Malam itu seperti malam-malam sebelumnya di rumah kecil kami di pinggiran Kudus. Kipas angin tua di langit-langit kamar tidur berputar pelan, menghembuskan udara hangat yang tak kunjung reda. Aku, Fajar, terbangun di tengah malam karena rasa gelisah yang tak jelas. Di sebelahku, istriku Anisa tidur dengan napas teratur. Rambut hitam panjangnya tersebar di bantal putih, wajah cantiknya tampak tenang meski aku tahu betapa berat beban yang ia pikul akhir-akhir ini.
2289Please respect copyright.PENANAQFrZxnuDAc
Aku menoleh pelan, mengamati tubuhnya yang tertutup selimut tipis. Bahkan dalam tidur, lekuk tubuh Anisa selalu berhasil membuat dadaku sesak. Payudaranya yang montok dan kencang naik turun pelan mengikuti napas. Aku ingat betul bagaimana rasanya saat tanganku meraba buah dada itu—penuh, lembut, dengan puting cokelat muda yang sensitif dan selalu mengeras saat disentuh. Pinggangnya ramping, mengalir mulus ke pinggul lebar dan bokong bulat montok yang selalu menggoda setiap kali ia berjalan. Kakinya panjang, mulus, paha bagian dalamnya lembut dan hangat. Di antara kedua kaki itu tersembunyi keintiman yang hanya aku yang boleh rasakan… atau setidaknya begitu yang selalu aku yakini.
2289Please respect copyright.PENANAwsrNhie6Wp
Kami menikah lima tahun lalu. Aku jatuh cinta pada Anisa sejak pertama kali melihatnya di kampus—wanita sederhana tapi memiliki aura yang membuat semua orang menoleh. Kami menikah dengan penuh harapan. Dulu aku bekerja sebagai operator mesin di pabrik tekstil pinggiran Semarang. Gajinya cukup untuk hidup sederhana, cicilan rumah kecil warisan orangtuanya, dan impian punya anak suatu hari. Tapi dua tahun lalu pabrik tutup. Aku di-PHK. Sejak itu, hidup kami seperti berjalan di atas tali yang semakin tipis. Utang di bank dan koperasi menumpuk. Aku mencoba berbagai pekerjaan serabutan—ojek online, bantu bongkar muat di pasar, bahkan jadi tukang kebun musiman. Tapi tak pernah cukup.
2289Please respect copyright.PENANAWriKmn8OyL
Anisa tetap bekerja sebagai admin di perusahaan kecil. Gajinya pas-pasan. Kami sering bertengkar kecil karena stres, tapi selalu berakhir dengan pelukan dan janji bahwa kami akan melewati ini bersama. Sampai suatu sore, Anisa pulang dengan wajah bersinar—sesuatu yang sudah lama tak kulihat.
2289Please respect copyright.PENANAER5UVkKKDy
“Sayang… aku dapat tawaran kerja baru,” katanya saat kami duduk di meja makan yang reyot. Matanya berbinar penuh harap. “Sebagai sekretaris pribadi Pak Hendra Wijaya. Pemilik perusahaan ekspor-impor besar di Semarang. Gajinya hampir tiga kali lipat dari yang sekarang. Plus bonus dan tunjangan.”
2289Please respect copyright.PENANAVP0oyWUJid
Aku menatapnya lama. “Pak Hendra… pria kaya itu? Yang sering muncul di berita bisnis?”
2289Please respect copyright.PENANAN5cFMBAEMv
Anisa mengangguk antusias. “Ia mencariku sendiri setelah melihat CV-ku di LinkedIn. Katanya butuh orang yang teliti dan bisa dipercaya. Tapi… pekerjaannya berat. Sering lembur, kadang harus ke rumahnya untuk meeting malam atau persiapan dokumen. Dan… ia single.”
2289Please respect copyright.PENANAIvwNTNB4uo
Kata terakhir itu membuatku diam. Aku tahu Anisa cantik. Tubuhnya yang subur, wajah manis dengan bibir penuh, dan sikapnya yang lembut selalu menarik perhatian pria. Tapi aku percaya padanya. Kami sudah janji di depan penghulu.
2289Please respect copyright.PENANAVz63IHGikw
“Kalau kamu mau ambil, aku dukung,” kataku akhirnya. “Tapi aku khawatir. Kamu akan sering jauh.”
2289Please respect copyright.PENANA8ZhRVrEWzE
Anisa memegang tanganku erat. “Justru karena itu aku punya ide. Aku sudah bicara dengan Pak Hendra. Aku bilang suamiku sedang tidak bekerja, dan aku butuh orang yang bisa antar-jemput aku dengan aman. Ia setuju mempekerjakanmu sebagai supir pribadiku. Gaji tambahan. Bahkan ia tawarkan kamu juga membantu di rumahnya sebagai… pembantu. Membersihkan kolam, menyiapkan minuman, merawat taman kecil di belakang. Rumahnya besar, katanya butuh orang terpercaya.”
2289Please respect copyright.PENANAxZXrY6y1h5
Aku terdiam lama. Menjadi supir istriku sendiri. Dan pembantu di rumah majikannya. Rasanya… aneh. Seperti aku menyerahkan sebagian harga diriku demi uang. Tapi utang kami sudah di ambang batas. Cicilan rumah telat dua bulan. Listrik hampir diputus. Impian punya anak semakin jauh.
2289Please respect copyright.PENANAH42vbZYh6z
Aku menghela napas panjang. “Baik. Kalau itu bisa membuat kita bernapas lagi… aku terima.”
2289Please respect copyright.PENANA8QioGEZge7
Anisa memelukku erat. Payudaranya yang hangat menempel di dadaku. “Kamu suami terbaik, Fajar. Aku janji, ini hanya sementara. Kita akan bangkit bersama.”
2289Please respect copyright.PENANAWt9Va6TwB7
Begitulah semuanya dimulai.
2289Please respect copyright.PENANAqVkAdKAU86
Pagi ini, seperti biasa sejak dua minggu lalu, aku terbangun lebih awal. Anisa sudah di kamar mandi. Pintu tidak terkunci rapat. Uap panas menguar keluar. Aku berdiri di ambang, mengamati istriku di balik tirai shower yang tipis. Air mengalir deras membasahi kulit putih mulusnya. Payudaranya yang montok bergoyang pelan saat ia mengangkat tangan menyabuni rambut. Putingnya menonjol kecil dan keras karena air. Aku bisa melihat bayangan areola lebar di sekitar puting itu. Pinggangnya yang kecil mengalir ke bokong bulat montok yang menggoyang setiap kali ia berputar. Bokong itu kencang, mulus, dengan lekuk dalam di tengah yang selalu membuatku ingin meraih dan meremasnya. Kakinya panjang dan indah, paha bagian dalam lembut. Di antara kedua kaki itu, keintiman yang rapi—bibir kecil tertutup rambut hitam halus yang ia cukur pendek.
2289Please respect copyright.PENANAqW65ahA1At
Aku merasa napas jadi lebih berat. Bahkan setelah lima tahun menikah, tubuh Anisa masih berhasil membuatku terpesona setiap hari.
