Malam itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya, meskipun tiga orang masih tinggal di dalamnya. Aku, Budi, 48 tahun, duduk di ujung meja makan kayu jati panjang yang sudah menemani keluarga kami selama belasan tahun. Lampu gantung kristal yang rendah menyinari piring-piring kosong dan gelas-gelas yang masih setengah berisi air putih. Aroma nasi goreng spesial Nadia masih menggantung di udara, bercampur dengan wangi sambal terasi yang ia buat sendiri setiap Jumat malam.
4784Please respect copyright.PENANAhgzCRwaHXl
Nadia, menantuku yang berusia 26 tahun, baru saja berdiri untuk membersihkan meja. Tubuhnya yang proporsional bergerak dengan anggun di balik apron katun putih sederhana yang ia pakai. Kemeja lengan pendek biru muda yang ia kenakan malam itu agak longgar di bagian dada, tapi setiap kali ia membungkuk untuk mengambil piring, belahan payudaranya yang montok dan berisi terlihat jelas. Payudara itu penuh, berat, dengan bentuk yang sempurna seperti buah mangga matang; putingnya yang kecil dan sensitif kadang membuat tonjolan samar di balik kain tipis ketika udara AC menyentuhnya. Pinggangnya ramping, mengalir mulus ke bokong yang bulat, padat, dan menggoyang pelan setiap langkahnya. Bokong itu begitu montok dan tegang, seolah diciptakan untuk dipeluk dari belakang. Kakinya panjang, mulus, dengan paha bagian dalam yang halus dan sedikit berisi, terlihat menggoda saat rok katun pendeknya naik sedikit karena gerakan membersihkan meja. Aku cepat menunduk ke piringku, berusaha mengusir pikiran yang tidak seharusnya muncul di kepala seorang mertua.
4784Please respect copyright.PENANAow0jXww6uh
Raka, anakku satu-satunya yang kini 28 tahun, duduk di seberangku. Ia makan sedikit saja malam ini. Matanya sering melirik Nadia dengan pandangan yang penuh kasih sayang, tapi juga ada beban berat yang tidak bisa ia sembunyikan. Aku sudah memperhatikan perubahan itu selama beberapa bulan terakhir. Raka yang biasanya ceria dan banyak bicara tentang rencana masa depan kini lebih pendiam. Nadia pun demikian. Senyumnya masih ada, tapi matanya sering kosong saat ia mengira tidak ada yang melihat.
4784Please respect copyright.PENANA5drBjhfA1Q
“Kalian berdua hari ini sepertinya lelah,” kataku pelan sambil meletakkan sendok. “Ada masalah di kantor, Raka?”
4784Please respect copyright.PENANAbjpzBlzbJf
Raka menggeleng pelan. “Bukan kantor, Ayah. Cuma… capek saja.”
4784Please respect copyright.PENANAbqaWaJxI6T
Nadia yang sedang mengambil gelas kosong di dekatku tersenyum tipis. “Ayah jangan khawatir. Kami baik-baik saja. Mungkin besok kami akan pergi ke mal sebentar, cari angin.”
4784Please respect copyright.PENANAVOvqCEStp4
Suara Nadia lembut, seperti biasa. Ia memang selalu berusaha menjaga suasana rumah tetap hangat sejak ia menikah dengan Raka tiga tahun lalu. Aku ingat betul hari pernikahan mereka. Nadia berdiri di pelaminan dengan gaun putih sederhana yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Payudaranya yang montok terangkat indah oleh korset gaun, bokongnya yang bulat membentuk siluet yang membuat beberapa tamu pria melirik dua kali. Kakinya yang panjang terlihat mulus di bawah rok yang sedikit mengembang. Aku saat itu hanya merasa bangga memiliki menantu secantik dan sebaik itu. Tidak lebih.
4784Please respect copyright.PENANAT8qLrNecjs
Setelah Nadia membawa piring-piring ke dapur, Raka menatapku lama. “Ayah, setelah Nadia mandi nanti, boleh kita bicara berdua di ruang kerja? Ada hal penting.”
4784Please respect copyright.PENANApfDZcWe2bb
Aku mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut. Ada sesuatu dalam nada suara Raka yang membuat dadaku sedikit sesak.
4784Please respect copyright.PENANAKnAtnFLK8r
Setelah Nadia naik ke kamar mandi lantai atas, Raka dan aku berjalan ke ruang kerja di belakang rumah. Ruangan itu gelap kecuali lampu meja yang aku nyalakan. Bau kertas dan tinta masih terasa. Aku duduk di kursi kulit besar, Raka duduk di kursi tamu di depanku. Ia memegang gelas air putih dengan kedua tangan, jari-jarinya putih karena menekan terlalu kuat.
4784Please respect copyright.PENANA8yufz4trHm
“Ayah…” Raka mulai dengan suara rendah. “Aku sudah tidak tahu harus mulai dari mana. Ini sangat berat. Tapi kalau aku tidak bicara sekarang, aku takut akan gila.”
4784Please respect copyright.PENANAHa28d0eDOy
Aku diam, memberinya ruang. Raka menarik napas panjang.
4784Please respect copyright.PENANAMoFEYdS19E
“Nadia dan aku sudah mencoba punya anak sejak tahun pertama pernikahan. Awalnya kami pikir biasa saja, mungkin belum waktunya. Tapi setelah satu setengah tahun belum juga, kami mulai khawatir. Kami pergi ke dokter spesialis kandungan. Nadia diperiksa, hasilnya sehat. Rahimnya bagus, hormonnya normal, ovulasi teratur. Lalu giliran aku. Tes sperma dilakukan dua kali di laboratorium berbeda. Hasilnya… jelek sekali. Jumlah sperma rendah, motilitas buruk, morfologi banyak yang abnormal. Dokter bilang kemungkinan hamil secara alami kurang dari lima persen. Bahkan dengan IUI atau IVF pun peluangnya kecil karena kualitas sperma ku.”
