Rumah di Jalan Kenanga Nomor 14 itu berdiri tenang di tengah gang sempit pinggiran Kudus. Dua lantai, cat putih pudar, pagar besi hitam yang sudah agak berkarat di beberapa bagian. Di dalamnya tinggal empat orang yang darahnya saling terhubung, namun hati dan hasrat mereka perlahan-lahan mulai menjalin jalinan yang tak seharusnya.
171Please respect copyright.PENANAHncNDIeSNU
Rangga, 28 tahun, baru tiga tahun menikah dengan Dewi, 25 tahun. Mereka seharusnya sudah punya rumah sendiri. Tapi gaji Rangga sebagai staf administrasi di sebuah pabrik tekstil swasta tak cukup untuk cicilan rumah di kota yang semakin mahal. Orang tua Rangga—Pak Harjo, 55 tahun, pensiunan kepala bagian di kantor pemerintahan daerah, dan Bu Rini, 52 tahun—menawarkan mereka tinggal bersama. “Rumah ini besar, kosong kalau cuma kami berdua,” kata Pak Harjo saat itu dengan senyum lebar. “Lagian, Dewi bisa bantu Ibu masak dan urus rumah. Anggap saja ini saling bantu keluarga.”
171Please respect copyright.PENANAMgFnrPgTxc
Mereka pindah enam bulan lalu. Awalnya terasa nyaman. Dewi memang rajin. Setiap pagi ia bangun pukul lima, menyiapkan sarapan untuk keempatnya sebelum Rangga berangkat kerja jam setengah tujuh. Siang hari ia mengajar les privat di rumah—dua anak SD dan satu anak SMP—di ruang tamu yang ia ubah menjadi sudut belajar kecil. Sore harinya ia membantu Bu Rini di dapur atau membersihkan rumah. Malamnya, setelah Rangga pulang, keluarga kecil itu makan bersama di meja kayu panjang yang sudah usang.
171Please respect copyright.PENANAfVFLFQGL9Q
Tapi ada sesuatu yang perlahan berubah sejak bulan ketiga.
171Please respect copyright.PENANAgyC8p2OxR2
Dewi memang wanita yang membuat mata pria sulit berpaling. Tubuhnya seperti patung yang hidup. Payudaranya montok, berukuran 36D, padat dan berat, dengan puting cokelat muda yang sensitif. Saat ia memakai daster katun tipis tanpa bra di rumah, bentuknya yang bulat sempurna terlihat jelas, terutama ketika ia membungkuk untuk mengambil sesuatu dari lemari bawah. Pinggangnya kecil, mengalir mulus ke pinggul lebar dan bokong yang bulat, kenyal, seperti dua buah mangga matang yang menggoyang pelan setiap kali ia berjalan. Kakinya panjang, mulus, tanpa varises sedikit pun, kulitnya putih bersih karena ia rajin mengoleskan lotion setiap malam. Vaginanya rapat, bibir luarnya halus, selalu hangat dan mudah basah saat dirangsang—sesuatu yang sangat disukai Rangga.
171Please respect copyright.PENANAz211Mqyxst
Pak Harjo, meski sudah 55 tahun, masih terlihat jauh lebih muda. Tubuhnya tinggi besar, bahu lebar, dada bidang, lengan berotot karena ia masih rutin angkat beban ringan di garasi setiap pagi. Wajahnya tegas, rahang persegi, mata hitam tajam yang kadang membuat orang merasa sedang diperiksa. Rambutnya hitam dengan sedikit uban di pelipis, kumis tipis yang ia rawat rapi. Ia sering memakai kaos oblong atau kemeja lengan pendek yang ketat di dada, memperlihatkan otot yang masih kencang.
171Please respect copyright.PENANAVASCetn0ku
Sejak Dewi tinggal di rumah itu, Pak Harjo mulai lebih sering berada di dapur. “Biar Bapak bantu angkat ini,” katanya sambil mengambil panci berat dari tangan menantunya. Atau, “Dewi, kamu capek ya? Duduk dulu, Bapak yang masak nasi gorengnya.” Suaranya selalu ramah, tapi ada nada lain yang perlahan muncul—nada yang membuat Dewi tersenyum malu dan Rangga merasa ada yang mengganjal di dada.
171Please respect copyright.PENANAD05Aso0hOm
Malam itu, seperti biasanya, Rangga pulang pukul 19.15. Mobil Avanza tua yang ia kredit itu terparkir di halaman. Ia membuka pintu rumah dan langsung disambut aroma ayam goreng yang menguar dari dapur.
171Please respect copyright.PENANAdL4Eejy2VW
“Mas Rangga pulang,” sapa Dewi dari dapur. Ia memakai daster biru muda lengan pendek yang agak ketat di dada. Kainnya tipis, memperlihatkan garis bra putih di dalamnya. Payudaranya naik turun pelan saat ia mengaduk sayur asem di wajan besar. Bokongnya yang bulat menonjol ke belakang setiap kali ia menggeser kaki untuk mengambil bumbu.
171Please respect copyright.PENANAJwCObmJzON
Rangga meletakkan tas di sofa dan mendekat. Ia memeluk pinggang istrinya dari belakang, mencium tengkuknya yang harum sabun mandi. “Capek banget hari ini. Meeting sama supplier dari jam sepuluh sampai sore.”
171Please respect copyright.PENANADuzIULD8Ms
Dewi memiringkan kepala, memberi ruang untuk ciuman suaminya. “Ya ampun. Kamu mandi dulu ya, Mas. Nanti aku siapkan air hangatnya.”
171Please respect copyright.PENANAw9BejNvZNB
Mereka berbicara pelan tentang hari Rangga. Dewi mendengarkan dengan sabar, sesekali mengangguk dan mengusap punggung suaminya. “Besok jangan terlalu dipikirkan. Kamu sudah usaha maksimal.”
171Please respect copyright.PENANAQ2oiHXWNzI
Dari ruang tamu terdengar suara TV. Pak Harjo sedang menonton berita sambil duduk di kursi single kesayangannya. Bu Rini ada di kamar belakang, mungkin sedang melipat baju.
171Please respect copyright.PENANAyFqpH8PolZ
“Wah, anakku pulang,” kata Pak Harjo sambil berdiri dan berjalan ke dapur. Ia memakai kaos hitam ketat yang memperlihatkan otot lengannya yang masih tegang. “Gimana kerjaan? Banyak rewel lagi bosmu?”
171Please respect copyright.PENANAqzmfJwrjEy
Rangga tersenyum lelah. “Biasa, Pak. Selalu ada yang kurang.”
171Please respect copyright.PENANABFkjhT4dMG
Pak Harjo mengangguk, lalu matanya beralih ke Dewi. Pandangannya turun sebentar ke dada menantunya yang membusung di balik daster tipis, lalu kembali ke wajahnya. “Dan menantuku? Les hari ini ramai?”
171Please respect copyright.PENANAyDVRnFvwTX
“Empat anak, Pak,” jawab Dewi sambil tersenyum sopan. “Yang kelas lima SD tadi nangis karena soal matematika. Aku harus sabar jelasin sampai dia ngerti.”
171Please respect copyright.PENANAmm6ffi1dHY
“Kamu memang sabar,” kata Pak Harjo. Suaranya lebih lembut dari biasanya. “Tubuh kecilmu ini kok kuat ya, berdiri lama ngajar. Kalau capek, bilang sama Bapak. Bapak masih bisa pijat pundak seperti kemarin.”
171Please respect copyright.PENANATUYHvUaXyk
Dewi tertawa kecil, pipinya agak merona. “Terima kasih, Pak. Kemarin sudah enak sekali. Tapi hari ini lumayan, kok.”
171Please respect copyright.PENANA8JieTgLbLL
Mereka makan malam bersama. Meja kayu itu penuh dengan ayam goreng, sayur asem, tempe goreng, dan sambal terasi buatan Bu Rini. Selama makan, percakapan mengalir natural. Bu Rini bercerita tentang tetangga sebelah yang baru beli mobil baru. Pak Harjo bercerita tentang teman pensiunannya yang baru saja kena stroke. Rangga sesekali menimpali dengan cerita ringan dari kantor.
171Please respect copyright.PENANAwvei150dNb
Tapi Rangga memperhatikan sesuatu.
