1876Please respect copyright.PENANAOEZE4MWUVMKesepian di Balik Senyum
1876Please respect copyright.PENANAlNj5sx1WCX
1876Please respect copyright.PENANAWdKqOeaATO
Rumah mewah bergaya modern di kawasan Dago Pakar, Bandung, berdiri megah di atas lahan seluas hampir satu hektar. Taman depan yang luas dengan rumput hijau yang selalu terpangkas rapi, kolam renang berbentuk ginjal yang airnya jarang beriak, dan garasi yang bisa menampung empat mobil mewah—semuanya menjadi saksi bisu kehidupan Suci Chandraeni yang sepi. Suci, gadis berusia 23 tahun, mahasiswi semester akhir jurusan Psikologi di Universitas Padjadjaran, sering berdiri di balkon kamar utama lantai dua sambil memeluk dirinya sendiri. Kerudung putih yang biasa ia pakai saat kuliah sudah dilepas, rambut hitam lurusnya tergerai lembut menyentuh punggung. Wajahnya oval dengan pipi tembem alami, mata bulat yang selalu memancarkan kelembutan, dan bibir tipis yang jarang sekali melengkung sempurna saat tersenyum di rumah.
1876Please respect copyright.PENANAuIVMFxBcyk
Pagi itu, seperti biasa, Suci bangun sebelum adzan Subuh berkumandang. Ia mengambil wudhu di kamar mandi marmer yang dingin, lalu sholat dengan khusyuk di sajadahnya yang sudah usang. Setelah membaca beberapa ayat Al-Qur’an, ia turun ke lantai bawah. Rumah besar ini terasa begitu hampa. Tak ada suara ibunya yang sibuk di dapur, tak ada tawa ayahnya yang sedang menelepon bisnis di ruang kerja. Hanya keheningan yang menyambutnya.
1876Please respect copyright.PENANAuW4xZ5SmJm
Di dapur yang luas, cahaya lampu warm white menyala lembut. Mang Ujang sudah ada di sana. Pria berusia 48 tahun itu mengenakan kaos oblong abu-abu pudar dan celana pendek kerja yang sudah banyak tambalan. Tubuhnya tegap meski perutnya mulai membuncit karena usia, kulitnya gelap terbakar sinar matahari bertahun-tahun, dan tangannya kasar penuh urat dan kapalan. Rambutnya yang mulai memutih di pelipis masih tebal, dan janggut tipisnya selalu rapi.
1876Please respect copyright.PENANABjOUqvONzW
“Pagi, Non Suci. Sarapan sudah siap. Nasi goreng spesial dengan telur dadar dan sambal terasi seperti yang Non suka,” sapa Mang Ujang dengan suara berat yang tenang, khas orang Sunda yang sudah lama tinggal di Bandung.
1876Please respect copyright.PENANA1MFx1amLGv
Suci tersenyum kecil. “Terima kasih banyak, Mang. Mang selalu bangun pagi sekali.”
1876Please respect copyright.PENANAk5jqkzUJI7
Mang Ujang hanya mengangguk hormat. “Biasa, Non. Kerja tukang kebun memang harus pagi biar tanaman segar. Mang sudah siram mawar dan anthurium di belakang.”
1876Please respect copyright.PENANAcRWHiW1D8Y
Suci duduk di meja makan marmer yang bisa untuk delapan orang. Ia makan dalam diam, hanya sesekali mendengar suara Mang Ujang yang membersihkan piring di wastafel. Hubungan mereka murni majikan dan pembantu. Mang Ujang sudah bekerja di keluarga Chandraeni sejak Suci berusia tiga tahun. Dulu ia datang dari kampung di Garut sebagai tukang kebun harian, lalu menjadi pegawai tetap dan tinggal di paviliun kecil di belakang rumah setelah istrinya meninggal karena sakit lima tahun lalu. Tak ada keluarga lain yang menunggunya. Ia setia, pendiam, dan tak pernah melewati batas.
