Aku bernama Reno. Dua puluh tiga tahun. Tinggal di rumah yang dulu terasa cukup untuk aku dan ibu saja, sekarang terasa sempit meski ukurannya bertambah. Bukan karena dindingnya yang berubah, tapi karena orang-orang di dalamnya.
2920Please respect copyright.PENANA3hy4ih7iDb
Ibu ku, Maya, empat puluh dua tahun. Setelah ayah kandungku meninggal lima tahun lalu, ibu sempat tenggelam dalam kesedihan yang panjang. Aku melihatnya bangun pagi dengan mata bengkak, memasak untukku dengan senyum yang tidak sampai ke mata. Dua tahun lalu ia menikah lagi dengan Hendra, pria empat puluh delapan tahun yang membawa anak laki-lakinya sendiri, Bima, dua puluh lima tahun.
2920Please respect copyright.PENANAkRxQdCtbPr
Sejak saat itu, rumah ini berubah pelan-pelan, seperti air yang mendidih tanpa kita sadari sampai uapnya sudah terasa di kulit.
2920Please respect copyright.PENANAaKkkCRaL1b
Aku ingat hari pertama Bima pindah. Ia datang dengan koper besar dan senyum lebar yang seolah sudah menguasai ruangan. Tubuhnya tinggi, bahu lebar, rambut pendek yang selalu rapi. Ada aura percaya diri yang berlebihan, seolah ia tahu persis efek yang ditimbulkannya pada orang di sekitarnya.
2920Please respect copyright.PENANAYH6eJLLl5C
Ibu menyambutnya di depan pintu dengan pelukan singkat. Aku melihat tangan Bima menyentuh pinggang ibu lebih lama dari yang seharusnya. Bukan canggung, tapi seolah sudah biasa. Ibu tertawa kecil, pipinya agak merah.
2920Please respect copyright.PENANAqvWhlNRJO7
“Selamat datang di rumah ini, Nak,” kata ibu. Suaranya lembut, seperti biasa, tapi ada nada yang berbeda. Nada yang dulu hanya muncul saat ia bicara dengan ayahku dulu.
2920Please respect copyright.PENANApXLvL3jie4
Pak Hendra berdiri di belakang, tangannya di bahu ibu. “Maya sudah seperti ibu sendiri untuk Bima. Kamu harus berterima kasih, Reno.”
2920Please respect copyright.PENANA9EwH0xvPcH
Aku hanya mengangguk. Tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Tapi ada sesuatu di matanya yang membuatku tidak nyaman.
2920Please respect copyright.PENANACjCrpcUWsO
Malam itu, kami makan malam bersama untuk pertama kalinya sebagai keluarga baru. Ibu memasak nasi goreng spesial, meja penuh dengan lauk. Ia mengenakan daster katun tipis berwarna krem yang menempel di tubuhnya. Daster itu bukan yang paling ketat, tapi cukup untuk memperlihatkan lekuk dada dan pinggulnya yang masih montok. Payudaranya yang besar sedikit bergoyang saat ia bergerak mengambil piring dari rak. Aku memperhatikan bagaimana Bima mengikuti gerakan itu dengan mata yang tidak berusaha disembunyikan.
2920Please respect copyright.PENANAKuHsfW2CMF
“Kalian berdua beruntung punya ibu yang bisa masak seperti ini setiap hari,” kata Bima sambil menyendok nasi. Ia duduk di sebelah ibu. “Kalau di rumah lama, aku biasanya makan mie instan atau pesan online.”
2920Please respect copyright.PENANAZQluAjieIk
Ibu tersenyum, menyeka tangannya di apron. “Kalau sudah di sini, jangan harap makan mie lagi. Ibu akan masakkan yang enak-enak.”
2920Please respect copyright.PENANA6WWIJ3quxi
Pak Hendra tertawa dari ujung meja. “Lihat, Reno? Ibumu sudah betah sekali di sini. Dulu ia sering bilang masak hanya untukmu. Sekarang sudah untuk kita bertiga.”
