Namaku Arga. Umur 21 tahun, mahasiswa semester akhir di salah satu kampus swasta di Semarang, tapi rumah tetap di Kudus karena nggak mau kos. Aku anak tunggal, Ayah kerja di perusahaan minyak yang bikin dia bolak-balik luar kota sejak aku SMA. Pulang cuma sebulan sekali atau pas Lebaran. Jadi rumah besar ini sebenarnya cuma ada aku sama Ibu. Bu Rina. Umur 42 tahun, tapi kalau orang liat sering salah sangka dia masih akhir 30-an.
19967Please respect copyright.PENANAKE6HUKM4Sn
Hari itu hujan deras banget. Jam setengah enam sore, langit gelap kayak malam, angin bawa bau tanah basah masuk lewat jendela dapur yang setengah terbuka. Aku baru pulang dari kampus, kaos polo abu-abu basah kuyup di pundak sama dada. Tas ransel kulempar di lantai ruang tamu, sepatu sneakers dilepas pakai kaki sambil jalan ke dapur.
19967Please respect copyright.PENANAFu5zzfC3OK
“Ibuuu… Arga pulang!” teriakku sambil buka kulkas langsung nyari air dingin.
19967Please respect copyright.PENANA6tZg4xpl27
Dari ruang keluarga terdengar suara lembut yang sudah ribuan kali aku dengar.
19967Please respect copyright.PENANAFNroqjep0z
“Masuk dulu, ganti baju. Nanti masuk angin, Arga.”
19967Please respect copyright.PENANAOqOZKvyBvN
Itu Ibu. Bu Rina. Tinggi semampai, kulit putih kuning khas orang Jawa yang jarang kena matahari, rambut hitam lurus sebahu selalu diikat ponytail sederhana. Badannya proporsional—pinggang ramping, bokong bulat penuh, payudara ukuran 36C yang selalu terlihat berat meski pakai baju rumah longgar. Dia tipe ibu rumah tangga yang selalu rapi meski cuma di rumah: kaos polos longgar sama legging hitam atau celana pendek kain.
19967Please respect copyright.PENANA8c9oMGeVrS
Aku ambil segelas air es, minum setengah, baru sadar ada suara ketawa pelan dari ruang tamu.
19967Please respect copyright.PENANACehNUPWdy8
“Eh, ada tamu ya, Bu?”
19967Please respect copyright.PENANAXKpdyRkI1N
“Iya. Mas Dimas datang.”
19967Please respect copyright.PENANAhroLiDtC1x
Jantungku langsung lompat kecil. Dimas. Teman SD sampe kuliah, beda jurusan tapi masih sering ketemu. Dia satu-satunya orang yang bisa masuk rumah ini sesuka hati tanpa permen apa yang besar. Ayah jarang pulang, jadi Dimas sering mampir. Katanya numpang wifi, katanya ngerjain tugas bareng, katanya kangen masakan Tante Rina.
19967Please respect copyright.PENANAm781IGZfSE
Tapi aku tahu. Aku tahu banget.
19967Please respect copyright.PENANArbF8OEEF8b
Aku tahu caranya Dimas ngeliatin Ibu waktu Ibu lagi nyanyi kecil sambil nyapu halaman. Aku tahu caranya Ibu pura-pura nggak sadar tapi pipinya merah. Aku tahu caranya mereka ketawa kecil pas aku ke kamar mandi sebentar. Dan aku… benci diri sendiri karena malah nggak marah. Malah penasaran. Malah pengen tahu lebih jauh.
19967Please respect copyright.PENANAnwYLgVKTTt
Aku masuk ruang tamu bawa gelas.
19967Please respect copyright.PENANAxW5uzmG1xw
“Yo, bro. Lagi ngapain lo di sini? Lagi-lagi numpang makan ya?”
19967Please respect copyright.PENANAdrMKbHAkZU
Dimas duduk santai di sofa panjang, kaki selonjor, remot TV di tangan sambil nyalain Netflix. Kaos hitam polos, celana pendek olahraga. Badannya lebih berotot dari aku—dia rutin gym sama futsal. Rambut cepak rapi, kulit sawo matang, senyum lebar yang bikin cewek-cewek di kampus sering lirik.
19967Please respect copyright.PENANAfCxZ5pvkWZ
“Eh, Arga pulang. Gue cuma nemenin Tante bentar. Hujan deras banget, males balik kos.”
19967Please respect copyright.PENANAZrjow9CUqv
Ibu keluar dari dapur bawa nampan kecil: teh hangat sama pisang goreng masih ngepul.
19967Please respect copyright.PENANA19YgkR7rvn
“Ini, diminum dulu. Dingin banget badan kamu, Mas Dimas. Dari tadi basah kuyup.”
19967Please respect copyright.PENANA9zWWxHZXIN
Waktu Ibu membungkuk meletakkan nampan, kaos rumahannya longgar ke depan sedikit terbuka. Bra hitam renda tipis membungkus payudara penuhnya. Bentuk bulat sempurna, berat, puting samar tercetak karena dingin—cokelat muda, lingkaran areola kecil rapi.
19967Please respect copyright.PENANAUiY9CriDv7
Dimas ngeliat ke situ. Cuma sepersekian detik. Matanya melebar, lalu cepat balik ke TV.
19967Please respect copyright.PENANAHS9SuNperH
“Makasih, Tante. Wanginya enak banget pisang gorengnya.”
19967Please respect copyright.PENANAjwqQi4zBDS
Ibu tersenyum. Senyum lembut, mata sipit di ujung, gigi depan rapi, bibir tebal alami merah muda tua.
19967Please respect copyright.PENANAF8P9Di2wRg
“Masih hangat. Makan selagi panas ya.”
19967Please respect copyright.PENANA1HV0diZjD7
Dia duduk di sofa sebelah Dimas—jarak cuma satu bantal. Lutut Ibu hampir nyentuh paha Dimas yang terbuka karena celana pendek naik.
19967Please respect copyright.PENANAUOOPKttNY3
Aku duduk di kursi single sebelah, buka HP, scroll Instagram sambil sesekali lirik.
19967Please respect copyright.PENANAG09uBkS4l9
“Eh, tadi Tante cerita, dulu pas SMA Tante suka banget nonton konser band indie ya?” tanya Dimas.
19967Please respect copyright.PENANAKNzZ1qV3ez
Ibu ketawa kecil.
19967Please respect copyright.PENANAzyIvd1UgvX
“Iya, band favorit Tante Superman Is Dead. Tante sering bolos les buat nonton mereka di kota.”
19967Please respect copyright.PENANAQanPS1jodS
“Serius, Tante? Gue kira Tante tipe pendiam, nurut aturan.”
19967Please respect copyright.PENANA07nYzlRO0i
“Ya dulu nakal juga,” jawab Ibu sambil nyengir. “Tapi cuma sama temen deket yang tahu.”
19967Please respect copyright.PENANAXIBf7PsL7o
Dimas nyengir lebar. “Berarti sekarang Tante udah nggak nakal lagi dong?”
19967Please respect copyright.PENANAkuFaWVZyt1
Ibu memandang Dimas lama. Tatapan dari samping, bibir melengkung tipis.
19967Please respect copyright.PENANA2WXAonW0UQ
“Siapa bilang?”
19967Please respect copyright.PENANAqsE63cRQuT
Satu kalimat itu kayak petir kecil nyambar ruangan.
19967Please respect copyright.PENANAlF7yaIe5Er
Aku batuk kecil, pura-pura minum air.
19967Please respect copyright.PENANAJEHNniYqf6
“Eh, Arga mau ganti baju dulu. Basah nih.”
19967Please respect copyright.PENANAiDQWtItnxl
Ibu menoleh. “Iya, cepet ganti. Nanti masuk angin.”
19967Please respect copyright.PENANAePpRUwH8V2
Aku naik ke lantai atas, masuk kamar, tutup pintu. Tapi aku nggak ganti baju langsung. Aku berdiri di belakang pintu, telinga menempel ke celah. Pengen tahu apa yang mereka omongin pas aku nggak ada.
19967Please respect copyright.PENANAdHnvQIg4M6
Suara Dimas pelan.
19967Please respect copyright.PENANAlozj2Fq1wZ
“Tante… serius tadi?”
19967Please respect copyright.PENANARASmTFAIPa
Suara Ibu lebih pelan, hampir bisik.
19967Please respect copyright.PENANAsSNcjMLL4l
“Serius apa?”
19967Please respect copyright.PENANAqGqNHgEyvi
“Bahwa Tante… masih nakal.”
19967Please respect copyright.PENANACWnK1WtDRQ
Jeda panjang.
19967Please respect copyright.PENANAk9Rt1Bb51y
Lalu suara Ibu.
19967Please respect copyright.PENANA3YV8RpAVWv
“Mungkin ada. Tapi… nggak semua sisi itu boleh keluar, Mas.”
19967Please respect copyright.PENANAIe7g6u394i
“Kenapa nggak boleh?”
19967Please respect copyright.PENANARYqBVwyfR3
“Karena… nanti orang-orang terluka.”
19967Please respect copyright.PENANAy8HMUbSML7
Aku tahu “orang-orang” itu termasuk aku. Tapi bukannya marah, aku malah ngerasa panas aneh naik dari perut ke leher.
19967Please respect copyright.PENANAFb9QiBYd8C
Aku akhirnya ganti baju. Turun lagi.
19967Please respect copyright.PENANATIFtf0hHG5
Mereka sudah nggak di sofa. TV nyala kecil. Suara dari dapur.
19967Please respect copyright.PENANAMcR2GDXFq5
Ibu lagi cuci piring. Dimas bantuin nyeka piring pake lap.
19967Please respect copyright.PENANARnc8urxIbf
Mereka berdiri dekat banget. Punggung Ibu melengkung lembut waktu membungkuk bilas piring. Bokongnya bulat penuh di balik legging hitam tipis, garis celah terlihat jelas. Dimas ngeliat ke bawah. Sebentar. Tapi aku tahu.
19967Please respect copyright.PENANAn2TbwCbzqC
“Udah malem nih,” kataku tiba-tiba.
19967Please respect copyright.PENANAD6Bxpuew3x
Dimas menoleh. “Oh iya, bro. Gue balik dulu ya.”
19967Please respect copyright.PENANAGGWlQ6s6p6
Ibu menoleh. Pipinya agak merah.
19967Please respect copyright.PENANA86oc2wipWI
“Mas Dimas hati-hati ya di jalan. Hujan masih deres.”
19967Please respect copyright.PENANAizMFvj5dau
Dimas nyengir. “Makasih, Tante. Besok aku boleh mampir lagi nggak? Pengen makan soto Tante lagi.”
19967Please respect copyright.PENANATZq486bjep
Ibu tersenyum tipis. “Boleh. Pintu rumah ini selalu terbuka buat kamu.”
19967Please respect copyright.PENANA7x9wn9FyWm
Kata-kata itu polos. Tapi nada di belakangnya… nggak polos.
19967Please respect copyright.PENANAV1OQ2A3yKU
Dimas pamit. Aku antar sampai pagar. Motornya hidup, menjauh.
19967Please respect copyright.PENANAppgveFEC2T
Pas balik masuk, Ibu sudah naik ke atas. Lampu dapur mati. Tinggal lampu teras sama lampu kamar Ibu menyala samar.
19967Please respect copyright.PENANAaKUpIYl6Ca
Aku berdiri di tangga bawah, ngeliat ke atas.
19967Please respect copyright.PENANAUpZKKjPAeG
Pintu kamar Ibu setengah terbuka. Suara air mengalir—dia lagi mandi.
19967Please respect copyright.PENANAvfmnU9JlfP
Aku naik pelan. Bukan ngintip. Cuma pengen tahu.
19967Please respect copyright.PENANAuohV2Bzm7a
Suara air berhenti. Lalu Ibu nyanyi kecil. Lagu lama, “Cinta Dalam Hati” versi Ungu.
19967Please respect copyright.PENANAkumUEh0aGM
“Aku tak bisa menahan… perasaan ini…”
19967Please respect copyright.PENANAFH6NDKDnmF
Suara bergetar. Bukan dingin. Tapi karena sesuatu yang lain.
19967Please respect copyright.PENANADyB2b5rHvv
Aku balik ke kamar. HP bergetar. WA dari Dimas.
19967Please respect copyright.PENANAz2OMXrNU3E
Dimas:
“Bro, makasih ya hari ini. Tante baik banget.”
19967Please respect copyright.PENANAEnMH2I2pBj
Aku:
“Iya. Lo emang sering banget ke sini akhir-akhir ini.”