1876Please respect copyright.PENANA0Y0HZKQWdt
Setelah sarapan, Suci naik ke kamar untuk bersiap kuliah. Ia memakai gamis panjang berwarna pastel lembut, kerudung segi empat yang rapi, dan tas ransel sederhana. Di depan cermin, ia melihat dirinya sendiri. Di kampus, ia dikenal sebagai “Suci yang baik hati”. Selalu membantu teman yang kesulitan membayar UKT, menjadi relawan di program pengabdian masyarakat, mengajar mengaji anak-anak di masjid kampus, dan aktif di lembaga dakwah mahasiswa. Banyak yang kagum padanya. Tapi tak ada yang tahu betapa berat rasanya pulang ke rumah yang kosong.
1876Please respect copyright.PENANAiAHBoKGo4I
Mobil Honda Civic putihnya meluncur meninggalkan rumah. Di kampus, hari Suci dipenuhi aktivitas. Pagi hari ada kuliah Psikologi Klinis. Ia duduk di baris depan, mencatat dengan rapi. Saat ada teman yang tampak murung karena putus cinta, Suci langsung mendekat. “Kamu boleh cerita kalau butuh teman dengerin,” katanya dengan suara lembut. Teman itu menangis di bahunya. Suci memeluknya, memberi nasihat yang bijak, dan bahkan membelikan es teh manis dari kantin.
1876Please respect copyright.PENANAASTxM88gMt
Siang harinya, ia ikut rapat organisasi. Ada proposal bantuan untuk panti asuhan. Suci menjadi koordinator, mengatur jadwal kunjungan, dan menyumbang sebagian uang sakunya.
1876Please respect copyright.PENANAmufolVtn6P
“Kita harus berbagi rezeki,” katanya di depan teman-teman. Semua mengangguk kagum. Cowok-cowok di kampus sering mendekatinya—ada Reza, ketua BEM yang ganteng dan pintar; ada juga Faisal, anak pengusaha yang mobilnya mewah.
1876Please respect copyright.PENANANdN4w9f0zl
Mereka mengajak nonton, makan malam, bahkan melamar serius. Suci selalu menolak halus. “Maaf, aku fokus skripsi dulu,” katanya. Sebenarnya, ia merasa tak ada yang benar-benar memahami kesepiannya.
1876Please respect copyright.PENANAgi7zqIQq9P
Sore menjelang maghrib, Suci pulang. Hujan deras mulai turun saat ia memasuki gerbang rumah. Mobilnya berhenti di carport. Ia berlari kecil masuk, bajunya basah di bagian bahu. Rumah masih gelap. Tak ada pesan baru dari Ayah Wijaya Chandraeni yang sedang di Dubai mengurus kontrak jutaan dolar. Ibu Susi Chandraeni juga sibuk di Jakarta, meeting dengan klien tekstil sampai larut malam. “Kami lakukan ini untuk kamu, Nak. Supaya kamu tak kekurangan apa-apa,” begitu selalu kata mereka. Tapi Suci tak butuh mobil baru atau tas branded. Ia hanya ingin ada yang menyambut pulang.
1876Please respect copyright.PENANANtucmSkYEH
Di taman belakang, Mang Ujang masih bekerja meski hujan. Ia memindahkan pot-pot besar ke tempat teduh, tubuhnya basah kuyup. Kaos oblongnya menempel ketat di dada dan punggung yang kekar. Suci berdiri di teras belakang sambil memegang payung.
1876Please respect copyright.PENANAny90RImIb4
“Mang, masuk dulu. Hujan deras begini bahaya,” panggil Suci.
1876Please respect copyright.PENANA2IzZB6P9GH
Mang Ujang menoleh, menyeka wajah dengan lengan. “Sebentar lagi, Non. Takut pompa air banjir. Non masuk saja, nanti masuk angin.”
