Chapter 1: Pujian yang Terlarang
55Please respect copyright.PENANAjBYDQuQi1p
POV Dwi Amalia
Aku, Dwi Amalia, berdiri di depan cermin kamar kosan kecilku sambil merapikan hijab syari krem muda yang menutupi dada hingga pinggang. Kain hijab yang tebal dan panjang itu sengaja aku atur rapi agar tidak ada satu helai rambut pun yang terlihat. Kemeja putih longgarku dikancing rapat sampai ke leher, rok panjang hitam menjuntai hingga mata kaki, dan di baliknya aku memakai legging tebal yang menutupi betis mulusku sempurna.
Meski sudah tertutup rapat, dada montokku yang ranum tetap menonjol jelas di balik lapisan kain. Setiap kali aku bernapas, payudaraku naik-turun pelan, seolah menantang kain yang mencoba menahannya. Aku menghela napas panjang, menatap bayanganku sendiri dengan perasaan yang campur aduk.
Kenapa akhir-akhir ini aku sering merasa gelisah seperti ini? Aku 26 tahun, sudah memiliki pacar bernama Putra yang baik, lembut, dan bertanggung jawab. Selama ini aku dikenal sebagai perempuan sopan, religius, dan selalu menjaga aurat dengan ketat. Tapi belakangan, ada sesuatu yang berubah di dalam diriku. Pujian kecil dari orang lain terasa jauh lebih dalam, lebih menggoda, dan lebih... berbahaya.
Ponselku bergetar. Pesan dari Putra.
Putra: Sayang, aku sudah di depan. Turun yuk ❤️
Aku tersipu malu. Putra selalu seperti itu — penuh perhatian dan romantis. Aku segera mengambil tas dan turun. Sepanjang perjalanan ke kantor naik motor, aku memeluk pinggangnya erat dari belakang. Angin pagi menerpa rok panjangku, membuat kainnya menempel sesekali ke paha. Putra sesekali menggenggam tanganku yang melingkar di perutnya dengan lembut.
“Pagi ini kamu cantik sekali, sayang,” bisiknya lembut saat berhenti di lampu merah.
Aku tersenyum malu di balik hijab. “Kamu juga, Mas.”
Tapi di dalam hati, aku merasa ada yang kurang. Pujian Putra selalu manis dan penuh kasih sayang, tapi terasa... terlalu aman. Terlalu suci. Tidak ada getaran aneh yang membuat perutku berdesir seperti akhir-akhir ini.
Sesampai di kantor, kami berpisah di lift. Putra ke lantai 3, aku ke lantai 4. Sepanjang pagi aku berusaha fokus bekerja, tapi pikiranku sering melayang.
Saat aku turun ke pantry untuk mengambil air minum, Udin sudah berada di sana. Ia menyandarkan tubuhnya di meja pantry sambil tersenyum lebar, senyum yang nakal dan penuh arti.
“MasyaAllah, Mbak Dwi,” sapanya dengan suara rendah. “Hijab krem muda hari ini bikin kulit Mbak kelihatan semakin putih bersih. Cocok banget dengan wajah cantik Mbak.”
Aku tersenyum sopan, berusaha menahan debaran di dada. “Terima kasih, Mas Udin.”
Belum sempat aku berbalik, Markus muncul dari belakang. Suaranya lebih dalam, penuh minat yang tak disembunyikan.
“Bukan cuma hijabnya sih, Mbak. Busana syari Mbak selalu tertutup rapi, tapi... tetap saja kelihatan lekuk tubuh Mbak yang ideal. Pinggang ramping, dada yang... eh, maksudnya keseluruhan penampilan Mbak elegan dan... menggoda sekali.”
Pipiku langsung terasa panas. Aku menunduk, merasakan putingku tanpa sadar mengeras di balik bra. “Mas Markus... jangan bicara seperti itu, please.”
Jamal yang kebetulan lewat ikut nimbrung. Suaranya halus tapi licin seperti madu beracun.
“Wajar lah Mbak. Kami cuma kagum. Rok panjangnya pas banget di badan Mbak. Tiap Mbak jalan, gerakannya anggun, tapi tetap... seksi dalam artian sopan. Pinggul Mbak yang montok itu susah untuk nggak dilihat.”
Aku buru-buru mengambil air dan kembali ke ruangan dengan jantung berdegup kencang. Kedua kakiku terasa lemas. Kenapa pujian mereka terasa berbeda sekali? Putra juga sering memujiku, tapi pujian dari mereka seperti ada api kecil yang menyala di perut bawahku.
