pacarku jadi mainan ayahnya dan kakaknya
Aku tidak pernah mengira bahwa undangan sederhana dari pacarku akan mengubah segalanya. Nama pacarku adalah Nayla. Dua puluh satu tahun, mahasiswi semester akhir di fakultas sastra, rambut hitam panjang yang selalu ia ikat agak longgar di tengkuk, menyisakan beberapa helai yang jatuh di bahu. Matanya hitam pekat dengan bulu mata lebat yang membuatnya selalu tampak seperti baru saja bangun dari mimpi basah. Bibirnya tebal, merah alami, sedikit menganga saat ia tersenyum, seolah selalu siap digigit.
3304Please respect copyright.PENANAfHz1EdAS6J
Tubuhnya… Tuhan, tubuhnya adalah kutukan dan anugerah sekaligus. Payudara sepasang yang berisi, tidak terlalu besar tapi berat dan kenyal, berbentuk buah pir terbalik yang selalu menggoyang pelan setiap ia melangkah. Aku tahu betul bentuknya di balik bra. Putingnya berwarna coklat muda, sensitif sekali; hanya dengan digosok pelan lewat baju saja sudah mengeras seperti kancing kecil. Pinggangnya ramping, membentuk lekukan yang sempurna menuju bokong bulat yang kenyal dan sedikit naik. Saat ia memakai celana jeans ketat, pantatnya tampak seperti dua buah peach yang matang, siap diperas. Pahanya mulus, berisi, bertemu di celah yang selalu membuat imajinasiku liar. Dan di antara paha itu… vagina yang selalu basah lebih cepat dari yang aku duga, beraroma manis seperti vanila basah yang bercampur dengan aroma kulitnya sendiri.
3304Please respect copyright.PENANAvQA4GkLGDc
Kami sudah pacaran tujuh bulan. Bertemu di perpustakaan kampus, berawal dari saling meminjam buku, lalu ngopi, lalu ciuman di mobil, lalu seks di kos-kosan. Tapi Nayla selalu menolak aku menginap di rumahnya. “Rumahku jauh, Dio. Dan keluargaku… agak aneh,” katanya dulu sambil tertawa kecil, matanya menghindari pandanganku.
3304Please respect copyright.PENANAuaugSjHOwj
Hari itu, tiba-tiba ia mengirim pesan.
3304Please respect copyright.PENANAOsSyy0pg0z
“Dio… minggu ini libur panjang. Ayah dan Kak Raka bilang boleh bawa pacar ke rumah. Mau ikut? Aku rindu kamu tidur peluk aku di kamar sendiri.”
3304Please respect copyright.PENANAfFCeb5HrLm
Aku setuju tanpa pikir panjang. Rindu. Rindu bau tubuhnya yang khas, rindu desahannya saat aku menggigit cuping telinganya, rindu basahnya yang selalu membasahi jariku.
3304Please respect copyright.PENANAB6D5wmvbbP
Sabtu pagi kami berangkat. Aku menjemputnya di terminal bus antar kota. Ia sudah menunggu dengan tas ransel kecil. Memakai kemeja putih tipis yang agak tembus pandang, dua kancing atas terbuka, memperlihatkan lekuk payudara yang dalam. Celana pendek denim yang hanya menutup sepertiga paha. Rambutnya tergerai, sedikit basah karena hujan semalam.
3304Please respect copyright.PENANA0NFU3qpX2a
“Hai,” katanya sambil tersenyum, lalu langsung memelukku erat. Dada montoknya menekan dadaku. Aku bisa merasakan putingnya yang sudah agak keras. Aroma parfum vanila campur kulit basahnya langsung membuat celanaku sesak.
3304Please respect copyright.PENANAtUd7F5OmWR
“Kamu cantik banget hari ini,” bisikku di telinganya.
3304Please respect copyright.PENANAzR2Bs7Jfxe
Ia tertawa pelan, suaranya rendah dan basah. “Jangan bilang begitu di depan Ayah nanti. Dia suka cemburu kalau ada yang puji aku.”
3304Please respect copyright.PENANAtJRaM1N9En
“Cemburu?” Aku mengernyit.
3304Please respect copyright.PENANAI317W47HKc
Nayla hanya mengangkat bahu, senyumnya agak aneh. “Keluarga kami… dekat. Nanti kamu lihat sendiri.”
3304Please respect copyright.PENANA6uf56GKB9Y
Perjalanan dua jam dengan mobil sewaan terasa seperti siksaan manis. Nayla duduk di kursi penumpang, kaki disilangkan, celana pendeknya naik semakin tinggi. Aku mencuri pandang berkali-kali. Paha dalamnya putih bersih, tanpa bekas luka, seolah belum pernah disentuh matahari. Sesekali ia meraih tanganku dan meletakkannya di atas pahanya, mengusap-usap pelan.
3304Please respect copyright.PENANAuRlbVxAwkF
“Dio… nanti malam, di kamar aku, boleh kan kita…?” suaranya pelan, matanya menatap lurus ke jalan tapi pipinya memerah.
3304Please respect copyright.PENANAVMTDrfOvua
“Boleh. Aku bahkan mau sekarang,” jawabku, tangan mulai naik pelan ke arah selangkangannya.
3304Please respect copyright.PENANA0eRoTBvmEy
Ia menahan tanganku. “Jangan. Nanti basah. Aku nggak bawa ganti celana dalam.”
3304Please respect copyright.PENANA8oJziFF74Z
Aku menelan ludah. “Kamu nggak pakai…?”
3304Please respect copyright.PENANAS1F1DNQLgf
“Pakai. Tapi tipis. Lace hitam. Yang kamu suka.” Ia menoleh, bibirnya terbuka sedikit. “Aku basah dari tadi pagi mikirin kamu. Mikirin lidahmu di situ. Mikirin jari-jarimu yang selalu tahu cara bikin aku squirt.”
3304Please respect copyright.PENANAknTBhyDt4A
Aku mengerang pelan. “Nayla, jangan. Nanti aku stop di pinggir jalan.”
3304Please respect copyright.PENANAbyVeb6huyM
Ia tertawa, suaranya merdu tapi penuh hasrat. “Sabar. Di rumah nanti. Kamar aku di lantai dua, paling ujung. Dindingnya tebal. Ayah dan Kak Raka kamarnya di lantai satu.”
3304Please respect copyright.PENANAbOowduFBYJ
Aku mengangguk, berusaha fokus ke jalan. Tapi bayangan tubuhnya yang telanjang terus menghantuiku. Bayangan payudaranya yang bergoyang saat aku mengentotnya dari belakang. Bayangan putingnya yang aku hisap sampai ia menggeliat. Bayangan vagina basahnya yang selalu meregang sempurna menerima kontolku.