19967Please respect copyright.PENANACOybLU3l6t
Dimas:
“Emang kangen sih. Kangen masakan Tante. Kangen ngobrol sama Tante.”
19967Please respect copyright.PENANAMv3EDwgcCn
Aku nggak bales lagi.
19967Please respect copyright.PENANACPXS7UOYOG
Malam itu aku berbaring di kasur, mata nggak bisa merem.
19967Please respect copyright.PENANASmYerLk3hO
Di kepalaku muter terus: tatapan Dimas ke bra Ibu, bokong Ibu waktu membungkuk, senyum Ibu yang beda.
19967Please respect copyright.PENANAvwggtdC7Et
Dan suara nyanyian Ibu tadi.
19967Please respect copyright.PENANAnpQsoJKG5t
“Aku tak bisa menahan… perasaan ini…”
19967Please respect copyright.PENANAY23rndzSHC
Pagi berikutnya aku bangun dengan kepala berat, seperti ada kabut tipis yang nggak mau hilang dari pikiran. Jam di HP menunjukkan pukul 07:18. Sabtu, nggak ada kuliah. Badan terasa lengket meski AC nyala semalaman. Aku turun ke bawah masih pakai kaos oblong sama boxer tidur, bau kopi hitam sudah tercium dari dapur.
19967Please respect copyright.PENANANqT7RV1g0v
Ibu lagi berdiri di depan kompor, punggung menghadap pintu. Dia pakai daster tipis warna biru muda yang bahan katunnya agak tembus pandang kalau kena sinar matahari pagi dari jendela belakang. Rambut masih basah setelah mandi, diikat handuk kecil di atas kepala. Lehernya putih mulus, ada setetes air mandi yang mengalir pelan dari tengkuk ke tulang selangka, lalu hilang di balik kerah daster yang agak rendah.
19967Please respect copyright.PENANAm2ZlldClmD
“Pagi, Arga,” katanya tanpa menoleh. Suaranya lembut seperti biasa, tapi ada nada hangat yang beda hari ini.
19967Please respect copyright.PENANADZ26D61iDs
“Pagi, Bu. Mau sarapan apa?”
19967Please respect copyright.PENANA7VG1hkMMwm
Ibu menoleh. Senyumnya pagi ini terasa lebih… dalam. Pipinya agak merona, mungkin karena uap panci atau karena sesuatu yang lain.
19967Please respect copyright.PENANAEDl7crz61M
“Wah, anak ibu lagi mager nih. Nanti ibu bikin telur dadar keju sama roti bakar aja ya. Kopi mau?”
19967Please respect copyright.PENANAV2NQhPLLhS
“Iya, Bu. Hitam, nggak pake gula.”
19967Please respect copyright.PENANAC5jHerzCUH
Dia balik lagi ke kompor. Aku perhatiin gerakannya. Cara dia mengaduk telur di wajan, lengan naik-turun pelan, membuat daster bergoyang di bagian dada. Payudaranya bergerak lembut mengikuti irama—tanpa bra pagi ini, putingnya samar tercetak di kain tipis, dua titik kecil yang mengeras karena udara pagi dingin. Bentuknya bulat sempurna, berat tapi kencang, ukuran yang selalu bikin orang salah sangka Ibu masih muda.
19967Please respect copyright.PENANAWmQVsWlmqa
Aku duduk di kursi makan, tarik napas dalam. Pikiranku balik ke malam tadi. Tatapan Dimas ke bra Ibu. Bokong Ibu waktu membungkuk di dapur. Senyum Ibu yang beda. Pesan Dimas yang nggak aku bales.
19967Please respect copyright.PENANAzvsq1VU83w
Tiba-tiba HP bergetar di meja. Notif WA.
19967Please respect copyright.PENANAfqkJD98n4p
Dimas:
“Pagi bro. Tante udah bangun belum? Gue mau mampir bentar, bawa oleh-oleh klepon sama getuk dari warung Bu RT.”
19967Please respect copyright.PENANAVgpfl6N1b7
Aku baca dua kali. Jantung mulai berdegup agak kencang lagi.
19967Please respect copyright.PENANAv856fdKge8
Aku bales singkat.
19967Please respect copyright.PENANA6NB6FowUUg
Arga:
“Udah. Lagi masak sarapan. Mampir aja.”
19967Please respect copyright.PENANAOTDvGbmQ14
Dimas langsung balas.
19967Please respect copyright.PENANAbmBocp4xEl
Dimas:
“Oke. 15 menit gue sampe.”
19967Please respect copyright.PENANAD9DQwQNsYH
Aku taruh HP. Ibu lagi nyusun piring.
19967Please respect copyright.PENANARBNnFqsx5b
“Ada Dimas mau mampir, Bu. Bawa makanan.”
19967Please respect copyright.PENANAZzTvijTGlf
Ibu berhenti sejenak. Sendok kayu di tangannya diam di udara.
19967Please respect copyright.PENANADDHgSgne6l
“Oh… iya? Cepet banget dia datang lagi.”
19967Please respect copyright.PENANAz9Uh8VyVo0
Nada suaranya nggak marah. Malah ada sedikit… senang yang tersembunyi.
19967Please respect copyright.PENANAgrbh5mCXBe
“Emangnya kenapa, Bu? Biasa kan dia sering ke sini.”
19967Please respect copyright.PENANA9DfVVFuBeO
Ibu tersenyum kecil, balik fokus ke wajan.
19967Please respect copyright.PENANA4klFwugOnK
“Iya sih. Cuma… ibu seneng aja. Rumah jadi rame.”
19967Please respect copyright.PENANAWjaQ7gHxfy
Dia meletakkan piring di depanku. Waktu membungkuk, kerah daster terbuka sedikit lebih lebar. Aku lihat lekuk payudaranya dari atas—putih lembut, garis vena biru samar di samping, puting cokelat muda menonjol karena dingin.
19967Please respect copyright.PENANAcALjRgkuFz
Aku cepat-cepat ambil sendok, pura-pura fokus makan.
19967Please respect copyright.PENANAwFm73ndnu8
Ibu duduk di seberangku. Kakinya di bawah meja hampir nyentuh kakiku. Dia nggak sadar, atau pura-pura nggak sadar.
19967Please respect copyright.PENANAVM7hNjfoBm
“Kamu kok diem aja dari tadi?” tanyanya sambil mengoles selai kacang di roti.
19967Please respect copyright.PENANA1gJPCWfEbi
“Nggak apa-apa, Bu. Masih ngantuk.”
19967Please respect copyright.PENANACTJCVHgqUC
Dia memandangku lama. Mata cokelat tua, bulu mata panjang alami.
19967Please respect copyright.PENANAo92b5IwG2p
“Kalau ada apa-apa bilang ya sama ibu. Jangan dipendem sendiri.”
19967Please respect copyright.PENANAyH55YOVQbj
Aku mengangguk. Dalam hati pengen bilang:
“Bu, aku tahu ada sesuatu antara Ibu sama Dimas. Dan aku… entah kenapa nggak bisa marah. Malah pengen lihat lebih jauh.”
19967Please respect copyright.PENANASGY1fIc21X
Tapi tentu saja aku nggak bilang. Aku cuma senyum tipis.
19967Please respect copyright.PENANAg8WznqTeCL
“Iya, Bu.”
19967Please respect copyright.PENANA0ZpKfg0kfz
Sepuluh menit kemudian bel rumah berbunyi. Ibu bangun duluan.
19967Please respect copyright.PENANAdabEtTFBG6
“Aku buka pintu ya.”
19967Please respect copyright.PENANAypGNAu3MbS
Dia jalan ke pintu depan. Daster biru mudanya bergoyang pelan mengikuti langkah. Bokongnya membulat lembut di balik kain tipis itu.
19967Please respect copyright.PENANAv2ZqRUvRws
Aku ikut berdiri, ngintip dari sudut dapur.
19967Please respect copyright.PENANAOb1h0WCEkI
Dimas masuk sambil bawa dua kantong kresek.
19967Please respect copyright.PENANAUlnxRCR306
“Pagi Tante! Ini oleh-oleh dari Bu RT. Klepon sama getuk lindri masih hangat.”
19967Please respect copyright.PENANAl61Z3c7TOX
Ibu tersenyum lebar. Pipinya langsung merona lagi.
19967Please respect copyright.PENANAFoDurpuF03
“Wah, makasih banyak, Mas. Masuk dulu, sarapan bareng.”
19967Please respect copyright.PENANAxdDf9Lq8FB
Dimas melirik ke arahku.
19967Please respect copyright.PENANALmc2ggrMLp
“Eh bro, lo udah sarapan?”
19967Please respect copyright.PENANAr61pRJkYJD
“Baru mulai,” jawabku datar.
19967Please respect copyright.PENANALGrXyX7j2x
Dia masuk, taruh kantong di meja, lalu duduk di sebelah Ibu. Bukan di seberang. Di sebelah.
19967Please respect copyright.PENANATmtM1EZ76Y
Ibu ambil piring tambahan, nyuapin klepon ke piring kecil.
19967Please respect copyright.PENANARenRHwqEBW
“Ini masih hangat. Cobain dulu.”
19967Please respect copyright.PENANAst3J55SHFs
Dimas ambil satu, masukin ke mulut. Matanya melebar.
19967Please respect copyright.PENANA7eK3WxHFkw
“Enak banget! Tante harus belajar bikin klepon dari Bu RT nih.”
19967Please respect copyright.PENANACdjrnkEtvp
Ibu ketawa kecil.
19967Please respect copyright.PENANAN1ToM6spGM
“Ibu bisa kok. Cuma males aja ngulek kelapa parutnya.”
19967Please respect copyright.PENANAzHilBjhbbW
Mereka ngobrol ringan. Cuaca, harga beras, tetangga baru beli mobil. Tapi aku notice sesuatu.
19967Please respect copyright.PENANAHnbTxu0hXI
Cara Dimas ngeliat Ibu. Matanya sering turun ke leher, ke dada, ke tangan Ibu waktu narik rambut jatuh ke depan. Dan Ibu… nggak menutup kerah daster. Malah kadang membungkuk sedikit waktu ngambil sesuatu dari meja, membuat lekuk payudaranya terlihat lebih jelas.
19967Please respect copyright.PENANAPnzz1uz8Lb
Aku ngerasa panas di telinga. Bukan cemburu biasa. Lebih ke campuran aneh antara malu, penasaran, dan sesuatu yang bikin perut bergetar.
19967Please respect copyright.PENANABkG62HumAW
Setelah sarapan, Dimas bilang mau bantuin cuci piring. Ibu awalnya nolak, tapi Dimas ngotot.
19967Please respect copyright.PENANAc927IOLS07
“Ya udah, bantuin aja. Biar cepet.”
19967Please respect copyright.PENANA9o3RhvKYfJ
Mereka berdua di depan wastafel. Aku duduk di meja makan, pura-pura scroll TikTok, tapi mata nggak lepas.
19967Please respect copyright.PENANAePhkQl4eQB
Dimas berdiri di sebelah kiri Ibu. Bahunya nyaris nyentuh bahu Ibu. Waktu Ibu nyodorkan piring basah, tangan mereka bersentuhan. Lama. Jari Dimas melingkar sebentar di pergelangan tangan Ibu sebelum ambil piring.
19967Please respect copyright.PENANAjXuV7hGsmZ
Ibu nggak narik tangan. Dia cuma menoleh sedikit, senyum tipis.
19967Please respect copyright.PENANAhDDUt2cMh0
“Mas Dimas… hati-hati, licin.”
19967Please respect copyright.PENANAl1lVc93tB4
Dimas nyengir.
19967Please respect copyright.PENANAZpRvt27Hfm
“Iya Tante. Tapi tangan Tante lembut banget, nggak licin kok.”
19967Please respect copyright.PENANAOZ8s4nl2RQ
Ibu ketawa pelan. Pipinya merah lagi.
19967Please respect copyright.PENANAG2b4OYaDVw
Aku bangun tiba-tiba.
19967Please respect copyright.PENANAbW9fslweXy
“Gue ke kamar dulu ya. Mau tiduran bentar.”
19967Please respect copyright.PENANAOW33fs6CqK
Ibu menoleh.
19967Please respect copyright.PENANAPhO0so4pal
“Jangan lama-lama, nanti masuk angin.”
19967Please respect copyright.PENANAAyEe6IOw88
Dimas cuma nyengir ke arahku.
19967Please respect copyright.PENANAk5OBdVNNCa
“Tidur aja bro. Santai.”