2289Please respect copyright.PENANAo3cVVqmNqa
Anisa menyadari aku mengintip dan tersenyum malu-malu. “Fajar… kamu lagi ngintip lagi ya? Masuklah kalau mau bantu.”
2289Please respect copyright.PENANAS0G5nqBZ8e
Aku tertawa pelan, membuka pintu dan masuk. Air shower membasahi bajuku. Aku mengambil sabun dari tangannya dan menggosok punggungnya pelan-pelan. Tangan ku turun ke bokongnya yang licin dan kencang. Aku meremas pelan, merasakan kekenyalan yang selalu membuatku gila.
2289Please respect copyright.PENANAYvVNo5tNrQ
“Kamu semakin cantik setiap pagi,” bisikku di telinganya. “Tubuhmu… payudara ini, bokong ini… selalu membuatku ingin memelukmu seharian.”
2289Please respect copyright.PENANAfOJ2GeuKXX
Anisa memutar badan. Tubuh basahnya menempel padaku. Payudaranya yang penuh dan kencang menekan dadaku, putingnya keras menusuk. Ia mencium bibirku pelan. “Kamu juga selalu membuatku merasa diinginkan. Tapi hari ini aku harus cepat. Pak Hendra ada meeting besar dengan klien Jepang. Aku harus dampingi dan siapkan semua dokumen.”
2289Please respect copyright.PENANAtA3YLk0mLz
Kami berciuman lebih dalam di bawah shower. Lidah kami bertemu. Tanganku meraba payudaranya, memutar putingnya pelan dengan jari. Anisa mengerang kecil di mulutku. Tapi ia menghentikan, napasnya terengah. “Nanti malam ya sayang… kalau tidak terlalu capek.”
2289Please respect copyright.PENANAxnfsudwzvk
Kami keluar shower. Aku mengeringkan tubuhnya dengan handuk lembut. Aku mengusap payudaranya dengan sengaja pelan, turun ke perut datar, lalu ke paha dan bokong. Setiap sentuhan terasa seperti api kecil yang menjalar.
2289Please respect copyright.PENANAWdGqgxOlSn
Anisa memilih pakaian untuk hari itu di depan cermin. Ia memakai bra hitam lace yang membuat payudaranya terangkat tinggi dan dalam, menonjolkan belahan dada yang menggoda. Celana dalam thong kecil hitam yang hampir tak menutupi apa-apa di belakang. Lalu rok pensil hitam ketat yang memeluk bokong montoknya dengan sempurna—setiap gerakan membuat bokong itu bergoyang pelan. Blus sutra putih agak transparan dan ketat di dada, dengan dua kancing atas terbuka, memperlihatkan sedikit belahan putih halus payudaranya. Sepatu high heels hitam membuat kakinya terlihat lebih panjang dan sexy.
2289Please respect copyright.PENANASprd2gGvrv
Aku membantu kancingkan blusnya dari belakang. Jari-jariku menyentuh kulit hangat di antara payudaranya. “Kamu yakin pakai ini? Kelihatan… sangat menarik. Pak Hendra mungkin akan memperhatikan.”
2289Please respect copyright.PENANAhQEUpIM497
Anisa menoleh ke cermin, tersenyum tipis. “Ini profesional, sayang. Pak Hendra bilang aku harus tampil rapi dan menarik karena sering ketemu klien penting. Jangan cemburu ya. Aku hanya milikmu.”
2289Please respect copyright.PENANAnYXosybASb
Kami sarapan nasi goreng sederhana yang aku masak. Sambil makan, percakapan mengalir panjang.
2289Please respect copyright.PENANAM4OjwWfysM
“Anisa,” kataku pelan, “aku masih khawatir. Pak Hendra itu pria kaya, tampan, berwibawa. Single. Banyak pria seperti dia yang suka mendekati wanita cantik yang bekerja di bawahnya.”
2289Please respect copyright.PENANAEetlSPSpPy
Anisa meletakkan sendok, memegang tanganku. Matanya jujur. “Fajar, aku cinta kamu. Sudah janji di depan Tuhan dan orang tua kita. Pak Hendra profesional. Ia tidak pernah melakukan hal tidak pantas. Justru ia sering cerita betapa kesepiannya setelah mantan istrinya pergi. Ia bilang aku seperti ‘cahaya’ di kantornya. Tapi aku selalu ingat batas. Lagipula sekarang kamu supirku dan pembantu di rumahnya. Kamu bisa awasi aku setiap hari.”
2289Please respect copyright.PENANAFDpKLVNBUa
Aku mengangguk, meski dada terasa sesak. “Ya… aku tahu. Tapi rasanya aneh. Aku supir istriku sendiri. Dan membantu di rumah orang kaya sebagai pembantu. Seperti… aku menyerahkan sesuatu.”
2289Please respect copyright.PENANATSC8zPFh1T
Anisa berdiri, memelukku dari belakang. Payudaranya menempel di punggungku. “Kamu tidak menyerahkan apa-apa. Kamu sedang melindungi keluarga kita. Uang dari pekerjaan ini bisa lunasi utang dalam setahun. Kita bisa mulai lagi. Punya anak seperti mimpi kita. Tolong… percaya padaku.”
2289Please respect copyright.PENANAl8b31mMMii
Aku memutar badan dan memeluknya erat. “Aku percaya. Selalu.”
2289Please respect copyright.PENANAmyTyDGMVi1
Kami berangkat dengan mobil L300 tua kami. Aku mengemudi, Anisa duduk di samping. Sepanjang jalan ke Semarang—sekitar satu jam perjalanan—kami bicara tanpa henti. Anisa cerita tentang tugasnya: mengatur jadwal ketat Pak Hendra, menyiapkan presentasi, menemani meeting, bahkan kadang harus ke rumah mewahnya di Bukit Sari untuk kerja malam karena Pak Hendra lebih suka suasana tenang di rumah.
2289Please respect copyright.PENANAZEouCxOvLg
“Rumahnya seperti istana kecil, Fajar,” katanya dengan mata berbinar. “Kolam renang besar, taman luas, ruang kerja dengan pemandangan kota. Kamu akan suka membantu di sana. Ada kamar pembantu nyaman di belakang.”
2289Please respect copyright.PENANAEP1hWfK4Z6
Aku mengangguk, tangan memegang setir erat. “Apakah kamu pernah… sendirian di rumah itu dengannya sampai larut?”
2289Please respect copyright.PENANAGP7KpOR5UH
Anisa diam sebentar. “Beberapa kali. Tapi selalu kerja. Ia orang disiplin. Kadang ia masakkan aku makan malam juga, katanya ‘menghargai asisten terbaik’. Tapi aku selalu bilang sudah makan di rumah.”
2289Please respect copyright.PENANANjTUcm9ujd
Kata-katanya seharusnya menenangkan. Tapi ada sesuatu di nada suaranya yang membuatku gelisah.
2289Please respect copyright.PENANApnapwkQu4C
Sampai di gedung kantor Pak Hendra di pusat Semarang—gedung tinggi 20 lantai milik perusahaannya sendiri. Aku parkir di basement, mengantar Anisa ke lobby. Di sana, Pak Hendra sudah menunggu.