4784Please respect copyright.PENANAjKK1552pFx
Raka berhenti sejenak, matanya berkaca-kaca. Aku merasa dadaku ditusuk. Aku tahu betapa Nadia mendambakan anak. Ia sering bermain dengan anak tetangga di halaman, matanya berbinar saat menggendong bayi orang lain. Aku juga ingin punya cucu. Rumah besar ini terasa terlalu sunyi tanpa tawa anak kecil.
4784Please respect copyright.PENANA0oysAen2Ze
“Kami sudah coba segala cara,” lanjut Raka. “Obat herbal, akupunktur, pijat, bahkan Nadia minum ramuan dari dukun yang direkomendasikan temannya. Setiap bulan ketika haidnya datang, Nadia menangis diam-diam di kamar mandi. Ia berusaha tersenyum di hadapanku, bilang ‘belum rezeki kita tahun ini’. Tapi aku tahu ia menyalahkan diriku. Ia tidak pernah bilang, tapi aku bisa melihatnya di matanya.”
4784Please respect copyright.PENANARw1nl8spLX
Kami berbicara hampir satu jam. Raka menceritakan detail-detail kecil yang membuat hatiku semakin berat. Bagaimana Nadia pernah telat haid dua minggu dan mereka sangat berharap, hanya untuk hasil tes kehamilan menunjukkan garis satu. Bagaimana Raka merasa gagal sebagai suami setiap kali Nadia memeluk bantal sambil menangis pelan di malam hari. Bagaimana keluarga besar mulai bertanya kapan mereka punya anak, dan Nadia selalu menjawab dengan senyum palsu.
4784Please respect copyright.PENANABGDyyKGhz1
Aku mendengarkan semuanya dengan sabar. Aku memberi nasihat, mengatakan bahwa masih ada harapan dengan teknologi kedokteran, bahwa mereka masih muda. Tapi Raka menggeleng pelan setiap kali.
4784Please respect copyright.PENANAPCQKrjVvbL
Lalu datang bagian yang mengubah segalanya.
4784Please respect copyright.PENANABHW0y0TDq6
Raka menatapku langsung. Matanya merah, tapi ada tekad yang keras di sana.
4784Please respect copyright.PENANADOdbweHdFj
“Ayah, aku sudah memikirkan ini berbulan-bulan. Aku sudah bicara panjang lebar dengan Nadia. Awalnya ia menolak keras, bilang itu gila dan tidak mungkin. Kami bertengkar, menangis bersama, lalu bicara lagi sampai larut. Akhirnya… Nadia setuju. Dengan satu syarat: hanya dengan ayah. Bukan dengan orang lain.”
4784Please respect copyright.PENANAwPBGItisCP
Aku mengerutkan dahi. “Apa maksudmu, Raka?”
4784Please respect copyright.PENANADNKYqktDYD
Raka menelan ludah. Suaranya hampir berbisik.
4784Please respect copyright.PENANAWBt4ZBMsZp
“Ayah… aku minta ayah menghamili Nadia.”
4784Please respect copyright.PENANA40wXO4WaZ1
Ruangan itu seolah tiba-tiba kehilangan udara. Aku menatap anakku seolah ia baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Darahku terasa naik ke kepala.
4784Please respect copyright.PENANAfb2yIyx5qw
“Kau… apa? Apa-apaan ini, Raka? Kau sadar apa yang baru saja kau katakan?”
4784Please respect copyright.PENANAFbNbWj1K31
Raka tidak mundur. Ia justru membungkuk ke depan, suaranya penuh emosi.
4784Please respect copyright.PENANAxPpOxFYmwl
“Ayah, aku tahu ini gila. Aku tahu ini salah menurut norma, menurut agama, menurut segalanya. Tapi aku sudah kehabisan pilihan. Aku tidak bisa memberi Nadia anak. Aku tidak mau Nadia hamil dari donor sperma anonim yang kami tidak tahu asalnya. Aku tidak mau anak kami lahir tanpa tahu siapa ayah kandungnya. Dengan ayah… darahnya masih dari keluarga kita. Anak itu akan punya gen ayah, mirip dengan aku, mirip dengan kakeknya. Aku akan membesarkannya sebagai anak kandungku sendiri. Tidak ada yang akan tahu. Nadia akan bahagia. Keluarga kita akan punya penerus. Dan aku… aku sudah menerima secara emosional. Aku tidak akan cemburu. Aku tidak akan membenci ayah. Ini bukan perselingkuhan. Ini… bantuan.”
4784Please respect copyright.PENANA0zUgdexqBk
Aku berdiri, jalan mondar-mandir di ruangan kecil itu. “Kau gila, Raka! Nadia adalah istri mu! Aku adalah ayah mu! Ini… ini incest! Ini melanggar segala batas! Bagaimana bisa kau meminta ayahmu sendiri untuk tidur dengan istri mu? Untuk menghamili menantumu? Kau pikir ini film dewasa?”
4784Please respect copyright.PENANAgKsldsbgws
Raka tetap duduk, tapi matanya mengikuti setiap langkahku. “Ayah, aku sudah memikirkan semua konsekuensinya. Aku sudah bicara dengan Nadia selama berminggu-minggu. Ia awalnya juga marah, bilang aku gila. Tapi lambat laun ia mengerti posisiku. Ia juga ingin anak sangat. Ia bilang… ia merasa aman dengan ayah. Ayah adalah orang paling dipercaya setelah aku. Ayah tidak akan menyakitinya. Ayah tidak akan merebutnya dariku. Ini hanya untuk satu tujuan: memberi kami anak.”
4784Please respect copyright.PENANA3cQEcVz5Br
Kami berdebat selama lebih dari dua jam. Aku menolak dengan segala cara. Aku bicara tentang moral, tentang dosa, tentang bagaimana ini bisa menghancurkan keluarga jika ada yang tahu. Aku bicara tentang perasaan Raka sebagai suami nanti, tentang bagaimana Nadia mungkin akan melihatku berbeda setelahnya. Aku bahkan mengatakan bahwa aku sudah tua, bahwa mungkin spermaku juga tidak lagi bagus.