3304Please respect copyright.PENANAQTmzzsXsSQ
Rumah mereka berada di pinggiran kota kecil, sebuah villa dua lantai dengan taman luas dan kolam renang di belakang. Pagar tinggi, sepi. Saat mobil berhenti di depan garasi, pintu rumah sudah terbuka.
3304Please respect copyright.PENANALi8jSmzms5
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tujuh tahun berdiri di sana. Tinggi, tegap, rambut hitam sedikit beruban di pelipis, rahang tegas, mata tajam. Ia memakai kaos hitam longgar dan celana pendek. Otot dadanya masih terlihat jelas. Ini pasti Pak Surya, ayah Nayla.
3304Please respect copyright.PENANAAYsdi6L5ym
Di sampingnya berdiri pria lebih muda, sekitar dua puluh lima tahun. Raka. Kakak Nayla. Rambutnya agak gondrong, senyumnya nakal, tubuhnya atletis. Ia memakai tank top putih yang memperlihatkan lengan berotot dan tato kecil di dada kiri.
3304Please respect copyright.PENANA8MwMwseyKx
“Naylaaa!” Raka langsung berlari mendekat saat kami turun. Ia memeluk adiknya erat, mengangkat tubuh Nayla sedikit sehingga kaki Nayla terangkat dari tanah. Pelukan itu lama. Tangan Raka turun ke pinggang adiknya, hampir menyentuh bokong. Nayla tertawa, memeluk balik leher kakaknya.
3304Please respect copyright.PENANAnkJQYLlUL1
“Kak, lepas. Bau keringat,” godanya, tapi tidak benar-benar berusaha lepas.
3304Please respect copyright.PENANAxX7UdO7XOh
Pak Surya mendekat lebih pelan. Matanya menyapu tubuh putrinya dari atas ke bawah, berhenti sejenak di dada yang menonjol karena kemeja tipis, lalu ke paha yang terbuka. “Kamu kurusan, Nak,” katanya, suaranya dalam dan hangat. Lalu ia memeluk Nayla. Pelukan ayah-anak yang normal… tapi tangannya menepuk-nepuk punggung bawah putrinya lebih lama dari seharusnya. Saat lepas, jarinya sempat mengusap pinggang ramping Nayla.
3304Please respect copyright.PENANAdqxv0Sfae1
Aku berdiri di samping, merasa seperti orang luar.
3304Please respect copyright.PENANAaNvHoHnZgr
“Ini Dio, Ayah. Pacarku,” kata Nayla, menarik tanganku.
3304Please respect copyright.PENANAfGhVGq59cS
Pak Surya menjabat tanganku erat. Senyumnya ramah, tapi matanya menilai. “Selamat datang, Dio. Semoga betah.”
3304Please respect copyright.PENANAIXVXD5ShrK
Raka juga menjabat tanganku, tapi lebih santai. “Wah, finally ketemu. Nayla sering cerita soal kamu. Katanya jago di tempat tidur,” godanya sambil tertawa.
3304Please respect copyright.PENANAaCx8aJQpz5
Nayla memukul lengan kakaknya. “Kak! Malu!”
3304Please respect copyright.PENANAJiozjH8bzb
Tapi pipinya memerah. Dan aku melihat Raka mengedipkan mata padanya.
3304Please respect copyright.PENANATc7YyHZSuf
Kami masuk. Rumah itu luas, interior modern minimalis dengan sentuhan kayu. Aroma kopi dan masakan tercium. Di ruang tamu ada sofa besar berbentuk L, TV besar, dan beberapa foto keluarga di dinding. Satu foto menangkap perhatianku: Nayla berusia sekitar tujuh belas, memakai bikini di tepi kolam, tertawa, sementara Raka memeluknya dari belakang dan Pak Surya berdiri di samping, tangan di bahu putrinya.
3304Please respect copyright.PENANABqJrpZxZxD
“Duduk dulu,” kata Pak Surya. “Nayla, bantu Ayah di dapur. Dio, Raka, ngobrol dulu.”
3304Please respect copyright.PENANAjUV4OsiRdO
Nayla mengangguk, tapi sebelum pergi ia berbisik di telingaku, “Nanti aku antar ke kamarku dulu ya. Mau ganti baju.”
3304Please respect copyright.PENANANdM2sD03OE
Ia pergi, pantatnya bergoyang pelan di dalam celana pendek itu. Aku menelan ludah.
3304Please respect copyright.PENANAYZlQZUgW4H
Raka duduk di seberangku, menyilangkan kaki. “Jadi, seberapa serius kamu sama adikku?”
3304Please respect copyright.PENANAnQdSJWICiX
“Sangat serius,” jawabku jujur.
3304Please respect copyright.PENANA5WWvOm6EGP
Raka tersenyum, tapi senyumnya agak gelap. “Bagus. Nayla itu… spesial. Dia manja. Suka dimanja. Dan di rumah ini, kami biasa manja-manjaan. Jangan kaget ya.”
3304Please respect copyright.PENANAQpxiVOERkU
Aku mengernyit. “Maksudnya?”
3304Please respect copyright.PENANA7NHRLKVnwB
“Nanti kamu lihat.” Raka berdiri, meraih dua botol bir dari kulkas mini di sudut ruangan. “Minum dulu. Biar santai.”
3304Please respect copyright.PENANAFdNavn6MHO
Kami minum. Obrolan ringan tentang kuliah, kerja, mobil. Tapi pikiranku terus ke Nayla. Beberapa menit kemudian ia kembali, sudah berganti baju. Kali ini memakai dress pendek warna cream, longgar di atas tapi ketat di pantat, potongan V di dada yang dalam. Tanpa bra. Aku bisa melihat jelas bentuk payudaranya yang bergoyang bebas setiap langkah. Putingnya sedikit menonjol di balik kain tipis.
3304Please respect copyright.PENANALUKNROCFyp
“Ayah masak steak,” katanya sambil duduk di sampingku, sangat dekat. Kakinya menempel ke kakiku. “Kamu suka kan?”
3304Please respect copyright.PENANAaYfryIO9mO
Aku mengangguk, tapi mataku tertuju ke dadanya. “Kamu nggak pakai…?”
3304Please respect copyright.PENANAC2dHl82tkI
Ia tersenyum nakal, berbisik, “Nggak. Biar enak. Nanti malam kamu yang buka.”
