Bulan November tahun lalu datang dengan senyum yang tidak pernah kuharapkan. Saat aku sedang duduk di sudut kedai buku favoritku, ponselku berbunyi dengan nada yang sudah aku kenal sebagai notifikasi dari aplikasi chat yang aku gunakan untuk berkomunikasi dengan teman-teman di komunitas fotografi kita.
“Permisi ya Kak, bolehkah aku bertanya tentang teknik pemotretan objek makro yang kamu pakai di foto kamu yang terakhir?” tulisnya. Namanya Dito – anggota baru komunitas yang tinggal di kota sebelas jam dari sini, tapi sudah sering membuat foto-foto yang membuat semua orang kagum.
Kita mulai berbicara dari sana. Awalnya hanya tentang fotografi – jenis kamera, lensa yang cocok untuk berbagai kondisi cuaca, lokasi pemotretan yang indah. Tapi lambat laun, pembicaraan kita mulai menjalar ke hal-hal lain. Dia cerita tentang hobi membaca puisi, aku cerita tentang kegemaranku mengoleksi stempel dari berbagai kota. Dia bilang dia suka melihat matahari terbenam dari balkon apartemennya, aku bilang aku lebih suka melihat matahari terbit dari tepi danau kota ku.
Hanya dalam waktu dua minggu, kita sudah tidak bisa lepas dari chat setiap hari. Mulai dari pagi hingga larut malam, layar ponselku selalu penuh dengan pesan dari dia. Dan pada tanggal 28 November, tepat satu bulan setelah kita mulai berbicara, dia mengirim pesan yang membuat hatiku berdebar kencang.
“Kamu tahu kan Kak, selain fotografi, ada satu hal lagi yang membuatku merasa hidup dengan penuh warna. Itu adalah kamu. Aku suka sama kamu, Kak. Meskipun kita belum pernah bertemu secara langsung, tapi aku merasa sudah mengenalmu dengan sangat dalam. Maka dari itu… mau tidak mau jadi pacarku? Aku janji akan selalu menjaga kamu dengan sepenuh hati.”
Aku membaca pesan itu sambil menahan napas. Senyum lebar melintas di wajahku, membuat pelayan kedai yang sedang menyajikan kopiku melihatku dengan tatapan heran tapi ramah.
“Ya Dito, aku mau. Aku juga suka sama kamu,” jawabku dengan jari yang sedikit gemetar tapi hati yang penuh kegembiraan.
Maka dari itu, hubungan kita yang berjalan dengan jarak jauh – atau yang biasa orang sebut LDR – dimulai. Hanya dalam delapan bulan kedepan, aku akan merasakan kebahagiaan paling besar dalam hidupku, tapi juga rasa sakit yang paling dalam yang pernah kudapatkan.
Bulan Desember sampai Februari adalah masa-masa paling indah dalam hidupku. Setiap pagi, aku akan terbangun dengan pesan dari Dito yang sudah menunggu di layar ponselku: “Selamat pagi sayangku, semoga hari kamu penuh dengan kebahagiaan seperti yang kamu berikan padaku.” Setiap malam, kita akan melakukan panggilan video selama berjam-jam – kadang kita hanya diam sambil melihat wajah satu sama lain, kadang kita cerita tentang hal-hal sepele yang terjadi pada hari itu, kadang kita bahkan melakukan aktivitas bersama secara daring – seperti memasak makanan yang sama sambil berbicara lewat panggilan video.
Dito sering bilang bahwa jarak bukanlah penghalang bagi cinta yang tulus. “Bayangkan saja Kak, setiap kali kita melihat bulan yang sama di malam hari, itu artinya kita sedang berada di bawah langit yang sama kan? Seolah-olah kita sedang berdampingan,” katanya pada salah satu malam yang penuh dengan bintang-bintang.
