Rumah besar di kawasan elite Pondok Indah itu terasa lebih sepi sejak istri saya, Ratna, meninggal lima tahun lalu. Dulu setiap sudutnya dipenuhi tawa dan aroma masakan yang selalu membuat perut lapar sebelum waktu makan tiba. Sekarang hanya ada gema langkah kaki saya sendiri di lantai marmer yang dingin, suara AC yang mendesis pelan, dan sesekali dering notifikasi ponsel yang jarang saya hiraukan. Saya, Hendra Santoso, berusia lima puluh satu tahun, pengusaha properti yang sukses, tapi malam-malam panjang membuat saya merasa seperti orang asing di rumah sendiri.
3370Please respect copyright.PENANAK8hPXFc3Ou
Anak saya, Fajar, baru menikah tiga bulan lalu. Dia membawa istrinya, Alya Putri Maharani, tinggal di sini sementara. “Sementara” itu kata yang Fajar ucapkan sambil tertawa, tapi saya tahu mereka belum punya rumah sendiri. Bisnis start-up Fajar di bidang aplikasi keuangan masih butuh modal besar, dan saya dengan senang hati membiarkan mereka menempati sayap kanan rumah. Dua kamar tidur, satu ruang tamu kecil, dapur pribadi. Cukup mewah untuk pasangan baru.
3370Please respect copyright.PENANApTxZhy82Go
Alya… nama itu saja sudah terasa manis di lidah. Pertama kali saya melihatnya di pelaminan, saya hampir tidak percaya. Gadis itu baru berusia dua puluh tiga tahun, tapi tubuhnya… ya Tuhan, tubuhnya seolah dipahat oleh dewa-dewi yang sedang iseng. Tinggi sekitar seratus enam puluh lima, kulit sawo matang mulus seperti satin yang baru disetrika, wajah oval dengan mata besar berwarna coklat gelap yang selalu basah seolah baru saja menangis bahagia. Bibirnya full, sedikit merenggut ke atas di ujung-ujungnya, memberi kesan selalu tersenyum tipis meski diam.
3370Please respect copyright.PENANAbnarZVlYki
Tapi yang paling menyiksa adalah lekuk tubuhnya. Payudaranya penuh, bulat, tegang, seolah menantang kain kebaya putih yang membungkusnya malam itu. Pinggangnya ramping sekali, seolah bisa digenggam dengan satu tangan, lalu mekar ke bokong yang montok, kenyal, menggoda setiap kali dia melangkah. Paha-pahanya indah, panjang, dan sepertinya sangat lembut. Saya ingat, saat dia duduk di kursi pelaminan, kain kebaya itu sedikit terangkat, memperlihatkan sepotong kecil paha mulus yang membuat napas saya tertahan. Saya cepat-cepat menunduk, pura-pura memeriksa sepatu.
3370Please respect copyright.PENANAmgUkKF3THh
“Pak, ini Alya,” kata Fajar malam itu, suaranya penuh kebanggaan. “Cantik, kan?”
3370Please respect copyright.PENANApcYujEdPif
Saya hanya tersenyum kaku. “Sangat. Selamat, Nak. Jaga dia baik-baik.”
3370Please respect copyright.PENANAEXRS7huVog
Alya membungkuk sopan, suaranya lembut seperti embun pagi. “Terima kasih, Pak Hendra. Saya akan berusaha jadi menantu yang baik.”
3370Please respect copyright.PENANAZ14xfJ3jMT
Tangan kami bersentuhan sepersekian detik saat dia menyalami. Hangat. Lembut. Dan aromanya… campur parfum floral ringan dengan sesuatu yang lebih primitif, seperti kulit yang baru mandi. Saya menarik tangan saya terlalu cepat, takut dia merasakan getar di ujung jari saya.
3370Please respect copyright.PENANAkeXLx5OcEd
Sejak malam itu, bayangan Alya tidak pernah meninggalkan kepala saya.
3370Please respect copyright.PENANAr1AXhDkBYA
---
3370Please respect copyright.PENANAlrO0zEhHO1
Tiga bulan berlalu. Alya dan Fajar sudah pindah total ke sayap kanan. Setiap pagi saya bangun pukul lima, seperti biasa, untuk joging di sekitar kompleks. Ketika kembali, aroma kopi dan roti panggang sudah memenuhi dapur utama. Alya selalu bangun lebih awal.
3370Please respect copyright.PENANAF8VDYcXc0J
“Selamat pagi, Pak,” sapa Alya suatu pagi, mengenakan kaos oversized putih yang jatuh longgar di bahunya, memperlihatkan tulang selangka yang anggun dan sepotong kecil dekolte. Rambutnya yang hitam legam masih basah, digelung seadanya di belakang kepala, menyisakan beberapa helai basah menempel di tengkuk. Celana pendek abu-abu melilit pinggang rampingnya, membiarkan paha mulusnya bebas. Saya harus memalingkan muka.
3370Please respect copyright.PENANAQmlE1H2wJW
“Pagi, Alya. Sudah masak?”