2289Please respect copyright.PENANAmUcHVP3sLP
Pria itu tinggi, sekitar 180 cm, tubuh berotot terlihat jelas di balik kemeja mahal. Wajah tampan dengan garis rahang tegas, mata tajam, senyum yang tampak ramah tapi memiliki kekuatan. Usianya sekitar 38 tahun. Ia memancarkan aura kekayaan dan kekuasaan yang membuat orang kecil seperti aku merasa semakin kecil.
2289Please respect copyright.PENANAZqu7Z74AbU
“Anisa, pagi yang indah. Kamu terlihat sangat cantik hari ini,” kata Pak Hendra dengan suara dalam yang berwibawa. Matanya meneliti tubuh Anisa sekilas—berhenti sedikit lebih lama di dada yang menonjol dan pinggul yang terbungkus rok ketat.
2289Please respect copyright.PENANApqqieqy286
“Terima kasih Pak,” jawab Anisa dengan senyum profesional. “Ini suamiku, Fajar. Beliau akan jadi supir pribadi saya dan membantu di rumah Anda sesuai kesepakatan.”
2289Please respect copyright.PENANAzJQmzQfuq3
Pak Hendra menjabat tanganku dengan kuat. “Selamat datang, Fajar. Aku harap kamu bisa menjaga istri mu dengan baik… dan membantu aku merawat rumah ini. Rumahku besar, butuh orang yang bisa dipercaya.”
2289Please respect copyright.PENANAdl7h2dbPze
Aku mengangguk, merasa seperti pelayan yang baru direkrut. “Terima kasih Pak. Saya akan lakukan yang terbaik.”
2289Please respect copyright.PENANA9mEH1ofuq9
Pak Hendra mengangguk, lalu meletakkan tangannya di punggung bawah Anisa—sentuhan yang seolah tidak sengaja, tapi membuatku menelan ludah. “Ayo, meeting pertama jam sembilan. Kamu siapkan presentasi seperti kemarin.”
2289Please respect copyright.PENANA2Kh2u5qKDU
Mereka berjalan bersama ke lift. Aku mengikuti di belakang. Di dalam lift, aku melihat dari belakang bagaimana Pak Hendra berdiri dekat Anisa, bahu mereka hampir bersentuhan.
2289Please respect copyright.PENANAeFMTnQfAAm
Hari itu berlalu seperti biasa. Aku menunggu di ruang tunggu atau di mobil. Kadang dipanggil untuk mengantar dokumen atau mengantar Pak Hendra dan Anisa ke lunch meeting dengan klien asing. Di dalam mobil, dari spion tengah, aku melihat mereka duduk di belakang. Pak Hendra duduk dekat Anisa, kadang berbisik sesuatu yang membuat Anisa tertawa pelan. Tangan Pak Hendra sesekali menyentuh lengan Anisa saat menjelaskan sesuatu. Aku merasa dada panas, tapi aku diam.
2289Please respect copyright.PENANAw2eVyygzjp
Sore hari, sesuai jadwal, aku mengantar Anisa ke rumah Pak Hendra di Bukit Sari. Rumah itu memang seperti istana—dua lantai besar, halaman luas dengan taman terawat, kolam renang di belakang, garasi untuk tiga mobil mewah. Pintu otomatis terbuka saat kami datang.
2289Please respect copyright.PENANAuInp2uWJxb
Pak Hendra sudah di rumah, memakai kaos polo ketat dan celana pendek, terlihat lebih santai tapi tetap gagah. “Selamat datang di rumahku, Fajar. Mulai hari ini, anggap ini rumah keduamu saat bekerja. Ada kamar pembantu di belakang dekat dapur. Hari ini kamu bersihkan kolam dan siapkan teh untuk kami di teras.”
2289Please respect copyright.PENANAybT0nNpVuH
“Baik Pak,” jawabku, merasa semakin kecil di tengah kemewahan ini.
2289Please respect copyright.PENANAsPa1dbunSS
Sementara itu, Anisa dan Pak Hendra duduk di teras belakang yang menghadap kolam renang. Mereka membuka laptop dan dokumen, bekerja sambil minum teh yang aku buat. Aku mengamati dari kejauhan saat membersihkan daun-daun di permukaan kolam. Anisa duduk bersila di kursi rotan, rok pensilnya naik sedikit, memperlihatkan paha mulus yang putih. Pak Hendra duduk di sebelahnya, kadang menunjuk layar, tangannya menyentuh lengan Anisa untuk menarik perhatian.
2289Please respect copyright.PENANAPLeNB0FV7K
“Aku lihat ide revisimu bagus sekali, Anisa,” kata Pak Hendra dengan suara hangat. “Kamu punya naluri bisnis yang tajam. Kalau proyek ini sukses, aku akan naikkan jabatanmu jadi Executive Assistant. Gajinya jauh lebih tinggi.”
2289Please respect copyright.PENANAXyYAIXtSHv
Anisa tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kegembiraan. “Terima kasih Pak. Saya akan lakukan yang terbaik.”
2289Please respect copyright.PENANAybprqOmIQu
Mereka tertawa bersama. Aku melihat Anisa meletakkan tangannya di lengan Pak Hendra sebentar saat tertawa. Bukan lama, tapi cukup membuat hatiku berdegup tidak normal.
2289Please respect copyright.PENANANAKKW8UpEE
Malam mulai turun. Aku selesai membersihkan kolam. Pak Hendra memanggilku. “Fajar, siapkan makan malam sederhana untuk kami bertiga. Bahan ada di kulkas. Kamu bisa masak nasi goreng spesialmu itu.”
2289Please respect copyright.PENANAXdMTWby2OP
Aku pergi ke dapur mewah—marmer mengkilap, peralatan stainless steel mahal. Sambil memasak, aku bisa mendengar suara mereka dari jendela yang terbuka.
2289Please respect copyright.PENANAaJuSbNfOSL
“Pak, saya rasa proyek dengan klien Jepang bisa kita kejar lebih agresif,” kata Anisa. “Saya sudah siapkan data pasar dan analisis kompetitor.”
2289Please respect copyright.PENANAuLLy72Xgj4
“Kamu benar, Anisa,” jawab Pak Hendra. “Kamu tidak hanya cantik, tapi juga sangat pintar. Suamimu beruntung memiliki istri seperti kamu.”
2289Please respect copyright.PENANASTr6RJvHu3
Anisa tertawa malu. “Pak, jangan bilang begitu. Saya sudah menikah dan sangat bahagia dengan Fajar.”
2289Please respect copyright.PENANAliNDup0HTj
“Tentu saja. Tapi aku hanya mengatakan fakta. Kamu adalah aset berharga bagiku… baik di kantor maupun di sini.”
2289Please respect copyright.PENANAK9Z3dy8Far
Suara Pak Hendra rendah, penuh makna yang membuatku menghentikan gerakan tangan di atas wajan.
2289Please respect copyright.PENANAhRA2Ail3DS
Setelah makan—nasi goreng spesial yang aku buat dengan telur dan sayuran segar—mereka pindah ke ruang kerja di lantai dua. Aku disuruh istirahat di kamar pembantu yang nyaman: AC dingin, tempat tidur single bersih, jendela kecil menghadap taman belakang.