19967Please respect copyright.PENANA0eqpEMds2g
Aku naik ke atas. Tapi nggak masuk kamar. Aku berdiri di tangga atas, ngintip dari celah pagar anak tangga.
19967Please respect copyright.PENANAAWlPFLXPlQ
Mereka masih di dapur. Sekarang Ibu lagi nyeka meja. Dimas berdiri di belakangnya, pura-pura bantu angkat piring kering ke rak.
19967Please respect copyright.PENANAWzObNCwKRZ
Tapi aku lihat. Tangan Dimas menyentuh pinggang Ibu. Cuma sebentar. Kayak nggak sengaja. Tapi Ibu nggak menghindar. Malah badannya agak mundur sedikit, punggungnya hampir nyentuh dada Dimas.
19967Please respect copyright.PENANA33xvGEGEbF
Mereka diam beberapa detik.
19967Please respect copyright.PENANAAJeOll8su3
Lalu Ibu berbalik pelan. Mereka saling berhadapan. Jarak cuma beberapa senti.
19967Please respect copyright.PENANA6w05UlOHLb
“Mas Dimas…” suara Ibu pelan banget. “Kamu… kenapa sih akhir-akhir ini sering banget ke sini?”
19967Please respect copyright.PENANAP8PjK8yhD3
Dimas nggak langsung jawab. Matanya turun ke bibir Ibu, lalu naik lagi ke mata.
19967Please respect copyright.PENANAG3TcvijCRa
“Karena aku suka ngeliat Tante senyum. Aku suka denger Tante cerita. Aku suka… deket sama Tante.”
19967Please respect copyright.PENANAYNHN0yndL5
Ibu menelan ludah. Dadanya naik-turun lebih cepat.
19967Please respect copyright.PENANAX8zN9QzVEC
“Itu… nggak boleh, Mas. Kamu tahu kan.”
19967Please respect copyright.PENANAe3MhCqAKkU
Dimas maju setengah langkah. Dada mereka hampir bersentuhan.
19967Please respect copyright.PENANAzJOOjcRs5A
“Aku tahu. Tapi aku nggak bisa bohong sama perasaan sendiri, Tante.”
19967Please respect copyright.PENANA4ahHIFWmtH
Ibu memandang Dimas lama. Matanya berkaca-kaca. Bukan sedih. Lebih ke campuran takut dan rindu.
19967Please respect copyright.PENANAd94xLoq6jr
“Kalau Arga tahu…”
19967Please respect copyright.PENANA12SF7ah27a
Dimas menggeleng pelan.
19967Please respect copyright.PENANAoXBQtYEBmj
“Dia nggak akan tahu. Kita… bisa jaga.”
19967Please respect copyright.PENANAz3cJRHN8UQ
Ibu menunduk. Rambut setengah basah jatuh menutupi sebagian wajah.
19967Please respect copyright.PENANALRo4znskql
“Mas Dimas… aku ibunya temenmu.”
19967Please respect copyright.PENANAWJmgUzzsjp
Dimas angkat tangan kanannya pelan, menyentuh dagu Ibu, mengangkat wajahnya supaya saling tatap lagi.
19967Please respect copyright.PENANA9IDbi9n5KC
“Justru karena itu… aku nggak bisa berhenti mikirin Tante.”
19967Please respect copyright.PENANAhHqSggCq7C
Mereka diam lagi. Lama.
19967Please respect copyright.PENANAa3qtnmimeP
Aku ngerasa jantung mau copot. Aku pengen teriak. Aku pengen turun dan nendang Dimas keluar. Tapi kakiku nggak gerak. Malah… aku ngerasa ada sesuatu yang keras di boxerku. Aku malu sendiri.
19967Please respect copyright.PENANApOhOSiP8WK
Akhirnya Ibu mundur satu langkah. Suaranya bergetar.
19967Please respect copyright.PENANAOJ1o2SXf9w
“Mas Dimas… pulang dulu ya hari ini. Ibu… butuh mikir.”
19967Please respect copyright.PENANAp2g4f7Qjxt
Dimas mengangguk pelan. Matanya masih nggak lepas dari wajah Ibu.
19967Please respect copyright.PENANAdo9tXyyCEU
“Iya, Tante. Aku nggak mau maksa. Tapi… aku bakal balik lagi. Besok. Lusa. Sampai Tante bilang berhenti.”
19967Please respect copyright.PENANANneuaoO0xK
Ibu cuma mengangguk kecil. Nggak bilang apa-apa lagi.
19967Please respect copyright.PENANAI4W8RotcSV
Dimas pamit. Aku buru-buru masuk kamar sebelum dia naik tangga. Aku dengar pintu depan ditutup. Motor Dimas hidup, lalu menjauh.
19967Please respect copyright.PENANAMQt9rY2NwI
Beberapa menit kemudian aku dengar langkah Ibu naik tangga. Pelan. Berat.
19967Please respect copyright.PENANAoarNadQj8E
Dia berhenti di depan pintu kamarku. Ketuk pelan.
19967Please respect copyright.PENANAEFqkPSk0Iw
“Arga… ibu masuk ya?”
19967Please respect copyright.PENANAkFeC6h6g9j
Aku buka pintu. Ibu berdiri di sana, matanya merah. Tapi nggak nangis.
19967Please respect copyright.PENANAtZUuPNTOnN
“Ibu cuma mau bilang… ibu sayang kamu. Selalu.”
19967Please respect copyright.PENANAhiXGcjwDtK
Aku mengangguk. Tenggorokanku kering.
19967Please respect copyright.PENANAFuzVj781Dt
“Iya, Bu. Aku tahu.”
19967Please respect copyright.PENANA5QWZZoEyoV
Dia tersenyum tipis. Lalu masuk ke kamarnya sendiri. Pintu ditutup pelan.
19967Please respect copyright.PENANAs5Koi3YOIU
Malam itu aku nggak bisa tidur lagi.
19967Please respect copyright.PENANA0b51QGUIdW
Aku tahu garis itu sudah mulai kabur.
19967Please respect copyright.PENANA3pB6mPd5wD
Dan aku, Arga… entah kenapa… malah pengen lihat seberapa jauh garis itu bisa hilang.
19967Please respect copyright.PENANANryCxRWJcc
Malam itu hujan lagi. Bukan deras seperti kemarin, tapi gerimis halus yang bikin jendela kamar berembun tipis. Aku, Arga, duduk di kasur, punggung bersandar ke headboard, HP di tangan tapi layarnya gelap. Jam sudah lewat tengah malam, pukul 00:47. Rumah sepi. Ayah nggak pulang akhir pekan ini—katanya ada meeting mendadak di Surabaya. Jadi cuma ada aku sama Ibu di rumah besar ini.
19967Please respect copyright.PENANAgCUXIqRtcG
Aku nggak bisa tidur. Pikiranku muter terus ke adegan pagi tadi di dapur. Sentuhan tangan Dimas di pinggang Ibu. Cara Ibu nggak langsung menjauh. Cara matanya berkaca-kaca pas bilang “aku ibunya temenmu”. Dan cara Dimas jawab, “justru karena itu… aku nggak bisa berhenti mikirin Tante.”
19967Please respect copyright.PENANAc7nCC4MWhq
Aku tarik napas panjang. Dada terasa sesak. Tapi anehnya, bukan sesak marah. Lebih ke… gelisah yang panas. Yang bikin tangan dingin tapi telapak tangan berkeringat.
19967Please respect copyright.PENANAKEdNeKkeN7
HP bergetar pelan di kasur. Notif WA.
19967Please respect copyright.PENANAo0Rl5ycfll
Dimas.
19967Please respect copyright.PENANAmhcj6bvjxo
Arga:
“Bro… lo udah tidur?”
19967Please respect copyright.PENANACrifFjEcE3
Aku liat status online-nya. Dia masih aktif. Jari aku ragu-ragu di atas keyboard.
19967Please respect copyright.PENANAGVHBlEH2ZM
Arga:
“Belum. Lo kenapa?”
19967Please respect copyright.PENANAZfO38qf3B4
Dimas:
“Nggak bisa tidur. Mikirin tadi pagi.”
19967Please respect copyright.PENANAQqcNFAS1jg
Jantungku langsung lompat. Aku tahu apa yang dia maksud.
19967Please respect copyright.PENANAF9vZGCkawl
Arga:
“Mikirin apa?”
19967Please respect copyright.PENANAk8JX2HozSh
Dimas typing lama. Titik-titiknya muncul hilang muncul lagi.
19967Please respect copyright.PENANAx7wLcsLZ3b
Dimas:
“Tante.
Aku tahu aku salah. Tapi aku beneran nggak bisa bohong lagi. Setiap kali ke rumah lo, aku cuma pengen ngeliat Tante. Denger suaranya. Liat senyumnya.
Dan tadi… waktu tangan kita nyentuh… rasanya listrik gitu, bro.”
19967Please respect copyright.PENANA0TrO95AQM1
Aku baca pesan itu berkali-kali. Dada panas. Aku nggak bales langsung. Malah aku buka chat Ibu. Dia online juga. Pukul 00:52.
19967Please respect copyright.PENANAdsSLXg8cGg
Aku nggak tahu kenapa, tapi aku ngetik pesan ke Ibu.
19967Please respect copyright.PENANAU0TtVcWeB6
Arga:
“Bu… masih bangun?”
19967Please respect copyright.PENANAYvTsknwkr0
Pesan terkirim. Dia langsung read.
19967Please respect copyright.PENANAlXQ0mwwK68
Ibu:
“Iya Arga. Ibu lagi di kamar. Kamu kenapa belum tidur?”
19967Please respect copyright.PENANAOuCsnMfjMk
Arga:
“Nggak bisa tidur aja. Mikirin banyak hal.”
19967Please respect copyright.PENANAhQmBg7hXI0
Ibu:
“Apa yang dipikirin?”
19967Please respect copyright.PENANAiBLxBdzQFE
Aku ragu. Jari gemetar sedikit.
19967Please respect copyright.PENANAoaWTJgg0bd
Arga:
“Bu… kalau misalnya ada orang yang suka sama Ibu… Ibu bakal gimana?”
19967Please respect copyright.PENANAk8TTXviExk
Jeda panjang. Dia nggak langsung bales. Aku bisa bayangin dia lagi duduk di ranjang, mungkin pakai daster tipis lagi, rambut terurai, matanya menatap layar HP dengan ekspresi bingung.
19967Please respect copyright.PENANA6l8570sX04
Akhirnya balesannya masuk.
19967Please respect copyright.PENANAcqLuEh3llB
Ibu:
“Kenapa tiba-tiba nanya gitu, Arga?”
19967Please respect copyright.PENANA2HuFTRFcTP
Arga:
“Cuma penasaran aja.”
19967Please respect copyright.PENANARq8LLIhJVB
Ibu:
“…Ibu nggak tahu. Ibu udah lama nggak mikirin hal-hal kayak gitu.
Tapi kalau orang itu… bikin Ibu merasa dilihat lagi, merasa diinginkan lagi… mungkin Ibu bakal takut. Takut salah langkah. Takut nyakitin orang lain.”
19967Please respect copyright.PENANAjx3VqGXPwE
Aku baca pesan itu. Tenggorokanku kering.
19967Please respect copyright.PENANASm5xoRwzuo
Arga:
“Termasuk nyakitin aku?”
19967Please respect copyright.PENANAf3GCFBhUFT
Ibu:
“Terutama kamu.”
19967Please respect copyright.PENANAxw1evh5znX
Aku taruh HP di dada. Mata terpejam. Aku ngerasa ada sesuatu yang retak di dalam diri aku. Bukan marah. Lebih ke… rela? Aku nggak ngerti sendiri.
19967Please respect copyright.PENANAFdOjPqM79g
Tiba-tiba HP bergetar lagi. Dimas.
19967Please respect copyright.PENANARGk3Zw6Gln
Dimas:
“Bro… lo marah nggak kalau gue bilang gue suka sama ibu lo?”
19967Please respect copyright.PENANAQeO0nH1hA7
Pertanyaan itu kayak tamparan. Tapi anehnya, nggak sakit. Malah bikin aku penasaran lebih dalam.
19967Please respect copyright.PENANATT68tEX0ui
Arga:
“Lo beneran suka? Atau cuma nafsu?”
19967Please respect copyright.PENANAIlyJV6HQEt
Dimas bales cepet.
19967Please respect copyright.PENANAEAcziype9Q
Dimas:
“Awalnya mungkin nafsu. Tapi sekarang… lebih dari itu.