4784Please respect copyright.PENANAXu7BmfffcT
Raka menjawab setiap keberatanku dengan tenang dan penuh perhitungan.
4784Please respect copyright.PENANAQVExcsy5oX
“Ayah masih sehat. Ayah masih kuat. Dokter bilang kondisi ayah baik saat check-up tahun lalu. Dan secara genetik, ayah dan aku mirip. Anak itu kemungkinan besar akan mirip kami berdua.”
4784Please respect copyright.PENANACfXnKbvTNh
“Aku tidak bisa menerima istriku disentuh orang lain,” kataku.
4784Please respect copyright.PENANARSq8MLsRAV
“Ini bukan orang lain, Ayah. Ini ayah sendiri. Dan aku yang meminta.”
4784Please respect copyright.PENANAR4P3ise3Ue
Percakapan itu naik turun seperti ombak. Kadang Raka menangis, mengatakan ia merasa gagal total sebagai pria. Kadang ia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa memberi Nadia apa yang ia inginkan. Aku juga marah, kecewa, bingung. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang kecil dan gelap di dalam diriku yang mulai berbisik. Sesuatu yang sudah lama aku kubur sejak Nadia masuk ke rumah ini.
4784Please respect copyright.PENANAHb4MuosD9i
Aku teringat momen-momen kecil selama tiga tahun terakhir. Saat Nadia memelukku di hari ulang tahunku yang ke-46, payudaranya yang montok tertekan ke dadaku sebentar. Saat listrik padam setahun lalu dan Nadia datang ke kamarku dengan lilin, mengenakan daster tipis tanpa bra, siluet payudaranya yang berat dan bulat terlihat jelas, putingnya yang kecil menonjol karena udara dingin. Saat ia membungkuk di dapur untuk mengambil sesuatu dari lemari bawah, bokongnya yang montok dan bulat sempurna terangkat, roknya naik sedikit memperlihatkan paha bagian dalam yang halus dan mulus. Aku selalu mengalihkan pandangan dengan cepat, merasa bersalah karena nafsu singkat itu muncul. Aku pikir itu hanya kilasan sesaat yang tidak berarti. Tapi sekarang, dengan permintaan Raka ini, kilasan itu kembali dan terasa lebih kuat.
4784Please respect copyright.PENANAAO3APnCBEc
Raka akhirnya berdiri. Matanya lelah tapi masih ada harapan.
4784Please respect copyright.PENANAof4Bmq3r7b
“Ayah, aku tidak minta jawaban malam ini. Aku tahu ini terlalu besar. Tapi tolong… pertimbangkan. Bukan untuk aku. Untuk Nadia. Untuk cucu ayah. Kami sudah bicara dengan Nadia tadi sore sebelum makan malam. Ia bilang… jika ayah mau, ia siap. Ia akan datang ke kamarmu kapan pun ayah minta. Tidak ada paksaan. Tidak ada yang akan tahu.”
4784Please respect copyright.PENANAEio5RkModK
Raka meninggalkan ruangan setelah mengucapkan terima kasih pelan. Aku ditinggal sendirian di ruang kerja yang sekarang terasa sangat dingin.
4784Please respect copyright.PENANAimZylXlZZI
Aku duduk kembali di kursi kulit itu. Foto pernikahan Raka dan Nadia di meja kerjaku menatapku. Nadia tersenyum lebar di foto itu, gaun putihnya menonjolkan payudaranya yang montok dan bokongnya yang bulat sempurna. Kakinya yang panjang terlihat anggun. Aku menutup mata.
4784Please respect copyright.PENANA3GDiaZulZ0
Bagaimana bisa sampai seperti ini?
4784Please respect copyright.PENANAX2VT900UbS
Aku tidak bisa tidur malam itu. Aku berbaring di tempat tidur lebar, memandang langit-langit. Pikiran tentang Nadia terus muncul. Bagaimana jika aku benar-benar melakukannya? Bagaimana rasanya menyentuh kulit halus payudaranya yang montok itu, merasakan putingnya mengeras di lidahku, mendengar erangannya saat aku menyentuh bagian paling intim tubuhnya yang selama ini hanya milik anakku? Bagaimana rasanya mendorong ke dalam vagina hangat dan basahnya, merasakan dinding dalamnya memeluk penis ku, lalu melepaskan sperma ku dalam-dalam sampai ia hamil?
4784Please respect copyright.PENANAVGrGIeu17p
Aku mengusir pikiran itu dengan marah pada diriku sendiri. Tapi pikiran itu kembali lagi dan lagi, semakin jelas, semakin detail. Aku merasa bersalah, marah, dan… terangsang. Tubuhku bereaksi meskipun aku benci mengakuinya.
4784Please respect copyright.PENANA5gtkJ5WmEo
Pagi harinya, ketika aku turun ke dapur, Nadia sudah ada di sana. Ia memakai kaus oblong putih longgar dan celana pendek jeans yang memperlihatkan kakinya yang panjang dan mulus. Payudaranya yang montok bergoyang pelan saat ia mengaduk kopi. Ia menoleh dan tersenyum seperti biasa.
4784Please respect copyright.PENANAnqBnAj5YLK
“Pagi, Ayah. Kopi sudah siap.”
4784Please respect copyright.PENANAQ8ZeOSp1Nj
Matanya bertemu dengan mataku lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu di sana. Bukan hanya rasa hormat sebagai menantu. Ada pengertian. Ada persetujuan diam-diam. Ada ketegangan yang baru.
4784Please respect copyright.PENANARqlGYm0TDE
Aku mengambil cangkir kopi dari tangannya. Jari kami bersentuhan sebentar. Kulit Nadia hangat.
4784Please respect copyright.PENANAm4r1RXbBif
“Terima kasih,” kataku pelan.