2289Please respect copyright.PENANAGOYiRfbEIE
Tapi aku tak bisa tidur. Aku berbaring mendengar suara samar dari atas: tawa Anisa, suara dalam Pak Hendra, jeda panjang yang membuat imajinasiku liar. Sekitar pukul 23.00, Anisa turun ke kamar pembantu. Ia masih memakai pakaian kerja, tapi blusnya agak kusut, rambutnya sedikit berantakan, pipinya merona merah.
2289Please respect copyright.PENANAcITEsYFS2N
“Sayang, maaf sudah lama,” katanya sambil duduk di samping tempat tidurku. “Proposal hampir selesai, tapi Pak Hendra ingin finalisasi besok pagi juga. Kamu bisa pulang dulu dengan mobil, atau tidur di sini. Besok pagi jemput aku jam tujuh.”
2289Please respect copyright.PENANAXgcZiL6tuU
Aku duduk, memegang tangannya. “Kamu capek? Kamu terlihat… berbeda malam ini.”
2289Please respect copyright.PENANAgho4R6bOoc
Anisa tersenyum, memelukku. Payudaranya menempel di dadaku. “Sedikit capek, tapi senang. Pak Hendra sangat menghargai kerjaku. Ia bilang aku sekretaris terbaik yang pernah ia punya. Bahkan kasih bonus hari ini.” Ia tunjukkan amplop berisi uang tunai tebal. “Ini untuk kita, sayang. Untuk cicilan dan kebutuhan rumah.”
2289Please respect copyright.PENANAeJAgvfNHFg
Aku mengangguk, tapi tak bisa menghilangkan perasaan gelisah. “Anisa… aku lihat cara dia melihatmu. Cara dia menyentuh lenganmu. Seperti… ingin lebih dari sekadar bos.”
2289Please respect copyright.PENANAcVWJdF2xQn
Anisa diam sebentar, lalu mencium pipiku pelan. “Dia memang kadang terlalu dekat. Tapi aku selalu ingat batas. Aku cinta kamu, Fajar. Tidak ada pria lain yang bisa menggantikanmu di hatiku. Sekarang tidur dulu ya. Besok hari baru.”
2289Please respect copyright.PENANARRBnMS7nAT
Ia berdiri dan pergi kembali ke lantai atas. Aku berbaring, jantung berdegup kencang. Aku membayangkan apa yang mereka lakukan di ruang kerja itu berdua. Apakah Pak Hendra menyentuhnya lebih jauh? Apakah Anisa menikmati perhatian itu?
2289Please respect copyright.PENANAJfyD0i6J1A
Keesokan paginya, seperti janji, aku mengantar Anisa ke butik mewah di pusat Semarang sebelum ke kantor. Anisa memilih dress merah wine ketat, panjang sampai lutut dengan belahan kecil di sisi yang memperlihatkan kakinya saat berjalan. Belahan dada dalam yang menonjolkan payudaranya dengan indah. Aku membantu zip di belakang, tanganku menyentuh punggung telanjangnya yang hangat.
2289Please respect copyright.PENANA3dRdbbNIhh
“Kamu cantik sekali dalam dress ini,” kataku, suaraku serak. “Tapi… apakah tidak terlalu seksi untuk kerja?”
2289Please respect copyright.PENANAn0dOZR5xEg
Anisa menoleh di cermin, tersenyum. “Pak Hendra bilang untuk tampil elegan dan menarik perhatian klien penting. Kamu suka?”
2289Please respect copyright.PENANALCftQmgmsV
Aku mengangguk, tapi hatiku berat. “Aku suka… tapi aku khawatir pria lain juga suka melihatmu seperti ini.”
2289Please respect copyright.PENANAKC3rOhKAt0
Anisa memelukku dari belakang, payudaranya menempel di punggungku. “Hanya kamu yang boleh menyentuh sepenuhnya. Yang lain hanya boleh lihat dari jauh.”
2289Please respect copyright.PENANAiwliD5dfkH
Kami tertawa, tapi aku merasa ada yang berubah dalam dirinya. Ia lebih percaya diri. Lebih berani memakai pakaian yang memperlihatkan tubuhnya.
2289Please respect copyright.PENANARLdankTcZo
Hari itu berlalu dengan pola yang sama, tapi dengan eskalasi kecil yang membuatku semakin gelisah. Di rumah Pak Hendra sore harinya, Anisa memakai dress merah wine itu. Pak Hendra memuji terbuka di depanku.
2289Please respect copyright.PENANAsl4DqNoR2d
“Anisa, dress itu sangat cocok dengan tubuhmu. Kamu terlihat… memukau.”
2289Please respect copyright.PENANACuisSB9ssz
Anisa tersipu. “Terima kasih Pak.”
2289Please respect copyright.PENANAz58vF22lg3
Saat mereka duduk di teras bekerja, Pak Hendra meminta Anisa duduk lebih dekat “agar lebih mudah lihat layar”. Tangan Pak Hendra sering menyentuh bahu Anisa saat menjelaskan. Anisa tidak menjauh. Bahkan ia tertawa lebih lepas.
2289Please respect copyright.PENANAjRoG3D5Bl5
Malamnya, setelah aku serve makan malam lagi, mereka pergi ke ruang kerja. Sebelum naik, Anisa berbisik padaku, “Malam ini mungkin lebih lama. Kamu istirahat saja. Jika kamu dengar apa-apa, jangan khawatir… itu hanya kami bekerja.”
2289Please respect copyright.PENANA8zgtBTHMu0
Aku mengangguk. Tapi setelah mereka naik, aku tak bisa diam. Aku menyelinap pelan ke lantai dua, berdiri di dekat pintu ruang kerja yang sedikit terbuka.
2289Please respect copyright.PENANApVF19ixAIO
Dari celah pintu, aku melihat mereka duduk di sofa panjang, bukan di meja kerja. Laptop di meja kopi. Pak Hendra menuang wine merah untuk Anisa.
2289Please respect copyright.PENANAdXOfptpy4w
“Kamu bekerja keras hari ini, Anisa,” kata Pak Hendra dengan suara rendah dan hangat. “Kamu pantas relax sedikit. Coba wine ini, dari koleksi pribadiku.”
2289Please respect copyright.PENANAkELHhiPcGY
Anisa menerima gelas, minum sedikit. “Enak sekali Pak. Tapi saya harus tetap fokus.”
2289Please respect copyright.PENANA1tyrIGaCHU
Pak Hendra tertawa pelan. “Fokus itu bagus, tapi kadang kita butuh melepaskan ketegangan. Kamu tegang di bahu. Biar aku pijat sebentar.”
2289Please respect copyright.PENANA2tvKsrZ2N5
Anisa ragu, tapi kemudian mengangguk pelan. “Baiklah Pak… sebentar saja.”
2289Please respect copyright.PENANASwvlNqPw1y
Pak Hendra pindah ke belakang sofa. Tangan besarnya mulai memijat bahu Anisa dengan gerakan pelan dan ahli. Anisa menutup mata, mengerang pelan karena enak. “Hmm… enak sekali Pak. Terima kasih.”
