Malam di pinggiran Kudus terasa seperti pelukan yang terlalu erat. Udara Juni yang lembab menempel di kulit, membawa aroma tanah basah dari hujan sore tadi, bercampur dengan wangi daun mangga yang jatuh di halaman belakang rumah kami. Kipas angin di langit-langit ruang tamu berputar pelan dengan suara “tuk… tuk… tuk…”, seolah-olah mencoba mengusir hawa panas yang tak mau pergi. Lampu neon 10 watt di sudut ruangan memancarkan cahaya kuning pucat, membuat bayang-bayang di dinding kayu tua terlihat lebih panjang dan samar.
5173Please respect copyright.PENANAVMSFloFwT3
Aku, Bayu Pratama, 28 tahun, baru saja memarkir motor bebek di halaman. Mesinnya masih panas, baunya bensin bercampur debu jalan raya Semarang-Kudus yang menempel di baju kerjaku. Hari ini seperti hari-hari sebelumnya: bangun pukul lima, naik motor ke kantor ekspor di Semarang, menghadapi bos yang selalu menuntut lebih, lalu pulang dengan gaji yang rasanya tak pernah cukup untuk menutup semua kebutuhan. Tapi aku tak pernah mengeluh di depan Indah. Istriku tak perlu tahu betapa berat pundakku kadang terasa.
5173Please respect copyright.PENANA5Zp4Y45dUJ
Aku membuka pintu depan yang sudah agak longgar engselnya. Langsung disambut aroma masakan dari dapur belakang. Santan kental, serai, daun salam, dan sedikit cabe rawit yang terpanggang. Aroma itu selalu membuat dadaku hangat. Itu aroma rumah. Aroma Indah.
5173Please respect copyright.PENANA9HxBaJg1KQ
“Bayu? Kamu sudah pulang, sayang?” Suara Indah terdengar dari dapur, lembut dan sedikit lelah, tapi tetap penuh kehangatan.
5173Please respect copyright.PENANA0Li4OELLQn
Aku meletakkan tas kerja di lantai semen yang sudah retak di beberapa tempat, lalu melangkah ke dapur. Indah berdiri di depan kompor minyak tanah, punggungnya menghadapku. Daster katun tipis berwarna biru muda menempel di tubuhnya karena keringat. Rambut hitam panjangnya diikat asal dengan karet gelang, beberapa helai basah menempel di tengkuk dan leher jenjangnya. Saat ia mengaduk sayur lodeh di panci, pinggulnya yang lebar bergoyang pelan mengikuti gerakan tangan. Aku memperhatikan lekuk punggungnya yang mulus, bagaimana kain daster itu sedikit tertarik di bagian pinggang, memperlihatkan bentuk tubuh yang selalu membuatku terpesona sejak pertama kali kami bertemu dua setengah tahun lalu.
5173Please respect copyright.PENANAK4P8C48J6c
Aku mendekat dari belakang, memeluk pinggangnya dengan kedua tangan. Tubuhnya hangat, lembut, dan harum sabun mandi bercampur keringat ringan yang justru membuatnya semakin menggoda. Aku mencium belakang telinganya yang lembab.
5173Please respect copyright.PENANAPutoHLiBWn
“Indah… aku pulang,” bisikku.
5173Please respect copyright.PENANAu330OFAzJe
Indah memiringkan kepala, membiarkan bibirku menyentuh kulitnya yang hangat. Ia tertawa kecil, suara seperti lonceng kecil yang pecah pelan. “Baru jam delapan kurang, sudah rindu? Kerja hari ini bagaimana?”
5173Please respect copyright.PENANAVpza0WnXzY
“Lancar,” jawabku singkat, meski sebenarnya ada masalah dengan surat jalan yang belum beres. Aku tak mau membebaninya. “Kamu masak banyak sekali malam ini.”
5173Please respect copyright.PENANApuQhZlnpeW
“Bapak minta sayur lodeh dan ikan bandeng goreng. Katanya kangen masakan ibu dulu. Aku coba tiru resep yang pernah ibu kasih ke kamu.”
5173Please respect copyright.PENANAJ6owuHx2Q9
Aku mengangguk, daguku masih bersandar di bahunya. Pandanganku jatuh ke tangan Indah yang ramping tapi kuat, jari-jarinya yang lentik memegang sendok kayu. Kukunya pendek dan bersih. Aku ingat betapa tangan itu selalu lembut saat menyentuh tubuhku di malam hari.
5173Please respect copyright.PENANApcRLF0zJ1I
“Kamu capek?” tanyaku.
5173Please respect copyright.PENANAXLJ880Toc7
“Sedikit. Tadi sore angkat ember air dari sumur belakang, pundak pegal. Tapi sudah oke.”
5173Please respect copyright.PENANAm02iz9oZg8
Aku melepaskan pelukan dengan enggan. “Aku mandi dulu. Bau keringat dan debu.”
5173Please respect copyright.PENANA06sJNxfobs
“Ya, cepat. Makan malam sudah hampir siap. Bapak sudah di ruang tamu, nonton berita.”
5173Please respect copyright.PENANAUS3rHqOo6q
Aku berjalan ke kamar mandi kecil di belakang rumah. Air dari ember dingin menyegarkan tubuh yang lelah. Saat menyiram kepala, pikiranku melayang ke tiga bulan terakhir. Sejak ibu meninggal karena kanker payudara yang terlambat terdeteksi, Pak Darmawan—ayah tiriku yang menikahi ibu ketika aku berumur sepuluh tahun—memutuskan tinggal bersama kami. Awalnya karena rumah ini warisan ibu, dan ia tak mau sendirian di rumah tuanya di Demak. Lalu karena kami memang butuh. Gaji ku di kantor ekspor itu pas-pasan. Indah tak bekerja di luar, hanya mengurus rumah. Pak Darmawan punya pensiun guru SMP dan sedikit tabungan. Ia sering memberi uang untuk belanja bulanan, membayar listrik yang kadang telat, bahkan pernah membantu biaya obat ketika Indah demam tinggi bulan lalu.