Aku sangat mencintai cara dia melihat dunia – selalu positif, selalu melihat sisi baik dari setiap hal. Aku mulai merencanakan kunjungan pertamaku ke kota dia bulan Maret mendatang, saat liburan cuti bersama tiba. Aku sudah menyimpan uang dari hasil jualan beberapa foto karya ku untuk biaya perjalanan, dan sudah membuat daftar tempat-tempat yang ingin kita kunjungi bersama – mulai dari taman fotografi kota yang terkenal, hingga kedai kopi tua yang katanya punya banyak buku lama yang bisa kita baca bersama.
Aku juga mulai membuat buku album khusus untuknya. Buku pertama berisi kumpulan foto terbaik yang aku ambil selama beberapa bulan terakhir, masing-masing foto aku lengkapi dengan kata-kata cinta yang aku tulis sendiri. Setiap halaman aku hias dengan renda putih dan stiker kecil berbentuk kamera dan hati. Aku berencana memberikannya saat kita bertemu pertama kali nanti – sebagai bukti bahwa setiap saat bersama dia (meskipun hanya lewat layar) telah menginspirasi diriku untuk membuat karya yang lebih baik.
Namun bulan Maret datang dengan membawa kabut yang menghalangi pandanganku.
Pada suatu hari Minggu pagi, aku sedang membuka grup chat komunitas fotografi kita. Aku melihat beberapa pesan baru dari anggota grup yang bernama Rara – seorang fotografer muda yang juga tinggal di kota Dito dan sering bekerja sama dengannya dalam proyek foto.
“Dito sayang, tolong kirimkan hasil edit foto kita kemarin ya, mau aku posting di akun sosial media kita bersama,” tulisnya.
Beberapa menit kemudian, Dito membalas: “Oke beb, nanti aku kirim ke kamu ya. Sudah jadi semua kok, tinggal diposting aja.”
Kata “beb” dan “sayang” yang dia gunakan untuk menyapa Rara membuat hatiku seperti tertusuk duri kecil yang terus masuk ke dalam. Selama ini, Dito hanya menggunakan panggilan khusus seperti “sayangku”, “kak cantikku”, atau “kekasihku” untukku. Aku tidak pernah menyadari bahwa dia juga menggunakan panggilan yang sama untuk orang lain.
Aku menggulir ke atas untuk melihat riwayat chat mereka. Ternyata bukan hanya kali ini. Beberapa kali sebelumnya, mereka juga saling menyapa dengan panggilan yang akrab seperti itu. Bahkan ada beberapa pesan yang menunjukkan bahwa mereka sering pergi bersama untuk mencari lokasi pemotretan atau menghadiri acara fotografi bersama.
Rasa cemburu yang aku tidak pernah rasakan sebelumnya mulai muncul dengan kuatnya. Aku mencoba untuk tetap tenang dan berpikir positif – mungkin itu hanya cara mereka untuk menyapa teman dekatnya saja. Tapi semakin aku berpikir tentang itu, semakin rasa tidak nyaman menguasai diriku. Aku merasa seperti ada sesuatu yang tersembunyi dari diriku, sesuatu yang membuat aku merasa tidak aman dalam hubungan kita.
Saat malam hari dan kita melakukan panggilan video seperti biasa, aku mencoba untuk membawakan topik itu dengan hati-hati. “Dito, tadi aku melihat kamu memanggil Rara dengan ‘beb’ di grup chat ya,” ucapku dengan nada yang berusaha tetap tenang.
Dito mengerutkan kening seolah tidak mengerti mengapa aku membicarakan hal itu. “Oh itu ya Kak? Itu cuma istilah biasa aja buat menyapa teman dekat kok. Kamu jangan terlalu sensitif dong,” katanya dengan nada yang seolah aku sedang membicarakan hal yang tidak penting.
Perlakuan nya itu membuat aku semakin merasa tersakiti. Aku merasa bahwa dia tidak menghargai perasaanku, bahwa dia tidak mengerti betapa sulitnya menjaga hubungan jarak jauh dengan rasa tidak aman yang muncul seperti ini. Malam itu kita berbicara dengan suasana hati yang tidak nyaman dan akhirnya mengakhiri panggilan dengan tidak jelas.