2289Please respect copyright.PENANAdfElAeffC2
Tangan Pak Hendra turun sedikit ke punggung atas, dekat strap bra yang terlihat dari dress yang rendah. Jari-jarinya menyentuh kulit telanjang Anisa.
2289Please respect copyright.PENANAne6xxNGBnn
“Aku senang bisa membuatmu rileks,” bisik Pak Hendra. “Kamu wanita yang luar biasa, Anisa. Suamimu harus berterima kasih setiap hari memiliki kamu.”
2289Please respect copyright.PENANAjU8W4a3HRg
Anisa tersenyum dengan mata tertutup. “Dia memang baik… tapi kadang aku merasa ingin lebih dari ini. Tapi tidak… saya tidak boleh berpikir begitu.”
2289Please respect copyright.PENANAG0dtQ5Y32r
Pak Hendra membungkuk, bibirnya hampir menyentuh telinga Anisa. “Apa yang kamu inginkan, Anisa? Kamu bisa cerita padaku. Aku di sini untukmu.”
2289Please respect copyright.PENANAzvpBZv0jqW
Anisa membuka mata, menoleh ke belakang. Wajah mereka sangat dekat. Ada ketegangan tebal di udara yang bisa kurasakan bahkan dari luar pintu.
2289Please respect copyright.PENANARXYmuzSbIl
Tiba-tiba Anisa berdiri. “Maaf Pak… saya harus ke kamar mandi sebentar.”
2289Please respect copyright.PENANAhIUy2QoEnL
Ia keluar dari ruangan dengan langkah agak tergesa. Aku buru-buru kembali ke bawah sebelum ketahuan.
2289Please respect copyright.PENANAJrM6qdv84s
Di kamar pembantu, aku berbaring dengan jantung berdegup kencang. Apa yang baru saja aku lihat? Pijat yang tidak hanya profesional. Bisikan yang terlalu intim. Anisa yang menikmati sentuhan itu.
2289Please respect copyright.PENANAEOJmas9dxa
Aku merasa marah. Cemburu. Tapi juga… ada panas aneh di tubuhku. Bayangan tangan Pak Hendra di bahu istriku, di kulit telanjangnya, membuatku excited dengan cara yang salah dan memalukan.
2289Please respect copyright.PENANA0OclaLIyKw
Anisa tidak kembali ke kamar pembantu malam itu. Mungkin ia tidur di kamar tamu di atas, seperti yang kadang terjadi saat lembur berat.
2289Please respect copyright.PENANAkjezDVEC5N
Pagi harinya, saat aku naik untuk menjemput, Anisa turun dengan pakaian yang sama, tapi rambutnya basah dari shower, wajahnya segar tapi ada sesuatu di matanya—seperti kebingungan bercampur kepuasan kecil.
2289Please respect copyright.PENANAzeRQsahE4n
Di perjalanan pulang ke Kudus, Anisa diam sebagian besar waktu. Aku memegang tangannya.
2289Please respect copyright.PENANAGDfF2Im5mn
“Ada apa sayang? Kamu baik-baik saja?” tanyaku pelan.
2289Please respect copyright.PENANAnVibomr09e
Anisa menoleh, tersenyum tipis. “Baik. Hanya capek. Tapi… Fajar, terima kasih sudah mendukung aku dalam pekerjaan ini. Aku janji, semuanya akan baik-baik saja untuk kita.”
2289Please respect copyright.PENANAVjl8fkTOVY
Suara nya tidak meyakinkan sepenuhnya.
2289Please respect copyright.PENANAeb4fdhHb72
Di rumah, kami mandi bergantian. Saat Anisa keluar dari kamar mandi dengan handuk membungkus tubuh, aku melihat ada tanda merah kecil di lehernya—seperti bekas isapan atau gigitan ringan.
2289Please respect copyright.PENANA3X5F6Ibj7W
“Ada apa di lehermu itu?” tanyaku, berusaha menjaga suara tetap tenang.
2289Please respect copyright.PENANAbpkz9Pgu7k
Anisa buru-buru menutup dengan handuk. “Oh… itu mungkin dari baju kemarin yang ketat. Atau nyamuk. Jangan khawatir.”
2289Please respect copyright.PENANAe2zQ2IvqX0
Kami berpelukan di tempat tidur. Aku mencium lehernya, mencoba menghapus bayangan itu dengan bibirku. Tapi pikiranku penuh dengan apa yang mungkin terjadi tadi malam di rumah Pak Hendra.
2289Please respect copyright.PENANANUcTnjtZ7Y
Anisa tertidur cepat, sementara aku terjaga sampai pagi. Aku memeluk tubuh istriku yang hangat, merasakan payudaranya naik turun dalam tidur, bokong montoknya menempel di pahaku. Aku mencintai dia sepenuh hati. Tapi apakah cinta itu cukup untuk menghadapi apa yang mulai tumbuh di antara kami?
2289Please respect copyright.PENANAkdJpOPzYuf
Keesokan harinya, saat aku mengantar Anisa ke kantor, telepon Anisa berdering. Ia menjawab dengan handsfree.
2289Please respect copyright.PENANAk2iI9uKcVP
“Anisa,” suara Pak Hendra terdengar hangat dan dalam dari speaker. “Malam tadi sangat menyenangkan. Proposal kita hampir sempurna. Bagaimana kalau malam ini kamu datang lagi ke rumah? Kita finalisasi, dan mungkin aku bisa ajak kamu dan Fajar makan malam spesial. Aku ingin mengenal suamimu lebih baik.”
2289Please respect copyright.PENANAqPGbLdQkvX
Anisa menjawab dengan suara lembut yang membuat dadaku sesak. “Baik Pak… kami akan datang.”
2289Please respect copyright.PENANANQ8dN78TTQ
Setelah telepon putus, Anisa menatapku. Matanya penuh emosi campur aduk—kegembiraan, rasa bersalah, dan sesuatu yang lain yang tak bisa kusebutkan.
2289Please respect copyright.PENANAj1axfcSuno
“Kamu mau ikut malam ini, sayang?” tanyanya pelan.
2289Please respect copyright.PENANAj3AFPv7pcJ
Aku mengangguk. “Aku ikut.”
2289Please respect copyright.PENANAEaESj94kb9
Malam nya, setelah telepon dari Pak Hendra, rumah kecil kami di pinggiran Kudus terasa lebih sunyi dari biasanya. Aku, Fajar, berdiri di depan lemari sambil melihat istriku Anisa memilih pakaian untuk dinner di rumah majikannya. Lampu kamar yang redup menyinari tubuhnya yang baru saja mandi. Handuk putih membungkus tubuhnya dengan longgar, ujungnya hampir terbuka di dada, memperlihatkan belahan payudara montok yang masih basah dan mengkilap.
2289Please respect copyright.PENANAaAOeTJE0m7
Anisa berdiri di depan cermin, rambut hitam panjangnya masih agak basah, jatuh di bahu. Ia membuka lemari dan mengeluarkan sebuah dress hitam panjang yang belum pernah ia pakai. Dress itu elegan tapi berbahaya—ketat di bagian dada, dengan belahan dalam yang akan menonjolkan buah dada kencangnya, dan belahan sisi tinggi yang akan memperlihatkan paha mulus serta sedikit bokong saat ia berjalan.