Gue suka caranya Tante ketawa kecil pas cerita masa lalu. Gue suka caranya Tante nyanyi pelan waktu nyapu. Gue suka caranya Tante ngeliat gue… kayak gue bukan cuma temen lo, tapi… orang yang dia perhatiin.”
19967Please respect copyright.PENANAY0RwxJQid0
Aku nggak bales lagi. Aku matiin HP, taruh di meja samping. Lalu aku bangun. Kaki telanjang menyentuh lantai dingin. Aku jalan pelan ke pintu kamar, buka sedikit.
19967Please respect copyright.PENANA3Xq5UhSSce
Koridor gelap. Cuma lampu tidur di ujung tangga yang nyala kuning redup.
19967Please respect copyright.PENANADH8sCNEVfp
Aku jalan ke kamar Ibu. Pintunya setengah terbuka, seperti biasa kalau dia lagi sendirian di rumah. Aku berdiri di ambang pintu, nggak masuk.
19967Please respect copyright.PENANAV7UZOVFGAj
Ibu duduk di ranjang. Punggungnya menghadap ke pintu. Dia pakai daster sutra tipis warna krem yang jatuh longgar di bahu. Rambut hitamnya tergerai sampai punggung tengah. Dia lagi pegang HP, tapi sekarang dia taruh di pangkuan. Kepalanya menunduk.
19967Please respect copyright.PENANA7EnWR0SGHP
Aku tahu dia nggak tidur. Napasnya terdengar pelan, agak cepat.
19967Please respect copyright.PENANAToqQQbiB32
Aku ketuk pintu pelan.
19967Please respect copyright.PENANAhtQ7uai4zy
“Bu…”
19967Please respect copyright.PENANAwfPr4N3DiA
Ibu menoleh. Matanya melebar sedikit, tapi cepat tenang lagi.
19967Please respect copyright.PENANAX2Eq0risoW
“Arga… kenapa belum tidur?”
19967Please respect copyright.PENANArMD86lYX0a
Aku masuk pelan, tutup pintu di belakangku. Nggak dikunci.
19967Please respect copyright.PENANAEr6rTfedk0
“Aku… pengen ngobrol.”
19967Please respect copyright.PENANAbFr9hCxG0h
Ibu menggeser badan, memberi ruang di sampingnya. Aku duduk di pinggir ranjang. Jarak kami cuma satu bantal.
19967Please respect copyright.PENANAt2gvHjwHuM
“Ngobrol apa?” tanyanya lembut.
19967Please respect copyright.PENANAD6cEcprWnb
Aku menatap lantai. “Bu… aku tahu Dimas suka sama Ibu.”
19967Please respect copyright.PENANAwpbAqS3DEG
Ibu diam. Napasnya terhenti sebentar.
19967Please respect copyright.PENANAvLGPsoW0QN
“Lalu… kamu gimana?”
19967Please respect copyright.PENANAhPZKyheZdB
Aku angkat muka, tatap matanya.
19967Please respect copyright.PENANA2PmhtqLE5Y
“Aku… nggak marah. Aku cuma… bingung. Kenapa aku nggak marah.”
19967Please respect copyright.PENANAGCXlVoxwt7
Ibu menunduk. Jari-jarinya mainin ujung daster.
19967Please respect copyright.PENANA0NRPvLSsxk
“Mungkin karena kamu tahu Ibu juga… kesepian.”
19967Please respect copyright.PENANAVpa3nrIYk1
Kata itu keluar pelan, hampir bisik. Tapi rasanya kayak bom kecil di dada aku.
19967Please respect copyright.PENANADyZMcB4aVC
“Kesepian?”
19967Please respect copyright.PENANA2Nteol4gIJ
Ibu mengangguk kecil. “Ayahmu… udah lama nggak pulang. Kalau pulang pun cuma sebentar. Ibu nggak nyalahin dia. Tapi… Ibu manusia biasa, Arga. Ibu juga butuh… perhatian. Sentuhan. Kata-kata manis. Ibu juga pengen merasa… cantik lagi.”
19967Please respect copyright.PENANAlPfOz4vjff
Aku ngerasa tenggorokanku kering banget.
19967Please respect copyright.PENANAxNAgsZvYdW
“Dan Dimas… bikin Ibu merasa gitu?”
19967Please respect copyright.PENANAQyBXC5EdHE
Ibu nggak langsung jawab. Dia memandang ke jendela. Gerimis masih turun pelan.
19967Please respect copyright.PENANA8543bAruDg
“Dia… muda. Energik. Dia ngeliat Ibu bukan sebagai ibu rumah tangga yang udah tua. Dia ngeliat Ibu sebagai… wanita.”
19967Please respect copyright.PENANAgHTeLBqjef
Aku menelan ludah. “Lalu Ibu… suka dia juga?”
19967Please respect copyright.PENANAM6zSDu7Lgh
Ibu menoleh ke aku. Matanya basah.
19967Please respect copyright.PENANABl2bYD1HmL
“Ibu takut jawab pertanyaan itu, Arga. Karena kalau Ibu bilang iya… berarti Ibu udah melanggar banyak hal.”
19967Please respect copyright.PENANA6J36I10i1n
Aku maju sedikit. Tangan aku menyentuh punggung tangan Ibu. Dingin.
19967Please respect copyright.PENANAtux0Fi3LYI
“Bu… kalau Ibu mau… aku nggak bakal halangin.”
19967Please respect copyright.PENANAi1Np6K43cP
Ibu menatapku kaget. “Arga… kamu ngomong apa?”
19967Please respect copyright.PENANA5hgFYtcnT9
“Aku serius. Aku… pengen Ibu bahagia. Meski caranya… aneh. Meski orang bakal bilang salah.”
19967Please respect copyright.PENANAwpVrd4eKbq
Ibu diam lama. Lalu dia mengangguk kecil.
19967Please respect copyright.PENANAO98zCAcD4v
“Baiklah.”
19967Please respect copyright.PENANAJAukH9EVjt
Malam itu kami nggak ngomong banyak lagi. Kami cuma duduk berdampingan. Tangan aku masih pegang punggung tangan Ibu. Jari kami saling kait pelan.
19967Please respect copyright.PENANASLAQEB7XvT
Sekitar jam satu lewat, HP Ibu bergetar di meja samping.
19967Please respect copyright.PENANAYInUWUkM03
Dia melirik. Nama Dimas muncul di layar.
19967Please respect copyright.PENANAXMZo7jIvg0
Ibu menatap aku. Seperti minta izin.
19967Please respect copyright.PENANAHvzk1i9OFu
Aku mengangguk kecil.
19967Please respect copyright.PENANAUKVZW6ho8g
Ibu ambil HP, buka pesan.
19967Please respect copyright.PENANAsPgsnycvEP
Dimas:
“Tante… aku nggak bisa tidur. Mikirin Tante terus.
Boleh nggak aku telpon sebentar?”
19967Please respect copyright.PENANA9XZIJuUDaL
Ibu menatap aku lagi.
19967Please respect copyright.PENANA1iz26Pqw6w
Aku bisik pelan.
19967Please respect copyright.PENANAcM9mMACcbb
“Jawab aja, Bu.”
19967Please respect copyright.PENANAnmQR6eBU1s
Ibu mengetik balasan.
19967Please respect copyright.PENANAQvBKefXpci
Ibu:
“Boleh. Tapi pelan-pelan ya. Arga lagi di kamar sebelah.”
19967Please respect copyright.PENANAhZOFEZFhOW
Dia tekan tombol panggilan. Speaker off. Dia taruh HP di telinga.
19967Please respect copyright.PENANAzmfyFo76IS
“Halo… Mas Dimas…”
19967Please respect copyright.PENANALkocWTaslB
Suara Dimas terdengar samar dari seberang.
19967Please respect copyright.PENANAEkOlSKmycF
“Tante… suara Tante lembut banget malam-malam gini.”
19967Please respect copyright.PENANAbXFbUjCcch
Ibu tersenyum tipis. Pipinya merona.
19967Please respect copyright.PENANACbLie82Y6J
“Mas Dimas juga belum tidur?”
19967Please respect copyright.PENANApyR2L0sACL
“Enggak bisa. Kepikiran Tante terus. Tadi pagi… waktu tangan kita nyentuh… Tante ngerasa apa?”
19967Please respect copyright.PENANAHZMe6R6jNy
Ibu menelan ludah. Matanya melirik ke aku.
19967Please respect copyright.PENANA3USVbmOocx
“Ibu… ngerasa hangat. Dan takut.”
19967Please respect copyright.PENANAWJSObRrmHT
“Takut kenapa?”
19967Please respect copyright.PENANAWGwJbsyWv5
“Takut… ini salah. Takut Arga tahu. Takut… kita nggak bisa berhenti kalau udah mulai.”
19967Please respect copyright.PENANAKir5F0sCwW
Dimas diam sebentar.
19967Please respect copyright.PENANAIJuL2qV0Mn
“Tante… kalau Tante mau berhenti, bilang sekarang. Aku bakal mundur. Tapi kalau Tante nggak bilang berhenti… aku bakal datang lagi besok. Dan lusa. Sampai Tante bilang iya.”
19967Please respect copyright.PENANA5gPuIXIjDA
Ibu menutup mata. Napasnya bergetar.
19967Please respect copyright.PENANAHgyvpVTrvm
“Mas Dimas… Ibu nggak tahu harus bilang apa.”
19967Please respect copyright.PENANA1OLa0AP89S
“Tante nggak perlu bilang apa-apa sekarang. Cukup… jangan tolak aku besok. Biarin aku deket lagi. Biarin aku… sentuh tangan Tante lagi. Pelan-pelan aja.”
19967Please respect copyright.PENANAS3Z0UYLKlU
Ibu membuka mata. Tatapannya ke aku penuh pertanyaan.
19967Please respect copyright.PENANATGwiNN5eKe
Aku mengangguk lagi. Pelan.
19967Please respect copyright.PENANAudfTWjx7qA
Ibu berbisik ke HP.
19967Please respect copyright.PENANAr8wFDwKSdi
“Besok… datang aja. Siang. Arga ada jadwal kelompok di kampus sampe sore.”
19967Please respect copyright.PENANAu53ooWBDEq
Dimas terdengar napasnya lega.
19967Please respect copyright.PENANA5pA4ztkqsM
“Makasih, Tante. Aku janji… aku bakal pelan. Aku nggak mau Tante takut.”
19967Please respect copyright.PENANAGgw6T8QWq5
Ibu tersenyum kecil. “Ibu percaya sama kamu.”
19967Please respect copyright.PENANAZPaW7Jy9UK
Mereka ngobrol lagi beberapa menit. Hal-hal kecil. Tentang mimpi Dimas malam tadi yang ada Ibu di dalamnya. Tentang Ibu yang cerita dulu suka makan mie apa pas kuliah. Suara mereka lembut, seperti orang yang sudah lama saling kenal tapi baru mulai saling membuka.
19967Please respect copyright.PENANADCvaAX1duA
Akhirnya panggilan selesai.
19967Please respect copyright.PENANA4KVLR9vkXc
Ibu taruh HP. Dia menatap aku lama.
19967Please respect copyright.PENANAW3iob7xGx9
“Arga… kamu beneran oke?”
19967Please respect copyright.PENANA32Qz1skghD
Aku tarik napas dalam.
19967Please respect copyright.PENANA8FuZ49rSW2
“Aku oke, Bu. Aku cuma… pengen Ibu bahagia. Dan aku pengen tahu semuanya.”
19967Please respect copyright.PENANAhdMFZv1xNY
Ibu maju pelan. Peluk aku dari samping. Kepalanya bersandar di bahuku. Bau sabun mandi malamnya tercium lembut.
19967Please respect copyright.PENANAF14Fm6oRCi
“Makasih, Arga. Ibu sayang kamu.”
19967Please respect copyright.PENANAVgVQH3c5Ol
Aku balas pelukannya. Tapi di kepalaku, aku tahu.
19967Please respect copyright.PENANAvDenaMTEfF
Besok siang… sesuatu bakal berubah.
19967Please respect copyright.PENANAFIMVAhM3xe
Dan aku… bakal ada di sini. Mungkin ngintip. Mungkin denger. Mungkin… ikut merasakan degup jantung yang sama.
19967Please respect copyright.PENANAwf3QJGXad8
Malam itu aku tidur di kamar Ibu. Di ranjang yang sama, tapi pisah bantal. Kami nggak ngapa-ngapain. Cuma tidur berdampingan. Tapi rasanya… lebih intim dari apa pun yang pernah aku rasain sebelumnya.