Keesokan harinya, aku kembali membuka grup chat dan melihat lagi pesan Dito yang memanggil Rara dengan kata akrab itu. Rasa cemburu yang sudah aku coba kendalikan tiba-tiba meledak seperti gunung berapi. Tanpa berpikir panjang, tanpa memberi tahu siapapun, aku keluar dari grup chat itu. Dan dengan tangan yang gemetar karena emosi yang luar biasa kuat, aku menekan tombol blokir pada semua akun Dito di aplikasi pesan dan media sosial yang kita gunakan.
Setelah itu, aku meraih bantal dan menangis sepuasnya. Hatiku terasa seperti dihancurkan berkeping-keping. Aku merasa dipermainkan, merasa bahwa semua kata cinta yang dia ucapkan padaku selama ini adalah omong kosong belaka.
Satu minggu berlalu dengan sangat lambat. Aku tidak bisa fokus pada apa pun – tidak bisa mengambil foto dengan baik, tidak bisa membaca buku favoritku, bahkan sulit untuk makan dengan lahap. Setiap kali melihat buku album yang sedang aku buat untuknya, rasa sakit kembali datang dengan begitu kuatnya. Aku hampir ingin membakarnya, tapi akhirnya aku tidak tega – semua foto dan kata-kata di dalamnya adalah perwujudan cinta ku yang paling tulus.
Pada hari ketujuh setelah aku memblokirnya, ponselku berbunyi dengan suara dering yang aku tidak kenal. Aku ragu untuk menjawabnya, tapi akhirnya aku mengambilnya.
“Halo Kak? Ini Dito. Maaf ya aku pakai nomor teman aku karena kamu sudah memblokir semua akunku,” suaranya terdengar lemah dan penuh kesedihan. “Aku sudah coba hubungimu dengan segala cara tapi tidak bisa. Tolong Kak, buka blokiranku dong. Aku tidak tahu apa yang salah. Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?”
Dengar suara nya, air mata ku kembali mengalir deras. Aku ingin segera memaafkannya dan membuka blokirannya, tapi rasa sakit dan kecewa masih ada di dalam diriku. Namun akhirnya, rasa rindu yang lebih kuat mengalahkan segalanya.
“Baiklah Dito. Nanti aku buka blokiranku. Kita bisa bicara lewat WhatsApp ya,” kataku dengan suara yang penuh emosi.
Setelah aku membuka blokirannya, pesan-pesan dari dia yang menumpuk selama seminggu muncul satu demi satu. Semua pesan itu penuh dengan rasa khawatir, permintaan maaf, dan harapan agar aku memberitahu apa yang salah dengannya.
Kita kemudian melakukan panggilan video yang sangat panjang. Dito menjelaskan bahwa panggilan “beb” atau “sayang” itu memang sudah menjadi kebiasaan dia untuk menyapa teman dekatnya, baik laki-laki maupun perempuan, bahkan sebelum dia kenal aku. Dia juga mengatakan bahwa Rara benar-benar hanya teman kerja yang sudah dikenal sejak lama, dan mereka bekerja sama dalam proyek foto karena mereka tinggal di kota yang sama dan memiliki minat yang sama dalam fotografi.
“Aku sangat menyesal jika kata-kataku itu menyakitimu Kak. Aku tidak pernah berniat untuk membuatmu tidak nyaman atau merasa cemburu. Kamu adalah satu-satunya orang yang aku cintai, satu-satunya yang ingin aku jadikan pasangan hidupku,” katanya dengan mata yang berkaca-kaca dan suara yang penuh kesungguhan.
Aku mulai merasa bersalah karena tidak bertanya terlebih dahulu dan langsung mengambil kesimpulan sendiri. Aku menjelaskan padanya bahwa rasa cemburuku muncul karena aku sangat mencintainya dan takut kehilangannya, terutama karena kita tidak bisa bertemu secara langsung setiap hari.
