pacarku jadi mainan ayahnya dan kakaknya
Aku tidak pernah mengira bahwa undangan sederhana dari pacarku akan mengubah segalanya. Nama pacarku adalah Nayla. Dua puluh satu tahun, mahasiswi semester akhir di fakultas sastra, rambut hitam panjang yang selalu ia ikat agak longgar di tengkuk, menyisakan beberapa helai yang jatuh di bahu. Matanya hitam pekat dengan bulu mata lebat yang membuatnya selalu tampak seperti baru saja bangun dari mimpi basah. Bibirnya tebal, merah alami, sedikit menganga saat ia tersenyum, seolah selalu siap digigit.
3312Please respect copyright.PENANAl8GkGWVc3P
Tubuhnya… Tuhan, tubuhnya adalah kutukan dan anugerah sekaligus. Payudara sepasang yang berisi, tidak terlalu besar tapi berat dan kenyal, berbentuk buah pir terbalik yang selalu menggoyang pelan setiap ia melangkah. Aku tahu betul bentuknya di balik bra. Putingnya berwarna coklat muda, sensitif sekali; hanya dengan digosok pelan lewat baju saja sudah mengeras seperti kancing kecil. Pinggangnya ramping, membentuk lekukan yang sempurna menuju bokong bulat yang kenyal dan sedikit naik. Saat ia memakai celana jeans ketat, pantatnya tampak seperti dua buah peach yang matang, siap diperas. Pahanya mulus, berisi, bertemu di celah yang selalu membuat imajinasiku liar. Dan di antara paha itu… vagina yang selalu basah lebih cepat dari yang aku duga, beraroma manis seperti vanila basah yang bercampur dengan aroma kulitnya sendiri.
3312Please respect copyright.PENANApY9sPCxgLR
Kami sudah pacaran tujuh bulan. Bertemu di perpustakaan kampus, berawal dari saling meminjam buku, lalu ngopi, lalu ciuman di mobil, lalu seks di kos-kosan. Tapi Nayla selalu menolak aku menginap di rumahnya. “Rumahku jauh, Dio. Dan keluargaku… agak aneh,” katanya dulu sambil tertawa kecil, matanya menghindari pandanganku.
3312Please respect copyright.PENANACZckhXAz2U
Hari itu, tiba-tiba ia mengirim pesan.
3312Please respect copyright.PENANAMoyGO2SXvJ
“Dio… minggu ini libur panjang. Ayah dan Kak Raka bilang boleh bawa pacar ke rumah. Mau ikut? Aku rindu kamu tidur peluk aku di kamar sendiri.”
3312Please respect copyright.PENANAyCUBIXsSzG
Aku setuju tanpa pikir panjang. Rindu. Rindu bau tubuhnya yang khas, rindu desahannya saat aku menggigit cuping telinganya, rindu basahnya yang selalu membasahi jariku.
3312Please respect copyright.PENANAQkjJobB8oQ
Sabtu pagi kami berangkat. Aku menjemputnya di terminal bus antar kota. Ia sudah menunggu dengan tas ransel kecil. Memakai kemeja putih tipis yang agak tembus pandang, dua kancing atas terbuka, memperlihatkan lekuk payudara yang dalam. Celana pendek denim yang hanya menutup sepertiga paha. Rambutnya tergerai, sedikit basah karena hujan semalam.
3312Please respect copyright.PENANAvOO1GrFDEx
“Hai,” katanya sambil tersenyum, lalu langsung memelukku erat. Dada montoknya menekan dadaku. Aku bisa merasakan putingnya yang sudah agak keras. Aroma parfum vanila campur kulit basahnya langsung membuat celanaku sesak.
3312Please respect copyright.PENANAqmG7wFihEQ
“Kamu cantik banget hari ini,” bisikku di telinganya.
3312Please respect copyright.PENANAzsYZ7sMjvA
Ia tertawa pelan, suaranya rendah dan basah. “Jangan bilang begitu di depan Ayah nanti. Dia suka cemburu kalau ada yang puji aku.”
3312Please respect copyright.PENANA7clVHYWpqp
“Cemburu?” Aku mengernyit.
3312Please respect copyright.PENANAcB6NcsuDTa
Nayla hanya mengangkat bahu, senyumnya agak aneh. “Keluarga kami… dekat. Nanti kamu lihat sendiri.”
3312Please respect copyright.PENANABHQcm0ykPs
Perjalanan dua jam dengan mobil sewaan terasa seperti siksaan manis. Nayla duduk di kursi penumpang, kaki disilangkan, celana pendeknya naik semakin tinggi. Aku mencuri pandang berkali-kali. Paha dalamnya putih bersih, tanpa bekas luka, seolah belum pernah disentuh matahari. Sesekali ia meraih tanganku dan meletakkannya di atas pahanya, mengusap-usap pelan.
3312Please respect copyright.PENANAktkEj6aeEu
“Dio… nanti malam, di kamar aku, boleh kan kita…?” suaranya pelan, matanya menatap lurus ke jalan tapi pipinya memerah.
3312Please respect copyright.PENANAdKWRTVK3rd
“Boleh. Aku bahkan mau sekarang,” jawabku, tangan mulai naik pelan ke arah selangkangannya.
3312Please respect copyright.PENANAmyXEDMhcIk
Ia menahan tanganku. “Jangan. Nanti basah. Aku nggak bawa ganti celana dalam.”
3312Please respect copyright.PENANA909f6TgJpT
Aku menelan ludah. “Kamu nggak pakai…?”
3312Please respect copyright.PENANAnR0LNEUIe9
“Pakai. Tapi tipis. Lace hitam. Yang kamu suka.” Ia menoleh, bibirnya terbuka sedikit. “Aku basah dari tadi pagi mikirin kamu. Mikirin lidahmu di situ. Mikirin jari-jarimu yang selalu tahu cara bikin aku squirt.”
3312Please respect copyright.PENANAMaYwoyA2i6
Aku mengerang pelan. “Nayla, jangan. Nanti aku stop di pinggir jalan.”
3312Please respect copyright.PENANAuB0nz2vE1F
Ia tertawa, suaranya merdu tapi penuh hasrat. “Sabar. Di rumah nanti. Kamar aku di lantai dua, paling ujung. Dindingnya tebal. Ayah dan Kak Raka kamarnya di lantai satu.”
3312Please respect copyright.PENANA1A0s9Pzuy8
Aku mengangguk, berusaha fokus ke jalan. Tapi bayangan tubuhnya yang telanjang terus menghantuiku. Bayangan payudaranya yang bergoyang saat aku mengentotnya dari belakang. Bayangan putingnya yang aku hisap sampai ia menggeliat. Bayangan vagina basahnya yang selalu meregang sempurna menerima kontolku.