171Please respect copyright.PENANASWOrC7g1u7
Setiap kali Dewi membungkuk untuk mengambil lauk dari meja tengah, Pak Harjo matanya tak berkedip. Pandangannya jatuh ke belahan dada Dewi yang terlihat jelas dari atas daster. Saat Dewi tertawa mendengar lelucon Bu Rini, Pak Harjo tersenyum lebar, dan tangannya yang besar sesekali menyentuh lengan menantunya dengan alasan “memberi semangat”. Sentuhan itu lama. Jari-jarinya yang kasar menyentuh kulit halus Dewi lebih dari yang seharusnya.
171Please respect copyright.PENANAWBxpxEo5KJ
Dewi tidak menarik tangan. Ia hanya tersenyum dan melanjutkan makan. Tapi Rangga melihat pipinya agak merona.
171Please respect copyright.PENANA1gtYGWGvu0
Setelah makan, mereka pindah ke ruang tamu. Bu Rini duduk di sofa panjang bersama Rangga dan Dewi. Pak Harjo duduk di kursi single di sebelah kanan Dewi. Mereka menonton sinetron yang sedang ramai dibicarakan.
171Please respect copyright.PENANAgz6AlqyEIY
Setengah jam kemudian, Dewi mengaduh pelan sambil memegang pundak kanannya. “Aduh… pundakku pegel banget. Tadi lama berdiri nulis di papan tulis.”
171Please respect copyright.PENANAvG7RArmWwv
Pak Harjo langsung menoleh. “Lagi? Sudah kubilang kalau capek bilang sama Bapak. Ayo, duduk sini. Bapak pijat.”
171Please respect copyright.PENANAdzKeXVfDlL
Dewi ragu, menoleh ke Rangga. “Mas… boleh?”
171Please respect copyright.PENANA087CPHloZW
Rangga mengangguk, meski dadanya terasa sesak aneh. “Boleh. Biar Bapak pijat. Aku kan nggak bisa pijat kayak gitu.”
171Please respect copyright.PENANAVoLjVftLYc
Dewi pindah ke kursi di depan Pak Harjo. Ia duduk dengan punggung menghadap mertuanya. Pak Harjo menggeser kursinya lebih dekat. Tangan besarnya yang hangat mulai menempel di pundak Dewi.
171Please respect copyright.PENANAGs3BYQ2jDw
“Santai aja, menantu,” kata Pak Harjo dengan suara rendah. “Biarkan Bapak yang atur.”
171Please respect copyright.PENANA0XDbMeSc2g
Jari-jarinya yang kuat menekan pelan di otot pundak Dewi. Awalnya lembut, lalu semakin dalam. Dewi menutup mata, menghela napas panjang. “Enak sekali, Pak… di situ… iya…”
171Please respect copyright.PENANAJWgOShdG3v
Pak Harjo terus memijat. Tangan kanannya turun sedikit ke punggung atas, dekat tulang belikat. Jempolnya membuat gerakan melingkar yang membuat Dewi menggeliat pelan. “Di sini tegang ya? Kamu terlalu banyak mikir.”
171Please respect copyright.PENANAEyYcl0iWYk
“Iya, Pak… tadi ada siswa yang susah diajar…”
171Please respect copyright.PENANAzg0R2PDlyN
Tangan Pak Harjo bergerak lebih rendah. Sekarang telapak tangannya berada di punggung tengah Dewi, tepat di atas pinggang. Jarinya menekan dengan ritme yang teratur. Dewi membungkuk sedikit ke depan, membuat dasternya agak naik di punggung, memperlihatkan sedikit kulit halus di atas pinggang.
171Please respect copyright.PENANAtm9nhwZVlR
Rangga yang duduk di sebelah kiri melihat semuanya. Ia melihat bagaimana tangan ayahnya yang besar itu menyentuh tubuh istrinya dengan cara yang… terlalu akrab. Ia melihat bagaimana Dewi menikmati sentuhan itu. Pipi istrinya merona. Napasnya agak tersengal. Dan yang paling membuat Rangga merasa aneh: ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir di selangkangannya. Bukan cemburu murni. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat celananya terasa sempit.
171Please respect copyright.PENANA1HkFnc1HBM
Pak Harjo terus memijat selama hampir lima belas menit. Tangan kirinya kadang menyentuh sisi tubuh Dewi, dekat dengan bawah payudara. Jarinya sesekali “tidak sengaja” menyentuh pinggir bra Dewi. Dewi tidak menolak. Ia hanya menghela napas lebih dalam dan berkata pelan, “Terima kasih, Pak… rasanya jauh lebih enak.”
171Please respect copyright.PENANABCdve3O2vM
“Kalau besok lagi capek, bilang aja,” jawab Pak Harjo. Suaranya serak pelan. “Bapak siap bantu kapan saja. Malam atau siang.”
171Please respect copyright.PENANAICw3CHKoSG
Dewi mengangguk. “Iya, Pak.”
171Please respect copyright.PENANAQQfqBZ4CtT
Mereka melanjutkan menonton TV. Tapi suasana di ruang tamu terasa berbeda. Ada ketegangan halus yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Rangga merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Setiap kali Pak Harjo tertawa atau berbicara dengan Dewi, Rangga merasa ada yang berubah di dalam dirinya.
171Please respect copyright.PENANAnem8jZUm62
Jam menunjukkan pukul 22.30 ketika mereka akhirnya bubar ke kamar masing-masing.
171Please respect copyright.PENANAgXcX6YHcTr
Kamar Rangga dan Dewi berada di lantai dua, tepat di sebelah kamar orang tua. Dindingnya tipis. Kadang-kadang mereka bisa mendengar suara TV atau percakapan pelan dari kamar sebelah.
171Please respect copyright.PENANAEXukbJ0qfz
Di dalam kamar, Dewi langsung membuka dasternya. Ia berdiri hanya dengan bra putih dan celana dalam matching yang sederhana. Payudaranya yang besar terangkat saat ia mengangkat tangan untuk melepas bra. Puting cokelat mudanya terlihat jelas, sedikit mengeras karena udara AC. Bokongnya yang bulat sempurna terlihat utuh saat ia membungkuk untuk mengambil baju tidur dari lemari.
171Please respect copyright.PENANAjEUaCuhjAl
Rangga mendekat dari belakang. Ia memeluk istrinya, tangannya langsung meremas kedua payudara Dewi dari belakang. “Kamu cantik sekali malam ini,” bisiknya di telinga Dewi.
171Please respect copyright.PENANADK69I3bxqf
Dewi tertawa pelan, menempelkan bokongnya ke selangkangan suaminya. “Kamu selalu bilang begitu setiap malam.”
171Please respect copyright.PENANAgIIaoZuuZ5
Mereka berciuman panjang. Ciuman yang dalam, lidah saling menjelajah. Rangga menurunkan kepala, mencium leher Dewi, lalu ke dada. Ia membuka bra istrinya dengan satu tangan, lalu menghisap puting kiri dengan rakus. Dewi mengerang pelan, tangannya memegang rambut Rangga.
171Please respect copyright.PENANAbcwxJZUAKx
“Mas… ahh…”
171Please respect copyright.PENANADHL9o6Jtnh
Rangga terus. Tangan kanannya turun ke antara kaki Dewi, meraba vagina istrinya di balik celana dalam. Sudah basah. Jarinya mengelus klitoris yang sudah membengkak, lalu memasukkan satu jari ke dalam lubang hangat yang sempit. Dewi mengangkat pinggul, mengerang lebih keras.
171Please respect copyright.PENANAD9k4knj0VE
Mereka berbaring di tempat tidur. Rangga melepas celana dalam istrinya, lalu menurunkan kepalanya ke antara kaki Dewi. Ia menjilat vagina istrinya dengan pelan, lidahnya menjelajahi setiap lipatan, menghisap klitoris, memasukkan lidah ke dalam lubang yang sudah sangat basah. Dewi meremas seprai, pinggulnya bergoyang mengikuti ritme lidah suaminya.
171Please respect copyright.PENANAcAGUTuxfr6
“Mas… enak… jangan berhenti…”
171Please respect copyright.PENANAS3PWZLMTUb
Setelah beberapa menit, Rangga naik lagi. Ia mencium bibir Dewi, membiarkan istrinya mencicipi cairan dirinya sendiri. Lalu ia memasukkan penisnya yang sudah keras ke dalam vagina Dewi. Mereka bercinta dengan pelan di awal, lalu semakin cepat. Posisi misionaris dulu, lalu Rangga membalikkan Dewi menjadi doggy style. Tangan Rangga meremas bokong istrinya yang bulat sambil memukul pelan, membuat suara “plak-plak” yang menggema di kamar.