19967Please respect copyright.PENANAeIb5zqL4fT
Siang itu matahari Kudus terik sekali, tapi di dalam rumah terasa lebih panas—bukan karena suhu, melainkan karena apa yang sudah menggantung di udara sejak pagi. Aku, Arga, berangkat ke kampus jam sepuluh, pura-pura ada kelompok presentasi sampai sore. Padahal presentasinya selesai jam satu siang. Aku sengaja bilang ke Ibu bakal pulang jam enam atau tujuh, biar ada ruang yang cukup.
19967Please respect copyright.PENANASqTDw8506c
Pas aku keluar pagar, aku sempat nengok ke jendela kamar Ibu. Tirai tipisnya bergoyang pelan, dan aku yakin Ibu lagi ngeliatin aku pergi dari balik kaca. Aku angkat tangan kecil, senyum tipis. Dia balas dengan senyuman yang sama—lembut, tapi ada getar di ujung bibirnya.
19967Please respect copyright.PENANA1Xt11cYF6u
Aku nggak langsung ke kampus. Aku muter ke warung kopi deket kampus, pesen es kopi susu, duduk di pojok sambil buka HP. Pikiranku cuma satu: apa yang bakal terjadi di rumah jam dua atau tiga siang nanti.
19967Please respect copyright.PENANAu2zIRR4AL4
Jam 13:42, Dimas kirim pesan ke grup WA kami bertiga.
19967Please respect copyright.PENANAYisn29tL4O
Dimas:
“Tante, aku otw. Bawa bakso urat kesukaan Tante dari Pak Joko. Masih panas nih.”
19967Please respect copyright.PENANANkvdmdFIo9
Ibu bales cepet.
19967Please respect copyright.PENANAFNDWuIl3NP
Ibu:
“Makasih ya Mas. Pintu depan nggak dikunci. Langsung masuk aja.”
19967Please respect copyright.PENANACQ0SxKbTxJ
Aku baca chat itu dari HP. Jantung mulai berdegup kencang. Aku matiin notif grup, tapi tetep pantengin.
19967Please respect copyright.PENANA3NiFYufD5C
Jam 14:05, Dimas kirim foto ke chat pribadi sama Ibu—aku tahu karena aku sempat liat preview sebelum dia hapus.
19967Please respect copyright.PENANAhsolEqQ4nP
Foto itu cuma tangan Dimas pegang mangkok bakso plastik, tapi di background samar-samar keliatan pintu depan rumah kami yang udah terbuka. Artinya: dia udah sampe.
19967Please respect copyright.PENANA2fWsGZLrAc
Aku tarik napas dalam-dalam. Aku bayangin Ibu lagi berdiri di ruang tamu, mungkin pakai baju rumah yang biasa—kaos longgar sama celana pendek kain atau legging. Rambut diikat ponytail sederhana. Pipi merona meski dia coba sembunyiin.
19967Please respect copyright.PENANA8Nm3MVPU2d
Aku mutusin buat pulang pelan-pelan. Nggak langsung masuk rumah. Aku parkir motor di gang belakang, masuk lewat pintu samping yang jarang dipake. Naik ke lantai atas pelan banget, masuk ke kamarku, tutup pintu tapi nggak dikunci. Dari sini aku bisa denger hampir semua suara di bawah—ruang tamu, dapur, bahkan tangga kalau orang naik.
19967Please respect copyright.PENANAiZvGlm1c2L
Aku duduk di lantai, punggung bersandar ke pintu, telinga menempel ke celah bawah. Suara mereka mulai terdengar.
19967Please respect copyright.PENANACb5FrKBjXi
Ibu:
“Wah, masih panas banget ya Mas. Makasih banyak.”
19967Please respect copyright.PENANAKyC5L5c7xS
Dimas:
“Sama-sama, Tante. Gue sengaja ambil yang baru mateng. Biar Tante bisa makan selagi hangat.”
19967Please respect copyright.PENANAbnTWfjWBHn
Suara sendok plastik beradu sama mangkok. Mereka lagi makan bareng di meja makan kecil deket dapur.
19967Please respect copyright.PENANAa30rzrTuRW
Ibu:
“Enak banget kuahnya. Pedesnya pas. Mas Dimas tahu banget selera Ibu ya?”
19967Please respect copyright.PENANAyiLZsTkEF1
Dimas ketawa pelan.
“Ya iyalah, Tante. Gue kan sering liat Tante makan. Tiap kali gue mampir, gue perhatiin Tante suka tambah cabe berapa sendok.”
19967Please respect copyright.PENANAyx74ost2kP
Ibu ketawa kecil. Suaranya renyah, tapi agak bergetar.
19967Please respect copyright.PENANAIpyD8aRBj8
“Kok perhatiin banget sih?”
19967Please respect copyright.PENANAa4Bf1kqHvI
Dimas:
“Karena… gue suka ngeliat Tante. Semuanya. Cara Tante nyendok, cara Tante tiup kuah supaya nggak kepanasan, cara Tante senyum pas rasanya pas di lidah.”
19967Please respect copyright.PENANA9HZztphwla
Jeda. Sendok berhenti bergerak.
19967Please respect copyright.PENANAKOC44BUzxb
Ibu:
“Mas Dimas… jangan gitu. Nanti… Arga pulang tiba-tiba.”
19967Please respect copyright.PENANAiMJsgwM4hE
Dimas:
“Tante bilang sendiri tadi pagi dia pulang sore. Kita punya waktu.”
19967Please respect copyright.PENANA1F81tK74cc
Ibu diam. Aku bisa bayangin dia lagi nunduk, mainin sendok di mangkok.
19967Please respect copyright.PENANAvyNV1fKUrc
Dimas:
“Tante… liat gue dong.”
19967Please respect copyright.PENANAsMktAnNfRA
Suara kursi bergeser pelan. Dimas pindah duduk lebih deket ke Ibu. Lutut mereka nyentuh di bawah meja.
19967Please respect copyright.PENANAfzRdZ79VPb
Dimas:
“Tante cantik banget hari ini. Kaos putihnya… cocok banget sama kulit Tante.”
19967Please respect copyright.PENANAI3fu8mSAaB
Ibu:
“Ini kaos biasa aja, Mas. Udah lama.”
19967Please respect copyright.PENANAi9DOys1LPW
Dimas:
“Tapi pas dipake Tante… beda. Semuanya jadi keliatan… lembut. Hangat.”
19967Please respect copyright.PENANA2OoZMmJ6q2
Aku ngerasa napas aku sendiri jadi pendek. Aku bayangin Ibu pakai kaos putih longgar yang agak tipis, tanpa bra lagi mungkin—putingnya samar tercetak kalau kena cahaya. Celana pendek kain abu-abu yang biasa dia pakai di rumah, memperlihatkan paha mulus putihnya yang nggak pernah kena matahari.
19967Please respect copyright.PENANArvaCPbHaLa
Dimas:
“Boleh nggak… gue pegang tangan Tante sebentar?”
19967Please respect copyright.PENANALNo4qI49KE
Ibu nggak langsung jawab. Aku denger napasnya agak cepat.
19967Please respect copyright.PENANATNaOOUdWTq
Ibu:
“Mas… ini… kita nggak boleh.”
19967Please respect copyright.PENANAhgdlJ7lJvR
Dimas:
“Cuma tangan. Gue janji nggak lebih. Gue cuma pengen ngerasain… hangatnya Tante.”
19967Please respect copyright.PENANAar3tiiY6Te
Jeda panjang.
19967Please respect copyright.PENANAXpHqtjwvoT
Lalu suara pelan—jari-jari yang saling bertemu.
19967Please respect copyright.PENANAdgnRMGY5Qd
Dimas:
“Tangan Tante dingin. Gue hangatin ya.”
19967Please respect copyright.PENANAHT7uWIMyEu
Ibu:
“Mas Dimas…”
19967Please respect copyright.PENANAyIR2dMwTT9
Suara itu hampir bisik. Bukan nolak. Lebih ke… menyerah pelan.
19967Please respect copyright.PENANA1l20XnpMlQ
Mereka diam beberapa menit. Cuma denger suara napas. Kadang suara jempol Dimas mengusap punggung tangan Ibu pelan-pelan, melingkar di tulang pergelangan.
19967Please respect copyright.PENANAX7awX7hRaJ
Dimas:
“Tante tahu nggak… setiap kali gue pulang dari sini, gue nggak bisa tidur. Mikirin tangan ini. Mikirin senyum Tante. Mikirin… bau sabun mandi Tante yang masih nempel di baju gue pas gue peluk Tante kemarin pas pamitan.”
19967Please respect copyright.PENANAjXHub8I2Cb
Ibu:
“Kemarin itu… cuma pelukan biasa.”
19967Please respect copyright.PENANA1f21LR1COb
Dimas:
“Bagi Tante mungkin biasa. Bagi gue… itu yang pertama kali gue ngerasa Tante balas peluk gue lebih erat dari biasanya.”
19967Please respect copyright.PENANA5E6W4NR2HX
Ibu diam lagi.
19967Please respect copyright.PENANAIHWcdVivl4
Dimas:
“Tante… boleh gue peluk lagi? Sekarang. Di sini. Cuma peluk. Gue janji nggak lebih.”
19967Please respect copyright.PENANAj5FiHWzKv6
Aku ngerasa dada sesak. Napas aku hampir berhenti.
19967Please respect copyright.PENANARX2ka5oTS2
Ibu:
“Mas… kalau Arga tahu…”
19967Please respect copyright.PENANA7ROBodZ998
Dimas:
“Dia nggak bakal tahu. Dan… kemarin malam Tante bilang ke gue lewat chat… kalau Arga udah tahu. Dan dia… nggak marah.”
19967Please respect copyright.PENANAPnKw7vxjnG
Ibu terdengar menarik napas tajam.
19967Please respect copyright.PENANAmP7LITfAXW
Ibu:
“Kamu… tahu dari mana?”
19967Please respect copyright.PENANALo3fTp9Y05
Dimas:
“Tante sendiri yang cerita tadi pagi pas chat. Bahwa Arga bilang… boleh. Bahwa Arga pengen Tante bahagia.”
19967Please respect copyright.PENANA81DT4O1BMi
Ibu:
“Aku… nggak nyangka dia bakal bilang gitu.”
19967Please respect copyright.PENANA8lZl0VMHnp
Dimas:
“Mungkin Arga lebih dewasa dari yang kita kira. Mungkin dia juga pengen Tante nggak kesepian lagi.”
19967Please respect copyright.PENANANJjzauBHGp
Ibu nggak jawab. Tapi aku denger suara kursi bergeser lagi. Mereka berdiri.
19967Please respect copyright.PENANAx18F8lgUBX
Dimas:
“Sini… peluk gue pelan aja.”
19967Please respect copyright.PENANAmVyW8AImjN
Suara kain bergesekan. Napas Ibu terdengar deket banget.
19967Please respect copyright.PENANA9mYXu8y8jI
Dimas:
“Tante… bau sabunnya enak banget. Sama kayak kemarin.”
19967Please respect copyright.PENANAYIMOOMReMS
Ibu:
“Mas Dimas… jantung kamu deg-degan banget.”
19967Please respect copyright.PENANAERHmQmQklk
Dimas:
“Iya. Karena gue deket sama Tante. Karena gue akhirnya boleh pegang Tante kayak gini.”
19967Please respect copyright.PENANApUBlAaOKCB
Mereka diam lama. Cuma pelukan. Tangan Dimas pasti lagi di punggung Ibu, mengusap pelan dari atas ke bawah. Ibu pasti lagi bersandar, kepala di dada Dimas, tangan memeluk pinggangnya.
19967Please respect copyright.PENANAn9V03wCamI
Dimas:
“Tante… boleh gue cium kening Tante?”
19967Please respect copyright.PENANAHngZOxnwFz
Ibu nggak jawab langsung. Tapi aku denger suara ciuman pelan—bibir Dimas menyentuh kening Ibu lama. Lembut. Penuh perasaan.
19967Please respect copyright.PENANAzDHRtZ13Yj
Ibu:
“Mas…”
19967Please respect copyright.PENANAnGmvbwNSCF
Dimas:
“Sekarang… boleh gue cium bibir Tante? Cuma sekali. Pelan. Gue pengen tahu rasanya… bibir Tante.”
19967Please respect copyright.PENANAEShzpmYA80
Ibu menarik napas panjang. Dadanya naik-turun cepat—aku bisa bayangin payudaranya menekan dada Dimas.
19967Please respect copyright.PENANALfFvlMKalC
Ibu:
“Mas… ini… titik nggak balik.”