3304Please respect copyright.PENANA3NMVtxbxy8
Pak Surya keluar dari dapur membawa piring-piring. Ia duduk di sofa yang sama dengan kami, di sisi lain Nayla. Raka duduk di sofa L yang menyiku.
3304Please respect copyright.PENANASfQK58tm49
Makan siang berlangsung dengan percakapan yang aneh. Pak Surya bertanya banyak tentang hubunganku dengan Nayla. “Kalian sudah… intim?” tanyanya tiba-tiba, sambil memotong steak.
3304Please respect copyright.PENANAon1xADCMN7
Aku tersedak. Nayla hanya tertawa. “Ayah! Jangan tanya begitu.”
3304Please respect copyright.PENANAIupxHR2vQK
“Ayah cuma penasaran. Kamu dulu bilang pacar sebelumnya jelek di tempat tidur. Dio ini lebih bagus?”
3304Please respect copyright.PENANABatcZOMKK4
Nayla menoleh ke arahku, matanya berkilau. “Jauh lebih bagus, Yah. Kontolnya lebih besar, lebih tahan lama, dan lidahnya… jago banget.”
3304Please respect copyright.PENANAxPYM4T5uuE
Aku membeku. Raka tertawa terbahak. Pak Surya hanya tersenyum, seolah itu percakapan biasa. “Bagus. Ayah bangga kamu punya pacar yang bisa bikin kamu puas. Dulu ibumu juga suka cerita ke Ayah soal hal-hal begitu.”
3304Please respect copyright.PENANA6XhBjFvA1M
Suasana menjadi aneh. Tapi Nayla seolah tidak merasa apa-apa. Ia bahkan menyandarkan kepalanya ke bahu ayahnya sesaat, lalu ke bahuku.
3304Please respect copyright.PENANACi0GrDMjVJ
Setelah makan, Nayla berdiri. “Aku antar Dio ke kamarku dulu ya. Biar taruh barang.”
3304Please respect copyright.PENANAZQWrnjqj17
“Jangan lama-lama,” kata Raka sambil menyeringai. “Nanti sore kita renang bareng.”
3304Please respect copyright.PENANA9BcpLOkfTw
Kami naik tangga. Kamar Nayla di ujung koridor lantai dua. Besar, ber-AC, kasur queen size dengan sprei putih, jendela menghadap kolam renang. Saat pintu tertutup, Nayla langsung mendorongku ke dinding dan menciumku dalam-dalam.
3304Please respect copyright.PENANA85gnRxNAne
Lidahnya masuk ke mulutku, basah, lapar. Tangannya meraba dadaku, lalu turun ke selangkanganku yang sudah keras. “Mmm… kangen banget,” desahnya di sela ciuman. “Dari tadi basah. Lihat.”
3304Please respect copyright.PENANARTcIlrjN1G
Ia meraih tanganku dan memasukkannya ke dalam dress-nya. Tidak ada celana dalam. Jari-jariku langsung menyentuh bibir vagina yang sudah licin, bengkak, panas. Aku mengusap klitorisnya pelan. Ia menggelinjang.
3304Please respect copyright.PENANAlxuyJAxAlV
“Dio… pelan. Nanti aku desah kenceng,” bisiknya, tapi pinggulnya sudah menggesek jariku.
3304Please respect copyright.PENANAoZMmqQOmSw
Aku memutar tubuhnya, menekannya ke dinding, jari tengahku masuk perlahan ke dalam lubang basahnya. Vagina Nayla selalu sempit di awal, tapi cepat meregang. Aku bisa merasakan dinding dalamnya berdenyut. Ibu jariku memutar di klitorisnya yang sudah mengeras.
3304Please respect copyright.PENANAWtwikTwsfg
“Ahh… iya… gitu…” desahnya, kepala terlempar ke belakang, lehernya panjang dan putih terpapar. Aku menggigit lehernya pelan sambil menambah jari kedua.
3304Please respect copyright.PENANAxOpm1c850n
Payudaranya bergoyang di balik dress tipis. Aku menggigit putingnya lewat kain. Ia mendesah lebih kencang.
3304Please respect copyright.PENANAuVB84P0MEU
“Dio… stop dulu. Nanti basah banget. Aku mau ganti dulu.”
3304Please respect copyright.PENANAF1yfvcXp7N
Aku enggan melepas, tapi ia mendorong pelan. Tangannya meremas kontolku di luar celana. “Nanti malam. Aku janji. Aku mau kamu entot aku sampai aku nggak bisa jalan. Mau kamu cum di dalam, di wajah, di payudara. Mau kamu jilat aku sampai squirt ke mulutmu.”
3304Please respect copyright.PENANAR2afv4BZJ7
Aku mengerang. “Kamu gila.”
3304Please respect copyright.PENANACBT5VkUkCN
“Gila sama kamu.” Ia menciumku sekali lagi, lalu masuk ke kamar mandi dalam. “Tunggu di luar ya. Aku mandi dulu.”
3304Please respect copyright.PENANA0sgkzzVSVo
Aku duduk di tepi kasur, napas masih terengah, jari masih basah oleh cairan Nayla. Aroma manis vanila dan musk basahnya menempel di jariku. Aku menghisap jari itu, memejamkan mata.
3304Please respect copyright.PENANAogbK6671HA
Beberapa menit kemudian ia keluar, hanya memakai handuk kecil yang melilit dada. Rambut basah menempel di kulit. Handuk itu pendek sekali, hanya menutupi sampai sepertiga paha. Setiap langkah, celah di depan handuk terbuka sedikit, memperlihatkan sekelumit bulu pubis yang ia cukur rapi menjadi garis tipis.
3304Please respect copyright.PENANAR4B4FmstGy
“Lihat,” katanya sambil berdiri di depanku. Ia membuka handuk sedikit. Payudara sepasang itu jatuh bebas, berat, puting coklat muda sudah mengeras karena dingin AC. Aku meraih, menimbang, memijat. Ia mendesah.
3304Please respect copyright.PENANAn39DwrisFp
“Ayah bilang payudaraku mirip ibuku dulu,” bisiknya tiba-tiba. “Kak Raka juga bilang gitu. Kadang mereka… suka usap-usap. Cuma guyonan, kok.”
3304Please respect copyright.PENANA9fDonQ935O
Aku menatapnya. “Guyonan?”
3304Please respect copyright.PENANAEp193Xw0Gn
Nayla mengangkat bahu, seolah itu biasa. “Keluarga kami open. Nanti kamu biasa juga.”
3304Please respect copyright.PENANAplFtqifSHN
Ia berpakaian lagi: bikini hitam string. Atasan hanya dua segitiga kecil yang menutupi puting, tali tipis di leher dan punggung. Bawahan string yang hilang di celah bokong. Pantatnya hampir telanjang. “Ayo, renang. Ayah dan Kak udah di kolam.”
