Malam itu udara di rumah besar keluarga Pramudya terasa lebih berat dari biasanya. Lampu-lampu kristal di ruang tamu menyinari lantai marmer mengkilap, menciptakan pantulan cahaya keemasan yang seolah menelan segala rahasia. Laras berdiri di depan cermin besar di kamar utama, tangannya perlahan menyisir rambut hitam panjangnya yang tergerai sampai pinggang. Usianya baru 28 tahun, tapi tubuhnya sudah matang sempurna — payudaranya yang montok dan kencang, pinggang ramping yang melengkung indah ke bokong yang bulat dan kenyal, serta kaki jenjang yang selalu membuat pria-pria di sekitarnya menoleh dua kali.
6477Please respect copyright.PENANAKLyJb7oW82
Ia menghela napas pelan. Sudah tiga tahun menikah dengan Bagas, putra tunggal keluarga ini. Bagas pria baik, mapan, tapi dingin. Hubungan intim mereka semakin jarang, hampir mati. Malam ini Bagas lagi-lagi pulang larut karena "meeting penting" di kantor. Laras tahu itu bohong. Ia mencium aroma parfum wanita lain di kemeja suaminya minggu lalu.
6477Please respect copyright.PENANAXuK3LxOlKf
"Kenapa harus seperti ini, ya?" gumamnya pelan pada bayangannya sendiri.
6477Please respect copyright.PENANAsnY2tUP7DX
Pintu kamar terbuka pelan. Bukan Bagas. Yang masuk adalah Hendra Pramudya — ayah mertuanya. Pria berusia 56 tahun itu masih gagah, tubuhnya tegap dengan dada bidang dan bahu lebar yang terlatih dari bertahun-tahun olahraga. Rambutnya sudah mulai memutih di pelipis, memberi kesan elegan dan berwibawa. Matanya tajam, seperti elang yang sedang mengamati mangsa.
6477Please respect copyright.PENANAqfKVPeskWw
"Laras," suaranya rendah, dalam, dan penuh wibawa. "Bagas belum pulang?"
6477Please respect copyright.PENANAAyclT8GRS1
Laras berbalik, sedikit terkejut. Ia hanya mengenakan daster tipis sutra berwarna krem yang menempel di tubuhnya, memperlihatkan garis payudaranya yang naik-turun saat bernapas. "Belum, Yah. Katanya meeting lagi."
6477Please respect copyright.PENANAL5QZnz1qIh
Hendra melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan pelan. Suara klik kunci terdengar samar. Ia berjalan mendekat, aroma cologne mahal bercampur bau maskulin alami pria dewasa memenuhi ruangan. "Kamu terlihat lelah, Nak. Duduklah."
6477Please respect copyright.PENANAUSHUnclIUr
Laras duduk di pinggir ranjang. Hendra duduk di sampingnya, cukup dekat sehingga paha mereka hampir bersentuhan. Ia mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan menantunya dengan lembut, ibu jarinya mengusap pelan kulit halus Laras.
6477Please respect copyright.PENANA80UEHDaXS6
"Kamu tahu, sejak kamu masuk ke keluarga ini, aku selalu memperhatikanmu," kata Hendra pelan, suaranya seperti beludru. "Kamu wanita yang luar biasa. Cantik, cerdas, setia. Tapi Bagas... dia tidak tahu cara menghargai harta yang dimilikinya."
6477Please respect copyright.PENANAZL6Jmjd8Yc
Laras merasa pipinya panas. Ia menunduk, tapi tidak menarik tangannya. Ada getaran aneh di dada. "Yah... jangan bicara seperti itu. Bagas kan anak Bapak."
6477Please respect copyright.PENANAqokMb9zgwt
"Dan kamu istri anakku," balas Hendra, suaranya semakin rendah. "Tapi seorang pria sejati tahu kapan harus mengambil alih apa yang seharusnya dijaga dengan baik."
6477Please respect copyright.PENANAl98UDYqbCJ
Jari Hendra naik ke lengan Laras, menyusuri kulitnya dengan gerakan lambat yang sengaja. Laras merinding. Ia tahu ini salah. Sangat salah. Tapi sentuhan itu... hangat, penuh pengalaman, berbeda sekali dengan sentuhan Bagas yang selalu terburu-buru.
6477Please respect copyright.PENANAW8O9FiNB7g
"Yah, ini tidak benar," bisik Laras, tapi suaranya gemetar, bukan menolak dengan tegas.
6477Please respect copyright.PENANApaU5umPeDl
Hendra tersenyum tipis. "Yang tidak benar adalah membiarkan bunga indah seperti kamu layu sendirian di malam-malam panjang. Kamu butuh perhatian, Laras. Kamu butuh tangan yang tahu cara menyentuh tubuh seorang wanita."
6477Please respect copyright.PENANAZWYdkTEiEO
Ia mendekatkan wajahnya. Napas hangatnya menyapu telinga Laras. "Biar Bapak tunjukkan, ya?"
6477Please respect copyright.PENANAvW83AcR3al
Laras tidak menjawab, tapi ia juga tidak menjauh. Hendra mengambil itu sebagai persetujuan. Bibirnya menyentuh leher Laras dengan sangat pelan, mencium kulit halus di sana, menghirup aromanya yang manis. Laras menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan desahan kecil yang hampir lolos.
6477Please respect copyright.PENANAZgs34Cw5A8
Tangan Hendra turun ke pinggang Laras, meremas lembut di atas kain sutra tipis. "Tubuhmu indah sekali, Nak. Payudaramu... aku sering membayangkannya saat kamu memakai kebaya ketat di acara keluarga."
6477Please respect copyright.PENANArB288rErKN
Laras tersentak pelan. "Bapak... jangan bilang begitu..."
6477Please respect copyright.PENANAZMuEhKyz95
"Kenapa? Karena jujur?" Hendra tertawa pelan, suaranya bergetar di leher Laras. Ia menarik tali daster Laras perlahan, membiarkan kain itu meluncur turun dari bahunya. Payudara Laras yang montok dan kencang terbebas, puncaknya yang cokelat muda sudah mengeras karena udara dingin dan ketegangan.
6477Please respect copyright.PENANA4xysOOEaiz
Hendra menatapnya dengan lapar yang tertahan. "Lihat ini... putingmu sudah berdiri. Indah sekali. Montok, besar, dan sensitif."