3312Please respect copyright.PENANAy9aZMqLOkC
Rumah mereka berada di pinggiran kota kecil, sebuah villa dua lantai dengan taman luas dan kolam renang di belakang. Pagar tinggi, sepi. Saat mobil berhenti di depan garasi, pintu rumah sudah terbuka.
3312Please respect copyright.PENANAHXYjw4lb2Z
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tujuh tahun berdiri di sana. Tinggi, tegap, rambut hitam sedikit beruban di pelipis, rahang tegas, mata tajam. Ia memakai kaos hitam longgar dan celana pendek. Otot dadanya masih terlihat jelas. Ini pasti Pak Surya, ayah Nayla.
3312Please respect copyright.PENANA7qUaZOhIlU
Di sampingnya berdiri pria lebih muda, sekitar dua puluh lima tahun. Raka. Kakak Nayla. Rambutnya agak gondrong, senyumnya nakal, tubuhnya atletis. Ia memakai tank top putih yang memperlihatkan lengan berotot dan tato kecil di dada kiri.
3312Please respect copyright.PENANASdcOzkxVr8
“Naylaaa!” Raka langsung berlari mendekat saat kami turun. Ia memeluk adiknya erat, mengangkat tubuh Nayla sedikit sehingga kaki Nayla terangkat dari tanah. Pelukan itu lama. Tangan Raka turun ke pinggang adiknya, hampir menyentuh bokong. Nayla tertawa, memeluk balik leher kakaknya.
3312Please respect copyright.PENANApoZ9niFS9a
“Kak, lepas. Bau keringat,” godanya, tapi tidak benar-benar berusaha lepas.
3312Please respect copyright.PENANADpPnUplcEd
Pak Surya mendekat lebih pelan. Matanya menyapu tubuh putrinya dari atas ke bawah, berhenti sejenak di dada yang menonjol karena kemeja tipis, lalu ke paha yang terbuka. “Kamu kurusan, Nak,” katanya, suaranya dalam dan hangat. Lalu ia memeluk Nayla. Pelukan ayah-anak yang normal… tapi tangannya menepuk-nepuk punggung bawah putrinya lebih lama dari seharusnya. Saat lepas, jarinya sempat mengusap pinggang ramping Nayla.
3312Please respect copyright.PENANAJ8MmhJ77NP
Aku berdiri di samping, merasa seperti orang luar.
3312Please respect copyright.PENANAI3sW7sUc9y
“Ini Dio, Ayah. Pacarku,” kata Nayla, menarik tanganku.
3312Please respect copyright.PENANAUnTTFv3sJr
Pak Surya menjabat tanganku erat. Senyumnya ramah, tapi matanya menilai. “Selamat datang, Dio. Semoga betah.”
3312Please respect copyright.PENANAga8i4vN0gK
Raka juga menjabat tanganku, tapi lebih santai. “Wah, finally ketemu. Nayla sering cerita soal kamu. Katanya jago di tempat tidur,” godanya sambil tertawa.
3312Please respect copyright.PENANA1G0DbfOevc
Nayla memukul lengan kakaknya. “Kak! Malu!”
3312Please respect copyright.PENANAYIzCneC9u4
Tapi pipinya memerah. Dan aku melihat Raka mengedipkan mata padanya.
3312Please respect copyright.PENANAQwFWhw1jL6
Kami masuk. Rumah itu luas, interior modern minimalis dengan sentuhan kayu. Aroma kopi dan masakan tercium. Di ruang tamu ada sofa besar berbentuk L, TV besar, dan beberapa foto keluarga di dinding. Satu foto menangkap perhatianku: Nayla berusia sekitar tujuh belas, memakai bikini di tepi kolam, tertawa, sementara Raka memeluknya dari belakang dan Pak Surya berdiri di samping, tangan di bahu putrinya.
3312Please respect copyright.PENANAFO53qtfAhF
“Duduk dulu,” kata Pak Surya. “Nayla, bantu Ayah di dapur. Dio, Raka, ngobrol dulu.”
3312Please respect copyright.PENANAI4JE0uvl6h
Nayla mengangguk, tapi sebelum pergi ia berbisik di telingaku, “Nanti aku antar ke kamarku dulu ya. Mau ganti baju.”
3312Please respect copyright.PENANA16Yq1oMgNx
Ia pergi, pantatnya bergoyang pelan di dalam celana pendek itu. Aku menelan ludah.
3312Please respect copyright.PENANA8Bt2cI6YS5
Raka duduk di seberangku, menyilangkan kaki. “Jadi, seberapa serius kamu sama adikku?”
3312Please respect copyright.PENANAfmt1wzXSq1
“Sangat serius,” jawabku jujur.
3312Please respect copyright.PENANAfozVhBitFK
Raka tersenyum, tapi senyumnya agak gelap. “Bagus. Nayla itu… spesial. Dia manja. Suka dimanja. Dan di rumah ini, kami biasa manja-manjaan. Jangan kaget ya.”
3312Please respect copyright.PENANAzXayccvJFi
Aku mengernyit. “Maksudnya?”
3312Please respect copyright.PENANABS6gQ0rh2V
“Nanti kamu lihat.” Raka berdiri, meraih dua botol bir dari kulkas mini di sudut ruangan. “Minum dulu. Biar santai.”
3312Please respect copyright.PENANAcg0FWXZ8BY
Kami minum. Obrolan ringan tentang kuliah, kerja, mobil. Tapi pikiranku terus ke Nayla. Beberapa menit kemudian ia kembali, sudah berganti baju. Kali ini memakai dress pendek warna cream, longgar di atas tapi ketat di pantat, potongan V di dada yang dalam. Tanpa bra. Aku bisa melihat jelas bentuk payudaranya yang bergoyang bebas setiap langkah. Putingnya sedikit menonjol di balik kain tipis.
3312Please respect copyright.PENANAEgMsLAK62l
“Ayah masak steak,” katanya sambil duduk di sampingku, sangat dekat. Kakinya menempel ke kakiku. “Kamu suka kan?”
3312Please respect copyright.PENANAdhYMFPEgmp
Aku mengangguk, tapi mataku tertuju ke dadanya. “Kamu nggak pakai…?”
3312Please respect copyright.PENANAFCSOrGxzf5
Ia tersenyum nakal, berbisik, “Nggak. Biar enak. Nanti malam kamu yang buka.”