2920Please respect copyright.PENANALmgIku6lsB
Aku menatap piringku. “Iya, Pak.”
2920Please respect copyright.PENANAfNzQ5JclFw
Suasana terasa hangat. Terlalu hangat. Bima terus bercanda dengan ibu, menceritakan hal-hal kecil tentang pekerjaannya, tentang bagaimana ia pernah hampir kena tipu klien. Ibu mendengarkan dengan perhatian penuh, sesekali tertawa dan menyentuh lengan Bima ringan. Sentuhan itu tidak lama, tapi cukup untuk membuat dadaku terasa sesak.
2920Please respect copyright.PENANAFnf0mGPPEh
Setelah makan, ibu berdiri untuk membersihkan meja. Dasternya naik sedikit saat ia membungkuk mengambil piring kotor. Bokongnya yang bulat dan montok terlihat jelas di balik kain tipis itu. Aku melihat Bima menatapnya tanpa malu. Pak Hendra juga, tapi dengan cara yang lebih tenang, seolah sudah terbiasa memiliki hak untuk memandang.
2920Please respect copyright.PENANAmiXsng7Sk7
Malam itu aku tidur dengan perasaan aneh. Bukan marah. Bukan cemburu biasa. Ada sesuatu yang panas di perutku, sesuatu yang membuatku terbangun di tengah malam dengan tangan di dalam celana dan gambar ibu yang membungkuk di meja makan masih jelas di kepala.
2920Please respect copyright.PENANAMCrmsMDnZw
Minggu-minggu berikutnya berlalu dengan pola yang sama. Ibu semakin sering tersenyum. Ia mulai mengenakan pakaian yang sedikit lebih terbuka di rumah—blouse tanpa lengan yang memperlihatkan belahan dada, rok yang sedikit di atas lutut. Bukan vulgar. Tapi cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya berhenti sejenak.
2920Please respect copyright.PENANAthFe0dO2Gu
Suatu sore, aku pulang lebih awal dari kampus. Rumah sepi. Aku mendengar suara tawa dari dapur. Aku melangkah pelan, sepatu dilepas di depan pintu.
2920Please respect copyright.PENANAQWiHk5a29f
Ibu berdiri di depan kompor, mengaduk sesuatu di wajan. Bima berdiri di belakangnya, sangat dekat. Tangannya di atas tangan ibu yang memegang spatula, seolah membantu mengaduk. Tubuh mereka hampir menempel. Ibu tertawa, kepalanya sedikit menoleh ke belakang.
2920Please respect copyright.PENANAO8cpINNeEl
“Bima, jangan begitu. Nanti ibu kaget.”
2920Please respect copyright.PENANAklgFp7cTH9
“Kenapa, Bu? Kan Bima cuma bantu. Ibu kan bilang tangan ibu capek tadi.”
2920Please respect copyright.PENANA5bLBRDArf8
Ibu tidak menjauh. Malah ia bersandar sedikit ke belakang, punggungnya menyentuh dada Bima. Aku melihat wajah ibu dari samping—pipinya merah, napasnya agak cepat. Bima menunduk, bibirnya hampir menyentuh telinga ibu.
2920Please respect copyright.PENANAAPqlpK6AYA
“Baunya enak sekali, Bu. Bukan cuma masakannya.”
2920Please respect copyright.PENANAKev2Qj8YN3
Ibu tertawa lagi, suaranya lebih rendah. “Dasar anak nakal.”
2920Please respect copyright.PENANArrz5m6lViw
Aku mundur pelan sebelum mereka menyadari kehadiranku. Jantungku berdetak sangat kencang. Ada rasa marah yang naik, tapi di bawahnya ada sesuatu yang lain—sesuatu yang membuat celanaku terasa sempit. Aku naik ke kamar, menutup pintu, dan berdiri di depan cermin lama.
2920Please respect copyright.PENANATKizvyWYM7
Wajahku panas. Aku membayangkan apa yang akan terjadi kalau aku tidak mundur. Apakah Bima akan mencium leher ibu? Apakah ibu akan membiarkannya? Apakah Pak Hendra tahu? Apakah ia membiarkannya?
