Mamie mencium bibirku. Lalu mengeluarkan dua gepok uang seratus ribuan dari brankas. Diserahkannya uang itu padaku sambil berkata,
“Yang seikat kasihkan sama Mama, yang seikat lagi untuk membeli pertamax dan makan di jalan.”
“Iya Mam. Terima kasih. Tapi Mam… masih ada yang kuinginkan,” kataku sambil menyingkapkan daster Mamie. “Pengen megang tempik Mamie dulu ah…”
Mamie melotot, tapi lalu menahan tawanya. Dan dibiarkannya saja kurayapkan tanganku ke balik celana dalamnya, lalu mengelus-elus tempiknya sebentar. Kemudian kukeluarkan lagi tanganku dari balik celana dalam Mamie.
“Aku pamit dulu ya Mam,” ucapku setelah mencium bibir Mamie dengan kehangatanku.
“Iya… ati-ati di jalan ya Sayang. Gak usah ngebut.”
“Iya Mamie Sayang.”
Kemudian aku dan Mamie masuk ke dalam lift dan turun ke kamarku lagi, di mana Mama masih duduk di sofa kamarku.
“Ayo Mam… sekarang aja pulangnya mumpung masih siang?” tanyaku sambil menyerahkan seikat uang pemberian Mamie. “Ini dari Mamie,” kataku.
“Iiih banyak banget Lies?!”
“Ah ala kadarnya aja Yan. Mohon maaf gak disuguhin makan. Tapi Bona udah dikasih duit tuh buat makan di jalan.”
“Iya, terima kasih ya Lies. Kapan mau maen ke Subang? Aku udah bubar sama suamiku lho.”
“Ohya?! Kenapa?”
“Biasa penyakit laki-laki. Maen gila mulu sama cewek yang jauh lebih muda daripada aku.”
“Begitu ya?! Gak ada mendingnya. Aku pilih yang jauh lebih tua, biar udah kenyang maen perempuan. Tapi ya gitu… gak ditinggal maen gila sama cewek, tapi ditinggal mati Yan.”
“Gak apa-apa. Kita jalanin aja suratan takdir kita masing-masing.”
“Iya, iyaaaa… semoga perjalanannya lancar ya Yan.”
“Iya Lies. Aku pamit ya,” kata Mama sambil cipika-cipiki dengan Mamie.
Beberapa saat kemudian Mama sudah duduk di samping kiriku, dalam sedan Mamie yang sudah kujalankan menuju Solo, kemudian memutar menuju Jogja.
“Bagaimana perasaanmu sekarang? Bingung atau gimana?” tanya Mama.
“Malah jadi plong. Karena Mama bukan ibu kandungku. Jadi aku bebas melakukan apa pun dengan Mama sekarang kan?”
“Iya. Hihihiiii… pikiranmu kok malah sama dengan pikiran mama.”
“Berarti Mama juga kangen entotanku lagi kan?”
“Iyaaa… lagi hamil gini mama malah pengen begituan mulu.”
“Kalau gitu kita cek in aja di Jogja… di hotel yang kita pakai dahulu itu Mam. Hitung-hitung nostalgia.”
“Iya. Hotel itu sangat bersejarah bagi kita ya.”
Bersambung…..
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