1876Please respect copyright.PENANAujb9vpN8Pw
Suci tetap berdiri. Ia memandang Mang Ujang yang bekerja tanpa mengeluh. Pria itu sudah 48 tahun, tapi masih kuat mengangkat beban berat. Suci teringat dulu, saat kecil, Mang Ujang yang mengajarinya naik sepeda di halaman, yang membelikan es lilin saat ia sedih karena orang tua tak pulang. Kini, Mang Ujang tetap ada, tapi tetap menjaga jarak sopan.
1876Please respect copyright.PENANAk4a6OsNA3c
Malam harinya, setelah sholat Isya, Suci turun ke dapur lagi. Mang Ujang sedang membuat teh hangat untuk dirinya sendiri di paviliun, tapi mendengar suara Non-nya, ia langsung ke dapur utama.
“Non butuh sesuatu?” tanya Mang Ujang.
Suci menggeleng. “Cuma haus. Mang… boleh aku duduk di sini sebentar?”
1876Please respect copyright.PENANAeZKmJVvvSf
Mang Ujang tampak kaget tapi mengangguk. Mereka duduk di meja makan. Suci bercerita tentang hari kuliahnya, tentang teman yang putus cinta, tentang proposal skripsinya yang masih mentah. Mang Ujang mendengarkan dengan sabar, sesekali memberi komentar sederhana. “Non baik hati, pasti diberi kemudahan,” katanya.
Obrolan itu berlangsung hampir satu jam.
1876Please respect copyright.PENANAmEAanBB9uH
Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, Suci merasa ada yang mendengar. Tapi saat ia kembali ke kamar, kesepian itu datang lagi. Ranjang king-size terasa terlalu luas. Ia berbaring, memeluk bantal, dan air mata mengalir pelan. “Kenapa rumah ini begitu besar tapi kosong?” gumamnya.
1876Please respect copyright.PENANA7MfK2v1S4O
Hari demi hari berlalu dengan pola yang sama. Pagi sarapan dengan Mang Ujang, kuliah penuh aktivitas sosial, pulang ke rumah sepi, obrolan singkat malam hari.
1876Please respect copyright.PENANAaXUbY1StyR
Suci mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang Mang Ujang. Cara pria itu merawat tanaman dengan penuh kasih sayang, cara ia memperbaiki genteng bocor sendirian di bawah terik matahari, cara ia memasak makanan sederhana tapi selalu tepat sesuai selera Suci.
1876Please respect copyright.PENANAlLZKz7rp9j
Suatu sore, saat Suci membantu menyiram tanaman (meski Mang Ujang melarang), tangan mereka tak sengaja bersentuh saat memegang selang air.
1876Please respect copyright.PENANA5941Dodqjx
Suci merasa ada getar aneh. Tangan Mang Ujang kasar, hangat, dan kuat. Ia buru-buru menarik tangan dan beristighfar dalam hati. “Ini tidak boleh,” bisiknya dalam hati. Mang Ujang adalah pembantu, pria yang usianya hampir dua kali lipat, dan ia adalah Non-nya yang terdidik.
1876Please respect copyright.PENANAJdwbajIHqK
Mang Ujang sendiri juga mulai merasakan hal yang aneh. Malam-malam di paviliun kecilnya, ia sering duduk di teras sambil merokok. Ia teringat Non Suci yang semakin dewasa, semakin cantik, dan semakin kesepian. Dulu ia hanya melihat Suci sebagai anak kecil yang ia rawat. Kini, ia harus mengingatkan diri sendiri: “Ia majikanmu, Ujang. Jangan macam-macam.”
1876Please respect copyright.PENANAmDP0fQTzyk
Kesepian Suci semakin dalam. Di kampus, ia tetap menjadi pusat kebaikan. Ia mengunjungi panti asuhan, membawa donasi dari teman-teman, mendengarkan curhatan adik tingkat yang broken home.
1876Please respect copyright.PENANA9jooHw3Lo6
Tapi saat pulang, ia sering berhenti di taman, memandang Mang Ujang yang sedang bekerja. Pria itu tak pernah mengeluh meski harus membersihkan kolam yang jarang dipakai, memangkas rumput yang tak ada yang melihat, atau memperbaiki lampu taman yang mati.