2920Please respect copyright.PENANAikltsMt3qT
Malam itu, saat makan malam, suasana terasa berbeda. Ibu duduk di antara Pak Hendra dan Bima. Pak Hendra sering menyentuh lutut ibu di bawah meja. Aku melihat jari-jarinya bergerak pelan, naik turun. Ibu tidak menyingkirkan tangan itu. Malah ia sesekali menggigit bibir bawahnya saat jari itu naik lebih tinggi.
2920Please respect copyright.PENANATk2NGf75zt
Bima bercerita tentang proyek baru di kantor. Suaranya santai, tapi matanya sesekali melirik ke arah dada ibu yang terlihat dari belahan blouse-nya. Ibu memakai bra hitam tipis hari itu. Putingnya samar-samar terlihat saat cahaya lampu menyentuh kain.
2920Please respect copyright.PENANAc0oBXteHEM
“Reno, kamu diam saja malam ini,” kata ibu tiba-tiba. Matanya menatapku dengan lembut, tapi ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang seperti… menantang.
2920Please respect copyright.PENANA78fSNnyAIf
“Aku capek, Bu,” jawabku. Suaraku terdengar datar di telingaku sendiri.
2920Please respect copyright.PENANA8HjNYkbNrZ
Pak Hendra tertawa kecil. “Anak muda sekarang memang banyak yang capek. Padahal usia masih muda. Kalau Bima, energinya selalu penuh. Bisa bantu ibumu di rumah sampai malam.”
2920Please respect copyright.PENANAguJe91s8mB
Bima tersenyum lebar. “Iya, Pak. Ibu kan sudah seperti ibu sendiri. Bima senang bisa membantu.”
2920Please respect copyright.PENANA01ojTIrtgP
Ibu menoleh ke Bima, senyumnya lembut. “Kamu memang anak baik, Bima. Ibu beruntung punya kamu di rumah ini.”
2920Please respect copyright.PENANArcB1arWtnV
Tangan Pak Hendra di bawah meja bergerak lagi. Aku melihat ibu menarik napas dalam-dalam, dada naik turun. Matanya setengah tertutup sesaat.
2920Please respect copyright.PENANANv6U2kGTCd
Malam itu, setelah semua orang tidur, aku tidak bisa tidur. Aku turun ke dapur untuk minum air. Saat melewati kamar tidur utama, pintunya tidak tertutup rapat. Ada celah kecil. Cahaya lampu tidur menyinari bagian dalam.
2920Please respect copyright.PENANAf5j0yEBJyq
Aku berhenti. Mendengar suara.
2920Please respect copyright.PENANAnBLqWpRAvd
Bukan suara bicara. Suara napas. Napas ibu yang tersengal pelan. Lalu suara Pak Hendra yang rendah, “Kamu semakin cantik saja akhir-akhir ini, Maya. Tubuhmu… semakin menggoda.”
2920Please respect copyright.PENANAIoPUmsi9jo
Lalu suara lain. Suara Bima. “Bu… boleh Bima cium?”
2920Please respect copyright.PENANArxTnTJNOeB
Tidak ada jawaban verbal. Hanya suara ibu yang menghela napas panjang, lalu suara ciuman basah.
2920Please respect copyright.PENANAjMG3mmJy9c
Aku berdiri di depan celah pintu itu, tubuhku kaku. Melalui celah, aku melihat ibu duduk di tepi tempat tidur. Pak Hendra di sebelahnya, tangannya sudah di dalam blouse ibu, meremas payudara ibu yang besar. Ibu menengadahkan kepala, bibirnya terbuka. Bima berdiri di depan ibu, membungkuk, mencium leher ibu dengan rakus. Tangan Bima di paha ibu, naik perlahan ke bawah rok yang sudah terangkat.