19967Please respect copyright.PENANAbp2pRo1htU
Dimas:
“Gue tahu. Dan gue siap kalau Tante mau berhenti kapan aja. Tapi kalau Tante izinin… gue bakal cium Tante selembut mungkin.”
19967Please respect copyright.PENANAeskl3PcxGj
Jeda yang terasa abadi.
19967Please respect copyright.PENANAN1MjTkNBDk
Lalu suara pelan—bibir yang bertemu.
19967Please respect copyright.PENANAYFHBepGuOK
Pertama cuma sentuhan ringan. Bibir Dimas di bibir Ibu. Nggak langsung dalam. Cuma nempel. Lama.
19967Please respect copyright.PENANASdEjMcf1bj
Ibu mengeluarkan suara kecil dari hidung—seperti desahan pelan yang tertahan.
19967Please respect copyright.PENANAIWnnzBrBK4
Dimas:
“Tante… lembut banget.”
19967Please respect copyright.PENANAo6V3MnRXnh
Dia cium lagi. Kali ini lebih dalam sedikit. Bibirnya menggerakkan bibir bawah Ibu pelan. Lidahnya menyentuh ujung bibir Ibu—nggak masuk langsung, cuma mengetuk pelan, minta izin.
19967Please respect copyright.PENANAX5GbLTfvDM
Ibu membalas. Bibirnya terbuka sedikit. Lidah mereka bertemu—pertama cuma ujung lidah yang saling sapa. Lalu pelan-pelan jadi lebih dalam. Suara ciuman basah terdengar samar—lembut, penuh ragu, tapi makin lama makin dalam.
19967Please respect copyright.PENANAn2pGKSuLjn
Tangan Dimas naik ke pipi Ibu, mengusap pelan. Ibu memeluk leher Dimas, jari-jarinya masuk ke rambut cepaknya.
19967Please respect copyright.PENANAqVk9WiFzsx
Mereka ciuman lama. Mungkin lima menit. Kadang berhenti sebentar buat tarik napas, lalu balik lagi. Kadang cuma bibir yang saling tempel tanpa gerak, cuma ngerasain hangatnya satu sama lain.
19967Please respect copyright.PENANA5yJs1SytJ7
Dimas:
“Tante… gue suka banget rasanya. Manis. Hangat. Kayak… pulang.”
19967Please respect copyright.PENANAVP6byKglmP
Ibu:
“Mas Dimas… aku… takut.”
19967Please respect copyright.PENANA0j2OsHLMJf
Dimas:
“Takut apa?”
19967Please respect copyright.PENANApVTaYRxFAe
Ibu:
“Takut… aku nggak bisa berhenti. Takut… ini bikin semuanya hancur.”
19967Please respect copyright.PENANAw9aKT8onjk
Dimas:
“Gue janji… kita pelan-pelan. Kita jaga. Kita nggak buru-buru. Gue cuma pengen Tante tahu… gue sayang Tante. Bukan cuma badan Tante. Tapi… semuanya.”
19967Please respect copyright.PENANAQb7nlVyMfH
Ibu diam. Lalu dia cium Dimas lagi—kali ini dia yang mulai. Lebih berani sedikit. Lidahnya masuk lebih dalam, menjelajah mulut Dimas pelan.
19967Please respect copyright.PENANAeCFuL97iBJ
Mereka pindah ke sofa ruang tamu. Aku denger suara badan jatuh pelan ke bantal sofa. Mereka duduk berdampingan, tapi badan saling menempel. Tangan Dimas di pinggang Ibu, Ibu bersandar di dada Dimas.
19967Please respect copyright.PENANAN0iZVR2H7J
Mereka ciuman lagi. Lebih lama. Lebih dalam. Tapi tetap nggak lebih dari itu. Nggak ada tangan yang nakal ke dada atau ke bawah. Cuma pelukan, ciuman, usapan punggung, usapan pipi, bisik-bisik kata manis.
19967Please respect copyright.PENANAQ1mvvB12LL
Dimas:
“Tante… matanya cantik banget pas ditutup gini.”
19967Please respect copyright.PENANADugMB1NY5g
Ibu:
“Mas… jantung aku rasanya mau copot.”
19967Please respect copyright.PENANA9PMVDJtUzB
Dimas:
“Sama. Tapi gue seneng. Seneng banget akhirnya bisa gini sama Tante.”
19967Please respect copyright.PENANAbpgjxLDWCV
Mereka diam lagi. Cuma pelukan. Napas saling bercampur.
19967Please respect copyright.PENANABi8Kczpe7G
Jam menunjukkan pukul 15:40. Mereka masih di sofa. Masih saling peluk. Masih sesekali cium pelan.
19967Please respect copyright.PENANAd8p9ogLzK6
Dimas:
“Tante… besok boleh lagi nggak?”
19967Please respect copyright.PENANAzjXBbMAYLl
Ibu:
“Mas… aku nggak tahu. Tapi… aku nggak bisa bilang nggak.”
19967Please respect copyright.PENANAGE1FMdl8QI
Dimas:
“Makasih, Tante. Gue bakal datang lagi. Pelan-pelan. Sampai Tante siap… atau sampai Tante bilang berhenti.”
19967Please respect copyright.PENANAjEgLYZtQVj
Ibu:
“Jangan bilang berhenti dulu. Aku… belum siap bilang itu.”
19967Please respect copyright.PENANANTJiU4rR0s
Mereka cium lagi. Lama.
19967Please respect copyright.PENANAT47FkacR94
Lalu suara Dimas.
19967Please respect copyright.PENANADI3c79K1Uj
Dimas:
“Aku pulang dulu ya, Tante. Biar nggak ketahuan Arga pulang.”
19967Please respect copyright.PENANAGsjZ56G2Yt
Ibu:
“Iya… hati-hati ya.”
19967Please respect copyright.PENANAxHuQchhh0I
Suara pintu depan dibuka, ditutup pelan. Motor Dimas hidup, menjauh.
19967Please respect copyright.PENANASnJWVC1nxT
Rumah kembali sepi.
19967Please respect copyright.PENANADA4dDBdrer
Aku tunggu lima menit. Lalu aku turun pelan.
19967Please respect copyright.PENANAtDYvv9DUAW
Ibu lagi duduk di sofa, sendirian. Matanya merah, tapi bibirnya bengkak sedikit—bekas ciuman. Pipinya merona. Rambut ponytailnya agak acak-acakan.
19967Please respect copyright.PENANANy7P3Mewgz
Dia menoleh ke aku. Kaget, tapi nggak panik.
19967Please respect copyright.PENANAHn55a6Lg7F
“Arga… kapan pulang?”
19967Please respect copyright.PENANAeU2kE7dooe
Aku duduk di sebelahnya. Jarak deket.
19967Please respect copyright.PENANA2A8SwKwfNl
“Aku… udah dari tadi, Bu. Di atas. Denger semuanya.”
19967Please respect copyright.PENANAI03jflJOrf
Ibu menunduk. Air mata jatuh satu tetes ke paha.
19967Please respect copyright.PENANAcSKynDBcIO
“Maaf, Arga…”
19967Please respect copyright.PENANAaHwluJtQWy
Aku pegang tangannya. Dingin.
19967Please respect copyright.PENANAW7ZQK5Zn1B
“Bu… aku bilang kan. Aku oke. Aku cuma… pengen Ibu bahagia.”
19967Please respect copyright.PENANAVMP1JAxJLG
Ibu memeluk aku erat. Menangis pelan di bahuku.
19967Please respect copyright.PENANARc4rWcyK5C
“Aku sayang kamu, Arga. Selalu.”
19967Please respect copyright.PENANAAXz9A9Ib2d
Aku balas pelukannya.
19967Please respect copyright.PENANAZV6bLPF5a0
Di kepalaku, aku tahu.
19967Please respect copyright.PENANAEkwUnJmh2w
Ini baru permulaan yang sebenarnya.
19967Please respect copyright.PENANAfTJqmY7Hhd
Dan besok… mungkin lebih dari ciuman.
19967Please respect copyright.PENANA740JnPWYIk
Mungkin lebih dalam.
19967Please respect copyright.PENANAMBFZivEnE0
Mungkin… semuanya mulai terbuka.
19967Please respect copyright.PENANA1hjkvMb9wW
Hari berikutnya, Rabu. Langit Kudus cerah sejak pagi, tapi di dalam rumah terasa seperti ada awan tebal yang menyelimuti semuanya. Aku, Arga, bangun jam tujuh lewat, langsung ke kamar mandi, mandi cepat-cepat. Pas keluar kamar, aku dengar suara Ibu di dapur—lagi nyanyi kecil sambil goreng telur. Suara yang sama seperti dulu-dulu, tapi hari ini ada nada beda. Lebih… ringan. Lebih… genit.
19967Please respect copyright.PENANAYqUgPTSaYR
Aku turun pelan, ngintip dari tangga. Ibu pakai kaos crop top putih tipis yang jarang banget dia pakai—potongannya pas di atas pusar, memperlihatkan perut rata yang masih kencang meski umur 42. Bawahnya celana pendek denim pendek banget, hampir nggak nutupin separuh paha mulus putihnya. Rambutnya dibiarkan terurai, agak bergelombang alami karena semalem dia keramas pake conditioner yang baunya manis. Dia lagi membungkuk ambil piring dari rak bawah, bokongnya terangkat sedikit, celana pendeknya naik sampe garis celah bokong terlihat jelas—bulat, penuh, kenyal.
19967Please respect copyright.PENANA5wclwQTzV3
Aku langsung balik ke kamar, pura-pura belum turun. Jantung aku deg-degan. Aku tahu ini bukan kebetulan.
19967Please respect copyright.PENANADErLx3sIgz
Jam tujuh lewat, aku turun lagi. Ibu lagi nyusun sarapan di meja: nasi goreng, telur mata sapi, tempe goreng, sama segelas susu hangat buat aku.
19967Please respect copyright.PENANAvdrS9gXZ2i
“Pagi, Arga,” katanya sambil senyum lebar. Matanya berbinar. Pipinya merah alami, bukan karena panas kompor.
19967Please respect copyright.PENANAfjyqRIPNVF
“Pagi, Bu. Kok hari ini… beda ya?”
19967Please respect copyright.PENANAlm4kgwnC1C
Ibu ketawa kecil, suaranya renyah.
19967Please respect copyright.PENANAoQreMPr4hm
“Beda gimana? Ibu cuma pengen nyaman aja di rumah. Panas nih akhir-akhir ini.”
19967Please respect copyright.PENANABsv9CLlT4n
Dia duduk di seberang aku, kakinya di bawah meja sengaja nyenggol kakiku pelan. Nggak sengaja katanya, tapi aku tahu itu sengaja.
19967Please respect copyright.PENANAnnk64DOtg6
“Bu… hari ini Dimas mau mampir lagi?”
19967Please respect copyright.PENANAvTlvp2GMnB
Ibu mengangguk sambil nyendok nasi goreng ke mulutnya pelan.
19967Please respect copyright.PENANA9OmmTtYkFG
“Iya. Katanya abis siang kuliahnya langsung ke sini. Mau numpang makan siang katanya.”
19967Please respect copyright.PENANAitfOtyRJlh
Aku pura-pura biasa aja.
19967Please respect copyright.PENANAFHgM7R37kl
“Aku ada kelas sampe jam empat. Pulang sore lagi.”
19967Please respect copyright.PENANAVoQ6lIwuT1
Ibu menatap aku lama. Senyumnya lembut, tapi ada api kecil di matanya.
19967Please respect copyright.PENANAkcplS8sKMc
“Makasih ya, Arga. Ibu tahu kamu lagi kasih ruang buat Ibu.”
19967Please respect copyright.PENANARjO49HUI3Z
Aku cuma mengangguk. Tenggorokanku kering.
19967Please respect copyright.PENANAmEus1n43Vk
Setelah sarapan, Ibu berdiri, beresin piring. Waktu dia membungkuk buat angkat piring kotor, crop top-nya naik sedikit, memperlihatkan bagian bawah payudaranya—putih, lembut, tanpa bra. Areolanya cokelat muda samar terlihat, putingnya sudah setengah mengeras karena AC atau karena pikiran yang lagi muter di kepalanya.
19967Please respect copyright.PENANAFIqi3MPJ1o
Aku cepat-cepat pamit ke kampus. Tapi seperti biasa, aku balik lewat gang belakang jam satu lewat, masuk pintu samping, naik ke kamar, tutup pintu pelan, duduk di lantai, telinga menempel ke celah bawah. HP silent, tapi jantung berdegup kencang.