1876Please respect copyright.PENANAAmu8C0m6yR
Suatu malam hujan deras lagi. Listrik rumah sempat padam sebentar. Suci ketakutan di kamar gelap. Ia turun ke bawah dengan ponsel sebagai senter.
1876Please respect copyright.PENANAIWI9dQcJe6
Mang Ujang sudah ada di ruang tengah, menyalakan genset cadangan. Cahaya genset menyinari wajahnya yang lelah tapi tegar.
1876Please respect copyright.PENANAdhynZMm1O0
“Non takut?” tanya Mang Ujang pelan.
Suci mengangguk. Mereka duduk bersama di ruang keluarga sampai listrik menyala kembali. Mang Ujang bercerita tentang masa kecilnya di kampung, tentang istri yang sudah tiada, tentang betapa ia bersyukur masih bisa bekerja di rumah ini. Suci mendengarkan, merasa ada ikatan yang tak terucap.
1876Please respect copyright.PENANADDKnNrJW67
Hari-hari kesepian itu terus berlanjut.
1876Please respect copyright.PENANAJ4UsupvwOO
Orang tua Suci hanya pulang sebentar setiap dua atau tiga bulan, membawa oleh-oleh mahal tapi tak pernah tinggal lama. Ayah Wijaya selalu sibuk di ponsel, ibu Susi sibuk meeting online bahkan saat makan malam. Suci tersenyum di depan mereka, tapi hatinya menangis.
Di kampus, teman-temannya iri. “Lu beruntung, Suci. Rumah besar, orang tua kaya.” Suci hanya tersenyum. Mereka tak tahu betapa mahalnya kesepian itu.
1876Please respect copyright.PENANARHWBeF5bja
Malam demi malam, Suci berdoa lebih lama. Ia memohon kekuatan untuk tetap suci, tetap baik hati seperti namanya. Tapi di sudut hati yang paling dalam, ada ruang kosong yang semakin besar. Dan Mang Ujang, dengan keteguhan dan kehadirannya yang konstan, mulai terasa seperti cahaya kecil di kegelapan itu.
1876Please respect copyright.PENANAu43jdIEbYR
Mang Ujang sendiri berjuang dengan batasannya. Ia semakin sering memandang Non Suci dari kejauhan saat gadis itu membaca buku di taman atau membantu menyirami bunga. Ia menggelengkan kepala, “Ini dosa, Ujang,” gumamnya sambil bekerja lebih keras.
1876Please respect copyright.PENANAynQ5hwyiMg
Dua jiwa yang hidup di bawah atap yang sama, terpisah oleh status dan usia, tapi semakin dekat oleh kekosongan yang sama. Suci yang suci dan baik hati, serta Mang Ujang yang setia dan sederhana—belum ada yang tahu bagaimana angin akan membawa mereka ke arah yang tak terduga.
1876Please respect copyright.PENANAcl4QR0rvxX
(POV Mang Ujang)
1876Please respect copyright.PENANAVh31cOzdZY
Aku berdiri di tengah taman belakang rumah besar ini, matahari siang Bandung yang terik menyengat kulitku yang sudah gelap. Tangan kasarku memegang selang air yang sudah banyak tambalan, menyiram tanaman anthurium kesayangan Non Suci. Daun-daun hijau mengkilap basah, bunga merahnya mekar sempurna. Usiaku sudah 48 tahun sekarang. Tubuh ini masih tegap meski perut mulai membuncit dan pinggang sering terasa pegal setelah seharian membungkuk. Keringat mengalir deras di dahi, leher, dan punggungku. Aku menyeka dengan lengan kaos oblong abu-abu pudar yang sudah tipis karena sering dicuci.
