Detik-detik berganti menjadi menit yang merayap lambat setelah Nisa kembali dari dapur membawa segelas air es. Sandiwara pagi itu akhirnya usai ketika Nisa pamit pulang dengan kekecewaan yang tersirat karena tidak berhasil menarik perhatian Fadhli lebih jauh, sementara Fadhli sendiri melangkah pergi dengan senyuman iblis yang terus terngiang di benak Ratna. Kini, siang telah beranjak menjadi sore. Ustadz Hadi sudah kembali dari kota sebelah sejak beberapa jam yang lalu. Namun, alih-alih membawa kehangatan atau melepas rindu setelah semalam berpisah, kepulangan suaminya justru membawa atmosfer yang semakin dingin dan kaku ke dalam rumah.
Ustadz Hadi langsung mengurung diri di dalam ruang kerjanya yang berada di bagian belakang rumah. Lelaki berusia empat puluh lima tahun itu tampak sangat lelah, wajahnya yang tirus terlihat pucat, dan sorot matanya yang kaku hanya tertuju pada tumpukan kitab serta lembaran kertas materi dakwah yang berserakan di atas meja kayu jati miliknya. Hadi sama sekali tidak menyadari bahwa di atas meja tempatnya bekerja saat ini, sisa-sisa aroma mesum dan bercak tak kasat mata dari pergumulan liar istrinya bersama Fadhli semalam masih tertinggal secara samar, tersamarkan oleh wangi minyak gaharu yang sengaja disemprotkan Ratna berulang kali.
Ratna berdiri di depan wastafel dapur, mencuci beberapa piring sisa makan siang mereka yang nyaris tanpa obrolan. Setiap kali jemarinya bergerak menggosok permukaan piring, seluruh tubuh matangnya bergetar halus. Di balik gamis rumahannya yang longgar, pusat saraf di selangkangannya terasa sangat tersiksa. Aturan "gantung" yang diterapkan Fadhli benar-benar bertindak bagai penjara kenikmatan yang membakar raga Ratna. Sejak kemarin pagi di dalam minibus hingga detik ini, memek togenya yang tembam dan bengkak terus-menerus berdenyut kosong tanpa pernah diizinkan mencapai puncak orgasme.
Cairan alami yang diproduksi oleh tubuh jalangnya kembali mengocor perlahan, membuat celana dalam katun yang dipakainya terasa sangat basah, lembap, dan lengket di antara celah bibir kemaluannya. Siksaan gatal dan berahi yang menumpuk di ubun-ubun membuat Ratna harus berjalan dengan paha yang dijepit sangat rapat. Setiap kali kain celana dalamnya bergesekan dengan klitorisnya yang menonjol keras sekeras biji jagung, Ratna harus menggigit bibir bawahnya erat-erat demi menahan lenguhan yang siap meledak kapan saja.
"Mas Hadi..." panggil Ratna pelan seraya melangkah mendekati ambang pintu ruang kerja suaminya yang terbuka sedikit. Kain jilbab instan yang dipakainya menjuntai menutupi gundukan payudaranya yang besar, aset matang yang terasa sangat tegang karena kelaparan akan belaian kasar. "Mas Hadi tidak mau istirahat dulu di kamar? Wajah Mas kelihatan sangat lelah setelah perjalanan jauh."
Ustadz Hadi tidak mendongak dari kitabnya. Jemarinya yang kurus membalik halaman kertas dengan gerakan yang monoton. "Tidak usah, Nduk. Jadwal dakwah minggu depan sangat padat. Mas harus menyelesaikan catatan tafsir ini sebelum esok hari. Kamu urus saja keperluan dapur, kalau Mas butuh sesuatu, nanti Mas panggil."
Suara dingin dan datar dari suaminya terasa seperti embusan angin es yang membekukan hati Ratna, namun di sisi lain, penolakan itu justru melesatkan imajinasi jalangnya kembali ke sosok Fadhli. Kontras yang luar biasa kejam antara Hadi yang suci namun mati rasa, dengan Fadhli yang berdosa namun penuh gairah jantan, membuat rahim Ratna semakin berdenyut kencang mengemis noda baru. Ratna menghela napas panjang, berbalik kembali ke dapur dengan kepasrahan seorang istri yang ditelantarkan secara biologis, tanpa tahu bahwa malam ini, di dapur sepi ini, Fadhli sudah mempersiapkan skenario baru yang jauh lebih nekat dan membara.