171Please respect copyright.PENANAk44cyIGZhT
Dewi mengerang tanpa henti. “Mas… dalam… ahh… kamu besar sekali malam ini…”
171Please respect copyright.PENANArezxmpuNMn
Rangga bergerak lebih keras. Setiap kali penisnya masuk sepenuhnya, ia membayangkan sesuatu yang tak seharusnya. Ia membayangkan tangan ayahnya yang besar itu menyentuh pundak istrinya tadi. Ia membayangkan jika itu adalah ayahnya yang memeluk Dewi dari belakang. Pikiran terlarang itu membuat darahnya mengalir lebih deras. Penisnya terasa lebih keras dari biasanya.
171Please respect copyright.PENANAOAFtmU6bcT
Ia datang dengan kuat, menyemburkan air mani panas ke dalam rahim istrinya. Orgasmenya panjang, hampir membuat lututnya lemas. Dewi juga mencapai puncak, vagina istrinya berkontraksi kuat di sekitar penis suaminya.
171Please respect copyright.PENANAnjEgmayc4R
Mereka berbaring saling berpelukan, napas masih tersengal. Dewi tertidur cepat, lelah setelah seharian mengajar dan mengurus rumah.
171Please respect copyright.PENANAovBZyemEF4
Tapi Rangga tidak bisa tidur.
171Please respect copyright.PENANA91wbtlmc5p
Ia menatap langit-langit kamar yang gelap. Pikirannya penuh dengan gambar-gambar yang tak seharusnya ada. Tangan ayahnya di pundak Dewi. Pandangan ayahnya yang tertuju ke dada menantunya. Senyum Dewi yang agak malu tapi… menikmati.
171Please respect copyright.PENANAw8TS8ZUg33
Mengapa ia merasa excited? Mengapa bayangan itu membuat orgasmenya lebih kuat tadi?
171Please respect copyright.PENANAohpTfNIvuP
Ia mendengar suara dari kamar sebelah. Suara tertawa pelan Bu Rini, lalu suara Pak Harjo yang rendah dan serak. Mungkin mereka sedang bercinta juga. Tapi kemudian ada suara langkah kaki pelan di koridor luar kamar.
171Please respect copyright.PENANAQuu01cwZBE
Rangga bangun pelan, membuka pintu kamar sedikit. Koridor gelap, hanya ada lampu kecil di ujung tangga. Ia melihat sosok Pak Harjo berdiri di depan pintu kamar mandi, memakai hanya celana pendek. Tubuhnya yang besar terlihat jelas di cahaya remang.
171Please respect copyright.PENANAEOdIXlvuJg
Pak Harjo tidak masuk ke kamar mandi. Ia berbalik dan berjalan pelan ke arah dapur. Di dapur, lampu kecil di atas meja masih menyala. Ada sosok wanita berdiri di sana, memakai daster tipis panjang, punggung menghadap ke arah koridor.
171Please respect copyright.PENANAoTlhMeMfWI
Itu Dewi.
171Please respect copyright.PENANAE3of9IKrAj
Rangga menggosok mata. Tidak mungkin. Dewi tidur di sampingnya tadi.
171Please respect copyright.PENANAztJD7TIVih
Tapi saat ia melihat lebih jelas, sosok itu memang Dewi. Ia sedang mengambil air minum dari dispenser. Pak Harjo mendekat. Mereka berbicara pelan, suara terlalu kecil untuk didengar. Tapi Rangga melihat Pak Harjo mengangkat tangan dan menyentuh lengan Dewi. Sentuhan yang lama. Dewi tidak menarik diri. Ia hanya menoleh ke atas, menatap mertuanya dengan mata yang… sulit dijelaskan.
171Please respect copyright.PENANA8SSWN9zc5J
Rangga merasa dadanya seperti ditinju. Ia mundur pelan ke dalam kamar, menutup pintu tanpa suara. Jantungnya berdetak sangat kencang. Penisnya yang tadi sudah lemas tiba-tiba mulai mengeras lagi.
171Please respect copyright.PENANA2PCr9Vv0Gs
Ia kembali ke tempat tidur, memeluk Dewi yang masih tidur pulas. Tapi pikirannya tak bisa tenang.
171Please respect copyright.PENANAUj6eJ8SCar
Apa yang baru saja ia lihat? Apakah itu hanya imajinasinya? Atau memang ada sesuatu yang sedang terjadi di rumah ini?
171Please respect copyright.PENANAW9pLJjiTSK
Pagi itu terasa berbeda.
171Please respect copyright.PENANAQg3sZWG2v1
Rangga terbangun lebih awal dari biasanya. Jam di meja nakas menunjukkan pukul 05.40. Cahaya fajar yang samar menyusup dari celah gorden tipis. Di sampingnya, Dewi masih tidur pulas. Selimut hanya menutupi pinggangnya. Dada telanjangnya naik turun pelan. Payudaranya yang montok dan berat terlihat jelas, puting cokelat mudanya sedikit mengeras karena udara pagi yang sejuk. Bokongnya yang bulat sempurna menonjol di balik selimut yang agak naik. Rambutnya yang hitam panjang tersebar di bantal.
171Please respect copyright.PENANA6tfXNOSbMh
Rangga menatap istrinya lama. Pikirannya kembali ke semalam. Ke pijatan Pak Harjo. Ke pandangan ayahnya yang tak berkedip. Ke sosok Dewi yang ia lihat di dapur dini hari tadi bersama Pak Harjo. Apakah itu nyata? Atau hanya bayangan lelah?
171Please respect copyright.PENANATH05UYOF2l
Ia menggeleng pelan. Tapi dadanya tetap sesak. Dan yang lebih membingungkan: penisnya mulai mengeras lagi hanya karena mengingatnya.
171Please respect copyright.PENANA348GlKXi4L
Ia bangun pelan, mandi cepat, lalu memakai kemeja dan celana kerja. Saat ia turun ke dapur, Pak Harjo sudah ada di sana. Mertuanya memakai kaos oblong hitam ketat dan celana pendek rumah. Tubuhnya yang besar terlihat gagah di bawah lampu dapur. Ia sedang membuat kopi.
171Please respect copyright.PENANAn8gWqdD42L
“Pagi, Pak,” sapa Rangga.
171Please respect copyright.PENANAcc8NlC6Wr6
Pak Harjo menoleh, tersenyum lebar. “Pagi, Nak. Kamu berangkat lebih pagi hari ini?”
171Please respect copyright.PENANAL79UEqxKlm
“Iya, Pak. Ada rapat mendadak jam tujuh. Harus sampai kantor jam setengah tujuh.”
171Please respect copyright.PENANAJhk1Pu2nZ3
Pak Harjo mengangguk. “Hati-hati di jalan. Lalu lintas pagi biasanya macet.”
171Please respect copyright.PENANAfkPFlxEg3M
Saat Rangga menuang air putih, Dewi turun dari atas. Ia memakai daster tipis warna krem yang agak longgar di dada tapi ketat di pinggul. Tanpa bra. Payudaranya bergoyang pelan saat ia berjalan. Kakinya yang mulus terlihat dari belahan daster yang terbuka sedikit. Ia mengucek mata, rambutnya masih agak acak-acakan.
171Please respect copyright.PENANAqyqCb3GGSK
“Mas sudah bangun?” tanyanya dengan suara serak pagi. “Kenapa tidak bangunin aku?”
171Please respect copyright.PENANAFUJ7VCIj1q
“Kamu tidur nyenyak sekali tadi. Aku biarin.” Rangga mendekat, mencium pipi istrinya. “Aku harus berangkat sekarang. Rapat pagi.”
171Please respect copyright.PENANAk1i9OnekMO
Dewi mengangguk. “Hati-hati ya, Mas.”
171Please respect copyright.PENANA7OkIV1oAxm
Pak Harjo yang masih di dapur menoleh. Matanya sekilas jatuh ke dada Dewi yang terlihat samar di balik daster tipis. “Menantu, kalau capek nanti siang, istirahat ya. Jangan dipaksa. Bapak bisa bantu urus apa saja di rumah.”
171Please respect copyright.PENANAIUFWNpMktl
Dewi tersenyum. “Terima kasih, Pak. Tapi biasa aja kok.”
171Please respect copyright.PENANATAqYEmZGKt
Rangga mencium kening Dewi sekali lagi. “Aku pulang seperti biasa, sayang. Kalau ada apa-apa, telepon aku.”
171Please respect copyright.PENANA3HGaeKyFRF
“Iya, Mas.”
171Please respect copyright.PENANABbmBXUx1x9
Rangga melangkah keluar. Mobilnya menyala. Ia melaju pelan meninggalkan gang. Tapi di dalam hati, ada perasaan ganjil yang tak bisa ia tepis. Ia membayangkan Dewi dan Pak Harjo sendirian di rumah seharian. Bu Rini biasanya pergi ke arisan atau ke rumah saudara setiap Selasa pagi. Hari ini Selasa.
