Sore itu, selepas Zuhur, Khairul kembali menyusuri gang kecil menuju rumah berpagar hijau itu. Langkahnya lebih ringan dari biasanya, meski ada rasa gugup yang tak kunjung hilang sejak kejadian dua hari lalu. Bukan gugup karena takut, tapi karena senang dia bisa ke rumah Ustazah Nadira lagi, dan dia yakin Ustazah Nadira tidak mempersoalkan masalah tempo hari.
"Assalamu'alaikum," ucapnya sambil mengetuk pintu pelan.
"Wa'alaikumsalam, masuk," terdengar suara dari dalam, terdengar lebih hangat dari yang ia duga. Ustazah Nadira membuka pintu seperti biasa, ia mempersilakan Khairul masuk.
Sarah sudah tidak ada di ruang tamu—mungkin sedang tidur siang di kamar. Ustazah Nadira sudah menyiapkan mushaf di meja rendah, duduk di posisi yang biasa.
"Hari ini kita lanjut ke bagian tajwid yang kemarin belum selesai," kata Ustazah Nadira sambil membuka halaman mushaf.
"Ada beberapa ayat yang hukumnya agak rumit, saya mau tunjukkan langsung biar kamu enggak keliru." lanjutnya.
Khairul mengangguk, mendekatkan diri sedikit untuk melihat halaman yang ditunjuk.
Ustazah Nadira bergeser, duduk lebih dekat dari biasanya agar bisa menunjuk baris demi baris dengan jelas. "Nah, ini—coba perhatikan cara baca di sini," jarinya menelusuri baris ayat, "sama yang di sini, ada perbedaan hukum bacaan."
Khairul mencondongkan badan untuk melihat lebih jelas, dan tanpa sadar tangannya bergerak mendekat ke arah yang sama, mengikuti tunjukan jari Ustazah Nadira di atas mushaf.
Kedua tangan mereka bersentuhan lagi.
Dess.... Ada aliran aneh yang menjalar begitu kulit mereka bersentuhan, sesuatu yang tak pernah Khairul maupun Ustazah Nadira rasakan sebelumnya, momen yang sama seperti tempo hari.
Kali ini, tidak ada yang buru-buru menarik diri.
Waktu seakan berhenti sejenak. Khairul mendongak, dan mendapati Ustazah Nadira juga sedang menatapnya dengan tatapan yang dalam—tidak ada yang mengalihkan pandangan seperti biasanya. Mata di balik cadar itu terlihat berbeda, ada sesuatu yang tidak bisa Khairul definisikan, tapi terasa begitu jelas.
Detik demi detik berlalu dalam diam. Hanya suara jam dinding yang terdengar, dan napas mereka yang entah kenapa terasa lebih berat dari biasanya. Tangan mereka benar-benar tidak menjauh satu sama lain.
Perlahan, jemari Khairul bergerak, meremas pelan tangan Ustazah Nadira yang masih berada di atas mushaf.
"Ustazah..." bisik Khairul, suaranya nyaris tak terdengar.
Ustazah Nadira tidak menjawab, tidak juga menarik tangannya. Napasnya terdengar sedikit tertahan, seolah sedang berperang dengan sesuatu dalam dirinya sendiri. Jantung Ustazah Nadira sedikit berdegup kencang, naluri wanitanya keluar.
Dan entah siapa yang memulai lebih dulu, jarak di antara mereka semakin menipis— wajah mereka seakan tertarik untuk saling mendekat.
Eeummuacchh...
Entah siapa yang memulai, keduanya berciuman meskipun bibir tidak saling bersentuhan karena terhalang kain cadar Ustazah Nadira. Ustazah Nadira berdesir, ciuman itu mampu membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari yang seharusnya.
Ciuman mereka makin intens. Cadar yang menghalangi kedua insan bukan muhrim ini mulai sedikit basah. Tidak ada yang melepaskan ciuman itu. Mereka bagaikan sepasang kekasih yang sangat menginginkan sentuhan bibir itu.
Tangan Khairul meremas jemari Ustazah Nadira, dan Ustazah Nadira pun meremas balik tangan Khairul seakan tidak ingin terlepas.
"Ughhh Ustazah..." Lenguh Khairul saat bibir Ustazah Nadira dalam balutan cadar seperti mengigit pelan bibirnya.
Ciuman itu baru berlangsung beberapa menit. Keduanya menikmati sentuhan yang membahas kehangatan dalam jiwa mereka.
Cklek....Suara pintu kamar terbuka memecah keheningan.
Ustazah Nadira tersentak, buru-buru menjauh dari Khairul seolah tersengat listrik. Wajahnya yang tadi begitu dekat kini berpaling cepat, cadarnya sudah kembali menutup sempurna.