3304Please respect copyright.PENANAIQ2XZy9aak
Kami turun. Di kolam, Pak Surya sudah berenang, tubuhnya basah mengkilap. Raka duduk di pinggir, kaki dalam air, memegang bir.
3304Please respect copyright.PENANAaDQL3WSlUI
Saat Nayla melompat ke kolam, air memercik. Bikini hitam basah menempel sempurna ke tubuhnya. Payudara mengambang sedikit, puting menonjol jelas. String di pantatnya naik, menyembunyikan hampir tidak ada.
3304Please respect copyright.PENANA932bxwVWog
Raka bersiul. “Gila, adik. Semakin montok.”
3304Please respect copyright.PENANAMGsY4Zltai
Nayla berenang mendekati kakaknya, menempelkan tubuh basahnya ke dada Raka. “Kak jahat. Bilang gitu di depan pacar.”
3304Please respect copyright.PENANAzCSmH6ud8f
Raka tertawa, tangan turun ke pinggang adiknya di dalam air. “Pacar juga lihat sendiri kan. Dio, setuju nggak adikku ini seksi banget?”
3304Please respect copyright.PENANAvlTWmqTY0X
Aku hanya tersenyum kaku. “Setuju.”
3304Please respect copyright.PENANAZI0XUvrTHd
Pak Surya berenang mendekat. “Nayla, sini. Ayah ajarin gaya baru.”
3304Please respect copyright.PENANAFy7deIWPvW
Nayla melepaskan diri dari Raka dan berenang ke ayahnya. Pak Surya memegang pinggang putrinya dari belakang, tubuh mereka menempel. Tangan ayahnya di perut Nayla, hampir menyentuh tepi bikini. Mereka berenang pelan, seolah ayah mengajari anak berenang, tapi tangan itu tidak pernah lepas. Sesekali jari Pak Surya naik sedikit, menyentuh bawah payudara.
3304Please respect copyright.PENANAXNNtrIw2mA
Aku duduk di pinggir kolam, bir di tangan, tapi tenggorokan kering. Raka mendekatiku.
3304Please respect copyright.PENANAQSM5mZOF48
“Santai aja, bro,” katanya pelan. “Di rumah ini, sentuhan biasa. Kami besar bareng. Nayla manja. Ayah juga masih jomblo sejak ibu meninggal lima tahun lalu. Jadi… ya, saling menghibur.”
3304Please respect copyright.PENANAyk7cbK3ky7
“Menghibur?”
3304Please respect copyright.PENANASbDZoOYJ5g
Raka hanya tersenyum, lalu meloncat ke air.
3304Please respect copyright.PENANAzjiD9sEPBb
Sore itu terasa panjang. Kami berenang, makan buah, minum bir. Nayla terus menempel ke ayah atau kakaknya lebih sering daripada ke aku. Saat ia keluar dari kolam, air menetes dari ujung rambut ke payudara, lalu ke perut rata, lalu ke celah paha. Bikini basah hampir transparan. Aku bisa melihat jelas warna puting dan bahkan sedikit garis bibir vagina di balik kain tipis.
3304Please respect copyright.PENANA1FQT381isr
Malam tiba. Makan malam lebih santai. Setelah itu, Nayla mengajakku ke kamar.
3304Please respect copyright.PENANAwdLJbOoq0G
Pintu tertutup. Lampu dimatikan, hanya lampu tidur kuning. Nayla melepas bikini di depanku. Tubuhnya basah, mengkilap. Payudara bergoyang bebas. Ia naik ke kasur, berlutut, lalu merangkak mendekatiku.
3304Please respect copyright.PENANA45H3KVaiXM
“Sekarang… giliranmu,” bisiknya.
3304Please respect copyright.PENANA1w9CGKGlfl
Kami bercumbu lama. Aku menghisap payudaranya, memutar lidah di puting yang sudah mengeras. Ia mendesah, memegang kepalaku. Aku turun, menjilat perutnya, lalu membuka paha indahnya. Vagina basah mengkilap di bawah lampu. Aku menjilat pelan, dari bawah ke atas, menghisap klitorisnya. Nayla menggelinjang, tangan mencengkeram seprei.
3304Please respect copyright.PENANAYZShUBLrUL
“Ahh… Dio… iya… jilat lebih dalam…”
3304Please respect copyright.PENANAfg1pfu8Gbs
Aku memasukkan lidah ke dalam lubangnya, merasakan rasa manis asinnya. Jari ikut masuk, mencari titik G. Ia mulai basah lebih banyak, cairan mengalir ke dagu ku.
3304Please respect copyright.PENANAE7wVerxgVx
Tiba-tiba ada ketukan di pintu.
3304Please respect copyright.PENANAVvdLt5ZkkT
“Nayla? Ayah bawa susu hangat.”
3304Please respect copyright.PENANAmEuNlu3XKo
Nayla membeku. Aku juga. Ia buru-buru menarik selimut menutupi tubuhnya. “Masuk, Yah…”
3304Please respect copyright.PENANAKP4YYuiZvx
Pintu dibuka. Pak Surya masuk dengan nampan. Ia melihat kami di kasur, selimut hanya menutupi setengah, bahu Nayla telanjang, rambut berantakan. Senyumnya tidak berubah.
3304Please respect copyright.PENANAhhxiyo9A0s
“Maaf ganggu. Tapi biasanya sebelum tidur Nayla minum susu. Biar tidur nyenyak.”
3304Please respect copyright.PENANAqqucqZ3je8
Ia meletakkan nampan di nakas, lalu duduk di tepi kasur, di sisi Nayla. Tangan besarnya mengusap rambut putrinya. “Kamu capek ya? Wajahmu merah.”
3304Please respect copyright.PENANAEjT1ijrpUq
Nayla tersenyum malu. “Baru… main sama Dio.”
3304Please respect copyright.PENANAPU00hwxuxO
Pak Surya tertawa pelan. “Bagus. Ayah dulu juga gitu sama ibumu.” Tangannya turun ke bahu Nayla, mengusap pelan kulit basahnya. “Dingin ya? Pakai piyama.”
3304Please respect copyright.PENANAGDR0rbbVLB
“Nanti, Yah. Habis minum dulu.”
3304Please respect copyright.PENANASEWHXssKYU
Pak Surya menyuapi putrinya minum susu. Gerakannya lembut, seperti ayah yang menyayangi anak. Tapi matanya sesekali melirik ke dada Nayla yang hanya tertutup selimut tipis. Saat Nayla menunduk, selimut turun sedikit, memperlihatkan belahan payudara dalam.