Malam pun tiba melingkupi desa dengan kegelapan yang pekat. Hujan gerimis mulai turun membasahi bumi, menciptakan suara rintik yang konstan di atas atap seng dan menambah kesunyian di dalam rumah besar tersebut. Tepat jam sebelas malam, Ustadz Hadi akhirnya beranjak dari ruang kerjanya dan langsung menuju kamar tidur utama. Pria itu merebahkan tubuhnya yang kelelahan di atas ranjang, membelakangi posisi Ratna, dan dalam hitungan menit, suara dengusan napasnya yang teratur menandakan bahwa sang ustadz telah tertidur dengan sangat lelap.
Ratna berbaring di samping suaminya dengan mata yang terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang gelap. Seluruh tubuhnya terasa gerah dan membara. Larangan Fadhli menahan seluruh letupan berahinya di ujung tanduk kenikmatan, menyiksanya hingga ia terus-menerus menggeleliat gelisah di atas kasur. Memeknya terasa begitu pengap, gatal, dan melepaskan lendir asmara yang semakin banyak hingga merembes ke kain seprai.
Karena tidak tahan dengan rasa haus yang menyerang tenggorokan dan hawa panas yang membakar selangkangannya, Ratna perlahan menyibak selimut. Ia melangkah turun dari ranjang dengan sangat hati-hati, memastikan gerakan tubuhnya tidak mengusik tidur lelap suaminya. Dengan hanya mengenakan daster tidur tipis berbahan satin halus berwarna hijau lumut tanpa mengenakan bra, Ratna melangkah keluar kamar menuju dapur belakang untuk mengambil segelas air dingin. Gumpalan payudara besarnya yang padat menonjol bebas di balik kain satin yang tipis, bergoyang sensual mengikuti ayunan langkah kakinya yang lemah menahan siksaan syahwat yang menggantung.
Suasana dapur di tengah malam itu terasa begitu sunyi dan mencekam. Hanya terdengar suara rintik hujan gerimis yang konstan mengetuk atap seng di luar, menciptakan irama monoton yang seolah mengisolasi rumah besar itu dari dunia luar. Ratna melangkah pelan di atas lantai ubin yang terasa dingin menyentuh telapak kaki telanjangnya. Kain daster satin hijau lumut yang dikenakannya bergeser lembut, mengikuti lekuk pinggul lebarnya yang sintal. Tanpa balutan pakaian dalam sama sekali, Ratna merasa tubuh matangnya begitu bebas namun sekaligus sangat rentan. Gumpalan payudara besarnya yang padat menonjol dengan puting yang mengeras sempurna di balik kain satin tipis, menegang hebat akibat kepungan hawa berahi yang tak kunjung padam sejak semalam.
Ia membuka pintu lemari es dua pintu yang berada di sudut dapur. Semburat cahaya lampu putih dari dalam kulkas seketika menerangi wajah cantiknya yang tampak sayu dan basah oleh keringat lembut. Ratna meraih botol air mineral dingin, menuangkannya ke dalam gelas kaca dengan tangan yang gemetar halus. Setiap gerakan kecil yang dilakukannya membuat celah paha dalamnya yang basah saling bergesekan. Lendir asmara yang diproduksi oleh memek togenya yang bengkak terasa mengalir lambat, hangat, dan lengket, membasahi permukaan kulit paha dalamnya karena tidak ada lagi selembar celana dalam pun yang menahannya. Siksaan aturan "gantung" dari Fadhli benar-benar membuat Ratna berada di ambang batas kegilaan.
Ratna mengangkat gelas itu ke bibirnya, meneguk air dingin dengan cepat, berharap kesegaran es bisa memadamkan api syahwat yang sedang membakar rahimnya. Air dingin mengalir melewati tenggorokannya, namun pusat kenikmatan di selangkangannya justru semakin berdenyut kencang, menuntut sebuah pelepasan yang selama puluhan jam ini ditahan dengan kejam oleh sang predator seberang jalan.