2920Please respect copyright.PENANAEKJjBYboRl
Ibu tidak menolak. Malah ia mengangkat tangan, menyentuh rambut Bima, menariknya lebih dekat. Suaranya keluar pelan, penuh napas, “Bima… hati-hati… Reno bisa bangun…”
2920Please respect copyright.PENANAx9wxNU9q7O
Pak Hendra tertawa rendah di telinga ibu. “Biarkan saja. Kalau ia bangun, ia akan lihat betapa bahagianya ibunya sekarang.”
2920Please respect copyright.PENANAfR9iHwjkQP
Ibu menoleh ke arah pintu. Matanya terbuka. Dan untuk sesaat yang sangat singkat, pandangannya bertemu dengan celah itu. Ia melihatku. Aku yakin ia melihatku.
2920Please respect copyright.PENANAjbiAROx82r
Tapi ia tidak berhenti. Malah ia menarik Bima lebih dekat, membiarkan bibir anak tirinya itu mencium bibirnya. Ciuman yang dalam, lidah bertemu. Sementara tangan Pak Hendra sudah membuka kancing blouse ibu, memperlihatkan bra hitam yang menahan dua buah dada montok yang naik turun cepat.
2920Please respect copyright.PENANAfeWAfF1txI
Aku mundur selangkah. Kaki terasa lemas. Celanaku sudah sangat sempit, keras, sakit. Aku ingin berteriak. Ingin masuk dan menghentikan semuanya. Tapi kaki tidak mau bergerak. Hanya berdiri di sana, menyaksikan ibuku—ibuku yang dulu hanya milik ayahku, yang dulu selalu menjaga jarak dengan pria lain—sekarang membiarkan dua pria itu menyentuhnya, menciumnya, dan ia merespons dengan tubuh yang gemetar, napas yang tersengal, dan tangan yang aktif membalas sentuhan.
2920Please respect copyright.PENANAyJsiPUwluL
Ibu menarik napas dalam saat Bima mencium putingnya yang sudah telanjang. Suaranya pecah, “Ahh… Bima… jangan gigit… pelan-pelan…”
2920Please respect copyright.PENANApdJos4Zqyn
Pak Hendra tertawa lagi, tangannya turun ke antara paha ibu. “Lihat, anakku. Ibumu sudah basah sekali. Kamu membuat ibumu seperti ini.”
2920Please respect copyright.PENANAuSD72uxiwW
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana. Waktu terasa berhenti. Aku hanya bisa melihat, mendengar, dan merasakan panas yang menyebar ke seluruh tubuh. Rasa bersalah yang luar biasa bercampur dengan gairah yang tidak bisa ditahan. Aku membenci diri sendiri karena tidak bisa berhenti menonton. Membenci karena bagian dari diriku ingin melihat lebih banyak. Ingin melihat ibu telanjang bulat. Ingin melihat apa yang akan dilakukan Bima dan Pak Hendra padanya malam ini.
2920Please respect copyright.PENANAar2FNgDICe
Ibu menoleh lagi ke arah pintu. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bengkak karena ciuman. Ia melihat ke arah tempat aku berdiri. Dan kali ini, ia tersenyum kecil. Senyum yang penuh rahasia. Senyum yang seolah berkata: *Aku tahu kamu di sana, Reno. Dan aku tidak peduli.*
2920Please respect copyright.PENANA5Dl17vujA3
Lalu ia menutup mata, membiarkan Bima mendorongnya perlahan ke belakang sampai punggungnya menyentuh kasur. Pak Hendra sudah membuka celananya. Bima juga.
2920Please respect copyright.PENANAS4A0Ym9Afw
Aku mundur. Kali ini kaki bergerak. Aku naik ke kamar, menutup pintu pelan, bersandar di belakangnya dengan napas yang sangat kacau.
2920Please respect copyright.PENANApCzMtY0xzj
Di luar, dari kamar utama, terdengar suara ibu yang mulai mengerang pelan. Suara yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Suara yang penuh kenikmatan, penuh penyerahan.
2920Please respect copyright.PENANALFRhjTJSds
Aku merosot ke lantai. Tangan sudah di dalam celana tanpa sadar. Aku membenci ini. Aku membenci betapa kerasnya aku. Membenci betapa aku tidak bisa berhenti membayangkan apa yang terjadi di balik pintu itu.