4784Please respect copyright.PENANATmAYOKscJR
Nadia tidak langsung melepaskan cangkirnya. Ia menatapku dalam-dalam.
4784Please respect copyright.PENANAErXoKmr0q7
“Ayah… Raka sudah bicara dengan ayah semalam, ya?”
4784Please respect copyright.PENANAOd6CIdlEme
Aku mengangguk pelan.
4784Please respect copyright.PENANADsJuBEps8J
Nadia menarik napas. Suaranya hampir berbisik.
4784Please respect copyright.PENANAqURhqD1RBl
“Aku… aku sudah siap jika ayah memutuskan untuk membantu kami. Aku percaya ayah. Aku tidak akan menyesal. Dan… aku tidak akan membuat ayah menyesal juga.”
4784Please respect copyright.PENANAZOZIDxf2SO
Ia melepaskan cangkirnya, lalu berbalik ke kompor seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi bokongnya yang montok dan bulat itu bergoyang pelan saat ia berjalan, dan aku tidak bisa mengalihkan pandangan secepat biasanya.
4784Please respect copyright.PENANAXKR5CYi3u3
Aku berdiri di dapur itu dengan kopi di tangan, jantungku berdetak kencang. Dunia kami sudah berubah selamanya hanya karena satu permintaan di malam yang sunyi.
4784Please respect copyright.PENANAtpaqnNJD2n
Dan aku belum tahu apakah aku akan menolak… atau menerima.
--
Beberapa hari setelah percakapan malam itu, rumah kami terasa seperti ruangan yang penuh dengan listrik tak terlihat. Ketegangan itu menggantung di udara setiap kali kami bertiga berada di ruangan yang sama. Raka tampak lebih ringan, seolah beban yang selama ini ia pikul sendirian sudah sebagian terangkat setelah ia menyampaikan semuanya kepadaku. Ia lebih sering tersenyum, lebih sering menyentuh tangan Nadia dengan penuh kasih sayang di meja makan. Tapi matanya juga sering menatapku dengan pandangan yang penuh harap dan pengertian diam-diam.
4784Please respect copyright.PENANAUDAGYN3sOn
Nadia… Nadia berubah menjadi sosok yang membuatku sulit bernapas normal. Setiap pagi ketika ia turun ke dapur dengan kaus oblong longgar tanpa bra dan celana pendek jeans ketat, payudaranya yang montok dan berisi bergoyang pelan mengikuti langkahnya. Aku bisa melihat bentuk putingnya yang kecil menonjol samar di balik kain tipis ketika ia meregangkan badan untuk mengambil gelas di lemari tinggi. Bokongnya yang bulat, montok, dan kenyal terlihat begitu sempurna di balik celana jeans itu, seolah mengundang tangan untuk meremasnya. Kakinya yang panjang dan mulus dengan paha bagian dalam yang halus terlihat setiap kali ia duduk menyilangkan kaki di sofa. Aku berusaha keras untuk tidak menatap terlalu lama, tapi mataku selalu berkhianat.
4784Please respect copyright.PENANAYxNfEhgyfK
Malam-malamku menjadi siksaan. Aku berbaring di tempat tidur lebar, memejamkan mata, tapi bayangan Nadia terus muncul. Aku membayangkan membuka kemeja tidurnya perlahan, melihat dada montoknya terbebas dari bra, puting cokelat kecil yang sudah mengeras karena gairah. Aku membayangkan lidahku menjilat puting itu, menghisapnya pelan sampai Nadia mengerang namaku. Aku membayangkan tanganku menyusuri perut datarnya, turun ke antara kakinya yang terbuka lebar, jemariku menyentuh bibir vagina nya yang sudah basah dan membengkak, merasakan panas dalamnya sebelum aku masukkan jari ke dalam rongga hangat itu. Aku membayangkan penis ku yang sudah keras menusuk masuk ke dalam vagina nya yang sempit dan basah, mendorong dalam-dalam sampai ujungnya menyentuh leher rahimnya, lalu melepaskan sperma ku yang kental dan banyak ke dalam rahimnya yang subur.
4784Please respect copyright.PENANAN3yDuegNiY
Setiap kali bayangan itu muncul, tanganku tanpa sadar turun ke bawah selimut, memegang penis ku yang sudah tegang dan berdenyut. Aku melucuti diri sendiri dengan kasar, membayangkan itu adalah vagina Nadia yang memelukku erat. Aku mengeluarkan sperma dengan deras sambil membisikkan namanya pelan, lalu merasa bersalah luar biasa setelahnya. Tapi keesokan harinya, ketika aku melihat Nadia lagi di dapur, gairah itu kembali datang lebih kuat.
4784Please respect copyright.PENANAJlfoibzNRX
Suatu sore, Raka pulang dari kantor dengan koper kecil. Ia meletakkan koper di ruang tamu dan menatapku dengan serius.
4784Please respect copyright.PENANAXjOZVV5aPs
“Ayah, aku harus ke Surabaya tiga hari untuk meeting dengan klien besar. Berangkat besok pagi, pulang Jumat malam. Nadia sudah tahu. Selama aku tidak ada… ayah dan Nadia bisa bicara lebih leluasa.”
4784Please respect copyright.PENANAbxINwjXxPQ
Ia tidak mengatakan lebih banyak, tapi aku mengerti maksudnya. Raka sedang memberi kami ruang. Ia sedang mendorong kami untuk mengambil keputusan.
4784Please respect copyright.PENANA47U3FlgAGh
Malam sebelum Raka berangkat, kami bertiga makan malam bersama seperti biasa. Nadia memasak nasi goreng spesial dan ayam bakar. Ia mengenakan daster tipis warna krem yang agak ketat di dada. Setiap kali ia membungkuk untuk mengambil piring, belahan payudaranya yang dalam terlihat jelas, kulit putih mulusnya menggoda. Bokongnya yang montok menonjol ketika ia berbalik. Aku merasa mulutku kering.