6477Please respect copyright.PENANAnmKvU6eT2A
Ia menunduk, lidahnya menyentuh puting kiri Laras dengan sangat pelan, melingkari areola sebelum mengisapnya lembut. Laras mengerang pelan, tangannya tanpa sadar meraih kepala mertuanya. "Ahh... Yah..."
6477Please respect copyright.PENANAmXyisEcc0I
Hendra terus menyusu dengan sabar, bergantian antara kedua payudara. Tangannya yang besar meremas yang satu, jari-jarinya memilin puting yang basah oleh air liurnya. Ia menggigit pelan, membuat Laras melengkungkan punggungnya.
6477Please respect copyright.PENANAKHt64Whgxo
"Kamu basah sudah, ya?" bisik Hendra di antara isapan. "Aku bisa mencium aromamu dari sini."
6477Please respect copyright.PENANANvkVlm4j3h
Tangan Hendra turun ke paha Laras, menyusuri kulit halus di bagian dalam, mendekati inti tubuhnya yang sudah mulai berdenyut. Ia menyentuh celana dalam Laras yang sudah lembab, mengusap garis bibir vaginanya dari luar kain tipis.
6477Please respect copyright.PENANA0v5dBHckCi
Laras menggeleng pelan, tapi pinggulnya malah mendesak ke depan. "Kita tidak boleh... Bagas..."
6477Please respect copyright.PENANAMIIiBbZu2f
"Bagas tidak ada di sini," jawab Hendra tegas tapi lembut. "Malam ini, kamu milik Bapak."
6477Please respect copyright.PENANAda0IMkg9nT
Ia menarik celana dalam Laras ke bawah, memperlihatkan vagina Laras yang sudah basah mengkilap. Bibir vaginanya yang tebal dan merah muda, klitoris yang kecil tapi sudah membengkak. Hendra menatapnya lama, seperti sedang mengagumi karya seni.
6477Please respect copyright.PENANAX3X3TA0sRk
"Indah sekali memekmu, Laras. Mulus, pink, dan sudah banjir begini."
6477Please respect copyright.PENANAiyfKXHo70j
Ia menunduk, mencium paha dalam Laras dulu, mengecup setiap inci kulit sebelum lidahnya menyentuh klitoris dengan sangat pelan. Laras hampir menjerit, tangannya mencengkeram seprai. Hendra menjilat dengan sabar, lidahnya yang panjang dan ahli menyapu seluruh celah, masuk ke lubang vagina yang berkedut, lalu kembali ke klitoris untuk diisap lembut.
6477Please respect copyright.PENANANyWDfLnbCa
"Ahh... Bapak... enak sekali..." desah Laras, suaranya pecah.
6477Please respect copyright.PENANAqPcTwllzEL
Hendra terus melahapnya selama hampir dua puluh menit, bergantian antara jilatan panjang, isapan lembut, dan memasukkan dua jarinya ke dalam vagina Laras yang sempit dan panas. Jari-jarinya melengkung, menemukan titik G yang membuat Laras menggigil hebat.
6477Please respect copyright.PENANAsdfvXi42Ao
"Kamu mau keluar ya, Nak? Keluarlah di mulut Bapak."
6477Please respect copyright.PENANAA0PSwPlkc2
Laras mencapai orgasme pertama dengan tubuh bergetar hebat, cairannya menyembur sedikit ke lidah Hendra. Ia menjerit pelan, menahan suara dengan bantal.
6477Please respect copyright.PENANAkCCeHSpzek
Hendra bangkit, membuka ikat pinggangnya perlahan. Celananya turun, memperlihatkan kontolnya yang sudah tegang sempurna. Besar. Sangat besar. Panjangnya hampir 20 cm, tebal seperti pergelangan tangan Laras, dengan kepala yang besar dan berwarna merah gelap, urat-urat menonjol di sepanjang batangnya.
6477Please respect copyright.PENANAUpHWGEIQC1
Laras terbelalak. "Ya Tuhan... gede sekali, Yah..."
6477Please respect copyright.PENANApVCLKPRBFm
Hendra tersenyum bangga. "Ini yang akan memuaskanmu mulai malam ini. Kontol Bapak yang besar ini akan jadi milikmu."
6477Please respect copyright.PENANA8nyTnNPVVA
Ia mendekatkan kontolnya ke wajah Laras. "Cium dulu. Pelan-pelan."
6477Please respect copyright.PENANAgPJfWOwoKU
Laras, masih dalam kabut kenikmatan, menjulurkan lidahnya. Ia menjilat kepala kontol Hendra yang sudah mengeluarkan precum, merasakan rasanya yang asin-manis. Lalu ia membuka mulutnya lebar, mencoba memasukkan kepala yang besar itu ke dalam mulutnya.
6477Please respect copyright.PENANAQUnEwLBKLG
Hendra mengerang pelan. "Bagus... hisap lebih dalam, Nak. Rasakan betapa tebalnya kontol mertuamu."
6477Please respect copyright.PENANASdhGLXGUlh
Laras berusaha sekuat tenaga, mulutnya penuh, air liurnya menetes ke dagu. Hendra memegang kepalanya dengan lembut, mendorong pelan tapi dalam, mengajari menantunya cara memuaskan kontol besarnya.
6477Please respect copyright.PENANAqUXqBifyED
Setelah beberapa menit oral yang intens, Hendra mengangkat Laras ke pangkuannya. Ia duduk di pinggir ranjang, Laras menghadapnya, kaki jenjangnya terbuka lebar. Kontol Hendra menekan bibir vagina Laras yang sudah basah sekali.
6477Please respect copyright.PENANAiS9gGS46c9
"Masuk pelan ya, Yah... besar sekali..." pinta Laras dengan suara gemetar.
6477Please respect copyright.PENANAduswHFxMnu
Hendra memegang pinggul Laras, mendorong kepala kontolnya masuk perlahan. Laras merasakan vagina nya meregang luar biasa, ada rasa penuh yang hampir menyakitkan tapi nikmat luar biasa.
6477Please respect copyright.PENANAuzmDQoLL7S
"Ahhh... penuh... kontol Bapak... gede banget..." erangnya.
6477Please respect copyright.PENANAFu5lBcZScb
Hendra terus mendorong masuk, senti demi senti, sampai pangkalnya menempel di bibir vagina Laras. Ia berhenti sejenak, membiarkan menantunya menyesuaikan.
6477Please respect copyright.PENANAXGdyadCYTr
"Kamu milik Bapak sekarang," bisik Hendra di telinganya sambil mulai bergerak pelan. "Setiap malam, setiap saat Bapak mau, memekmu ini akan Bapak isi."