3304Please respect copyright.PENANAHdZP4HLoRQ
“Ayah… nanti kamu tidur di mana?” tanya Nayla tiba-tiba.
3304Please respect copyright.PENANApMbX7mjDX9
“Di kamar Ayah, Nak. Seperti biasa. Tapi kalau kamu takut, Ayah bisa tidur di sofa sini.”
3304Please respect copyright.PENANAVAQc4zhp5N
Nayla menggeleng. “Nggak usah. Ada Dio.”
3304Please respect copyright.PENANASsvMZza4oS
Pak Surya mengangguk, lalu berdiri. Tapi sebelum pergi, ia membungkuk dan mencium kening putrinya. Bibirnya sempat turun ke pipi, lalu ke sudut bibir. Ciuman itu agak lama. “Selamat malam, sayang. Jangan terlalu keras nanti. Dindingnya nggak setebal itu.”
3304Please respect copyright.PENANApXgjWSJKdC
Ia keluar, menutup pintu.
3304Please respect copyright.PENANAzmqGnsA2HJ
Nayla menoleh ke arahku, mata basah hasrat. “Maaf. Ayah memang gitu. Dekat banget.”
3304Please respect copyright.PENANAQyXedNKXOB
Aku tidak menjawab. Di dalam celana, kontolku masih keras. Tapi ada rasa aneh di dada.
3304Please respect copyright.PENANAwREEemNZkD
Kami melanjutkan. Aku mengentot Nayla pelan di posisi missionary, memandang matanya, mencium bibirnya. Payudaranya bergoyang setiap hentakan. Ia mendesah di telingaku, “Lebih kencang… Dio… entot aku kayak kamu benci aku…”
3304Please respect copyright.PENANAv7JgH5rB8w
Aku menurut. Kasur berderit. Desahan Nayla semakin kencang. Aku merasakan vaginanya meremas, basah, panas. Ia orgasme pertama kali dengan tubuh menggelinjang, cairan membasahi selangkanganku.
3304Please respect copyright.PENANAmxTzHnemaU
Kami ganti posisi. Nayla di atas, cowgirl. Payudaranya bergoyang liar di depan wajahku. Aku menghisapnya bergantian sambil memegang bokongnya, menggerakkan pinggulnya ke atas-bawah. Suara basah “plok-plok” memenuhi kamar. Ia orgasme lagi, kali ini lebih kencang, tubuhnya kejang, vagina berdenyut hebat.
3304Please respect copyright.PENANAWwTDPtSNwX
Aku hampir cum saat tiba-tiba pintu diketuk lagi.
3304Please respect copyright.PENANADquYgqUZh4
“Nay? Kak bawa es krim. Mau?”
3304Please respect copyright.PENANA8EU32tkbVR
Nayla, masih di atasku, kontolku masih di dalam, hanya tertawa. “Masuk aja, Kak!”
3304Please respect copyright.PENANA91JXpYbcHF
Pintu dibuka. Raka masuk dengan dua mangkuk es krim. Ia melihat adiknya telanjang total di atas pacarnya, payudara basah keringat, puting merah, vagina masih menelan kontol orang lain.
3304Please respect copyright.PENANA1QBBoTyZHy
Raka tidak kaget. Ia hanya menyeringai, duduk di kursi di pojok kamar. “Lanjut aja. Nggak usah malu. Aku sering dengar kamu desah dulu-dulu.”
3304Please respect copyright.PENANArbD8Otkf38
Nayla, masih terengah, menoleh. “Kak jahat. Nggak ketuk dulu.”
3304Please respect copyright.PENANAVXrQZ2BDWG
“Udah ketuk.” Raka menyodorkan mangkuk. “Mau?”
3304Please respect copyright.PENANAKA4TFbMVYA
Nayla meraih, masih dengan kontolku di dalam, lalu menyuap es krim sambil pinggulnya bergerak pelan naik-turun. “Dingin… enak.”
3304Please respect copyright.PENANAhTgRy237yb
Aku membeku di bawahnya. Raka menatap adiknya dengan mata yang gelap. “Kamu semakin jago naik, Nay. Dulu kaku.”
3304Please respect copyright.PENANAGNffMTdowC
Nayla tertawa, es krim menetes ke payudaranya. “Kak ajarin dulu kan.”
3304Please respect copyright.PENANAP4I62U6jqm
Aku menatapnya. “Ajarin?”
3304Please respect copyright.PENANAVwdE3jOR7K
Nayla menggigit bibir, matanya menatapku seolah baru sadar. “Maksudnya… dulu Kak ajarin aku nari. Goyang-goyang gitu.”
3304Please respect copyright.PENANA70CflWARWD
Raka tertawa. “Iya. Goyang-goyang.”
3304Please respect copyright.PENANA0wZZKjrLmz
Ia berdiri, mendekat ke kasur. “Aku boleh minta ciuman selamat malam nggak? Biasanya gitu.”
3304Please respect copyright.PENANAVKWPs5ch50
Nayla mengangguk. Raka membungkuk, mencium bibir adiknya. Bukan ciuman saudara. Lidah terlihat. Tangan Raka memegang dagu Nayla, memperdalam ciuman. Nayla membalas, pinggulnya masih bergerak di atas kontolku.
3304Please respect copyright.PENANAYpkHKzVROq
Aku merasa seperti hantu. Kontolku masih keras di dalam, tapi otakku berputar.
3304Please respect copyright.PENANAvarU5y1skI
Raka lepas ciuman, bibir basah. “Enak. Nanti malam Kak tidur di ruang TV aja. Kalau kalian berisik, Kak dengar.”
3304Please respect copyright.PENANA5MispFMO0Y
Ia keluar, menutup pintu.
3304Please respect copyright.PENANA0SSGWmbgAB
Nayla menatapku, napas masih terengah. “Maaf… mereka emang gitu. Open banget. Kamu marah?”
3304Please respect copyright.PENANAKxIXoKDfOv
Aku menggeleng pelan. “Nggak. Cuma… kaget.”
3304Please respect copyright.PENANAo7OWxPZAWk
Ia tersenyum, lalu mulai bergerak lagi di atasku, lebih kencang. “Lanjut. Aku mau kamu cum di dalam. Mau merasakan hangatmu.”
3304Please respect copyright.PENANAuwomI02lrC
Kami lanjut sampai aku cum, memompa semen ke dalam rahimnya. Nayla orgasme ketiga kali, desahannya tertahan di bantal.
