Mata Tomy tidak pernah lepas dari sosok Sarah. Setiap gerak wanita itu di dalam rumah ini, setiap lengkungan tubuhnya yang terbentuk sempurna oleh kaus tipis atau celana yoga yang ketat, selalu memicu gejolak liar di dalam dirinya. Sarah Anastasya, ibu tirinya, berparas cantik dengan kulit putih mulus, payudara besar dan padat, serta bokong berisi yang menggoda. Usianya baru tiga puluh lima tahun, tetapi gairah yang terpancar darinya terasa abadi, tak seperti Ayahnya yang lima puluh tahunan dan selalu nampak loyo. Rambut hitam legam Sarah seringkali terurai bebas, menciptakan siluet menggoda saat ia membungkuk atau meregangkan tubuhnya seusai yoga. Aroma parfum vanila dan melati yang sering ia gunakan selalu menguar lembut setiap kali Sarah melewatinya, menusuk indra penciuman Tomy, memicu fantasinya yang semakin tak terkendali.
"Ibu sudah selesai yoga?" Tomy mencoba terdengar santai, menyembunyikan getaran dalam suaranya yang ia sendiri pun sadari. Ia berdiri di ambang pintu dapur, mengamati Sarah yang sedang menuang air mineral dingin ke dalam gelas tinggi. Keringat tipis membasahi pelipis wanita itu, membuat beberapa helai rambutnya lengket di kulit.10957Please respect copyright.PENANAYcNpf8tegJ
Sarah menoleh, senyum ramah terukir di bibirnya yang penuh. "Oh, Tomy. Iya, baru saja. Mau Ibu buatkan minum juga?"
Gerakan Sarah mengisi gelas, payudaranya sedikit berguncang di balik kaus putih yang membalut tubuhnya. Tomy menelan ludah, pandangannya tanpa sadar menelusuri lekukan itu. Penisnya yang besar dan panjang, warisan Lebanon dari kakeknya, sudah terasa tegang di balik celana joggernya, sebuah respons otomatis yang tak bisa ia kendalikan. Sudah lama ia mendapati dirinya bereaksi seperti ini setiap kali Sarah berada di dekatnya.
"Tidak usah, Bu. Aku bisa ambil sendiri." Tomy melangkah mendekat, matanya tetap terpaku pada tetesan keringat yang mengalir dari leher jenjang Sarah, menghilang di balik kerah kausnya. "Ibu tampak kelelahan."
"Sedikit," Sarah menghela napas, mengusap lehernya dengan handuk kecil. "Hari ini latihan agak berat. Tapi badan jadi segar lagi." Ia menyesap airnya perlahan, tenggorokannya bergerak naik turun, menambah daya tarik yang membuat Tomy semakin sesak napas.
"Ayah belum pulang?" Tomy bertanya, berusaha mengalihkan fokusnya dari tubuh Sarah yang begitu memikat. Pikirannya dipenuhi gambaran video porno yang sering ia tonton, membandingkan setiap detail tubuh Sarah dengan para aktris di sana. Sarah jauh lebih nyata, lebih menggoda, lebih hidup.
"Belum. Mungkin agak larut malam ini." Sarah meletakkan gelas kosong di wastafel, lalu berbalik menghadap Tomy. Senyumnya sedikit meredup. "Kasihan Ayahmu, selalu sibuk sekali."
Tomy hanya mengangguk, namun dalam hati, ia merasakan secercah harapan. Ayahnya yang pulang larut berarti ia punya lebih banyak waktu sendirian dengan Sarah, waktu yang bisa ia manfaatkan untuk mengamati, memendam, dan merencanakan. Sudah lama ia berfantasi tentang Sarah, tentang bagaimana rasanya menyentuh kulit mulus itu, merasakan berat payudaranya di tangannya, atau bagaimana bibir penuh itu akan terasa di kulitnya. Tapi ia selalu terlalu takut untuk bertindak. Hingga hari ini.
Tomy membiarkan pandangannya menyapu tubuh Sarah sekali lagi, kali ini dengan niat yang lebih jelas. Matanya berhenti di dada Sarah yang membusung, lalu turun ke pinggang rampingnya dan berakhir di paha jenjang yang terbentuk indah. "Aku rasa Ibu perlu istirahat. Aku akan membuatkan sesuatu yang segar untuk Ibu."