6477Please respect copyright.PENANAXOYPL8YMLU
Gerakan Hendra semakin cepat, tapi tetap terkontrol. Ia mengganti posisi, membaringkan Laras telentang, mengangkat satu kakinya ke bahu, menyetubuhinya dalam-dalam. Suara kepala kontolnya yang besar keluar-masuk vagina Laras yang basah terdengar jelas di kamar yang sunyi.
6477Please respect copyright.PENANAKlJi39LRo5
Laras mencapai orgasme kedua dengan hebat. Tubuhnya yang lembut dan basah keringat kejang-kejang tak terkendali, dinding vaginanya yang panas dan berdenyut menjepit kontol Hendra dengan kuat, seolah tak ingin melepaskan batang daging besar yang memenuhinya. Cairan kewanitaannya menyembur lembut, membasahi pangkal kontol Hendra yang tebal dan bola-bola zakarnya yang berat. Napasnya tersengal-sengal, payudaranya yang montok naik-turun cepat, puting cokelat mudanya masih basah mengkilap oleh air liur mertuanya.
6477Please respect copyright.PENANA1kJWEgXz2p
"Tidak... ahh... Bapak... aku... sudah..." erang Laras dengan suara parau, matanya setengah terpejam, bibirnya terbuka basah.
6477Please respect copyright.PENANAETqgf1r1cu
Hendra tidak berhenti sama sekali. Senyumnya penuh kemenangan, mata pria dewasa itu menyala dengan nafsu yang membara. Ia menarik kontolnya keluar perlahan hingga hanya kepala besarnya yang tersisa di mulut vagina Laras, lalu dengan gerakan mantap ia membalik tubuh menantunya yang masih gemetar itu menjadi doggy style. Bokong Laras yang bulat sempurna, kenyal seperti jelly premium, kini terangkat tinggi di hadapannya. Kulitnya halus dan putih mulus, dengan lekukan lembut di pinggul yang membuat Hendra tak bisa menahan diri.
6477Please respect copyright.PENANAuNLVxPRnKZ
Tangan besar dan kasar Hendra meremas kedua belah bokong itu dengan penuh nafsu, jari-jarinya tenggelam dalam daging kenyal tersebut. Ia merentangkan keduanya lebar-lebar, memperlihatkan vagina Laras yang sudah merah membengkak, bibirnya menganga basah, cairan bening bercampur sperma awal Hendra menetes perlahan ke seprai.
6477Please respect copyright.PENANAwuBWcMvLSI
"Bokongmu enak sekali, Laras," bisik Hendra dengan suara serak penuh gairah. "Gemuk, kencang, dan montok. Cocok untuk Bapak pegang sambil ngentot memekmu yang sempit ini."
6477Please respect copyright.PENANAPwRLq6ZrMx
**Plak!**
6477Please respect copyright.PENANAX2BpQ5vh8a
Tangan kanannya menepuk pelan bokong kiri Laras, meninggalkan jejak merah samar yang langsung memerah. Laras terkesiap, tubuhnya maju sedikit, tapi Hendra langsung menarik pinggulnya kembali.
6477Please respect copyright.PENANAr71rI8Z5BL
**Plak! Plak!**
6477Please respect copyright.PENANAbJOWSWzG8U
Dua tepukan lagi, lebih kuat, membuat bokongnya bergoyang indah. Getaran itu merambat ke vagina Laras, membuat klitorisnya berdenyut semakin kuat.
6477Please respect copyright.PENANAUnS3o4mzVw
"Ahh... Bapak... sakit... tapi... enak..." desah Laras, wajahnya tertanam di bantal, pinggulnya tanpa sadar mendongak lebih tinggi, mempersembahkan diri.
6477Please respect copyright.PENANAva0SjMIrDZ
Hendra mengarahkan kontolnya yang masih sangat keras dan berurat tebal ke bibir vagina Laras. Kepala kontolnya yang besar, mengkilap oleh cairan Laras, menggesek-gesek klitorisnya dulu dengan gerakan lambat yang menyiksa. Setiap gesekan membuat Laras menggigil.
6477Please respect copyright.PENANAnyMlLsbkEh
"Memekmu ini sudah rusak ya, Nak? Tapi masih lapar. Lihat... dia menggigit kepala kontol Bapak."
6477Please respect copyright.PENANAOTGgPpbQMo
Dengan satu dorongan kuat tapi terkontrol, Hendra memasukkan seluruh batangnya hingga pangkal. "Ughhh!" Laras menjerit pelan, merasakan vagina nya diregang maksimal. Rasa penuh yang luar biasa, nyeri manis yang membuat matanya berkaca-kaca kenikmatan. Hendra mulai bergerak, awalnya pelan dan dalam, menarik kontolnya hampir keluar seluruhnya lalu mendorong masuk hingga bola zakarnya menampar klitoris Laras.
6477Please respect copyright.PENANAgY93pLC5Jz
Suara basah "plok... plok... plok..." memenuhi kamar. Setiap hantaman membuat payudara Laras bergoyang-goyang liar di bawah tubuhnya. Hendra meraih rambut panjang Laras, menariknya lembut ke belakang sehingga punggung Laras melengkung indah.
6477Please respect copyright.PENANAuWfS5R70Dz
"Kamu suka ya, Laras? Kontol Bapak yang gede ini ngebor memek menantu kesayangan Bapak," bisik Hendra sambil mempercepat irama. Tangan kirinya merayap ke depan, meremas payudara kiri Laras yang bergantung, memilin putingnya dengan kasar tapi nikmat.
6477Please respect copyright.PENANAgVFFSb9zrr
"Ya... Bapak... enak... lebih dalam... ahh!" Laras sudah tak bisa berpikir jernih. Setiap hantaman kontol besar itu menyentuh titik paling dalam di rahimnya, membuat gelombang kenikmatan naik terus-menerus.
6477Please respect copyright.PENANAGL4A4QNiss
Hendra mencondongkan tubuhnya lebih dekat, dada bidangnya menempel di punggung Laras yang berkeringat. Ia menggigit pelan bahu Laras sambil terus menghantam ritmis. "Katakan... siapa yang punya memek ini sekarang?"
6477Please respect copyright.PENANAdvSGFI7Bm4
"Ba... Bapak..." jawab Laras terbata.
6477Please respect copyright.PENANAC2hVKMEXQh
"Lebih keras!"
