Gerbang pesantren modern itu berdiri kokoh, ukiran kaligrafi menghiasi bagian atasnya. Khairul menyeret koper kecilnya melewati halaman luas, matanya menyapu bangunan-bangunan asrama yang tertata rapi. Ini hari pertamanya, dan rasa gugup bercampur canggung memenuhi dadanya. Ia memilih Pondok Pesantren Modern Al-Hikmah karena bisa keluar area pesantren asal tujuan dan alasan yang jelas.
Hari pertama Khairul di pesantren ini, ia mengikuti rombongan santri baru menuju aula untuk pengarahan. Duduk di antara wajah-wajah asing, Khairul mencoba menenangkan diri dengan menghafal denah pesantren yang tadi diberikan panitia. Ia mampu beradaptasi dengan lingkungan pesantren hanya dalam beberapa hari.
Sore harinya tiap hari Sabtu dan Minggu, ada kajian gabungan menjelang Maghrib—santri putra dan putri duduk terpisah tapi dalam satu ruangan besar, dipisahkan hijab pembatas yang tidak terlalu tinggi. Khairul duduk di barisan tengah, masih canggung dengan suasana baru.
Lalu suara itu terdengar.
Merdu, jelas, dengan tajwid yang nyaris sempurna—seorang ustazah memimpin bacaan dari balik hijab pembatas. Khairul mendongak, mencoba mencuri pandang dari celah tirai. Sosok berbalut gamis biru dongker dengan cadar senada duduk di depan, memegang mushaf dengan tenang. Meski wajahnya tertutup, ada sesuatu dalam caranya duduk—tegak, anggun, penuh wibawa—yang membuat Khairul tak bisa mengalihkan pandangan.
"Itu Ustazah Nadira," bisik santri di sebelahnya, entah menyadari ke mana arah pandang Khairul. Khairul memanggilnya Anwar sebab mereka berdua tidur satu bilik, dan seorang lagi bernama Fikri yang tidak ikut kajian malam itu karena sakit perut.
"Seorang hafizah, yang ngajar tahsin sama tahfiz kelas atas. Suaranya emang paling enak didengerin se-pesantren ini." lanjut Anwar.
Khairul hanya mengangguk pelan, tapi matanya masih tertuju ke sana. Dia penasaran dengan wajah dibalik cadar itu. Pasti cantik orangnya, pikirnya. Kajian terus berlanjut. Khairul hanya fokus pada suara indah Ustazah Nadira.
***
Keesokan paginya, kelas tajwid berjalan seperti biasa. Ustadz Hasan menjelaskan hukum bacaan dengan suara datar dan monoton, sesekali menulis di papan tulis. Khairul duduk di bangkunya, pulpen di tangan, tapi pikirannya melayang jauh.
Ia masih terngiang suara Ustazah Nadira sore kemarin. Bagaimana ia melafalkan setiap ayat dengan penghayatan, bagaimana caranya mengoreksi bacaan santri lain dengan lembut tanpa terkesan menggurui—Khairul sempat mendengar itu dari cerita teman sekamarnya yang kebetulan pernah sering ikut kelasnya sebelum Khairul datang. Ya Fikri setingkat di atas Khairul dan Anwar.
"Khairul!"
Suara Ustadz Hasan membuyarkan lamunannya. Seisi kelas menoleh.
"I-iya, Ustadz?" Khairul buru-buru duduk tegak.
"Coba ulangi apa yang saya jelaskan barusan tentang hukum idgham."
Khairul terdiam, wajahnya memerah. "Maaf, Ustadz, saya... enggak fokus."
Beberapa santri terkekeh pelan. Khairul merasa malu. Ustadz Hasan menghela napas, tapi tidak memarahi lebih jauh. "Lain kali perhatikan baik-baik. Pelajaran kayak gini penting buat bacaan kalian ke depannya."
Khairul mengangguk, menunduk malu. Tapi begitu kelas berlanjut, pikirannya kembali melayang— ke bayangan sosok di balik cadar biru dongker itu, Ustazah Nadira.
***
Tiga hari berlalu sejak kajian gabungan itu. Khairul makin sering memperhatikan jadwal—kelas tahsin yang diajar Ustazah Nadira ternyata cuma untuk santri putri dan kelas tahfiz lanjutan yang digabungkan antara santriwati dan santriwan setiap sabtu dan Minggu. Tidak ada celah baginya untuk ikut kecuali mengajukan permintaan khusus.