"Oh, tidak perlu repot-repot, Tomy." Sarah tersenyum lagi, kehangatan terpancar dari matanya. "Ibu baik-baik saja."
"Tidak repot sama sekali, Bu." Tomy melangkah ke kulkas, mengambil sebotol jus buah yang sudah jadi. Ia membuka botol itu, lalu menuangkannya ke dalam dua gelas. Sarah melihatnya dengan bingung, namun tidak mencegah. Tomy kemudian mengambil sebotol kecil cairan bening dari saku celananya. Sebuah cairan perangsang yang sudah ia persiapkan berhari-hari. Dengan gerakan cepat dan tanpa ragu, ia meneteskan beberapa tetes cairan itu ke dalam gelas jus yang akan ia berikan kepada Sarah, mengaduknya perlahan agar larut. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya seakan ingin keluar.
"Ini, Bu." Tomy menyerahkan satu gelas kepada Sarah, tangannya sedikit gemetar. Ia tahu ia sedang melintasi batas, memasuki wilayah terlarang yang mungkin akan menghancurkan segalanya. Tapi nafsu yang selama ini terpendam sudah terlalu besar untuk dibendung.
Sarah mengambil gelas itu, matanya mengerjap. "Terima kasih banyak, Tomy. Kau baik sekali." Ia menyesap jus itu, ekspresinya tidak berubah.
Tomy mengawasinya, setiap tegukan Sarah terasa seperti pukulan di dadanya. Ia menyesap jusnya sendiri, merasakan dinginnya mengalir di tenggorokan, namun tidak bisa meredakan panas yang membara di bawah sana. Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Sarah masih duduk di meja dapur, membaca majalah, tampak tenang. Tomy mulai merasa cemas, apakah obat itu tidak bekerja? Atau dosisnya kurang?
Namun, tak lama kemudian, Sarah mulai terlihat gelisah. Ia menggerakkan kakinya berulang kali, lalu mengusap-usap lengannya. Wajahnya memerah tipis, dan napasnya mulai sedikit memburu. Tomy melihat pupil mata Sarah sedikit melebar.
"Ada apa, Bu?" Tomy bertanya, berusaha menjaga nada suaranya tetap normal.
"Entahlah, Tomy." Sarah meletakkan majalahnya. "Tiba-tiba saja badanku terasa panas. Seperti... terbakar dari dalam." Ia mulai mengipas-ngipasi wajahnya dengan telapak tangan, pandangannya mulai beralih menatap Tomy, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di sana. Sebuah kilatan yang tak bisa Tomy definisikan, namun sangat memprovokasi.
"Mungkin Ibu butuh mandi air dingin," Tomy menyarankan, suaranya sedikit serak. Ia berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mendekati Sarah. Setiap langkah terasa berat, seperti ia sedang berjalan di atas arang panas.
Sarah mengangguk, napasnya semakin cepat. "Sepertinya begitu." Ia berdiri, namun gerakannya sedikit tidak stabil, pinggulnya bergoyang lebih dari biasanya. "Aku... aku harus ke kamar mandi."
Saat Sarah berbalik, pandangannya bertemu dengan Tomy. Ada keinginan yang tak terbantahkan di mata Sarah, sebuah hasrat yang baru saja terbangun, yang entah bagaimana, diarahkan sepenuhnya kepadanya. Tomy tahu ini saatnya. Obat itu bekerja.
"Biar aku bantu, Bu." Tomy meraih lengan Sarah, sentuhan tangannya yang hangat membuat Sarah terkesiap. Sebuah getaran kuat merambat di tubuh wanita itu. Tomy bisa merasakannya.
"Tidak usah, Tomy. Aku bisa sendiri." Sarah mencoba menarik tangannya, namun genggaman Tomy lebih kuat. Ada sedikit kepanikan dalam suaranya, bercampur dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih primal.