2920Please respect copyright.PENANA3EbLj5X9xR
Tapi yang paling aku benci adalah kenyataan bahwa aku ingin kembali ke celah pintu itu. Ingin melihat lebih banyak. Ingin mendengar ibu mengerang lebih keras.
2920Please respect copyright.PENANAOR1asxUcwQ
Di luar kamar, suara ibu semakin jelas. Ia memanggil nama Bima dengan suara yang pecah. Lalu nama Pak Hendra. Bergantian. Seolah keduanya sudah menjadi miliknya. Atau sebaliknya.
2920Please respect copyright.PENANA8VaTrFmTD1
Di luar sana, ibuku sedang disentuh, dicium, dan disentuh lagi oleh ayah tiriku dan anak tirinya.
2920Please respect copyright.PENANAw698QUfHCb
Setelah beberapa menit aku putuskan untuk kembali.
2920Please respect copyright.PENANAvKtLvxX9vK
Kakiku bergerak, pelan tapi pasti, kembali ke lorong yang gelap. Jantungku berdetak begitu kencang sampai terasa di telinga. Napas tersengal, tangan dingin dan basah oleh keringat. Pintu kamar utama masih terbuka sedikit, celah yang cukup untuk melihat bayangan bergerak di baliknya. Suara dari dalam sudah tidak lagi pelan. Erangan ibu terdengar jelas, penuh napas panas dan kenikmatan yang tidak bisa disembunyikan.
2920Please respect copyright.PENANAdCf61vgQ4S
Aku mendekat lagi. Mata menempel di celah itu seperti orang yang kehausan mencari air. Dan apa yang kulihat membuat lututku lemas seketika.
2920Please respect copyright.PENANAvJm2tAWfLz
Ibu sudah setengah telanjang di atas tempat tidur. Blouse kremnya terbuka lebar, kancing-kancingnya lepas satu per satu. Bra hitam tipis yang biasa ia pakai ditarik ke bawah, sehingga dua buah payudaranya yang besar dan montok terpapar sepenuhnya. Kulitnya putih mulus, sedikit berkeringat di bawah cahaya lampu tidur yang redup. Putingnya yang cokelat tua sudah mengeras sempurna, bengkak dan mengkilap karena air liur. Pak Hendra sedang menghisap satu puting dengan rakus, bibirnya menarik-narik daging lembut itu, lidahnya berputar-putar di sekitar areola yang gelap. Tangannya yang kasar meremas payudara satunya dengan kuat, jari-jarinya tenggelam ke dalam daging montok yang empuk, membuatnya berubah bentuk di genggaman.
2920Please respect copyright.PENANAIIRGOZfGf4
Di sebelah lain, Bima membungkuk di atas ibu, mencium lehernya dengan lapar. Bibirnya bergerak dari bawah telinga ke bahu, menghisap kulit putih itu sampai meninggalkan tanda merah samar. Tangan kirinya sudah di dalam rok ibu yang terangkat tinggi ke pinggang, jari-jarinya bergerak pelan di antara paha yang terbuka.
2920Please respect copyright.PENANAL8rpdGd9ZP
Ibu mengerang panjang, kepalanya menengadah ke belakang, rambut hitam panjangnya tersebar di bantal. “Hendra… ahh… pelan dulu, Mas… Bima… jangan gigit puting ibu terlalu keras…”
2920Please respect copyright.PENANAoZlRMLt5xp
Suara ibu pecah, penuh napas. Tapi ia tidak mendorong mereka pergi. Malah tangannya yang satu menyentuh rambut Bima, menariknya lebih dekat, sementara tangan satunya meraih lengan Pak Hendra yang sedang meremas dadanya.