Ia menghabiskan dua malam menyusun alasan yang masuk akal, memastikan tidak terdengar aneh atau mencurigakan.
Sore itu, setelah shalat Ashar, Khairul memberanikan diri ke ruang pengajar. Jantungnya berdegup kencang saat mengetuk pintu.
"Assalamu'alaikum, Ustazah."
"Wa'alaikumsalam." Ustazah Nadira menoleh dari meja kerjanya, mushaf masih terbuka di hadapannya.
"Ada yang bisa dibantu?" Tanya Ustazah Nadira dengan pelan dan lembut.
Khairul menelan ludah.
"Anu, Ustazah... saya Khairul, santri baru. Saya mau minta izin, kalau boleh, belajar tajwid privat. Bacaan saya masih banyak yang keliru, terutama makhraj huruf."
Ustazah Nadira agak terkejut mendengar permintaan Khairul. Ia terdiam sejenak, tampak mempertimbangkan.
"Kenapa enggak ikut kelas perbaikan bacaan yang sudah ada sama ustadz yang lain? Setiap Selasa ada, kok."
"Saya udah coba ikut, Ustazah. Tapi kelasnya rame, saya jadi enggak berani tanya kalau ada yang enggak paham," jawab Khairul, separuh jujur, separuh alasan yang sudah ia latih semalaman.
Ustazah Nadira mengangguk pelan.
"Baik, nanti saya izin dulu ke pengurus. Kalau disetujui, kita mulai minggu depan. Tempatnya di ruang pengajar putri aja, ada ustazah lain juga biasanya ngajar di sebelah."
"Terima kasih banyak, Ustazah!" Khairul tersenyum lebar, buru-buru menahan diri agar tidak terlihat terlalu senang.
Sore selepas Ashar, Khairul datang membawa mushaf, duduk berjarak sopan dari Ustazah Nadira, mengulang bacaan huruf demi huruf. Di ruang sebelah ada Ustazah Ismi yang juga sedang mengajari para santriwatinya.
***
Setelah seminggu berjalan lancar, suatu sore Ustazah Nadira menyampaikan sesuatu di sela pelajaran, nada suaranya sedikit berat.
"Khairul, saya minta maaf, sepertinya les kita enggak bisa lanjut kayak biasa." Ucap Ustazah Nadira begitu les privat hari itu selesai.
Khairul menatap mata ustazahnya.
"Kenapa, Ustazah? Ada yang salah dari saya?"
"Bukan gitu." Ustazah Nadira menggeleng pelan.
"Adik saya, Sarah, lagi sakit. Umurnya baru lima tahun. Saya harus pulang lebih cepat tiap sore buat jagain dia, enggak bisa lama-lama di pesantren." Sambung Ustazah Nadira menjelaskan.
Raut wajah Khairul berubah, campuran kecewa dan khawatir. Apa kedekatannya dengan Ustazah Nadira akan berakhir?
"Sarah sakit apa, Ustazah?"
"Demam udah beberapa hari, belum turun-turun juga. Orang tua saya kerja, jadi saya yang harus bolak-balik jagain."
Khairul terdiam sejenak, memikirkan sesuatu.
"Ustazah... kalau boleh, saya tetap mau lanjut les. Enggak apa-apa kalau harus ke rumah Ustazah sekalipun. Saya bisa nyesuaiin waktu."
Ustazah Nadira menatapnya, sedikit terkejut dengan kesungguhan itu.
"Kamu yakin?"
"Yakin, Ustazah. Saya enggak keberatan jalan kaki."
"Emang pengurus bakal ngasih izin kamu tiap sore keluar pekarangan pesantren?" Tanya Ustazah Nadira.
"Saya akan coba ustazah, lagipula bukan tiap hari, kan selang-seling nanti. Pasti dikasih izin lah. Lagian pengurus juga tau saya belajar khusus sama ustazah"
Setelah berpikir sejenak, Ustazah Nadira akhirnya mengangguk.
"Baiklah. Tapi harus tetap sopan, ya. Rumah saya sederhana, cuma ada saya sama Sarah kalau sore-sore gitu." Ucap Ustazah Nadira.
"Siap, Ustazah. Terima kasih banyak."
***
Khairul diam sejenak, hatinya berdegup pelan. Ini pertama kalinya dia ke rumah Ustazah Nadira, padahal sangat dekat dengan pesantren, bahkan suara azan dari masjid pesantren masih terdengar jelas. Rumahnya sederhana berpagar hijau itu tak jauh dari yang dibayangkan Khairul—halaman kecil dengan beberapa pot bunga, jendela kayu yang sedikit usang tapi terawat. Ia mengetuk pintu dengan jantung berdebar.
