Aku Baskara, dua puluh empat tahun, tinggal bersama ibu di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota Semarang. Rumah itu bukan milik mewah, tapi cukup untuk kami berdua. Dua kamar tidur, satu ruang tamu kecil yang selalu rapi karena ibu tak pernah membiarkan debu menempel lama, dapur sempit dengan meja kayu bekas yang sudah dicat ulang berkali-kali, dan halaman belakang yang sempit tapi penuh tanaman cabai, tomat, dan daun bawang yang ibu rawat sendiri. Ayah meninggal empat tahun lalu karena penyakit jantung yang sudah lama dideritanya. Sejak itu, dunia kami berdua menyusut menjadi rutinitas yang tenang, hampir tak terganggu.
1448Please respect copyright.PENANASrhqLuxlW5
Ibu Kirana berusia empat puluh lima tahun. Bagi orang luar, ia adalah sosok yang patut diteladani. Setiap subuh ia sudah berdiri di kamar mandi untuk wudhu, suaranya pelan saat membaca ayat-ayat pendek sebelum sholat. Setelah sholat ia duduk di ruang tamu dengan mushaf kecil yang sudah lusuh di sudut-sudutnya, bibirnya bergerak tanpa suara. Siang harinya ia mengajar ngaji anak-anak di masjid dekat perumahan, sore hari ia memasak untuk kami berdua, dan malamnya ia menjahit atau menonton pengajian di televisi dengan volume rendah. Ia selalu memakai gamis longgar berwarna krem, abu-abu muda, atau hijau pastel yang menutupi tubuhnya sampai mata kaki. Hijabnya rapi, kadang motif bunga kecil, kadang polos. Wajahnya masih cantik dengan cara yang tenang—kulitnya cerah meski sudah tidak lagi mulus seperti dulu, ada garis halus di sudut mata dan dahi yang muncul saat ia tersenyum. Bibirnya penuh dan selalu lembab karena ia sering mengoleskan minyak kelapa sebelum tidur. Matanya hitam besar, sering menunduk saat berbicara dengan orang lain, tapi saat memandangku selalu ada kelembutan yang tak bisa disembunyikan.
1448Please respect copyright.PENANAyS4TPtCBi1
Tubuhnya… aku sering merasa bersalah karena memperhatikannya. Dada ibu penuh dan berat, bentuknya masih tegas meski usia sudah menengah. Saat ia membungkuk untuk mengambil sayuran di dapur atau mengangkat ember air, gamisnya yang longgar tetap tak bisa menyembunyikan lengkungan itu sepenuhnya. Pinggulnya lebar, bokongnya bulat dan padat, terlihat jelas saat ia berdiri dengan punggung tegak. Pahanya yang montok sering terlihat samar-samar ketika angin menyingkap ujung gamisnya saat ia menyirami tanaman di halaman. Kakinya ramping di bagian bawah, kulitnya halus karena ia selalu mengoleskan losion setelah mandi. Aroma tubuhnya selalu harum—campuran sabun mandi murah yang ia pakai dan sedikit wangi minyak wangi yang ia semprotkan di leher sebelum keluar rumah. Aku tahu semua itu bukan karena aku menginginkannya, tapi karena aku hidup bersamanya setiap hari. Ia adalah ibuku, satu-satunya keluarga yang tersisa.
1448Please respect copyright.PENANAgcF2x6G9NP
Enam bulan lalu, rumah sebelah yang kosong selama hampir setahun akhirnya ditempati lagi. Pak Arman pindah masuk sendirian. Ia duda, usianya empat puluh delapan tahun, bekerja sebagai mandor di sebuah proyek pembangunan gedung di pusat kota. Tubuhnya tinggi dan tegap, bahunya lebar karena kebiasaan mengangkat beban berat di lapangan. Rambutnya pendek, mulai memutih di pelipis dan belakang telinga. Kumisnya tipis, memberinya kesan lebih tua dan sedikit galak jika tidak tersenyum. Awalnya ia hanya menyapa dari balik pagar. “Bu Kirana, selamat pagi. Cuaca hari ini bagus ya.” Ibu menjawab sopan, singkat, lalu kembali ke pekerjaannya. Pak Arman tidak memaksa. Ia hanya tersenyum dan melanjutkan jalan.
1448Please respect copyright.PENANAf0J2TfWV7J
Tapi perlahan, ia mulai muncul lebih sering.
1448Please respect copyright.PENANAn6YwdJ6KtF
Suatu sore hujan deras, atap rumah kami bocor di sudut dapur. Air menetes ke lantai. Aku sedang di luar mencari tukang, tapi sebelum aku pulang, Pak Arman sudah ada di halaman belakang kami. Ia membawa tangga lipat dan beberapa lembar seng bekas dari rumahnya. “Saya lihat dari jendela, Bu. Bocornya kelihatan parah. Biar saya bantu dulu sebelum hujan semakin deras.”
1448Please respect copyright.PENANAIdqukSxCti
Ibu ragu. “Tidak usah repot-repot, Pak. Nanti Baskara yang urus.”
1448Please respect copyright.PENANAlzu9xw80Kw
“Sudah, Bu. Saya kan tetangga. Lagipula atap saya juga sering bocor dulu, saya sudah biasa.”
1448Please respect copyright.PENANA9NtqqoJdvc
Ia naik ke atap dengan lincah untuk usianya. Aku pulang tepat saat ia sedang memasang seng baru. Hujan deras membasahi bajunya yang tipis, menempel di dada dan lengan yang berotot. Ibu berdiri di bawah, memegang payung kecil, wajahnya cemas. Saat Pak Arman turun, bajunya basah kuyup. Ibu buru-buru mengambil handuk bersih dari dalam rumah.
1448Please respect copyright.PENANA70rLMwuzBq
“Pak, pakai ini dulu. Nanti masuk angin.”
1448Please respect copyright.PENANAgeo3YfWTmr
Pak Arman menerima handuk itu, tangannya menyentuh jari ibu sebentar. “Terima kasih, Bu. Ibu baik sekali.”
1448Please respect copyright.PENANARjNaxgF3DD
Malam itu ibu memaksa Pak Arman makan malam bersama kami. Ia menolak tiga kali, tapi ibu bersikeras. “Sudah membantu kami, minimal makan dulu, Pak. Saya masakkan sayur asem dan ikan goreng.”
1448Please respect copyright.PENANAppFohoWwQr
Kami bertiga duduk di meja kecil dapur. Lampu neon kuning menyinari wajah mereka. Pak Arman makan dengan lahap, memuji masakan ibu berulang kali. “Masakan ibu enak sekali. Sama seperti masakan almarhumah istri saya dulu. Beliau juga suka masak yang sederhana tapi enak.”
1448Please respect copyright.PENANAzsJqS3mEyv
Ibu tersenyum kecil. “Terima kasih, Pak. Saya cuma masak ala kadarnya.”
1448Please respect copyright.PENANARTJydNQBy6
“Jangan rendah diri, Bu. Banyak istri muda sekarang yang tidak bisa masak seperti ini.” Pak Arman menatap ibu lebih lama dari yang sopan. Matanya bergerak dari wajah ibu ke leher yang terlihat sedikit di balik hijab, lalu turun ke dada yang tertutup gamis longgar. Aku melihatnya. Ibu sepertinya tidak menyadari. Ia hanya menunduk, menyendokkan nasi lagi ke piring Pak Arman.
1448Please respect copyright.PENANA0cqO85ZNV8
Setelah makan, mereka berbincang di ruang tamu. Aku duduk di sudut, pura-pura membuka laptop, tapi telingaku mendengar setiap kata.
1448Please respect copyright.PENANAWFGZ9aFsH2
“Suami ibu dulu bekerja apa, Bu?” tanya Pak Arman sambil meneguk teh hangat yang ibu buatkan.
1448Please respect copyright.PENANAMYSDm6mbiu
“Beliau pegawai negeri sipil di kantor kecamatan. Sudah lama sakit sebelum akhirnya meninggal.”
1448Please respect copyright.PENANAU1KJTMSIC9
“Past i berat bagi ibu mengurus semuanya sendirian.”
1448Please respect copyright.PENANA7iijiR9iMb
Ibu tersenyum tipis. “Alhamdulillah, ada Baskara. Anak ini sudah besar, bisa membantu.”
1448Please respect copyright.PENANACN5Q1C5dJM
Pak Arman mengangguk. “Tapi ibu juga butuh teman bicara, Bu. Bukan cuma soal anak. Kadang… ada hal-hal yang hanya bisa dibicarakan dengan orang dewasa lain.”
1448Please respect copyright.PENANAHarPXPqeSf
Ibu diam sebentar. Jarinya memainkan ujung hijabnya. “Saya punya teman-teman di pengajian. Cukup.”
1448Please respect copyright.PENANAoDNjIWCWZz
“Ya, tentu. Tapi kadang teman di pengajian tidak selalu mengerti apa yang ibu rasakan di rumah.” Pak Arman menyandarkan punggungnya ke kursi. Suaranya pelan, hampir lembut. “Saya juga duda, Bu. Saya tahu rasanya bangun pagi dan tidak ada yang menyapa. Masak untuk diri sendiri, lalu makan sendirian. Kadang terasa… kosong.”
1448Please respect copyright.PENANAT3mEKui2UJ
Ibu menatapnya. Matanya yang biasanya tenang tampak sedikit berkedip lebih cepat. “Kita harus bersabar, Pak. Allah menguji hamba-Nya dengan cara-Nya sendiri.”
1448Please respect copyright.PENANAHvC8a3GgMu
“Betul, Bu. Tapi kadang ujian itu datang dalam bentuk kesepian yang panjang. Dan manusia… manusia butuh kehangatan.”
1448Please respect copyright.PENANA1lL2tXI8vK
Percakapan itu berlangsung hampir satu jam. Aku melihat ibu tertawa dua kali—suara kecil, tertahan, seolah ia lupa bagaimana tertawa lepas. Pak Arman bercerita tentang proyeknya, tentang anak buahnya yang bandel, tentang bagaimana ia dulu ingin punya anak tapi istri tidak bisa hamil. Ibu mendengarkan dengan saksama. Saat Pak Arman berdiri untuk pulang, ia mengulurkan tangan untuk membantu ibu berdiri dari kursi. Tangan mereka bersentuhan lebih lama dari yang diperlukan. Ibu menarik tangannya pelan, wajahnya sedikit memerah di bawah cahaya lampu.
1448Please respect copyright.PENANAdlVNrXzx10
“Terima kasih lagi, Pak. Atapnya sudah tidak bocor lagi.”
1448Please respect copyright.PENANABZGpTTQKXo
“Kalau ada yang lain, jangan sungkan, Bu. Saya di sebelah saja.”