3370Please respect copyright.PENANAMliSlBynHo
“Baru kopi dan telur orak-arik. Fajar masih tidur. Dia pulang larut tadi malam, rapat sampai jam dua.”
3370Please respect copyright.PENANAH5nMvFAJB3
Saya duduk di meja marmer, mencoba fokus pada koran digital di tablet. Tapi mata saya terus melirik. Alya bergerak di dapur dengan keanggunan yang tidak disadari. Setiap kali dia meraih piring di rak atas, kaosnya terangkat sedikit, memperlihatkan garis pinggang yang dalam dan sepotong kecil kulit perut yang mulus. Putingnya… saya yakin dia tidak memakai bra. Dua titik kecil menonjol di balik kain tipis, menari setiap kali dia bergerak.
3370Please respect copyright.PENANAC0nbH2jE4h
Saya menelan ludah.
3370Please respect copyright.PENANAFm5JNpD5Cs
“Pak, mau saya buatkan yang spesial? Saya bisa bikin nasi goreng spesial dengan telur mata sapi,” tawar Alya sambil menoleh, senyum tipis di bibirnya. Matanya menatap saya lurus, tidak ada rasa canggung.
3370Please respect copyright.PENANAHw1ZozBYu0
“Tidak usah. Kopi dan telur cukup.” Suara saya terdengar lebih serak dari yang saya maksudkan.
3370Please respect copyright.PENANAsVOF7xFmwU
Alya tertawa kecil, suaranya seperti lonceng kecil. “Pak Hendra selalu bilang begitu. Padahal saya tahu Bapak suka yang pedas-pedas. Kemarin saya lihat Bapak makan sambal sampai tiga sendok.”
3370Please respect copyright.PENANAyL5Mwz721K
Saya tersenyum kaku. “Kamu perhatikan sekali.”
3370Please respect copyright.PENANAl6vlHtsTW4
“Tentu. Saya menantu Bapak. Harus tahu selera mertua, kan?” Dia menghampiri meja, meletakkan piring di depan saya. Aromanya… ya ampun. Campuran sabun mandi vanilla, parfum ringan, dan sesuatu yang lebih manis, seperti kulitnya sendiri. Saat dia membungkuk untuk meletakkan piring, kaos oversized itu longgar di depan, memberi saya pandangan sekejap ke celah payudaranya yang dalam, bulat, dan seolah menunggu disentuh.
3370Please respect copyright.PENANADZdH5s9BgD
Saya cepat-cepat menunduk ke piring. “Terima kasih.”
3370Please respect copyright.PENANAT8Y2UoUclO
Dia duduk di seberang saya, menyilangkan kaki. Paha mulusnya saling bergesekan. Saya mencoba mengunyah telur, tapi rasa di mulut saya hambar. Semua indera saya terfokus pada gadis di depan saya.
3370Please respect copyright.PENANAELFqdcIO3E
“Fajar bilang Bapak sering begadang karena kerja,” kata Alya tiba-tiba, suaranya lembut. “Bapak jangan terlalu keras. Umur sudah… eh, maksud saya, Bapak harus jaga kesehatan.”
3370Please respect copyright.PENANAuqPupQlw8W
Saya menatapnya. “Saya masih kuat, Alya. Jangan khawatir.”
3370Please respect copyright.PENANAtyDw7RBIha
Dia menggigit bibir bawahnya, gerakan kecil yang membuat darah saya berdesir. “Saya tahu. Tapi… saya cuma… peduli.”
3370Please respect copyright.PENANAemaaLQCuJe
Kata “peduli” itu keluar pelan, hampir seperti bisikan. Matanya menatap saya lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu di balik tatapan itu. Bukan hanya rasa hormat menantu. Ada rasa ingin tahu, atau mungkin… godaan yang dia sendiri tidak sadari.
3370Please respect copyright.PENANArrox9KsJZL
Saya berdiri terlalu cepat. “Saya mau mandi. Terima kasih sarapannya.”
3370Please respect copyright.PENANAymecHGALQ2
“Pak—”
3370Please respect copyright.PENANAmfN1uSoM6s
Saya sudah melangkah keluar dapur sebelum dia selesai bicara. Di kamar mandi, saya mengunci pintu, menatap cermin. Wajah saya memerah. Napas saya memburu. Di bawah celana, ada ketegangan yang memalukan. Saya membasuh muka dengan air dingin berkali-kali, berbisik pada diri sendiri, “Dia menantu. Istri anakmu. Jangan gila.”
3370Please respect copyright.PENANAeaF6G6CjMJ
Tapi bayangan payudaranya yang penuh, puting yang menonjol di balik kaos, paha yang mulus… semuanya menempel di otak seperti luka yang tidak mau sembuh.
3370Please respect copyright.PENANAkEge2Y7g3u
---
3370Please respect copyright.PENANA4fudGpHwkA
Malam itu Fajar pulang lebih awal. Kami makan malam bersama di ruang makan utama. Alya memasak ayam bakar kecap dengan sayuran tumis. Dia mengenakan dress longgar berwarna cream yang jatuh sampai di atas lutut, lengan pendek, dan sedikit longgar di dada. Setiap kali dia bergerak menyajikan makanan, kain itu bergoyang, memperlihatkan lekuk payudara yang berat dan indah.