"Ibu tampak tidak enak badan," Tomy beralasan, suaranya rendah dan dalam. Ia menuntun Sarah menuju tangga, langkah mereka berdua semakin cepat. Jantungnya berpacu seperti drum yang dipukul bertalu-talu. Ia merasa seluruh tubuhnya bergetar, namun ia tidak bisa berhenti. Ini adalah momen yang ia tunggu-tunggu.
Saat mereka tiba di depan pintu kamar mandi utama, Tomy tidak melepaskan Sarah. Justru ia mendorong pintu itu terbuka, lalu menarik Sarah masuk bersamanya. Lampu kamar mandi remang-remang, menciptakan suasana yang intim dan mencekam. Aroma sabun dan sampo yang khas tercium kuat.
"Tomy, apa yang kau lakukan?" Sarah mencoba memprotes, suaranya nyaris tercekik. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, napasnya tersengal-sengal. Wajahnya semakin merah, dan dadanya naik turun dengan cepat. Matanya yang gelap memancarkan campuran antara kebingungan, ketakutan, dan hasrat yang tak terkendali.
"Aku hanya ingin membantu Ibu," Tomy berbisik, suaranya parau. Ia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Sarah dengan ibu jarinya. Kulitnya terasa hangat, nyaris panas. Sensasi itu membakar ujung jarinya, mengirimkan gelombang listrik ke seluruh tubuhnya.
"Membantu apa?" Sarah mengerang, kepalanya mendongak. Lehernya yang jenjang terpampang jelas, mengundang sentuhan. Matanya terpejam sejenak, seolah sedang melawan sesuatu di dalam dirinya.
"Membantu Ibu merasa lebih baik." Tomy mendekat, ruang di antara mereka semakin menipis. Aroma tubuh Sarah, bercampur dengan keringat dan parfum, memenuhi indra penciumannya, membuatnya semakin gila. Ia menunduk, bibirnya mendekati bibir penuh Sarah yang sedikit terbuka.
"Tomy, ini salah..." Sarah masih berusaha melawan, namun suaranya lemah, tanpa kekuatan. Tangannya terangkat, namun hanya menyentuh dada Tomy, tidak mendorongnya menjauh. Malah, sentuhan itu terasa seperti undangan.
"Tidak ada yang salah, Bu." Tomy berbisik lagi, bibirnya nyaris menyentuh bibir Sarah. Ia bisa merasakan napas hangat wanita itu menerpa kulitnya. "Aku menginginkan Ibu."
Sebelum Sarah bisa memprotes lagi, Tomy menekan bibirnya ke bibir Sarah. Awalnya, ciuman itu terasa ragu, namun segera berubah menjadi kasar, penuh gairah yang sudah lama terpendam. Bibir mereka saling melumat, gigi mereka saling beradu. Tomy bisa merasakan bibir Sarah yang lembut, panas, dan basah. Sarah mengeluarkan erangan kecil, bukan penolakan, melainkan respons dari tubuhnya yang sudah mulai menyerah pada obat perangsang yang bekerja cepat.
Tangan Tomy merangkul pinggang Sarah, menariknya lebih dekat hingga tubuh mereka menempel erat. Payudara Sarah yang besar menekan dadanya, mengirimkan gelombang kejut ke seluruh tubuh Tomy. Penisnya yang tebal dan panjang terasa menegang sempurna, menggesek paha Sarah, menciptakan gesekan yang membakar.
Sarah mendesah, tangannya meremas kaus Tomy, seperti sedang mencari pegangan. Ciuman Tomy semakin dalam, lidahnya mendesak masuk, menjelajahi setiap sudut mulut Sarah. Lidah mereka saling berbelit, bertukar saliva yang manis. Tomy bisa merasakan Sarah merespons, bibirnya bergerak membalas ciumannya, lidahnya melayani, meskipun ada sedikit perlawanan di awal, namun perlahan mencair.
"Hmmph..." Sarah merespons dengan erangan rendah, bibirnya kini bergerak aktif membalas ciuman Tomy. Tubuhnya bergetar, namun bukan karena ketakutan, melainkan karena hasrat yang kini tak terbendung. Tomy bisa merasakan payudaranya yang besar bergesekan dengan dadanya, kehangatan tubuh Sarah membakar dirinya.