1448Please respect copyright.PENANA0xdkNrnwXY
Setelah Pak Arman pergi, ibu membersihkan meja dengan gerakan yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Aku membantu membawa gelas ke dapur.
1448Please respect copyright.PENANAIVeGCLAwxI
“Pak Arman baik ya, Nak,” kata ibu tanpa menoleh.
1448Please respect copyright.PENANAuZcpaUu0To
“Ya, Bu.”
1448Please respect copyright.PENANARWocca6jib
“Ia sudah membantu kita dua kali. Kita harus berterima kasih.”
1448Please respect copyright.PENANA06bBQ2bzZo
Aku tidak menjawab. Di dalam dadaku ada perasaan aneh yang belum bisa aku namai. Bukan cemburu. Bukan marah. Tapi sesuatu yang membuatku ingin ibu tidak tersenyum terlalu lama saat berbicara dengan pria itu.
1448Please respect copyright.PENANAn8ml9iEEZJ
Hari-hari berikutnya, Pak Arman semakin sering muncul. Ia membawa sayuran dari kebun kecil di belakang rumahnya—kangkung, bayam, terong. “Bu, ini kelebihan panen. Kalau tidak diambil, nanti busuk.” Ibu menerima dengan senyum. Kadang ia membalas dengan sepiring kue atau lauk yang ia masak lebih banyak. Mereka berdiri di pagar depan, berbincang tentang cuaca, tentang harga sayur di pasar, tentang anak-anak tetangga yang semakin bandel. Aku mengamati dari jendela kamar. Pak Arman selalu berdiri agak dekat. Matanya tidak pernah lepas dari wajah ibu, bahkan saat ibu menunduk. Suatu kali, saat ibu membungkuk untuk mengambil ember air di halaman, gamisnya yang longgar sedikit tersingkap di bagian belakang, memperlihatkan lekuk bokongnya yang bulat dan paha bagian atas yang putih. Pak Arman menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Aku melihat tangannya yang memegang pagar mengepal pelan.
1448Please respect copyright.PENANAOfJhQUBYxO
Malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak. Aku membayangkan apa yang ada di kepala Pak Arman saat ia melihat ibu seperti itu. Apakah ia membayangkan membuka gamis itu? Apakah ia membayangkan menyentuh kulit ibu yang selama ini hanya disentuh ayah? Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Itu ibuku. Ia alim. Ia salehah. Ia tidak akan pernah…
1448Please respect copyright.PENANA5YZwz5e1ED
Tapi benih sudah tertanam.
1448Please respect copyright.PENANAzZYtWBL4k9
Dua minggu kemudian, Pak Arman datang membawa obat nyamuk dan obat gosok. “Saya lihat ibu sering garuk-garuk lengan saat di halaman. Mungkin kena gigit nyamuk. Ini obat yang bagus.”
1448Please respect copyright.PENANA0OjAAB70wu
Ibu menerima dengan senyum yang lebih hangat dari biasanya. “Terima kasih, Pak. Ibu terlalu perhatian.”
1448Please respect copyright.PENANAFXr4Uox3vn
“Kita kan tetangga. Harus saling jaga.”
1448Please respect copyright.PENANARchyQchh2w
Malam itu, setelah sholat isya, ibu duduk di ruang tamu sendirian. Aku mengintip dari lorong. Ia tidak membuka mushaf seperti biasa. Ia hanya duduk diam, tangannya memegang obat gosok yang Pak Arman berikan. Jarinya mengusap botol kecil itu pelan-pelan. Wajahnya tenang, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. Seolah ia sedang memikirkan sesuatu yang jauh dari rutinitas sehari-harinya.
1448Please respect copyright.PENANAzxsPn34r57
Aku mundur ke kamar tanpa suara. Di dalam dadaku, perasaan aneh itu semakin kuat. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi aku merasa sesuatu mulai berubah di rumah ini. Sesuatu yang kecil, hampir tak terlihat, tapi nyata.
1448Please respect copyright.PENANAwApE6NwY4j
Dan Pak Arman… ia tersenyum lebih lebar setiap kali bertemu ibu. Matanya semakin berani menatap. Tangan yang tadinya hanya menyentuh sebentar kini sering menyentuh lengan ibu saat berbicara, atau punggung ibu saat membantu mengangkat sesuatu. Ibu tidak menolak. Ia hanya tersenyum sopan dan mengucap terima kasih.
1448Please respect copyright.PENANAtrtTqrwqkq
Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa mengabaikan semua ini.
1448Please respect copyright.PENANA3Tbgkvj1UU
Di rumah sebelah, Pak Arman berdiri di depan jendela kamarnya yang menghadap ke rumah kami. Lampu kamarnya mati. Ia hanya berdiri dalam gelap, rokok di tangan kanan, mata tertuju ke jendela kamar ibu yang masih menyala redup. Ia tersenyum kecil, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan di depan ibu. Tangan kirinya turun perlahan ke bawah pinggangnya, membuka resleting celana panjangnya. Ia membayangkan gamis ibu yang basah kena hujan saat itu, membayangkan bagaimana bentuk dada ibu jika gamis itu menempel ketat. Ia membayangkan suara ibu yang lembut memanggil namanya bukan dengan sopan santun, tapi dengan nada yang lain.
1448Please respect copyright.PENANAc2wqgPNtmf
Ia menghela napas panjang, tangannya bergerak perlahan di bawah celana.
1448Please respect copyright.PENANAsA95nZXuGu
“Kirana…” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. “Kamu tidak akan bisa lari lama-lama.”
1448Please respect copyright.PENANAc57KWFaiC7
Di kamar sebelah, ibu Kirana sedang berdiri di depan cermin kecil di atas lemari. Ia baru saja mandi. Tubuhnya hanya tertutup handuk tipis yang menempel di kulit basah. Ia menatap bayangannya sendiri. Wajahnya masih cantik. Tubuhnya… ia tahu tubuhnya masih menarik meski usia sudah tidak muda. Dada yang penuh, pinggul yang lebar, bokong yang masih kencang karena ia sering berjalan kaki ke masjid. Ia mengusap pipinya pelan.
1448Please respect copyright.PENANAOtCk7IU2Ab
“Ya Allah… ampuni hamba,” bisiknya. Tapi matanya tidak bisa berhenti melihat bayangannya sendiri. Dan di dalam benaknya, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, muncul wajah Pak Arman yang tersenyum padanya di halaman tadi sore. Suaranya yang dalam saat berkata “Ibu baik sekali.”
1448Please respect copyright.PENANAc0jlnFk1Vu
Ibu Kirana menutup matanya kuat-kuat. Ia membaca istighfar berulang kali. Tapi rasa hangat yang aneh di perut bagian bawahnya tidak kunjung hilang.
1448Please respect copyright.PENANApUUoG993lC
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak suaminya meninggal, Ibu Kirana tertidur dengan pikiran yang tidak sepenuhnya tentang tuhan.
1448Please respect copyright.PENANA27ySvTSwXv
Pagi itu terasa berbeda di rumah kami. Aku bangun lebih awal dari biasanya karena suara ibu yang sedang sholat di ruang tamu terdengar lebih lama dari biasa. Biasanya setelah sholat subuh ia langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan, tapi kali ini aku mendengar ia masih duduk di atas sajadahnya, membaca ayat-ayat panjang dengan suara pelan yang sedikit bergetar. Aku mengintip dari lorong. Ibu Kirana duduk dengan punggung tegak, hijabnya masih rapi meski ia baru bangun tidur. Gamisnya yang berwarna krem muda menutupi tubuhnya, tapi angin pagi yang masuk dari jendela sedikit menyingkap bagian bawahnya, memperlihatkan betis putihnya yang halus dan betis yang montok karena kebiasaan berjalan kaki ke masjid setiap hari.
1448Please respect copyright.PENANAbsWqM4RX9D
Tubuh ibu memang masih indah dengan cara yang tenang. Dada yang penuh dan berat naik turun pelan saat ia bernapas dalam-dalam setelah membaca surat panjang. Pinggulnya yang lebar menekan sajadah, bokongnya yang bulat dan padat terlihat jelas dari samping meski tertutup kain. Aku merasa bersalah karena memperhatikan, tapi entah mengapa pagi itu mataku sulit berpaling. Ada sesuatu yang berubah di wajah ibu. Matanya yang biasanya tenang tampak sedikit sembab, seolah ia menangis semalaman atau tidak tidur nyenyak. Bibirnya yang penuh bergerak terus membaca, tapi kadang ia berhenti, menatap kosong ke dinding, lalu menggeleng pelan seolah mengusir pikiran yang tidak diinginkan.
1448Please respect copyright.PENANAWaakgmAJTT
Aku mundur ke kamar sebelum ia selesai. Di dalam hati ada kegelisahan yang tidak bisa aku jelaskan. Semalam aku juga tidak tidur nyenyak. Bayangan Pak Arman yang berdiri di depan jendela rumahnya, tangannya yang bergerak di bawah celana, dan gumamannya yang memanggil nama ibu terus menghantui. Aku tahu itu bukan hal baik untuk dipikirkan. Tapi semakin aku berusaha mengusirnya, semakin jelas bayangan itu muncul.
1448Please respect copyright.PENANA9zqiPmm0gy
Sarapan pagi itu berlangsung dalam suasana yang lebih sunyi dari biasanya. Ibu membuatkan nasi goreng sederhana dengan telur dan irisan tomat. Ia duduk di seberangku, tapi matanya jarang menatapku langsung. Jarinya sering memainkan ujung hijabnya, kebiasaan yang muncul saat ia gelisah.
1448Please respect copyright.PENANABHRESMAVKt
“Bu, semalam tidur nyenyak?” tanyaku sambil mengunyah.
1448Please respect copyright.PENANA6zmDm2s8uY
Ibu tersenyum tipis. “Alhamdulillah, Nak. Cuma… agak banyak yang dipikirkan.”
1448Please respect copyright.PENANAxbHgpgaMw2
“Pikirkan apa, Bu?”
1448Please respect copyright.PENANAspmAiZVDBm
Ia diam sebentar, lalu menggeleng. “Tidak ada apa-apa. Cuma… terima kasih ya, Nak, sudah membantu ibu selama ini. Ibu kadang merasa… sendirian.”
1448Please respect copyright.PENANABJQVVQvqFQ
Kata-kata itu membuatku terdiam. Ibu tidak pernah mengatakan hal seperti itu sebelumnya. Ia selalu kuat, selalu bilang Allah cukup untuknya. Aku ingin bertanya lebih lanjut, tapi ia sudah bangun dan membersihkan meja dengan gerakan yang agak tergesa.