4784Please respect copyright.PENANAPqYP6uAfuA
Setelah makan, Raka naik ke kamar untuk mempersiapkan barang. Nadia dan aku tersisa di ruang tamu. Ia duduk di sofa seberangku, kakinya yang panjang dan mulus disilangkan. Dasternya naik sedikit, memperlihatkan paha bagian dalam yang halus dan mulus.
4784Please respect copyright.PENANAUFz0DICECK
“Ayah…” Nadia memulai dengan suara pelan. “Raka sudah bilang soal perjalanannya?”
4784Please respect copyright.PENANA3BPe5frSwZ
Aku mengangguk.
4784Please respect copyright.PENANA7HZICX6FIi
Nadia menatapku lama. Matanya yang indah penuh dengan emosi yang campur aduk — rasa malu, keinginan, dan keteguhan.
4784Please respect copyright.PENANA3Z5qp9huMG
“Aku sudah siap, Ayah. Sudah lama aku siap sejak Raka pertama kali mengusulkan ini. Aku tahu ini tidak normal. Aku tahu orang-orang akan mengutuk kita jika tahu. Tapi… aku ingin anak sangat. Dan aku percaya pada ayah. Ayah adalah pria paling baik yang pernah kukenal setelah Raka. Ayah tidak akan menyakitiku. Ayah tidak akan memperlakukanku seperti objek. Ayah akan… menghargai aku.”
4784Please respect copyright.PENANAYJODPs81LX
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah, hampir berbisik.
4784Please respect copyright.PENANAZbq3mBTXDC
“Dan jujur… ada bagian dari diriku yang sudah lama merasa tertarik pada ayah. Bukan hanya sebagai mertua. Setiap kali ayah melihatku dengan cara itu — meskipun ayah cepat mengalihkan pandangan — aku merasa tubuhku panas. Payudaraku terasa berat dan sensitif. Putingku mengeras sendiri. Aku membayangkan ayah menyentuhku di sana. Aku membayangkan ayah menciumku, memelukku, dan… melakukan hal-hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan mertua dengan menantunya.”
4784Please respect copyright.PENANAq2JX0rtpaQ
Aku menelan ludah. Jantungku berdetak sangat kencang.
4784Please respect copyright.PENANAVm2YbB7SOL
“Nadia… kau yakin? Ini bukan keputusan yang bisa dibatalkan nanti.”
4784Please respect copyright.PENANA8BUPDHTOxM
Nadia berdiri dan berjalan mendekatiku. Ia duduk di lengan sofa di sebelahku. Jarak kami sangat dekat sekarang. Aku bisa mencium wangi sabun mandinya yang lembut. Ia mengambil tanganku dan meletakkannya di pahanya yang halus dan hangat.
4784Please respect copyright.PENANA8eVILY6AFE
“Aku yakin, Ayah. Raka juga yakin. Kami sudah bicara berulang kali. Selama tiga hari ke depan, saat Raka tidak ada… ayah dan aku bisa mulai. Tidak perlu terburu-buru. Kami bisa melakukannya perlahan. Ayah bisa menyentuhku, menciumku, dan jika ayah mau… masuk ke dalam diriku. Isi aku dengan sperma ayah. Buat aku hamil. Aku ingin merasakan ayah di dalam diriku. Aku ingin ayah menghamili aku.”
4784Please respect copyright.PENANA1GXIZmO3Jl
Kata-katanya yang terakhir membuat penis ku langsung tegang di balik celana. Aku menatap wajah Nadia yang begitu dekat. Bibirnya yang penuh dan merah muda terlihat menggoda.
4784Please respect copyright.PENANACIgCPo7LKh
Malam itu, setelah Raka tidur, aku tidak bisa tidur sama sekali. Besok pagi Raka akan berangkat. Dan setelah itu, hanya ada aku dan Nadia di rumah besar ini selama tiga hari penuh.
4784Please respect copyright.PENANAtTYPOvsMpD
Keesokan harinya, Raka berangkat pukul enam pagi. Ia memeluk Nadia lama di depan pintu, lalu memelukku.
4784Please respect copyright.PENANAenSySAhE8z
“Terima kasih, Ayah,” bisiknya pelan di telingaku. “Apa pun keputusan ayah, aku terima. Tapi… aku harap ayah bisa membantu kami.”
4784Please respect copyright.PENANAXdm0ZRjKCd
Setelah Raka pergi, rumah terasa sangat sunyi. Nadia dan aku sarapan bersama dalam diam yang penuh arti. Setiap kali matanya bertemu dengan mataku, ada senyum kecil yang penuh janji.
4784Please respect copyright.PENANAW4mSy7Xoqo
Sepanjang hari itu, kami berpura-pura sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Aku duduk di ruang kerja dengan laptop terbuka, tapi mataku tidak bisa fokus pada angka-angka di layar. Setiap kali langkah kaki Nadia terdengar di lorong, hatiku berdegup kencang. Siang harinya, ia mandi dan keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk putih yang membungkus tubuhnya. Handuk itu pendek, hanya menutupi bagian dada hingga paha atas. Payudaranya yang montok dan berat terangkat oleh handuk, belahan dalam yang dalam dan menggoda terlihat jelas setiap kali ia bergerak. Kulitnya yang putih mulus masih sedikit basah, air menetes pelan dari ujung rambutnya yang basah ke belahan dada itu. Bokongnya yang bulat dan montok membentuk lekuk sempurna di balik handuk tipis tersebut. Kakinya yang panjang dan mulus terlihat seluruhnya, paha bagian dalam yang halus dan sedikit berisi terbuka sedikit saat ia berjalan melewati ruang kerja menuju kamarnya.
4784Please respect copyright.PENANAr7TSvhDQZ8
Ia berhenti di depan pintu kamarnya dan menoleh padaku dengan senyum kecil yang penuh arti.
4784Please respect copyright.PENANAmFVz6eusdu
“Ayah… aku akan ganti baju sebentar ya. Nanti kita makan siang bersama.”