Tepat saat Ratna meletakkan kembali gelas kaca itu di atas meja dapur, sebuah sepasang lengan yang kekar dan berbulu tipis tiba-tiba merayap maju dari arah kegelapan pintu belakang. Tanpa sempat Ratna berbalik atau menjerit, lengan tegap itu sudah melingkari perutnya dengan sangat erat, menarik punggung Ratna hingga menumbuk keras dada bidang seorang pria yang sangat dikenalnya.
"Mmphhh!" Ratna tersentak hebat, sebuah jeritan panik langsung tertahan di tenggorokannya ketika sebuah telapak tangan yang besar dan kasar membekap mulutnya dengan rapat dari belakang.
Aroma parfum maskulin yang tajam bercampur bau sabun jantan dan hawa dingin air hujan langsung menyeruak masuk ke indra penciuman Ratna. Itu adalah Fadhli. Pemuda lincah dan licik itu rupanya telah menyelinap masuk melalui pintu belakang rumah yang sengaja tidak dikunci rapat sejak sore, memanfaatkan kelengahan Ustadz Hadi yang kini sedang tertidur lelap di kamar yang hanya berjarak beberapa meter dari dapur.
"Diam, jalang kecil. Jangan membuat suara kalau kamu tidak ingin suamimu yang alim itu terbangun dan melihat istrinya sedang didekap oleh pemuda kontrakan," bisik Fadhli tepat di telinga Ratna yang terbuka tanpa jilbab. Embusan napas Fadhli yang panas dan serak seketika membuat seluruh bulu kuduk Ratna meremang sempurna, mengirimkan sengatan gairah instan yang langsung melesat menuju selangkangannya yang becek.
Ratna mengangguk pasrah di balik bekapan tangan Fadhli. Matanya bulat melebar, berkaca-kaca menahan campuran rasa takut yang luar biasa dan letupan kenikmatan yang gila. Fadhli terkekeh pelan, sebuah kekehan rendah yang sarat akan dominasi mutlak. Ia perlahan melepaskan bekapan tangannya dari mulut Ratna, namun tidak melonggarkan sedikit pun pelukan eratnya di pinggul lebar wanita itu.
"Bagaimana rasanya penjara kenikmatanku, hm? Aku bisa mencium bau memekmu yang super becek bahkan sejak aku melangkah masuk ke dapur ini, Ratna," bisik Fadhli kejam, seraya tangan kirinya yang bebas merayap naik ke atas, menyusup ke balik kain daster satin hijau lumut Ratna dari arah bawah.
Jari-jari kasar Fadhli langsung menangkup gundukan payudara besar Ratna yang menggantung padat tanpa bra. Fadhli meremas daging kenyal itu dengan kasar, memilin putingnya yang sudah menegang keras dengan ibu jari dan telunjuknya, memicu lenguhan halus yang terpaksa ditahan Ratna dengan cara menggigit jemarinya sendiri.
"Ughhh... Fadhli... ampun... nikmat sekali... ahh," Ratna merintih pelan, pantat lebarnya yang sintal bergerak menggeliat secara refleks, bergesekan dengan tonjolan keras di balik celana pendek Fadhli yang menekan belahan pantatnya dari belakang. Batang kontol besar Fadhli rupanya sudah menegang sempurna sejak ia menyelinap masuk, siap untuk merobek dan mengisi kembali rahim sang istri ustadz dengan noda dosa baru di atas meja dapur ini.
Remasan tangan Fadhli yang kasar pada payudara besarnya yang telanjang di balik daster satin membuat Ratna seolah kehilangan seluruh pijakan buminya. Setiap lintasan jari pemuda itu mengirimkan arus panas yang langsung meledak di selangkangannya. Tanpa lapisan celana dalam, lubang memek togenya yang bengkak terasa begitu terbuka, seolah mengemis untuk segera disentuh setelah puluhan jam dikunci oleh siksaan gantung yang kejam. Cairan alami yang kental dan hangat kembali mengocor deras, melumuri paha bagian dalam Ratna hingga terasa lengket dan basah kuyup.