6477Please respect copyright.PENANA2RyP0zwkDl
"Memekku milik Bapak! Kontol Bapak yang gede ini pemiliknya!" Laras hampir menangis karena kenikmatan.
6477Please respect copyright.PENANAQ88lwXUx75
Hendra tertawa puas. Ia mengubah sudut hantaman, membuat kontolnya menggesek dinding atas vagina Laras dengan kuat. Laras mencapai orgasme ketiga dalam posisi ini. Tubuhnya mengejang hebat, vagina nya menyemprot cairan hangat yang membasahi paha Hendra dan seprai. Tapi Hendra tetap menghantam tanpa ampun, memperpanjang orgasme Laras hingga ia menangis keenakan.
6477Please respect copyright.PENANAlJzycvy21F
Setelah orgasme ketiga reda, Hendra menarik kontolnya keluar. Ia membalik Laras lagi ke posisi telentang, mengangkat kedua kaki jenjang dan mulusnya ke bahu lebarnya. Posisi ini membuat vagina Laras terbuka lebar, klitorisnya yang bengkak terpapar jelas.
6477Please respect copyright.PENANAiUn3MqhzfS
Hendra menjilat telapak kaki Laras yang halus, mengisap jari-jarinya satu per satu dengan sensual sebelum kembali memasukkan kontolnya yang sudah mengkilap cairan.
6477Please respect copyright.PENANAkiwcN5dBa3
"Kaki kamu indah sekali... panjang, langsing, kulitnya seperti sutra," pujinya sambil mulai menggenjot lagi dengan dalam dan kuat.
6477Please respect copyright.PENANAMEEKBpfo0I
Mereka terus bercinta dalam posisi ini hampir dua puluh menit. Hendra bergantian meremas payudara, mencium bibir Laras dengan dalam dan basah, lidah mereka saling menari liar. Dirty talknya semakin kotor dan intens.
6477Please respect copyright.PENANA6MxGGBBWyY
"Bayangkan kalau Bagas tahu memek istrinya sedang diisi penuh sama kontol ayahnya yang jauh lebih besar dan lebih kuat," bisik Hendra sambil tersenyum nakal.
6477Please respect copyright.PENANANHxE0inQik
Laras hanya bisa mengerang, "Jangan... ahh... tapi... jangan berhenti Bapak..."
6477Please respect copyright.PENANA3kKsmH2xYu
Hendra lalu membaringkan diri di samping Laras, memeluknya dari belakang (spooning). Kontolnya masuk lagi dari samping, satu tangannya meremas payudara, tangan yang lain memainkan klitoris Laras dengan jari tengahnya yang lincah. Gerakan pinggulnya pelan tapi sangat dalam, seolah ingin menancapkan setiap senti kontolnya ke dalam tubuh menantunya.
6477Please respect copyright.PENANATvHWmbHR48
Laras mencapai orgasme keempat di posisi ini, tubuhnya gemetar hebat dalam pelukan Hendra.
6477Please respect copyright.PENANA62i3VNYIt1
Akhirnya Hendra membalik tubuh Laras dengan lembut namun penuh kuasa ke posisi cowgirl. Pria berusia 56 tahun itu duduk bersandar di headboard ranjang kayu mahoni yang kokoh, bantal-bantal empuk menopang punggungnya yang bidang dan berotot. Laras, dengan napas masih tersengal dan tubuh mengkilap keringat, perlahan naik ke pangkuannya. Kaki jenjangnya yang mulus terbuka lebar, lututnya menekan kasur di kedua sisi pinggul Hendra. Vagina Laras yang sudah longgar karena kenikmatan berulang namun masih berdenyut penuh nafsu, perlahan menelan kembali kontol besar mertuanya yang tegang sempurna.
6477Please respect copyright.PENANAm6DVkmRdaO
Kepala kontol Hendra yang besar dan berwarna merah gelap menyelinap masuk dengan mudah, diikuti batang tebal yang penuh urat-urat menonjol. Laras merasakan setiap inci daging keras itu meregang dinding dalamnya yang sensitif, mengisi ruang kosong yang baru saja ditinggalkan. "Ahhh... Bapak... masih terasa sangat penuh... meski sudah basah sekali..." desah Laras dengan suara parau, matanya setengah terpejam, bibir bawahnya digigit kuat.
6477Please respect copyright.PENANAbrEQYCHXiX
Hendra memegang pinggul ramping Laras dengan kedua tangan besarnya, ibu jarinya mengusap lembut kulit halus di atas tulang pinggul. Matanya menatap lekat wajah menantunya yang memerah karena malu dan kenikmatan. "Gerakkan pinggulmu, Nak," perintahnya dengan suara rendah yang penuh wibawa, hampir seperti bisikan perintah yang tak bisa ditolak. "Tunjukkan pada Bapak seberapa lapar memekmu ini terhadap kontol ayah mertuamu yang gede ini."
6477Please respect copyright.PENANAf5QyZ0mvxa
Laras mulai bergerak dengan ragu-ragu pada awalnya. Pinggulnya naik perlahan, membiarkan kontol Hendra hampir keluar hingga hanya kepalanya yang tertinggal di mulut vagina, lalu turun kembali dengan lembut. Setiap gerakan membuat payudaranya yang montok dan berat bergoyang pelan, puting cokelat mudanya yang mengeras menari menggoda di depan wajah Hendra. Rasa penuh itu kembali datang, membuat klitorisnya yang bengkak bergesekan dengan pangkal kontol yang kasar.
6477Please respect copyright.PENANAwYogtcX3SS
"Bagus... pelan dulu... rasakan semuanya," puji Hendra sambil mengusap punggung Laras yang berkeringat. Tangan besarnya turun ke bokong kenyal Laras, meremas kedua belahnya dengan penuh kasih sayang yang penuh nafsu, membantunya naik-turun dengan ritme yang semakin stabil.
6477Please respect copyright.PENANA9wTGlkhBuJ
Laras mulai mempercepat gerakannya. Pinggulnya kini naik-turun lebih liar, bokongnya yang bulat dan empuk menampar paha Hendra dengan suara "plak-plak" yang basah dan erotis setiap kali turun sepenuhnya. Payudaranya yang indah bergoyang-goyang lebih hebat, naik-turun mengikuti irama tubuhnya. Hendra tak bisa menahan diri lagi. Ia mencondongkan wajahnya ke depan, mulutnya langsung menyambar puting kiri Laras dengan lapar. Lidahnya yang panas dan basah melingkari areola yang lembut, mengisap kuat hingga Laras menjerit kecil.