171Please respect copyright.PENANABRMIPooyam
Di kantor, Rangga tidak bisa fokus sama sekali.
171Please respect copyright.PENANAqxBUE09evS
Rapat berjalan. Ia mencatat, tapi pikirannya melayang. Ia membayangkan Dewi di dapur, memakai daster itu, membungkuk untuk mengambil sesuatu dari lemari bawah. Bokongnya yang bulat menonjol. Lalu Pak Harjo mendekat dari belakang, tangan besarnya menyentuh pinggang menantunya dengan alasan “membantu”.
171Please respect copyright.PENANAEiZWcU1yS1
Rangga menggeleng keras. Apa yang sedang ia pikirkan? Itu ayahnya sendiri. Dewi adalah istrinya. Tapi semakin ia mencoba menepis, semakin jelas bayangan itu muncul. Tangan Pak Harjo yang kasar di kulit halus Dewi. Dewi mengerang pelan seperti kemarin saat dipijat. Tapi kali ini… lebih dalam.
171Please respect copyright.PENANAjOZWdkH6Jp
Sepanjang pagi hingga siang, Rangga gelisah. Ia membuka HP berkali-kali, ingin menelpon Dewi, tapi takut terlihat mencurigakan. Ia membayangkan apa yang sedang terjadi di rumah.
171Please respect copyright.PENANABbcn0xRPbn
Sementara itu, di rumah…
171Please respect copyright.PENANAa0PXLjbjPj
Setelah Rangga pergi, Dewi membersihkan meja sarapan. Pak Harjo masih di dapur, duduk di kursi kayu sambil menyeruput kopinya pelan.
171Please respect copyright.PENANA7YF8kz4IIP
“Menantu,” panggilnya pelan. “Kamu hari ini kelihatan lebih cantik. Mungkin karena tidur nyenyak semalam?”
171Please respect copyright.PENANAF2rBHzMM7A
Dewi menoleh, tersenyum malu. “Mungkin, Pak. Atau karena pijatan Bapak kemarin benar-benar enak.”
171Please respect copyright.PENANAq7Z063GcyT
Pak Harjo tertawa kecil. Suaranya dalam dan serak. “Kalau begitu, lain kali jangan sungkan minta lagi. Bapak memang sudah tua, tapi tangan ini masih kuat. Apalagi untuk menantu yang baik seperti kamu.”
171Please respect copyright.PENANApGdNSFN7Ge
Dewi merasa pipinya hangat. Ia melanjutkan mencuci piring. Saat ia membungkuk untuk mengambil sabun di bawah wastafel, dasternya naik sedikit di belakang. Bokongnya yang montok dan bulat terlihat jelas di balik kain tipis. Pak Harjo yang duduk di belakangnya menatap tanpa berkedip. Matanya menelusuri lekuk pinggang ke pinggul, lalu ke paha mulus yang terlihat.
171Please respect copyright.PENANAd5lVTgU0dO
Dewi berdiri lagi, tidak menyadari. Ia mengelap tangan dengan lap. “Pak, Bapak tidak pergi pagi ini?”
171Please respect copyright.PENANAPUyaFQwNeh
“Tidak. Hari ini aku libur. Cuma ada arisan Bu Rini di rumah Bu Siti. Ibu berangkat jam sembilan nanti.”
171Please respect copyright.PENANAnxANqLlU35
“Oh…” Dewi mengangguk. “Jadi di rumah berdua saja ya, Pak?”
171Please respect copyright.PENANAR0reIUMOsZ
Pak Harjo tersenyum tipis. “Ya. Berdua.”
171Please respect copyright.PENANAresjOiAzHg
Suasana terasa hangat tapi penuh ketegangan yang tak terucap.
171Please respect copyright.PENANAkxnpMLmzhE
Sepanjang pagi, mereka berada di rumah bersama. Dewi mengajar les dua anak SD dari jam sembilan sampai sepuluh. Pak Harjo duduk di ruang tamu, membaca koran tapi sesekali melirik ke arah Dewi yang sedang menjelaskan soal matematika. Saat anak-anak pulang, Dewi membersihkan ruang tamu. Ia memakai daster yang sama, dan karena cuaca agak panas, ia membuka sedikit kancing atas dasternya. Belahan dadanya yang dalam terlihat. Payudaranya yang besar hampir terlihat putingnya saat ia membungkuk untuk mengelap meja.
171Please respect copyright.PENANAJcmKOMzJjD
Pak Harjo bangun dari kursi. “Menantu, biar Bapak bantu.”
171Please respect copyright.PENANAmNWeA2Wd2T
“Iya, Pak. Terima kasih.”
171Please respect copyright.PENANAJtX2AdFY4N
Mereka membersihkan bersama. Saat Dewi berdiri di atas bangku kecil untuk membersihkan rak atas, dasternya naik tinggi. Pak Harjo berdiri di bawah, tangannya memegang pinggang Dewi untuk “menstabilkan”. Jari-jarinya yang besar menyentuh kulit telanjang di atas pinggang Dewi. Sentuhan itu hangat, kasar, dan… sengaja.
171Please respect copyright.PENANAqbJCOlxxoC
“ Hati-hati, menantu. Jangan sampai jatuh,” kata Pak Harjo dengan suara rendah.
171Please respect copyright.PENANATwyMTfscIY
Dewi merasa jantungnya berdetak kencang. “I… iya, Pak.”
171Please respect copyright.PENANAD3MmOndTgk
Setelah selesai, Dewi turun. Napasnya agak tersengal. Pak Harjo masih memegang pinggangnya. Mereka berdiri sangat dekat. Dada Pak Harjo yang bidang hampir menyentuh payudara Dewi.
171Please respect copyright.PENANAbYtyoijNbP
“Kamu memang rajin,” bisik Pak Harjo. “Rangga beruntung punya istri sebaik dan secantik kamu. Tubuhmu… sempurna. Payudaramu montok, bokongmu bulat, kaki panjang mulus. Kalau aku lebih muda dua puluh tahun…”
171Please respect copyright.PENANAS4BxTUXoGp
Dewi menunduk, pipinya merah padam. Tapi ia tidak menjauh. “Pak… jangan bilang begitu. Bapak sudah punya Ibu.”
171Please respect copyright.PENANAyXfBatdADT
Pak Harjo tertawa pelan. “Ibu sudah tua. Tapi kamu… kamu masih muda. Masih segar. Masih… menggoda.”
171Please respect copyright.PENANARw02Yaczam
Tangan Pak Harjo naik sedikit, ibu jarinya menyentuh sisi bawah payudara Dewi melalui daster. Dewi menggigit bibir bawah. Ia tidak menolak. Tubuhnya terasa panas. Ada sesuatu yang basah mulai terasa di antara pahanya.
171Please respect copyright.PENANAApVOkrNZid
Mereka pindah ke sofa. Pak Harjo menawarkan pijat lagi. “Kamu tadi berdiri lama ngajar. Pundakmu pasti tegang.”
171Please respect copyright.PENANAYvRz0V8s4l
Dewi ragu sebentar, lalu mengangguk pelan. “Kalau… boleh, Pak.”
171Please respect copyright.PENANAIN46Nn47Mm
Ia duduk di depan Pak Harjo seperti kemarin. Tapi kali ini Pak Harjo duduk lebih dekat. Tangan besarnya mulai memijat pundak Dewi dengan tekanan yang lebih dalam, lebih lambat. Jempolnya menekan otot dengan ritme yang membuat Dewi menutup mata dan mengerang pelan.
171Please respect copyright.PENANAvovBU5bMJo
“Enak, Pak… ahh…”
171Please respect copyright.PENANAANgsch1Tbf
“Bagus. Santai saja. Biarkan Bapak urus.”
171Please respect copyright.PENANAtfNwhj7XXi
Tangan Pak Harjo turun ke punggung. Kali ini ia tidak berhenti di pinggang. Ia terus turun, telapak tangannya meraba bokong Dewi di atas daster. Dewi tersentak pelan, tapi tidak bergerak menjauh.
171Please respect copyright.PENANA4SPmVqk9sp
“Pak…”
171Please respect copyright.PENANAByI8zVeuIK
“Shhh. Ini bagian dari pijat. Kamu tegang di sini juga.”
