Ustazah Nadira membuka pelan-pelan cadar yang menutupi wajahnya. Khairul tertegun sejenak melihat sosok ustazah yang beberapa saat lalu dicumbui olehnya. Bidadari!! Itulah yang terlintas dibenak Khairul.
Wajah itu, ketika akhirnya terlihat tanpa cadar, jauh melampaui bayangan yang selama ini terus mengganggu pikiran Khairul—kulitnya bersih dengan rona alami, hidung mancung yang proporsional, dan sepasang mata teduh yang selama ini hanya bisa ia lihat sekilas kini terlihat utuh, memancarkan kehangatan yang berbeda. Lesung pipi muncul samar ketika Ustazah Nadira tersenyum, membuat wajahnya terlihat lebih hidup dan bersahaja.
Yang paling mencuri perhatian adalah giginya yang sedikit ginsul di bagian depan, menciptakan senyum yang unik dan justru menambah pesona wajahnya—natural dan memikat. Khairul menatapnya lama, seolah baru menyadari bahwa keindahan yang selama ini tersembunyi di balik kain hitam itu ternyata jauh lebih nyata dari segala bayangannya.
"Ustazah sangat cantik!" Gumam Khairul yang masih terpesona.
Ustazah Nadira cuma tersenyum manis. Entah kenapa ia merasa senang dipuji oleh Khairul.
"Masih mau lanjut?" Tanya Ustazah Nadira dengan nada yang sedikit nakal. Ia merasa tidak perlu malu-malu lagi di depan santrinya ini. Jiwa mudanya bangkit.
Jantung Khairul berdegup kencang, nafasnya tertahan. Ia sudah menunggu momen ini sejak pertama kali sentuhan tangan terjadi.
Khairul kembali mendekatkan wajahnya dan sesaat kemudian bibir keduanya bersentuhan. Hangat, lembut, dan penuh kenikmatan. Ustazah Nadira merasakan aliran aneh yang membuat darahnya makin hangat. Sentuhan bibir tanpa penghalang membuat dirinya seperti melayang. Inikah kenikmatan yang dilarang itu?
"Eemmuuaachhh uhh aah Khairull muuachhh.." desah pelan Ustazah Nadira. Bibir mungilnya sedikit kelabakan menerima ciuman Khairul yang semakin ganas dari sebelumnya.
"Sluuuurpp muuachhhh aahh muuuachh muuachhh." bibir Khairul terus menyerang bibir Ustazah Nadira.
Bibir mereka makin intens melakukan ciuman panas. Mereka lupa posisi keduanya yang berkedudukan sebagai santri dan ustazah. Tanpa terhalang oleh cadar, bibir mereka saling mengecup, saling emut, dan saling mengigit pelan. Naluri seksual mereka seakan membimbing mereka melakukan ciuman yang lebih panas lagi.
"Ucchh uhhh muuuachh sluuuurpp sluupp Khairul uhhh terusss sluuuurpp sluupp Ahhh!!" Ustazah Nadira mendesah menikmati bibir Khairul yang makin ganas.
Desahan yang keluar dari mulut Ustazah Nadira membuat semangat dan gairah Khairul makin bergelora.
"Sluuuurpp ssluuurppp ughhh muuuachh muuach sluuuurpp ahhh" Khairul tidak menyia-nyiakan sedetikpun. Ia menyedot pelan bibir ustazah Nadira membuat ustazah Nadira makin terhanyut dalam perbuatan dosa ini.
"Ahhhh enak uhhh aahh eemmuuaachhh sluuuurpp sluupp Sshhhh aahh." desah pelan Ustazah Nadira.
Khairul kemudian melepaskan ciumannya. Ustazah Nadira menatapnya dengan sayu.
"Kenapa Khairul??" tanya Ustazah Nadira dengan napas yang terengah-engah.
"Nggak apa-apa ustazahkuu!!" jawab Khairul dengan nada menggoda.
"Eum!! Nakal mulut kamu manggil ustazah kayak gitu."
"Kalau mulutku cumbuin ustazah kayak tadi disebut nakal nggak ustazah?" Nanya Khairul sambil tersenyum.
Ustazah Nadira berdesir hatinya melihat senyuman Khairul. Apakah ia jadi terpikat dengan santrinya ini? Atau karena mereka sudah melakukan kontak fisik yang diluar batas guru dan murid. Sisi binal ustazah Nadira bangkit, dan langsung menepis pikiran-pikiran yang merusak momen ini. Ia jadi ingin menggoda balik santri nakalnya ini.
"Nakal, sebab cumbuannya tidak dilanjut." Ucap Ustazah Nadira sambil tersenyum manis memperlihatkan gigi ginsulnya.