3370Please respect copyright.PENANAU93ZfXOhpb
“Enak sekali, Aly,” puji Fajar sambil mengunyah. “Kamu emang jago masak.”
3370Please respect copyright.PENANAOHB2zjieRU
Alya tersenyum, pipinya merona. “Makasih, sayang. Nanti saya buatkan yang lain lagi.”
3370Please respect copyright.PENANABOMFF2G8jX
Saya hanya mengangguk. “Ya, enak.”
3370Please respect copyright.PENANA6yf6ekvANU
Obrolan mengalir tentang bisnis Fajar, tentang rencana liburan ke Bali, tentang tetangga baru di kompleks. Alya banyak diam, sesekali tersenyum, tapi matanya sering menatap saya. Saya merasa seperti diintai. Atau mungkin saya yang terlalu sensitif.
3370Please respect copyright.PENANAtGUyMEsDXc
Setelah makan, Fajar bilang dia harus zoom meeting lagi. “Nanti malam lama, Yah. Aly, kamu jangan nungguin. Tidur aja.”
3370Please respect copyright.PENANAKkQzJX06oH
Alya mengangguk. “Oke.”
3370Please respect copyright.PENANAWhL4icCqHh
Fajar pergi ke sayap kanan. Tinggal saya dan Alya di ruang keluarga. Televisi menyala, menayangkan drama Korea yang tidak saya perhatikan. Alya duduk di sofa seberang, kaki dilipat di bawah bokongnya, dress-nya naik sedikit, memperlihatkan paha dalam yang mulus.
3370Please respect copyright.PENANA44aNkvJTd0
“Pak,” kata Alya tiba-tiba, suaranya pelan.
3370Please respect copyright.PENANAUSKwKsPlAt
“Ya?”
3370Please respect copyright.PENANAXc0PTvHIgs
“Boleh saya tanya sesuatu?”
3370Please respect copyright.PENANAnXr4oZanie
Saya menoleh. “Tentu.”
3370Please respect copyright.PENANAn2eAgSxFVm
Dia menggigit bibir lagi. Gerakan itu… saya ingin sekali mencium bibir itu sampai bengkak. “Bapak… pernah ngerasa… kesepian?”
3370Please respect copyright.PENANAOinhWAvpe2
Pertanyaan itu menghantam saya seperti tinju. Saya terdiam. “Kenapa tanya begitu?”
3370Please respect copyright.PENANAGAx2SQvrS2
“Karena… saya lihat Bapak sering duduk sendirian di beranda malam-malam. Merokok. Menatap langit. Saya… khawatir.”
3370Please respect copyright.PENANAW5FwkW1W87
Saya menghela napas. “Saya sudah terbiasa, Alya. Lima tahun cukup lama untuk belajar hidup sendiri.”
3370Please respect copyright.PENANAVBuvYtR9NC
Dia berdiri, berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat dress cream itu bergoyang, memperlihatkan bayangan payudaranya yang bergerak. Dia duduk di sofa yang sama dengan saya, hanya berjarak satu bantal. Aromanya langsung memenuhi hidung saya. Vanilla, kulit hangat, dan sesuatu yang lebih dalam… seperti nafsu yang dia tekan.
3370Please respect copyright.PENANA4JiXBIz3jW
“Saya juga pernah kesepian,” bisiknya. “Sebelum ketemu Fajar. Hidup di kos-kosan, kerja part-time sambil kuliah. Malam-malam panjang, tidak ada yang peduli.”
3370Please respect copyright.PENANAcoBcuW9nu8
Saya menatapnya. Dari dekat, kulitnya lebih sempurna. Ada tahi lalat kecil di atas bibir atasnya. Bulu matanya lentik. Dan dekoltenya… dari sudut ini, saya bisa melihat sepotong kecil payudara kirinya yang bulat, kulitnya mulus tanpa cela.
3370Please respect copyright.PENANAoJSfBWi3BW
“Kamu sekarang punya Fajar,” kata saya, suara serak.
3370Please respect copyright.PENANAOPwgeYe63F
“Ya. Tapi… Fajar sering pergi. Rapat, meeting, klien. Kadang saya… merasa sendirian di rumah besar ini.”
3370Please respect copyright.PENANAtCTyt98oQd
Dia menunduk, jari-jarinya memainkan ujung dress-nya. Gerakan itu membuat dress naik sedikit lebih tinggi. Saya melihat sepotong kecil celana dalam hitam di antara pahanya. Napas saya tertahan.
3370Please respect copyright.PENANAstcypLlDdW
“Alya…”
3370Please respect copyright.PENANAPUfon3UlBd
“Saya cuma pengen… ngobrol. Sama Bapak. Bapak baik. Bapak selalu dengar.”
3370Please respect copyright.PENANAkWAEYdPTC6
Dia menatap saya. Matanya basah. Bibirnya sedikit terbuka. Saya bisa melihat ujung lidahnya yang merah muda. Saya ingin sekali menjilat bibir itu. Saya ingin merasakan bagaimana payudaranya terasa di tangan saya, bagaimana putingnya mengeras di mulut saya, bagaimana dia mendesah saat saya—
3370Please respect copyright.PENANAFuENthAmgh
Saya berdiri tiba-tiba. “Sudah malam. Kamu harus istirahat.”