1448Please respect copyright.PENANAHU7OdiDxsm
Siang harinya, Pak Arman datang lagi. Kali ini ia membawa sekeranjang buah-buahan segar—mangga harum manis, pisang raja, dan beberapa jeruk. Ia berdiri di depan pagar, tersenyum lebar saat melihat ibu sedang menyirami tanaman.
1448Please respect copyright.PENANAAk2RqwmFWM
“Bu Kirana, ini sedikit buah dari kebun saya. Baru dipetik pagi tadi. Minta tolong dibagikan ke Baskara juga.”
1448Please respect copyright.PENANA73rEuLvrYM
Ibu menerima keranjang itu dengan kedua tangan. Saat ia membungkuk sedikit untuk meletakkan keranjang di tanah, gamisnya yang longgar sedikit tersingkap di bagian dada. Aku yang sedang di dalam rumah melihat dari jendela bagaimana lekuk dada ibu yang penuh dan berat terlihat samar-samar di balik kain tipis dalamnya. Putingnya tidak terlihat, tapi bentuknya yang bulat dan montok jelas terbayang. Pak Arman juga melihat. Matanya tidak berkedip, menatap lebih lama dari yang sopan. Ada senyum kecil di bibirnya yang tidak ia sembunyikan sepenuhnya.
1448Please respect copyright.PENANAfd5X9RTdKx
“Terima kasih banyak, Pak,” kata ibu sambil berdiri tegak lagi. “Bapak selalu repot-repot.”
1448Please respect copyright.PENANAikwpR3tzmF
“Tidak repot, Bu. Saya senang bisa membantu. Lagipula… melihat ibu tersenyum saja sudah cukup membuat hari saya lebih baik.”
1448Please respect copyright.PENANAdVLPGokhu2
Ibu tersenyum, tapi kali ini senyumnya agak berbeda. Ada sedikit kemerahan di pipinya yang tidak biasa. Ia menunduk, tangannya memegang ujung hijab lebih erat.
1448Please respect copyright.PENANAzjbBberjhb
“Pak Arman terlalu baik. Saya cuma ibu rumah tangga biasa.”
1448Please respect copyright.PENANAZ7e9hKpPva
“Tidak ada yang biasa dari ibu, Bu,” jawab Pak Arman dengan suara yang lebih pelan. “Ibu kuat, salehah, dan… cantik. Banyak pria yang pasti iri melihat ibu masih terawat seperti ini di usia kita.”
1448Please respect copyright.PENANARO417iGr0H
Kata “cantik” itu menggantung di udara. Ibu diam. Aku melihat bahunya sedikit tegang. Ia tidak menjawab langsung, hanya mengangguk kecil dan mengucap terima kasih dengan suara yang agak parau. Pak Arman tidak buru-buru pergi. Ia berdiri di pagar, berbincang tentang cuaca, tentang proyeknya yang hampir selesai, tentang bagaimana ia merasa rumahnya terlalu sepi akhir-akhir ini.
1448Please respect copyright.PENANAIG8Z4Xchqy
“Ibu pernah merasa seperti itu, Bu?” tanyanya tiba-tiba. “Rumah yang terlalu besar untuk satu orang. Tidur sendirian, bangun sendirian, makan sendirian. Kadang terasa… hampa.”
1448Please respect copyright.PENANAN8N3hvynod
Ibu menatapnya. Matanya yang besar tampak berkedip lebih cepat. “Saya… kadang merasa begitu juga, Pak. Tapi saya punya iman. Dan ada Baskara.”
1448Please respect copyright.PENANAWVI0kHmowf
“Ya, tentu. Tapi anak sudah dewasa. Ia punya hidupnya sendiri. Ibu juga manusia, Bu. Manusia butuh… kehangatan. Bukan cuma dari anak.”
1448Please respect copyright.PENANAWXzS2KPRF0
Percakapan itu berlangsung hampir empat puluh menit. Aku mengamati dari dalam. Setiap kali ibu tertawa kecil karena lelucon Pak Arman, dadaku terasa sesak. Bukan karena cemburu pada Pak Arman, tapi karena aku melihat ibu mulai membuka diri sedikit demi sedikit. Ia yang biasanya menjaga jarak dengan pria lain kini berdiri agak dekat dengan pagar, tubuhnya sedikit condong ke depan saat mendengarkan. Dada ibu yang penuh naik turun lebih cepat saat ia tertawa. Aku bisa membayangkan bagaimana kulitnya yang halus di bawah gamis itu mungkin mulai hangat karena perhatian yang tidak biasa ia terima.
1448Please respect copyright.PENANACyHcJklIZo
Setelah Pak Arman pergi, ibu masuk ke dalam rumah dengan langkah yang agak tergesa. Ia langsung ke dapur, membasuh tangan berkali-kali meski tidak kotor. Aku mengikutinya.
1448Please respect copyright.PENANAJsaL5iHDJ6
“Bu, Pak Arman sering datang akhir-akhir ini ya.”
1448Please respect copyright.PENANAATlfYJVXBB
Ibu tidak menoleh. “Ia baik, Nak. Kita harus berterima kasih.”
1448Please respect copyright.PENANAT8GijXjiWn
“Ia bilang ibu cantik tadi.”
1448Please respect copyright.PENANAJc0CJvttMo
Ibu diam sebentar. Tangannya berhenti di keran air. “Itu cuma basa-basi, Nak. Jangan dipikirkan.”
1448Please respect copyright.PENANAfqhiZj3JVL
Tapi aku melihat telinganya memerah. Dan saat ia berbalik, matanya menghindari tatapanku.
1448Please respect copyright.PENANAFn0NrCw2a2
Siang itu berlalu dengan ibu yang lebih pendiam dari biasanya. Ia sholat zuhur lebih lama, membaca doa lebih banyak. Aku melihatnya dari lorong saat ia sujud, bokongnya yang bulat dan montok terangkat tinggi, gamisnya menempel di lekuk tubuhnya karena posisi itu. Aku buru-buru mundur ke kamar, merasa panas di wajah. Aku tidak boleh memikirkan ibu seperti itu. Tapi semakin aku berusaha tidak memikirkan, semakin jelas bayangan tubuhnya muncul.
1448Please respect copyright.PENANAFhezaF6Vlh
Sore harinya, Pak Arman datang lagi. Kali ini ia membawa obeng dan alat listrik kecil. “Bu, tadi pagi saya lihat lampu di teras ibu berkedip-kedip. Mungkin kabelnya longgar. Biar saya cek sebentar.”
1448Please respect copyright.PENANAHmPOYoLxbX
Ibu ragu, tapi akhirnya mengizinkan. “Terima kasih, Pak. Tapi jangan sampai repot.”
1448Please respect copyright.PENANAH9Ucjn48mm
“Kami kan tetangga. Saling bantu.”
1448Please respect copyright.PENANARYMWXmnFKw
Mereka masuk ke dalam rumah. Aku pura-pura bekerja di kamar, tapi aku mengintip dari celah pintu. Pak Arman berdiri di atas kursi untuk mengecek lampu di teras dalam. Ibu berdiri di bawah, memegang senter kecil untuk memberi cahaya. Posisi mereka dekat. Saat Pak Arman mengulurkan tangan untuk memegang sesuatu di langit-langit, tubuhnya hampir menyentuh punggung ibu. Aku melihat tangannya yang besar itu “tidak sengaja” menyentuh pinggang ibu saat ia turun dari kursi.
1448Please respect copyright.PENANABiGCyz2TQm
“Maaf, Bu,” katanya dengan suara pelan. “Tidak sengaja.”
1448Please respect copyright.PENANAb5CUcGzD1K
Ibu tidak menjawab langsung. Tubuhnya sedikit kaku. Aku melihat wajahnya dari samping. Pipinya memerah. Matanya berkedip cepat. Ada sesuatu yang berubah di napasnya—lebih pendek, lebih cepat.
1448Please respect copyright.PENANAPAT4CC7vh6
“Tidak apa-apa, Pak,” jawabnya akhirnya, suaranya agak parau.
1448Please respect copyright.PENANABueLrOTuwU
Pak Arman tersenyum kecil. Ia tidak buru-buru menjauh. Tangannya masih berada di dekat pinggang ibu, jarinya hampir menyentuh kain gamis yang menutupi kulitnya. “Ibu baunya harum sekali, Bu. Seperti bunga melati.”
1448Please respect copyright.PENANA3L6xNeBAf8
Ibu mundur selangkah. “Pak… jangan bicara seperti itu.”
1448Please respect copyright.PENANAO5SwIJ7EuU
“Kenapa, Bu? Itu pujian. Ibu memang harum. Saya bisa menciumnya setiap kali lewat pagar.”
1448Please respect copyright.PENANAZWchwnhswY
Ibu menunduk. Tangannya memegang ujung hijab erat-erat. Aku melihat dadanya naik turun cepat. Di balik gamis longgar itu, aku membayangkan putingnya mungkin mulai mengeras karena kata-kata Pak Arman yang terlalu dekat, terlalu personal. Aku merasa marah dan… sesuatu yang lain. Sesuatu yang panas dan tidak enak di perutku.
1448Please respect copyright.PENANAeBg4r9d29r
Pak Arman akhirnya menjauh, tapi senyumnya tetap ada. “Lampunya sudah baik, Bu. Kalau ada yang lain, panggil saja saya.”
1448Please respect copyright.PENANAZwc5C3XJGB
Setelah ia pergi, ibu berdiri diam di teras lama sekali. Ia menyandarkan punggung ke dinding, tangannya menutup wajah sebentar. Aku melihat bahunya bergetar pelan. Apakah ia menangis? Atau… merasa sesuatu yang lain?
1448Please respect copyright.PENANArA68JsAyZg
Malam harinya, ibu mandi lebih lama dari biasanya. Aku mendengar air mengalir dari kamar mandi. Bayangan tubuh ibu telanjang di balik tirai muncul di kepalaku tanpa bisa aku cegah. Dada yang penuh dan berat, puting cokelat yang mungkin sudah mengeras karena air hangat. Pinggul yang lebar, bokong yang bulat dan montok, paha yang montok dan halus. Vaginanya… aku tidak boleh memikirkan itu. Tapi aku membayangkan bagaimana ia mungkin menyentuh dirinya sendiri di balik tirai, mencoba mengusir rasa hangat yang muncul di perut bawahnya setelah interaksi dengan Pak Arman tadi.
1448Please respect copyright.PENANAhDl18elUsR
Ketika ibu keluar dari kamar mandi, ia memakai gamis tidur yang lebih tipis dari biasanya. Kainnya menempel di tubuh basahnya. Aku melihat bentuk putingnya yang mengeras samar-samar di balik kain itu. Ia buru-buru memakai hijab lagi meski di rumah, seolah ingin menyembunyikan sesuatu.