"Ah sudah sore ustazah, bentar lagi bakal azan magrib." Khairul sengaja mancing ustazah Nadira, padahal waktu magrib masih agak lama. Ia segera berdiri seolah-olah mau pulang.
Ustazah Nadira tertegun melihat Khairul yang mau pulang, ia ingin menahannya, tapi ia bingung sendiri.
"Ustazah kok diam?"
"Aku pulang beneran loh kalau ustazah diam saja." ucap Khairul melihat Ustazah Nadira menatapnya dengan diam sambil masih duduk di lantai.
"Sini ustazahkuu berdiri dong!"
Bagaikan seorang kekasih yang penurut, Ustazah Nadira ikut berdiri di depan Khairul. Meskipun ia lebih tua dari Khairul tapi tingginya sedikit lebih pendek.
"Ustazah, besok aku bakal ke sini tiap hari tapi aku tidak mau belajar ngaji lagi. Kita belajar hal yang baru ya."
Ustazah Nadira yang paham maksud Khairul langsung mengiyakan. Ia kembali menatap Khairul dengan sayu dan sedikit menggigit bibir bawahnya sendiri. Khairul yang melihatnya tiba-tiba merasa bergairah lagi.
"Ustazah menggoda imankuu, muuuachh muuachhh uhhh!!"
"Aahh Khairul katanya mau pulang uhh muuuachh muuach" desah pelan Ustazah Nadira yang tiba-tiba didekap oleh Khairul dan menciumnya.
"Aku mauu lumat bibir ustazah dulu uhh sluuuurpp ssluuurppp uhh" Khairul menghisap lembut bibir Ustazah Nadira yang membuat sang hafizah itu jadi bergairah lagi.
Tangan ustazah Nadira melingkar di leher Khairul. Ia seakan menahan kepala Khairul supaya tidak melepaskan ciumannya.
Lidah ustazah Nadira bergerak ingin masuk dalam mulut Khairul. Namun dengan iseng Khairul langsung menutup rapat bibirnya, jadinya lidah sang ustazah malah menjilat bibir Khairul.
"Eeuummhh aahhh shhh" Khairul melenguh pelan. Ia membuka mulutnya dan kemudian mengulum lidah nakal ustazah Nadira.
Lidah mereka saling membelit satu sama lain. Rasa nikmat menjalar ke dalam jiwa mereka. Sesekali Khairul menghisap lidah ustazah Nadira, yang membuat Ustazah Nadira mendesah panjang.
"Ahhhhh nakal banget ughhh sluuuurpp sluupp uhhh"
Tidak ingin kalah, ustazah Nadira juga menghisap lembut lidah Khairul tanpa ada perasaan jijik sedikitpun. Ia seakan ingin memberikan ciuman yang paling panas pada Khairul.
Lidah yang biasanya ia pamerkan dengan keindahan suaranya saat membaca mushaf di hadapan puluhan santri-santrinya, lidah yang biasanya berbicara tentang dosa, lidah yang biasa mengatakan kebaikan kini sedang memadu cinta dengan lidah seorang lelaki yang belum halal untuknya.
Lidah ustazah Nadira bermain-main dalam mulut khairul dengan nakal. Khairul mengigit pelan lidah ustazah Nadira hingga membuat ustazah Nadira sedikit kaget.
"Ahh sakitt ihh kamuu nihh" ustazah Nadira mencubit pelan pinggang Khairul yang malah tertawa senang.
"Aduhh ampun ustazahkuu ampun ampun hehe" ustazah Nadira melepas cubitannya.
Krekk.....
Keduanya terkejut dan langsung menjauh. Sarah membuka pintu dari luar dan langsung masuk ke dalam rumah. Ia melihat kakaknya dan Khairul berdiri bengong menatap kedatangannya. Sarah yang masih kecil tidak tau kalau mereka bukan menatapnya, tapi kaget karena kedatangannya.
"Kak, aku lapar!" ucap bocah itu sambil mendekati mereka dengan langkah polosnya.
"Aduh dek, eum ka- kakak belum masak." Jawab Ustazah Nadira dengan sedikit gugup.
"Kok belum masak kak? Terus aku makan apa dong."
"Gini aja deh, malam ini kita makan di luar bagaimana?" ucap ustazah Nadira sedikit jongkok depan adiknya.
Khairul yang melihat dan mendengar obrolan kakak beradik ini jadi merasa tidak enak.
"Okeyy!!" Ucap Sarah sambil tersenyum dan berlalu pergi ke dapur. Mungkin haus.
"Ustazah, aku pulang dulu ya." Ucap Khairul begitu Sarah pergi.