6477Please respect copyright.PENANA1hDdOtAIYg
"Ahh... Bapak... isap lebih kuat... putingku... sensitif sekali..." erang Laras, tangannya memeluk kepala Hendra, jari-jarinya meremas rambut yang mulai memutih itu. Ia terus menggoyang pinggulnya, vagina nya menjepit kontol besar itu dengan ritme yang semakin cepat. Cairan kewanitaannya mengalir deras, membasahi bola zakar Hendra yang berat dan penuh.
6477Please respect copyright.PENANAQKGAw676Ow
Hendra bergantian mengisap kedua putingnya, kadang menggigit pelan dengan gigi depannya hingga Laras menggigil, kadang hanya menjilat dengan lidah datar yang panjang. "Payudaramu sempurna, Laras... montok, berat, dan putingnya manis seperti buah ceri matang. Setiap kali kamu memakai baju ketat di depan Bapak, aku selalu membayangkan menghisap ini sambil mengentotmu."
6477Please respect copyright.PENANALPQ88x63SE
Laras semakin liar. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, dada montoknya menekan wajah Hendra yang sibuk menyusu. Gerakan pinggulnya kini berputar-putar, membuat kepala kontol besar itu menggesek seluruh dinding vagina nya yang sensitif. "Bapak... kontol Bapak... menyentuh rahimku... dalam sekali... aku... aku mau keluar lagi..."
6477Please respect copyright.PENANAObV3niKlh5
Hendra melepaskan puting Laras dengan suara "pop" basah. Matanya menatap tajam. "Keluarlah, Nak. Bapak mau merasakan memekmu menjepit kontol ini lagi. Gerakkan pinggulmu lebih cepat. Jadilah budak sex Bapak yang baik."
6477Please respect copyright.PENANAsFD2Th6BmJ
Dengan perintah itu, Laras kehilangan kendali sepenuhnya. Ia naik-turun dengan liar, bokongnya naik tinggi lalu turun menghantam kuat. Suara daging bertabrakan semakin keras dan basah. Payudaranya bergoyang liar di depan wajah Hendra. Tangan mertuanya yang besar memegang bokongnya erat, sesekali menepuk keras "Plak! Plak! Plak!" membuat daging kenyal itu bergoyang indah.
6477Please respect copyright.PENANAKpV6gtd9Kg
Laras mencapai orgasme kelima dengan hebat. Tubuhnya mengejang kuat, vagina nya berkontraksi hebat menjepit kontol Hendra seperti ingin memerahnya. Cairan hangatnya menyembur deras, membasahi pangkal kontol dan paha Hendra. "Aahhh... Bapak!!! Aku... keluar... lagi...!!" jeritnya, suaranya pecah karena kenikmatan yang membutakan.
6477Please respect copyright.PENANAeKX4QFeOrF
Hendra tidak memberinya waktu istirahat. Ia memeluk pinggang Laras erat, lalu tiba-tiba mendorong pinggulnya ke atas dengan kuat dari bawah, menggenjot dari bawah dengan hantaman-hantaman dalam dan cepat. Setiap dorongan membuat kontolnya menghantam rahim Laras dengan sempurna.
6477Please respect copyright.PENANAg6AVuEhDD6
"Bagus... memekmu masih menggigit kuat. Kamu memang diciptakan untuk kontol besar Bapak," desis Hendra di telinga Laras sambil terus menggenjot tanpa ampun. Keringat mereka bercampur, aroma seks semakin pekat di udara kamar yang hangat.
6477Please respect copyright.PENANA6F1A8ruTQ0
Ia lalu mengubah posisi sedikit tanpa melepaskan penyatuan mereka. Laras masih di atas, tapi sekarang Hendra membuatnya condong ke belakang, tangan Laras bertumpu di paha Hendra. Posisi ini membuat klitoris Laras bergesekan langsung dengan pangkal kontol setiap kali turun. Hendra memainkan klitorisnya dengan ibu jari yang kasar, menggosoknya melingkar sambil terus menghantam dari bawah.
6477Please respect copyright.PENANAUITnLkTN35
Laras orgasme keenam datang lebih cepat. Tubuhnya kejang hebat, matanya memutar ke belakang, lidahnya terjulur sedikit karena kenikmatan ekstrem. "Bapak... terlalu enak... aku... tidak kuat lagi..."
6477Please respect copyright.PENANA1yNvB7QLRn
Hendra tersenyum puas. Ia membalik posisi mereka kembali tanpa melepaskan kontolnya. Kini Laras berbaring telentang, kaki jenjangnya dibuka lebar dan diangkat tinggi. Hendra menindihnya dalam posisi missionary yang intim, dada bidangnya menekan payudara Laras yang lembut. Ia menatap langsung ke mata menantunya yang berkaca-kaca.
6477Please respect copyright.PENANAiZQsNZA7rH
"Kamu milik Bapak sekarang," bisik Hendra sambil mencium bibir Laras dalam-dalam, lidah mereka saling menari liar. "Setiap inci memekmu ini akan Bapak tandai dengan sperma Bapak."
6477Please respect copyright.PENANAl6jX2kxYFz
Gerakannya semakin dalam dan kuat. Setiap hantaman membuat ranjang berderit pelan. Laras hanya bisa memeluk leher Hendra, kuku-kukunya menancap di punggung mertuanya. Mereka bercinta seperti ini hampir lima belas menit lagi, penuh ciuman basah, gigitan lembut di leher, dan dirty talk yang semakin kotor.
6477Please respect copyright.PENANA6u6S16u6Yi
"Aku mau keluar lagi... di dalam... tolong isi rahimku, Yah..." pinta Laras dengan suara manja yang sudah benar-benar menyerah.
6477Please respect copyright.PENANAwHNp4Twm1A
Hendra mempercepat irama hantaman terakhirnya. Kontolnya yang besar berdenyut kuat di dalam vagina Laras. Dengan erangan panjang dan dalam, ia menyemburkan sperma panasnya yang tebal untuk ketiga kalinya, menyembur deras ke dalam rahim Laras hingga meluber keluar dari sela-sela vagina yang penuh.
6477Please respect copyright.PENANAgEEtM50LLw
Mereka berdua ambruk dalam pelukan, tubuh saling melekat basah oleh keringat, cairan, dan kenikmatan. Napas Hendra masih berat di leher Laras sementara tangannya mengusap punggung menantunya dengan lembut.