1448Please respect copyright.PENANAGXlxsNScck
Malam itu, setelah sholat isya, ibu duduk sendirian di ruang tamu. Aku mengintip diam-diam. Ia tidak membuka mushaf. Ia hanya duduk, tangannya memegang perut bagian bawah pelan-pelan. Matanya tertutup. Bibirnya bergerak membaca istighfar berulang kali. Tapi tangannya tidak berhenti. Jarinya menekan kain gamis di atas pahanya, seolah mencoba menekan sesuatu yang menggelitik di dalam.
1448Please respect copyright.PENANAVguCiIndN9
Aku mundur ke kamar dengan hati berdebar. Aku tahu apa yang sedang terjadi pada ibu. Dan aku benci karena aku tidak bisa menghentikannya. Aku juga benci karena sebagian dari diriku… penasaran. Ingin melihat seberapa jauh ibu akan jatuh.
1448Please respect copyright.PENANA5tkcsMwPAg
Di rumah sebelah, Pak Arman duduk di kursi malas di halaman belakangnya. Lampu redup. Ia memegang segelas teh dingin, tapi matanya tertuju ke jendela kamar ibu yang masih menyala. Ia tersenyum lebar, senyum yang penuh kepuasan dan nafsu yang terkendali.
1448Please respect copyright.PENANAmeAaeyLDVh
“Pelan-pelan, Kirana,” gumamnya sendiri. “Saya tidak buru-buru. Saya ingin melihat kamu hancur pelan-pelan. Saya ingin melihat wanita salehah seperti kamu memohon untuk disentuh. Saya ingin merasakan tubuhmu yang alim itu bergetar di bawah saya.”
1448Please respect copyright.PENANAC1R1PmLKzU
Tangannya turun ke bawah, membuka resleting celana. Ia membayangkan ibu di teras tadi, bagaimana dadanya naik turun cepat, bagaimana matanya berkedip saat ia memuji baunya. Ia membayangkan membuka gamis itu, melihat dada penuh itu terbebas, puting cokelat yang mengeras karena sentuhannya. Ia membayangkan menjilatnya, mendengar ibu mengerang meski ia berusaha menahan karena imannya. Ia membayangkan membuka paha ibu yang montok, melihat vagina yang selama ini hanya untuk suaminya, sekarang basah karena dirinya.
1448Please respect copyright.PENANAZL3t6TQm99
Tangan Pak Arman bergerak cepat. Ia menghela napas kasar. “Kirana… kamu akan jadi milik saya. Pelan-pelan. Sampai kamu lupa cara sholat karena terlalu sibuk memikirkan kontol saya.”
1448Please respect copyright.PENANAIhrPAKYeZe
Di kamar sebelah, ibu Kirana akhirnya berdiri dari sajadahnya. Ia berjalan ke kamar tidurnya dengan langkah goyah. Ia menutup pintu, mengunci dari dalam. Ia berdiri di depan cermin kecil. Gamis tidurnya yang tipis menempel di tubuh. Ia melihat bayangannya. Wajahnya memerah. Matanya berkaca-kaca.
1448Please respect copyright.PENANA4S9nphDcv8
“Ya Allah… ampuni hamba yang lemah ini,” bisiknya. Tapi tangannya sudah bergerak. Ia mengusap dadanya sendiri di atas kain, merasakan putingnya yang sudah mengeras dan sensitif. Ia menekan pelan, napasnya tersengal. Rasa hangat menyebar dari perut bawah ke seluruh tubuh. Ia merasa malu, sangat malu. Tapi ia tidak bisa berhenti.
1448Please respect copyright.PENANANfms8766OE
Tangan kirinya turun perlahan ke bawah perut, di atas kain gamis. Ia menekan area antara pahanya. Ia merasa lembab di sana. Sudah bertahun-tahun ia tidak merasa seperti ini. Sejak suaminya meninggal, ia selalu berhasil menekan nafsu dengan sholat dan puasa. Tapi malam ini… setelah Pak Arman menyentuh pinggangnya, setelah ia memuji baunya, setelah suaranya yang dalam berbisik dekat telinganya… ia tidak bisa menahan.
1448Please respect copyright.PENANA2Jm39gcF3v
Jari ibu bergerak pelan di atas kain, menekan klitorisnya yang sudah bengkak meski ia tidak menyentuh langsung. Ia menggigit bibir kuat-kuat agar tidak bersuara. Air mata mengalir di pipinya. “Astagfirullah… astagfirullah…” ia berbisik berulang kali. Tapi jarinya tidak berhenti. Ia membayangkan tangan Pak Arman yang besar itu menyentuhnya lagi. Membayangkan bagaimana jika tangan itu menyusup ke balik gamis, menyentuh kulit pahanya yang halus, lalu naik lebih tinggi…
1448Please respect copyright.PENANAB1zbggkrxY
Tubuh ibu bergetar hebat. Ia merasa orgasme kecil yang pertama kali ia rasakan dalam bertahun-tahun menyapu tubuhnya tanpa bisa ia cegah. Ia menekan wajah ke bantal agar tidak bersuara. Air mata semakin deras. Rasa malu yang luar biasa bercampur dengan kenikmatan yang membuat tubuhnya lemas.
1448Please respect copyright.PENANAyygWCIAUkb
Setelah itu, ia berbaring di tempat tidur, napas masih tersengal. Ia menatap langit-langit. “Ya Allah… apa yang sedang terjadi padaku? Kenapa aku… kenapa tubuhku…?”
1448Please respect copyright.PENANAE93v4qOlD7
Ia bangun, berwudhu lagi meski baru saja mandi. Ia sholat dua rakaat sunnah taubat. Tapi saat sujud, ia masih merasakan denyut di vaginanya yang basah. Ia menangis dalam sujudnya.
1448Please respect copyright.PENANADZeekO06j1
Di rumah sebelah, Pak Arman sudah selesai. Ia membersihkan tangannya dengan tisu, lalu tersenyum puas ke arah jendela kamar ibu yang kini gelap.
1448Please respect copyright.PENANAQk0rwMF7hn
“Besok,” gumamnya. “Besok saya akan lebih dekat lagi.”
1448Please respect copyright.PENANAslf8ELqNiR
Keesokan paginya, ibu terlihat lebih pucat. Ia sholat subuh lebih lama, membaca doa lebih banyak. Saat sarapan, ia hampir tidak bicara. Aku bertanya apakah ia sakit. Ia hanya menggeleng dan tersenyum tipis.
1448Please respect copyright.PENANAjyRulluahL
Siang harinya, Pak Arman datang dengan membawa sebuah buku kecil berjudul “Ketenangan Hati dalam Kesendirian”. “Bu, ini buku yang saya baca dulu saat istri saya meninggal. Mungkin bisa membantu ibu. Ada beberapa ayat dan nasihat yang membuat saya lebih tenang.”
1448Please respect copyright.PENANAUfbkPjjEec
Ibu menerima buku itu dengan tangan yang sedikit gemetar. “Terima kasih, Pak. Saya akan baca.”
1448Please respect copyright.PENANAHUsY5eYFHx
“Kalau ibu mau, kita bisa diskusikan isinya suatu hari. Saya juga sering merasa… butuh teman bicara tentang hal-hal seperti ini.”
1448Please respect copyright.PENANA6enfSKvJr9
Ibu menunduk. “Mungkin… suatu hari.”
1448Please respect copyright.PENANAFwftK3AOMW
Pak Arman tersenyum. Sebelum pergi, ia mengulurkan tangan untuk membantu ibu yang sedang membawa keranjang cucian. Tangan mereka bersentuhan lagi. Kali ini Pak Arman tidak buru-buru melepaskan. Jarinya mengusap punggung tangan ibu pelan-pelan, hampir tak terlihat.
1448Please respect copyright.PENANAOmoVu9cQgK
“Ibu tangannya halus,” bisiknya. “Seperti wanita yang terawat baik.”
1448Please respect copyright.PENANAQDNelJ4JrM
Ibu menarik tangannya pelan, tapi ia tidak marah. Ia hanya menunduk lebih dalam, wajahnya memerah sampai ke leher.
1448Please respect copyright.PENANAb07LdiVYBq
Malam itu, setelah Pak Arman pergi, ibu duduk di ruang tamu sendirian lagi. Ia membuka buku yang Pak Arman berikan. Tapi matanya tidak membaca. Ia hanya menatap halaman pertama, jarinya mengusap sampul buku itu berulang kali. Ada air mata yang jatuh di atas kertas.
1448Please respect copyright.PENANAA7Umo2bYXc
Aku mengintip dari lorong. Aku melihat ibu mengusap pipinya, lalu berdiri dan berjalan ke kamarnya dengan langkah goyah. Ia mengunci pintu dari dalam.
1448Please respect copyright.PENANA1MS3gthZv5
Aku berdiri di lorong lama sekali, hati berdebar kencang. Aku tahu sesuatu sedang terjadi pada ibu. Sesuatu yang tidak bisa aku hentikan. Dan entah mengapa, sebagian dari diriku… ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
1448Please respect copyright.PENANAwK3SleOsnw
Di dalam kamarnya, ibu Kirana berdiri di depan cermin lagi. Ia membuka gamis tidurnya perlahan. Tubuhnya telanjang di bawah cahaya lampu redup. Dada yang penuh dan berat terlihat jelas, puting cokelat yang sudah mengeras lagi meski ia baru saja menangis. Pinggulnya lebar, bokong bulat dan montok, paha montok yang halus. Di antara pahanya, vagina yang kemarin baru saja ia sentuh masih terasa sensitif. Ia mengusap dadanya sendiri, menekan putingnya pelan, napasnya tersengal.
1448Please respect copyright.PENANA960I2GqZc5
“Pak Arman…” bisiknya tanpa sadar. Lalu ia menutup mulut dengan tangan, air mata mengalir deras. “Astagfirullah… astagfirullah…”
1448Please respect copyright.PENANAsTK7HO1Vri
Ia berlutut di depan cermin, tangannya masih di dadanya. Tubuhnya bergetar antara rasa malu yang luar biasa dan hasrat yang baru saja terbangun setelah bertahun-tahun mati suri.
1448Please respect copyright.PENANAZre3E1GsgM
Di rumah sebelah, Pak Arman berdiri di depan jendelanya lagi. Ia melihat lampu kamar ibu masih menyala. Ia tersenyum lebar, tangannya sudah turun ke bawah pinggang.
1448Please respect copyright.PENANA9RaOs5qOrD
“Ya, Kirana,” gumamnya pelan. “Pikirkan saya. Bayangkan tangan saya menyentuh kamu. Bayangkan kontol saya masuk ke dalam tubuh alim kamu yang selama ini hanya untuk suamimu. Kamu akan hancur. Pelan-pelan. Dan saya akan menikmati setiap detiknya.”