171Please respect copyright.PENANAUJgF4CQg0O
Jari-jari Pak Harjo meremas bokong Dewi pelan tapi tegas. Dewi merasa napasnya semakin cepat. Vaginanya mulai basah. Putingnya mengeras di balik daster.
171Please respect copyright.PENANAlkQRNQW95Y
Pak Harjo membungkuk, bibirnya hampir menyentuh telinga Dewi. “Kamu suka ya, menantu? Sentuhan Bapak?”
171Please respect copyright.PENANAzIPHVsHTTr
Dewi tidak menjawab dengan kata. Ia hanya mengangguk pelan, hampir tak terlihat.
171Please respect copyright.PENANAsNGMW0FJNv
Tangan Pak Harjo bergerak ke depan. Ia meraba sisi payudara Dewi, lalu ibu jarinya menyentuh puting yang sudah mengeras melalui kain. Dewi mengerang lebih keras.
171Please respect copyright.PENANAeYLTT10mIy
“Pak… kita… tidak bisa…”
171Please respect copyright.PENANAyK9YRuAq0i
“Kenapa tidak bisa?” bisik Pak Harjo. “Rangga sedang di kantor. Ibu sedang di arisan. Tidak ada yang tahu. Dan kamu… kamu basah, kan?”
171Please respect copyright.PENANARLw246lkWR
Salah satu tangan Pak Harjo turun ke paha Dewi, lalu naik ke dalam daster. Jari-jarinya menyentuh celana dalam Dewi yang sudah lembab. Ia mengelus pelan di atas kain.
171Please respect copyright.PENANAo0grg7E93W
Dewi menggigit bibir sampai hampir berdarah. Tubuhnya gemetar. “Pak… ahh… jangan…”
171Please respect copyright.PENANAnJlemQKGWQ
Tapi ia tidak menarik tangan Pak Harjo. Malah pinggulnya sedikit maju ke depan, seolah mendorong jari itu.
171Please respect copyright.PENANA9M5bzbccck
Pak Harjo tersenyum puas. Ia menarik celana dalam Dewi ke samping, lalu jari tengahnya langsung menyentuh klitoris yang sudah bengkak dan basah. Ia mengelus pelan, melingkar, lalu memasukkan satu jari ke dalam vagina Dewi yang panas dan sempit.
171Please respect copyright.PENANAzoGdXakUxK
“Basah sekali…” gumam Pak Harjo. “Kamu memang menginginkan ini.”
171Please respect copyright.PENANA4FnK1wbeis
Dewi mengerang panjang. Kepalanya jatuh ke belakang, bersandar di dada Pak Harjo. “Pak… kita gila… Rangga… istri anak Bapak…”
171Please respect copyright.PENANA0xFfiFBxfG
“Dan istri anak Bapak sedang basah karena jari Bapak,” balas Pak Harjo dengan suara serak. Ia memasukkan jari kedua, menggerakkannya pelan di dalam. “Kamu suka ya? Mau Bapak lanjut?”
171Please respect copyright.PENANAHZqoRJnHBx
Dewi mengangguk cepat, napasnya tersengal. “Iya… Pak… jangan berhenti…”
171Please respect copyright.PENANACfRjcEeGky
Pak Harjo terus memainkan jarinya. Satu tangan meremas payudara Dewi, ibu jarinya menggosok puting. Jari di dalam vagina Dewi bergerak lebih cepat, mencari titik sensitif. Dewi mulai menggoyang pinggul mengikuti ritme. Ia mengerang tanpa henti, suara pelan tapi penuh nafsu.
171Please respect copyright.PENANAp1UNLi6muX
Beberapa menit kemudian, Dewi mencapai orgasme pertama. Tubuhnya gemetar hebat, vagina berkontraksi di sekitar jari Pak Harjo. Cairan bening mengalir membasahi tangan mertuanya. Ia menjerit pelan, “Pak… ahhh…!”
171Please respect copyright.PENANAwRV0DN6JhY
Pak Harjo tidak berhenti. Ia terus mengelus klitoris dengan ibu jari sambil jari-jarinya masih di dalam. Dewi mengalami orgasme kedua hanya beberapa menit kemudian. Lebih kuat. Ia memegang lengan Pak Harjo erat-erat, kakinya terbuka lebar, daster naik sampai pinggang.
171Please respect copyright.PENANAEp6Y2iOC3f
Setelah itu, Pak Harjo menarik jarinya pelan. Ia membawa jari yang basah ke bibir Dewi. “Cicipi sendiri.”
171Please respect copyright.PENANAJnqdA6pUl1
Dewi membuka mulut, menjilat jari mertuanya dengan malu-malu tapi penuh nafsu. Pak Harjo tersenyum lebar.
171Please respect copyright.PENANABsYZ8Ixl4i
Mereka berciuman. Bukan ciuman singkat. Ciuman panjang, dalam, lidah saling menjelajah. Tangan Pak Harjo meraba seluruh tubuh Dewi di bawah daster. Payudara, pinggang, bokong, paha. Dewi juga membalas, tangannya menyentuh dada bidang Pak Harjo, merasakan otot yang masih kencang.
171Please respect copyright.PENANAbfADIVxAom
Tapi mereka tidak melanjutkan ke hubungan seksual penuh hari itu. Ada garis tipis yang masih mereka hormati… meski sudah sangat dekat untuk dilanggar.
171Please respect copyright.PENANAAZfmoXplHh
Pak Harjo akhirnya berhenti, napasnya berat. “Cukup untuk hari ini, menantu. Kalau kita lanjut, aku takut tidak bisa berhenti.”
171Please respect copyright.PENANARGEnNZSRc7
Dewi mengangguk, wajahnya merah, tubuhnya masih gemetar. “Iya, Pak…”
171Please respect copyright.PENANAqtLzEsurHK
Mereka duduk berdekatan di sofa, saling memegang tangan. Tak ada kata selama beberapa menit. Hanya napas yang masih tersengal.
171Please respect copyright.PENANA00d3qpb1tf
Sore harinya, Bu Rini pulang dari arisan. Suasana terasa normal di permukaan. Tapi di bawahnya, ada arus bawah yang kuat.
171Please respect copyright.PENANAgqRSwDgrLh
Rangga pulang lebih cepat dari biasa. Jam 17.45. Ia bilang meeting sore dibatalkan.
171Please respect copyright.PENANArMzwmv5CnT
Saat ia masuk rumah, ia melihat Dewi dan Pak Harjo sedang duduk di sofa ruang tamu. Dewi memakai daster yang sama. Wajahnya masih agak merona. Pak Harjo duduk agak dekat dengannya. Saat Rangga masuk, mereka agak terkejut, tapi cepat tersenyum.
171Please respect copyright.PENANAYviRzFcBhm
“Mas pulang lebih awal?” tanya Dewi, suaranya sedikit bergetar.
171Please respect copyright.PENANAkOddSz94b4
“Iya. Meeting dibatalkan.” Rangga meletakkan tas. Ia memperhatikan istrinya. Ada sesuatu yang berbeda di mata Dewi. Sesuatu yang basah, bersalah, dan… puas.
171Please respect copyright.PENANAPGvbxJg2fg
Mereka makan malam seperti biasa. Percakapan mengalir. Tapi Rangga merasa ada yang disembunyikan. Setiap kali Dewi dan Pak Harjo bertatapan, ada kilatan singkat yang membuat Rangga merasa panas dan cemburu sekaligus.
171Please respect copyright.PENANAiYcFF0vKZs
Malam harinya, setelah semua orang tidur, di kamar mereka, Rangga memeluk Dewi dari belakang. Ia mencium leher istrinya.
171Please respect copyright.PENANA8ZfUVJUgp8
“Kamu hari ini… kelihatan aneh,” bisiknya.
171Please respect copyright.PENANAVaS3D8VO1K
“An… aneh gimana, Mas?” tanya Dewi, suaranya pelan.
171Please respect copyright.PENANAtdREIhQF3O
“Seperti ada yang disembunyikan.” Rangga tangannya meraba payudara Dewi. “Apa yang terjadi hari ini saat aku di kantor?”
171Please respect copyright.PENANAizi8Sfzrca
Dewi diam sebentar. “Biasa aja, Mas. Les, bersih-bersih rumah… Bapak bantu.”
171Please respect copyright.PENANAmAaMvoDFC0
“Bapak pijat lagi?”
171Please respect copyright.PENANA607pYANju2
Dewi mengangguk pelan. “Iya…”
171Please respect copyright.PENANABKGxZPpiIZ
Rangga merasakan penisnya mengeras. Ia membalikkan Dewi menghadapnya. Mereka berciuman panjang. Kali ini lebih kasar dari biasanya. Rangga menarik daster Dewi ke atas, membuka bra, lalu menghisap puting istrinya dengan rakus.