3312Please respect copyright.PENANAJqebBKpVgQ
Pak Surya keluar dari dapur membawa piring-piring. Ia duduk di sofa yang sama dengan kami, di sisi lain Nayla. Raka duduk di sofa L yang menyiku.
3312Please respect copyright.PENANAUlPXdx3aBX
Makan siang berlangsung dengan percakapan yang aneh. Pak Surya bertanya banyak tentang hubunganku dengan Nayla. “Kalian sudah… intim?” tanyanya tiba-tiba, sambil memotong steak.
3312Please respect copyright.PENANAaHst8G21az
Aku tersedak. Nayla hanya tertawa. “Ayah! Jangan tanya begitu.”
3312Please respect copyright.PENANAKzIMyjKimw
“Ayah cuma penasaran. Kamu dulu bilang pacar sebelumnya jelek di tempat tidur. Dio ini lebih bagus?”
3312Please respect copyright.PENANA5cTkF5GhbI
Nayla menoleh ke arahku, matanya berkilau. “Jauh lebih bagus, Yah. Kontolnya lebih besar, lebih tahan lama, dan lidahnya… jago banget.”
3312Please respect copyright.PENANAupWjNqMNwC
Aku membeku. Raka tertawa terbahak. Pak Surya hanya tersenyum, seolah itu percakapan biasa. “Bagus. Ayah bangga kamu punya pacar yang bisa bikin kamu puas. Dulu ibumu juga suka cerita ke Ayah soal hal-hal begitu.”
3312Please respect copyright.PENANAs9s5Fvug50
Suasana menjadi aneh. Tapi Nayla seolah tidak merasa apa-apa. Ia bahkan menyandarkan kepalanya ke bahu ayahnya sesaat, lalu ke bahuku.
3312Please respect copyright.PENANAvkyR8NoKN7
Setelah makan, Nayla berdiri. “Aku antar Dio ke kamarku dulu ya. Biar taruh barang.”
3312Please respect copyright.PENANAv2eoLeiYi4
“Jangan lama-lama,” kata Raka sambil menyeringai. “Nanti sore kita renang bareng.”
3312Please respect copyright.PENANAAaKcw0WrDj
Kami naik tangga. Kamar Nayla di ujung koridor lantai dua. Besar, ber-AC, kasur queen size dengan sprei putih, jendela menghadap kolam renang. Saat pintu tertutup, Nayla langsung mendorongku ke dinding dan menciumku dalam-dalam.
3312Please respect copyright.PENANAwNX9vrpMRx
Lidahnya masuk ke mulutku, basah, lapar. Tangannya meraba dadaku, lalu turun ke selangkanganku yang sudah keras. “Mmm… kangen banget,” desahnya di sela ciuman. “Dari tadi basah. Lihat.”
3312Please respect copyright.PENANAXH8uKSN5ia
Ia meraih tanganku dan memasukkannya ke dalam dress-nya. Tidak ada celana dalam. Jari-jariku langsung menyentuh bibir vagina yang sudah licin, bengkak, panas. Aku mengusap klitorisnya pelan. Ia menggelinjang.
3312Please respect copyright.PENANALEs6HnaGs7
“Dio… pelan. Nanti aku desah kenceng,” bisiknya, tapi pinggulnya sudah menggesek jariku.
3312Please respect copyright.PENANA2t3zayofvW
Aku memutar tubuhnya, menekannya ke dinding, jari tengahku masuk perlahan ke dalam lubang basahnya. Vagina Nayla selalu sempit di awal, tapi cepat meregang. Aku bisa merasakan dinding dalamnya berdenyut. Ibu jariku memutar di klitorisnya yang sudah mengeras.
3312Please respect copyright.PENANAlLQsD4M12I
“Ahh… iya… gitu…” desahnya, kepala terlempar ke belakang, lehernya panjang dan putih terpapar. Aku menggigit lehernya pelan sambil menambah jari kedua.
3312Please respect copyright.PENANA2rE5eJYw3u
Payudaranya bergoyang di balik dress tipis. Aku menggigit putingnya lewat kain. Ia mendesah lebih kencang.
3312Please respect copyright.PENANAlOA9AzWH91
“Dio… stop dulu. Nanti basah banget. Aku mau ganti dulu.”
3312Please respect copyright.PENANAtKbuS3rmRO
Aku enggan melepas, tapi ia mendorong pelan. Tangannya meremas kontolku di luar celana. “Nanti malam. Aku janji. Aku mau kamu entot aku sampai aku nggak bisa jalan. Mau kamu cum di dalam, di wajah, di payudara. Mau kamu jilat aku sampai squirt ke mulutmu.”
3312Please respect copyright.PENANA0bs5vhJAvy
Aku mengerang. “Kamu gila.”
3312Please respect copyright.PENANApru1sOdc0B
“Gila sama kamu.” Ia menciumku sekali lagi, lalu masuk ke kamar mandi dalam. “Tunggu di luar ya. Aku mandi dulu.”
3312Please respect copyright.PENANAtzCN51HtLk
Aku duduk di tepi kasur, napas masih terengah, jari masih basah oleh cairan Nayla. Aroma manis vanila dan musk basahnya menempel di jariku. Aku menghisap jari itu, memejamkan mata.
3312Please respect copyright.PENANAXXIxWmes5B
Beberapa menit kemudian ia keluar, hanya memakai handuk kecil yang melilit dada. Rambut basah menempel di kulit. Handuk itu pendek sekali, hanya menutupi sampai sepertiga paha. Setiap langkah, celah di depan handuk terbuka sedikit, memperlihatkan sekelumit bulu pubis yang ia cukur rapi menjadi garis tipis.
3312Please respect copyright.PENANA3bEl91QqHa
“Lihat,” katanya sambil berdiri di depanku. Ia membuka handuk sedikit. Payudara sepasang itu jatuh bebas, berat, puting coklat muda sudah mengeras karena dingin AC. Aku meraih, menimbang, memijat. Ia mendesah.
3312Please respect copyright.PENANAOdukHHodez
“Ayah bilang payudaraku mirip ibuku dulu,” bisiknya tiba-tiba. “Kak Raka juga bilang gitu. Kadang mereka… suka usap-usap. Cuma guyonan, kok.”
3312Please respect copyright.PENANAIjIwrxlohN
Aku menatapnya. “Guyonan?”
3312Please respect copyright.PENANAw6RvpslHLT
Nayla mengangkat bahu, seolah itu biasa. “Keluarga kami open. Nanti kamu biasa juga.”