Sarah keluar dari kamar dengan rambut acak-acakan bekas tidur siang, langkahnya masih setengah mengantuk. Tanpa memperhatikan kakaknya dan Khairul yang duduk kaku di ruang tamu, ia berjalan lurus menuju dapur, mengambil gelas, dan minum air putih dengan santainya.
Ruang tamu itu hening. Khairul tidak berani mengangkat wajah, jantungnya masih berdebar kencang, campuran antara rasa senang yang tak bisa ia jelaskan dan rasa bersalah yang mulai menyusup.
Ustazah Nadira duduk kaku di tempatnya, matanya menatap lantai. Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ia membuka suara, nyaris berbisik.
"Astaghfirullah... Khairul, apa yang sudah kita lakukan?"
Suaranya bergetar, penuh sesal yang tak bisa disembunyikan.
"Ustazah, saya... saya minta maaf," Khairul buru-buru menjawab, suaranya juga tak kalah gemetar.
"Saya khilaf. Saya enggak—saya enggak tau kenapa tadi..."
Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Rasa malu dan bingung bercampur jadi satu. Ustazah Nadira tidak menoleh sedikitpun padanya.
"Saya... saya pulang dulu, Ustazah," katanya akhirnya, buru-buru berdiri dan mengambil mushafnya. "Assalamu'alaikum."
Ustazah Nadira hanya mengangguk pelan, tak sanggup menjawab salam itu dengan suara. Ia akhirnya menatap punggung Khairul yang keluar dari rumahnya.
Khairul berjalan pulang dengan langkah cepat, kepalanya penuh dengan pikiran yang saling bertabrakan. Ada rasa bersalah yang menekan dadanya—ini dosa, batinnya berulang kali, ini salah. Tapi di balik rasa bersalah itu, ada sesuatu yang tak bisa ia bantah: perasaan hangat yang menjalar setiap kali ia mengingat momen tadi, sesuatu yang terasa seperti kebahagiaan meski ia tahu seharusnya tidak boleh merasa begitu.
Sepanjang jalan, senyum kecilnya mengambang di wajahnya tanpa bisa ia tahan. Sesuatu seperti berbisik padanya, "kamu berhasil, ayo teruskan."
Sementara itu, Ustazah Nadira masih duduk terpaku di ruang tamu lama setelah Khairul pergi. Sarah sudah kembali ke kamarnya, tidak menyadari apa pun yang baru saja terjadi hampir di depan matanya.
Ustazah Nadira menutup wajahnya dengan kedua tangan, mencoba memahami apa yang baru saja ia lakukan. Ia seorang hafizah, seorang pengajar, seseorang yang seharusnya menjaga diri dan menjadi teladan. Tapi hatinya—hatinya justru berkata lain, dan itu yang paling membuatnya takut.
Ya Allah, ampuni hamba, batinnya, sambil air matanya mulai menetes tanpa ia sadari. Tapi kenapa hati ini... kenapa tidak bisa menolak?
***
Malam Sabtu itu, pengajian gabungan berjalan seperti biasa—lantunan ayat, suara ustazah yang memimpin bacaan dari balik hijab pembatas. Tapi kali ini, ada satu tempat kosong di barisan santri putra yang biasanya diisi Khairul.
Ustazah Nadira baru menyadarinya ketika turun, matanya sekilas menyapu barisan santri sebelum menyadari ketidakhadiran itu. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, meski ia buru-buru menepis pikiran itu.
Keesokan harinya, ketika mereka berpapasan di koridor pesantren, Khairul menunduk cepat, tak berani menatap Ustazah Nadira. Wajahnya memerah, langkahnya dipercepat seolah ingin segera menghilang dari pandangan.
Ustazah Nadira pun ikut canggung, sengaja mengalihkan pandangan ke arah lain, pura-pura sibuk dengan mushaf di tangannya.
Empat hari berlalu. Khairul sama sekali tidak muncul untuk les privat di rumah Ustazah Nadira.
Ustazah Nadira mendapati dirinya lebih sering menatap jam, menghitung waktu yang biasanya diisi kedatangan Khairul. Ia mencoba menyibukkan diri dengan tugas mengajar, dengan Sarah, dengan apa saja—tapi rasa itu tetap ada, mengendap di dadanya. Ia seperti merindukan sosok itu.
Kenapa aku jadi kayak gini, batinnya suatu sore, sambil menatap kosong ke arah pintu. Ini enggak boleh. Dia santri saya. Ini salah.
Tapi hatinya tidak sepenuhnya sependapat dengan akal sehatnya. Ada perasaan lain yang tumbuh, sesuatu di luar batas hubungan ustazah dan santri, sesuatu yang membuatnya gelisah setiap malam.
