Di dapur, Devita sedang berdiri di depan kulkas, hijab longgarnya tergantung longgar di satu bahu. Kyai Farid mengalihkan pandangan ke arahnya, lalu kembali padaku. Matanya berbinar seperti pedagang yang baru saja menemukan barang langka di pasar loak. "Kamu mau surga, kan?" desaknya dengan suara yang tiba-tiba saja merdu kembali, seperti saat berceramah. Tangannya yang biasanya memegang tasbih sekarang menekan pahaku lebih kuat, jari-jarinya bergerak seperti orang memainkan sesuatu yang tak terlihat.
1142Please respect copyright.PENANA5duccGBTcP
Aku merasa lidahku seperti terpaku di langit-langit mulut saat pertanyaan itu meluncur dengan sendirinya. Rasanya seperti ada orang lain yang berbicara melalui bibirku, suara kikuk dan lugu yang bahkan tak kukenali sebagai suaraku sendiri. "Pahalanya...akan besar sekali, Kyai?" Kalimat itu menggantung di udara lembab ruang tamu kami, dihantui derai hujan yang semakin deras di luar jendela.
1142Please respect copyright.PENANA0dmG0a5gRz
Kyai Farid tersenyum lebar, matanya berbinar seperti pedagang yang baru saja menutup transaksi menguntungkan. Tangannya yang berkeringat menepuk-nepuk pahaku dengan gerakan terlalu bersemangat, membuat kain sarungku berkerut. "Besar? Oh, Dedi..." Suaranya tiba-tiba seperti sirup kental, terlalu manis untuk disebut alami. "Lebih dari besar. Kau akan menjadi laki-laki paling diberkahi di komplek ini."
1142Please respect copyright.PENANAGw4ABxq46O
Mendengar jawaban itu, entah kenapa dadaku berdebar kencang seperti anak kecil yang baru saja dijanjikan hadiah. Rasanya aneh, seperti ada kupu-kupu berkeliaran di perutku, tapi aku mengangguk setuju dengan semangat yang bahkan membuat Kyai Farid terkejut. "Baik... baik Kyai," ucapku terbata-bata, tangan gemetar memegang sarung yang sudah lembab oleh keringat. "Aku... aku akan sedekahkan Tania."
1142Please respect copyright.PENANAUnru5d86Ew
Kyai Farid menghela napas panjang, matanya berbinar seperti pedagang pasar yang baru saja menawar harga sempurna. Tangannya yang biasanya dingin kini terasa panas saat menepuk bahuku dengan gerakan yang terlalu bersemangat. "Alhamdulillah, Dedi," bisiknya dengan suara serak, sementara matanya melirik ke arah Tania yang sedang membungkuk mengambil piring di meja tamu, daster kuningnya menempel erat pada lekuk tubuhnya yang melengkung sempurna. "Kau membuat keputusan yang... sangat bijak."
1142Please respect copyright.PENANATgdoWQz6t2
***
1142Please respect copyright.PENANACThKrfACD4
"Tania... Devita," aku memanggil dengan suara yang lebih tinggi dari biasanya, seperti anak kecil yang mencoba terdengar dewasa. Keduanya berbalik dengan senyum yang membuat dadaku berdebar, bukan senyum bingung, tapi senyum yang seolah sudah menunggu panggilan ini sejak lama. Mereka berjalan mendekat dengan langkah yang terlalu pelan untuk disebut alami, masing-masing seperti sedang memainkan peran dalam pertunjukan yang hanya mereka yang tahu skenarionya.
1142Please respect copyright.PENANAIQ8mmUzw7A
Kyai Farid menggeser tempat duduknya dengan gerakan kaku, membuat ruang di antara kami. Tania adalah yang pertama duduk, dengan cara yang membuat daster kuningnya melorot lebih jauh, memperlihatkan bahu kirinya yang halus. Devita mengikuti, sengaja menyenggol lutut Kyai Farid saat ia meliuk ke posisi duduk, hijab longgarnya berkibar seperti bendera putih yang baru saja menyerah. "Ada apa, Dedi?" tanya Tania dengan suara yang sengaja dibuat terlalu manis, sementara jari-jarinya memainkan ujung daster yang sudah lembab.
1142Please respect copyright.PENANAlxuKoXdsM0
Aku menelan ludahku yang tiba-tiba terasa seperti pasir. "Tadi... tadi Kyai ceramah tentang sedekah," aku mulai dengan suara serak, tangan gemetar memegang sarungku yang sudah lembab oleh keringat. Kyai Farid di sebelahku mengangguk-angguk terlalu bersemangat, matanya tidak sekali pun melihat wajahku, terpaku pada belahan dada Tania yang bergerak naik turun saat bernapas. "Kata Kyai... sedekah yang paling mulia itu..." Aku berhenti, lidahku terasa seperti terpaku di langit-langit mulut.
1142Please respect copyright.PENANArnHGZFe1ng
Devita menyelamatkanku dengan tertawa kecil, suara yang sengaja dibuat bergetar seperti anak kecil yang baru saja diberi permen. "Apa, Dedi? Jangan malu-malu," bisiknya sambil mencondongkan badan ke depan, membuat hijab longgarnya melorot lebih jauh. Pipinya yang halus itu memerah, tapi matanya, Astaghfirullah, berbinar seperti sudah tahu apa yang akan kukatakan. "Kamu mau menyedekahkan apa?"