2289Please respect copyright.PENANA8FART2Fat7
“Aku harus tampil sempurna malam ini,” katanya sambil meletakkan dress di tempat tidur. Suaranya tenang, tapi ada getar kegembiraan yang tak bisa ia sembunyikan.
2289Please respect copyright.PENANAKivItii6D7
Aku mendekat dari belakang, memeluk pinggangnya yang ramping. Tangan ku menyelinap ke bawah handuk, meraba bokong montoknya yang kencang dan bulat sempurna. “Anisa… kamu yakin mau pergi? Aku masih khawatir. Pak Hendra… cara dia memijatmu tadi malam, cara dia menatapmu… itu tidak seperti bos biasa.”
2289Please respect copyright.PENANAmL85XyLtj2
Anisa memutar badan di pelukanku. Handuknya sedikit longgar, payudaranya yang montok dan penuh hampir terjatuh keluar. Putingnya yang cokelat muda sudah mulai mengeras karena udara dingin dan sentuhanku. Ia menatap mataku dengan lembut tapi tegas. “Sayang, ini hanya dinner bisnis. Kamu juga ikut. Jangan overthinking. Aku cinta kamu. Hanya kamu.”
2289Please respect copyright.PENANAO2skc57BTj
Tapi matanya berkilat. Ada sesuatu yang baru—sebuah kepercayaan diri yang tumbuh sejak ia bekerja dengan Pak Hendra. Aku membantu ia melepas handuk pelan. Tubuh telanjang Anisa berdiri di depanku. Payudara montoknya naik turun dengan napas. Aku tidak bisa menahan diri. Tangan ku naik, meremas salah satu buah dada kencang itu, jari ku memutar putingnya yang sudah keras. Anisa mengerang pelan, “Hmm… Fajar…”
2289Please respect copyright.PENANAOY5gtP9TSd
Kami berciuman panjang. Lidah kami bertemu. Tangan ku turun ke antara kakinya, meraba keintiman yang sudah mulai basah. Jari ku menyentuh bibir kelaminnya yang halus dan hangat. Tapi Anisa menghentikan, napasnya terengah. “Nanti malam ya… setelah pulang. Sekarang aku harus bersiap.”
2289Please respect copyright.PENANAy5we4RskFP
Ia memakai bra hitam lace tipis yang hampir tidak bisa menahan payudaranya yang montok. Celana dalam thong hitam kecil yang hampir tak menutupi apa-apa di belakang, memperlihatkan sebagian besar bokong bulat montoknya. Lalu ia memakai dress hitam itu. Aku membantu zip di belakang, jari-jariku menyentuh punggung telanjangnya yang mulus. Dress itu memeluk tubuhnya seperti sarung tangan—dada terangkat tinggi, belahan dalam menggoda, pinggang ramping, dan bokong montok terlihat jelas setiap kali ia bergerak. Belahan sisi tinggi memperlihatkan paha putih mulus yang membuatku ingin meraih.
2289Please respect copyright.PENANAZ4VyF7naAE
“Kamu cantik sekali,” bisikku, suaraku serak. “Tapi aku takut… takut pria lain melihatmu seperti ini dan menginginkanmu.”
2289Please respect copyright.PENANAL19UNqwzXr
Anisa menoleh ke cermin, tersenyum tipis. “Biarkan mereka lihat. Yang penting kamu yang memiliki aku sepenuhnya.”
2289Please respect copyright.PENANACxHtRXO3ee
Kami berangkat dengan mobil L300 tua. Perjalanan ke Semarang terasa lebih panjang dari biasanya. Di dalam mobil, percakapan mengalir pelan tapi dalam, membangun ketegangan yang semakin tebal di dadaku.
2289Please respect copyright.PENANAswdgdUBreZ
“Aku lihat cara Pak Hendra menatapmu tadi malam,” kataku sambil memegang setir erat. “Dan cara dia memijat bahumu… jari-jarinya turun terlalu rendah. Itu tidak profesional, Anisa.”
2289Please respect copyright.PENANABXOMudLE3f
Anisa diam sebentar, menatap jendela. Lampu jalan menyinari wajahnya yang cantik. “Fajar… aku tidak akan bohong padamu. Aku suka perhatian itu. Pak Hendra membuatku merasa… dihargai. Sebagai wanita, bukan hanya sebagai karyawan. Ia bilang aku cantik, pintar, dan berharga. Kamu juga bilang itu, tapi dengan semua masalah uang kita… kadang aku merasa lelah. Dengan dia, aku merasa hidup lagi.”
2289Please respect copyright.PENANA6k3n2enIb7
Kata-katanya menusuk. Aku menelan ludah. “Jadi kamu… menyukainya?”
2289Please respect copyright.PENANApUQpkPitoQ
Anisa memegang tanganku yang bebas. “Aku cinta kamu, Fajar. Itu tidak berubah. Tapi… ya, aku menikmati perhatiannya. Itu membuatku merasa cantik. Kamu marah?”
2289Please respect copyright.PENANASxYmMubYtZ
Aku menggeleng pelan. “Aku tidak marah… aku cemburu. Dan… ada sesuatu yang lain. Aku tidak tahu apa. Tapi aku tidak suka melihatmu disentuh pria lain.”
2289Please respect copyright.PENANAB5g3YXFAFc
Anisa tersenyum samar, tapi matanya basah. “Kamu suami terbaik. Malam ini hanya dinner. Besok kita kembali seperti biasa.”
2289Please respect copyright.PENANAKSZO9a5JES
Tapi aku tahu, tidak akan seperti biasa lagi.
2289Please respect copyright.PENANAZxZjbOIsl9
Sampai di rumah Pak Hendra, villa mewah itu sudah menyala terang. Pak Hendra menyambut di pintu depan, memakai kemeja hitam longgar dan celana panjang gelap. Ia tampak lebih santai tapi tetap memancarkan aura kekuasaan. Matanya langsung menatap Anisa dari atas ke bawah, berhenti di dada dan pinggul yang terbungkus dress hitam ketat.
2289Please respect copyright.PENANAdTda2FR1gS
“Anisa… kamu luar biasa cantik malam ini,” katanya dengan suara dalam yang hangat. Ia mendekat dan memeluk Anisa sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Tangan besarnya menyentuh punggung bawah Anisa, tepat di atas bokong montoknya. “Dress ini cocok sekali dengan tubuhmu. Elegan… dan sangat menggoda.”
2289Please respect copyright.PENANArnFioCK4Q4
Anisa tersipu, tapi tidak menjauh. “Terima kasih Pak. Ini untuk menghargai undangan Anda.”
2289Please respect copyright.PENANA6wxRMw6ld0
Pak Hendra menjabat tanganku dengan kuat. “Fajar, selamat datang. Malam ini kamu bukan hanya supir atau pembantu. Kamu tamu. Tapi… aku harap kamu tidak keberatan jika aku memuji istri mu sedikit berlebihan. Ia memang pantas dipuji.”
2289Please respect copyright.PENANALlpglHCt2V
Aku memaksa tersenyum. “Terima kasih Pak.”