Akhirnya kita memaafkan satu sama lain dan memutuskan untuk kembali bersama. Aku merasa lega dan bahagia seperti sebelumnya. Aku bahkan mulai membuat buku album kedua untuknya – kali ini berisi foto-foto yang dia kirimkan padaku selama beberapa bulan terakhir, lengkapi dengan catatan tentang bagaimana setiap foto itu membuat hatiku merasa hangat dan penuh cinta.
Namun kebahagiaan itu hanya bertahan selama tiga minggu.
Pada suatu sore yang cerah, aku menerima pesan dari salah satu teman anggota komunitas yang aku kenal sebelum nya. Dia merasa kasihan padaku dan ingin memberitahu aku sesuatu yang selama ini tidak kuketahui.
“Maaf ya Kak, aku harus bilang ini padamu. Sebenarnya Dito dan Rara sudah bersama sejak lebih dari setahun yang lalu lho. Hanya saja mereka menyembunyikannya dari komunitas karena takut akan muncul omongan yang tidak diinginkan. Aku pernah melihat mereka jalan bareng di pusat kota dan bahkan ada foto mereka bersama yang Rara posting di akun pribadinya. Kak mungkin tidak tahu karena tidak ada di dalam daftar teman akun pribadinya,” tulis teman itu.
Aku membaca pesan itu berkali-kali dengan tangan yang gemetar. Rasanya seperti dunia ku runtuh seketika. Semua penjelasan Dito tentang hanya teman kerja saja tiba-tiba terasa seperti kebohongan yang sangat menyakitkan. Aku tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa menangis dengan suara terdahan.
Tanpa berpikir panjang, aku kembali memblokir semua kontak Dito. Kali ini rasa sakit yang kurasakan jauh lebih dalam dari sebelumnya. Bagaimana bisa dia berdusta padaku begitu saja? Bagaimana bisa dia mengatakan bahwa aku adalah satu-satunya orang yang dia cintai padahal dia sudah punya pacar lain?
Setelah beberapa hari, Dito kembali mencoba menghubungiku melalui nomor teman nya lagi. Dia meminta aku untuk membukanya dan memberikan kesempatan padanya untuk menjelaskan segalanya. Kali ini aku menerima panggilannya karena aku merasa berhak untuk tahu kebenaran yang sebenarnya.
“Aku tidak bisa berbohong padamu Kak. Ya, dulu aku pernah bersama Rara, tapi itu sudah berakhir sebelum aku kenal kamu. Foto yang kamu lihat itu adalah foto lama yang belum dihapusnya. Dan memang benar aku tidak memberitahumu tentangnya karena aku takut kamu akan salah paham dan pergi dariku,” katanya dengan suara yang penuh kesedihan. “Tapi aku bersumpah bahwa sejak aku bersama kamu, aku tidak punya hubungan apapun dengan dia lagi. Semua yang aku rasakan untukmu itu tulus Kak, sungguh tulus.”
Aku tidak tahu harus mempercayainya atau tidak. Setiap kata yang dia ucapkan terdengar masuk akal, tapi rasa sakit dan ketidakpercayaan sudah tumbuh besar di dalam diriku. Aku mulai mencurigainya setiap kali dia tidak segera membalas chat ku – berpikir bahwa dia sedang bersama Rara atau sedang berbohong tentang apa yang dia lakukan. Aku mulai menanyakan hal-hal yang tidak perlu, memeriksanya seperti seorang pengecoh, membuat dia merasa tidak nyaman dan dipermalukan.
Kita tetap berkomunikasi meskipun suasana hati kita sudah tidak seperti dulu. Dito mulai merasa frustasi dengan sikap ku yang selalu curiga dan tidak percaya. Dia bilang bahwa aku terlalu prosesif, suka menuduhnya tanpa bukti yang jelas, suka ngambek dengan hal kecil, dan terlalu mudah merasa cemburu.