3370Please respect copyright.PENANAZKOyMN1cOQ
Alya juga berdiri. Jarak kami hanya sehasta. Dada kami hampir bersentuhan. Saya bisa merasakan panas tubuhnya. Saya bisa melihat putingnya yang sudah mengeras di balik kain tipis. Dia tidak memakai bra. Jelas sekali.
3370Please respect copyright.PENANAm5yFm8ilh3
“Pak…” suaranya bergetar. “Jangan pergi dulu.”
3370Please respect copyright.PENANAWL2pKB71Vp
Saya menelan ludah. “Alya, ini tidak pantas.”
3370Please respect copyright.PENANAjaID4MkApv
“Apa yang tidak pantas?” Dia melangkah lebih dekat. “Saya cuma… ingin dekat. Sama mertua saya. Sama orang yang… baik ke saya.”
3370Please respect copyright.PENANAllIErrNUPI
Tangannya terangkat, seolah ingin menyentuh lengan saya. Saya mundur selangkah. “Cukup. Tidurlah.”
3370Please respect copyright.PENANAbklFhwC6aL
Saya berbalik, melangkah cepat ke kamar saya di lantai atas. Jantung saya berdegup kencang. Di belakang, saya mendengar desahan pelan dari Alya. Bukan desahan sedih. Lebih seperti… frustasi.
3370Please respect copyright.PENANAVg8aArIkyL
Di kamar, saya mengunci pintu, menyandarkan punggung ke dinding. Tangan saya gemetar. Di bawah celana, penis saya sudah tegang penuh, berdenyut nyeri. Saya tidak bisa menahannya. Saya masuk ke kamar mandi, membuka celana, dan memegang penis saya yang sudah basah di ujungnya. Saya mengocoknya dengan kasar, bayangan Alya memenuhi kepala: payudaranya yang penuh, puting coklat yang menonjol, paha mulus yang terbuka, vagina yang saya bayangkan basah dan sempit—
3370Please respect copyright.PENANApbniNBGHq4
Saya meledak dalam hitungan detik, air mani menyembur ke wastafel. Tubuh saya gemetar. Napas saya memburu. Malu. Marah. Dan… lapar.
3370Please respect copyright.PENANAHGIuzyEc3G
Saya membersihkan diri, lalu berbaring di tempat tidur. Tapi tidur tidak datang. Setiap kali saya menutup mata, saya melihat Alya. Senyumnya. Tubuhnya. Suaranya yang memanggil “Pak…” dengan nada yang terlalu intim.
3370Please respect copyright.PENANAWGht6YXMf9
---
3370Please respect copyright.PENANAqLnBFQAyMF
Pagi berikutnya, suasana berubah. Alya seolah lebih berani. Saat saya turun ke dapur, dia sudah menunggu dengan celemek kuning di atas kaos putih tipis dan celana pendek denim. Rambutnya tergerai, masih basah. Aromanya lebih kuat hari ini—seperti dia sengaja memakai parfum yang lebih sensual.
3370Please respect copyright.PENANAYLdAgD4K6R
“Pagi, Pak,” sapa dia, suaranya lebih rendah dari biasanya. “Saya buatkan bubur ayam spesial. Ada jahe, ada telur, ada kerupuk. Bapak suka, kan?”
3370Please respect copyright.PENANAkbwkJ4qQWz
Saya mengangguk kaku. “Terima kasih.”
3370Please respect copyright.PENANAiQQgG9EGlP
Dia menyajikan bubur, lalu duduk di samping saya, bukan di seberang. Paha kami hampir bersentuhan. Setiap kali dia menggerakkan kaki, kulitnya bergesekan dengan celana saya.
3370Please respect copyright.PENANAIIJWbz7e78
“Fajar bilang dia ke Bandung hari ini sampai besok,” kata Alya sambil mengaduk buburnya. “Ada meeting investor. Jadi… kita berdua di rumah.”
3370Please respect copyright.PENANAWP8WHjUkFx
Kata “kita berdua” itu keluar pelan, hampir seperti bisikan. Saya menatapnya. Dia menatap balik, tidak mengedip.
3370Please respect copyright.PENANAquMrw0SQ4r
“Alya, saya ada rapat di kantor seharian.”
3370Please respect copyright.PENANANkC5nzXZGg
“Oh.” Dia terlihat kecewa sekejap, lalu tersenyum lagi. “Nanti malam Bapak pulang jam berapa? Saya masak yang enak. Atau… kalau Bapak capek, saya bisa pijit. Saya jago pijit, lho. Dulu sering pijit Mama.”
3370Please respect copyright.PENANAjhw864Of9p
Tawaran itu membuat darah saya menggelegak. Pijit. Tangan Alya di tubuh saya. Di bahu. Di punggung. Mungkin lebih bawah…
3370Please respect copyright.PENANAkpthWm3POo
“Tidak usah,” kata saya cepat. “Saya bisa sendiri.”