1876Please respect copyright.PENANAedXMLdsYFS
Pandanganku tak sengaja naik ke balkon lantai dua. Di sana, Non Suci berdiri sendirian, memandang ke kejauhan. Kerudung putihnya yang lembut berkibar pelan ditiup angin sore. Tubuhnya ramping, gamis rumah yang dikenakannya menempel lembut di lekuk tubuhnya yang sudah dewasa. Usianya baru 23 tahun, tapi ia sudah terlihat seperti wanita sejati. Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan.
1876Please respect copyright.PENANAARn82PgnK5
“Ujang, apa yang kamu pikirkan?” tegurku dalam hati. Ia majikanku. Gadis suci yang baik hati. Aku hanya tukang kebun tua yang tak punya apa-apa selain kesetiaan.
Tapi hari ini, seperti biasa, pikiranku melayang jauh ke masa lalu. Semua yang membawaku ke rumah ini.
1876Please respect copyright.PENANA4x0EwitfcJ
Aku lahir di kampung kecil bernama Kampung Cijambu, di kaki Gunung Garut, Jawa Barat. Rumah kami sederhana, panggung dari bambu dan kayu, beratap daun rumbia. Ayahku petani biasa, ibuku menjual hasil kebun di pasar. Sejak kecil, aku sudah biasa bekerja keras. Umur 10 tahun sudah ikut ke sawah, membajak dengan kerbau, menanam padi, memetik sayur, dan merawat kebun sayuran keluarga. Badanku terbiasa dengan matahari dan tanah. Kulitku gelap, otot lenganku kuat karena angkat batu, angkat cangkul, dan angkat karung beras.
1876Please respect copyright.PENANAHr06CA7wv7
Saat remaja, umur 18-19 tahun, aku dikenal sebagai pemuda yang rajin dan pendiam. Teman-teman sering mengajak main bola di lapangan kampung atau nongkrong di warung kopi, tapi aku lebih suka pulang cepat membantu orang tua. Aku tak pernah merokok waktu itu, jarang bergaul dengan yang bukan-bukan.
1876Please respect copyright.PENANAKPq9j9ZHpC
Impianku sederhana: punya kebun sendiri, menikah, dan punya anak yang banyak.
1876Please respect copyright.PENANAYcGvwIKQzJ
Aku pertama kali bertemu Emih di pasar tradisional Garut. Umurku 22 tahun, dia 20 tahun. Emih adalah gadis kampung yang cantik sederhana. Kulitnya sawo matang, rambutnya hitam panjang yang biasa dikepang, senyumnya malu-malu tapi hangat. Ia membantu ibunya jualan gorengan dan sayuran. Setiap pagi aku lewat pasar untuk jual hasil kebun, dan aku selalu berhenti di warungnya.
1876Please respect copyright.PENANAGAzsgsI8JV
Lama-lama kami saling sapa. “Mang Ujang beli apa hari ini?” tanyanya sambil tersipu.
1876Please respect copyright.PENANAukDWlkR2Ds
Cinta kami tumbuh pelan. Aku berani melamar setelah setahun kenal. Pernikahan kami sederhana sekali. Hanya di masjid kampung, walimatul ursy dengan nasi liwet dan gorengan Emih.
1876Please respect copyright.PENANAf7CURw92Hz
Maharnya cincin besi dan tiga ekor kambing. Kami tinggal di rumah kecil warisan orang tuaku. Hidup kami bahagia meski miskin. Pagi aku ke kebun orang kaya sebagai buruh tani dan tukang kebun, Emih jualan di pasar atau masak di rumah. Malam hari kami duduk di teras, bercerita tentang hari masing-masing. Ia suka menyandarkan kepala di dadaku yang masih keras dan bidang waktu itu.
1876Please respect copyright.PENANAcLhXbblrpM
“Kita harus sabar ya, Jang. Kalau Allah kasih anak, alhamdulillah. Kalau belum, kita tetap syukuri,” katanya sering. Kami sudah 10 tahun menikah tapi belum dikaruniai anak. Kami berobat ke dukun, ke puskesmas, bahkan ke dokter di kota. Tapi tak ada hasil. Emih sering menangis diam-diam, tapi aku selalu peluk dia erat. “Kamu sudah cukup buat aku, Mih. Kita berdua saja sudah bahagia.”
