Sisa-sisa hujan gerimis semalam masih menyisakan hawa dingin yang lembap di pagi hari, meninggalkan genangan air kecil di sepanjang gang semen yang memisahkan rumah Ustadz Hadi dengan rumah kontrakan Fadhli. Di dalam dapur, Ratna berdiri terpaku menatap lantai ubin yang kini sudah bersih mengkilap. Butuh waktu hampir satu jam bagi Ratna dini hari tadi untuk menggosok lantai tersebut, melenyapkan setiap jejak tak kasat mata dari pergumulan liarnya bersama Fadhli yang baru saja menggenjotnya habis-habisan tepat di samping kamar tidur suaminya.
Meskipun tubuhnya sudah dibasuh bersih dan kini terbungkus rapi oleh gamis panjang berwarna ungu tua serta jilbab bergo instan yang menutup dada, Ratna tidak bisa membohongi saraf-saraf tubuhnya sendiri. Liang memek togenya yang bengkak sisa semalam masih terasa sangat pekat, berdenyut hangat setiap kali ia melangkah. Cairan pelumas alaminya yang bercampur dengan sisa peju panas Fadhli seolah masih tersisa di kedalaman rahimnya, memberikan sensasi penuh dan lengket yang terus-menerus memicu berahi jalangnya di pagi yang sepi ini.
"Nduk, apa sarapannya sudah siap?" suara berat Ustadz Hadi memecah lamunan Ratna dari arah meja makan.
Ratna tersentak kecil, buru-buru menata piring berisi nasi goreng di atas meja. "S-sudah, Mas. Ini baru saja selesai saya siapkan."
Ustadz Hadi duduk dengan tenang, penampilannya selalu rapi dengan baju koko putih bersih dan sarung tenun. Wajahnya tampak datar, tanpa menyadari sedikit pun bahwa sang istri yang tampak patuh di depannya ini baru beberapa jam lalu ditunggingkan di atas meja dapur tempat nasi goreng itu diletakkan. Hadi menyendok nasi ke piringnya, lalu mendongak menatap Ratna sejenak. "Wajahmu kelihatan sangat pucat pagi ini, Ratna. Apa kamu kurang tidur karena hujan semalam?"
"I-iya, Mas. Semalam suara petirnya agak keras, jadi saya agak sulit memejamkan mata," dusta Ratna, menundukkan kepalanya dalam-dalam demi menyembunyikan rona merah yang mendadak menjalar ke pipinya. Pikiran tentang bagaimana Fadhli membekap mulutnya semalam sementara kontol besarnya menghujam rahimnya di samping kamar tidur Hadi, membuat memek Ratna kembali ngocor membasahi celana dalam katun tipis yang baru dipakainya pagi ini.
Hadi hanya mengangguk pelan, kembali fokus pada sarapannya tanpa memberikan perhatian lebih atau belaian yang sebenarnya dirindukan Ratna selama bertahun-tahun. Kekosongan spiritual dan biologis dari suaminya yang dingin inilah yang menjadi pintu masuk bagi kelicikan Fadhli untuk meruntuhkan moralitas Ratna hingga tak bersisa.
Setelah Hadi selesai sarapan dan berangkat ke masjid untuk memimpin kajian pagi, Ratna berniat membersihkan halaman depan rumah. Namun, begitu ia membuka pintu pagar besi, sosok yang paling ia khawatirkan sudah berdiri di sana, memperhatikannya dengan senyuman yang penuh arti.
Itu adalah Nisa. Janda muda tetangga sebelah rumah itu pagi ini mengenakan daster rumahan bercorak bunga dengan potongan dada yang cukup rendah, memperlihatkan gundukan payudaranya yang sintal. Matanya yang tajam langsung mengunci sosok Ratna, menyapu dari ujung jilbab ungu tuanya hingga berhenti di paha lebar Ratna yang menjepit rapat akibat sensasi becek di selangkangannya.