2920Please respect copyright.PENANAyv4lHU6zaz
Aku berdiri di luar, tubuh gemetar. Kontolku sudah keras kembali, menekan celana pendek yang kubawa. Aku tidak bisa bergerak. Tidak bisa berteriak. Hanya bisa menonton bagaimana ibuku—wanita yang dulu selalu menjaga jarak, yang dulu hanya tersenyum sopan pada pria lain—sekarang membiarkan dua pria itu menyentuh tubuhnya dengan bebas.
2920Please respect copyright.PENANACV3vZ6dy0O
Pak Hendra melepaskan puting ibu dari mulutnya, meninggalkan jejak air liur yang mengkilap. Ia menatap ibu dengan mata penuh nafsu. “Kamu sudah basah, Maya. Aku bisa merasakannya dari sini. Rokmu basah kuyup.”
2920Please respect copyright.PENANA47LPFGxGfj
Ibu menggigit bibir bawahnya, pipinya merah padam. “Mas… jangan bilang begitu… Reno bisa mendengar…”
2920Please respect copyright.PENANApV6tJzvOGh
Bima tertawa pelan di leher ibu. “Biarkan saja, Bu. Kalau ia bangun, ia akan lihat betapa bahagianya ibunya malam ini.” Tangannya bergerak lebih dalam di bawah rok. Aku melihat jari tengahnya bergerak pelan, mendorong kain dalam ibu ke samping. Lalu jari itu masuk.
2920Please respect copyright.PENANAqHsjkZs3qw
Ibu melengkungkan punggungnya dengan tajam. “Ahh—Bima…!”
2920Please respect copyright.PENANAI8ehFcvUGe
Jari Bima bergerak masuk-keluar dengan ritme lambat tapi dalam. Aku bisa mendengar suara basah yang samar dari dalam rok itu. Ibu menggoyang pinggulnya mengikuti gerakan jari itu, napasnya semakin cepat. Pak Hendra kembali menghisap putingnya, kali ini lebih keras, giginya sesekali menyentuh daging sensitif itu. Ibu mengerang lebih nyaring, tangannya menekan kepala Pak Hendra ke dadanya.
2920Please respect copyright.PENANApFJtwspydM
“Hisap lebih dalam, Mas… ibu suka… ahh… Bima, jari mu… dalam sekali…”
2920Please respect copyright.PENANAao9f8KiNtx
Aku tidak tahan. Tangan kananku turun sendiri ke celana pendek, membuka kancing dengan gemetar. Kontolku melonjak keluar, keras dan panas di genggaman. Aku mulai mengusap pelan, mengikuti ritme jari Bima yang masuk-keluar dari vagina ibu. Rasa bersalah yang luar biasa bercampur dengan gairah yang tidak bisa lagi kutahan. Aku membenci diri sendiri karena ini. Tapi aku tidak bisa berhenti menonton. Tidak bisa berhenti membayangkan bagaimana rasanya menjadi salah satu dari mereka—menyentuh ibu seperti itu, membuatnya mengerang seperti itu.
2920Please respect copyright.PENANAmJTZjUAEWJ
Bima menarik jarinya keluar. Jari tengah dan telunjuknya berkilau basah oleh cairan ibu. Ia mengangkat tangan itu ke depan wajah ibu, memperlihatkannya. “Lihat, Bu. Sudah sangat basah. Bau ibu… sangat menggoda.”
2920Please respect copyright.PENANAikOhtSdNti
Ibu menatap jarinya sendiri yang basah, napasnya tersengal. Matanya berkaca-kaca karena nafsu. “Bima… jangan perlihatkan…”
2920Please respect copyright.PENANAqRH7lk8NTe
Tapi Bima tidak peduli. Ia menjilat jarinya sendiri pelan, mata tidak pernah lepas dari wajah ibu. “Manis. Seperti yang Bima bayangkan sejak lama.”
2920Please respect copyright.PENANAMcOZ6seKuk
Pak Hendra tertawa rendah, tangannya turun ke pinggang ibu. “Sudah cukup bermain-main. Lepas roknya.”