3304Please respect copyright.PENANAk49J3y0Fqv
Setelah itu kami berbaring. Nayla di pelukanku, kepala di dada. “Besok kita ke pasar malam ya? Atau ke pantai. Ayah dan Kak ikut juga. Seru.”
3304Please respect copyright.PENANA3seSq1Uu0J
Aku mengangguk, tapi pikiranku liar.
3304Please respect copyright.PENANAwrJCM7RLTm
Malam semakin larut. Nayla tertidur dulu, napasnya teratur, tubuh telanjang menempelku. Aku tidak bisa tidur. Jam menunjukkan pukul satu dini hari. Aku bangkit pelan, memakai celana pendek, keluar ke koridor untuk ke toilet.
3304Please respect copyright.PENANA4KrmGArQQT
Di tangga, aku mendengar suara. Suara desahan pelan. Suara basah. Suara pria bergumam.
3304Please respect copyright.PENANAjeg39xpzUe
Aku diam. Suara itu dari ruang keluarga di lantai bawah. Lampu TV menyala redup, pintu setengah terbuka.
3304Please respect copyright.PENANAerRmXNCGWM
Aku mendekat pelan, jantung berdegup kencang.
3304Please respect copyright.PENANAw03M5a0dyW
Melalui celah pintu, aku melihat.
3304Please respect copyright.PENANA4G6vn5cIOf
Nayla… tidak, itu Nayla. Tapi ia sudah bangun? Tidak. Ia masih di kamar. Tunggu…
3304Please respect copyright.PENANAzzGxJyqnpb
Tidak. Itu Nayla. Rambutnya, tubuhnya. Ia berlutut di lantai berkarpet, di antara kaki Pak Surya yang duduk di sofa. Kepala Nayla naik-turun di pangkuan ayahnya. Suara hisapan basah terdengar jelas. Pak Surya memegang rambut putrinya, mengarahkan.
3304Please respect copyright.PENANAeBaiqk8lBP
Di samping, Raka berdiri, kontolnya keluar, digenggam tangan Nayla yang lain, diurut pelan.
3304Please respect copyright.PENANANOgUkdLbAz
“Pelan, sayang… jilat yang dalam… seperti yang Kak ajarin dulu…” bisik Raka.
3304Please respect copyright.PENANAqtGKUMiSqf
Nayla melepaskan kontol ayahnya sejenak, saliva menetes dari bibirnya ke puting yang sudah basah. “Enak, Yah? Putrimu jago kan?”
3304Please respect copyright.PENANA9y7I15O6Iy
Pak Surya mengerang, tangan turun meremas payudara putrinya yang menggantung bebas. “Jago banget… lebih jago dari ibumu dulu…”
3304Please respect copyright.PENANABYDA48jJtS
Aku membeku di balik pintu. Dunia seolah berhenti. Pacarku… pacarku yang barusan aku entot… sekarang sedang mengulum kontol ayahnya sendiri, sambil mengocok kontol kakaknya.
3304Please respect copyright.PENANA4Lp1XsZC7Z
Nayla menoleh sedikit ke arah pintu, seolah merasakan ada yang mengawasi. Matanya bertemu dengan mataku di kegelapan.
3304Please respect copyright.PENANA7wMVtk8kGq
Ia tidak kaget.
3304Please respect copyright.PENANAGaXPasPEZA
Ia tersenyum.
3304Please respect copyright.PENANAez25YgDUr9
Senyum kecil, basah, penuh dosa.
3304Please respect copyright.PENANAZrCXPAuYn8
Lalu ia membuka mulut lebih lebar, menelan kontol ayahnya lebih dalam, sambil matanya masih menatapku.
3304Please respect copyright.PENANAdnGLAKGpgd
Aku tidak bisa bergerak.
3304Please respect copyright.PENANAxUGDZYKQRl
Kaki seolah membeku di atas ubin dingin koridor. Napas macet di tenggorokan. Jantung berdegup begitu kencang hingga aku yakin mereka bisa mendengarnya dari dalam ruang keluarga yang redup itu. Cahaya biru keunguan dari TV yang menyala tanpa suara memantul ke kulit mereka, membuat bayangan-bayangan bergoyang di dinding.
3304Please respect copyright.PENANACUsPZHtcKe
Di pangkuan Pak Surya, kontol ayahnya sendiri masuk-keluar dari mulut basah putrinya. Bibir tebal Nayla meregang sempurna mengelilingi batang tebal yang mengkilap. Setiap kali ia menelan sampai pangkal, hidungnya menempel di bulu pubis ayahnya, dan aku bisa mendengar suara basah “gluk-gluk” yang dalam. Tangan kiri Nayla memegang pangkal kontol itu, sementara tangan kanannya mengocok kontol Raka yang berdiri di samping, urat-uratnya menonjol, ujungnya sudah basah serta menetes ke punggung tangan adiknya.
3304Please respect copyright.PENANAtlmoPpe9ay
Dan matanya… matanya masih menatapku.
3304Please respect copyright.PENANAAB3CYwAWWA
Senyum tipis di bibir yang penuh saliva itu tidak hilang. Ia tidak kaget. Tidak panik. Bahkan tidak mencoba menutupi. Senyum itu seperti mengatakan: *Aku tahu kamu di situ. Dan aku suka kamu melihat.*
3304Please respect copyright.PENANAZoeKJg1Zxz
Darah di kepalaku berdesir kencang. Ada rasa mual di perut, rasa hancur yang menusuk dada, tapi di saat yang sama kontolku yang barusan kosong di dalam tubuhnya kini sudah mengeras lagi, menekan kain celana pendek dengan sakit. Aku benci diriku sendiri. Aku benci betapa basahnya celana dalamnya yang ia tinggalkan di kasur barusan. Aku benci betapa indahnya tubuh pacarku saat digunain oleh ayah dan kakaknya sendiri.
3304Please respect copyright.PENANAV8LwvRqPrf
Nayla melepaskan kontol ayahnya dengan bunyi “plop” basah. Saliva panjang menetes dari bibir bawahnya ke dagu, lalu jatuh ke payudara kanannya, mengalir pelan di lekuk putih itu. Ia menjilat bibir, masih menatapku lewat celah pintu.
3304Please respect copyright.PENANAv2TwAOPAWl
“Enak banget, Yah…” suaranya serak, basah, penuh hasrat. “Kontol Ayah lebih tebal dari Dio.”
3304Please respect copyright.PENANAC0EO7DEU4f
Pak Surya mengerang pelan, tangan besarnya yang penuh urat masih memegang rambut putrinya, mengusap pelipisnya dengan lembut seolah menyayangi. “Putri Ayah pintar sekali. Dari dulu jago banget ngenyot. Lebih jago dari ibumu waktu masih hidup.”