"Selamat pagi, Mbak Ratna," sapa Nisa, nadanya terdengar ramah namun sarat akan selidik yang tajam. "Aduh, rajin sekali pagi-pagi sudah bersih-bersih. Tapi... kok jalannya agak kaku begitu sih, Mbak? Sepertinya ada yang pegal-pegal ya di bagian bawah?"
Pertanyaan bernada sindiran dari Nisa seketika membuat jantung Ratna berdegup kencang. Ingatannya langsung melayang pada percakapan mereka kemarin di ruang tamu, di mana Nisa terang-terangan meminta agar bisa ikut mencicipi kontol besar Fadhli sebagai imbalan untuk menjaga rahasia dosa Ratna. Ancaman terbongkarnya perselingkuhan ini kini terasa semakin nyata, berbaur dengan rasa cemburu jalang di dalam dada Ratna yang menolak keras untuk berbagi pria pemuas nafsunya dengan janda muda di depannya.
Nisa melangkah maju satu babak, melintasi batas bayangan pohon mangga di halaman depan. Langkah kakinya yang santai membuat daster batiknya yang tipis sesekali menempel ketat pada paha dan pinggulnya yang sintal. Matanya yang jeli seolah tak sedetik pun lepas dari gerak-gerik Ratna. Tatapan itu penuh dengan binar kelicikan seorang wanita yang tahu bahwa dirinya memegang kartu as untuk menghancurkan, atau justru ikut menikmati rahasia busuk tetangganya.
Ratna meremas gagang sapu lidi di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Dinginnya pagi seolah menguap, digantikan oleh hawa panas yang mendadak naik ke dadanya, membuat jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Di balik gamis ungu tuanya, selangkangan Ratna terasa semakin basah dan berdenyut hangat. Gesekan kecil kain celana dalam katun yang lembap karena sisa luapan cairan semalam kini justru terasa seperti siksaan sensual yang nyata. Sindiran Nisa yang begitu vulgar dan tepat sasaran membuat memek togenya kembali memproduksi lendir asmara, mengocor perlahan merembes ke celah pahanya.
"N-Nisa... kamu ini bicara apa sih? Pagi-pagi sudah bercanda yang tidak-tidak," kata Ratna, mencoba menstabilkan nada suaranya agar tidak terdengar bergetar. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis, seolah menganggap ucapan janda muda itu hanyalah angin lalu. "Mbak kaku begini karena semalam salah posisi tidur saja. Badannya jadi agak pegal semua."
Nisa terkekeh pelan, sebuah tawa lirih yang sarat akan ejekan dan ketidakpercayaan. Ia bersandar pada tiang pagar besi rumah Ratna, melipat kedua tangannya di bawah gundukan payudaranya yang padat, membuat belahan dadanya semakin menyembul menantang udara pagi.
"Oh, salah posisi tidur ya, Mbak? Kirain habis 'kerja keras' semalam sampai subuh," bisik Nisa, mencondongkan wajahnya sedikit ke arah Ratna. "Soalnya semalam itu, waktu hujan lagi deras-derasnya sekitar jam dua pagi, aku sempat terbangun karena haus. Waktu aku ke dapur, jendela samping rumahku kan menghadap langsung ke arah dapur Mbak Ratna. Aku kayak mendengar suara... *plok-plok* yang aneh, mirip suara kulit yang beradu. Samar-samar sih, Mbak, karena ketutupan suara hujan. Tapi masa iya Ustadz Hadi yang alim itu mendadak jadi seganas itu di dapur tengah malam?"