"Assalamu'alaikum."
Pintu terbuka, Ustazah Nadira keluar. Ia masih mengenakan cadar, tapi tidak memakai sarung lengan kayak biasanya.
"Wa'alaikumsalam, eh Khairul ayo masuk,"
Ruang tamu itu apa adanya—karpet tipis, meja rendah, rak kecil berisi kitab-kitab kuning. Di sudut ruangan, Khairul sempat melihat seorang anak kecil tertidur di atas kasur lipat, wajahnya agak pucat. Itu pasti Sarah.
"Dia baru aja tidur, syukurlah demamnya agak turun sore ini," bisik Ustazah Nadira sambil menutup pintu kamar pelan-pelan.
"Kita belajar di sini aja biar enggak berisik." Kata Ustazah Nadira.
"Kamu minta izin atau kabur sendiri lewat pagar belakang pesantren?" Tanya Ustazah Nadira dengan nada sedikit bercanda biar suasana tidak canggung.
"Minta izin dong ustazah."
"Kamu duduk di sana saja ya!" Kata Ustazah Nadira.
Khairul mengangguk, duduk di tempat yang ditunjukkan. Duduk bersila di lantai dengan meja kecil di depannya. Sangat berbeda saat belajar di ruangan pesantren.
Pelajaran berjalan seperti biasa—Ustazah Nadira mengoreksi bacaannya, sesekali mengulang contoh pelafalan yang benar. Tapi suasananya terasa berbeda dari di pesantren; lebih sepi, lebih personal, hanya suara detak jam dinding dan napas Sarah yang tertidur di ruang sebelah.
Menjelang akhir sesi, Ustazah Nadira menunjuk mushaf untuk bacaan berikutnya. "Coba baca ayat ini, perhatiin makhraj-nya."
Di saat bersamaan, Khairul membuka lembaran mushaf itu—dan tanpa sengaja, ujung jarinya menyentuh jari Ustazah Nadira yang tidak mengenakan sarung tangan.
Ada hawa aneh yang merasuki keduanya, ini kali pertama Ustazah Nadira bersentuhan dengan lelaki bukan mahramnya. Berbeda dengan Khairul.
Keduanya diam membeku sesaat.
"Eh—maaf,"
Ustazah Nadira menarik tangannya cepat, suaranya sedikit tercekat. Seperti ada aliran aneh sesaat tadi. Matanya, yang biasa tenang di balik cadar, melirik ke arah lain.
"Enggak apa-apa, Ustazah, saya yang salah,"
Khairul buru-buru menunduk, wajahnya panas entah karena malu atau sesuatu yang lain yang tidak ia mengerti sepenuhnya.
Sesi itu berakhir canggung seketika. Waktu Maghrib pun hampir tiba, Khairul buru-buru berpamitan.
"Saya pulang dulu, Ustazah. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Ustazah Nadira, tanpa mengangkat wajah dari mushaf di tangannya.
Selepas kepulangan Khairul, Ustazah Nadira langsung beristighfar berkali-kali. Sentuh tadi walau sesaat terasa seperti dosa besar baginya. Hari pertama Khairul belajar di rumahnya, langsung terjadi diluar dugaannya. Apakah harusnya tadi dia marah? Kalau pun harus marah, apa tidak aneh marah dia marah pada hal kecil yang tidak disengaja. Dia malah menyalahkan dirinya kenapa tadi ngelepas sarung tangan.
***
Malam itu, setelah kembali ke asrama dan menunaikan shalat Isya, Khairul berbaring di ranjang sempitnya sambil menatap langit-langit kamar. Pikirannya masih dipenuhi kejadian sore tadi—sentuhan tangan yang tidak sengaja, suara Ustazah Nadira yang tercekat, tatapan yang buru-buru dialihkan.
Entah kenapa, memikirkannya justru membuat dadanya hangat, bukan risih. Dia malah tersenyum senang. Di lubuk hatinya, malah ada semacam dorongan supaya dia bisa menyentuh tangan Ustazah Nadira lagi.
Ia tertidur tanpa sadar, dan dalam tidurnya, bayangan itu kembali muncul—kali ini dalam bentuk yang lebih samar, seperti mimpi yang tidak jelas ujung pangkalnya. Ia berada di ruang tamu yang sama, duduk berseberangan dengan Ustazah Nadira. Tangan mereka bersentuhan lagi, tapi kali ini tidak ada yang buru-buru menarik diri.