Ustazah Nadira menatap Khairul dan mengangguk pelan sambil tersenyum manis. Khairul mendekat sekali lagi dan berbisik pelan
"Besok kita lakukan lebih panas lagi ya ustazahku sayang!"
Ustazah Nadira tersentak kaget dipanggil sayang sama Khairul, ia melototi santrinya itu. Khairul malah ketawa pelan melihat ekspresi ustazah Nadira.
"Pokoknya besok lebih hot, eeeemmuuaachhhh!" Ia mengecup bibir ustazah Nadira yang sama sekali tidak menghindar.
"Assalamualaikum ustazahku sayangg! Uughhh!" Tangan Khairul meremas pelan payudara Ustazah Nadira yang terbalut gamis, yang membuat Ustazah Nadira kaget dan menepis tangan Khairul dengan cepat.
Khairul tersenyum dan keluar dari rumah ustazah Nadira dengan perasaan yang berbunga-bunga. Ia berhasil menaklukkan Ustazah Nadira, seorang hafizah yang memiliki suara merdu dan dicintai oleh seluruh santriwan dan santriwati.
***
Malam itu, di bilik asrama yang temaram oleh lampu neon kecil, Khairul duduk bersila sambil menghafal beberapa ayat, ditemani Anwar, teman sekamarnya. Suasana tenang, hanya terdengar suara jangkrik dari luar jendela.
Pintu bilik tiba-tiba terbuka tanpa ketukan. Fikri, kakak kelas yang tinggal satu bilik dengan mereka, masuk dengan wajah tegang, seolah membawa kabar penting.
"Eh, udah pada denger belum?" katanya, langsung duduk tanpa menutup pintu.
Anwar mendongak dari mushafnya. "Denger apa?"
"Si Farah," Fikri menurunkan suaranya, meski tidak ada yang lain di sekitar bilik itu. "Ketahuan tadi sore. Di kamarnya."
"Ketahuan kenapa?" Anwar makin penasaran, ikut merendahkan suaranya.
"Katanya sih, ada cowok yang masuk ke asrama putri. Ngaku-ngaku ke penjaga kalau dia abang sepupunya Farah, mau nganterin titipan dari keluarga. Eh, ternyata pas digeledah, mereka malah lagi berduaan di kamar. Untung belum sampai zina, cuma kepergok lagi bercumbu."
Khairul, yang sejak tadi diam mendengarkan sambil membetulkan letak mushafnya, ikut menoleh. Ia baru pulang sore tadi dari rumah Ustazah Nadira, jadi belum tahu apa-apa soal kejadian ini.
"Terus cowoknya gimana?" tanya Anwar.
"Kabur," jawab Fikri singkat.
"Pas ketahuan penjaga, dia langsung lompat pagar belakang. Sampai sekarang belum ketemu lagi."
"Terus si Farah?" Khairul akhirnya ikut bertanya, suaranya pelan.
Fikri menghela napas, wajahnya berubah serius. "Keputusan dari pengurus ya dikeluarkan. Besok pagi orang tuanya udah dipanggil buat jemput."
Anwar menggeleng-geleng, mendecak pelan. "Parah juga, ya. Padahal baru masuk loh."
"Ya salah sendiri," sahut Fikri, nada suaranya agak keras.
"Enak aja kelakuan kayak gitu ngotorin nama baik pesantren. Untung cuma dikeluarkan, bukan dicambuk." lanjutnya
Khairul terdiam, pandangannya jatuh ke lantai. Ia sedikit lega mendengar cerita itu—bukan soal Farah, tapi perbuatan Farah yang dia juga tadi sore ia lakukan. Ia lega karena melakukan di tempat paling aman dari mata manusia lain, yaitu rumah Ustazah Nadira. Ia tersenyum dan berpikir jika mau aman jangan lakukan di pesantren.
"Woi kok malah senyum?" Anwar menyenggol pelan.
"Eh—enggak, cuma kepikiran aja," jawab Khairul buru-buru. Ia kepikiran Ustazah Nadira. Kira-kira dia tau nggak ya kasus ini, terus responnya bagaimana ya.
Fikri berdiri, ingin ke bilik teman seangkatannya.
"Ya udah, itu aja kabarnya. Kalian juga hati-hati, jangan sampai kena masalah kayak gitu. Pengurus lagi ketat-ketatnya ngawasin sekarang." katanya.
Setelah Fikri pergi, bilik itu kembali sunyi. Anwar melanjutkan hafalannya, tapi Khairul hanya duduk terdiam, pikirannya melayang ke sosok Ustazah Nadira. Ia ingin melakukan lebih jauh dari tadi sore ia lakukan dengan Ustazah Nadira. Selama di rumah ustazah, pasti bakal aman aja.
Bersambung...
1015Please respect copyright.PENANAXa72diSWC0