3312Please respect copyright.PENANAqnVOdYIoop
Ia berpakaian lagi: bikini hitam string. Atasan hanya dua segitiga kecil yang menutupi puting, tali tipis di leher dan punggung. Bawahan string yang hilang di celah bokong. Pantatnya hampir telanjang. “Ayo, renang. Ayah dan Kak udah di kolam.”
3312Please respect copyright.PENANA0R4nm4Xkxy
Kami turun. Di kolam, Pak Surya sudah berenang, tubuhnya basah mengkilap. Raka duduk di pinggir, kaki dalam air, memegang bir.
3312Please respect copyright.PENANAZ3V5uQNz6k
Saat Nayla melompat ke kolam, air memercik. Bikini hitam basah menempel sempurna ke tubuhnya. Payudara mengambang sedikit, puting menonjol jelas. String di pantatnya naik, menyembunyikan hampir tidak ada.
3312Please respect copyright.PENANABV4JUYeXXJ
Raka bersiul. “Gila, adik. Semakin montok.”
3312Please respect copyright.PENANAFIW5IvOTfF
Nayla berenang mendekati kakaknya, menempelkan tubuh basahnya ke dada Raka. “Kak jahat. Bilang gitu di depan pacar.”
3312Please respect copyright.PENANAr4RgXOzP55
Raka tertawa, tangan turun ke pinggang adiknya di dalam air. “Pacar juga lihat sendiri kan. Dio, setuju nggak adikku ini seksi banget?”
3312Please respect copyright.PENANAFvLriOFfbZ
Aku hanya tersenyum kaku. “Setuju.”
3312Please respect copyright.PENANAXRkcX8ArcE
Pak Surya berenang mendekat. “Nayla, sini. Ayah ajarin gaya baru.”
3312Please respect copyright.PENANADaanM5kWNO
Nayla melepaskan diri dari Raka dan berenang ke ayahnya. Pak Surya memegang pinggang putrinya dari belakang, tubuh mereka menempel. Tangan ayahnya di perut Nayla, hampir menyentuh tepi bikini. Mereka berenang pelan, seolah ayah mengajari anak berenang, tapi tangan itu tidak pernah lepas. Sesekali jari Pak Surya naik sedikit, menyentuh bawah payudara.
3312Please respect copyright.PENANAkW0Ie1p5xL
Aku duduk di pinggir kolam, bir di tangan, tapi tenggorokan kering. Raka mendekatiku.
3312Please respect copyright.PENANApHAVrZPqmB
“Santai aja, bro,” katanya pelan. “Di rumah ini, sentuhan biasa. Kami besar bareng. Nayla manja. Ayah juga masih jomblo sejak ibu meninggal lima tahun lalu. Jadi… ya, saling menghibur.”
3312Please respect copyright.PENANAusmaGVPbdy
“Menghibur?”
3312Please respect copyright.PENANAtLLICxpLHm
Raka hanya tersenyum, lalu meloncat ke air.
3312Please respect copyright.PENANAKRvRT20Lwq
Sore itu terasa panjang. Kami berenang, makan buah, minum bir. Nayla terus menempel ke ayah atau kakaknya lebih sering daripada ke aku. Saat ia keluar dari kolam, air menetes dari ujung rambut ke payudara, lalu ke perut rata, lalu ke celah paha. Bikini basah hampir transparan. Aku bisa melihat jelas warna puting dan bahkan sedikit garis bibir vagina di balik kain tipis.
3312Please respect copyright.PENANASSMpnKWLtG
Malam tiba. Makan malam lebih santai. Setelah itu, Nayla mengajakku ke kamar.
3312Please respect copyright.PENANAxDDymNXOuT
Pintu tertutup. Lampu dimatikan, hanya lampu tidur kuning. Nayla melepas bikini di depanku. Tubuhnya basah, mengkilap. Payudara bergoyang bebas. Ia naik ke kasur, berlutut, lalu merangkak mendekatiku.
3312Please respect copyright.PENANALyAt27KVY2
“Sekarang… giliranmu,” bisiknya.
3312Please respect copyright.PENANApOV3tUBjWH
Kami bercumbu lama. Aku menghisap payudaranya, memutar lidah di puting yang sudah mengeras. Ia mendesah, memegang kepalaku. Aku turun, menjilat perutnya, lalu membuka paha indahnya. Vagina basah mengkilap di bawah lampu. Aku menjilat pelan, dari bawah ke atas, menghisap klitorisnya. Nayla menggelinjang, tangan mencengkeram seprei.
3312Please respect copyright.PENANANG0UkGomCi
“Ahh… Dio… iya… jilat lebih dalam…”
3312Please respect copyright.PENANAMLTIlxBknU
Aku memasukkan lidah ke dalam lubangnya, merasakan rasa manis asinnya. Jari ikut masuk, mencari titik G. Ia mulai basah lebih banyak, cairan mengalir ke dagu ku.
3312Please respect copyright.PENANAoLQgtDliCw
Tiba-tiba ada ketukan di pintu.
3312Please respect copyright.PENANAvPg87sfYJ3
“Nayla? Ayah bawa susu hangat.”
3312Please respect copyright.PENANAHHFYG8k1gi
Nayla membeku. Aku juga. Ia buru-buru menarik selimut menutupi tubuhnya. “Masuk, Yah…”
3312Please respect copyright.PENANAoRDs2UNVVC
Pintu dibuka. Pak Surya masuk dengan nampan. Ia melihat kami di kasur, selimut hanya menutupi setengah, bahu Nayla telanjang, rambut berantakan. Senyumnya tidak berubah.
3312Please respect copyright.PENANAaOXG93y0mJ
“Maaf ganggu. Tapi biasanya sebelum tidur Nayla minum susu. Biar tidur nyenyak.”
3312Please respect copyright.PENANAqNxyQSSmPz
Ia meletakkan nampan di nakas, lalu duduk di tepi kasur, di sisi Nayla. Tangan besarnya mengusap rambut putrinya. “Kamu capek ya? Wajahmu merah.”
3312Please respect copyright.PENANA9lsRr1PTvW
Nayla tersenyum malu. “Baru… main sama Dio.”
3312Please respect copyright.PENANAXy0EhJNqi9
Pak Surya tertawa pelan. “Bagus. Ayah dulu juga gitu sama ibumu.” Tangannya turun ke bahu Nayla, mengusap pelan kulit basahnya. “Dingin ya? Pakai piyama.”
3312Please respect copyright.PENANADZM1x7IquZ
“Nanti, Yah. Habis minum dulu.”
3312Please respect copyright.PENANAiRChC39eoP
Pak Surya menyuapi putrinya minum susu. Gerakannya lembut, seperti ayah yang menyayangi anak. Tapi matanya sesekali melirik ke dada Nayla yang hanya tertutup selimut tipis. Saat Nayla menunduk, selimut turun sedikit, memperlihatkan belahan payudara dalam.