2289Please respect copyright.PENANArDVhI3kDSz
Mereka masuk ke ruang makan yang mewah. Meja panjang dengan lilin, piring mahal, dan wine merah yang sudah dituang. Makanan dibawa pelayan—steak medium rare, sayuran panggang, dan sup krim jamur. Aku duduk di seberang mereka. Sepanjang makan, percakapan mengalir seperti air yang semakin deras.
2289Please respect copyright.PENANAHZfUO6Cjh5
Pak Hendra memuji Anisa tanpa henti. “Proposal yang kamu buat sangat tajam, Anisa. Klien Jepang pasti akan setuju besok. Kamu tidak hanya cantik—payudara dan bokongmu yang indah itu hanyalah bonus—tapi otakmu yang membuatku tidak bisa lepas dari kamu.”
2289Please respect copyright.PENANAOnjEmU5QzF
Anisa tertawa malu, pipinya merah karena wine. “Pak… jangan begitu di depan suamiku.”
2289Please respect copyright.PENANAF4aB5K0cDc
Pak Hendra menoleh padaku, senyumnya lebar tapi matanya tajam. “Fajar, kamu beruntung sekali. Istri mu memiliki segalanya. Tubuh yang membuat pria gila, dan kecerdasan yang membuatku ingin mempertahankannya selamanya di sisiku. Jika aku punya istri seperti Anisa, aku tidak akan pernah membiarkannya pergi dari ranjangku.”
2289Please respect copyright.PENANA9IDqri9Gut
Aku merasa wajahku panas. Aku meneguk wine, mencoba tenang. “Terima kasih Pak. Anisa memang sempurna.”
2289Please respect copyright.PENANAU1aF0ujT3q
Anisa menatapku, matanya penuh emosi campur aduk. Ia tersenyum padaku, tapi tangannya yang lain berada di meja, dekat tangan Pak Hendra.
2289Please respect copyright.PENANA3ukVFNM9ri
Setelah makan, Pak Hendra mengusulkan, “Mari kita finalisasi proposal di ruang kerja. Anisa, kamu bisa bantu aku review sekali lagi. Fajar… kamu bisa siapkan kopi untuk kami di dapur, atau istirahat di ruang tamu. Malam ini kamu tamu, bukan pembantu.”
2289Please respect copyright.PENANAzMp90kBLxs
Aku mengangguk. “Baik Pak.”
2289Please respect copyright.PENANAnLdmDdZZxQ
Mereka naik ke lantai dua. Aku pergi ke dapur mewah, membuat kopi dengan tangan yang sedikit gemetar. Tapi aku tidak bisa diam. Aku menyelinap pelan ke lantai dua, berdiri di dekat pintu ruang kerja yang sedikit terbuka. Cahaya lampu meja menyinari ruangan. Aku mengintip dari celah.
2289Please respect copyright.PENANAfVzHfhinwA
Di dalam, Anisa dan Pak Hendra duduk di sofa panjang kulit hitam. Laptop di meja kopi, tapi mereka tidak membukanya. Pak Hendra menuang wine lagi untuk Anisa.
2289Please respect copyright.PENANAqzJHZVVdJs
“Kamu bekerja sangat keras untukku, Anisa,” katanya dengan suara rendah, penuh perasaan. “Malam ini aku ingin berterima kasih dengan cara yang berbeda.”
2289Please respect copyright.PENANAoq8EZ1ePsc
Anisa menatapnya, napasnya agak cepat. “Pak… apa maksud Anda?”
2289Please respect copyright.PENANANw6OCxrWoA
Pak Hendra mendekat. Tangan besarnya menyentuh pipi Anisa pelan. “Aku tidak bisa menahan lagi. Kamu sangat cantik. Tubuhmu… payudara montok yang selalu menonjol di balik blusmu, bokong bulat yang bergoyang setiap kali kamu berjalan… aku ingin merasakannya. Suamimu mungkin tidak bisa memuaskanmu sepenuhnya. Biarkan aku yang lakukan.”
2289Please respect copyright.PENANAwawj4Az3K3
Anisa mundur sedikit, tapi tidak menolak sepenuhnya. “Pak… saya sudah menikah. Saya cinta Fajar.”
2289Please respect copyright.PENANA6m5lBxUbve
“Tapi kamu juga menginginkan ini,” bisik Pak Hendra. Ia mendekat lagi, bibirnya hampir menyentuh bibir Anisa. “Aku lihat cara kamu menatapku. Cara kamu menikmati sentuhanku tadi malam. Katakan tidak, dan aku berhenti sekarang.”
2289Please respect copyright.PENANAHvS6zhbLFb
Anisa diam. Matanya tertutup sebentar. Lalu ia berbisik, “Jangan… jangan berhenti.”
2289Please respect copyright.PENANAO6Fd7jnGOA
Pak Hendra tersenyum kemenangan. Ia mencium Anisa pelan pertama, lalu lebih dalam. Lidah mereka bertemu. Tangan Pak Hendra turun ke dada Anisa, meremas payudara montok di balik dress hitam. Anisa mengerang pelan di mulutnya.
2289Please respect copyright.PENANAQSVEVcItEX
Aku berdiri di luar, kaki seperti terpaku. Aku seharusnya masuk dan menghentikan ini. Tapi aku tidak bisa. Dada ku sakit karena cemburu, tapi di antara pahaku ada panas yang memalukan—aku keras.
2289Please respect copyright.PENANAmHQVojxskC
Di dalam ruangan, Pak Hendra membuka zip dress Anisa pelan dari belakang. Dress hitam jatuh ke lantai, memperlihatkan tubuh Anisa hanya dengan bra dan thong hitam. Pak Hendra mengagumi, “Lihat… payudara mu sangat indah. Montok, kencang, putingnya sudah keras.” Ia membuka bra, payudara Anisa terjatuh bebas, penuh dan berat. Pak Hendra meraih keduanya, meremas, lalu menunduk dan menghisap salah satu puting ke dalam mulutnya. Anisa menunduk ke belakang, mengerang lebih keras, “Ahh… Pak… enak…”
2289Please respect copyright.PENANA9yzqjHU4hm
Pak Hendra menghisap bergantian, menggigit pelan puting yang sensitif. Tangan satunya turun ke antara kaki Anisa, menyentuh thong yang sudah basah. “Kamu sudah basah sekali untukku. Istri mu sangat menginginkan kontolku, Fajar pasti jarang ngentot dia sampai seperti ini.”
2289Please respect copyright.PENANATGV8UpjqRD
Anisa tidak menjawab, hanya mengerang saat jari Pak Hendra menyelinap ke dalam thong dan menyentuh klitorisnya yang bengkak. Jari besar Pak Hendra menggosok pelan, lalu masuk ke dalam vagina basah Anisa. Anisa mengerang keras, “Ahhh… Pak… jari mu… dalam sekali…”
2289Please respect copyright.PENANAkbEOODZcX1
Pak Hendra menggerakkan jari nya dalam-dalam, mencari titik sensitif. Anisa menggoyang pinggulnya mengikuti gerakan. Tak lama, tubuh Anisa bergetar hebat. “Aku… aku datang… ahhh!” Ia orgasme pertama kali malam itu, cairan bening membasahi jari Pak Hendra. Pak Hendra menarik jari nya, menjilatnya di depan Anisa. “Manis sekali.”