Tomy melepaskan ciuman itu sejenak, napasnya terengah-engah. Matanya menatap tajam ke dalam mata Sarah yang kini memerah, penuh hasrat dan kebingungan. "Aku ingin kau, Bu. Sekarang."
Sarah tidak menjawab. Ia hanya menatap Tomy, dadanya naik turun dengan cepat. Kaus tipisnya sudah basah oleh keringat, menempel di payudaranya yang membusung, menampilkan bentuk putingnya yang menonjol. Tomy mengulurkan tangan, meraih ujung kaus itu, dan dengan satu sentakan, ia menariknya ke atas, melepaskan kaus itu dari tubuh Sarah.
Sarah terkesiap, mengangkat tangannya untuk menutupi dadanya, namun Tomy dengan lembut menurunkan tangannya. Payudara Sarah yang besar dan bulat kini terpampang jelas di hadapan Tomy, terbungkus bra renda berwarna krem. Tomy bisa melihat urat-urat biru samar di bawah kulit putihnya yang halus, dan putingnya yang sudah menegang, mencuat meminta sentuhan.
"Cantik sekali..." Tomy berbisik, suaranya serak. Ia menurunkan wajahnya, menghirup aroma tubuh Sarah dari dekat. Ia kemudian mencium leher jenjang Sarah, menjilatnya perlahan. Sensasi kulit Sarah yang lembut di lidahnya membuatnya semakin gila.
"Ah... Tomy..." Sarah mendesah, kepalanya mendongak, punggungnya melengkung. Tangan Tomy merayap ke belakang, membuka pengait bra Sarah dengan cepat. Bra itu melorot, membebaskan dua buah payudara besar yang langsung melambung ke atas, tampak semakin menggoda. Putingnya yang merah muda dan sudah keras mencuat sempurna.
Tomy menelan ludah, lalu tanpa ragu, ia menunduk, melahap salah satu payudara Sarah. Mulutnya terasa penuh oleh daging lembut itu. Ia mengisap puting Sarah dengan kuat, lidahnya menjilat-jilat, memutar-mutar di sekelilingnya. Sensasi itu membuat Sarah berteriak.
"Aah! Tomy!" Sarah mencengkeram rambut Tomy, menariknya lebih dekat. Kakinya sedikit gemetar, menopang berat badannya yang mulai kehilangan kekuatan.
Tomy terus mengisap, sesekali menggigit lembut puting itu, membuat Sarah mendesah dan mengerang tanpa henti. Tangan kanannya meremas payudara Sarah yang lain, merasakan kelembutan dan kekenyalannya. Ia bisa merasakan susu Sarah yang perlahan mulai keluar, membasahi mulutnya. Rasa susu itu manis, sedikit asin, dan sangat memabukkan.
"Susu Ibu enak sekali..." Tomy berbisik di sela-sela isapannya, lidahnya masih bermain-main dengan puting Sarah.
Sarah hanya bisa mengerang, tangannya kini mencengkeram bahu Tomy, kuku-kukunya sedikit menusuk kulitnya. Desahan-desahan keluar dari bibir Sarah, memenuhi kamar mandi. Ia tidak lagi menolak, bahkan tubuhnya kini aktif merespons, pinggulnya sedikit bergerak maju mundur, menggesek penis Tomy yang menegang di balik celananya.
Tomy melepaskan payudara Sarah, menyisakan jejak merah dan basah di kulitnya. Ia menatap mata Sarah lagi, kali ini penuh dengan kemenangan dan hasrat yang membara. Ia tahu, Sarah sudah sepenuhnya berada di bawah kendalinya.
"Aku akan buat Ibu merasa lebih baik lagi," Tomy berjanji, suaranya dalam dan sensual. Ia menunduk, mencium perut Sarah yang rata, lalu terus turun, menjilat pusar Sarah, lalu ke bawah, menuju pinggulnya yang berisi.
Tangan Tomy kini merayap ke arah celana yoga ketat yang dikenakan Sarah. Ia meraba area selangkangan Sarah, merasakan kehangatan yang memancar dari sana. Celana itu sudah sedikit basah, menandakan bahwa Sarah juga sudah sangat terangsang. Tanpa menunggu lebih lama, Tomy menarik celana itu ke bawah, bersama dengan celana dalam renda yang membalut area intim Sarah.