3304Please respect copyright.PENANAva8qwmJvkV
Raka tertawa rendah di samping, pinggulnya mendorong pelan ke genggaman tangan Nayla. “Adik emang bakat. Dulu waktu pertama kali Kak ajarin, langsung bisa telan sampai tenggorokan. Ingat nggak, Nay? Di kamar mandi lantai dua, malam pertama setelah ibu meninggal.”
3304Please respect copyright.PENANAZjIBOKbEhO
Nayla mengangguk, matanya masih tertuju padaku. Ia membuka mulut lagi, kali ini menjulurkan lidah panjang, menjilat dari pangkal sampai ujung kontol ayahnya dengan lambat, memutar-mutar di lubang kencing yang sudah basah. “Aku ingat, Kak. Waktu itu Kak pegang kepalaku dari belakang, bilang ‘isap pelan, adik. Biar Kak nggak sedih lagi’. Terus Ayah masuk, dan… yah, mulai deh.”
3304Please respect copyright.PENANACnYigudADv
Aku menelan ludah. Tenggorokan kering. Jadi begini ceritanya. Lima tahun. Mereka sudah melakukan ini selama lima tahun. Dan pacarku… pacarku yang selalu bilang “keluargaku agak aneh”… ternyata sudah lama jadi mainan ayah dan kakaknya.
3304Please respect copyright.PENANA7nnUxjszNN
Nayla beralih. Ia memutar tubuh sedikit, masih berlutut, lalu mengulum kontol Raka. Kepala bergerak maju-mundur lebih cepat. Suara hisapan basah semakin kencang. Pipinya cekung. Air mata kecil keluar di ujung matanya karena terlalu dalam, tapi ia tidak berhenti. Tangan kirinya kembali ke kontol ayahnya, mengocok pelan sambil ibu jari memutar di ujung basah.
3304Please respect copyright.PENANANhT6LV4VTo
Pak Surya merendahkan tubuh, tangannya meraih payudara putrinya dari belakang. Ia meremas keduanya bergantian, memilin puting yang sudah memanjang, menarik pelan sampai Nayla mendesah di sekeliling kontol kakaknya. “Payudaramu semakin berat, Nak. Semakin kenyal. Dulu kecil, sekarang… penuh banget. Mau Ayah hisap?”
3304Please respect copyright.PENANA4o7EuH5yrl
Nayla melepaskan kontol Raka sebentar, napas terengah. “Mau, Yah. Hisap yang kencang. Kayak biasanya.”
3304Please respect copyright.PENANADFwOi0FXj6
Pak Surya berlutut di lantai di belakang putrinya. Ia merangkul tubuh Nayla dari belakang, dada bidangnya menempel di punggung basah, lalu kedua tangannya mengangkat payudara montok itu, menawarkannya seolah buah matang. Mulutnya turun ke puting kiri, menghisap kuat. Suara “mmmph” basah terdengar. Lidahnya memutar, giginya menggigit pelan, lalu menghisap lagi lebih dalam.
3304Please respect copyright.PENANATeXXnT7EJL
Nayla melengkungkan punggung, bokongnya yang bulat kenyal terdorong ke belakang, menempel ke selangkangan ayahnya yang masih berpakaian celana pendek. “Ahh… Yah… iya… hisap lebih kencang… putingku sensitif banget malam ini…”
3304Please respect copyright.PENANATN3FP9mm6H
Raka tidak mau kalah. Ia berlutut di depan adiknya, membuka paha Nayla lebih lebar, lalu menunduk. Lidahnya langsung menempel di bibir vagina yang sudah mengkilap basah. Aku bisa melihat dari celah pintu bagaimana lidah kakaknya itu menjilat panjang dari lubang sampai klitoris, lalu menghisap bibir bawah yang bengkak.
3304Please respect copyright.PENANAAuRTrxsmfc
“Memek adik basah banget,” gumam Raka di sela jilatan. “Bau Dio masih nempel. Tapi lebih enak bau kamu sendiri. Manis. Asin. Panas.”
3304Please respect copyright.PENANAC6TpKBfdi0
Nayla mendesah panjang, kepalanya terlempar ke belakang menempel di bahu ayahnya yang sedang menghisap payudaranya. “Kak… jilat klitorisku… putar… iya gitu… ahh…”
3304Please respect copyright.PENANAbFT7h8PNqt
Aku memegangi pintu dengan jari yang gemetar. Kontolku sudah menegang penuh di dalam celana, ujungnya basah. Aku ingin masuk. Aku ingin berteriak. Aku ingin menarik Nayla dari pelukan mereka. Tapi kakiku tidak mau bergerak. Mataku tidak mau lepas. Setiap gerakan lidah Raka di memek pacarku, setiap hisapan kuat Pak Surya di putingnya, setiap desahan basah yang keluar dari bibir yang barusan aku cium… semuanya membuat otakku berantakan.
3304Please respect copyright.PENANANhgFB9kGUp
Nayla orgasme pertama kali di tangan mereka. Tubuhnya kejang. Paha mulusnya bergetar hebat. Suara desahannya pecah jadi jeritan kecil tertahan. Cairan bening menyembur sedikit ke lidah Raka, membasahi dagu kakaknya. Raka tidak berhenti. Ia terus menjilat, menghisap, memasukkan dua jari ke dalam lubang basah yang masih berdenyut, menggaruk titik di dalam dengan gerakan cepat.
3304Please respect copyright.PENANAB68mvXYI1W
“Lagi, Kak… bikin adik squirt lagi…” pinta Nayla dengan suara pecah.
3304Please respect copyright.PENANAngrwaPUU4m
Pak Surya melepaskan puting yang sudah merah dan bengkak, saliva mengkilap di sekitarnya. Ia mencium leher putrinya dari belakang, gigitan kecil di cuping telinga. “Cantik banget kamu pas squirt, Nak. Dari dulu. Waktu pertama kali Ayah bikin kamu squirt di sofa ini, kamu masih delapan belas. Menangis sambil bilang ‘Ayah jahat, tapi enak’.”
3304Please respect copyright.PENANAaOwgA1fAVP
Nayla tertawa kecil, basah, penuh dosa. “Aku masih bilang gitu sekarang, Yah. Ayah jahat. Kak jahat. Tapi… aku nggak mau berhenti.”
3304Please respect copyright.PENANALG37qYvRL5
Ia menoleh lagi ke arah pintu. Matanya mencari mataku di kegelapan. Senyum itu kembali. Lebih lebar. Lebih basah.