2289Please respect copyright.PENANA5Kj4x6oorR
Aku berdiri di luar pintu ruang kerja yang hanya terbuka sedikit. Jantungku berdegup sangat kencang sampai terasa sakit di dada. Melalui celah sempit itu, aku melihat segalanya dengan jelas. Anisa sudah telanjang dada, bra hitamnya tergeletak di lantai. Payudaranya yang montok dan kencang terbuka lepas, puting cokelat mudanya sudah mengeras seperti dua kacang kecil yang menonjol. Pak Hendra berdiri di depan sofa, tangan besarnya masih meremas salah satu buah dada istriku dengan kasar tapi penuh nafsu.
2289Please respect copyright.PENANA2i1pNHwMeH
“Ia mendorong Anisa berbaring di sofa,” bisik hatiku sendiri, seolah menceritakan apa yang kulihat. Pak Hendra dengan lembut tapi tegas mendorong bahu Anisa hingga punggungnya menyentuh sofa. Anisa menghela napas panjang, payudaranya yang berat naik turun cepat. Pak Hendra berlutut di lantai di antara kaki Anisa yang sudah terbuka lebar. Ia menunduk perlahan, tangannya yang kasar membuka thong hitam kecil Anisa dengan satu gerakan. Thong itu basah kuyup, benang tipisnya menempel di bibir kelamin istriku yang sudah membengkak dan mengkilap karena cairan.
2289Please respect copyright.PENANAkyvxFPlbOf
Pak Hendra menatap keintiman Anisa beberapa detik lamanya, seolah mengagumi karya seni. “Lihat betapa cantiknya vagina istri mu ini, Fajar,” katanya pelan, suaranya cukup keras sampai aku bisa mendengar dari luar. “Bibirnya sudah merah membengkak, basah mengkilap… dan baunya… manis sekali.”
2289Please respect copyright.PENANAnZovlguz78
Aku menelan ludah. Aku tahu persis bagaimana vagina istriku itu terlihat, aku sudah merasakannya ribuan kali. Tapi melihat pria lain menatapnya dengan lapar seperti itu membuat dadaku terbakar dan kontolku semakin tegang di dalam celana.
2289Please respect copyright.PENANAzPzI1v5wKD
Pak Hendra menunduk lebih dalam. Lidahnya yang lebar dan panas keluar perlahan. Ia mulai menjilat dari bagian paling bawah—dari area di antara bokong Anisa yang montok—naik pelan menyusuri garis tengah bibir kelamin yang sudah basah. Lidahnya rata, hangat, dan basah. Anisa langsung menggigit bibir bawahnya, tangannya meraih rambut Pak Hendra dengan erat.
2289Please respect copyright.PENANAupwswLrBFi
“Enak… lidah mu panas… jangan berhenti Pak…” desah Anisa, suaranya sudah serak karena nafsu.
2289Please respect copyright.PENANAKr1rHwUoaJ
Pak Hendra tidak terburu-buru. Ia menjilat lagi dari bawah ke atas, kali ini lebih lambat, lidahnya menekan lebih kuat, membelah bibir kelamin Anisa yang basah dan membengkak. Cairan bening Anisa menempel di lidahnya, membuatnya mengkilap. Ia berhenti tepat di klitoris yang sudah keluar dari lipatan, kecil tapi keras. Pak Hendra membuka mulut lebar dan menghisap klitoris itu ke dalam mulutnya dengan lembut tapi mantap. Bibirnya yang tebal membungkus klitoris, lidahnya menekan dan memutar-mutar pelan di sekitarnya.
2289Please respect copyright.PENANAh9T9t9uwth
Anisa melengkungkan punggungnya dengan kuat. Payudaranya yang montok naik tinggi, putingnya menonjol semakin keras. “Ahhh… Pak… hisap lebih kuat… klitoris ku… enak sekali…”
2289Please respect copyright.PENANAfAGMvCJMpK
Pak Hendra mengikuti permintaannya. Ia menghisap klitoris lebih kuat, lidahnya bergerak cepat memutar dan menekan. Sementara itu, tangan kanannya naik. Dua jarinya yang tebal dan panjang menyentuh lubang vagina Anisa yang sudah sangat basah. Ia tidak langsung memasukkan. Ia menggosok-gosok pelan di sekitar lubang, menyebarkan cairan Anisa ke seluruh area, membuatnya semakin licin dan berkilau.
2289Please respect copyright.PENANAvSdrvSGAqj
“Vagina mu sangat basah ,” kata Pak Hendra sambil sesekali mengangkat kepala sebentar, bibir dan dagunya sudah basah oleh cairan Anisa. “Lebih basah dari yang aku bayangkan. Fajar pasti jarang melakukan ini padamu sampai sebasah ini.”
2289Please respect copyright.PENANApQdreyeE4k
Anisa menggeleng lemah, tapi pinggulnya terus naik turun mengikuti mulut Pak Hendra. “Jangan… jangan bicara tentang dia sekarang… ahhh… lanjutkan Pak…”
2289Please respect copyright.PENANAFjRmmhMFMO
Pak Hendra tersenyum kecil, lalu menunduk lagi. Kali ini lidahnya menekan lebih dalam. Ia memasukkan lidahnya ke dalam lubang vagina Anisa, mendorong masuk sedalam mungkin, lalu menariknya keluar pelan. Ia melakukan gerakan itu berulang kali—menjilat ke dalam, menarik, menjilat lagi. Setiap kali lidahnya masuk, Anisa mengerang lebih keras dan pinggulnya terangkat tinggi. Cairan Anisa semakin banyak, membasahi dagu Pak Hendra dan menetes pelan ke sofa.
2289Please respect copyright.PENANAO92EjepNWs
Setelah beberapa menit menjilat dalam-dalam, Pak Hendra menggabungkan dengan jarinya. Dua jarinya yang tebal perlahan menyelinap masuk ke dalam vagina basah Anisa. Anisa mengerang panjang, “Ahhh… jari mu… tebal… memenuhi aku…”
2289Please respect copyright.PENANAIOW1xYGxoT
Pak Hendra mulai menggerakkan jarinya pelan-pelan, masuk dan keluar, sambil lidahnya terus menghisap dan menjilat klitoris. Jarinya yang panjang mencari titik sensitif di dalam. Setiap kali ia menemukannya, Anisa melengkungkan tubuhnya lebih tinggi, payudaranya yang montok bergoyang hebat ke kiri dan kanan. Putingnya yang keras menonjol seperti dua kancing kecil yang menggoda.
2289Please respect copyright.PENANAVrALH10Xmm
“Enak… lebih cepat Pak… jari mu… ahhh… lidah mu juga… jangan berhenti…” Anisa sudah tidak bisa berhenti mengerang. Tangan kirinya meremas payudaranya sendiri, memutar putingnya dengan kasar. Tangan kanannya masih mencengkeram rambut Pak Hendra, mendorong kepala pria itu lebih dalam ke antara kakinya.
2289Please respect copyright.PENANAd0be6JmJEM
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/time47