1876Please respect copyright.PENANA1mQyT5sjTF
Tahun-tahun itu adalah masa terbaikku. Aku naik pangkat jadi kepala tukang kebun di salah satu kebun teh di Garut.
1876Please respect copyright.PENANAPfDyu58kXA
Gaji lebih besar, kami bisa renovasi rumah kecil kami. Emih semakin cantik di mataku. Tubuhnya yang montok karena suka masak, senyumnya yang selalu menyambut pulang. Kami bercinta dengan penuh kasih sayang di malam-malam yang sejuk. Aku merasa hidup ini sempurna.
1876Please respect copyright.PENANARFjC9ogUs6
Semuanya hancur saat Emih berusia 38 tahun. Awalnya hanya batuk biasa. Lalu demam tinggi yang tak turun. Aku bawa ke puskesmas, diberi obat. Tak sembuh. Kami ke rumah sakit kabupaten. Dokter bilang kanker paru-paru stadium lanjut. Aku seperti disambar petir. “Bagaimana bisa, Dok? Dia tak pernah merokok,” tanyaku dengan suara bergetar.
1876Please respect copyright.PENANAfxk1EJzgLG
Biaya pengobatan mahal. Aku jual sawah warisan, jual semua kambing, pinjam ke tetangga dan saudara. Emih semakin kurus. Kulitnya pucat, matanya cekung, rambutnya rontok karena kemoterapi.
1876Please respect copyright.PENANAIrzPZxhlRl
Tapi ia masih tersenyum setiap kali aku datang menjenguk. “Jangan capek-capek, Jang. Kamu juga harus jaga kesehatan,” bisiknya sambil genggam tanganku yang kasar.
1876Please respect copyright.PENANAvuzvGcAsta
Malam terakhirnya, hujan deras mengguyur rumah sakit. Aku duduk di samping ranjang, memegang tangannya yang dingin dan kurus. “Ujang… maafkan aku… tak bisa kasih kamu anak… tak bisa temani kamu tua,” katanya dengan suara hampir tak terdengar. Air mataku jatuh deras. “Kamu sudah kasih segalanya, Mih. Aku cinta kamu selamanya,” jawabku sambil mencium keningnya.
1876Please respect copyright.PENANA4mAeeeseQS
Emih menghadap Sang Illahi di pagi subuh itu. Aku menangis tersedu di samping jenazahnya. Pemakaman di kampung ramai, banyak yang datang melayat. Tapi setelah tiga hari, semuanya pulang. Aku sendirian di rumah kecil yang sepi. Tak ada suara Emih lagi. Tak ada masakan hangat. Tak ada pelukan malam hari. Aku jatuh ke jurang kesedihan.
1876Please respect copyright.PENANAc0xbLAMimd
Berbulan-bulan aku hampir tak kerja, hanya duduk di makam Emih dari pagi sampai malam, merokok satu batang demi satu batang. Sawah sudah ludes, uang habis. Aku hidup dari sisa-sisa tabungan yang tinggal sedikit.
1876Please respect copyright.PENANAYYZSuPzsEx
Suatu hari, kenalan lama dari pasar menelepon. “Ujang, ada juragan kaya di Bandung cari tukang kebun tetap. Rumah besar, gaji tetap, makan, dan tempat tinggal. Mau?” Aku ragu lama. Tapi aku tak punya pilihan. Dengan baju kemeja lengan pendek terbaikku yang sudah pudar, celana panjang hitam, dan sepatu kerja yang sudah aus, aku naik angkot ke Bandung.