1448Please respect copyright.PENANArp7xTra7M8
Malam itu, di dua rumah yang bersebelahan, dua orang dewasa bergulat dengan nafsu yang sama—satu dengan rasa malu dan iman yang retak, satu lagi dengan kepuasan dan rencana yang semakin matang.
1448Please respect copyright.PENANADNbI0t9ovL
Pagi itu, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya meski angin pagi berhembus pelan dari jendela dapur. Aku bangun lebih awal karena suara ibu yang sedang sholat di ruang tamu terdengar tidak seperti biasa. Biasanya suaranya tenang dan mantap saat membaca ayat, tapi kali ini ada getar kecil yang muncul di akhir setiap kalimat, seolah ia harus memaksa diri untuk fokus. Aku mengintip dari lorong gelap. Ibu Kirana sujud lebih lama dari biasanya. Punggungnya yang tegak membungkuk dalam, bokongnya yang bulat dan montok terangkat tinggi, gamisnya yang tipis menempel di lekuk tubuh karena posisi itu. Aku bisa melihat bentuk paha bagian dalamnya yang montok dan halus, kulit putihnya yang sedikit bergetar karena ia menahan napas terlalu lama. Dada ibu yang penuh dan berat tertekan ke lantai saat sujud, putingnya mungkin sudah mengeras karena kain tipis dan udara pagi yang dingin.
1448Please respect copyright.PENANAcrNE9ZSySl
Ketika ia bangun dari sujud, wajahnya tampak pucat. Matanya sembab, seolah ia menangis semalaman. Ia duduk di sajadah, tangannya memegang perut bagian bawah pelan-pelan, jari-jarinya menekan kain gamis di atas area intimnya seolah mencoba menekan sesuatu yang masih berdenyut di sana. Aku melihat bibirnya bergerak membaca istighfar berulang kali, tapi matanya tertutup rapat, dan napasnya tidak stabil. Ada sesuatu yang berubah di tubuh ibu sejak kemarin. Sesuatu yang membuatnya tidak bisa tenang meski ia sudah sholat berkali-kali.
1448Please respect copyright.PENANACeOvBFOSJR
Aku mundur ke kamar sebelum ia selesai. Di dalam dadaku ada perasaan campur aduk yang semakin sulit dijelaskan. Aku tahu Pak Arman sedang melakukan sesuatu padanya—bukan dengan paksaan, tapi dengan cara yang lebih halus dan berbahaya. Perhatian, pujian, sentuhan “tidak sengaja” yang membuat ibu mulai goyah. Dan aku… aku hanya bisa mengamati dari kejauhan, merasa marah, cemas, dan entah mengapa… penasaran.
1448Please respect copyright.PENANAVlEot88IX7
Sarapan pagi itu berlangsung dalam keheningan yang tegang. Ibu membuatkan roti bakar dan telur mata sapi, tapi ia lupa memberi garam. Jarinya sering gemetar saat menuang teh. Ia duduk di seberangku, tapi matanya jarang menatap wajahku. Ia menatap meja, atau jendela, atau tangannya sendiri yang memainkan ujung hijab tanpa henti.
1448Please respect copyright.PENANAeNvNLCdTrf
“Bu, semalam ibu nangis?” tanyaku pelan.
1448Please respect copyright.PENANAPc8WDhgOvI
Ibu tersentak kecil. “Tidak, Nak. Kenapa tanya begitu?”
1448Please respect copyright.PENANAcoGJ9j0vnx
“Mata ibu sembab.”
1448Please respect copyright.PENANAArpRFmQ77V
Ia tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. “Cuma kurang tidur. Banyak yang dipikirkan.”
1448Please respect copyright.PENANAC2Bok6jKon
“Pikirkan apa? Kalau ada masalah, bilang sama aku.”
1448Please respect copyright.PENANAmxkCKopi4i
Ibu diam lama. Ia mengaduk tehnya pelan-pelan meski sudah tidak ada gula lagi. “Tidak ada masalah, Nak. Ibu cuma… merasa lelah akhir-akhir ini. Usia sudah tidak muda lagi. Kadang tubuh ini… memberontak dengan caranya sendiri.”
1448Please respect copyright.PENANAEoBXEERyja
Kata-kata itu membuatku diam. Aku ingin bertanya lebih dalam, tapi ia sudah bangun dan membersihkan meja dengan gerakan yang agak tergesa-gesa. Punggungnya yang lebar dan bokongnya yang montok bergerak di balik gamis longgar saat ia berjalan ke dapur. Aku melihat bagaimana kain itu sedikit menempel di lekuk bokongnya setiap kali ia membungkuk untuk mengambil piring. Aroma tubuhnya yang harum—campuran sabun mandi dan sedikit wangi minyak kelapa—masih terasa di udara.
1448Please respect copyright.PENANApnh89Wuc0W
Siang harinya, aku harus pergi. Ada klien yang meminta revisi desain mendadak dan harus diserahkan sore ini. Aku bilang ke ibu bahwa aku mungkin pulang agak malam karena harus ke kantor klien di seberang kota.
1448Please respect copyright.PENANAvtp89DPZNA
“Jangan khawatir, Nak,” jawab ibu sambil menunduk. “Ibu bisa urus rumah sendiri.”
1448Please respect copyright.PENANAAulpm1Ykc3
Tapi saat aku melangkah keluar pintu, aku melihat ibu berdiri di teras, tangannya memegang ujung hijab erat-erat, matanya menatap ke arah rumah sebelah sebentar sebelum cepat-cepat menunduk lagi. Ada sesuatu di wajahnya yang membuat dadaku sesak. Ia seolah menunggu sesuatu… atau takut menunggu sesuatu.
1448Please respect copyright.PENANA74MRWh73O4
Aku pergi dengan perasaan tidak enak.
1448Please respect copyright.PENANAC6U138ysu2
Belum setengah jam aku pergi, Pak Arman sudah datang.
1448Please respect copyright.PENANAcwBpyRGvoT
Ia membawa buku yang pernah ia pinjamkan ke ibu, sekarang ada beberapa catatan kecil di halaman-halaman tertentu. “Bu, saya tadi ingat ada beberapa bagian yang mungkin bisa membantu ibu. Saya tulis sedikit catatan di situ. Kalau ibu tidak keberatan, kita bisa diskusikan sebentar.”
1448Please respect copyright.PENANAMpo3ulllfJ
Ibu berdiri di depan pintu, gamisnya yang berwarna abu-abu muda menutupi tubuhnya dengan longgar. Tapi angin siang membuat kain itu menempel sesaat di dadanya yang penuh, memperlihatkan bentuk bulat dan beratnya yang jelas. Putingnya tidak terlihat, tapi lekuknya yang montok membuat Pak Arman menatap lebih lama dari yang seharusnya.
1448Please respect copyright.PENANAIiMpaPKm8q
“Pak… saya sedang sibuk,” jawab ibu dengan suara yang agak goyah. “Mungkin lain kali saja.”
1448Please respect copyright.PENANAS7cCYzvowr
“Tapi saya sudah datang sampai sini, Bu. Cuma sebentar. Saya janji tidak akan merepotkan.”
1448Please respect copyright.PENANApyWi9cTgmX
Ibu ragu. Ia menatap ke arah jalan seolah mencari keberadaanku, tapi aku sudah pergi jauh. Akhirnya ia mengangguk pelan dan membiarkan Pak Arman masuk.
1448Please respect copyright.PENANAnIpaUdiLVW
Mereka duduk di ruang tamu. Ibu menuangkan teh untuknya dengan tangan yang sedikit gemetar. Saat ia membungkuk untuk menuang, dadanya yang penuh dan berat bergoyang pelan di balik gamis. Pak Arman duduk di kursi yang berhadapan, matanya tidak pernah lepas dari tubuh ibu. Ia melihat bagaimana pinggul ibu yang lebar menekan kursi, bagaimana paha montoknya terlihat samar di balik kain saat ia duduk dengan kaki rapat.
1448Please respect copyright.PENANAPWCv36P8lf
“Buku ini membahas tentang bagaimana manusia, meski sudah beriman kuat, tetap butuh teman dan kehangatan,” kata Pak Arman sambil membuka halaman yang sudah diberi tanda. “Ada ayat yang bilang bahwa Allah menciptakan pasangan agar manusia tidak merasa kesepian. Bukan cuma soal nikah, Bu. Tapi soal… sentuhan. Perhatian. Hal-hal kecil yang membuat hati tenang.”
1448Please respect copyright.PENANAim6roDghkR
Ibu menatap halaman itu, tapi matanya tidak membaca. “Saya tahu, Pak. Tapi… saya sudah punya cara sendiri untuk mengatasi kesepian. Sholat, puasa, mengaji.”
1448Please respect copyright.PENANAAXwHtkF9ev
“Itu benar, Bu. Tapi kadang tubuh kita… punya kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi hanya dengan ibadah.” Pak Arman mencondongkan tubuh ke depan. Suaranya lebih pelan, lebih dalam. “Saya juga pernah merasa seperti itu setelah istri saya meninggal. Tubuh ini… ingin disentuh. Ingin merasakan kehangatan orang lain. Bukan karena nafsu semata, tapi karena kita manusia. Makhluk yang butuh kasih sayang.”
1448Please respect copyright.PENANA95nM5iezqB
Ibu diam. Pipinya memerah perlahan. Ia memegang cangkir teh dengan kedua tangan agar tidak terlihat gemetar. “Pak… pembicaraan ini… kurang pantas.”
1448Please respect copyright.PENANAmf1SvP2MWf
“Kenapa tidak pantas, Bu? Kita berdua sudah dewasa. Kita sudah sama-sama merasakan kehilangan. Saya cuma ingin berbagi apa yang saya alami.”
1448Please respect copyright.PENANAZRvobc43uc
Mereka berbicara hampir satu jam. Percakapan berputar dari agama ke kehidupan pribadi, lalu perlahan ke hal-hal yang lebih personal. Pak Arman bercerita bagaimana ia dulu merindukan sentuhan istrinya di malam hari. Bagaimana ia kadang terbangun dengan tubuh yang panas dan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menahan diri. Ibu mendengarkan dengan wajah memerah, tapi ia tidak menghentikan pembicaraan. Ia hanya menunduk, tangannya memainkan ujung hijab tanpa henti.
1448Please respect copyright.PENANAw2FesVzsoU
Saat teh sudah habis, Pak Arman berdiri. “Bu, saya lihat laci dapur ibu agak macet tadi pagi saat saya lewat. Biar saya cek sebentar. Mungkin cuma perlu diolesi sedikit minyak.”
1448Please respect copyright.PENANAoBoYPrpmtZ
Ibu ingin menolak, tapi Pak Arman sudah berjalan ke dapur tanpa menunggu jawaban. Ibu mengikutinya dengan langkah ragu.