3304Please respect copyright.PENANAoeYkZW3p8C
“Dio…” bisiknya, suaranya jelas meski pelan. “Kamu di situ kan? Aku bisa cium baumu. Masuk. Jangan cuma nonton dari belakang pintu.”
3304Please respect copyright.PENANAATZDghHVZq
Aku terlonjak. Darah seolah mengalir mundur.
3304Please respect copyright.PENANAoqyDifLNGe
Pak Surya dan Raka ikut menoleh. Tidak ada kaget di wajah mereka. Hanya senyum yang sama… senyum seolah mereka sudah menunggu.
3304Please respect copyright.PENANA9vpMe5ZofG
“Masuk aja, Dio,” kata Pak Surya tenang, suaranya masih dalam, masih hangat seperti ayah yang ramah. Tangannya masih meremas payudara putrinya. “Pintunya dibuka. Nonton dari dekat lebih enak.”
3304Please respect copyright.PENANAahptRVrtpe
Raka mengangkat wajah basah dari selangkangan adiknya, bibir mengkilap cairan Nayla. “Iya, bro. Udah lama nunggu kamu sadar. Nayla bilang kamu bakalan ketahuan malam ini. Dia sengaja biarin pintu kamar nggak dikunci barusan.”
3304Please respect copyright.PENANA28r2L4Xw4z
Aku membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar.
3304Please respect copyright.PENANAHlFqDLKNJx
Nayla merangkak pelan mendekati pintu, payudaranya bergoyang berat di bawahnya, puting yang basah menggores karpet. Ia membuka pintu lebih lebar dengan satu tangan, lalu menatapku dari bawah, mata basah, bibir bengkak.
3304Please respect copyright.PENANA8OfsAwqv6P
“Masuk, sayang,” bisiknya. “Aku nggak bohong. Aku sayang kamu. Tapi ini… ini bagian dari aku juga. Bagian yang cuma mereka yang bisa bikin. Lihat dulu. Kalau kamu benci, pergi. Tapi kalau… kalau kontolmu masih keras kayak gitu…” matanya turun ke selangkanganku yang menonjol jelas, “…berarti kamu juga mau nonton, kan?”
3304Please respect copyright.PENANAfupVIVhcEt
Aku melangkah masuk. Seolah tubuh bergerak sendiri. Pintu tertutup di belakangku dengan bunyi pelan.
3304Please respect copyright.PENANABmQcrrD1jm
Ruang keluarga terasa lebih panas. Aroma seks kental: aroma vagina basah Nayla, aroma precum ayah dan kakaknya, aroma keringat, aroma parfum vanila yang sudah bercampur dengan bau tubuh kotor.
3304Please respect copyright.PENANARgdobTWN4i
Nayla berlutut lagi di depanku, tangan meraih pinggang celana pendekku, menurunkan pelan. Kontolku melompat keluar, keras, urat menonjol, ujungnya basah. Ia menatapnya, lalu menatap mataku.
3304Please respect copyright.PENANAQHrhhmjFkp
“Masih besar,” gumamnya. “Masih enak. Tapi sekarang… kamu cuma nonton dulu. Biar aku kasih liat gimana ayah dan kakakku ngenyot dan ngewe putri mereka.”
3304Please respect copyright.PENANA5XN29k13SB
Ia berbalik, merangkak kembali ke antara kedua pria itu.
3304Please respect copyright.PENANAiufl5SPMuS
Pak Surya duduk kembali di sofa, kaki terbuka. Nayla naik ke pangkuannya, memunggungi ayahnya, lalu menurunkan tubuhnya perlahan. Kontol tebal ayahnya menggesek bibir vagina basahnya dulu, naik-turun di celah, basah melumuri batang.
3304Please respect copyright.PENANAVczfQifAFE
“Pelan, Nak…” gumam Pak Surya, tangan memegang pinggang ramping putrinya. “Masukin pelan. Biar Dio liat gimana memek kamu meregang buat Ayah.”
3304Please respect copyright.PENANAwuCLU9h8Xt
Nayla menunduk, menatap ke bawah, lalu ke arahku. Matanya tidak lepas dari mataku saat ia menurunkan pinggul. Kepala kontol ayahnya menekan lubang, lalu masuk pelan. Bibir vagina meregang lebar, merah muda, basah, menelan sentimeter demi sentimeter.
3304Please respect copyright.PENANAhMjxUUsvHS
“Ahhh… Yah… tebal banget…” desahnya panjang. “Lebih tebal dari Dio… penuh… ahh…”
3304Please respect copyright.PENANAVi8xTmOVE0
Ia terus turun sampai pangkal. Pantat kenyalnya menempel di paha ayahnya. Payudara bergoyang di depan. Ia mulai bergerak naik-turun pelan, setiap kali naik, batang basah mengkilap terlihat, setiap kali turun, suara “plok” basah terdengar.
3304Please respect copyright.PENANAb8RbyRtq32
Raka berdiri di samping, mengocok kontolnya sendiri sambil menonton. “Goyang lebih kencang, adik. Biar Dio liat payudaramu bergoyang. Cantik banget.”
3304Please respect copyright.PENANAjzvxi525fg
Nayla menurut. Pinggulnya bergerak lebih cepat. Payudara sepasang itu bergoyang liar ke atas-bawah, ke kiri-kanan, puting memanjang ikut bergetar. Suara basah semakin kencang. Desahannya pecah-pecah.
3304Please respect copyright.PENANAPsNoEhLWyD
“Dio… liat… liat memek aku dimakan ayahku sendiri…” bisiknya sambil menatapku, mata setengah terpejam karena enak. “Basah banget… licin… ahh… Yah… entot lebih dalam…”
3304Please respect copyright.PENANAupAT7U8Sei
Pak Surya memegang pinggang putrinya lebih kuat, lalu menghentak dari bawah. Bunyi kulit bertemu kulit memenuhi ruangan. “Putri Ayah enak banget. Memeknya masih sempit meski udah sering dipakai. Dio, kamu beruntung bisa ngewe ini setiap hari. Tapi malam ini… giliran Ayah dan kakaknya.”
3304Please respect copyright.PENANAPM5KqUGZqC
Aku berdiri mematung, kontol di tangan, mengocok pelan tanpa sadar. Aku benci. Aku benci betapa basahnya pacarku. Aku benci betapa indahnya wajahnya saat diisi kontol ayahnya. Aku benci betapa kerasnya kontolku sendiri.
3304Please respect copyright.PENANAndHWRGuKHW
Kelanjutannya ada link di bawah ini