3370Please respect copyright.PENANAv55jhnidd9
Dia tertawa kecil. “Pak Hendra selalu bilang begitu. Padahal… kadang orang butuh disentuh.”
3370Please respect copyright.PENANAxI51Qbegyn
Kata “disentuh” itu dia ucapkan sambil menatap bibir saya. Saya merasa seperti terbakar.
3370Please respect copyright.PENANAitjjp4ah52
Saya buru-buru selesai makan, lalu pergi ke kantor. Seharian saya tidak bisa fokus. Setiap laporan, setiap meeting, wajah Alya muncul. Tubuhnya. Suaranya. Saya membayangkan dia di rumah sendirian, mungkin mandi, mungkin berbaring di sofa dengan kaos tipis, putingnya menonjol, tangannya mungkin… menyentuh dirinya sendiri sambil memikirkan saya.
3370Please respect copyright.PENANAu93zqGXujY
Saya pulang pukul tujuh malam. Rumah gelap, hanya lampu ruang keluarga yang menyala redup. Alya duduk di sofa, mengenakan satin nightgown pendek berwarna merah muda. Kainnya tipis sekali. Saya bisa melihat siluet tubuhnya dengan jelas—payudara yang berat, puting yang mengeras karena AC, pinggang ramping, lekuk bokong yang sempurna, dan di antara pahanya… bayangan gelap yang membuat saya gila.
3370Please respect copyright.PENANA6ZEXn6Iiix
“Pak… sudah pulang,” sapa dia, berdiri. Nightgown itu jatuh longgar di bahunya, hampir terlepas. Satu tali sudah melorot, memperlihatkan bahu mulus dan sepotong kecil payudara.
3370Please respect copyright.PENANAOjMW1aC1WL
Saya menelan ludah. “Sudah. Kamu belum tidur?”
3370Please respect copyright.PENANA215jnY1b9d
“Nungguin Bapak. Saya masak sop buntut. Masih hangat.”
3370Please respect copyright.PENANApXLcDOUoGw
Dia menghampiri. Setiap langkah membuat nightgown bergoyang, memperlihatkan paha dalam yang mulus. Dia berhenti di depan saya, terlalu dekat. Aromanya… kali ini bukan vanilla. Lebih seperti kulit hangat, sedikit manis, dan basah. Seolah dia baru mandi, atau… lebih dari itu.
3370Please respect copyright.PENANAJLDIF9wpfZ
“Pak,” bisiknya, menatap saya dari bawah. “Kemarin… saya minta maaf kalau saya keterlaluan. Saya cuma… kesepian. Dan Bapak… Bapak selalu bikin saya merasa aman.”
3370Please respect copyright.PENANAKzuGHqU585
Tangan saya mengepal di sisi tubuh. Saya ingin mendorongnya. Saya ingin menariknya ke dalam pelukan, merobek nightgown itu, mengisap payudaranya sampai dia menjerit, memasukkan jari ke dalam vaginanya yang saya yakin sudah basah, mendengar dia mendesah “Pak… lebih dalam…”
3370Please respect copyright.PENANAhLTI5ePLx5
Tapi saya hanya bilang, “Tidak apa-apa. Ayo makan.”
3370Please respect copyright.PENANACEQevRX45e
Kami makan di meja. Alya duduk di samping lagi. Nightgown-nya naik saat dia duduk, memperlihatkan hampir seluruh paha. Saya mencoba fokus ke sop, tapi mata saya terus melirik. Putingnya jelas sekali di balik satin tipis. Dua puting coklat yang menonjol, seolah meminta dihisap.
3370Please respect copyright.PENANA5k2LhRWa4N
Setelah makan, Alya berdiri untuk membereskan piring. Saat dia membungkuk ke wastafel, nightgown naik ke bokong. Saya melihat sepotong kecil bokongnya yang montok, kenyal, dan… dia tidak memakai celana dalam.
3370Please respect copyright.PENANAZWfH8Eav1Z
Darah saya meledak.
3370Please respect copyright.PENANA8Aq34H6qXg
Saya berdiri, berpura-pura ke kamar mandi. Di sana, saya mengunci pintu, membuka celana, dan mengocok penis saya dengan kasar lagi. Bayangan bokong Alya, payudaranya, putingnya, vagina yang saya bayangkan basah dan berdenyut… semuanya membuat saya meledak dalam hitungan detik. Air mani menyembur ke dinding. Saya terengah-engah, malu, tapi lapar lebih dari sebelumnya.
3370Please respect copyright.PENANANhqStSyfnw
Ketika saya keluar, Alya sudah duduk di sofa lagi, kaki dilipat, nightgown naik tinggi. Dia menatap saya.
3370Please respect copyright.PENANATOALGhS5XD
“Pak… Bapak kenapa? Wajahnya merah.”
3370Please respect copyright.PENANAvV0MeTjaIX
“Capek,” saya berbohong.
3370Please respect copyright.PENANA1xnokWmpFf
Dia berdiri, menghampiri lagi. Kali ini dia tidak berhenti. Dia berdiri sangat dekat. Dada kami hampir bersentuhan. Saya bisa merasakan putingnya menyentuh kemeja saya melalui kain tipis.