19967Please respect copyright.PENANAFnOH7IgOPn
Jam 13:55, suara motor Dimas terdengar di depan. Pintu dibuka.
19967Please respect copyright.PENANAUId7hzTp45
Dimas:
“Tante… aku datang. Bau masakan enak banget nih.”
19967Please respect copyright.PENANABEzUxncxj3
Ibu:
“Masuk aja, Mas. Ibu lagi masak ayam goreng kecap. Mas Dimas suka kan?”
19967Please respect copyright.PENANAb2KOFus2OK
Suara langkah masuk. Mereka ke dapur.
19967Please respect copyright.PENANA69os9sbBhW
Dimas:
“Wah… Tante hari ini… beda banget.”
19967Please respect copyright.PENANAIVBb5ph5Ls
Ibu ketawa pelan.
19967Please respect copyright.PENANAReawaHvRud
“Beda gimana, Mas?”
19967Please respect copyright.PENANA0kZEOHRuSS
Dimas:
“Kaosnya… pendek. Celananya… pendek banget. Tante lagi pengen bikin gue gila ya?”
19967Please respect copyright.PENANA3VQuvJVEsB
Ibu:
“Siapa bilang? Ibu cuma pengen nyaman. Lagian… rumah sendiri. Nggak ada yang liat.”
19967Please respect copyright.PENANAEhUSQKo05g
Dimas:
“Aku liat, Tante. Dan aku… suka banget.”
19967Please respect copyright.PENANAnWexsQBP68
Suara Ibu mendekat. Langkahnya pelan, seperti lagi mendekati mangsa.
19967Please respect copyright.PENANA3G1uCkxgny
Ibu:
“Mas Dimas… duduk dulu di meja. Ibu ambilin minum.”
19967Please respect copyright.PENANAYFErphZGvl
Dimas duduk. Aku denger kursi bergeser.
19967Please respect copyright.PENANA9NHgGUrs5H
Ibu:
“Ini es teh manis. Dingin ya.”
19967Please respect copyright.PENANAWWme8q2diu
Dia taruh gelas di depan Dimas. Tapi bukannya langsung mundur, Ibu malah berdiri di depan Dimas, badannya agak membungkuk ke depan waktu naruh gelas. Crop top-nya jatuh ke depan, payudaranya bergoyang lembut, hampir keluar sepenuhnya. Putingnya sudah keras jelas, cokelat muda, kecil tapi menonjol.
19967Please respect copyright.PENANAIna5DraBgU
Dimas:
“Tante… gue bisa liat semuanya.”
19967Please respect copyright.PENANA4ndiPanzdq
Ibu:
“Emangnya kenapa? Mas Dimas nggak suka?”
19967Please respect copyright.PENANAFrOPPRShfN
Dimas menelan ludah. Suaranya serak.
19967Please respect copyright.PENANAg9PmvoFpH4
“Suka banget. Tante… lagi sengaja ya hari ini?”
19967Please respect copyright.PENANA5XsS7yBcwS
Ibu ketawa kecil. Dia maju setengah langkah, sekarang lututnya nyentuh lutut Dimas.
19967Please respect copyright.PENANAsWt9hdDRO9
“Mungkin iya. Kemarin… Ibu ngerasa enak banget. Jadi Ibu mikir… mungkin Ibu mau coba lebih berani sedikit.”
19967Please respect copyright.PENANArS2uSRxgBi
Dimas:
“Tante… jangan main-main. Gue udah keras dari tadi.”
19967Please respect copyright.PENANAaiMwdBMSLe
Ibu:
“Ibu tahu. Ibu liat dari tadi celana Mas Dimas udah membusung.”
19967Please respect copyright.PENANAIiZeGSOyy2
Dia angkat tangan kanannya pelan, menyentuh pipi Dimas dulu. Lalu turun ke leher, ke dada, ke perut. Berhenti di pinggang.
19967Please respect copyright.PENANAvzUZRA6eFb
Ibu:
“Mas Dimas… boleh Ibu pegang lagi? Kayak kemarin.”
19967Please respect copyright.PENANA7acI0VEHzP
Dimas:
“Boleh banget, Tante. Malah gue pengen.”
19967Please respect copyright.PENANAWKoB1BQyoH
Ibu turunin tangan lebih bawah. Resleting celana Dimas diturunkan pelan oleh jari-jari Ibu yang gemetar tapi berani. Dia masukin tangan ke dalam boxer, menggenggam batang Dimas yang sudah keras penuh.
19967Please respect copyright.PENANARPtMB6Tsze
Ibu:
“Wah… makin keras dari kemarin. Panas banget di tangan Ibu.”
19967Please respect copyright.PENANAavokAzttEg
Dimas mendesah pelan.
19967Please respect copyright.PENANAjJFr32fyEf
Dimas:
“Tante… usap pelan aja dulu. Gue nggak mau cepet keluar.”
19967Please respect copyright.PENANAxOVXyY0WUb
Ibu mulai gerak tangan naik-turun pelan. Jempolnya mengusap kepala yang sudah basah.
19967Please respect copyright.PENANAKFtteK81cS
Ibu:
“Mas… ujungnya licin. Ibu suka liatnya.”
19967Please respect copyright.PENANAU58UctQyJE
Dimas:
“Tante… gue pengen liat payudara Tante. Boleh angkat kaosnya?”
19967Please respect copyright.PENANAssQqvkntG4
Ibu berhenti sejenak. Lalu dia angkat crop top-nya pelan-pelan, sampai lepas dari kepala. Payudaranya terbebas—bulat sempurna, berat tapi kencang, puting cokelat muda mengeras tegak, areola kecil rapi.
19967Please respect copyright.PENANArwl5I5vOGJ
Dimas:
“Tante… indah banget. Putingnya… cantik. Keras gini karena gue ya?”
19967Please respect copyright.PENANAQMdyhtSQhg
Ibu:
“Iya… karena Mas Dimas. Karena Ibu mikirin kamu terus dari kemarin.”
19967Please respect copyright.PENANAFGmd6uazWQ
Dimas angkat tangan, menyentuh payudara kiri Ibu pelan. Jempolnya mengusap puting dari luar kulit telanjang sekarang.
19967Please respect copyright.PENANAq2e7qYbq2a
Dimas:
“Enak nggak, Tante?”
19967Please respect copyright.PENANA3cXHuRncCR
Ibu mendesah pelan, kepalanya mendongak sedikit.
19967Please respect copyright.PENANAbFvfREyIkq
Ibu:
“Enak… usap lagi. Pelan aja.”
19967Please respect copyright.PENANAg8rMCnHt40
Dimas usap kedua payudara bergantian. Kadang remas lembut, kadang cubit puting pelan. Ibu mengeluarkan suara kecil dari tenggorokan setiap kali jempolnya menyentuh titik sensitif.
19967Please respect copyright.PENANA7tlAH5Obsh
Ibu:
“Mas… puting Ibu… sensitif banget. Rasanya nyut-nyutan ke bawah.”
19967Please respect copyright.PENANAA2rSW0xGBB
Dimas:
“Iya… gue ngerasain. Keras banget. Kayak lagi minta disentuh lebih.”
19967Please respect copyright.PENANANTM1T6nAId
Dia terus usap. Kadang tangannya melingkar di bawah payudara, angkat sedikit supaya merasakan beratnya, lalu jempol kembali ke puting, memutar pelan.
19967Please respect copyright.PENANAL2d3j4f1Xa
Ibu:
“Aaah… Mas… Ibu basah di bawah. Celana dalam Ibu udah lembab dari tadi.”
19967Please respect copyright.PENANA0bnghTfQUM
Dimas:
“Serius, Tante?”
19967Please respect copyright.PENANAlW4pgWDbZn
Ibu:
“Iya… gara-gara Mas pegang payudara Ibu gini. Ibu ngerasa panas di seluruh badan.”
19967Please respect copyright.PENANAPXPqqCLm9n
Dimas turunin tangan kanannya pelan, ke pinggang Ibu, lalu ke depan celana pendek denimnya. Dia usap paha dalam Ibu dulu, lalu naik ke selangkangan dari luar kain.
19967Please respect copyright.PENANA9obN9eK10y
Dimas:
“Tante… di sini udah panas banget. Gue ngerasain kelembaban lewat celana.”
19967Please respect copyright.PENANA5zz3dzx7qD
Ibu goyang pinggul kecil, menggesek tangan Dimas.
19967Please respect copyright.PENANAoOEVFla5Sc
Ibu:
“Usap lagi, Mas… di atas klitoris Ibu. Pelan aja.”
19967Please respect copyright.PENANAr4LxkTEI9o
Dimas menggosok pelan dari luar celana pendek. Ibu mendesah lebih keras, tangannya mencengkeram bahu Dimas.
19967Please respect copyright.PENANAqGjQOoPNkq
Ibu:
“Enak… terus… jangan berhenti…”
19967Please respect copyright.PENANAdfK8Rf7BJd
Dimas percepat sedikit. Ibu menegang, napasnya cepat.
19967Please respect copyright.PENANADHUfiGu4aq
Ibu:
“Mas… Ibu mau keluar. Terusin…”
19967Please respect copyright.PENANATxkX8spCxs
Badannya bergetar pelan. Orgasme pertama hari itu—pelan, emosional, penuh getar. Cairan bening netes sedikit ke celana pendeknya.
19967Please respect copyright.PENANAcxoyGFxJCz
Dimas tarik tangan, basah. Dia jilat pelan jarinya sendiri.
19967Please respect copyright.PENANAYhCIjqCiqW
Dimas:
“Manis, Tante. Rasa Tante enak banget.”
19967Please respect copyright.PENANAiUUKoWCrjL
Ibu masih napas ngos-ngosan. Dia tarik Dimas berdiri, peluk erat.
19967Please respect copyright.PENANAK8WeCiwzAs
Ibu:
“Mas… Ibu pengen cium kamu lagi. Di bawah.”
19967Please respect copyright.PENANADbppCY2HnZ
Dia berlutut pelan di lantai dapur. Tarik boxer Dimas turun. Batangnya tegak lurus, kepalanya merah basah.
19967Please respect copyright.PENANAEy9adyFoth
Ibu:
“Mas… kepalanya… merah. Basah di ujung.”
19967Please respect copyright.PENANAk6lkCgCXWK
Dimas:
“Itu… karena gue udah keluar sedikit. Karena Tante.”
19967Please respect copyright.PENANAvhFMbMLSiy
Ibu mulai dengan jilat dari bawah ke atas. Lidahnya berputar di kepala, lalu masuk ke mulut pelan. Isap lembut, naik-turun setengah batang.
19967Please respect copyright.PENANARZ6img1PLl
Dimas mendesah dalam.
19967Please respect copyright.PENANAkqhoYyWywq
Dimas:
“Tante… mulut Tante hangat. Lembut. Gue… nggak tahan.”
19967Please respect copyright.PENANAX0kNgKLEVk
Ibu terus. Suara isapan pelan terdengar. Kadang dia berhenti, cium batangnya dari samping, jilat dari bawah ke atas.
19967Please respect copyright.PENANAFy6t9fNyiU
Dimas:
“Tante… gue mau keluar. Boleh di mulut Tante?”
19967Please respect copyright.PENANARa6xQZR4ld
Ibu keluarin sebentar.
19967Please respect copyright.PENANAeKaCWuA3H4
Ibu:
“Iya… keluar aja. Ibu mau ngerasain.”
19967Please respect copyright.PENANASUjR9O8N3I
Dia masuk lagi. Lebih cepat sedikit. Tangan Ibu ikut pegang pangkal, usap pelan.
19967Please respect copyright.PENANAjIv8w1S30E
Dimas mengerang keras.
19967Please respect copyright.PENANAymrCF0bnRJ
Dimas:
“Tante… gue keluar… sekarang…”
19967Please respect copyright.PENANAwzSnV1CVAf
Dia keluar di mulut Ibu. Ibu nggak narik, terus isap pelan sampai habis. Lalu menelan pelan.
19967Please respect copyright.PENANAqPRQjPV4pQ
Ibu:
“Mas… asin. Tapi… enak.”
19967Please respect copyright.PENANAgJJIHE0sAa
Mereka pelukan lagi. Duduk di lantai dapur, badan saling tempel.
19967Please respect copyright.PENANA3DQFbdXXVx
Ibu:
“Mas Dimas… Ibu mulai nggak bisa berhenti mikirin kamu. Tiap hari pengen gini lagi.”