3312Please respect copyright.PENANAikN7WP3Xqs
“Ayah… nanti kamu tidur di mana?” tanya Nayla tiba-tiba.
3312Please respect copyright.PENANAgDLoI241ST
“Di kamar Ayah, Nak. Seperti biasa. Tapi kalau kamu takut, Ayah bisa tidur di sofa sini.”
3312Please respect copyright.PENANABp8eLZPo8O
Nayla menggeleng. “Nggak usah. Ada Dio.”
3312Please respect copyright.PENANAhB7x31eowP
Pak Surya mengangguk, lalu berdiri. Tapi sebelum pergi, ia membungkuk dan mencium kening putrinya. Bibirnya sempat turun ke pipi, lalu ke sudut bibir. Ciuman itu agak lama. “Selamat malam, sayang. Jangan terlalu keras nanti. Dindingnya nggak setebal itu.”
3312Please respect copyright.PENANAg442bSwkkV
Ia keluar, menutup pintu.
3312Please respect copyright.PENANAaRDBTCUUy6
Nayla menoleh ke arahku, mata basah hasrat. “Maaf. Ayah memang gitu. Dekat banget.”
3312Please respect copyright.PENANAz62QHij80j
Aku tidak menjawab. Di dalam celana, kontolku masih keras. Tapi ada rasa aneh di dada.
3312Please respect copyright.PENANAdNv1h0hwwE
Kami melanjutkan. Aku mengentot Nayla pelan di posisi missionary, memandang matanya, mencium bibirnya. Payudaranya bergoyang setiap hentakan. Ia mendesah di telingaku, “Lebih kencang… Dio… entot aku kayak kamu benci aku…”
3312Please respect copyright.PENANAVyqOGTyMao
Aku menurut. Kasur berderit. Desahan Nayla semakin kencang. Aku merasakan vaginanya meremas, basah, panas. Ia orgasme pertama kali dengan tubuh menggelinjang, cairan membasahi selangkanganku.
3312Please respect copyright.PENANAxM71SK1hdM
Kami ganti posisi. Nayla di atas, cowgirl. Payudaranya bergoyang liar di depan wajahku. Aku menghisapnya bergantian sambil memegang bokongnya, menggerakkan pinggulnya ke atas-bawah. Suara basah “plok-plok” memenuhi kamar. Ia orgasme lagi, kali ini lebih kencang, tubuhnya kejang, vagina berdenyut hebat.
3312Please respect copyright.PENANArdKPBfEZMs
Aku hampir cum saat tiba-tiba pintu diketuk lagi.
3312Please respect copyright.PENANAZFvDZ9DFQB
“Nay? Kak bawa es krim. Mau?”
3312Please respect copyright.PENANAuZMwrqggNN
Nayla, masih di atasku, kontolku masih di dalam, hanya tertawa. “Masuk aja, Kak!”
3312Please respect copyright.PENANAI2BjWZUcxR
Pintu dibuka. Raka masuk dengan dua mangkuk es krim. Ia melihat adiknya telanjang total di atas pacarnya, payudara basah keringat, puting merah, vagina masih menelan kontol orang lain.
3312Please respect copyright.PENANAwWHyxodlSx
Raka tidak kaget. Ia hanya menyeringai, duduk di kursi di pojok kamar. “Lanjut aja. Nggak usah malu. Aku sering dengar kamu desah dulu-dulu.”
3312Please respect copyright.PENANAmcMw0w4Hk8
Nayla, masih terengah, menoleh. “Kak jahat. Nggak ketuk dulu.”
3312Please respect copyright.PENANApHZWl3FJaT
“Udah ketuk.” Raka menyodorkan mangkuk. “Mau?”
3312Please respect copyright.PENANAsYWncGKJLL
Nayla meraih, masih dengan kontolku di dalam, lalu menyuap es krim sambil pinggulnya bergerak pelan naik-turun. “Dingin… enak.”
3312Please respect copyright.PENANAwTxadwcLgO
Aku membeku di bawahnya. Raka menatap adiknya dengan mata yang gelap. “Kamu semakin jago naik, Nay. Dulu kaku.”
3312Please respect copyright.PENANAanyJn0e1HN
Nayla tertawa, es krim menetes ke payudaranya. “Kak ajarin dulu kan.”
3312Please respect copyright.PENANAPbfuMaSLiT
Aku menatapnya. “Ajarin?”
3312Please respect copyright.PENANAq7XPLjypiB
Nayla menggigit bibir, matanya menatapku seolah baru sadar. “Maksudnya… dulu Kak ajarin aku nari. Goyang-goyang gitu.”
3312Please respect copyright.PENANA2DVE46TIYV
Raka tertawa. “Iya. Goyang-goyang.”
3312Please respect copyright.PENANAzKq80MG5Oh
Ia berdiri, mendekat ke kasur. “Aku boleh minta ciuman selamat malam nggak? Biasanya gitu.”
3312Please respect copyright.PENANAWjmxbfvx2V
Nayla mengangguk. Raka membungkuk, mencium bibir adiknya. Bukan ciuman saudara. Lidah terlihat. Tangan Raka memegang dagu Nayla, memperdalam ciuman. Nayla membalas, pinggulnya masih bergerak di atas kontolku.
3312Please respect copyright.PENANAkEnXaPHbVT
Aku merasa seperti hantu. Kontolku masih keras di dalam, tapi otakku berputar.
3312Please respect copyright.PENANAYeQJh9QpGl
Raka lepas ciuman, bibir basah. “Enak. Nanti malam Kak tidur di ruang TV aja. Kalau kalian berisik, Kak dengar.”
3312Please respect copyright.PENANAqZoYjQfbpt
Ia keluar, menutup pintu.
3312Please respect copyright.PENANABZbWfcAJzU
Nayla menatapku, napas masih terengah. “Maaf… mereka emang gitu. Open banget. Kamu marah?”
3312Please respect copyright.PENANArdfNwOYMzm
Aku menggeleng pelan. “Nggak. Cuma… kaget.”
3312Please respect copyright.PENANADfH6lPayJM
Ia tersenyum, lalu mulai bergerak lagi di atasku, lebih kencang. “Lanjut. Aku mau kamu cum di dalam. Mau merasakan hangatmu.”
3312Please respect copyright.PENANAemouxuWzZA
Kami lanjut sampai aku cum, memompa semen ke dalam rahimnya. Nayla orgasme ketiga kali, desahannya tertahan di bantal.