3370Please respect copyright.PENANAb3LDBDq0gS
“Pak…” suaranya bergetar, basah. “Saya… saya nggak bisa bohong lagi. Setiap kali Bapak dekat… tubuh saya aneh. Panas. Basah. Saya… saya takut.”
3370Please respect copyright.PENANA1gcAsFViQ9
Tangan saya terangkat sendiri, menyentuh pipinya. Kulitnya lembut sekali, hangat. Dia mencondongkan wajah ke telapak tangan saya, seperti kucing yang lapar.
3370Please respect copyright.PENANAkuGHslN8pn
“Alya… ini salah,” bisik saya, meski jari saya sudah mengusap bibirnya.
3370Please respect copyright.PENANASq16GCmrTo
“Saya tahu,” desahnya. “Tapi… saya nggak bisa berhenti mikirin Bapak. Malam-malam… saya sentuh diri sendiri sambil bayangin Bapak. Bayangin tangan Bapak di payudara saya. Bayangin mulut Bapak di… di bawah.”
3370Please respect copyright.PENANAGVtYBm4RH4
Kata-kata itu menghancurkan sisa-sisa kontrol saya. Saya menariknya lebih dekat. Bibir kami hampir bersentuhan. Napas kami bercampur. Saya bisa merasakan getar di tubuhnya. Payudaranya menekan dada saya. Putingnya keras, menusuk.
3370Please respect copyright.PENANAZf818GU6fr
“Alya…”
3370Please respect copyright.PENANANv7ZO7HaEE
“Tolong…” bisiknya, mata basah. “Cium saya. Sekali aja. Biar saya tahu rasanya.”
3370Please respect copyright.PENANAdgRogmCA8s
Saya menunduk. Bibir kami hampir menyatu. Saya bisa merasakan kehangatan napasnya. Saya bisa mencium aroma manis di mulutnya. Saya hampir… hampir…
3370Please respect copyright.PENANArU3PgQWH5r
Tapi tiba-tiba, ponsel di meja bergetar. Nada dering Fajar.
3370Please respect copyright.PENANAAcJHaeRVgg
Kami berdua membeku.
3370Please respect copyright.PENANABAKQaUVgSd
Alya mundur selangkah, wajahnya memerah. Saya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantung yang hampir meledak.
3370Please respect copyright.PENANAM9PrUSvxpY
Ponsel terus bergetar. Nama “Fajar” terpampang di layar.
3370Please respect copyright.PENANAyI2im4zQz1
Alya menatap saya, matanya penuh ketakutan dan… keinginan. “Pak… jangan angkat dulu.”
3370Please respect copyright.PENANAPwqktl2eCr
Saya menatapnya. Nightgown-nya sudah melorot lebih parah, hampir memperlihatkan seluruh payudara kirinya. Puting coklat yang mengeras menatap saya, basah oleh keringat tipis.
3370Please respect copyright.PENANA3LMMpWfHT8
Saya mengulurkan tangan ke ponsel…
3370Please respect copyright.PENANAze8lGU6PUh
“Pak… jangan angkat,” bisiknya lagi, suaranya serak, hampir putus. “Tolong… jangan.”
3370Please respect copyright.PENANAEChest5dyq
Jari saya masih menggantung di atas tombol hijau. Saya bisa merasakan getaran ponsel itu di ujung saraf. Kalau saya angkat, Fajar akan mendengar napas saya yang memburu, akan mendengar desahan Alya yang terlalu dekat. Kalau saya tidak angkat…
3370Please respect copyright.PENANAcMNGLRfCPH
Hujan di luar semakin deras. Butir-butir air menghantam kaca jendela seperti ribuan jari yang mengetuk, seolah alam ikut menyegel kami di dalam rumah besar yang tiba-tiba terasa terlalu kecil.
3370Please respect copyright.PENANAs0AM6F9ad3
Saya menekan tombol merah.
3370Please respect copyright.PENANAk268GnijH3
Ponsel diam.
3370Please respect copyright.PENANA8lsSVyaXni
Keheningan yang menyusul lebih keras daripada getaran apa pun. Alya menghembuskan napas panjang, seolah baru saja diselamatkan dari jurang. Dadanya naik-turun cepat. Satin tipis itu bergoyang, memperlihatkan seluruh kontur payudaranya yang berat, indah, dan seolah siap meluap dari kain.
3370Please respect copyright.PENANAvFbniRVGkF
“Terima kasih,” desahnya. Suaranya bergetar. “Saya… saya nggak sanggup dengar suara Fajar sekarang. Nggak sanggup bohong.”
3370Please respect copyright.PENANAY8KesQDn0F
Saya tidak menjawab. Mulut saya kering. Tangan saya masih terangkat di udara, seolah tidak tahu harus ke mana. Alya mengambil langkah kecil ke depan. Satu langkah saja. Dada kami kini bersentuhan. Putingnya yang keras menusuk kemeja saya melalui dua lapis kain. Panas. Nyata. Hidup.