Sepanjang hari, godaan kecil itu terus berdatangan.
Saat makan siang bersama Putra di kantin, Udin tiba-tiba datang bergabung. Matanya tanpa malu melirik lama ke dada montokku yang naik-turun pelan seiring napasku.
“Mbak Dwi hari ini kelihatan glowing banget. Busana syarinya makin pas di tubuh. Dada Mbak... maksudnya penampilan keseluruhan Mbak selalu eye-catching. Susah buat orang lewat tanpa melirik.”
Aku menunduk dalam-dalam, merasa bra-ku tiba-tiba terasa terlalu ketat. Putingku semakin mengeras. Putra hanya tertawa kecil dan berkata, “Dasar temen-temen gue pada genit.”
Tapi di dalam hatiku, ada gejolak yang semakin besar. Aku seharusnya tidak suka ini... ini dosa. Aku pacar Putra yang solehah. Namun, sisi lain hatiku berbisik pelan, ...tapi kenapa rasanya enak? Kenapa aku diam-diam senang merasa diinginkan seperti ini?
Sore harinya, di lift yang sepi, Udin berdiri tepat di belakangku. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat di tengkukku.
“Betis Mbak pasti mulus banget di balik legging tebal itu ya...” bisiknya pelan dengan nada mesum yang jelas. “Rok panjangnya bikin orang penasaran terus. Bayangin aja kalau suatu hari Mbak pakai yang lebih tipis... pasti banyak yang mau liat lebih jelas.”
Aku merinding hebat. Rasa panas menjalar cepat dari perut ke selangkanganku. Lututku hampir goyah. Aku cepat-cepat keluar lift begitu pintu terbuka, tapi sepanjang sore kata-kata mesum itu terus terngiang di kepalaku.
Malamnya, setelah video call mesra dengan Putra, aku berbaring di kasur. Aku masih memakai kemeja tidur longgar. Tangan kananku tanpa sadar naik ke dada montokku, meremas pelan dari luar kain.
Putingku sudah sangat keras. Setiap kali aku memilinnya pelan, ada getaran nikmat yang menjalar ke bawah.
Kenapa aku begini ya Allah... Aku punya Putra yang baik dan mencintaiku. Tapi pujian dari Udin, Markus, dan Jamal... membuatku merasa cantik, diinginkan, dan... seksi. Sesuatu yang selama ini tak pernah aku rasakan dari balik busana syariku yang tertutup rapat.
Aku menggigit bibir kuat-kuat sambil terus meremas dada sendiri. Selangkanganku sudah mulai lembab.
Aku kotor... tapi rasanya... enak.
POV Tiga Serigala
Sementara itu, di grup chat rahasia yang baru mereka buat:
Udin: Bro, Dwi montok banget. Tiap liat dia lewat, kontol gue langsung ngaceng keras. Hijab syari gitu tapi dada gede dan ranum.
Markus: Aku suka banget tipe akhwat seperti dia. Semakin tertutup dan alim, semakin pengen aku buka pelan-pelan. Bayangin aja nanti dia merintih di bawah kita.
Jamal: Pelan-pelan bro. Kita godain dulu secara halus. Biar dia ketagihan pujian kita. Nanti gue yang atur strategi supaya dia berani buka lapisan demi lapisan.
Keesokan harinya, godaan kecil terus berlanjut. Di koridor, Udin berbisik, “Mbak Dwi, tiap Mbak lewat, kantor ini langsung lebih hidup. Tubuh Mbak ideal banget, montok di tempat yang pas.”
Di pantry, Jamal berkata dengan suara lembut penuh godaan, “Roknya hari ini nempel pas di pinggul Mbak. Gerakannya lembut... bikin orang susah berhenti ngeliat bokong montok Mbak.”
Setiap pujian itu seperti tetesan madu beracun yang perlahan meresap ke dalam pikiranku. Aku selalu menjawab sopan dan malu-malu, tapi di dalam hati aku semakin gelisah.
Aku nggak boleh begini... ini dosa besar. Tapi... kenapa rasanya enak sekali didengar? Kenapa tubuhku bereaksi setiap kali mereka memuji?
Aku mulai ketagihan. Ketagihan akan perasaan dilihat, diinginkan, dan dianggap seksi — sesuatu yang selama ini tak pernah aku dapatkan dari balik busana syariku yang tertutup rapat.
Dan ketiga laki-laki itu tahu. Mereka tahu benih itu sudah ditanam, dan sebentar lagi akan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih gelap.
55Please respect copyright.PENANAh9PloGwhRc
BERSAMBUNG
ns216.73.216.69da2