1448Please respect copyright.PENANAY2AU3TYNAV
Dapur sempit. Mereka berdiri berdekatan. Pak Arman membuka laci yang memang agak susah ditarik. Saat ia menarik dengan paksa, tubuhnya sedikit mundur dan punggungnya menyentuh dada ibu yang penuh dan berat. Ibu tersentak, tapi tidak mundur. Ia berdiri diam, napasnya tiba-tiba menjadi pendek.
1448Please respect copyright.PENANAvzi9MKlH9e
“Maaf, Bu,” kata Pak Arman dengan suara pelan. Ia tidak bergerak menjauh. Punggungnya masih menempel di dada ibu. Ia bisa merasakan kelembutan dan beratnya yang hangat. “Tidak sengaja.”
1448Please respect copyright.PENANAC3LbANadpf
Ibu tidak menjawab. Tubuhnya kaku. Tapi ia tidak menjauh. Dadanya naik turun cepat. Putingnya yang sensitif mulai mengeras karena gesekan kain gamis dengan punggung Pak Arman. Ia merasa hangat menyebar dari dada ke perut bawah. Vaginanya… ia merasa ada cairan hangat mulai keluar perlahan, membasahi celana dalamnya yang sederhana. Ia merasa malu luar biasa. Tapi ia tidak bisa bergerak.
1448Please respect copyright.PENANAHhohcJVnJM
Pak Arman berbalik perlahan. Sekarang mereka berhadapan. Jarak mereka sangat dekat. Dada ibu yang penuh hampir menyentuh dada Pak Arman. Ia bisa mencium aroma tubuh ibu yang harum—campuran sabun dan sedikit keringat siang yang membuatnya semakin menggoda. Matanya turun ke bibir ibu yang penuh dan sedikit bergetar.
1448Please respect copyright.PENANAU2gu7YmuUr
“Bu Kirana…” bisiknya. “Anda sangat cantik. Saya sudah memperhatikan sejak pertama kali saya pindah ke sini. Cara anda berjalan, cara anda tersenyum sopan, cara anda menunduk saat malu… semuanya membuat saya tidak bisa berhenti memikirkan anda.”
1448Please respect copyright.PENANA9KOFFZ0ndi
“Pak… jangan,” jawab ibu dengan suara parau. Tapi ia tidak mundur. Matanya menatap bibir Pak Arman sebentar sebelum cepat-cepat menunduk.
1448Please respect copyright.PENANANvihsyf7ZL
Pak Arman mengulurkan tangan. Jarinya menyentuh lengan ibu yang terbuka sedikit dari balik lengan gamis. Kulit ibu hangat dan halus. Ia mengusap pelan ke atas, ke bahu, lalu ke leher yang terlihat di bawah hijab. Ibu menggigil. Napasnya semakin cepat.
1448Please respect copyright.PENANAEKZP0Votux
“Ada noda kecil di pipi ibu,” kata Pak Arman sambil mengusap pipi ibu dengan ibu jarinya. Jempolnya bergerak pelan ke bawah, menyentuh sudut bibir ibu yang lembab. “Boleh saya bersihkan?”
1448Please respect copyright.PENANAxBqPxdlNOs
Ibu tidak menjawab. Tubuhnya bergetar halus. Putingnya sudah sangat mengeras, terlihat samar-samar menonjol di balik gamis tipis. Antara pahanya, ia merasa semakin basah. Vaginanya berkedut pelan, seolah mencari sesuatu yang bisa mengisi kekosongan yang sudah bertahun-tahun ia abaikan. Cairan hangatnya mulai membasahi paha bagian dalam. Aroma samar dari tubuhnya yang terangsang mulai tercium—manis, hangat, dan menggoda.
1448Please respect copyright.PENANAV4QL3YJJWy
Pak Arman melihat perubahan di wajah ibu. Matanya setengah tertutup, bibirnya sedikit terbuka, napasnya pendek-pendek. Ia tahu ibu sedang berjuang. Dan ia menikmati setiap detiknya.
1448Please respect copyright.PENANAxdHVF9Clj6
Ia mendekatkan wajahnya perlahan. Jarak bibir mereka tinggal beberapa senti. Ibu bisa merasakan napas hangat Pak Arman di bibirnya. Tubuhnya tidak mundur. Malah, tanpa sadar, ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan. Dadanya yang penuh dan berat menyentuh dada Pak Arman. Putingnya yang mengeras bergesek pelan dengan kain, mengirimkan gelombang nikmat yang membuat lututnya lemas.
1448Please respect copyright.PENANAhJ8KwWl0lv
“Kirana…” bisik Pak Arman, menggunakan nama depannya tanpa “Bu” untuk pertama kali. “Biarkan saya…”
1448Please respect copyright.PENANAVCVsAkR39P
Bibirs mereka hampir bersentuhan. Ibu merasakan jantungnya berdetak sangat kencang. Ia tahu ini salah. Ia tahu ia harus menjauh, harus lari, harus sholat dan memohon ampun. Tapi tubuhnya… tubuhnya mengkhianatinya. Ia merasa hangat di antara pahanya semakin deras mengalir. Vaginanya basah dan sensitif, bibir bawahnya membengkak, klitorisnya berdenyut pelan setiap kali napas Pak Arman menyentuh kulitnya.
1448Please respect copyright.PENANA8Grd0OU7rX
Pak Arman mendekat lagi. Bibirnya hampir menyentuh bibir ibu.
1448Please respect copyright.PENANAI4JFFjpa9D
Tapi tepat sebelum itu terjadi, ibu tersentak hebat. Ia mendorong dada Pak Arman dengan kedua tangan, mundur sampai punggungnya membentur meja dapur. Matanya lebar, penuh air mata dan ketakutan.
1448Please respect copyright.PENANAXMxkKmfjDP
“Jangan… jangan lakukan itu, Pak,” katanya dengan suara bergetar hebat. “Ini… ini dosa.
1448Please respect copyright.PENANAKErdXyLD8m
Pak Arman tidak marah. Ia hanya tersenyum kecil, senyum yang penuh pengertian dan kepuasan tersembunyi. “Saya mengerti, Bu. Saya tidak akan memaksa. Tapi… anda juga merasakannya, bukan? Tubuh anda… tidak bisa bohong.”
1448Please respect copyright.PENANADCzuMvqOoL
Ibu menutup wajah dengan kedua tangan. Air mata mengalir deras di pipinya. “Pergi… tolong pergi sekarang, Pak. Jangan datang lagi. Saya… saya tidak bisa seperti ini.”
1448Please respect copyright.PENANATb7TspKkvF
Pak Arman mengangguk pelan. Ia mundur selangkah. “Baik, Bu. Saya pergi. Tapi saya tahu… ini belum selesai. Perasaan ini tidak akan hilang hanya dengan anda mengusir saya.”
1448Please respect copyright.PENANA4vKesxKP7M
Ia keluar dari dapur, lalu dari rumah, tanpa menoleh lagi. Tapi senyum kecil di bibirnya tidak hilang.
1448Please respect copyright.PENANAKM7r0SUP5P
Begitu pintu depan tertutup, ibu jatuh berlutut di lantai dapur. Tubuhnya gemetar hebat. Air mata deras membasahi wajahnya. Tapi di antara semua rasa malu dan takut, ia masih merasakan denyut di vaginanya yang basah. Putingnya masih mengeras. Kulitnya masih hangat di tempat Pak Arman menyentuhnya. Ia benci dirinya sendiri. Ia benci tubuhnya yang lemah. Ia benci karena sebagian dari dirinya… ingin Pak Arman tidak pergi. Ingin bibir itu benar-benar menyentuhnya.
1448Please respect copyright.PENANA22RN3ih3c8
Ia berlari ke kamar mandi, mengunci pintu dari dalam. Ia berdiri di depan cermin, gamisnya masih rapi tapi wajahnya berantakan karena air mata. Ia membuka gamis itu perlahan dengan tangan gemetar. Tubuhnya telanjang di bawah cahaya redup. Dada yang penuh dan berat terlihat jelas, puting cokelat yang mengeras dan sensitif. Pinggul lebar, bokong bulat montok, paha montok yang basah di bagian dalam karena cairan yang keluar tadi. Vaginanya… ia melihatnya di cermin. Bibirnya merah dan bengkak, basah mengkilap, klitorisnya sedikit menonjol karena terangsang.
1448Please respect copyright.PENANAuqEBAvLc3P
Ibu menangis lebih keras. Tapi tangannya sudah bergerak. Ia mengusap dadanya sendiri, menekan puting yang sakit karena terlalu sensitif. Tangannya turun ke bawah perut, menyentuh area intimnya yang basah. Jarinya menyentuh klitoris yang bengkak, dan tubuhnya langsung bergetar hebat.
1448Please respect copyright.PENANARaUzrhEUSg
“Ya Allah… ampuni hamba…” bisiknya sambil menangis. Tapi jarinya tidak berhenti. Ia menggosok pelan, lalu lebih cepat. Cairan hangatnya semakin banyak keluar, membasahi jari dan paha. Ia memasukkan satu jari ke dalam vaginanya yang sempit dan panas. Ia merasa dinding dalamnya berkedut, menyambut jari itu seolah lapar setelah bertahun-tahun tidak tersentuh. Ia memasukkan jari kedua, lalu menggerakkannya dalam-dalam, membayangkan jari itu adalah sesuatu yang lain… sesuatu yang lebih besar, lebih panjang, milik Pak Arman.
1448Please respect copyright.PENANAMNp89V5noF
Tubuhnya bergetar hebat. Ia menekan wajah ke handuk yang tergantung agar tidak bersuara. Air mata bercampur dengan keringat di dahinya. Ia menggosok klitorisnya dengan ibu jari sambil jari tengah dan manisnya bergerak masuk keluar. Kenikmatan datang dalam gelombang yang membuat lututnya lemas. Ia orgasme pertama kali dengan keras, tubuhnya mengejang, vagina berkedut hebat di sekitar jarinya sendiri, cairan hangat menyembur pelan ke paha.
1448Please respect copyright.PENANAf4FVihDCtK
Tapi ia tidak berhenti. Ia terus menggosok, terus memasukkan jari, membayangkan Pak Arman yang menyentuhnya tadi, membayangkan bibirnya yang hampir menyentuh bibirnya, membayangkan tangan besar itu menyentuh dadanya, memegang bokongnya, membuka pahanya lebar-lebar…
1448Please respect copyright.PENANAULPsYEZfoa
Orgasme kedua datang lebih keras. Ibu jatuh berlutut di lantai kamar mandi, tubuhnya gemetar tak terkendali, mulutnya terbuka lebar tanpa suara karena ia menahan jeritan. Namanya… nama Pak Arman… hampir keluar dari bibirnya sebelum ia menutup mulut dengan tangan yang basah.