3370Please respect copyright.PENANAcuA2pLdXuu
“Pak Hendra…” dia memanggil nama lengkap saya dengan nada yang belum pernah saya dengar. Lembut, basah, penuh permintaan. “Cium saya. Sekarang. Sebelum saya gila.”
3370Please respect copyright.PENANAUC3NliVWYE
Saya menunduk. Bibir kami bertemu.
3370Please respect copyright.PENANAjq640nUwUn
Bukan ciuman lembut. Bukan ciuman penasaran. Ini ciuman yang sudah ditahan tiga bulan, yang sudah membara di setiap tatapan, setiap sentuhan tidak sengaja, setiap malam saya mengocok diri sendiri sambil membayangkannya. Bibir Alya hangat, basah, dan terbuka segera. Lidahnya menyambut lidah saya dengan lapar yang membuat lutut saya lemas. Saya mengerang ke dalam mulutnya. Tangan saya naik ke pinggangnya, merasakan satin tipis dan kulit panas di baliknya. Pinggangnya ramping sekali, seolah dibuat untuk digenggam dengan dua tangan saya.
3370Please respect copyright.PENANA77V1fyYMMT
Alya melingkarkan lengan di leher saya, menarik saya lebih dalam. Payudaranya menekan dada saya. Saya bisa merasakan detak jantungnya yang kencang. Saya bisa merasakan putingnya yang menggesek kemeja saya, seolah ingin merobek kain itu.
3370Please respect copyright.PENANAjwo5UIIhqA
Kami berciuman di tengah ruang keluarga, di bawah lampu redup, dengan hujan sebagai saksi. Lidah kami saling mengejar, basah, berisik. Alya mendesah ke dalam mulut saya setiap kali saya menggigit pelan bibir bawahnya. Desahan itu… ya Tuhan, desahan itu. Tinggi, getar, dan basah. Saya ingin mendengarnya sepanjang malam.
3370Please respect copyright.PENANAA5AoDQQalj
Tangan saya turun ke bokongnya. Satinnya sangat tipis. Tidak ada celana dalam. Telapak tangan saya langsung merasakan kenyal, bulat, dan hangat. Saya meremas. Alya mendesah lebih keras, mendorong bokongnya ke tangan saya.
3370Please respect copyright.PENANA4ReY9rSKWr
“Pak… lebih kencang,” bisiknya di sela ciuman. “Remas… remas bokong menantu Bapak.”
3370Please respect copyright.PENANA2BmxnAIT9r
Kata-kata kotor itu keluar dari mulut gadis yang biasanya sopan, dan justru membuat penis saya berdenyut nyeri di dalam celana. Saya meremas lebih kuat, memisahkan belahan bokongnya, merasakan celah hangat di antaranya. Alya menggelinjang.
3370Please respect copyright.PENANAOzrVuGbgY4
Saya memutus ciuman, napas memburu. Bibirnya sudah bengkak, basah oleh liur kami. Matanya setengah terpejam, basah.
3370Please respect copyright.PENANAGR9t64AzoM
“Kamar,” desah saya. “Sekarang.”
3370Please respect copyright.PENANAzlOYsw2mC6
Alya mengangguk cepat. Saya menarik tangannya, hampir menyeretnya ke tangga. Setiap langkah ke lantai atas terasa seperti perjalanan menuju neraka yang indah. Nightgown-nya naik saat dia menaiki tangga di depan saya. Saya melihat bokongnya yang telanjang, montok, bergoyang, dan celah gelap di antaranya yang sudah basah. Saya bisa melihat cairan tipis mengkilap di paha dalamnya.
3370Please respect copyright.PENANAxEKDeHX7UX
Saya tidak tahan. Di tengah tangga, saya menahan pinggangnya, mendorongnya ke dinding. Saya berlutut di anak tangga di bawahnya, mengangkat nightgown sampai ke pinggang, dan menatap langsung ke sumber godaan yang sudah membuat saya gila.
3370Please respect copyright.PENANA8hrgPd4jyc
Vagina Alya… indah sekali. Bibir luarnya montok, berwarna pink kecoklatan, sudah mengkilap basah. Bibir dalamnya sedikit terbuka, memperlihatkan daging merah muda yang berdenyut. Klitomisnya bengkak, menonjol, seolah meminta dihisap. Aromanya… manis, asin, primitif. Aroma gairah murni.
3370Please respect copyright.PENANAnxeZGTFCCT
“Pak…” Alya mendesah, tangan memegang pegangan tangga. “Jangan lihat terus… saya malu…”
3370Please respect copyright.PENANAlKr3Z5mSih
“Malu?” saya menggeram. “Kamu basah banget, Alya. Basah buat mertua kamu sendiri.”
3370Please respect copyright.PENANAfBa2g3IXup
Saya menjilat dari bawah ke atas, satu jilatan panjang yang membuat Alya menjerit pelan. Lidah saya merasakan kehangatan, kelicinan, dan rasa manis-asin yang langsung membuat kepala saya berputar. Saya menghisap klitorisnya. Alya menggelinjang hebat, paha gemetar.