171Please respect copyright.PENANAolCOKBs84s
“Ceritain,” bisik Rangga di antara isapan. “Bapak sentuh kamu di mana?”
171Please respect copyright.PENANAb5foUS6XuF
Dewi mengerang. “Mas… jangan tanya begitu…”
171Please respect copyright.PENANAJpVo1zBaHE
“Ceritain,” desak Rangga, tangannya turun ke vagina Dewi. Sudah sangat basah. “Aku mau tahu.”
171Please respect copyright.PENANAbbW3DmPuzC
Dewi akhirnya berbisik, suara gemetar. “Bapak… memijat pundakku… lalu turun ke bokong… lalu… jarinya masuk ke dalam…”
171Please respect copyright.PENANACEjhhQaRex
Rangga merasa seperti disetrum. Penisnya semakin keras. Ia menurunkan kepala, menjilat vagina istrinya dengan ganas. Lidahnya menjelajahi setiap lipatan, menghisap klitoris yang sudah bengkak, memasukkan lidah ke dalam lubang basah. Dewi meremas rambutnya, pinggul bergoyang.
171Please respect copyright.PENANAPPiGhkxo4B
“Mas… ahh… enak…”
171Please respect copyright.PENANACDZcHpVMWw
Rangga terus sampai Dewi orgasme pertama di mulutnya. Cairan istrinya membasahi dagunya. Lalu ia naik, memasukkan penis ke dalam vagina Dewi dengan satu dorongan kuat.
171Please respect copyright.PENANAKeB9SbSYdQ
Mereka bercinta dengan intens. Posisi berganti secara alami tanpa jeda.
171Please respect copyright.PENANA91Geid3dcO
Pertama misionaris. Rangga menatap mata Dewi dalam-dalam sambil mengayun pinggul kuat. “Bayangin kalau yang masuk ke kamu tadi siang adalah Bapak,” bisiknya kotor. “Bayangin ayahku yang ngewe istriku.”
171Please respect copyright.PENANATITjKi40M0
Dewi mengerang lebih keras, vagina semakin basah. “Mas… jangan bilang begitu… tapi… ahh…”
171Please respect copyright.PENANAtzePkcJGJg
Rangga mengubah posisi menjadi doggy. Ia memegang bokong Dewi erat, memukul pelan sambil memasukkan penis dari belakang. “Kamu suka ya? Dipijat sama Bapak sampai basah?”
171Please respect copyright.PENANAiHkoQys5wJ
“Iya… Mas… aku suka…” jawab Dewi dengan suara parau. “Jarinya besar… kasar… enak…”
171Please respect copyright.PENANAplrUqg0Km8
Rangga semakin cepat. Ia meraih rambut Dewi, menarik pelan. “Kalau Bapak mau masukin kontolnya ke kamu, kamu mau?”
171Please respect copyright.PENANAYhqiciljqZ
Dewi tidak menjawab dengan kata. Ia hanya mengerang panjang dan mencapai orgasme kedua. Vaginanya berkontraksi hebat di sekitar penis Rangga.
171Please respect copyright.PENANAjOtMpSE5zW
Mereka berganti posisi lagi. Dewi naik ke atas, cowgirl. Ia menggoyang pinggulnya sendiri, payudaranya yang besar bergoyang naik turun. Rangga meremas kedua payudara istrinya, ibu jarinya menggosok puting. “Kamu cantik sekali. Bayangin kalau Bapak yang di bawah kamu sekarang.”
171Please respect copyright.PENANAx5RfBBYCcl
Dewi menggoyang lebih cepat, mengerang tanpa henti. “Mas… aku mau datang lagi… ahh!”
171Please respect copyright.PENANAuSvUNYFIj2
Orgasme ketiga Dewi datang lebih kuat. Ia menjerit pelan, tubuh gemetar hebat di atas Rangga. Rangga juga hampir datang, tapi ia tahan. Ia membalikkan Dewi lagi, kali ini spooning dari belakang. Penisnya masuk pelan tapi dalam. Satu tangannya meraba klitoris Dewi sambil bergerak.
171Please respect copyright.PENANA3cj89IZCRN
Mereka bercinta lebih dari empat puluh menit tanpa henti. Posisi berganti natural: dari belakang, lalu Dewi di atas lagi, lalu Rangga berdiri di pinggir tempat tidur sambil memegang kaki Dewi di bahunya. Setiap kali Dewi orgasme, Rangga merasa semakin excited mendengar erangan istrinya yang menyebut “Pak” secara tidak sengaja di tengah puncak.
171Please respect copyright.PENANA8j5hhiVqvU
Akhirnya Rangga datang di dalam istrinya dengan sangat kuat. Air mani menyembur banyak. Ia memeluk Dewi erat dari belakang, napas tersengal di leher istrinya.
171Please respect copyright.PENANAP4zgBSO8Dn
Mereka berbaring saling peluk, tubuh basah keringat.
171Please respect copyright.PENANAs35XrjNGiK
Dewi tertidur lebih dulu, lelah setelah beberapa orgasme berturut-turut.
171Please respect copyright.PENANAeuY8pEyqhX
Rangga tetap terjaga.
171Please respect copyright.PENANAN8oq07Sk5x
Ia menatap langit-langit. Hatinya penuh dengan perasaan campur aduk: cemburu, bersalah, tapi juga sangat bergairah. Ia baru saja bercinta dengan istrinya sambil membayangkan ayahnya yang menidurinya. Dan Dewi… Dewi juga menikmatinya.
171Please respect copyright.PENANANMS257xyOp
Ia mendengar suara pelan dari kamar sebelah. Suara Bu Rini tertawa pelan, lalu suara Pak Harjo yang rendah. Mungkin mereka sedang bercinta juga. Tapi Rangga tidak bisa berhenti membayangkan jika yang ada di kamar sebelah bersama Pak Harjo adalah Dewi.
171Please respect copyright.PENANAMzZtkmsrsU
Penisnya kembali mengeras meski baru saja orgasme.
171Please respect copyright.PENANAYN1wvewFSx
Ia memeluk Dewi lebih erat.
171Please respect copyright.PENANAllOAVwJGcA
Besok… ia akan pulang lebih awal lagi.
171Please respect copyright.PENANAmdzL8cxMGO
Dan ia akan melihat sendiri apa yang terjadi di rumah ini.
---
Keesokan paginya, suasana di rumah terasa seperti ada listrik tak terlihat yang mengalir di udara.
171Please respect copyright.PENANA1W0CdAaohd
Bu Rini bangun lebih pagi dari biasanya. Ia sudah siap-siap sejak pukul enam. Ada arisan besar di rumah salah satu kerabat jauh di sebelah kota yang akan memakan waktu seharian penuh. Ia akan berangkat jam setengah delapan dan baru pulang sekitar pukul lima sore.
171Please respect copyright.PENANA3TQaD4t1Jh
Saat sarapan, Rangga memperhatikan semuanya dengan sangat teliti. Dewi memakai daster tipis warna abu-abu muda yang agak ketat di dada. Payudaranya yang montok terlihat jelas membusung, putingnya samar-samar terlihat karena tidak memakai bra. Saat ia menuang teh untuk Bu Rini, bokongnya yang bulat sempurna menggoyang pelan di balik kain tipis. Kakinya yang panjang dan mulus terlihat dari belahan daster yang terbuka sedikit saat ia bergerak.
171Please respect copyright.PENANAceBZLA9EVW
Pak Harjo duduk di ujung meja, memakai kaos oblong hitam ketat seperti biasa. Matanya sesekali menatap menantunya dengan cara yang berbeda dari biasanya — lebih dalam, lebih lapar.
171Please respect copyright.PENANAmpemjiWVdP
Rangga pura-pura sibuk dengan HP-nya. “Aku harus berangkat lebih pagi hari ini, Pak, Bu. Ada presentasi penting jam delapan.”
171Please respect copyright.PENANA75SAWu4hhg
“Baiklah, Nak,” jawab Bu Rini sambil mengunyah roti. “Hati-hati di jalan.”
171Please respect copyright.PENANA0o557p3caK
Dewi menoleh ke suaminya. “Pulang seperti biasa, Mas?”
171Please respect copyright.PENANAblSQ7xdNIg
“Seperti biasa, sayang,” jawab Rangga sambil tersenyum tipis. Tapi di dalam hatinya, rencana sudah matang. Ia tidak akan pergi ke kantor. Ia akan pura-pura berangkat, memarkir mobil di ujung gang yang agak tersembunyi di balik pohon besar, lalu kembali dengan berjalan kaki dan mengawasi rumah dari luar.