1448Please respect copyright.PENANA1okSjVK2td
Setelah itu, ia duduk di lantai kamar mandi, napas tersengal, air mata mengalir deras. Tubuhnya lemas, tapi hatinya penuh rasa malu yang luar biasa. Ia baru saja menyentuh dirinya sendiri sambil membayangkan pria lain. Pria yang bukan suaminya. Pria yang ingin merusak kesalehannya.
1448Please respect copyright.PENANArU6cTXYZZv
“Ya Allah… saya lemah…” bisiknya berulang kali. “Ampuni hamba yang hina ini…”
1448Please respect copyright.PENANAzK6DH9diTF
Ia berwudhu dengan air yang sangat dingin, berharap bisa menghilangkan rasa hangat di tubuhnya. Tapi saat ia keluar dari kamar mandi dan berbaring di tempat tidur, bayangan Pak Arman dan sentuhannya masih jelas di kepalanya. Tubuhnya masih sensitif. Vaginanya masih basah dan berdenyut pelan.
1448Please respect copyright.PENANA3RwYsT1LvU
Sore harinya, aku pulang. Ibu sudah duduk di ruang tamu, membaca mushaf dengan wajah yang sangat tenang… terlalu tenang. Matanya sembab, tapi ia tersenyum saat melihatku.
1448Please respect copyright.PENANALYiHuXuhAr
“Sudah selesai, Nak? Capek?”
1448Please respect copyright.PENANASqn8iKGw09
“Aku baik-baik saja, Bu. Ibu sendiri bagaimana?”
1448Please respect copyright.PENANAufR9AfPiJn
Ibu menunduk ke mushafnya. “Alhamdulillah. Tidak ada apa-apa.”
1448Please respect copyright.PENANAMvpSGe8TMK
Tapi aku melihat tangannya yang memegang mushaf sedikit gemetar. Dan aku melihat ada tanda merah samar di lehernya—bekas jari yang hampir tidak terlihat, tapi aku tahu itu bukan dari menggaruk.
1448Please respect copyright.PENANA8mXtKxkvU7
Malam itu, setelah sholat isya, ibu masuk ke kamar lebih awal. Aku mendengar ia mengunci pintu dari dalam. Aku berdiri di lorong, hati berdebar. Aku mendengar suara pelan dari dalam kamarnya—suara tangis yang ditahan, lalu suara napas yang tersengal, lalu… suara kain yang bergeser, dan erangan kecil yang sangat pelan, hampir tak terdengar.
1448Please respect copyright.PENANA9WK6Eo9S2P
Aku mundur ke kamarku dengan perasaan yang sangat tidak enak. Aku tahu apa yang sedang dilakukan ibu di balik pintu yang terkunci. Dan aku benci karena aku tidak bisa menghentikannya. Aku juga benci karena sebagian dari diriku… ingin tahu lebih banyak.
1448Please respect copyright.PENANALCHbVuh0sN
Di rumah sebelah, Pak Arman berdiri di depan jendelanya seperti biasa. Lampu kamar ibu masih menyala. Ia tersenyum lebar, tangannya sudah turun ke bawah pinggang, membuka resleting celana. Ia membayangkan ibu di kamar mandi tadi, bagaimana ia berlutut dan menyentuh dirinya sendiri sambil menangis. Ia membayangkan betapa basahnya vagina ibu saat jarinya masuk. Ia membayangkan bagaimana jika itu adalah kontolnya yang masuk ke dalam tubuh alim itu.
1448Please respect copyright.PENANAoS74EYqX1Y
Tangan Pak Arman bergerak cepat. Ia menghela napas kasar. “Ya, Kirana… sentuh dirimu. Bayangkan saya. Besok… besok saya akan membuatmu tidak bisa menahan lagi. Saya akan membuatmu memohon untuk disentuh. Saya akan membuat wanita salehah seperti kamu berlutut bukan untuk sholat, tapi untuk… hal lain.”
1448Please respect copyright.PENANAF3DFQ2Tz9p
Ia orgasme dengan keras, menyembur ke tisu yang ia pegang, tapi senyumnya tidak hilang.
1448Please respect copyright.PENANACRgCCyiTu4
Di kamar sebelah, ibu Kirana berbaring telentang di tempat tidur, gamisnya terbuka di bagian depan, tangannya masih berada di antara pahanya yang basah. Tubuhnya lemas setelah orgasme kedua yang ia alami malam itu. Air mata masih mengalir di pelipisnya. Ia menatap langit-langit gelap.
1448Please respect copyright.PENANAtQ0EOXcofG
“Ya Allah… besok saya akan menghindarinya,” bisiknya dengan suara parau. “Saya tidak akan membiarkannya masuk lagi. Saya akan kuat. Demi iman saya… demi anak saya…”
1448Please respect copyright.PENANA7kjC0cFIeo
Tapi saat ia menutup mata, bayangan Pak Arman yang mendekat, jempolnya yang menyentuh bibirnya, napas hangatnya yang menyentuh kulit… semua itu muncul lagi dengan sangat jelas.
1448Please respect copyright.PENANA8qY9SzO1Ev
Dan tanpa sadar, tangannya yang basah bergerak lagi ke bawah perut, menyentuh vaginanya yang masih sensitif dan basah.
1448Please respect copyright.PENANAmoPFa547Zr
Ia tahu ia bohong pada dirinya sendiri.
1448Please respect copyright.PENANAmPRstWWemq
Hari itu matahari terasa lebih panas dari biasanya, meski angin siang berhembus pelan membawa aroma tanah basah dari hujan semalam. Aku Baskara bangun dengan perasaan gelisah yang tak kunjung hilang. Sepanjang malam aku mendengar suara pelan dari kamar ibu—suara tangis yang ditahan, suara napas yang tersengal, dan sesekali erangan kecil yang sangat pelan, hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuatku tidak bisa tidur nyenyak. Aku tahu apa yang sedang terjadi di balik pintu yang terkunci itu. Ibu Kirana, wanita salehah yang selama ini menjadi teladan bagiku, sedang bergulat dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kesepian.
1448Please respect copyright.PENANAfIoo2gLvlT
Pagi harinya, ibu tampak lebih rapuh dari sebelumnya. Ia sholat subuh lebih lama, sujudnya dalam dan lama, seolah ia sedang memohon ampunan yang sangat besar. Saat ia bangun, wajahnya pucat, matanya sembab, dan tangannya sering menyentuh perut bagian bawah dengan gerakan yang tidak disadari. Gamisnya yang berwarna krem muda menutupi tubuhnya dengan longgar, tapi saat ia membungkuk untuk mengambil sajadah, kain itu menempel sesaat di bokongnya yang bulat dan montok, memperlihatkan lekuk sempurna yang selama ini hanya aku lihat secara tidak sengaja. Dadanya yang penuh dan berat bergoyang pelan saat ia berdiri, putingnya mungkin masih sensitif karena gesekan kain tipis di dalamnya.
1448Please respect copyright.PENANA9qdlAmMQ98
Kami sarapan dalam keheningan yang berat. Ibu membuatkan bubur ayam sederhana, tapi ia hampir tidak menyentuh makanannya sendiri. Jarinya memainkan sendok tanpa henti, matanya menatap mangkuk seolah ada jawaban di sana.
1448Please respect copyright.PENANAvB2JlttU2Z
“Bu,” panggilku pelan. “Kalau ibu ada masalah… masalah yang berat… boleh cerita ke aku.”
1448Please respect copyright.PENANAqooSTkrKGa
Ibu tersentak kecil. Ia menatapku sebentar, lalu cepat-cepat menunduk lagi. “Tidak ada masalah, Nak. Ibu cuma… capek. Usia sudah tidak lagi muda. Tubuh ini kadang… tidak mau menurut.”
1448Please respect copyright.PENANAK9DLG5cQAg
“Aku melihat Pak Arman kemarin datang lagi saat aku pergi.”
1448Please respect copyright.PENANAXEdXxioHn2
Ibu diam sangat lama. Tangan yang memegang sendok berhenti bergerak. “Ia… datang untuk mengembalikan buku. Kami bicara sebentar. Tidak ada apa-apa.”
1448Please respect copyright.PENANAnkA1ILysDp
Tapi suaranya bergetar. Dan di lehernya, di bawah hijab yang sedikit longgar, aku melihat tanda merah samar—bekas jari yang hampir tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama. Aku merasa sesuatu yang panas dan tidak enak naik ke dada. Bukan cemburu biasa. Tapi rasa memiliki yang aneh, campur aduk dengan ketakutan bahwa ibu sedang perlahan-lahan diambil dari depan mataku.
1448Please respect copyright.PENANAXahXaSei3Z
Siang harinya, aku harus pergi lagi. Klien meminta presentasi mendadak di kantor pusat yang jauh, dan aku tidak bisa menolak. Aku bilang ke ibu bahwa aku mungkin pulang sangat malam, mungkin setelah isya.
1448Please respect copyright.PENANA5Qq2WvYoLx
“Jaga diri baik-baik, Nak,” jawab ibu dengan suara yang terlalu tenang. “Ibu akan baik-baik saja di rumah.”
1448Please respect copyright.PENANAx0jZ0QXmy5
Tapi saat aku melangkah keluar, aku melihat ibu berdiri di depan cermin kecil di ruang tamu, tangannya menyentuh lehernya sendiri di tempat bekas jari itu berada. Matanya setengah tertutup, bibirnya bergetar. Ia seolah sedang mengingat sesuatu yang membuatnya malu dan… ingin.
1448Please respect copyright.PENANARdi1h1uuKn
Aku pergi dengan dada yang sesak.
1448Please respect copyright.PENANARJDJ2nLeTP
Belum satu jam aku pergi, Pak Arman sudah datang.
1448Please respect copyright.PENANA81JUAQ9dPi
Ia membawa sebuah kotak kecil berisi obat herbal dan minyak gosok. “Bu, tadi pagi saya lihat ibu tampak kurang sehat. Saya bawa sedikit obat dari apotek. Mungkin bisa membantu kalau ibu merasa pusing atau pegal.”
1448Please respect copyright.PENANAll6T9jXasu
Ibu berdiri di depan pintu dengan gamis abu-abu muda yang menutupi tubuhnya. Tapi hari itu ia tidak memakai hijab di dalam rumah, hanya kerudung tipis yang menutupi rambutnya. Wajahnya cantik dan rapuh, pipinya masih sedikit merah dari tangis semalam. Saat ia melihat Pak Arman, tubuhnya sedikit kaku, tapi ia tidak langsung menutup pintu.