3312Please respect copyright.PENANAkMQ0BLVlre
Setelah itu kami berbaring. Nayla di pelukanku, kepala di dada. “Besok kita ke pasar malam ya? Atau ke pantai. Ayah dan Kak ikut juga. Seru.”
3312Please respect copyright.PENANAxzzGmAWHMK
Aku mengangguk, tapi pikiranku liar.
3312Please respect copyright.PENANA71QsJiiJpL
Malam semakin larut. Nayla tertidur dulu, napasnya teratur, tubuh telanjang menempelku. Aku tidak bisa tidur. Jam menunjukkan pukul satu dini hari. Aku bangkit pelan, memakai celana pendek, keluar ke koridor untuk ke toilet.
3312Please respect copyright.PENANAGy8KTIvIlC
Di tangga, aku mendengar suara. Suara desahan pelan. Suara basah. Suara pria bergumam.
3312Please respect copyright.PENANAc2qFxDWzyq
Aku diam. Suara itu dari ruang keluarga di lantai bawah. Lampu TV menyala redup, pintu setengah terbuka.
3312Please respect copyright.PENANAhjf2CngBhC
Aku mendekat pelan, jantung berdegup kencang.
3312Please respect copyright.PENANALoTCBv4APn
Melalui celah pintu, aku melihat.
3312Please respect copyright.PENANAqLfIKkLhU7
Nayla… tidak, itu Nayla. Tapi ia sudah bangun? Tidak. Ia masih di kamar. Tunggu…
3312Please respect copyright.PENANAxiecVWMGop
Tidak. Itu Nayla. Rambutnya, tubuhnya. Ia berlutut di lantai berkarpet, di antara kaki Pak Surya yang duduk di sofa. Kepala Nayla naik-turun di pangkuan ayahnya. Suara hisapan basah terdengar jelas. Pak Surya memegang rambut putrinya, mengarahkan.
3312Please respect copyright.PENANAB34unK6HM7
Di samping, Raka berdiri, kontolnya keluar, digenggam tangan Nayla yang lain, diurut pelan.
3312Please respect copyright.PENANAbc77RcMjCw
“Pelan, sayang… jilat yang dalam… seperti yang Kak ajarin dulu…” bisik Raka.
3312Please respect copyright.PENANAEYeqQnNYlq
Nayla melepaskan kontol ayahnya sejenak, saliva menetes dari bibirnya ke puting yang sudah basah. “Enak, Yah? Putrimu jago kan?”
3312Please respect copyright.PENANAzcBb2NaImm
Pak Surya mengerang, tangan turun meremas payudara putrinya yang menggantung bebas. “Jago banget… lebih jago dari ibumu dulu…”
3312Please respect copyright.PENANArm0h4D7FsM
Aku membeku di balik pintu. Dunia seolah berhenti. Pacarku… pacarku yang barusan aku entot… sekarang sedang mengulum kontol ayahnya sendiri, sambil mengocok kontol kakaknya.
3312Please respect copyright.PENANAayeCMKtLmF
Nayla menoleh sedikit ke arah pintu, seolah merasakan ada yang mengawasi. Matanya bertemu dengan mataku di kegelapan.
3312Please respect copyright.PENANAi94bf9bWpZ
Ia tidak kaget.
3312Please respect copyright.PENANAdoWUhvAH9u
Ia tersenyum.
3312Please respect copyright.PENANA0yXCbRhR50
Senyum kecil, basah, penuh dosa.
3312Please respect copyright.PENANAwhxZRgTU7Q
Lalu ia membuka mulut lebih lebar, menelan kontol ayahnya lebih dalam, sambil matanya masih menatapku.
3312Please respect copyright.PENANAfOAuSND1g0
Aku tidak bisa bergerak.
3312Please respect copyright.PENANAwuGoSNpUgM
Kaki seolah membeku di atas ubin dingin koridor. Napas macet di tenggorokan. Jantung berdegup begitu kencang hingga aku yakin mereka bisa mendengarnya dari dalam ruang keluarga yang redup itu. Cahaya biru keunguan dari TV yang menyala tanpa suara memantul ke kulit mereka, membuat bayangan-bayangan bergoyang di dinding.
3312Please respect copyright.PENANAz0uH4Qt61D
Di pangkuan Pak Surya, kontol ayahnya sendiri masuk-keluar dari mulut basah putrinya. Bibir tebal Nayla meregang sempurna mengelilingi batang tebal yang mengkilap. Setiap kali ia menelan sampai pangkal, hidungnya menempel di bulu pubis ayahnya, dan aku bisa mendengar suara basah “gluk-gluk” yang dalam. Tangan kiri Nayla memegang pangkal kontol itu, sementara tangan kanannya mengocok kontol Raka yang berdiri di samping, urat-uratnya menonjol, ujungnya sudah basah serta menetes ke punggung tangan adiknya.
3312Please respect copyright.PENANACEANLz9rc4
Dan matanya… matanya masih menatapku.
3312Please respect copyright.PENANA9buqVaE4r9
Senyum tipis di bibir yang penuh saliva itu tidak hilang. Ia tidak kaget. Tidak panik. Bahkan tidak mencoba menutupi. Senyum itu seperti mengatakan: *Aku tahu kamu di situ. Dan aku suka kamu melihat.*
3312Please respect copyright.PENANA41GhcU68hS
Darah di kepalaku berdesir kencang. Ada rasa mual di perut, rasa hancur yang menusuk dada, tapi di saat yang sama kontolku yang barusan kosong di dalam tubuhnya kini sudah mengeras lagi, menekan kain celana pendek dengan sakit. Aku benci diriku sendiri. Aku benci betapa basahnya celana dalamnya yang ia tinggalkan di kasur barusan. Aku benci betapa indahnya tubuh pacarku saat digunain oleh ayah dan kakaknya sendiri.
3312Please respect copyright.PENANAVk8YZYYCOH
Nayla melepaskan kontol ayahnya dengan bunyi “plop” basah. Saliva panjang menetes dari bibir bawahnya ke dagu, lalu jatuh ke payudara kanannya, mengalir pelan di lekuk putih itu. Ia menjilat bibir, masih menatapku lewat celah pintu.
3312Please respect copyright.PENANAAD0BtcqIwR
“Enak banget, Yah…” suaranya serak, basah, penuh hasrat. “Kontol Ayah lebih tebal dari Dio.”
3312Please respect copyright.PENANAJllBPeGkn3
Pak Surya mengerang pelan, tangan besarnya yang penuh urat masih memegang rambut putrinya, mengusap pelipisnya dengan lembut seolah menyayangi. “Putri Ayah pintar sekali. Dari dulu jago banget ngenyot. Lebih jago dari ibumu waktu masih hidup.”