6477Please respect copyright.PENANAbXXAdtVgir
Tiba-tiba terdengar suara mobil Bagas memasuki garasi rumah besar itu.
6477Please respect copyright.PENANAzaIloHBKlf
"Kamu luar biasa, Laras," bisik Hendra dengan suara serak yang masih penuh kepuasan. "Memekmu begitu sempit dan panas, seolah dirancang khusus untuk kontol Bapak yang besar ini. Dari malam ini, kamu bukan lagi hanya istri Bagas. Kamu adalah budak sex pribadi Bapak."
6477Please respect copyright.PENANAkHmUngjKPE
Laras hanya bisa mengangguk lemah, matanya masih berkaca-kaca. "Yah... ini salah... tapi... aku belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya," aku Laras dengan suara kecil, hampir malu. Jari-jarinya tanpa sadar mengusap punggung Hendra yang berkeringat.
6477Please respect copyright.PENANAm2zxONCsg0
Hendra tersenyum bangga. Ia menarik kontolnya keluar perlahan dari vagina Laras. Suara basah "plop" terdengar samar ketika kepala besar itu akhirnya terlepas. Cairan putih kental langsung mengalir deras dari lubang vagina Laras yang menganga, menetes ke seprai putih. Hendra menatap pemandangan itu dengan mata lapar, jari telunjuknya mengusap bibir vagina yang basah itu, lalu membawa jarinya ke mulut Laras.
6477Please respect copyright.PENANAUl6CxU2yt8
"Cicipi campuran kita," perintahnya lembut.
6477Please respect copyright.PENANAnRVAxifnYB
Laras membuka mulutnya patuh, menjilat jari Hendra dengan lidahnya yang lembut, merasakan rasa asin-manis sperma mertuanya bercampur cairan kewanitaannya sendiri.
6477Please respect copyright.PENANAzZWPnvWIfh
Mereka berbaring beberapa menit dalam pelukan. Hendra mengusap rambut panjang Laras dengan penuh sayang, sesekali tangan besarnya turun meremas payudara atau mengelus bokong kenyalnya. "Besok pagi, kalau Bagas sudah berangkat, Bapak mau kamu datang ke kamar Bapak sebelum sarapan. Bapak ingin menikmati mulutmu yang hangat di pagi hari."
6477Please respect copyright.PENANAhKm4ys7e5j
Laras menggigit bibir, hatinya berdebar campur aduk antara rasa bersalah yang dalam dan getaran ketagihan yang baru tumbuh. "Ya... Yah..."
6477Please respect copyright.PENANAtcTxUNIqfy
Suara mobil Bagas semakin jelas memasuki garasi. Hendra segera bangkit. Tubuhnya yang masih gagah dan berwibawa terlihat mengesankan bahkan dalam keadaan telanjang. Kontolnya yang besar, meski sudah melunak, masih menggantung berat di antara pahanya, berkilau oleh sisa cairan.
6477Please respect copyright.PENANAC7MO9iqFpd
Ia berpakaian dengan cepat tapi tenang — celana panjangnya, kemeja, lalu merapikan rambutnya yang acak-acakan. Sebelum meninggalkan kamar, ia membungkuk lagi, mencium bibir Laras dalam-dalam sekali lagi, tangannya meremas payudara kanan menantunya sebagai tanda kepemilikan.
6477Please respect copyright.PENANA6JiRCFI5aj
"Jangan bersihkan memekmu terlalu bersih. Biarkan sedikit sperma Bapak tetap di dalam. Anggap itu sebagai pengingat malam ini," bisiknya di telinga Laras sebelum berjalan ke pintu.
6477Please respect copyright.PENANAvzXcflg31q
Hendra membuka pintu pelan, melirik koridor yang gelap, lalu keluar tanpa suara. Ia menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati, meninggalkan Laras sendirian di kamar yang masih dipenuhi aroma seks pekat — campuran keringat, cairan cinta, dan cologne mahal ayah mertuanya.
6477Please respect copyright.PENANARPho5rknpJ
Laras berbaring beberapa saat, tubuhnya masih gemetar. Ia menyentuh vaginanya sendiri, merasakan betapa basah dan longgarnya lubang itu setelah dihantam kontol sebesar itu. Jari-jarinya keluar dengan sperma Hendra yang lengket. Rasa malu membanjiri hatinya, tapi di balik itu ada denyutan aneh yang membuatnya ingin merasakan lagi.
6477Please respect copyright.PENANAFrJD3yH4G5
Ia bangkit dengan susah payah, kakinya lemas. Berjalan ke kamar mandi, ia membersihkan diri dengan cepat tapi tidak sepenuhnya — seperti perintah Hendra. Ia mengganti seprai yang basah dengan yang baru, menyemprotkan sedikit parfum ruangan untuk menutupi bau seks yang masih menempel. Daster sutranya dipakai lagi, meski tubuhnya terasa nyeri manis di banyak tempat — payudaranya yang memerah karena hisapan, bokongnya yang masih terasa panas karena tepukan, dan vaginanya yang berdenyut pelan.
6477Please respect copyright.PENANAojYjIPRFNe
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Bagas masuk dengan wajah lelah, dasi sudah longgar.
6477Please respect copyright.PENANANmts46I6GF
"Kamu belum tidur, Ras?" tanya Bagas sambil melepas sepatu.
6477Please respect copyright.PENANAFInFds7acn
Laras duduk di depan meja rias, berusaha menjaga suaranya tetap biasa. "Baru saja mau tidur. Meeting-nya lama ya, Mas?"
6477Please respect copyright.PENANARDvMYvgciD
Bagas mengangguk, tak curiga sama sekali. "Iya, proyek besar. Capek banget."
6477Please respect copyright.PENANAhj9C5AcxnN
Ia mendekat, mencium pipi Laras sekilas. Laras merasa ada aroma parfum wanita lain yang samar di kemeja suaminya. Hatinya semakin dingin. Bagas tak menyadari bahwa istrinya baru saja digenjot habis-habisan oleh ayahnya sendiri di ranjang yang sama.
6477Please respect copyright.PENANAr4CSsiXHUX
Malam itu, Bagas langsung tidur setelah mandi cepat. Laras berbaring di sampingnya, tapi pikirannya melayang ke Hendra. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan kontol besar ayah mertuanya yang tebal dan berurat itu muncul,
6477Please respect copyright.PENANAEhWmZPTzZa
Laras merasakan vaginanya kembali basah. Ia menekan pahanya rapat-rapat, berusaha menahan gelora yang muncul lagi. Di kamar sebelah, Hendra mungkin sedang tersenyum puas, merencanakan bagaimana cara menguasai menantunya lebih dalam lagi.