“Aku sudah melakukan segala cara untuk membuktikan bahwa cintaku padamu itu tulus Kak. Tapi kamu tidak pernah mau mempercayai aku. Kamu selalu melihat sisi buruk dari setiap hal yang kulakukan. Aku merasa lelah harus selalu membuktikan sesuatu padamu. Apakah cinta kita tidak cukup untuk membuatmu merasa aman?” katanya pada salah satu panggilan kita yang akhirnya berujung pada perdebatan yang panjang dan menyakitkan.
Kata-katanya seperti pedang yang menusuk hatiku. Aku tahu bahwa dia benar – aku memang sudah berubah menjadi orang yang aku sendiri tidak kenal lagi. Tapi aku tidak bisa mengontrol perasaanku. Rasa sakit karena pernah merasa dipermainkan membuatku sulit untuk mempercayai lagi, bahkan pada orang yang aku cintai dengan sepenuh hati.
Pada tanggal 28 Juli – tepat delapan bulan sejak kita resmi menjadi pasangan – aku menerima pesan dari Dito yang membuat dunia ku benar-benar terbalik.
“Sayangku Kak, aku sangat mencintaimu dan sangat berharap kita bisa bersama selamanya. Tapi aku tidak bisa hidup dengan cara seperti ini lagi – selalu diperiksa, selalu dicurigai, selalu dianggap tidak jujur. Aku merasa bahwa hubungan kita sudah tidak sehat lagi bagi kita berdua. Maka dari itu, mungkin yang terbaik adalah kita putus saja. Aku minta maaf jika aku telah menyakitimu. Semoga kamu bisa menemukan orang yang lebih baik dariku, orang yang bisa membuatmu merasa aman dan dicintai seperti yang kamu layakkan dapatkan.”
Setelah itu, aku mencoba untuk membalas pesannya, tapi ternyata dia sudah memblokir semua kontak ku. Aku tidak bisa menghubunginya lagi dengan cara apapun. Seluruh delapan bulan yang penuh dengan kebahagiaan dan cinta tiba-tiba berakhir begitu saja, tanpa ada kesempatan untuk kita berbicara satu terakhir kalinya.
Pada pagi harinya, aku duduk di meja kerjaku yang penuh dengan kamera, lensa, dan buku-buku fotografi. Aku melihat kedua buku album yang aku buat untuknya – buku pertama yang sudah hampir selesai dan buku kedua yang masih belum rampung. Kedua buku itu sekarang terasa seperti kenangan yang menyakitkan tapi juga berharga.
Aku mengambil pena dan mulai menulis catatan di halaman terakhir buku pertama: “Delapan bulan adalah waktu yang cukup singkat dalam hidup seseorang, tapi cukup panjang untuk merasakan cinta yang paling dalam dan rasa sakit yang paling pedih. Terima kasih telah memberiku delapan bulan di atas awan, meskipun akhirnya aku harus turun dengan keras ke bumi.”
Setelah itu, aku menutup kedua buku itu dengan hati yang penuh rasa sakit tapi juga sedikit lega. Mungkin inilah jalan terbaik bagi kita berdua – untuk melupakan masa lalu dan mulai hidup baru masing-masing.
Bulan November akan segera tiba lagi. Mungkin tahun ini kedai buku favoritku akan memiliki buku baru tentang fotografi yang aku bisa baca, atau mungkin aku akan menemukan lokasi pemotretan baru yang indah. Aku tidak tahu. Yang jelas, aku sudah siap untuk menghadapinya dengan hati yang lebih kuat dan pengalaman berharga dari delapan bulan cinta yang pernah aku miliki – cinta yang datang seperti kilat dan pergi seperti kabut pagi, tapi meninggalkan bekas yang tidak akan pernah kuhapuskan.
27Please respect copyright.PENANATgqU1rwLrA