171Please respect copyright.PENANAqEtQMsGOZI
Jam setengah delapan, Bu Rini berangkat dengan ojek online. Mobilnya hilang di ujung gang. Rumah menjadi sunyi.
171Please respect copyright.PENANA6AuQVXAZzq
Rangga sudah “berangkat”. Mobil Avanza tuanya terparkir di tempat biasa di halaman, tapi ia sendiri sudah tidak ada di dalam rumah. Ia bersembunyi di balik pagar belakang yang agak tinggi, di dekat jendela dapur dan ruang tamu yang besar. Dari posisi itu ia bisa melihat ke dalam dengan cukup jelas, terutama karena gorden tidak sepenuhnya tertutup.
171Please respect copyright.PENANAAjfuRIpJF6
Di dalam rumah, Dewi sedang membersihkan meja sarapan. Pak Harjo masih duduk di kursi, menatap punggung menantunya.
171Please respect copyright.PENANAn9Q2AzSFnB
“Menantu,” panggilnya pelan dengan suara serak.
171Please respect copyright.PENANAF9XpfpianB
Dewi berhenti, punggungnya masih menghadap. “Ya, Pak?”
171Please respect copyright.PENANAr5t1hSdRem
“Datang sini.”
171Please respect copyright.PENANA80zrvGY5FE
Dewi meletakkan lap, lalu berbalik dan berjalan pelan ke arah mertuanya. Jantungnya berdetak sangat kencang. Ia tahu apa yang akan terjadi hari ini. Sejak kemarin siang, sejak jari Pak Harjo membuatnya orgasme dua kali di sofa, ia tidak bisa berhenti memikirkannya. Dan semalam, saat bercinta dengan Rangga, ia hampir menyebut nama Pak Harjo di puncak orgasme.
171Please respect copyright.PENANAfuiv1fbxit
Pak Harjo menarik tangan Dewi pelan sampai ia berdiri di antara kedua kaki mertuanya yang terbuka lebar. Tangan besar Pak Harjo langsung naik ke pinggang Dewi, lalu meraba bokongnya di atas daster.
171Please respect copyright.PENANAQu6VH0gt71
“Hari ini Ibu tidak akan pulang sampai sore,” kata Pak Harjo sambil menatap mata Dewi dalam-dalam. “Rangga juga sudah berangkat. Kita berdua saja di rumah ini.”
171Please respect copyright.PENANAyWJo3GtEgs
“Pak…” bisik Dewi, suaranya gemetar. “Kita… kemarin sudah…”
171Please respect copyright.PENANAa3CLpUunAR
“Kemarin belum selesai,” potong Pak Harjo. Ia berdiri perlahan. Tubuhnya yang tinggi besar sekarang berdiri sangat dekat dengan Dewi. “Hari ini Bapak akan menyelesaikannya. Bapak akan meniduri kamu. Sungguhan.”
171Please respect copyright.PENANArlBH82xiHd
Dewi menelan ludah. Vaginanya sudah mulai basah hanya karena mendengar kata-kata itu. “Pak… aku ini istri anak Bapak…”
171Please respect copyright.PENANAq53W2wUoFk
“Dan istri anak Bapak akan disentuh, dijilat, dan dientot oleh bapak mertuanya sendiri,” balas Pak Harjo dengan suara rendah dan tegas. “Kamu mau, kan? Tubuhmu kemarin sudah bilang ya.”
171Please respect copyright.PENANAgZdfzvFbNv
Tangan Pak Harjo turun ke paha Dewi, lalu naik ke dalam daster. Jari-jarinya langsung menyentuh celana dalam yang sudah lembab. Ia mengelus pelan di atas kain.
171Please respect copyright.PENANAKAtB0UiXrq
“Basah lagi,” gumamnya puas. “Istri anakku basah hanya karena disentuh bapak mertuanya.”
171Please respect copyright.PENANAPpEdQFgevg
Dewi mengerang pelan saat jari Pak Harjo menekan klitorisnya melalui celana dalam. Ia tidak menolak. Malah ia membuka kakinya sedikit lebih lebar.
171Please respect copyright.PENANAQXAVVaGA84
Pak Harjo menunduk dan mencium bibir Dewi. Ciuman kali ini tidak terburu-buru. Ia mencium pelan, lidahnya menjelajahi mulut menantunya dengan sabar. Tangan kirinya meremas payudara montok Dewi, ibu jarinya menggosok puting yang sudah mengeras di balik daster. Tangan kanannya terus mengelus vagina Dewi yang semakin basah.
171Please respect copyright.PENANAhimM0hMM3N
Mereka berciuman lama di dapur. Ciuman yang dalam, basah, penuh nafsu terpendam. Saat Pak Harjo akhirnya melepaskan ciuman, bibir Dewi bengkak dan merah.
171Please respect copyright.PENANA5wFja69hH2
“Buka dasternya,” perintah Pak Harjo pelan.
171Please respect copyright.PENANACSfCYXu9qB
Dewi dengan tangan gemetar membuka kancing daster satu per satu. Saat daster terbuka dan jatuh ke lantai, tubuhnya yang nyaris telanjang terlihat jelas di bawah cahaya pagi. Hanya memakai celana dalam putih kecil. Payudaranya yang besar dan montok terangkat indah, puting cokelat mudanya sudah mengeras penuh. Pinggangnya kecil, mengalir ke pinggul lebar dan bokong bulat kenyal yang sempurna. Kakinya panjang dan mulus.
171Please respect copyright.PENANAAnYrYbaMFR
Pak Harjo menatapnya seperti orang kelaparan yang melihat makanan lezat. “Cantik sekali. Payudara montokmu ini… Bapak sudah lama ingin menghisapnya. Bokong bulatmu ini… Bapak sudah lama ingin meremasnya sambil ngewe dari belakang.”
171Please respect copyright.PENANAUKBjhjXGi4
Ia menunduk, mencium leher Dewi, lalu turun ke dada. Mulutnya menemukan puting kiri dan langsung menghisap dengan kuat. Lidahnya melingkar di sekitar puting yang sensitif. Dewi mengerang, tangannya memegang rambut Pak Harjo.
171Please respect copyright.PENANAActlpfQ2l3
“Pak… ahh…”
171Please respect copyright.PENANA6LfJpD6Bu2
Pak Harjo pindah ke puting kanan, menghisap lebih keras, sesekali menggigit pelan. Sementara itu, tangannya turun, menarik celana dalam Dewi ke bawah sampai jatuh ke lantai. Jari tengahnya langsung masuk ke dalam vagina Dewi yang sudah sangat basah dan panas.
171Please respect copyright.PENANA72M9HQlYJV
“Basah sekali untuk kontol bapak mertua,” bisik Pak Harjo di telinga Dewi sambil menggerakkan jarinya pelan. “Kamu sudah siap untuk dientot, ya?”
171Please respect copyright.PENANAGqdJK797uf
Dewi hanya bisa mengangguk, napasnya tersengal. “Iya… Pak… aku sudah basah… untuk Bapak…”
171Please respect copyright.PENANAF7LLXaS5nD
Pak Harjo mengangkat Dewi dengan mudah — tubuhnya yang besar dan kuat masih mampu mengangkat menantunya yang ringan. Ia membawa Dewi ke ruang tamu dan meletakkannya di sofa panjang. Dewi berbaring telentang, kakinya terbuka lebar. Pak Harjo berlutut di antara kaki Dewi.
171Please respect copyright.PENANAzrVhuTDsIW
Ia menunduk dan mulai menjilat vagina Dewi dengan sangat pelan dan detail. Lidahnya menjelajahi setiap lipatan bibir kelamin yang basah, menghisap klitoris yang sudah bengkak, lalu menjulur masuk ke dalam lubang sempit yang meremas. Dewi meremas bantal sofa, pinggulnya terangkat mengikuti lidah mertuanya.
171Please respect copyright.PENANAMoXRKgXeRR
“Pak… enak… jangan berhenti… ahh…”
171Please respect copyright.PENANAqWOh5viNJ7
Pak Harjo memasukkan dua jari ke dalam vagina Dewi sambil terus menjilat klitorisnya. Jarinya bergerak pelan di awal, lalu semakin cepat, mencari titik sensitif di dalam. Dewi mulai mengerang lebih keras. Tubuhnya gemetar. Orgasme pertama datang dengan tiba-tiba — Dewi menjerit pelan, vagina berkontraksi kuat di sekitar jari Pak Harjo, cairan bening menyembur sedikit membasahi dagu mertuanya.