Sarah terkesiap lagi saat celana itu melorot ke lututnya, memperlihatkan hutan rambut kemaluan yang lebat dan basah, serta vagina yang membengkak, bibirnya yang gelap sudah sedikit terbuka, basah oleh cairan kenikmatan. Aroma amis yang khas langsung menyeruak, memabukkan Tomy.
"Ya Tuhan..." Tomy berbisik, matanya terpaku pada pemandangan di hadapannya. Ini pertama kalinya ia melihat vagina secara langsung, dan itu milik ibu tirinya sendiri. Itu lebih indah dan menggoda dari apa pun yang pernah ia lihat di video.
Ia berlutut di hadapan Sarah, menatap langsung ke arah vagina yang bengkak dan basah itu. Dengan ujung jarinya, ia menyentuh bibir vagina Sarah yang lembut dan kenyal. Sarah mendesah keras, pinggulnya sedikit terangkat, mencari sentuhan yang lebih.
Tomy membuka mulutnya, menjulurkan lidahnya, dan dengan satu gerakan, ia menjilat vagina Sarah dari atas ke bawah. Lidahnya menyapu klitoris Sarah yang bengkak, mengirimkan kejutan listrik ke seluruh tubuh wanita itu.
"Aaaah! Tomy!" Sarah berteriak, suaranya pecah. Kakinya menyilang, mencoba menutupi vaginanya, namun Tomy dengan lembut memegang pahanya, membukanya lebar-lebar.
Tomy tidak berhenti. Lidahnya terus bergerak, menjilati klitoris Sarah dengan ritme yang cepat dan mantap. Ia mengisapnya, menggigitnya lembut, lalu menjilati lagi. Aroma amis vagina Sarah kini memenuhi mulut Tomy, bercampur dengan rasa manis dari cairan kenikmatan. Itu adalah kombinasi yang paling memabukkan yang pernah ia rasakan.
Sarah menjerit, tangannya mencengkeram dinding kamar mandi, punggungnya melengkung seperti busur. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. "Aaaah... Tomy... lebih... lebih dalam!"
Tomy memenuhi permintaannya. Ia memasukkan lidahnya lebih dalam ke dalam vagina Sarah, menjilat dinding-dindingnya yang basah dan berdenyut. Ia bisa merasakan betapa basahnya Sarah, dan betapa sempitnya rongga itu. Ia bahkan bisa merasakan tonjolan kecil di bagian atas, yang ia tahu adalah G-spot. Ia menjilatnya dengan kuat, berulang kali, hingga Sarah meraung.
"Aaaah! Aku... aku... Tomy... aku mau kencing!" Sarah berteriak, suaranya pecah, kakinya mengejang. Tomy tidak berhenti. Ia terus menjilat, mengisap, dan memainkan klitoris serta G-spot Sarah, hingga Sarah tidak bisa menahan diri lagi.
Tubuh Sarah menegang, matanya terpejam erat, bibirnya terbuka lebar. Sebuah erangan panjang, dalam, dan memuaskan keluar dari tenggorokannya. Cairan kental, hangat, membanjiri mulut Tomy, bercampur dengan cairan vagina Sarah. Tomy menelan semuanya, merasakan rasa yang begitu asing, namun sangat nikmat. Sarah baru saja mencapai orgasme pertamanya, dan itu di mulutnya.
Setelah orgasme itu mereda, Sarah merosot ke bawah, kakinya lemas. Napasnya terengah-engah, wajahnya masih memerah. Ia membuka matanya, menatap Tomy dengan pandangan yang kosong, namun di dalamnya ada kilatan kepuasan dan sedikit rasa bersalah.
Tomy berdiri, penisnya yang besar dan panjang sudah berdiri tegak, siap meledak. Ia melepaskan celana joggernya, memperlihatkan kejantanannya yang mengeras sempurna, kepalanya berwarna keunguan dan urat-uratnya menonjol jelas. Itu adalah ukuran yang sangat besar, panjangnya melebihi rata-rata, dan ketebalannya membuat Tomy selalu minder sebelumnya. Namun, di hadapan Sarah, ia merasa penuh percaya diri.