Hari kelima, mereka berpapasan lagi di koridor yang sama. Kali ini, Ustazah Nadira memberanikan diri berhenti sejenak.
"Udah pandai ya sekarang, sampai enggak ikut les privat lagi," ucapnya pelan, nadanya berusaha terdengar biasa meski jantungnya berdebar kencang. Ia ingin terlihat seperti menegur muridnya dengan candaan.
Khairul tersentak, mendongak cepat. Untuk pertama kalinya sejak lima hari terakhir, tatapan mereka bertemu langsung. Ada sesuatu yang mengalir di antara mata itu—sesuatu yang tak terucap, tapi terasa begitu jelas oleh keduanya.
Khairul tidak menjawab, hanya terpaku, lidahnya kelu.
Ustazah Nadira, sebelum melangkah pergi, menambahkan dengan suara yang nyaris berbisik, "Rumah Ustazah terbuka, kok, untuk les privat kamu lagi."
Lalu ia berjalan pergi, meninggalkan Khairul yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Khairul menatap punggung Ustazah Nadira yang menjauh, hatinya dipenuhi kegembiraan yang sulit ia jelaskan. Pikirannya melayang jauh, membayangkan pertemuan berikutnya, membayangkan momen-momen yang mungkin akan terjadi lagi—jauh melampaui sekadar ciuman singkat yang mereka bagi beberapa hari lalu.
Ia menggeleng cepat, mencoba menepis pikiran itu, tapi senyum di wajahnya tak bisa ia sembunyikan sepanjang sisa hari itu.
***
Sore itu, selepas Ashar, Khairul benar-benar datang. Ia berdiri di depan pintu berpagar hijau itu, jantungnya berdebar kencang seperti pertama kali ia ke sana.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, masuk," suara dari dalam terdengar lebih ringan dari biasanya.
Ustazah Nadira sudah menunggu di ruang tamu, cadarnya terpasang rapi seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya hari itu—entah kenapa, melihat Khairul melangkah masuk membuat dadanya dipenuhi kehangatan yang sulit ia jelaskan.
Aku kenapa, sih, batinnya, mencoba menertibkan pikirannya sendiri. Kok jadi kayak gini rasanya.
Bayangan sore beberapa hari lalu terus berputar di kepalanya sepanjang hari—sentuhan tangan, ciuman singkat yang penuh keraguan, napas yang sama-sama memburu. Setiap kali mengingatnya, ada aliran aneh yang menjalar di dadanya, sesuatu yang asing namun tak bisa ia tolak.
"Duduk aja, Khairul," katanya, dan kali ini, alih-alih duduk di seberang meja seperti biasa, Ustazah Nadira memilih duduk di sampingnya—berjarak, tapi tidak sejauh biasanya. Mushaf tergeletak di pangkuannya, tak benar-benar dipegang.
Khairul duduk kaku, jantungnya berdebar melihat perubahan kecil itu. Ia membuka mushafnya, mencoba fokus pada bacaan, tapi konsentrasinya buyar setiap kali menyadari betapa dekatnya jarak mereka sore itu.
Beberapa menit berlalu dengan suasana canggung yang manis. Lalu, entah dorongan dari mana, Khairul menutup mushafnya pelan-pelan dan mendongak, menatap sosok di sampingnya.
Ustazah Nadira, seolah merasakan tatapan itu, ikut menoleh.
Pandangan mereka bertemu, dan kali ini tak ada yang buru-buru mengalihkan wajah. Ada sesuatu yang mengalir di antara keduanya—dalam, hangat, penuh pertanyaan yang tak terucap.
Jarak di antara mereka perlahan menipis, sedikit demi sedikit, tanpa ada yang benar-benar memutuskan untuk memulainya.
Dan tak ada yang tahu siapa yang bergerak lebih dulu, ketika bibir mereka kembali bertemu. Mereka bercumbu dengan lembut, cadar yang menghalangi pertemuan dua bibir itu terlihat kesulitan. Cumbuan mereka makin intens, tidak ada yang berniat menarik diri.
Tangan kedua Khairul seperti mencari tangan Ustazah Nadira untuk dijadikan pegangan. Tangan Ustazah Nadira pun langsung menyambut hangat tangan Khairul, tanpa sarung tangan, tangan terhalang apapun. Kedua kulit santri dan ustazahnya saling menempel, saling menggenggam seakan tidak ingin terpisah.
"Eeeemmuuaachhhh.. uhh ustazah!!"
"euumhhh.. eeumhh" Ustazah Nadira cuma berdesis pelan dan melanjutkan ciuman mereka.
"Eeemmuuaahhh muuuaachh..!! Sarah dimana Ustazah?" Tanya Khairul melepaskan sedikit ciumannya, namun sesaat kemudian kembali menyambar bibir yang tertutup cadar itu.