1142Please respect copyright.PENANAxm3pz2jF5i
Kyai Farid mengetuk-ngetuk pahaku, gerakan yang seharusnya lembut tapi terasa seperti palu. "Suamimu ingin menyedekahkan..." Ia berhenti untuk menelan ludah dengan suara keras, matanya melirik ke arah Tania yang sekarang dengan sengaja memainkan rambutnya yang ikal. "...keindahan." Suaranya pecah di tengah kata, seperti radio dengan sinyal buruk.
1142Please respect copyright.PENANAsNF2TmePQ2
Tania mengangkat alisnya dengan ekspresi yang terlalu tenang untuk situasi ini. Tangannya yang biasanya aktif memegang sesuatu kini diam di pangkuannya, diam dengan cara yang sengaja memperlihatkan lekuk tubuhnya di balik daster kuning yang sudah transparan. "Keindahan?" ujarnya dengan nada datar, tapi bibirnya yang merah itu sedikit melengkung seperti orang yang menahan senyum. "Keindahan apa, Dedi?"
1142Please respect copyright.PENANAqN8UzwI9px
Dadaku berdebar kencang seperti mesin cuci yang kelebihan beban. Kulihat Kyai Farid menggosok-gosok tangannya yang berkeringat di atas pahanya sendiri, membuat jubah putihnya berkerut aneh. "Keindahan... keindahan yang diberikan Allah padamu," aku akhirnya mengeluarkan suara, tapi terdengar seperti anak kecil yang sedang membaca buku pelajaran. "Kata Kyai... sedekah itu, "
1142Please respect copyright.PENANA7IWih66v5V
Devita memotong dengan gelak tawa yang terlalu tinggi, suara yang sengaja dibuat bergetar seperti anak kecil yang sedang bersandiwara. "Jadi Ayah mau menyedekahkan aku dan Bunda ke Kyai?" Pipinya memerah, tapi matanya, Astaghfirullah, berbinar seperti lampu neon di malam hari. Tangannya yang biasanya selalu menutupi hijab kini dengan santai membuka sedikit bagian lehernya, membuat Kyai Farid tersedak ludahnya sendiri.
1142Please respect copyright.PENANAA4OrU45tRu
Kyai Farid dengan cepat menyembunyikan reaksinya dengan menggaruk-garuk jenggotnya yang rapi. "Ini... ini tentang kebersamaan," ujarnya dengan suara yang tiba-tiba saja serak, sementara tangannya membuat gerakan melingkar di udara, gerakan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama. "Kalian semua... eh... keluarga yang sangat diberkati."
1142Please respect copyright.PENANAGgtQkN8EnQ
Tania tersenyum kecil dengan ekspresi yang terlalu mengerti untuk disebut polos. "Jadi maksudnya..." Suaranya berhenti di tengah kalimat saat dengan sengaja menggeser posisi duduknya, membuat daster itu bergeser beberapa sentimeter ke atas. "...kami harus... bersedekah pada Kyai?"
1142Please respect copyright.PENANAywteLtQLSR
Aku mengangguk dengan kepala yang terasa berat seperti berisi batu. "Kata Kyai... pahalanya akan sangat besar," ucapku terbata-bata sambil menghindari tatapan langsung. Tanganku gemetar memegang sarung yang sudah lembab oleh keringat. "Dan... dan kalian wanita paling cantik di komplek ini..."
1142Please respect copyright.PENANAgVQUZXSfZF
Mendengar itu, Tania dan Devita saling tatap-tatapan. Wajah cantik mereka yang agak lelah karena seharian mengurusi makanan dan tamu tampak seperti pinang dibelah dua, mirip, tapi berbeda dalam cara yang membuat jantungku berdegup kencang. Tania mengusap peluhnya dengan punggung tangan, garis leher daster kuningnya basah dan semakin menerawang, sementara Devita memainkan ujung hijab longgarnya dengan jari-jari yang gemulai.
1142Please respect copyright.PENANAFE2Kcf4JUA
"Ayo, Dedi," bisik Tania tiba-tiba dengan suara yang terlalu manis untuk disebut biasa. Matanya yang biasanya teduh sekarang berbinar seperti kolam diterangi bulan purnama. Tangannya yang halus itu meraih lenganku, menggenggamnya dengan cara yang membuatku merasa seperti anak kecil yang diiming-imingi permen. "Sedekahkan kami ke Kyai."
1142Please respect copyright.PENANAsAk5ZZcSSn
Devita mengangguk-angguk dengan semangat yang mengejutkan, pipinya memerah tapi matanya tidak sekali pun menunduk malu. Justru ia mendekatkan wajahnya ke bahuku, napasnya hangat di kulitku. "Iya, Ayah," desaknya dengan suara melengking yang biasanya ia gunakan saat meminta uang jajan tambahan. "Kami ikhlas kok. Pahalanya kan besar."
1142Please respect copyright.PENANAHiejd2ceOl
Kyai Farid tersedak ludah sendiri saat kedua wanita itu berbicara. Aku melihat dari sudut mataku bagaimana matanya yang hitam pekat itu membelalak saat Tania tanpa malu-malu mencondongkan badan ke arahnya, memperlihatkan lebih banyak kulit dari daster yang sudah lembab itu.
1142Please respect copyright.PENANAkO9DlSc9N7