4784Please respect copyright.PENANAMY0qA1tC1C
Suara Nadia pelan, tapi ada getar yang membuat penis ku langsung berdenyut di balik celana. Aku hanya bisa mengangguk, tenggorokanku kering. Setelah pintu kamarnya tertutup, aku membayangkan ia melepas handuk itu, tubuh telanjangnya terlihat di depan cermin. Payudaranya yang penuh dan montok terbebas, puting cokelat kecil yang sensitif mungkin sudah mengeras karena udara. Bokongnya yang kenyal terlihat bulat sempurna. Vagina nya yang mulus dan rapat terlihat di antara kakinya yang panjang.
4784Please respect copyright.PENANAQqALarKLPw
Aku menggoyang kepala, berusaha mengusir bayangan itu, tapi gairah itu sudah menyebar ke seluruh tubuhku.
4784Please respect copyright.PENANAc71aNICtU3
Siang harinya kami makan siang bersama di meja makan. Nadia mengenakan kaus oblong putih ketat tanpa bra dan celana pendek jeans yang sangat pendek. Kaus itu menonjolkan bentuk payudaranya yang montok dengan sempurna, putingnya yang kecil membuat dua tonjolan kecil yang menggoda di depan dada. Setiap kali ia mengulurkan tangan untuk mengambil sayur, payudaranya bergoyang pelan. Aku menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Nadia menyadarinya, tapi ia tidak marah. Ia justru tersenyum tipis dan sengaja membungkuk lebih dalam saat mengambil gelas, sehingga belahan dadanya yang dalam terlihat jelas.
4784Please respect copyright.PENANAFKN9nvInnE
“Ayah suka masakan siang ini?” tanyanya dengan suara manis.
4784Please respect copyright.PENANAfgAidryuSu
“Aku… suka sekali,” jawabku parau.
4784Please respect copyright.PENANAhyKw2CO75Z
Setelah makan siang, Nadia membersihkan meja. Saat ia membungkuk untuk mengambil serbet yang jatuh, bokongnya yang montok dan bulat sempurna terangkat tinggi. Celana jeans pendeknya naik, memperlihatkan bagian bawah bokongnya yang mulus dan kenyal. Aku bisa melihat garis celana dalamnya yang tipis. Penis ku semakin tegang, hampir sakit karena tertahan.
4784Please respect copyright.PENANAXkx2zhY69q
Sore harinya, kami duduk di teras belakang rumah. Angin sore yang sejuk menyentuh kulit. Nadia duduk di kursi rotan di sebelahku. Ia mengenakan daster tipis warna biru muda yang agak longgar di dada. Setiap hembusan angin membuat kain itu menempel pada tubuhnya, memperlihatkan bentuk payudaranya yang berat dan bulat. Ia berbicara tentang masa kecilnya, tentang mimpi punya anak, tentang betapa ia bersyukur Raka adalah suaminya yang pengertian. Tapi setiap kalimatnya selalu kembali ke topik yang sama.
4784Please respect copyright.PENANAIpLc787NYI
“Ayah… aku benar-benar ingin ini terjadi. Bukan hanya karena ingin hamil. Ada sesuatu di dalam diriku yang sudah lama ingin merasakan ayah. Bukan sebagai mertua. Sebagai pria.”
4784Please respect copyright.PENANAypLxo8G3gQ
Aku menatapnya. Matanya jujur dan penuh keinginan.
4784Please respect copyright.PENANAGNgc8DEFZd
“Nadia… kau yakin sekali?”
4784Please respect copyright.PENANAj2rHVLIg1s
Ia mengangguk pelan. “Sudah berbulan-bulan aku memikirkannya. Sejak Raka pertama kali mengusulkan. Awalnya aku marah. Tapi semakin aku pikir, semakin aku sadar bahwa ini adalah cara terbaik. Dan… tubuhku juga sudah merespons. Setiap kali ayah dekat, aku merasa basah di bawah sana. Payudaraku terasa sakit karena ingin disentuh. Aku ingin ayah menyentuhku malam ini, Ayah.”
4784Please respect copyright.PENANA2FUiIbtxsD
Kata-katanya membuatku hampir kehilangan kendali. Aku meraih tangannya. Jari kami saling mengait. Kulitnya hangat.
4784Please respect copyright.PENANAFCHRJD1R8M
Malam pun tiba.
4784Please respect copyright.PENANAC1nOf9Ocs5
Setelah makan malam yang kami masak bersama dengan tangan gemetar, kami pindah ke ruang tamu. Lampu temaram. Hanya suara AC dan napas kami yang terdengar. Raka sudah di Surabaya, rumah hanya milik kami berdua. Tidak ada yang akan mengganggu.
4784Please respect copyright.PENANA7mIH0oTw4x
Nadia duduk di sofa panjang. Aku duduk di sebelahnya. Jarak kami semakin dekat. Ia menoleh padaku, matanya berkaca-kaca karena gairah.
4784Please respect copyright.PENANAzSjExZzUTn
“Ayah… mulailah,” bisiknya.
4784Please respect copyright.PENANA6GvlD52Ndi
Aku mengangkat tangan dan menyentuh pipinya yang halus. Kami saling menatap lama. Kemudian aku mendekatkan wajahku. Bibir kami bertemu untuk pertama kalinya. Ciuman itu pelan, ragu-ragu di awal. Bibir Nadia lembut dan hangat. Aku menciumnya pelan, menyentuh bibir bawahnya dengan lidahku. Nadia membuka mulutnya sedikit, membiarkan lidahku masuk. Ciuman kami menjadi lebih dalam, lebih basah. Lidah kami saling menari, menghisap bergantian. Tangan ku naik ke lehernya, lalu turun ke bahunya.