6477Please respect copyright.PENANA2yAotQkDQ0
Laras terbaring gelisah sepanjang malam, tubuhnya yang masih sensitif terus mengingatkan akan kenikmatan terlarang yang baru saja ia rasakan. Sementara suaminya tidur pulas di sampingnya, benih ketagihan mulai tumbuh di dalam dirinya.
6477Please respect copyright.PENANASm6P6TMJlX
Pagi masih gelap ketika Laras membuka matanya. Jam di nakas menunjukkan pukul 04.47. Bagas masih tertidur pulas di sampingnya, napasnya teratur dan dalam, tubuhnya membelakangi Laras seperti biasa. Bau parfum wanita asing masih samar menempel di kemeja suaminya yang tergantung di kursi. Laras menatap langit-langit kamar yang tinggi, jantungnya berdegup kencang. Vaginanya masih terasa nyeri manis, sedikit bengkak, dan setiap kali ia menggerakkan paha, ia bisa merasakan sisa sperma kental Hendra yang masih tersisa di dalamnya meski sudah dibersihkan semalam.
6477Please respect copyright.PENANAQOGnm5RIlg
Ia menggigit bibir bawahnya kuat. Rasa malu membakar pipinya, tapi ada api lain yang lebih panas, lebih dalam, yang membuat putingnya mengeras di balik daster tipis. Kata-kata Hendra semalam terus bergema: “Besok pagi, sebelum sarapan, datanglah ke kamar Bapak.”
6477Please respect copyright.PENANAXiWgDUQcrm
Laras bangkit perlahan, berusaha tak membuat ranjang berderit. Kakinya masih lemas, tapi ia melangkah pelan keluar kamar. Rumah besar itu sunyi sekali. Hanya suara AC yang samar dan detak jam dinding di ruang tamu. Ia berjalan menyusuri koridor marmer yang dingin, daster sutra kremnya menempel di tubuh yang masih hangat karena ingatan malam tadi.
6477Please respect copyright.PENANA8u2ma9yGBn
Di depan pintu kamar Hendra yang berada di sayap timur rumah, Laras berhenti. Tangannya gemetar saat menyentuh kenop pintu. “Ini gila… aku istri Bagas…” bisiknya pada diri sendiri. Tapi kakinya tetap melangkah masuk setelah pintu terbuka pelan.
6477Please respect copyright.PENANAm5UWdvqVnb
Kamar Hendra gelap, hanya lampu tidur kecil di nakas yang menyala redup. Pria itu sudah bangun, duduk bersandar di headboard dengan jubah mandi sutra hitam yang sedikit terbuka di dada. Dada bidangnya yang ditumbuhi bulu halus terlihat jelas. Matanya langsung menatap Laras dengan tatapan lapar yang tenang.
6477Please respect copyright.PENANAfsS4pgUoQU
“Kamu datang,” kata Hendra dengan suara rendah yang dalam, penuh kepuasan. “Bapak sudah menunggu sejak jam tiga. Kupikir kamu takut.”
6477Please respect copyright.PENANAXpwh6PyNkc
Laras berdiri di ambang pintu, tangan memilin ujung daster. “Aku… aku tidak bisa tidur, Yah. Semalam… rasanya masih ada di tubuhku.”
6477Please respect copyright.PENANAxENgK8iEJb
Hendra tersenyum tipis. Ia menepuk tempat di sampingnya. “Masuklah. Tutup pintu dan kunci.”
6477Please respect copyright.PENANAuH9j9OLYYy
Laras patuh. Suara klik kunci terdengar seperti komitmen baru yang tak bisa diurungkan. Ia mendekat perlahan, berdiri di sisi ranjang. Hendra mengulurkan tangan, menarik pinggangnya hingga Laras duduk di pangkuannya. Daster tipis itu langsung naik ke paha, memperlihatkan kulit mulusnya yang putih.
6477Please respect copyright.PENANA4WRocODzVo
“Kamu sudah basah lagi?” tanya Hendra sambil mengusap paha dalam Laras dengan punggung jarinya. Gerakannya lambat, penuh kesengajaan.
6477Please respect copyright.PENANAUxZdsavN5e
Laras mengangguk malu, wajahnya tertunduk. “Sejak bangun… aku terus memikirkan… kontol Bapak yang besar itu.”
6477Please respect copyright.PENANAQ31q3gUcSt
Hendra tertawa pelan, suaranya bergetar di dada Laras. “Bagus. Itu artinya memekmu sudah mulai ketagihan.
6477Please respect copyright.PENANAAw9Yb68bZo
Ia menarik tali daster Laras hingga bahunya terbuka. Payudara montoknya yang berat terbebas, puting cokelat mudanya sudah mengeras tegak. Hendra meremas keduanya pelan, ibu jarinya memutar puting dengan gerakan melingkar yang menyiksa.
6477Please respect copyright.PENANASrgwYe8y9R
“Payudara istri anakku ini memang luar biasa. Berat, kenyal, dan sensitif. Lihat… putingnya sudah minta diisap.”
6477Please respect copyright.PENANAOqMpBWKmDk
Ia menunduk, lidahnya menjilat puting kiri Laras dengan sangat lambat, melingkari areola sebelum mengisap lembut. Laras mendesah panjang, tangannya memeluk kepala Hendra.
6477Please respect copyright.PENANAkCUMvKNTHi
“Ahh… Bapak… pelan dulu… aku masih sensitif…”
6477Please respect copyright.PENANAMQkD1wSkbW
Hendra melepaskan puting dengan suara basah. “Hari ini kita mulai dengan kamu Oral. Kamu akan memuaskan kontol Bapak dengan mulutmu yang cantik itu.”
6477Please respect copyright.PENANAhCEa19w0a3
Ia membuka jubah mandinya. Kontol Hendra sudah setengah tegang, besar dan berat, menggantung di antara pahanya yang kekar. Laras menatapnya dengan campuran kagum dan nafsu. Urat-urat tebal menonjol, kepala kontolnya yang lebar sudah mengeluarkan precum bening.
6477Please respect copyright.PENANAJoxmnBk9Cr
“Turunlah, Nak. Berlutut di antara kaki Bapak.”