Fadhli tidak membiarkan Ratna menikmati siksaan itu terlalu lama. Sambil terus meremas payudaranya, tangan kanan Fadhli bergerak turun perlahan, menyusup di antara celah paha lebar Ratna yang gemetar. Begitu jari-jarinya yang kasar menyentuh area yang sepenuhnya basah dan berlendir tebal itu, Fadhli terkekeh rendah, sebuah suara jantan yang penuh akan kepuasan mendominasi.
"Lihat ini, Ratna... memekmu bahkan sudah seperti mata air yang meluap. Begitu becek, begitu longgar karena menahan nafsu jalangmu seharian ini," bisik Fadhli, bibirnya menempel erat di daun telinga Ratna, sesekali menyesap cupingnya dengan kecupan yang basah. Jari tengah Fadhli yang panjang tanpa ampun langsung dilesakkan masuk ke dalam liang kemaluan Ratna yang hangat.
*Splossh... ecek-ecek...*
Suara lendir yang diaduk oleh jari Fadhli terdengar begitu nyata di tengah kesunyian dapur malam itu. Ratna melenguh pasrah, kepalanya terkulai lemas di pundak Fadhli, sementara tangannya mencengkeram erat pinggiran wastafel aluminium untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk. Fadhli mengocok liang sanggama itu dengan ritme yang cepat dan dalam, sengaja menghantam dinding-dinding sensitif bagian dalam yang terus menjepit ketat jemarinya secara refleks. Ibu jarinya yang lincah menekan klitoris Ratna yang mengeras sekeras batu, memijat biji kenikmatan itu hingga membuat Ratna menggelinjang hebat.
"Ohhh, Tuhan... Fadhli... ughhh, nikmat sekali... jangan dikeluarkan... ahh, Mas Hadi..." Ratna mulai meracau, kepalanya bergerak gelisah. Ketakutan yang luar biasa bahwa suaminya, Ustadz Hadi, bisa terbangun kapan saja dan melangkah ke dapur untuk mengambil air, justru melipatgandakan kepuasan erotis yang merayap di saraf-saraf kemaluannya. Risiko tertangkap basah di atas lantai dapur ini membuat memeknya semakin menjepit ketat jari Fadhli, memeras cairan madunya hingga meluap mengotori lantai ubin.
"Suamimu sedang tidur pulas seperti orang mati di kamar, Ratna. Dia tidak akan tahu kalau malam ini istrinya sedang dikuliti oleh kontolku di atas meja dapur tempatmu menyiapkan sarapannya esok pagi," cemooh Fadhli, semakin mempercepat gerakan jarinya hingga Ratna berada di ambang batas ledakan orgasme.
Namun, persis seperti sebelum-sebelumnya, Fadhli kembali menarik jarinya dengan mendadak sebelum Ratna mencapai puncak. *Plop!*
"Ahhh! Fadhli... saya mohon... jangan disiksa lagi... masukan punya kamu... saya mau keluar... ahhh," Ratna memelas dengan mata yang berkaca-kaca, membalikkan tubuhnya menghadap Fadhli dengan pasrah. Daster satin hijau lumutnya sudah berantakan, menyingkap paha lebarnya yang mulus dan memek togenya yang memerah serta basah oleh lendir yang terus menetes.
Fadhli menatap wajah cantik istrinya ustadz yang kini dipenuhi oleh kabut berahi yang sangat jalang. Tanpa menjawab, Fadhli melepaskan kancing celana pendek kargonya, membebaskan batang kontol besarnya yang sudah menegang sempurna, urat-uratnya menonjol kemerahan bagai tali besi panas yang siap menghancurkan sisa-sisa pertahanan moral Ratna malam ini. Ia mencengkeram bahu Ratna, memutar kembali tubuh wanita itu menghadap meja dapur, bersiap untuk sebuah pergumulan yang jauh lebih beringas dan berbahaya di bawah kepungan rintik hujan malam.
Di bawah temaram lampu neon dapur yang tembus pandang ke arah halaman belakang, Ratna dipaksa kembali berbalik oleh tangan kekar Fadhli. Daster satin hijau lumutnya dinaikkan kasar hingga menumpuk di atas pinggang, mengekspos pantat lebarnya yang putih mulas dan mulus tanpa selembar benang pun yang menghalangi. Di antara belahan panggulnya yang sintal, liang memek togenya yang bengkak tampak menganga kemerahan, terus-menerus memeras lendir asmara yang bening dan kental, mengalir jatuh membasahi sela paha dalam hingga menetes ke atas lantai ubin dapur.