4784Please respect copyright.PENANAh0DRzREEwI
Aku mendorong tubuhnya pelan agar ia berbaring di sofa. Aku naik di atasnya, menopang tubuh dengan siku. Ciuman kami tidak berhenti. Aku mencium bibirnya, lalu pipinya, telinganya, lehernya yang harum. Nadia mengerang pelan ketika lidahku menjilat kulit lehernya yang sensitif.
4784Please respect copyright.PENANAq2KaXwawwf
Tangan ku turun ke dada nya. Aku meraba payudaranya yang montok di balik daster tipis itu. Payudara itu berat, penuh, empuk di telapak tanganku. Aku meremas pelan, merasakan bentuknya yang sempurna. Nadia mengerang ke dalam mulutku.
4784Please respect copyright.PENANAxN4m6xVNZk
“Ayah… sentuh lebih kuat…”
4784Please respect copyright.PENANAxgFhMDi2Au
Aku meremas lebih kuat, merasakan putingnya yang sudah mengeras menonjol di balik kain. Aku membuka kancing depan dasternya satu per satu dengan lambat. Setiap kancing yang terbuka membuat dadanya semakin terlihat. Akhirnya daster terbuka lebar. Aku menyingkap kain itu ke samping.
4784Please respect copyright.PENANAm3iHD8Emly
Payudaranya telanjang di depan mataku untuk pertama kalinya.
4784Please respect copyright.PENANAfi3ol0pros
Dada montok Nadia sempurna. Ukuran yang besar, berbentuk bulat sempurna, berat dan empuk. Kulitnya putih mulus dengan sedikit urat biru halus. Putingnya berwarna cokelat muda, ukuran sedang, sudah mengeras kencang seperti kuncup kecil yang menonjol bangga. Areola-nya lebar dan sensitif. Aku menatapnya lama, terpesona.
4784Please respect copyright.PENANAV3EDm4tM7L
“Kau cantik sekali, Nadia…” bisikku parau.
4784Please respect copyright.PENANApRlEYveMMP
Aku menurunkan kepala dan mencium bagian atas payudaranya yang montok. Kulitnya harum dan hangat. Aku mencium seluruh permukaan payudaranya, lalu lidahku menjilat putingnya yang mengeras. Nadia mendesah keras, punggungnya melengkung.
4784Please respect copyright.PENANAHOHWDX0mBN
“Ahh… Ayah…”
4784Please respect copyright.PENANAVpAdzF31Os
Aku menghisap puting kirinya pelan, lidahku berputar-putar di sekitar areola. Tangan ku meremas payudara kanannya, jari-jari ku menekan daging empuk itu. Aku berganti menghisap puting kanan, sambil tangan ku meremas yang kiri. Nadia meraih rambutku, menekan kepalaku lebih dalam ke dadanya.
4784Please respect copyright.PENANAcfNv5N0qXP
“Ayah… hisap lebih kuat… puting Nadia sensitif sekali…”
4784Please respect copyright.PENANADNENYkUV0y
Aku menghisap lebih kuat, menarik putingnya dengan bibir, lalu melepaskannya dengan bunyi kecil. Puting itu semakin mengeras dan basah oleh liurku. Aku melakukan hal yang sama bergantian pada kedua payudaranya selama beberapa menit, menikmati setiap desahan dan erangan Nadia. Payudaranya terasa semakin berat dan panas di tanganku.
4784Please respect copyright.PENANAeo2515tqy1
Tangan ku turun lebih rendah. Aku menyusuri perut datar Nadia yang halus, lalu ke pinggulnya yang lebar. Aku meraih pinggiran celana dalamnya yang tipis dan menariknya perlahan ke bawah. Nadia mengangkat pinggulnya membantu. Celana dalam itu meluncur dari kakinya yang panjang dan mulus.
4784Please respect copyright.PENANAxEVQH6ZIMm
Vagina Nadia terlihat di depan mataku.
4784Please respect copyright.PENANA4xcbGqSsoB
Bibir kemaluannya yang pink dan montok sudah membengkak karena gairah. Celah di tengahnya sudah basah dan berkilau oleh cairan cinta yang mengalir. Klitorisnya yang kecil sudah menonjol keluar dari lipatan, merah dan sensitif. Vagina nya tampak rapat dan menggoda, siap menerima apa saja. Aku menelan ludah melihat pemandangan itu.
4784Please respect copyright.PENANA8UTvsa51rU
Aku membuka kaki Nadia lebih lebar, meletakkan salah satu kakinya di sandaran sofa. Aku menunduk dan mencium paha bagian dalamnya yang halus dan hangat. Aku mencium naik perlahan ke arah vagina nya. Bau harum alami Nadia membuatku semakin gila.
4784Please respect copyright.PENANAMkxR3t6Fkj
Aku menjilat bibir luar vagina nya pelan dari bawah ke atas. Nadia mendesah keras, pinggulnya terangkat.
4784Please respect copyright.PENANAr9FPdmEPDk
“Ahhh… Ayah…”
4784Please respect copyright.PENANAP5nMBfFkiN
Lidah ku menjilat seluruh permukaan vagina nya yang basah, merasakan tekstur bibirnya yang lembut dan bengkak. Aku menemukan klitorisnya dan menghisapnya pelan. Nadia berteriak pelan, tangannya meraih rambutku erat.
4784Please respect copyright.PENANAYlwhGwONAZ
“Ayah… di sana… hisap klitoris Nadia…”
4784Please respect copyright.PENANAXUhL34pQHQ
Aku menghisap klitorisnya dengan ritme pelan tapi kuat, lidahku berputar-putar di atasnya. Satu jari ku menyentuh lubang vagina nya yang basah dan panas. Aku mendorong jari telunjuk pelan ke dalam. Vagina Nadia sangat sempit, dinding dalamnya panas dan berdenyut, memeluk jari ku erat. Cairan nya mengalir deras, membasahi jari ku sampai ke pergelangan tangan.