1876Please respect copyright.PENANAWUkHzZanYP
Pertemuan dengan Pak Wijaya Chandraeni berlangsung di ruang tamu rumah ini yang sangat mewah. Lantai marmer mengkilap, furnitur impor, AC dingin. Pak Wijaya, pria 53 tahun waktu itu, duduk di sofa sambil memegang laptop dan dua ponsel. Jasnya mahal, jam tangannya berkilau. “Kamu Ujang? Bisa kerja kebun ya? Taman depan, belakang, kolam renang, dan halaman luas. Harus rapi setiap hari,” katanya tegas tapi tak kasar.
1876Please respect copyright.PENANAFhhSPmelL2
“Iya, Pak. Saya sudah 25 tahun kerja kebun dan tani,” jawabku hormat, kepala sedikit menunduk.
1876Please respect copyright.PENANA5xw4NTh09o
Ibu Susi datang sebentar. Wanita 49 tahun, cantik dengan riasan rapi, tapi terlihat buru-buru. “Yang penting bersih dan terawat. Kami sering ke luar kota dan luar negeri,” katanya.
1876Please respect copyright.PENANAuy9Mg1KqQU
Lalu muncul Non Suci. Umur 18 tahun, masih SMA. Ia turun dari tangga dengan seragam putih abu-abu, rambut dikepang dua, wajahnya polos dan manis. “Ini anak kami, Suci,” kata Pak Wijaya. Non Suci menyapa dengan suara lembut, “Selamat datang di rumah, Mang Ujang.”
1876Please respect copyright.PENANAtnhDmBNSXs
Saat itu hatiku hangat. Ia mengingatkanku pada Emih saat muda—baik hati dan sopan. Aku langsung diterima. Keesokan harinya aku pindah ke paviliun belakang. Kamar kecil tapi bersih, ada kamar mandi, dapur mini, dan tempat tidur. Aku mulai kerja dengan semangat baru.
1876Please respect copyright.PENANAjr5ZaRPSb3
Membersihkan taman yang agak liar, memangkas rumput tinggi, menyiram bunga mawar yang mulai layu, membersihkan daun kering di kolam renang yang jarang dipakai.
1876Please respect copyright.PENANAnbmJw1Cb2v
Hari-hari pertama berat. Rindu Emih sangat dalam. Malam hari aku sering terbangun, memanggil nama Emih dalam tidur. Aku duduk di teras paviliun, merokok, menatap rumah besar yang gelap. Tapi Non Suci sering memberi semangat. Pagi hari ia membawa sarapan sendiri ke paviliun. “Mang makan dulu yang hangat,” katanya. Aku selalu menolak halus, “Terima kasih, Non. Biar Mang yang ambil sendiri.”
1876Please respect copyright.PENANAolypihtl2F
Pak Wijaya dan Ibu Susi jarang di rumah. Mereka sibuk bisnis. Aku jadi orang yang paling sering bertemu Non Suci. Aku melihat ia tumbuh dari gadis SMA menjadi mahasiswi yang alim. Ia sering sholat berjamaah sendirian di musholla kecil rumah. Aku merawat rumah ini seperti rumah sendiri—setia, tanpa banyak bicara.
1876Please respect copyright.PENANA5w1SIuZ6yj
Sekarang, lima tahun kemudian, aku masih di sini. Emih sudah lama pergi, tapi kenangannya abadi. Non Suci sudah 23 tahun, semakin cantik, semakin kesepian seperti aku. Aku tahu batasku. Aku hanya tukang kebun tua. Tapi setiap kali melihat senyumnya yang lelah, setiap kali tangan kami tak sengaja bersentuh saat bekerja di taman, ada api kecil yang menyala di dada ini. Aku takut. Takut dosa. Takut melukai gadis suci itu.
1876Please respect copyright.PENANA5DRB7d4hOU
Aku mematikan keran air. Matahari mulai condong ke barat. Non Suci masih di balkon. Aku kembali bekerja, menyembunyikan gejolak hati yang semakin sulit dikendalikan.
Semoga senang y dgn cerita baru ane mohon di like dan comment y biar semangat bikinnya😁1876Please respect copyright.PENANAYpTdrqAeQr