Mendengar penuturan Nisa, darah di sekujur tubuh Ratna rasanya seperti berhenti mengalir. Wajah cantiknya seketika memucat, berganti dengan rasa ngeri yang teramat sangat. Jadi, Nisa benar-benar mendengar pergumulannya bersama Fadhli semalam? Pikiran bahwa janda muda ini mungkin melihat atau setidaknya mendengar erangan dosanya saat Fadhli menghunjamkan kontol besarnya ke dalam rahimnya tepat di samping kamar suaminya, membuat pertahanan mental Ratna runtuh seketika. Ego jalangnya bergolak hebat; rasa takut akan kehancuran nama baik suaminya berbaur menjadi satu dengan rasa cemburu yang membakar, mengingat tawaran Nisa kemarin yang ingin ikut menikmati kejantanan Fadhli.
"Nisa, tolong... jangan bicara sembarangan. Suara hujan semalam memang bising, mungkin kamu cuma salah dengar suara atap seng yang kena angin," Ratna mencoba membela diri dengan sisa-sisa keberaniannya. Ia melirik cemas ke arah gang depan, takut kalau-kalau ada tetangga lain yang lewat dan mendengar obrolan gila ini.
Nisa tersenyum menyeringai, melihat ketakutan yang begitu kentara di mata bulat Ratna. Ia tahu mangsanya sudah terpojok sempurna. "Mbak Ratna, aku kan sudah bilang kemarin. Mbak tidak perlu takut atau menyangkal terus di depanku. Aku ini janda, Mbak, aku tahu betul kode-kode wanita yang sedang kelaparan dan kekenyangan seks. Kulit Mbak Ratna pagi ini kelihatan begitu segar dan merona, tipikal wanita yang baru saja dipuaskan sampai lemas. Dan kita berdua tahu... bukan Ustadz Hadi yang melakukannya."
Nisa melangkah semakin dekat, hingga aroma parfum melati murahannya kembali menusuk hidung Ratna. Ia berbisik dengan nada suara yang teramat rendah namun penuh dengan racun manipulasi. "Mbak ingat tawaran ku kemarin, kan? Aku tidak akan bocor ke siapa-siapa, bahkan ke Ustadz Hadi. Asalkan... Mbak Ratna mau bekerja sama. Hari ini, biarkan aku yang datang ke kontrakan Fadhli. Aku ingin Mbak yang mengatur agar Fadhli tahu kalau aku menunggunya di sana nanti sore saat Ustadz Hadi pergi mengisi pengajian di balai desa. Kalau Mbak menolak... ya, jangan salahkan aku kalau siang ini juga, cerita tentang suara *plok-plok* di dapur semalam sampai ke telinga suami Mbak yang suci itu."
Ancaman itu menghunjam tepat ke jantung Ratna. Seluruh tubuh matangnya gemetar hebat. Di satu sisi, ia takut suaminya tahu akan dosa besarnya, namun di sisi lain, membayangkan tubuh kekar Fadhli akan memeluk Nisa, meremas payudara Nisa, dan menancapkan kontol besarnya ke dalam memek janda muda itu, membuat rahim Ratna berdenyut perih karena cemburu yang luar biasa jalang. Ia terjebak di dalam labirin dosa yang semakin sempit, di mana setiap pilihan hanya akan membawanya ke dalam tingkat kehinaan yang lebih dalam dan penuh syahwat terlarang.
Ancaman Nisa menggantung di udara pagi yang dingin, terasa begitu nyata dan mengintimidasi hingga membuat pasokan oksigen di sekitar Ratna seolah menipis. Ratna berdiri mematung, meremas gagang sapu lidi di tangannya dengan telapak tangan yang mendadak basah oleh keringat dingin. Di balik gamis ungu tuanya, selangkangannya terasa semakin berdenyut hebat. Lendir asmara yang diproduksi oleh memek togenya yang bengkak mengalir lambat, menggenang hangat di celah pahanya yang bergetar. Ketakutan akan kehancuran rumah tangganya berbaur dengan rasa cemburu yang membakar dada; membayangkan Fadhli akan memeluk, meremas, dan menghunjamkan kontol besarnya ke dalam memek janda muda di depannya ini membuat rahim Ratna terasa ngilu dan sakit.
