dia bersandar ke dinding ubin, air mengalir deras, menutupi suara desahannya.
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
2762Please respect copyright.PENANAvpVo0IWDsC