Ratna menumpukan kedua telapak tangannya di atas meja dapur yang dingin, tepat di samping gelas kaca sisa air minumnya tadi. Posisinya yang menungging tinggi membuat dadanya yang besar menggantung bebas di balik daster yang terangkat, berayun sensual setiap kali tubuhnya gemetar menahan letupan syahwat yang menggantung. Risiko malam ini berada di tingkat yang paling gila; kamar tidur utama tempat Ustadz Hadi tidur terlelap hanya berjarak satu sekat dinding kayu dari tempat mereka berdiri. Satu desahan yang terlalu keras, atau satu dentingan perabot dapur yang bergeser, akan meruntuhkan seluruh hidup dan kehormatan suaminya seketika.
"Fadhli... saya mohon... pelan-pelan... Mas Hadi bisa dengar..." Ratna berbisik panik, memalingkan wajah cantiknya ke samping dengan mata berkaca-kaca. Di balik ketakutannya, ego jalangnya justru meronta gembira; jerat bahaya inilah yang membuat lubang memeknya semakin berkedut kencang, siap menyambut hunjaman yang telah ia tunggu-tunggu selama puluhan jam.
Fadhli tidak memberikan jawaban. Ia melangkah merapat, menempelkan perutnya yang kokoh langsung pada pantat lebar Ratna. Tangan kanannya bergerak ke bawah, memegang pangkal kontol besarnya yang sudah menegang sekeras batu, lalu menempelkan ujung kepalanya yang tumpul dan basah oleh pelumas jantan tepat di bibir memek Ratna yang becek.
Tanpa peringatan, Fadhli menghentakkan pinggulnya ke depan dengan satu dorongan yang kuat dan berenergi. *Plosshh! Plok!*
"OHHHMMMPHHH!" Ratna memekik tertahan, buru-buru membekap mulutnya sendiri dengan punggung tangan, sementara matanya terpejam erat merasakan invasi yang begitu padat. Batang kontol besar Fadhli amblas seluruhnya tanpa hambatan, tenggelam ke dalam kehangatan liang memek Ratna yang melimpah ruah oleh cairan asmara hingga pangkalnya menumbuk keras kulit luar kemaluan wanita itu.
Hunjaman pertama itu terasa begitu penuh dan mencengkeram, langsung membasuh kerinduan saraf-saraf sensitif Ratna yang menderita akibat siksaan gantung sejak kemarin. Otot-otot di dalam liang sanggama Ratna langsung menjepit ketat batang urat Fadhli, memerasnya dengan hisapan yang luar biasa nikmat. Suara penetrasi itu terdengar sangat basah dan mesum, *slurrp-chasss*, bergema samar di antara rintik hujan gerimis yang mengetuk atap seng luar.
Fadhli mencengkeram kedua sisi pinggul lebar Ratna dengan cengkeraman jarinya yang kuat, mengunci posisi wanita itu agar tidak bergeser. Ia mulai menarik batangnya keluar hingga tersisa ujungnya saja, lalu menghujamkannya kembali ke dalam dengan sentakan yang bertenaga dan berirama konstan.
*Plok! Plok! Plok!*
Setiap tumbukan keras dari pinggul kekar Fadhli membuat tubuh matang Ratna terdorong ke depan, menyebabkan daster satinnya bergoyang liar. Ratna harus berjuang mati-matian menahan erangan kepuasan yang siap meledak dari tenggorokannya setiap kali kepala kontol Fadhli menyenggol titik terdalam rahimnya. Sensasi gesekan kulit yang basah di antara paha mereka menciptakan hawa panas yang membakar, meluruhkan seluruh sisa moralitas sang istri ustadz yang kini pasrah digenjot layaknya seekor binatang jalang di sudut dapurnya sendiri.