"Nisa... kamu... kamu jangan keterlaluan," bisik Ratna dengan nada suara yang bergetar hebat, matanya melirik cemas ke arah gang depan, takut jika ada tetangga lain yang mendengar percakapan gila ini. "Mbak tidak punya hak untuk mengatur urusan Mas Fadhli. Apa yang kamu inginkan dari dia itu bukan urusan Mbak!"
Nisa terkekeh pelan, melangkah satu babak lagi hingga jarak di antara mereka berdua tersisa kurang dari satu jengkal. Aroma parfum melati murahannya yang menyengat kini bercampur dengan hawa hangat yang menguar dari tubuh Ratna yang tegang. Dengan gerakan yang sangat berani, Nisa mengulurkan jari telunjuknya, menyentuh gundukan payudara besar Ratna dari balik kain jilbab bergonya, menekannya pelan hingga membuat puting payudara Ratna yang mengeras seketika berkedut.
"Mbak Ratna jangan munafik," bisik Nisa tepat di wajah Ratna, sepasang matanya berkilat penuh kemenangan. "Mbak punya hak penuh atas dia karena memek Mbak sudah menjadi budak kontol besarnya. Fadhli pasti mendengarkan kata-kata Mbak. Tinggal bilang saja kalau aku menunggunya nanti sore. Kalau Mbak tidak mau menyampaikannya... ya sudah, siang ini juga, setelah Ustadz Hadi pulang dari balai desa, aku sendiri yang akan bertamu dan menceritakan betapa riuhnya suara di dapur Mbak semalam."
Ratna memejamkan matanya erat-erat, menahan desahan yang hampir lolos dari bibirnya akibat tekanan jari Nisa di dadanya, sekaligus menahan rasa perih yang menghunjam lubuk hatinya. Ia tahu, Fadhli adalah seorang predator yang manipulatif. Jika ia menceritakan ancaman Nisa pada Fadhli, pemuda itu mungkin justru akan merasa senang dan tertantang untuk memperluas permainan gila ini. Namun, membiarkan Nisa masuk ke dalam lingkaran maksiat mereka berarti merelakan kejantanan Fadhli dibagi dengan wanita lain—sebuah pemikiran yang ditolak mentah-mentah oleh jiwa jalang Ratna yang sudah posesif terhadap kontol besar pemuda itu.
"B-baiklah... nanti Mbak coba sampaikan," kata Ratna akhirnya, menyerah pada tekanan yang menghimpitnya. Suaranya terdengar sangat parau, nyaris habis akibat rasa sesak yang mendera dadanya.
Nisa tersenyum puas, menarik kembali tangannya dari dada Ratna seraya membetulkan letak kerah dasternya yang rendah. "Nah, begitu dong, Mbak Ratna. Kita ini sesama wanita, harus saling berbagi kenikmatan. Aku tunggu kabar baiknya nanti sore ya, Mbak. Sampai jumpa."
Nisa berbalik dan melangkah pergi menuju rumahnya dengan goyangan pinggul yang sengaja dibuat berlenggak-lenggok seolah-olah ia sudah memenangkan taruhan terbesar dalam hidupnya. Ratna hanya bisa menatap punggung janda muda itu dengan pandangan yang sarat akan kebencian dan keputusasaan. Tubuhnya gemetar hebat, lemas hingga ia terpaksa bersandar pada daun pintu pagar besi untuk menjaga keseimbangannya. Selangkangannya yang basah kuyup terasa semakin hangat, memeknya berdenyut kosong menuntut pasokan batang keras Fadhli untuk meredakan seluruh siksaan fisik dan batin yang sedang menderanya pagi ini.