4784Please respect copyright.PENANA3uBXFMX29k
Aku memasukkan jari kedua. Dua jari ku bergerak masuk keluar pelan, sambil lidahku terus menghisap dan menjilat klitorisnya. Nadia mengerang tidak henti-hentinya, pinggulnya bergerak mengikuti ritme jari ku.
4784Please respect copyright.PENANAl8b3qHMlEj
“Ayah… lebih cepat… jari ayah di dalam vagina Nadia terasa enak sekali…”
4784Please respect copyright.PENANAr9igBz6XRL
Aku mempercepat gerakan jari ku, memutarnya di dalam, mencari titik sensitifnya. Ketika aku menemukan titik G-spot nya, Nadia berteriak dan tubuhnya gemetar hebat.
4784Please respect copyright.PENANAamrlpVJYMI
“Ayah… di sana… ahhh… aku akan…!”
4784Please respect copyright.PENANA0El0n5S2gr
Cairan nya menyembur sedikit saat ia mencapai orgasme pertama. Vagina nya berkontraksi kuat memeluk jari ku berulang-ulang. Aku terus menghisap klitorisnya sampai gelombang orgasme mereda. Nadia terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat, payudaranya yang montok bergoyang.
4784Please respect copyright.PENANA9wYK6si5Ej
Aku menarik jari ku yang basah dan mencium bibir Nadia lagi. Ia bisa mencium cairan sendiri di bibirku.
4784Please respect copyright.PENANA2UaPKomOgW
Sekarang giliran aku.
4784Please respect copyright.PENANAr5Bb22P7yR
Aku berdiri dan melepaskan celana serta celana dalam. Penis ku yang sudah sangat keras dan besar terbebas. Kepala penis ku sudah basah oleh cairan pra-ejakulasi. Nadia menatapnya dengan mata berkilat.
4784Please respect copyright.PENANAAHLZdAVBRk
“Besar sekali, Ayah…” bisiknya penuh kagum.
4784Please respect copyright.PENANAfGBCjLjXI8
Ia duduk dan meraih penis ku dengan tangan lembutnya. Ia mengusap batangnya pelan dari bawah ke atas, ibu jarinya mengoleskan cairan di kepala penis. Kemudian ia menunduk dan menjilat kepala penis ku dengan lidahnya yang hangat dan basah. Aku mendesah.
4784Please respect copyright.PENANAAZ61JUCs6p
Nadia membuka mulutnya dan memasukkan kepala penis ku ke dalam. Bibirnya yang penuh membungkus batang ku erat. Ia menghisap pelan, lidahnya berputar di sekitar kepala penis. Ia menelan lebih dalam, hampir separuh batang ku masuk ke dalam mulut hangatnya. Aku merasakan ujung penis ku menyentuh tenggorokannya yang sempit.
4784Please respect copyright.PENANA1Xj2bAylEU
Nadia menghisap dengan ritme yang semakin cepat, tangannya memompa bagian bawah batang ku yang tidak masuk ke mulut. Air liurnya membasahi seluruh penis ku, membuat suara basah yang erotis terdengar di ruang tamu yang sunyi.
4784Please respect copyright.PENANArJaIe5fe8I
“Ayah… penis ayah enak sekali di mulut Nadia…” katanya saat melepaskan sebentar, lalu menelan lagi lebih dalam.
4784Please respect copyright.PENANA2FIxCuw07b
Aku menahan diri agar tidak langsung menyemprotkan sperma ke dalam mulutnya. Aku ingin menyimpannya untuk vagina nya.
4784Please respect copyright.PENANAL1HUb88nJB
Setelah beberapa menit, aku menarik penis ku keluar dari mulut Nadia. Aku membaringkannya kembali di sofa. Aku naik di atasnya, menopang tubuh dengan tangan. Penis ku yang basah menggosok-gosok bibir vagina nya yang sudah sangat basah dan bengkak.
4784Please respect copyright.PENANAqqkRxTk3rc
“Ayah… masukkan sekarang…” pinta Nadia dengan suara parau. “Isi vagina Nadia dengan penis ayah. Buat Nadia hamil malam ini.”
4784Please respect copyright.PENANAIQ5lVZyDMJ
Aku mendorong pinggul ku perlahan. Kepala penis ku yang besar dan basah menyentuh lubang vagina nya. Aku dorong sedikit. Kepala penis ku masuk ke dalam rongga hangat dan sempit itu. Nadia mengerang panjang.
4784Please respect copyright.PENANAGHytPQavzi
“Ahhh… besar… Ayah… pelan-pelan…”
4784Please respect copyright.PENANAzKJEfNxHPj
Aku dorong lebih dalam, inch demi inch. Vagina Nadia sangat ketat dan panas, dinding dalamnya berdenyut memeluk batang penis ku erat. Cairan cintanya melumasi jalan, membuat penis ku bisa masuk lebih dalam. Akhirnya seluruh batang ku tertelan sampai ke pangkal. Ujung penis ku menyentuh leher rahimnya yang dalam.
4784Please respect copyright.PENANAYURzf8m3cN
Kami berdua diam sejenak, menikmati sensasi bersatu untuk pertama kalinya. Vagina Nadia memeluk penis ku seperti sarung tangan hangat yang basah. Aku bisa merasakan setiap denyut dinding dalamnya.
4784Please respect copyright.PENANAChl4q1SlMw
“Ayah… ayah di dalam Nadia…” bisiknya penuh emosi. “Rasakan vagina Nadia… sempit dan basah hanya untuk ayah…”
4784Please respect copyright.PENANAmo5KWa9RMu
Aku mulai bergerak. Aku menarik penis ku hampir keluar, lalu mendorongnya kembali dalam dengan gerakan pelan dan dalam. Setiap dorongan membuat Nadia mengerang. Payudaranya yang montok bergoyang naik turun mengikuti ritme.
4784Please respect copyright.PENANAQwuWV2Bp4G
“Ayah… lebih cepat… fuck Nadia lebih dalam…”
4784Please respect copyright.PENANAqHqVHREINo
Kelanjutannya ada link di bawah ini