1448Please respect copyright.PENANAdzqYwX7vBq
“Pak… saya bilang kemarin agar Bapak tidak datang lagi.”
1448Please respect copyright.PENANAdtJJcfMMlw
“Saya tahu, Bu. Tapi saya cuma ingin memastikan ibu baik-baik saja. Saya tidak akan lama. Biar saya tinggalkan obat ini saja.”
1448Please respect copyright.PENANANWR7VlS0lS
Ibu ragu sangat lama. Tangan kanannya memegang ujung gamis erat-erat. Akhirnya ia mengangguk pelan dan membiarkan Pak Arman masuk. Mereka duduk di ruang tamu yang sama seperti kemarin. Ibu menuangkan air putih untuknya dengan tangan yang gemetar. Saat ia membungkuk, dadanya yang penuh dan berat bergoyang di balik kain tipis gamis. Putingnya sudah mulai mengeras meski belum disentuh—mungkin karena ingatan akan kemarin, atau karena kehadiran Pak Arman yang membuat tubuhnya mengkhianati imannya.
1448Please respect copyright.PENANA9f6hXwgWoD
“Bu Kirana,” mulai Pak Arman dengan suara pelan dan dalam. “Saya tidak akan berpura-pura lagi. Kemarin… saya hampir kehilangan kendali. Saya minta maaf jika membuat ibu takut. Tapi saya juga tidak bisa bohong pada diri sendiri. Saya menginginkan ibu. Bukan cuma sebagai tetangga. Saya menginginkan tubuh ibu. Saya menginginkan senyum ibu yang tidak sopan, yang hanya untuk saya. Saya menginginkan… semuanya.”
1448Please respect copyright.PENANAfIzViJCxB4
Ibu menutup mata kuat-kuat. Air mata langsung mengalir di pipinya. “Pak… jangan bicara seperti itu.
1448Please respect copyright.PENANAxvgOR4580j
“Tapi tubuh ibu bisa,” potong Pak Arman lembut. “Kemarin saya merasakannya. Saat saya menyentuh pipi ibu, saat bibir kita hampir bertemu… ibu tidak menjauh. Puting ibu mengeras. Napas ibu tersengal. Dan… saya yakin di antara paha ibu sudah basah.”
1448Please respect copyright.PENANABynkYWN4B0
Ibu menarik napas tajam. Wajahnya memerah sampai ke leher. Ia ingin marah, ingin mengusir Pak Arman, tapi kata-kata itu seperti panah yang tepat mengenai retakan di hatinya. Ia memang basah kemarin. Ia memang menyentuh dirinya sendiri sambil membayangkan tangan itu menyentuhnya lagi. Dan sekarang, mendengar Pak Arman mengatakannya dengan suara yang tenang dan penuh keyakinan, tubuhnya kembali bereaksi.
1448Please respect copyright.PENANAgkHTE1zohf
“Jangan… jangan katakan hal-hal kotor seperti itu,” bisik ibu dengan suara parau.
1448Please respect copyright.PENANAITgcB5TuaP
“Itu bukan kotor, Bu. Itu manusiawi. Allah menciptakan kita dengan nafsu. Dan nafsu itu tidak selalu salah jika diberikan kepada orang yang tepat.” Pak Arman berdiri perlahan dan berjalan mendekat. Ia berhenti tepat di depan ibu yang masih duduk. “Boleh saya duduk di sebelah ibu?”
1448Please respect copyright.PENANAdQjDFx1NJB
Ibu tidak menjawab. Tapi ia juga tidak menolak. Pak Arman duduk di sampingnya, jarak mereka sangat dekat. Bahunya yang lebar menyentuh lengan ibu. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh punggung tangan ibu yang dingin karena gugup.
1448Please respect copyright.PENANARieVpjwmZC
“Kirana,” panggilnya lagi menggunakan nama depan. “Lihat saya.”
1448Please respect copyright.PENANACjnLBIIn69
Ibu menoleh perlahan. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar. Pak Arman mengangkat tangan ibu dan mengecup punggungnya pelan. Lalu ia membalik tangan ibu dan mengecup telapaknya, lalu pergelangan tangan yang halus. Setiap kecupan membuat ibu menggigil.
1448Please respect copyright.PENANAKQohkNd613
“Tubuh ibu sangat indah,” bisik Pak Arman sambil mengusap lengan ibu ke atas. “Dada yang penuh dan berat… saya bayangkan betapa lembutnya saat disentuh. Pinggul yang lebar… bokong yang montok dan kencang… paha yang halus dan hangat. Saya ingin melihat semuanya. Saya ingin mencium semuanya. Saya ingin merasakan vagina ibu yang selama ini hanya untuk suami ibu… sekarang basah karena saya.”
1448Please respect copyright.PENANA84RrGeErPE
Ibu menangis pelan. Tapi ia tidak menarik tangannya. Tubuhnya sudah panas. Putingnya mengeras menyakitkan di balik gamis, bergesek dengan kain setiap kali napasnya naik turun cepat. Di antara pahanya, ia merasa cairan hangat mulai keluar lagi, membasahi celana dalam sederhana yang ia pakai. Vaginanya berkedut pelan, seolah sudah mengenali suara pria yang membuatnya jatuh.
1448Please respect copyright.PENANAlGVNhV2KVX
Pak Arman mendekatkan wajahnya. Kali ini ia tidak ragu. Bibirnya menyentuh pipi ibu yang basah oleh air mata, lalu turun ke sudut bibir, lalu… bibir mereka bertemu.
1448Please respect copyright.PENANAsh84e78zWS
Ibu mengerang kecil di dalam mulut Pak Arman. Ia tidak membuka mulut, tapi ia juga tidak menjauh. Pak Arman menciumnya pelan, lembut, tapi penuh nafsu yang terkendali. Bibirnya yang hangat dan agak kasar karena usia bergerak di atas bibir ibu yang penuh dan lembab. Ia menjilat bibir bawah ibu pelan, lalu menghisapnya dengan lembut. Ibu gemetar hebat. Tangannya yang tadinya menolak kini memegang lengan Pak Arman erat-erat, bukan untuk mendorong, tapi untuk menahan diri agar tidak jatuh.
1448Please respect copyright.PENANAvvZJupgZKQ
Pak Arman memperdalam ciuman. Lidahnya menyentuh bibir ibu, meminta izin masuk. Ibu menahan sebentar, tapi tubuhnya sudah lemah. Ia membuka bibir sedikit. Lidah Pak Arman masuk, menyentuh lidah ibu yang panas dan basah. Mereka saling menjilat, saling menghisap, napas mereka bercampur. Ibu mengerang lagi—suara kecil, tertahan, penuh rasa malu dan nikmat yang tidak bisa ia sembunyikan.
1448Please respect copyright.PENANAIJhTcMVvUd
Saat ciuman berakhir, bibir ibu bengkak dan merah. Matanya setengah tertutup, napasnya tersengal. Pak Arman mengusap pipinya dengan ibu jari.
1448Please respect copyright.PENANAkphxYD9AIU
“Kirana… kamu sangat manis saat dicium.”
1448Please respect copyright.PENANAgaBTFAPhcx
“Jangan… panggil saya seperti itu,” bisik ibu dengan suara lemah.
1448Please respect copyright.PENANAM2h46gF3fq
“Tapi sekarang kamu di sini, dengan saya. Dan tubuhmu… tidak bohong.” Pak Arman menurunkan tangannya ke dada ibu. Ia menyentuhnya dari luar gamis, merasakan berat dan kelembutan yang luar biasa. Ibu tersentak, tapi tidak menjauh. Pak Arman mengusap pelan, lalu meremas lembut. “Dada ibu sangat besar… sangat berat… sangat lembut. Saya ingin melihat puting ibu. Saya ingin menjilatnya sampai ibu mengerang nama saya.”
1448Please respect copyright.PENANA3t7iG43gNW
Ibu menangis lagi, tapi ia membiarkan tangan itu meremas dadanya. Putingnya yang sudah sangat mengeras terasa sakit karena tertekan kain. Ia merasa cairan di antara pahanya semakin deras. Vaginanya basah luar biasa, bibir bawahnya membengkak, klitorisnya berdenyut setiap kali Pak Arman meremas dadanya.
1448Please respect copyright.PENANArs7s6IQT2Z
Pak Arman menurunkan tangan lagi, ke perut ibu, lalu ke paha. Ia mengusap paha montok ibu dari luar gamis, naik perlahan ke dalam. Ibu menutup mata kuat-kuat, air mata mengalir deras. Tapi ia membuka pahanya sedikit—hanya sedikit—membiarkan tangan Pak Arman menyentuh area intimnya dari luar kain.
1448Please respect copyright.PENANAIQjpMWIF1k
“Basah sekali,” bisik Pak Arman dengan suara puas saat jarinya merasakan kelembaban yang sudah merembes ke gamis. “Vagina ibu sudah sangat basah hanya karena ciuman dan sentuhan dada. Bayangkan jika saya menyentuh langsung… bayangkan jika kontol saya masuk ke dalam tubuh alim ibu yang selama ini suci…”
1448Please respect copyright.PENANAa0akfT6DdJ
“Jangan… jangan katakan hal-hal mesum seperti itu…” ibu menangis, tapi pinggulnya tanpa sadar sedikit bergerak ke depan, menekan jari Pak Arman yang masih berada di luar kain.
1448Please respect copyright.PENANAPux82felbg
Pak Arman menggosok pelan area klitoris ibu melalui gamis dan celana dalam. Ibu mengerang keras kali ini, tangannya memegang lengan Pak Arman sangat erat. Tubuhnya bergetar hebat. Ia belum pernah disentuh seperti ini sejak suaminya meninggal. Sentuhan Pak Arman kasar dan percaya diri, berbeda dengan sentuhan lembut suaminya dulu. Dan itu membuat tubuhnya bereaksi lebih kuat.
1448Please respect copyright.PENANAoW7ZwESV0Y
Pak Arman terus menggosok, semakin cepat, semakin tepat. Ibu merasa kenikmatan naik dengan cepat. Vaginanya berkedut hebat, cairan hangatnya semakin banyak keluar, membasahi kain dan jari Pak Arman. Putingnya sakit karena mengeras, dadanya naik turun cepat. Ia menangis dan mengerang bergantian.
1448Please respect copyright.PENANAibS1T2a5xq
“Pak Arman… hentikan… saya tidak bisa… ini dosa… astagfirullah…”
1448Please respect copyright.PENANAZ3NHezdyGy
“Tapi kamu sudah basah seperti ini, Kirana. Kamu sudah ingin. Biarkan saya membuatmu merasa enak. Biarkan tubuhmu merasakan apa yang sudah lama tidak kamu rasakan.”
1448Please respect copyright.PENANAMVx55OiW0v
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/time47