"Khairul," suara itu memanggil namanya, lembut seperti biasa.
"Kenapa dari tadi ngelamun terus?" Ucap sosok Ustazah Nadira.
Dalam mimpi itu, Khairul hanya bisa tersenyum canggung, tidak tahu harus menjawab apa.
"Apa kamu ingin aku membuka cadar ini?" Sangat lembut, bahkan terkesan manja. Khairul terkesima mendengar ucapan Ustazah Nadira. Tentu saja dia ingin melihat sosok cantik dibalik balutan cadar itu.
Khairul mengangguk pelan sambil menatap sosok di depannya yang menggerakkan jari lentiknya untuk membuka cadarnya sendiri. Pelan-pelan...
Semuanya buyar—suara azan Subuh menggema dari arah masjid pesantren, menembus jendela kamar asrama yang setengah terbuka.
Khairul tersentak bangun. Napasnya sedikit memburu, jantungnya masih berdebar seperti baru saja berlari. Ia duduk di tepi ranjang, menatap dinding kosong di depannya, mencoba memahami apa yang baru saja ia alami.
Ini cuma mimpi, katanya dalam hati, mencoba menenangkan diri sendiri. Tapi entah kenapa, bayangan itu masih terasa begitu nyata, dan ia butuh waktu beberapa saat sebelum akhirnya bangkit untuk bersiap shalat Subuh.
***
Keesokan harinya, selepas kelas pagi, Khairul memberanikan diri mampir ke ruang pengajar. Ia mengetuk pintu yang sedikit terbuka.
"Assalamu'alaikum, Ustazah."
Ustazah Nadira mendongak dari tumpukan berkas di mejanya. Ia sedikit kaget melihat sosok yang berdiri di depan pintu.
"Wa'alaikumsalam, Khairul. Ada apa?" Tanya Ustazah Nadira lembut, seperti tidak ada kejadian apa-apa.
"Anu, cuma mau nanya... Sarah gimana kabarnya, Ustazah? Demamnya udah turun?"
Sesaat, ada jeda kecil sebelum Ustazah Nadira menjawab, seolah agak terkejut dengan pertanyaan itu.
"Alhamdulillah udah mendingan. Semalam udah enggak rewel lagi."
"Syukurlah," Khairul tersenyum lega, meski sebenarnya pertanyaan itu cuma jadi pembuka untuk sesuatu yang lain.
Obrolan mengalir singkat—soal Sarah yang mulai mau makan lagi, soal pesantren yang belakangan sibuk persiapan acara tahunan. Ustazah Nadira menjawab seperlunya, tapi nadanya tetap ramah seperti biasa.
"Ustazah," Khairul akhirnya berkata, mencoba terdengar sewajar mungkin, "nanti sore saya ke rumah lagi ya, buat les."
Ustazah Nadira terdiam. Ada sesuatu dalam dirinya yang ingin mengatakan sebaliknya—mungkin lebih baik kembali ke pesantren saja, mungkin lebih aman begitu, mengingat kejadian kemarin sore. Bibirnya bahkan sudah terbuka sedikit, siap mengucapkan penolakan halus.
Tapi entah kenapa, kata-kata itu tidak keluar. Mala kata sebaliknya yang keluar.
"...Iya, enggak apa-apa. Datang aja kayak biasa," ucap Ustazah Nadira akhirnya, nadanya terdengar sedikit ragu bahkan di telinganya sendiri. Dia pun heran kenapa malah meng-iyakan.
Khairul tersenyum lebar. Hatinya gembira mendengarnya
"Siap, Ustazah! Kalau gitu saya izin dulu."
Setelah pintu tertutup, Ustazah Nadira duduk terdiam beberapa saat, menatap berkas di depannya tanpa benar-benar membacanya. Ia tidak mengerti kenapa tadi begitu sulit mengatakan tidak, padahal akal sehatnya jelas berbisik untuk menjaga jarak.
"Kenapa si Khairul minta izin lagi, bukannya kemarin dia sudah pernah ke rumah kamu Ra." Timpal Ustazah Ismi dari meja depan.
"Tidak tau juga tuh. Emang aneh santri baru itu." Sahut Ustazah Nadira.
Ada sesuatu yang aneh dalam diri Ustazah Nadira belakangan ini, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, dan itu justru yang paling membuatnya gelisah.1946Please respect copyright.PENANA6MWqyZ2PSb