3312Please respect copyright.PENANA12ENVWuczz
Raka tertawa rendah di samping, pinggulnya mendorong pelan ke genggaman tangan Nayla. “Adik emang bakat. Dulu waktu pertama kali Kak ajarin, langsung bisa telan sampai tenggorokan. Ingat nggak, Nay? Di kamar mandi lantai dua, malam pertama setelah ibu meninggal.”
3312Please respect copyright.PENANAsqRiHnkF9Z
Nayla mengangguk, matanya masih tertuju padaku. Ia membuka mulut lagi, kali ini menjulurkan lidah panjang, menjilat dari pangkal sampai ujung kontol ayahnya dengan lambat, memutar-mutar di lubang kencing yang sudah basah. “Aku ingat, Kak. Waktu itu Kak pegang kepalaku dari belakang, bilang ‘isap pelan, adik. Biar Kak nggak sedih lagi’. Terus Ayah masuk, dan… yah, mulai deh.”
3312Please respect copyright.PENANAOcoKRlK49e
Aku menelan ludah. Tenggorokan kering. Jadi begini ceritanya. Lima tahun. Mereka sudah melakukan ini selama lima tahun. Dan pacarku… pacarku yang selalu bilang “keluargaku agak aneh”… ternyata sudah lama jadi mainan ayah dan kakaknya.
3312Please respect copyright.PENANAOMSccOfmXI
Nayla beralih. Ia memutar tubuh sedikit, masih berlutut, lalu mengulum kontol Raka. Kepala bergerak maju-mundur lebih cepat. Suara hisapan basah semakin kencang. Pipinya cekung. Air mata kecil keluar di ujung matanya karena terlalu dalam, tapi ia tidak berhenti. Tangan kirinya kembali ke kontol ayahnya, mengocok pelan sambil ibu jari memutar di ujung basah.
3312Please respect copyright.PENANA1CCh1eabkT
Pak Surya merendahkan tubuh, tangannya meraih payudara putrinya dari belakang. Ia meremas keduanya bergantian, memilin puting yang sudah memanjang, menarik pelan sampai Nayla mendesah di sekeliling kontol kakaknya. “Payudaramu semakin berat, Nak. Semakin kenyal. Dulu kecil, sekarang… penuh banget. Mau Ayah hisap?”
3312Please respect copyright.PENANAo86oQpX1Ed
Nayla melepaskan kontol Raka sebentar, napas terengah. “Mau, Yah. Hisap yang kencang. Kayak biasanya.”
3312Please respect copyright.PENANAemfie3zQTI
Pak Surya berlutut di lantai di belakang putrinya. Ia merangkul tubuh Nayla dari belakang, dada bidangnya menempel di punggung basah, lalu kedua tangannya mengangkat payudara montok itu, menawarkannya seolah buah matang. Mulutnya turun ke puting kiri, menghisap kuat. Suara “mmmph” basah terdengar. Lidahnya memutar, giginya menggigit pelan, lalu menghisap lagi lebih dalam.
3312Please respect copyright.PENANABDDp0WtSLC
Nayla melengkungkan punggung, bokongnya yang bulat kenyal terdorong ke belakang, menempel ke selangkangan ayahnya yang masih berpakaian celana pendek. “Ahh… Yah… iya… hisap lebih kencang… putingku sensitif banget malam ini…”
3312Please respect copyright.PENANA21PLRNC9l9
Raka tidak mau kalah. Ia berlutut di depan adiknya, membuka paha Nayla lebih lebar, lalu menunduk. Lidahnya langsung menempel di bibir vagina yang sudah mengkilap basah. Aku bisa melihat dari celah pintu bagaimana lidah kakaknya itu menjilat panjang dari lubang sampai klitoris, lalu menghisap bibir bawah yang bengkak.
3312Please respect copyright.PENANAqkY4XJfvlX
“Memek adik basah banget,” gumam Raka di sela jilatan. “Bau Dio masih nempel. Tapi lebih enak bau kamu sendiri. Manis. Asin. Panas.”
3312Please respect copyright.PENANA1Cr5jMwFfk
Nayla mendesah panjang, kepalanya terlempar ke belakang menempel di bahu ayahnya yang sedang menghisap payudaranya. “Kak… jilat klitorisku… putar… iya gitu… ahh…”
3312Please respect copyright.PENANA1W2iVht7Ab
Aku memegangi pintu dengan jari yang gemetar. Kontolku sudah menegang penuh di dalam celana, ujungnya basah. Aku ingin masuk. Aku ingin berteriak. Aku ingin menarik Nayla dari pelukan mereka. Tapi kakiku tidak mau bergerak. Mataku tidak mau lepas. Setiap gerakan lidah Raka di memek pacarku, setiap hisapan kuat Pak Surya di putingnya, setiap desahan basah yang keluar dari bibir yang barusan aku cium… semuanya membuat otakku berantakan.
3312Please respect copyright.PENANAdZx27wYHGj
Nayla orgasme pertama kali di tangan mereka. Tubuhnya kejang. Paha mulusnya bergetar hebat. Suara desahannya pecah jadi jeritan kecil tertahan. Cairan bening menyembur sedikit ke lidah Raka, membasahi dagu kakaknya. Raka tidak berhenti. Ia terus menjilat, menghisap, memasukkan dua jari ke dalam lubang basah yang masih berdenyut, menggaruk titik di dalam dengan gerakan cepat.
3312Please respect copyright.PENANAIda14OGVRF
“Lagi, Kak… bikin adik squirt lagi…” pinta Nayla dengan suara pecah.
3312Please respect copyright.PENANAXc0wZk1H7a
Pak Surya melepaskan puting yang sudah merah dan bengkak, saliva mengkilap di sekitarnya. Ia mencium leher putrinya dari belakang, gigitan kecil di cuping telinga. “Cantik banget kamu pas squirt, Nak. Dari dulu. Waktu pertama kali Ayah bikin kamu squirt di sofa ini, kamu masih delapan belas. Menangis sambil bilang ‘Ayah jahat, tapi enak’.”
3312Please respect copyright.PENANA3AtSwLuK9Q
Nayla tertawa kecil, basah, penuh dosa. “Aku masih bilang gitu sekarang, Yah. Ayah jahat. Kak jahat. Tapi… aku nggak mau berhenti.”
3312Please respect copyright.PENANA4arNCLBTfo
Ia menoleh lagi ke arah pintu. Matanya mencari mataku di kegelapan. Senyum itu kembali. Lebih lebar. Lebih basah.