Ustazah Nadira tidak menjawab, ia menikmati momen hangat ini. Ia seolah-olah tidak ingin mengakhiri cumbuan dengan Khairul. Satu sisi ia ingin menarik dirinya, namun sisi lain malah seperti mendorong dirinya untuk terus melakukannya. Ia pun mengigit pelan bibir Khairul meskipun terhalang oleh cadar. Khairul melenguh pelan menerima gigitan manja Ustazah Nadira.
"Sshhh aahh ustazah nakal." Khairul melepaskan ciumannya dan menatap wajah Ustazah Nadira. Cadarnya terlihat basah dan awut-awutan. Tatapan mata Ustazah Nadira terlihat berbeda.
Khairul memegang dagu Ustazah Nadira yang tertutup cadar, lalu ia mengecup pelan bibir yang terhalang cadar itu.
"Ustazah, saya pulang dulu ya, bentar lagi bakal Magrib."
"I i iyaa.." Jawab pelan Ustazah Nadira sambil menganggukkan kepalanya.
***
Keesokan harinya, selepas Ashar, Khairul kembali datang. Rumah berpagar hijau itu terasa lebih sepi dari biasanya—Sarah sedang bermain di rumah tetangga, suara riangnya terdengar samar dari kejauhan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, masuk," sambut Ustazah Nadira, suaranya terdengar lebih tenang dari sore sebelumnya, meski matanya menyimpan sesuatu yang tak terucap.
Pelajaran berjalan seperti biasa—bacaan demi bacaan, koreksi kecil di sana-sini. Tapi keduanya sama-sama menyadari, ada benang tak kasat mata yang kini menghubungkan mereka, sesuatu yang tak lagi bisa mereka sangkal. Sesi belajar itu berhenti hanya dalam 5 menit saja. Sangat singkat. Keduanya menyadari apa yang mereka inginkan.
Suatu kebiasaan baru yang tak terucap terjadi, jarak di antara mereka kembali menipis.
Khairul menutup Mushaf dan meninggalkan di tempat, ia menghampiri Ustazah Nadira yang tidak jauh duduknya. Ustazah Nadira seperti paham, ia mendekat. Makin dekat.
Eemuuuuaacchhhh....
Kedua insan murid dan gurunya ini kembali berciuman. Lebih agresif dari hari sebelumnya. Dada mereka berdebar panas seperti menahan diri, namun kenikmatan dari sentuhan bibir yang terhalang cadar itu membuat mereka terbuai.
Cadar Ustazah Nadira langsung basah, tidak seperti ciuman hari kemarin yang bakal basah dalam 5 menit, sekarang cadar itu basah hanya dalam beberapa detik ciuman.
Tangan Khairul meraba paha Ustazah Nadira yang terbalut gamis rumahan berwarna pastel itu. Ustazah Nadira menepis pelan tangan Khairul, namun Khairul kembali meraba pahanya. Ustazah Nadira pun membiarkan tanpa melepaskan ciuman mereka.
"Ustazah, saya bosen!" Ucap Khairul seketika dan melepaskan ciumannya. Ustazah Nadira kaget dan menatap heran padanya.
"Bosen? Bosen kenapa?"
Khairul tersenyum.
"Bosen kalau ciuman terhalang cadar terus, boleh tidak kali ini cadarnya di lepas aja."
Ustazah Nadira diam sesaat, ia seperti memikirkan sesuatu. Selama ini mereka emang berciuman tapi tidak benar-benar bersentuhan karena terhalang kain cadarnya. Sekarang Khairul minta ciuman langsung. Bibir dan bibir.
Ustazah Nadira menatap mata Khairul, dan seperti ada yang membisikinya. Ia setuju sekaligus penasaran bagaimana rasanya berciuman langsung.
"Ba baiklah.. tapi ini rahasia kita ya." Ucap Ustazah Nadira dengan nada pelan dan lembut. Ia seperti lupa jati dirinya.
"Iya ustazahku.." jawab Khairul dengan nada menggoda.
Ustazah Nadira menatap sekeliling, ia ingin memastikan tidak ada mata yang bakal menatap mereka, termasuk mata adiknya, Sarah.
Ustazah Nadira menatap ke arah Khairul, mata santrinya itu berbinar-binar. Ia menggerak-gerakkan tangannya untuk melepaskan tali cadarnya. Ia akan menunjukkan wajahnya yang belum dilihat oleh santriwan manapun pada sosok di depannya, Khairul.
Pelan-pelan...
Bersambung
1227Please respect copyright.PENANArhDSk80QKR
1227Please respect copyright.PENANAcIwjDtFrVo
1227Please respect copyright.PENANAqG2ioup3Ua