2920Please respect copyright.PENANARFts7XdLOF
Mereka bekerja sama. Bima menarik rok ibu ke bawah, sementara Pak Hendra mengangkat pinggul ibu sedikit. Rok itu meluncur ke lantai, diikuti oleh celana dalam ibu yang sudah benar-benar basah. Sekarang ibu hanya memakai bra yang ditarik ke bawah dan tidak ada lagi di bawah pinggang.
2920Please respect copyright.PENANA5ZnDtEHp4I
Tubuh ibu telanjang dari pinggang ke bawah terpapar di depan mataku. Aku menelan ludah dengan susah payah. Vaginanya… indah dan menggoda. Bibir luarnya tebal dan montok, berwarna pink kecokelatan, sudah mengkilap basah oleh cairannya sendiri. Klitorisnya yang kecil menonjol sedikit dari balik lipatan, bengkak karena rangsangan. Lubangnya berkedut pelan, mengeluarkan cairan bening yang mengalir perlahan ke bawah, membasahi anusnya yang pink dan bersih. Bau khas wanita yang terangsang menyebar samar ke udara—manis, agak asin, sangat memabukkan.
2920Please respect copyright.PENANAbdev7nnGSI
Pak Hendra meletakkan tangannya di paha ibu, mendorongnya lebih lebar. “Lihat betapa cantiknya vaginamu, Maya.
2920Please respect copyright.PENANAqtj2WqtjQJ
Ibu menutup mata malu-malu, tapi pinggulnya sedikit terangkat, seolah menawarkan diri. “Mas… jangan lihat begitu… malu…”
2920Please respect copyright.PENANAsvkhSkuv89
Bima sudah turun dari tempat tidur. Ia berlutut di lantai, di antara kaki ibu yang terbuka lebar. Tanpa banyak bicara, ia menunduk dan menjulurkan lidahnya.
2920Please respect copyright.PENANAzupF0eH9Ng
Kontak pertama lidah Bima dengan vagina ibu membuat ibu melengkungkan tubuhnya dengan kuat. “Ahhh—Bima…!”
2920Please respect copyright.PENANA27vJZQOTpw
Lidahnya bergerak pelan dari bawah ke atas, menjilat seluruh lipatan basah itu, menikmati setiap tetes cairan ibu. Ia menghisap klitoris ibu dengan lembut tapi mantap, bibirnya membungkus daging sensitif itu, lidahnya berputar-putar di sekitarnya. Ibu mengerang tanpa henti, tangannya meraih rambut Bima, menekannya lebih dalam ke selangkangannya. Pinggul ibu bergoyang mengikuti gerakan lidah itu, seolah mencari lebih banyak gesekan.
2920Please respect copyright.PENANAkNtD2KVPYk
Pak Hendra naik ke tempat tidur, duduk di samping ibu. Ia mencium bibir ibu dalam-dalam, lidahnya masuk ke dalam mulut ibu yang terbuka karena erangan. Tangan kanannya kembali meremas payudara ibu, jari-jarinya menarik-narik puting yang keras. Sementara tangan kirinya turun ke kepala Bima, mendorongnya lebih dalam.
2920Please respect copyright.PENANAOVFKoRZZoE
“Hisap klitoris ibumu lebih kuat, Bima,” kata Pak Hendra sambil melepaskan ciuman sebentar. “Ibu suka begitu. Lihat, pinggulnya sudah tidak bisa diam.”
2920Please respect copyright.PENANA5FAgFD0QwG
Bima menurut. Ia menghisap klitoris ibu lebih keras, lidahnya menekan dan menggetar di sana. Satu jarinya masuk ke dalam vagina ibu, bergerak masuk-keluar dengan ritme yang sama dengan hisapannya. Suara basah dan slurping terdengar jelas di kamar yang tenang. Ibu mengerang lebih nyaring, suaranya pecah-pecah.
2920Please respect copyright.PENANAYoaFPYm3sk
“ Bima… ahh… lidahmu… panas… dalam… jangan berhenti… ahh… Mas Hendra, cium ibu lagi… ibu mau dicium…”
2920Please respect copyright.PENANAYJ0bMJG5pD
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/tokoku56