3312Please respect copyright.PENANAQtfwqoSa3P
“Dio…” bisiknya, suaranya jelas meski pelan. “Kamu di situ kan? Aku bisa cium baumu. Masuk. Jangan cuma nonton dari belakang pintu.”
3312Please respect copyright.PENANADnLDNC8i0M
Aku terlonjak. Darah seolah mengalir mundur.
3312Please respect copyright.PENANAT98xZVX8q3
Pak Surya dan Raka ikut menoleh. Tidak ada kaget di wajah mereka. Hanya senyum yang sama… senyum seolah mereka sudah menunggu.
3312Please respect copyright.PENANAIkL7bWzIgC
“Masuk aja, Dio,” kata Pak Surya tenang, suaranya masih dalam, masih hangat seperti ayah yang ramah. Tangannya masih meremas payudara putrinya. “Pintunya dibuka. Nonton dari dekat lebih enak.”
3312Please respect copyright.PENANAbrfoA8xldm
Raka mengangkat wajah basah dari selangkangan adiknya, bibir mengkilap cairan Nayla. “Iya, bro. Udah lama nunggu kamu sadar. Nayla bilang kamu bakalan ketahuan malam ini. Dia sengaja biarin pintu kamar nggak dikunci barusan.”
3312Please respect copyright.PENANAJshPRcGNRy
Aku membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar.
3312Please respect copyright.PENANAfGgudfCzF1
Nayla merangkak pelan mendekati pintu, payudaranya bergoyang berat di bawahnya, puting yang basah menggores karpet. Ia membuka pintu lebih lebar dengan satu tangan, lalu menatapku dari bawah, mata basah, bibir bengkak.
3312Please respect copyright.PENANANq6Vue1l8A
“Masuk, sayang,” bisiknya. “Aku nggak bohong. Aku sayang kamu. Tapi ini… ini bagian dari aku juga. Bagian yang cuma mereka yang bisa bikin. Lihat dulu. Kalau kamu benci, pergi. Tapi kalau… kalau kontolmu masih keras kayak gitu…” matanya turun ke selangkanganku yang menonjol jelas, “…berarti kamu juga mau nonton, kan?”
3312Please respect copyright.PENANAWeFokoDZCh
Aku melangkah masuk. Seolah tubuh bergerak sendiri. Pintu tertutup di belakangku dengan bunyi pelan.
3312Please respect copyright.PENANAYmBeo7juJS
Ruang keluarga terasa lebih panas. Aroma seks kental: aroma vagina basah Nayla, aroma precum ayah dan kakaknya, aroma keringat, aroma parfum vanila yang sudah bercampur dengan bau tubuh kotor.
3312Please respect copyright.PENANAV3nzwy0vsG
Nayla berlutut lagi di depanku, tangan meraih pinggang celana pendekku, menurunkan pelan. Kontolku melompat keluar, keras, urat menonjol, ujungnya basah. Ia menatapnya, lalu menatap mataku.
3312Please respect copyright.PENANAietNplsN6Z
“Masih besar,” gumamnya. “Masih enak. Tapi sekarang… kamu cuma nonton dulu. Biar aku kasih liat gimana ayah dan kakakku ngenyot dan ngewe putri mereka.”
3312Please respect copyright.PENANAt76TRytNLv
Ia berbalik, merangkak kembali ke antara kedua pria itu.
3312Please respect copyright.PENANAQkJpWKtC6q
Pak Surya duduk kembali di sofa, kaki terbuka. Nayla naik ke pangkuannya, memunggungi ayahnya, lalu menurunkan tubuhnya perlahan. Kontol tebal ayahnya menggesek bibir vagina basahnya dulu, naik-turun di celah, basah melumuri batang.
3312Please respect copyright.PENANA7krc3Yy4e8
“Pelan, Nak…” gumam Pak Surya, tangan memegang pinggang ramping putrinya. “Masukin pelan. Biar Dio liat gimana memek kamu meregang buat Ayah.”
3312Please respect copyright.PENANAZl706QD7NH
Nayla menunduk, menatap ke bawah, lalu ke arahku. Matanya tidak lepas dari mataku saat ia menurunkan pinggul. Kepala kontol ayahnya menekan lubang, lalu masuk pelan. Bibir vagina meregang lebar, merah muda, basah, menelan sentimeter demi sentimeter.
3312Please respect copyright.PENANA1l8crtS5U2
“Ahhh… Yah… tebal banget…” desahnya panjang. “Lebih tebal dari Dio… penuh… ahh…”
3312Please respect copyright.PENANADU39YS1KSg
Ia terus turun sampai pangkal. Pantat kenyalnya menempel di paha ayahnya. Payudara bergoyang di depan. Ia mulai bergerak naik-turun pelan, setiap kali naik, batang basah mengkilap terlihat, setiap kali turun, suara “plok” basah terdengar.
3312Please respect copyright.PENANARK81ShLrLG
Raka berdiri di samping, mengocok kontolnya sendiri sambil menonton. “Goyang lebih kencang, adik. Biar Dio liat payudaramu bergoyang. Cantik banget.”
3312Please respect copyright.PENANAOqBPaGQbCe
Nayla menurut. Pinggulnya bergerak lebih cepat. Payudara sepasang itu bergoyang liar ke atas-bawah, ke kiri-kanan, puting memanjang ikut bergetar. Suara basah semakin kencang. Desahannya pecah-pecah.
3312Please respect copyright.PENANAY0J4R48hG9
“Dio… liat… liat memek aku dimakan ayahku sendiri…” bisiknya sambil menatapku, mata setengah terpejam karena enak. “Basah banget… licin… ahh… Yah… entot lebih dalam…”
3312Please respect copyright.PENANAKX6PwiHY3e
Pak Surya memegang pinggang putrinya lebih kuat, lalu menghentak dari bawah. Bunyi kulit bertemu kulit memenuhi ruangan. “Putri Ayah enak banget. Memeknya masih sempit meski udah sering dipakai. Dio, kamu beruntung bisa ngewe ini setiap hari. Tapi malam ini… giliran Ayah dan kakaknya.”
3312Please respect copyright.PENANAtBNw3rtgWz
Aku berdiri mematung, kontol di tangan, mengocok pelan tanpa sadar. Aku benci. Aku benci betapa basahnya pacarku. Aku benci betapa indahnya wajahnya saat diisi kontol ayahnya. Aku benci betapa kerasnya kontolku sendiri.
3312Please respect copyright.PENANAyc5n5pO7ck
Kelanjutannya ada link di bawah ini