Ritme genjotan Fadhli di atas meja dapur malam itu semakin lama semakin beringas dan tak terkendali. Suara tamparan kulit yang basah beradu dengan paha kekar Fadhli, *plok-plok-plok*, terdengar beruntun membelah kesunyian malam, menyatu dengan deru gerimis yang kian menderu di luar dinding rumah. Setiap kali pinggul Fadhli menyentak maju, tubuh Ratna terdorong ke depan, menyebabkan gelas kaca kosong di atas meja dapur bergetar dan bergeser pelan, berdenting halus menyentuh permukaan keramik.
Dentingan halus itu bagaikan alarm bahaya yang langsung memicu kepanikan luar biasa di dada Ratna. Di balik dinding kayu yang tipis, suaminya yang suci, Ustadz Hadi, sedang tidur terlelap. Risiko tertangkap basah dalam kondisi menungging jalang dengan daster tersingkap seperti ini membuat seluruh otot di dalam liang memek Ratna berkontraksi hebat secara refleks. Dinding-dinding sanggamannya menjepit, meremas, dan menyedot batang kontol besar Fadhli dengan jepitan murni yang luar biasa ketat.
"Ughhh... memekmu gila, Ratna... menjepit sekeras ini... kamu sengaja mau memeras pejuku sekarang, hm?" Fadhli mengerang rendah, suaranya serak menahan kenikmatan jantan yang sudah berada di ujung tanduk. Rasa sesak dan panas di dalam memek Ratna yang berlendir kental membuatnya semakin kalap, menghantamkan panggulnya tanpa ampun demi menembus pertahanan terdalam rahim sang istri ustadz.
"Mmphhh... ahhh... Fadhli... ughhh, penuhi saya... saya sudah tidak kuat lagi... ahh..." Ratna meracik pasrah di balik punggung tangannya yang digigit erat-erat. Siksaan gantung yang menahannya selama puluhan jam kini pecah menjadi gelombang kepuasan yang mengalir deras ke seluruh tubuhnya. Letupan berahi yang menggantung itu akhirnya mencapai batas akhir.
Fadhli merasakan bagaimana seluruh tubuh Ratna mulai gemetar hebat, pertanda sang mangsa sudah berada di puncak kepasrahan. Dengan sisa-sisa tenaga jantannya, Fadhli mencengkeram erat pinggul lebar Ratna, mengangkatnya sedikit, lalu melepaskan tiga kali tusukan pamungkas yang sangat dalam, kasar, dan bertenaga penuh.
*Plok! Plok! Plok!*
"OHHHMMMPHHH!!!" Ratna menggelinjang hebat, seluruh kesadarannya seolah melayang ke langit saat liang kemaluannya meledak dalam orgasme yang paling dahsyat dan melelahkan. Banjir cairan asmara yang pekat menyembur dari rahimnya, melumuri seluruh batang kontol Fadhli.
Pada detik yang sama, Fadhli tidak lagi mampu menahan bendungan benihnya. Batang kekarnya berdenyut keras di kedalaman memek Ratna, sebelum akhirnya memuntahkan lahar peju panas yang melimpah ruah. Semburan sperma yang kental dan panas itu menembus langsung ke mulut rahim Ratna, memberikan sensasi penuh, hangat, dan meluap hingga mengalir keluar membasahi celah paha dalam wanita itu, menetes mengotori lantai ubin dapur yang sepi.
Mereka berdua terengah-engah dalam keheningan malam, bertumpu pada satu sama lain di atas meja dapur. Hawa peju panas yang memenuhi rahim Ratna mengalirkan rasa berdosa yang teramat manis, mengunci takdirnya sebagai wanita jalang di balik jilbab murninya.
Fadhli perlahan menarik keluar kontolnya yang mulai melunak dari dalam liang memek Ratna yang menganga merah dan basah oleh busa putih air madu bercampur sperma. Dengan ketenangan seorang iblis, Fadhli merapikan kembali celananya, memberikan satu tepukan keras di pantat lebar Ratna yang lemas, lalu menyelinap keluar menembus kegelapan pintu belakang, meninggalkan sang istri ustadz yang buru-buru membenahi dasternya dengan sisa tenaga yang ada sebelum suaminya terjaga.1744Please respect copyright.PENANAqAGbQXPTCg