171Please respect copyright.PENANAqawnn666QQ
Pak Harjo tidak berhenti. Ia terus menjilat dan menggerakkan jarinya sampai Dewi mengalami orgasme kedua hanya beberapa menit kemudian. Kali ini lebih kuat. Dewi memegang kepala Pak Harjo erat, kakinya terbuka lebar, bokongnya terangkat dari sofa.
171Please respect copyright.PENANAlajNAk26VW
Setelah Dewi agak tenang, Pak Harjo berdiri. Ia melepas kaos oblongnya, memperlihatkan dada bidang berotot dan perut yang masih rata untuk usia 55 tahun. Lalu ia membuka celana pendeknya. Kontolnya yang besar sudah tegak sempurna — panjang sekitar 18 cm, tebal, dengan urat-urat menonjol, kepala yang membengkak dan mengkilap karena sudah mengeluarkan cairan. Berbeda dengan kontol Rangga yang lebih muda tapi lebih kecil.
171Please respect copyright.PENANALl3H3pYvpb
Dewi menatap kontol mertuanya dengan mata lebar. “Pak… besar sekali…”
171Please respect copyright.PENANAZmVmPQWw2P
“Lebih besar dari kontol anakku, kan?” tanya Pak Harjo sambil tersenyum kotor. “Ayo, hisap dulu. Basahi kontol bapak mertuamu sebelum Bapak masukin ke dalam istri anakku.”
171Please respect copyright.PENANA4WiI6Yc4Wc
Dewi bangun dari sofa, berlutut di lantai di depan Pak Harjo. Ia memegang kontol besar itu dengan kedua tangan. Jari-jarinya tidak bisa melingkari sepenuhnya. Ia menjulurkan lidah dan menjilat kepala kontol Pak Harjo pelan, mencicipi cairan yang keluar. Lalu ia membuka mulut lebar dan memasukkan kepala kontol ke dalam mulutnya.
171Please respect copyright.PENANARqXiy8wlnW
Pak Harjo mengerang pelan. “Bagus… hisap lebih dalam, menantu. Tunjukkan betapa kamu ingin kontol bapak mertuamu.”
171Please respect copyright.PENANAmo5jBvFD6K
Dewi mulai menghisap dengan ritme pelan. Mulutnya basah, lidahnya melingkar di sekitar batang kontol. Ia mencoba memasukkan lebih dalam, tapi kontol itu terlalu besar. Ia tersedak pelan, air liur mengalir dari sudut mulutnya ke dagu. Pak Harjo memegang rambut Dewi dan membantu menggerakkan kepalanya pelan.
171Please respect copyright.PENANAQ0bbjFru27
“Enak sekali… mulut istri anakku hangat dan basah… lebih enak dari mulut istriku sendiri…”
171Please respect copyright.PENANAuRdtk9XnSH
Dewi terus menghisap dengan rakus. Tangan kirinya meremas buah zakar Pak Harjo pelan, tangan kanannya memegang batang kontol yang tidak masuk ke mulutnya dan menggosoknya. Pak Harjo mengerang lebih keras, pinggulnya sedikit maju-maju.
171Please respect copyright.PENANAr4ENf1xzKy
Setelah beberapa menit, Pak Harjo menarik Dewi berdiri. “Cukup. Sekarang Bapak akan ngewe kamu.”
171Please respect copyright.PENANAqYeeaFonqa
Ia membaringkan Dewi kembali di sofa. Dewi berbaring telentang, kakinya diangkat dan dibuka lebar. Pak Harjo memposisikan diri di antara kaki Dewi. Ia menggosokkan kepala kontol besarnya di sepanjang bibir vagina Dewi yang basah, mengelus klitoris yang masih sensitif.
171Please respect copyright.PENANA6p5V7YMmRn
“Kamu siap?” tanya Pak Harjo sambil menatap mata Dewi.
171Please respect copyright.PENANAuRH6gjNQPY
“Iya, Pak… masukin… aku mau kontol Bapak di dalam…”
171Please respect copyright.PENANAmbW7PSXIbe
Pak Harjo mendorong pelan. Kepala kontolnya yang besar membuka bibir vagina Dewi yang sempit. Dewi mengerang panjang saat kepala kontol masuk. “Ahh… besar… Pak… pelan…”
171Please respect copyright.PENANAgDNDMGK2al
Pak Harjo mendorong lebih dalam, sentimeter demi sentimeter. Vagina Dewi yang sempit meremas kontolnya dengan kuat. Pak Harjo menggertakkan gigi karena nikmatnya. “Sempit sekali… istri anakku sempit dan basah… kontol Bapak masuk semua…”
171Please respect copyright.PENANAZjFgdXTS8O
Saat kontol Pak Harjo sudah masuk sepenuhnya, ia diam sebentar, membiarkan Dewi menyesuaikan. Lalu ia mulai bergerak pelan. Setiap kali ia menarik keluar hampir seluruhnya lalu mendorong masuk lagi dengan kuat, Dewi mengerang tanpa henti.
171Please respect copyright.PENANAfJazfUnMnU
“Pak… ahh… dalam sekali… kontol Bapak besar… enak…”
171Please respect copyright.PENANAWTLepW9FeU
Pak Harjo mengayun pinggulnya dengan ritme lambat tapi dalam. Setiap dorongan membuat Dewi terdorong ke belakang. Payudaranya yang montok bergoyang naik turun. Pak Harjo meremas kedua payudara itu dengan tangan besarnya, ibu jarinya menggosok puting.
171Please respect copyright.PENANAX04PHRGBfy
“Bayangin kalau Rangga tahu,” bisik Pak Harjo sambil terus mengayun. “Bayangin anakku tahu ayahnya sedang ngewe istrinya di sofa rumah ini. Bayangin kontol bapak mertuamu yang besar ini sedang merusak vagina istri anakku.”
171Please respect copyright.PENANAhkADIdWAHI
Dewi mengerang lebih keras. Kata-kata kotor itu justru membuat vaginanya semakin basah dan meremas lebih kuat. “Pak… jangan bilang begitu… tapi… ahh… enak…”
171Please respect copyright.PENANAHJl4Uctipy
Pak Harjo mempercepat gerakannya. Suara “plak-plak” dari kontolnya yang besar menampar vagina basah Dewi menggema di ruang tamu yang sunyi. Dewi mencapai orgasme ketiga kali itu — tubuhnya gemetar hebat, kakinya melingkar di pinggang Pak Harjo, vagina berkontraksi kuat di sekitar kontol yang sedang menggerogotinya.
171Please respect copyright.PENANAb1KH9oEsCe
Pak Harjo tidak berhenti. Ia terus mengayun sampai Dewi tenang sedikit, lalu ia menarik keluar kontolnya. “Balik badan. Doggy.”
171Please respect copyright.PENANA6jGa8Bbbkk
Dewi dengan tangan gemetar membalikkan tubuhnya. Ia berlutut di sofa, bokong bulatnya terangkat tinggi ke belakang. Pak Harjo berdiri di belakangnya. Ia meremas bokong Dewi dengan kedua tangan, membuka lebar, lalu menggosokkan kontolnya di sepanjang celah bokong dan vagina.
171Please respect copyright.PENANACSz2GZV7Lq
“ Bokongmu yang bulat ini enak sekali dipegang,” kata Pak Harjo sambil meremas kuat. Lalu ia mendorong kontolnya masuk lagi dari belakang dengan satu dorongan kuat.
171Please respect copyright.PENANARBCcr0PTrT
Dewi menjerit pelan ke bantal. “Pak… ahh… dari belakang… dalam sekali…”
171Please respect copyright.PENANA8SbUZXhlEO
Pak Harjo mulai mengayun dari belakang. Tangan kirinya memegang pinggang Dewi, tangan kanannya meraih rambut Dewi dan menarik pelan. Setiap dorongan kuat membuat bokong Dewi bergoyang dan suara “plak” keras terdengar. Pak Harjo memukul bokong Dewi pelan tapi tegas beberapa kali, meninggalkan bekas merah samar.
171Please respect copyright.PENANA6zE18lBAqI
“ Lihat bokongmu ini… bergoyang setiap kali kontol Bapak masuk. Kamu suka dientot dari belakang sama bapak mertuamu, ya?”
171Please respect copyright.PENANAOECfAcXyJP
“Iya… Pak… aku suka… ahh… ngewe aku lebih keras…”
171Please respect copyright.PENANA9TsO2uwDsf
Kelanjutannya ada link di bawah ini