Matahari pagi merangkak semakin tinggi, namun sinarnya yang menghangatkan bumi sama sekali tidak mampu mengusir kekakuan yang membeku di sekujur tubuh Ratna. Setelah Nisa pergi dengan langkah pongah, Ratna memaksakan dirinya untuk menyelesaikan sapuan di halaman depan. Tangannya bergerak mekanis, menyapu dedaunan kering dengan sisa tenaga yang seolah terus diperas habis. Di dalam rahimnya, rasa sesak itu menjelma menjadi sebuah keputusasaan yang nyata. Di balik kain gamis ungu tuanya, lelehan cairan asmara yang dipicu oleh ancaman Nisa dan rasa cemburu yang gila membuat selangkangannya terasa sangat lembap dan lengket, memperparah rasa gatal akibat siksaan "gantung" dari Fadhli.
Setelah meletakkan sapu di sudut teras, Ratna melangkah masuk ke dalam rumah. Langkahnya kaku, paha lebarnya menjepit rapat demi menahan denyutan di memek togenya yang bengkak. Ia melirik ke arah jam dinding ruang tamu yang berdetak konstan. Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ustadz Hadi belum kembali dari masjid, dan nanti siang suaminya itu dijadwalkan langsung pergi lagi untuk mengisi pengajian di balai desa. Artinya, waktu yang diancamkan oleh Nisa semakin dekat.
Ratna berjalan menuju kamarnya, meraih ponsel rahasia yang ia sembunyikan di bawah lipatan baju terdalam di lemari pakaian. Jari-jarinya yang basah oleh keringat dingin gemetar hebat saat mengetikkan sebuah pesan untuk Fadhli. Dengan berat hati, ia harus menyampaikan apa yang terjadi, meskipun jiwa jalangnya meronta menolak skenario ini.
*“Fadhli... Nisa tetangga sebelah sepertinya tahu tentang kita. Dia bilang semalam mendengar suara di dapur saat hujan. Dia mengancam akan bicara pada Mas Hadi kalau nanti sore kamu tidak menemuinya di kontrakankanmu. Dia bilang dia menunggumu di sana saat Mas Hadi pergi ke balai desa.”*
Pesan terkirim. Ratna melempar ponsel itu ke atas kasur seolah benda itu adalah bara api yang menyengat kulitnya. Ia duduk di tepi ranjang, menutup wajah cantiknya dengan kedua telapak tangan. Air mata kecemasan perlahan menetes, membasahi kain jilbab bergonya. Ia merasa terjebak dalam labirin dosa yang ia bangun sendiri. Rasa takut akan kehancuran nama baik suaminya berbaur menjadi satu dengan rasa cemburu yang membakar, membayangkan bagaimana Fadhli akan meremas payudara Nisa dan menancapkan kontol besarnya ke dalam memek janda muda itu.
Hanya butuh waktu kurang dari dua menit sampai ponselnya bergetar panjang. Sebuah panggilan masuk dari Fadhli.
Ratna tersentak, buru-buru mengangkat ponsel itu dan menempelkannya ke telinga dengan napas yang memburu. "F-Fadhli..." bisik Ratna lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.
Di seberang telepon, terdengar suara kekehan rendah yang sangat familier. Suara berat penuh karisma jantan yang selalu sukses membuat memek Ratna langsung ngocor seketika. Fadhli sama sekali tidak terdengar panik atau takut rahasia mereka terbongkar. Sebaliknya, nada suaranya terdengar sangat terhibur dan penuh kelicikan.
"Jadi, janda genit itu mulai berani mengancammu, Ratna?" bisik Fadhli di seberang telepon, suara napasnya yang serak terdengar begitu mendominasi indra pendengaran Ratna. "Dan kamu ketakutan setengah mati sampai memekmu kembali banjir di atas kasur suamimu, hm?"
"Fadhli, tolong jangan bercanda... ini serius," rintih Ratna, meremas sprei kasur dengan tangannya yang gemetar. "Bagaimana kalau dia benar-benar bicara pada Mas Hadi? Rumah tangga saya bisa hancur, Fadhli..."