Sarah menatap penis Tomy, matanya melebar. Ia tidak pernah melihat penis sebesar itu sebelumnya. Bahkan penis suaminya yang kecil tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Tomy. Ketakutan bercampur dengan rasa penasaran melintas di wajahnya.
"Aku akan memuaskan Ibu lebih dari yang pernah Ayah lakukan," Tomy berjanji, suaranya penuh tekad. Ia mengangkat Sarah, membawanya ke wastafel, lalu mendudukkan Sarah di tepian wastafel, kakinya menjuntai. Sarah terlalu lemah untuk melawan.
Tomy berdiri di antara kedua kaki Sarah yang terbuka lebar. Ia meraih penisnya, mengarahkannya ke vagina Sarah yang masih basah dan bengkak. Bibir vagina Sarah yang sudah terbuka, menyambut ujung kepala penis Tomy. Ia menyentuhnya perlahan, merasakan kehangatan yang membakar.
"Ini... ini terlalu besar, Tomy..." Sarah berbisik, suaranya serak. Ia mencoba mundur, namun Tomy memegang pinggulnya dengan kuat.
"Tidak ada yang terlalu besar untuk Ibu," Tomy meyakinkan. Ia menekan penisnya perlahan, merasakan ujung kepalanya memasuki lubang vagina Sarah. Sarah mendesah, punggungnya melengkung. "Pelan-pelan..."
Tomy mendorong lagi, sedikit lebih dalam. Penisnya yang tebal dan panjang mulai merobek masuk ke dalam vagina Sarah. Sarah menjerit kecil, merasakan sensasi peregangan yang luar biasa, bercampur dengan kenikmatan yang memabukkan.
"Aaaah! Sakit! Tapi... nikmat sekali!" Sarah meremas bahu Tomy lagi, bibirnya sedikit terbuka.
Tomy terus mendorong, inci demi inci, hingga seluruh panjang penisnya akhirnya masuk sepenuhnya ke dalam vagina Sarah. "Ssst... sebentar lagi, Bu."
Saat penisnya sepenuhnya masuk, Tomy bisa merasakan dinding vagina Sarah yang hangat dan membalut ketat, membuatnya sesak napas. Sarah mengerang, kakinya melingkar di pinggang Tomy, menariknya lebih dekat.
"Oh... Tomy... ini... ini gila..." Sarah berbisik, suaranya gemetar. Ia bisa merasakan penis Tomy menyentuh serviksnya, sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Itu menyakitkan, namun juga sangat memuaskan.
Tomy mulai bergerak, menghentakkan pinggulnya perlahan, lalu semakin cepat. Suara *shlick-shlick* basah dari gesekan daging mereka memenuhi kamar mandi. Setiap dorongan Tomy terasa kuat dan dalam, membuat Sarah menjerit dan mendesah tanpa henti.
"Aaaah! Lebih cepat, Tomy! Lebih cepat!" Sarah berteriak, kepalanya mendongak, matanya terpejam, menikmati setiap hentakan yang diberikan Tomy.
Tomy mempercepat gerakannya, pinggulnya menghantam pinggul Sarah dengan keras, menciptakan suara *plak-plak* yang basah. Payudara Sarah yang besar bergoyang-goyang dengan setiap hentakan, pantatnya yang padat juga ikut berguncang. Ia bisa merasakan kenikmatan yang luar biasa dari vagina Sarah yang basah dan ketat, membalut penisnya dengan sempurna.
"Kau sangat nikmat, Bu..." Tomy berbisik, suaranya serak. Ia menunduk, mencium bibir Sarah lagi, lidahnya menjelajahi mulut Sarah, bertukar saliva.
Sarah membalas ciumannya dengan gila, tangannya meremas rambut Tomy, menariknya lebih dekat. "Aku... aku tidak percaya ini... aku tidak percaya..."
Tomy terus menghentak, lebih cepat, lebih dalam, lebih kuat. Otot-otot panggulnya bekerja keras, memuaskan Sarah dengan setiap dorongan. Ia bisa merasakan Sarah mendekati orgasme lagi, tubuhnya menegang, napasnya memburu.