6477Please respect copyright.PENANA8SFB9oS5kG
Laras turun dari pangkuan, berlutut di karpet lembut. Wajahnya tepat di depan kontol besar itu. Aromanya maskulin, kuat, membuat vaginanya berkedut.
6477Please respect copyright.PENANA3evixgjm4M
“Pegang dulu,” perintah Hendra lembut.
6477Please respect copyright.PENANAZl2E0mJXEO
Laras mengulurkan tangan kecilnya. Jari-jarinya tak bisa melingkar sempurna di batang yang tebal. Ia mengusap naik-turun pelan, merasakan denyutan urat-urat di telapak tangannya.
6477Please respect copyright.PENANAL27epjqiIo
“Bagus… sekarang cium kepalanya. Pelan-pelan, seperti kamu mencium bibir kekasih.”
6477Please respect copyright.PENANAtOmbS3ZXdA
Laras menjulurkan lidah, menjilat kepala kontol Hendra yang besar. Rasa asin-manis precum memenuhi lidahnya. Ia menciumnya berkali-kali, bibir lembutnya mengecup lubang kecil di ujung kontol.
6477Please respect copyright.PENANAIZ75oJyHrV
Hendra mengerang pelan. “Buka mulutmu lebar-lebar, Laras. Masukkan sebanyak yang kamu bisa.”
6477Please respect copyright.PENANA6qOGGlfDzN
Laras membuka mulutnya. Kepala kontol Hendra masuk dengan susah payah, meregangkan bibirnya hingga maksimal. Ia hanya bisa memasukkan sepertiga batangnya. Air liurnya langsung menetes deras ke dagu dan ke bola zakar Hendra.
6477Please respect copyright.PENANAhdJwEyB49M
“Hisap… gunakan lidahmu di bawahnya,” instruksi Hendra sambil memegang rambut Laras dengan lembut.
6477Please respect copyright.PENANA0UGMI0EDAr
Laras berusaha sebaik mungkin. Mulutnya naik-turun, lidahnya menekan vena tebal di bawah batang kontol. Suara “gluck… gluck…” basah terdengar setiap kali ia mencoba menelan lebih dalam. Hendra mendesah puas, pinggulnya naik pelan mengikuti irama mulut menantunya.
6477Please respect copyright.PENANAjlgVDLGT6o
“Kamu cepat belajar… mulutmu hangat dan basah sekali. Bayangkan kalau Bagas tahu istrinya sedang mengisap kontol ayahnya di pagi hari seperti pelacur kecil yang haus.”
6477Please respect copyright.PENANA9FfzgQK0n8
Kata-kata kotor itu membuat Laras semakin bersemangat. Ia mencoba menelan lebih dalam, tenggorokannya berkedut di kepala kontol. Hendra memegang kepalanya lebih erat, mendorong pelan hingga Laras tersedak kecil, air mata kenikmatan keluar dari sudut matanya.
6477Please respect copyright.PENANAlLz3RLo42P
Setelah hampir dua puluh menit oral yang intens dan basah, Hendra menarik Laras naik ke ranjang. Ia membaringkannya telentang, lalu naik ke atas dengan posisi 69. Kontol besarnya kembali masuk ke mulut Laras, sementara wajahnya tenggelam di antara paha mulus menantunya.
6477Please respect copyright.PENANAgdlxAHAKXt
Laras mengerang keras saat lidah Hendra menyapu vaginanya yang sudah banjir. Lidah pria dewasa itu ahli sekali — menjilat klitoris dengan gerakan melingkar, menyelip masuk ke lubang vagina, menghisap bibir tebalnya, bahkan menjilat lubang belakangnya sekilas yang membuat Laras tersentak hebat.
6477Please respect copyright.PENANAQyJcFuOLRB
“Ahh… Bapak… lidah Bapak… enak sekali… jangan berhenti…” erang Laras di sela-sela mulutnya yang penuh kontol besar Hendra. Suaranya teredam, bergetar, dan basah karena air liurnya yang terus mengalir deras. Mulutnya meregang maksimal menggigit batang tebal yang berurat, lidahnya bekerja dengan susah payah menekan vena panjang di bawah kontol mertuanya.
6477Please respect copyright.PENANAlFXxpD6TW3
Hendra mengerang dalam-dalam, pinggulnya naik pelan untuk mendorong lebih dalam ke tenggorokan Laras. “Gluck… gluck… gluck…” suara basah mulut menantunya memenuhi kamar yang masih gelap. Tapi perhatian utamanya ada di antara paha Laras yang terbuka lebar di depan wajahnya.
6477Please respect copyright.PENANAEy2kee9mQC
Lidah Hendra menari dengan lapar dan ahli di klitoris Laras yang sudah bengkak merah. Ia menjilat dengan gerakan lebar dan lambat, lalu menyempit menjadi putaran kecil yang cepat di puncak klitoris yang sensitif. Dua jari tengah dan telunjuknya yang tebal masuk perlahan ke dalam vagina Laras yang sudah banjir, dindingnya yang panas dan licin langsung menyambut dengan kedutan kuat.
6477Please respect copyright.PENANAYMizAdXauy
“Memekmu ini sudah sangat basah, Nak,” gumam Hendra di antara jilatan, suaranya bergetar di bibir vagina Laras. “Begitu sempit, tapi langsung mengisap jari Bapak. Kamu memang lahir untuk jadi budak kontol ayah mertuamu.”
6477Please respect copyright.PENANAr7lS12ucAd
Jari-jarinya melengkung dengan sempurna, menemukan titik G yang agak kasar di dinding atas vagina. Ia menggosoknya dengan gerakan “come here” yang stabil dan kuat, sementara lidahnya terus menghisap klitoris Laras dengan ritme yang menyiksa. Sesekali ia menarik jari keluar, menjilat seluruh celah vagina dari bawah ke atas, bahkan menyelipkan lidahnya ke lubang kecil di belakang yang membuat Laras tersentak hebat dan mulutnya menggigit kontol Hendra lebih kuat.
6477Please respect copyright.PENANAbtJFYCrMYO
Laras sudah tak bisa mengontrol tubuhnya. Pinggulnya naik-turun sendiri di wajah Hendra, menggesekkan vagina basahnya ke mulut mertuanya. Payudaranya yang montok menekan perut Hendra, putingnya mengeras seperti batu. Mulutnya terus bekerja, menelan sebanyak mungkin kontol besar itu hingga air matanya menetes karena tersedak kenikmatan.
6477Please respect copyright.PENANAatxxc6qsbS
Kelanjutannya ada link di bawah ini