"Tenang saja, jalang kecilku. Jalannya permainan ini aku yang tentukan, bukan janda murahan itu," kata Fadhli dengan nada mutlak yang tak terbantahkan. "Kalau dia mau bermain-main dengan risiko, maka kita akan beri dia permainan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya."
"M-maksud kamu apa, Fadhli?" Ratna mengernyitkan dahi, ada firasat buruk yang kembali merayapi dinding hatinya.
"Nanti sore, setelah Ustadz Hadi berangkat ke balai desa, kamu datang ke kontrakanku, Ratna. Masuk lewat pintu belakang seperti biasa sebelum jam empat sore. Aku ingin kamu bersembunyi di balik lemari kain kamarku," perintah Fadhli, suaranya berubah menjadi bisikan gelap yang sangat sensual. "Aku akan membiarkan Nisa masuk, dan aku ingin kamu menyaksikan dari balik celah lemari bagaimana aku menelanjangi dan menggagahi janda itu tepat di depan matamu. Aku ingin melihat seberapa besar rasa cemburumu menahan berahi yang menggantung di memekmu yang gatal itu."
Mendengar skenario gila yang ditawarkan Fadhli, jantung Ratna seolah berhenti berdetak sesaat. Menyaksikan langsung pria pemuas nafsunya bercinta dengan wanita lain di depan matanya sendiri adalah sebuah bentuk penyiksaan psikologis dan sensual tingkat tertinggi. Namun di balik rasa syok dan cemburu yang membakar dadanya, lubang memek Ratna justru merespons dengan denyutan yang luar biasa kencang, memeras lendir asmara baru yang hangat hingga membanjiri celana dalamnya seketika. Risiko dan kegilaan Fadhli kembali meruntuhkan seluruh akal sehat sang istri ustadz, menyeretnya masuk ke dalam jebakan baru yang jauh lebih membara.
Perintah dari seberang telepon itu terputus dengan bunyi klik yang dingin, meninggalkan Ratna dalam pusaran kecemasan yang luar biasa besar. Ia meremas ponsel rahasianya, menatap dinding kamar dengan pandangan kosong. Rencana Fadhli benar-benar di luar nalar sehat manusia biasa. Menonton pria yang telah menjinakkan seluruh raganya, pria yang peju panasnya masih terasa meleleh di celah pahanya, sedang menggagahi janda muda tetangga sebelah tepat di depan matanya sendiri, adalah bentuk penyiksaan mental yang paling biadab. Namun, Ratna tahu, ia tidak memiliki kekuatan ataupun hak untuk menolak. Jiwanya telah tergadaikan sepenuhnya pada kendali pemuda licik itu.
Siang pun berganti dengan cepat. Ustadz Hadi pulang dari masjid hanya untuk mengganti baju kokonya dengan yang baru, lalu segera berpamitan untuk mengisi tabligh akbar di balai desa yang jaraknya cukup jauh. Sebelum melangkah keluar dari pintu depan, Hadi sempat mengusap kepala Ratna yang terbungkus jilbab bergo dengan gerakan kaku yang terbiasa ia lakukan selama bertahun-tahun.
"Mas pergi dulu, Nduk. Mungkin pulang menjelang magrib. Jaga rumah baik-baik, jangan lupa kunci pintu belakang," pesan Hadi dengan suara flat yang dingin, lalu berjalan pergi menembus gang tanpa menaruh curiga sedikit pun.
Begitu sosok suaminya menghilang di ujung jalan, jantung Ratna kembali berdegup kencang seperti genderang perang. Waktu yang ditentukan Fadhli telah tiba. Dengan langkah yang gemetar dan lutut yang terasa lemas akibat gantung nafsu yang menyiksa sejak semalam, Ratna melangkah keluar melalui pintu belakang rumahnya. Ia menyusuri gang sempit yang becek sisa hujan, menuju ke arah rumah kontrakan Fadhli yang berdiri tenang di seberang jalan setapak.