"Tomy... aku... aku akan keluar lagi!" Sarah berteriak, punggungnya melengkung, kakinya mencengkeram pinggang Tomy dengan kuat.
Tomy menghentak dengan kekuatan terakhir, merasakan getaran hebat dari dalam vagina Sarah. Sarah menjerit panjang, tubuhnya kejang-kejang saat orgasme kedua melandanya. Cairan kenikmatan membanjiri penis Tomy, membasahi mereka berdua.
Tomy merasakan dirinya juga mendekati puncaknya. Ia mengejan keras, menghentak sekali lagi, dan dengan satu raungan keras, ia melepaskan seluruh benihnya ke dalam rahim Sarah. Cairan kental dan hangat menyembur keluar dari penisnya, memenuhi vagina Sarah. Tomy merasakan sensasi pelepasan yang luar biasa, yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Setelah beberapa saat, Tomy menarik penisnya keluar dari vagina Sarah dengan suara *plop* yang basah. Ia membiarkan Sarah bersandar lemas di pelukannya. Keduanya terengah-engah, tubuh mereka basah oleh keringat dan cairan kenikmatan. Aroma seks yang kuat memenuhi kamar mandi.
"Aku... aku tidak percaya apa yang baru saja kita lakukan..." Sarah berbisik, suaranya lemah. Ia menatap Tomy, matanya masih sedikit kosong, namun kini ada campuran antara kepuasan, keterkejutan, dan ketakutan di sana.
Tomy hanya memeluk Sarah lebih erat, mencium keningnya. "Kau milikku sekarang, Bu."
Ia tahu ia baru saja melewati batas, namun ia tidak menyesalinya. Nafsu yang terpendam selama ini akhirnya terpuaskan, dan itu terasa jauh lebih baik dari apa pun yang pernah ia bayangkan. Ia telah membuat Sarah menjadi miliknya, dan ia tidak akan pernah melepaskannya.
Setelah beberapa menit, ketika napas mereka mulai teratur, Tomy menatap Sarah lagi. Ada senyum tipis di bibirnya. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana yang tergeletak di lantai.
"Apa yang kau lakukan?" Sarah bertanya, bingung.
Tomy menyalakan kamera. "Aku ingin merekam ini, Bu. Agar Ibu tidak lupa betapa nikmatnya diriku." Ia mengarahkan kamera ke arah Sarah yang masih bugil dan basah, dengan vaginanya yang bengkak dan merah, dan payudaranya yang besar masih sedikit memerah karena isapan Tomy. Wajah Sarah terlihat sedikit *ahegao*, bibirnya terbuka lebar, matanya masih sedikit sayu, ekspresi pasca-orgasme yang begitu memikat.
"Tidak! Jangan!" Sarah berusaha menutupi wajahnya, namun Tomy terlalu cepat. Ia sudah merekam beberapa detik, menangkap ekspresi Sarah yang begitu memabukkan itu.
"Ini akan menjadi rahasia kita berdua, Bu." Tomy menyimpan video itu. "Jika Ibu pernah berpikir untuk menolakku lagi, aku akan menunjukkan video ini kepada semua orang. Termasuk Ayah."
Wajah Sarah memucat. Ia menatap Tomy, ketakutan kini memenuhi matanya. Ia terperangkap. Tomy telah mengikatnya dengan benang nafsu dan ancaman. Ia tahu, kehidupannya tidak akan pernah sama lagi.
"Aku tidak bisa percaya kau melakukan ini..." Sarah berbisik, air mata mulai menggenang di matanya.
"Kau akan terbiasa, Bu," Tomy berjanji, suaranya lembut, namun ada nada dominasi yang tidak bisa disembunyikan. "Dan kau akan menyukainya. Percayalah padaku."
Ia membungkuk, mencium bibir Sarah lagi, ciuman yang kini terasa lebih seperti cap kepemilikan. Sarah tidak melawan. Ia hanya memejamkan mata, membiarkan Tomy melakukan apa pun yang ia inginkan. Sebuah babak baru dalam hidupnya baru saja dimulai, babak yang penuh dengan dosa, nafsu, dan kenikmatan terlarang.
ns216.73.216.23da2