3370Please respect copyright.PENANAt2fFtoHIdi
“Ahh… Pak… jilat… jilat terus…”
3370Please respect copyright.PENANALxdGyhH4IN
Saya menjilat lebih dalam, memasukkan lidah ke dalam lubangnya yang sempit, basah, dan berdenyut. Alya mendesahkan nama saya berulang-ulang, suaranya semakin tinggi. Tangan saya meremas bokongnya sambil lidah bekerja. Saya bisa merasakan cairan yang semakin banyak mengalir ke lidah saya, ke dagu saya.
3370Please respect copyright.PENANAHLjAOmcJF1
Saya berdiri lagi, menariknya ke kamar saya. Kami tumbang di atas ranjang king size yang sejak lima tahun hanya diisi oleh saya. Nightgown merah muda itu saya robek begitu saja. Kain satin maha mahal itu sobek di tengah dada, memperlihatkan payudara Alya sepenuhnya untuk pertama kalinya.
3370Please respect copyright.PENANAGQdbZSdbia
Ya Tuhan.
3370Please respect copyright.PENANAbhppLVynIl
Payudaranya… lebih indah dari semua fantasi saya. Besar, bulat sempurna, berat, dengan puting coklat tua yang mengeras panjang, dikelilingi areola yang agak gelap dan keriput karena gairah. Saya menunduk, menghisap puting kiri ke dalam mulut. Alya menjerit, punggung melengkung.
3370Please respect copyright.PENANAAXWpj6WFY8
“Pak… hisap… hisap kencang… gigit pelan…”
3370Please respect copyright.PENANAFu3oh4Xvkw
Saya menghisap, menjilat, menggigit pelan. Tangan kanan saya meremas payudara kanan, memilin putingnya di antara jari. Alya menggelinjang di bawah saya, kaki terbuka lebar, menggesekkan vaginanya yang basah ke paha saya.
3370Please respect copyright.PENANAZO5eruYT36
“Pak… celana Bapak… buka… saya mau lihat…”
3370Please respect copyright.PENANAttlKFacAxk
Saya berdiri sejenak, melepas kemeja, celana, dan boxer dalam satu gerakan kasar. Penis saya melompat keluar, tegang penuh, urat-urat menonjol, ujungnya basah oleh precum. Alya menatapnya dengan mata membesar.
3370Please respect copyright.PENANAOgQrEWmRVA
“Besar…” bisiknya. “Lebih besar dari… dari Fajar…”
3370Please respect copyright.PENANA3uPkXtsZqg
Kata itu membuat dada saya mengencang. Saya naik ke ranjang lagi, berlutut di antara pahanya yang terbuka. “Bilang lagi.”
3370Please respect copyright.PENANAuO7Mr9Ife5
“Bapak lebih besar… lebih tebal… saya mau… saya mau dimasukin sama milik Bapak…”
3370Please respect copyright.PENANAZuiQTRv4OX
Saya menunduk, menciumnya lagi sambil tangan saya turun ke vaginanya. Dua jari saya masuk dengan mudah karena basahnya. Alya mendesah panjang ke dalam mulut saya. Saya menggerakkan jari pelan, mencari titik yang membuatnya menggelinjang. Ketika saya menemukan, saya menekan, menggosok.
3370Please respect copyright.PENANARJ6mGDFst7
“Ahhh… di situ… Pak… di situ terus…”
3370Please respect copyright.PENANArkyz4un5hw
Saya menambah jari ketiga. Alya sudah basah sekali, cairan mengucur ke telapak tangan saya. Saya menghisap putingnya sambil jari bekerja. Tubuhnya tegang, paha bergetar.
3370Please respect copyright.PENANASNxIz8WFAC
“Pak… saya mau… saya mau keluar…”
3370Please respect copyright.PENANAwebrLvRDJ2
“Keluarin,” desah saya di telinga. “Basahin jari mertua kamu. Keluarin semuanya.”
3370Please respect copyright.PENANADaTuDRoDT1
Alya meledak. Tubuhnya melengkung tinggi, vagina berdenyut kencang di sekitar jari saya, cairan menyembur basah ke tangan dan ke seprai. Dia menjerit nama saya, suara pecah, mata terpejam, bibir terbuka. Orgasmnya panjang, bergetar, indah.
3370Please respect copyright.PENANA6grIKma4Ya
Saya tidak memberi waktu istirahat. Saya menarik jari, menghisapnya di depan matanya, lalu menunduk lagi ke antara pahanya. Saya menjilat bersih semua cairannya, menghisap klitorisnya yang masih berdenyut, memasukkan lidah lagi. Alya menggelinjang, tangannya memegang rambut saya, mendorong kepala saya lebih dalam.
3370Please respect copyright.PENANACWTe0p69T9
“Pak… jangan… terlalu sensitif… ahh… jilat… jilat terus…”
3370Please respect copyright.PENANA3CABMaZkCE
Saya menjilat, menghisap, menggigit pelan bibir vaginanya. Alya orgasme lagi hanya dalam hitungan menit, kali ini lebih kencang, cairan menyembur ke wajah saya. Saya menelan, menjilat, menikmati setiap tetes.
3370Please respect copyright.PENANA0mLhchaxlv
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/time47