19967Please respect copyright.PENANAAPxrXVhMFX
Dimas:
“Gue juga, Tante. Besok… boleh lagi?”
19967Please respect copyright.PENANAJCgrnCoTjJ
Ibu:
“Boleh. Tapi… besok Ibu pengen lebih.
19967Please respect copyright.PENANABAdZgu2diO
Dimas diam sebentar. Lalu cium kening Ibu.
19967Please respect copyright.PENANAOunjbCG8OJ
Dimas:
“Besok. Pelan-pelan. Gue janji bikin Tante seneng.”
19967Please respect copyright.PENANAY8p4regcnl
Mereka diam lama. Cuma pelukan.
19967Please respect copyright.PENANAl4cH8JOaN1
Aku di atas, badan panas membara. Aku tahu besok… mereka bakal bercinta pertama kali.
19967Please respect copyright.PENANAYFQbQcSQMb
Dan aku… bakal denger semuanya.
19967Please respect copyright.PENANArgwmmdbJUM
Mungkin… lebih dari denger.
19967Please respect copyright.PENANA3euTV2KKvk
Kamis pagi, rumah terasa berbeda. Udara Kudus masih sejuk, tapi di dalam dinding ini ada panas yang sudah nggak bisa disembunyikan lagi. Aku, Arga, bangun jam tujuh, turun ke dapur. Ibu lagi berdiri di depan kompor, tapi gerakannya lambat, seperti pikirannya lagi jauh-jauh. Dia pakai daster tipis warna peach yang hampir tembus pandang kalau kena cahaya matahari pagi dari jendela belakang. Rambutnya diikat ponytail tinggi, leher putih mulusnya terlihat jelas, ada bekas merah kecil di tulang selangka—bekas gigitan pelan Dimas kemarin.
19967Please respect copyright.PENANAwk8o0y8I5O
“Pagi, Arga,” katanya tanpa menoleh. Suaranya lembut, tapi ada getar yang aku tahu artinya: gugup, tapi juga excited.
19967Please respect copyright.PENANASVaTbO5JHW
“Pagi, Bu. Hari ini… Dimas datang lagi?”
19967Please respect copyright.PENANAQqoIQcb3UQ
Ibu matiin kompor, balik badan. Matanya langsung ketemu mataku. Pipinya merah, bibirnya agak menggigit bawah.
19967Please respect copyright.PENANAT8wJTw0Mj9
“Iya. Siang nanti. Dia bilang… mau bawa makan siang dari luar. Katanya pengen kita… ngobrol lebih lama.”
19967Please respect copyright.PENANAvm6lCu6PKp
Aku tahu itu bohong. Dia tahu aku tahu.
19967Please respect copyright.PENANA0IOQ5RUopn
“Aku bakal keluar lagi siang ini. Ke perpustakaan kampus. Pulang sore.”
19967Please respect copyright.PENANAIJM9IZ4IuY
Ibu mendekat, duduk di sebelahku. Tangan kanannya menyentuh punggung tanganku.
19967Please respect copyright.PENANAgRt8WqzEt1
“Arga… ibu takut. Tapi ibu juga… pengen banget. Udah lama ibu nggak ngerasa gini. Udah lama ibu nggak ngerasa… diinginkan seutuhnya.”
19967Please respect copyright.PENANAQ4jMtvoQQJ
Aku balas pegang tangannya.
19967Please respect copyright.PENANABDWfUeiEvt
“Aku tahu, Bu. Dan aku… nggak bakal marah. Aku cuma minta satu: kalau selesai, cerita ke aku. Detailnya. Biar aku tahu Ibu bahagia.”
19967Please respect copyright.PENANAkG82C8gsLL
Ibu menunduk sebentar, lalu angkat muka lagi. Matanya basah, tapi senyumnya hangat.
19967Please respect copyright.PENANAP33oxUthWn
“Iya, Arga. Ibu janji. Apa pun yang terjadi… Ibu cerita ke kamu.”
19967Please respect copyright.PENANAfTByjPZoMx
Aku pamit ke kampus jam sepuluh. Tapi seperti biasa, aku balik lewat gang belakang jam satu lewat. Masuk pintu samping, naik tangga pelan-pelan, masuk kamar, tutup pintu, duduk di lantai dengan telinga menempel ke celah bawah. HP silent, tapi jantung berdegup kencang kayak mau copot.
19967Please respect copyright.PENANAeDPK06DNR7
Jam 13:48, suara motor Dimas. Pintu depan dibuka.
19967Please respect copyright.PENANAvw2wI3OV6P
Dimas:
“Tante… aku datang. Bawa nasi goreng seafood sama es campur. Masih dingin nih.”
19967Please respect copyright.PENANAMszXMwgAyt
Ibu:
“Masuk aja, Mas. Taruh di meja makan. Ibu… lagi nunggu kamu dari tadi.”
19967Please respect copyright.PENANA1xydGtI8va
Suara langkah mereka ke ruang makan. Kursi bergeser. Mereka makan dulu—ngobrol ringan soal cuaca, soal kuliah Dimas, soal tetangga. Tapi nada suara mereka beda. Lebih rendah. Lebih deket.
19967Please respect copyright.PENANABqFBfjQyGX
Dimas:
“Tante… makan aja pelan-pelan. Hari ini kita nggak buru-buru.”
19967Please respect copyright.PENANAYtzxC5oM5s
Ibu:
“Iya… Ibu juga pengen nikmatin setiap detiknya sama kamu.”
19967Please respect copyright.PENANAUsbUei4AoT
Makan selesai. Suara piring dibersihin. Lalu langkah mereka naik tangga—pelan, berat, seperti lagi naik ke sesuatu yang nggak bisa dibalik lagi.
19967Please respect copyright.PENANApnlnLI3S31
Pintu kamar Ibu dibuka. Ditutup pelan. Dikunci.
19967Please respect copyright.PENANA8FI3kJ99W0
Aku hampir nggak bernapas.
19967Please respect copyright.PENANA2g3gR0fnCe
Di dalam kamar, suara Ibu terdengar pertama.
19967Please respect copyright.PENANAhHhpFju5Nd
Ibu:
“Mas Dimas… sini. Duduk di ranjang.”
19967Please respect copyright.PENANA3TIXIFdgSE
Suara kasur berderit pelan. Mereka duduk berdampingan.
19967Please respect copyright.PENANAKbmrpJ8Vc1
Dimas:
“Tante… kamu gemetar.”
19967Please respect copyright.PENANATgCWi3uL7f
Ibu:
“Iya… takut. Tapi pengen. Mas… boleh Ibu cium dulu?”
19967Please respect copyright.PENANA5sYzWx4JF2
Suara bibir bertemu. Ciuman panjang, dalam. Lidah saling jelajah. Napas mereka saling campur. Kadang berhenti cuma buat tarik napas, lalu balik lagi.
19967Please respect copyright.PENANAqELTKEpI9G
Ibu:
“Mas… lepas baju kamu. Ibu pengen liat badan kamu.”
19967Please respect copyright.PENANAxyvt3LtyhE
Dimas lepas kaos. Suara kain jatuh ke lantai.
19967Please respect copyright.PENANASHdIqIL7f4
Ibu:
“Wah… dada kamu keras. Ototnya keliatan. Ibu suka.”
19967Please respect copyright.PENANABi1PxWb3eN
Tangan Ibu menyentuh dada Dimas, usap pelan ke bawah, ke perut, ke pinggang.
19967Please respect copyright.PENANAAaZcRapK1R
Dimas:
“Tante… gantian. Angkat daster kamu.”
19967Please respect copyright.PENANAIq7qX7Ozet
Ibu berdiri. Suara kain sutra bergesekan saat daster diangkat lepas dari kepala. Dia telanjang sekarang—cuma celana dalam renda hitam tipis yang sudah basah di tengah.
19967Please respect copyright.PENANAB5dNoBWvgU
Dimas:
“Tante… tubuh kamu… sempurna. Payudara kamu bulat banget, putingnya keras tegak. Perut rata, pinggang kecil, bokongnya… ya Tuhan, bulat penuh. Kaki kamu panjang mulus.”
19967Please respect copyright.PENANAnRHsvAhoPo
Ibu:
“Mas… liat vagina Ibu. Celana dalamnya udah basah banget karena kamu.”
19967Please respect copyright.PENANAKsoUZq0MLB
Dia turunin celana dalam pelan. Vaginanya terbuka—rambut tipis rapi di atas, bibir luar tebal merah muda, bibir dalam sudah mengkilap licin, klitoris kecil bengkak.
19967Please respect copyright.PENANAKDahaErewM
Dimas:
“Tante… cantik banget. Basahnya banyak. Bau wanginya manis.”
19967Please respect copyright.PENANAOmt9vVtrLJ
Dia tarik Ibu duduk lagi, lalu dorong pelan supaya rebah di ranjang. Dimas naik ke atas, tapi nggak langsung masuk. Dia mulai dari cium leher Ibu, turun ke tulang selangka, ke payudara.
19967Please respect copyright.PENANAPwrWWHu1Fu
Dimas:
“Puting Tante… enak banget. Gue hisap ya.”
19967Please respect copyright.PENANAdaGiDGXfSH
Dia hisap puting kiri pelan, lidah berputar, gigit ringan. Ibu mengerang.
19967Please respect copyright.PENANAJgjeYPnaME
Ibu:
“Aaah… Mas… enak. Hisap lagi. Yang satunya juga.”
19967Please respect copyright.PENANA5iaDk1Pe0A
Dimas pindah ke kanan, tangan kirinya remas payudara kiri pelan, cubit puting.
19967Please respect copyright.PENANAfXzA3C8lMF
Ibu:
“Mas… Ibu basah banget. Sentuh bawah.”
19967Please respect copyright.PENANAB12pEObCrD
Dimas turun. Cium perut Ibu, pusar, lalu ke atas kemaluan. Dia buka paha Ibu lebar.
19967Please respect copyright.PENANASg41q8C0dw
Dimas:
“Tante… vagina kamu indah. Bibirnya tebal, klitorisnya bengkak. Gue jilat ya.”
19967Please respect copyright.PENANAZj8O2iHCgL
Lidahnya menyentuh klitoris pelan. Menjilat dari bawah ke atas, berputar kecil.
19967Please respect copyright.PENANAzE0ba7zpq3
Ibu:
“Aaaah… Mas… enak banget. Jilat lagi. Masukin lidah ke dalam.”
19967Please respect copyright.PENANAQyxRfmyjYc
Dimas masukin lidah ke lubang vagina, keluar-masuk pelan, sambil jempol menggosok klitoris.
19967Please respect copyright.PENANAe0L23RXIJd
Ibu mulai goyang pinggul.
19967Please respect copyright.PENANAcJkpcgQF0x
Ibu:
“Mas… Ibu mau keluar. Terusin… jangan berhenti…”
19967Please respect copyright.PENANAGM5ciNn9qA
Dimas percepat lidah. Ibu menegang, tangan mencengkeram seprai.
19967Please respect copyright.PENANAFxackfm409
Ibu:
“Aaaahhh… keluar… Ibu keluar… aaah!”
19967Please respect copyright.PENANAbDBgFTfAXq
Orgasme pertama. Badannya bergetar hebat, cairan bening keluar banyak, Dimas jilat semuanya.
19967Please respect copyright.PENANANhT6voztlQ
Dimas:
“Tante… rasa kamu manis. Enak banget.”
19967Please respect copyright.PENANARRnVvH8ttt
Ibu tarik Dimas naik, cium bibirnya yang masih basah oleh cairannya sendiri.
19967Please respect copyright.PENANAbLWdLUST3h
Ibu:
“Sekarang giliran Ibu. Lepas celana kamu.”
19967Please respect copyright.PENANA4L637jVH2u
Dimas telanjang. Batangnya tegak keras, panjang sekitar 17 cm, tebal, urat-urat menonjol, kepala merah mengkilap.
19967Please respect copyright.PENANAjSEaZlypXF
Ibu:
“Mas… kontol kamu gede banget. Ibu pengen nyedot dulu.”
19967Please respect copyright.PENANAjU7wtR5VEA
Dia berlutut di ranjang, ambil batang Dimas ke mulut. Isap pelan, lidah berputar di kepala, tangan usap pangkal.
19967Please respect copyright.PENANAjAVpJHN9mJ
Dimas:
“Tante… mulut kamu panas. Enak banget. Sedot lebih dalam.”
19967Please respect copyright.PENANABgiRG10NPz
Ibu masukin lebih dalam, hampir separuh. Kepala maju-mundur, isap kuat.
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/time47
ns216.73.216.38da2