Ratna membuka pintu belakang kontrakan Fadhli yang sengaja tidak dikunci. Begitu melangkah masuk, aroma ruangan yang khas—campuran bau rokok, parfum maskulin yang tajam, dan bau sisa keringat jantan—langsung menyergap indra penciumannya, memicu memek togenya untuk kembali ngocor memeras lendir asmara baru yang kental di balik celana dalam katunnya.
Fadhli sudah berdiri di tengah ruangan kamar yang remang-remang, hanya diterangi seberkas cahaya matahari sore dari celah gorden yang tertutup rapat. Pemuda kekar itu tersenyum menyeringai, matanya yang tajam langsung menelanjangi sosok Ratna yang datang dengan tubuh gemetar hebat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Fadhli menunjuk ke arah lemari kain portabel beresleting yang berada di sudut kamarnya. Lemari itu memiliki celah kecil di bagian sambungan kain yang cukup untuk melihat seluruh area tempat tidur di tengah ruangan.
"Masuk ke dalam, Ratna. Dan ingat, jangan keluarkan suara sekecil apa pun, atau aku akan membiarkan janda itu melihatmu membasahi lantai kamarku," bisik Fadhli tepat di telinga Ratna, seraya mendorong tubuh matang wanita itu masuk ke dalam ruang sempit di antara gantungan baju dalam lemari.
Ratna mengangguk pasrah, melipat kedua kakinya di dalam ruang gelap yang pengap itu. Bau baju-baju Fadhli yang melekat di sekelilingnya membuat berahi jalangnya semakin terbakar hebat. Dari balik celah kain lemari, ia memandangi Fadhli yang kini berjalan ke depan untuk membukakan pintu depan kontrakannya.
Hanya butuh waktu beberapa menit sampai suara langkah kaki daster yang centil terdengar memasuki kamar. Itu adalah Nisa. Janda muda itu datang dengan wajah yang dipenuhi binar kemenangan, daster batiknya sengaja diturunkan hingga memperlihatkan setengah dari gundukan payudaranya yang sintal.
"Aduh, Fadhli... akhirnya kamu mau juga mengundang aku ke sini," kata Nisa dengan suara manja yang dibuat-buat, langsung merapatkan tubuhnya ke dada bidang Fadhli. "Mbak Ratna pasti sudah cerita kan kalau aku tahu rahasia kalian? Tapi tenang saja, Fad... kalau kamu bisa memuaskan aku sore ini dengan 'punya' kamu yang besar itu, aku berjanji rahasia kalian akan aman bersamaku."
Fadhli terkekeh rendah, sebuah suara jantan yang sarat akan dominasi dan kelicikan. Tangannya yang besar langsung mencengkeram pinggul Nisa, menariknya kasar. "Tentu saja, Mbak Nisa. Aku selalu suka wanita yang berani mengambil risiko. Mari kita lihat seberapa dalam lubangmu bisa menampung kontolku."
Dari balik celah lemari kain yang gelap, Ratna menyaksikan dengan mata yang membelalak lebar dan dada yang naik turun dengan sangat cepat. Rasa cemburu yang luar biasa gila membakar jantungnya melihat tangan Fadhli mulai meremas payudara Nisa dengan kasar, merenggut daster batik janda itu hingga robek dan memperlihatkan tubuh telanjangnya di atas kasur. Namun, di balik siksaan batin yang teramat perih itu, memek toge Ratna justru merespons dengan cara yang paling jalang; liang sanggamannya berdenyut kencang, meluapkan banjir cairan alami yang hangat hingga merembes menembus celana dalamnya, membasahi kain lantai lemari tempatnya bersembunyi. Skenario gila Fadhli berhasil mengubah rasa cemburu dan ketakutan sang istri ustadz menjadi puncak penjara kenikmatan yang paling berdosa seumur hidupnya.
ns216.73.216.250da2