5173Please respect copyright.PENANAcwZg0AVHfV
Aku bersyukur. Tapi sejak ia pindah ke kamar sebelah kamar tidur kami—kamar kecil dengan ranjang single dan lemari tua—ada yang berubah pelan-pelan di rumah ini. Bukan suasana yang ramai. Bukan. Tapi cara Pak Darmawan memandang Indah. Cara ia tersenyum ketika Indah menyajikan kopi pagi. Cara matanya mengikuti gerakan Indah ketika ia membersihkan rumah. Aku berusaha menyangkal. Ia ayah tiriku. Ia sudah seperti ayah kandung sejak dulu. Tapi… ada sesuatu dalam pandangan itu yang membuat dadaku sesak dan perut bawahku hangat secara bersamaan. Rasa yang tak bisa kusebut namanya.
5173Please respect copyright.PENANA4lFaFjS3S9
Setelah mandi, aku pakai kaos oblong putih yang agak kusam dan celana pendek katun. Aku keluar ke ruang tamu.
5173Please respect copyright.PENANAUV7QZNj3vt
Pak Darmawan duduk di sofa tua yang sudah agak penyok di tengah. Televisi kecil menyala, menampilkan berita politik yang tak pernah selesai. Ia pria 52 tahun, tinggi 178 cm, bahu masih lebar meski perutnya mulai buncit. Rambut hitamnya mulai beruban di pelipis, kumis tebal dan rapi, mata tajam di balik kacamata baca murah. Malam ini ia memakai kain sarung cokelat dan singlet putih yang memperlihatkan lengan berotot dan kulit yang agak gelap karena sering membantu di halaman. Kakinya yang besar disilangkan, tangan kanannya memegang remote TV.
5173Please respect copyright.PENANAB1Vs5AEsev
“Bayu, nak. Pulang juga. Mari duduk sini. Berita hari ini ramai soal subsidi BBM lagi,” katanya dengan suara dalam, berwibawa, seperti dulu ketika ia mengajar di SMP.
5173Please respect copyright.PENANArjUxwHKPDL
Aku duduk di kursi kayu di sebelah sofa. “Iya, Bapak. Lalu lintas di Semarang macet parah tadi. Ada demo buruh.”
5173Please respect copyright.PENANA39o2mKBAER
Kami mengobrol sebentar. Pak Darmawan bertanya tentang pekerjaanku, aku jawab singkat tanpa menyebut masalah gaji yang telat. Ia bercerita tentang rencana perbaikan pagar belakang yang sudah miring, dan bagaimana ia ingin menanam cabe rawit di pot-pot bekas. Obrolan biasa. Tapi aku memperhatikan matanya sesekali melirik ke arah dapur, tempat Indah sedang mengatur piring di meja makan.
5173Please respect copyright.PENANAyAB9O9F59Y
Indah muncul membawa piring-piring makan malam. Daster biru mudanya sedikit basah di bagian depan karena percikan minyak goreng. Saat ia membungkuk untuk meletakkan piring di meja, kain daster itu tertarik ke depan, memperlihatkan belahan dada yang dalam dan kulit putih mulus di atas payudaranya yang montok. Aku melihat Pak Darmawan menatap ke sana selama dua detik penuh sebelum kembali menatap TV. Matanya yang tajam itu gelap sebentar, seperti ada sesuatu yang menyala di dalamnya.
5173Please respect copyright.PENANA8mDsVXaB0u
Aku merasa sesuatu di dada. Bukan marah. Bukan cemburu biasa. Tapi ada panas yang naik dari perut bawah ke dada, bercampur dengan rasa bersalah karena aku merasa… excited. Aku mengalihkan pandangan dengan cepat.
5173Please respect copyright.PENANAolP2RVvBDm
“Mari makan, Bapak, Bayu,” kata Indah dengan senyum manis. Pipinya agak kemerahan karena panas kompor.
5173Please respect copyright.PENANAj5bq7fZMvH
Kami pindah ke meja makan kayu kecil di sudut ruang tamu. Indah duduk di sebelahku, Pak Darmawan di seberang. Makan malam dimulai dengan obrolan ringan yang mengalir seperti air sungai di musim kemarau—pelan tapi tak pernah berhenti.
5173Please respect copyright.PENANATrOyOQyWSN
Pak Darmawan mengambil nasi dan sayur lodeh dengan sendok besar. Ia mencicipi, lalu mengangguk puas. “Enak sekali, Nak. Santannya pas, tidak terlalu encer. Cabe rawitnya juga pas pedasnya. Ibu dulu masak sayur lodeh juga enak, tapi kamu lebih jago lagi.”
5173Please respect copyright.PENANAdNMyeZypQp
Indah tersenyum malu, mata hitamnya berbinar menerima pujian itu. “Terima kasih, Bapak. Aku coba ikuti resep ibu yang Bayu ceritakan dulu. Kalau kurang enak, bilang ya.”
5173Please respect copyright.PENANA26TbbyDlAL
“Tidak kurang. Justru pas. Kamu rajin sekali mengurus rumah ini. Bayu beruntung punya istri seperti kamu,” lanjut Pak Darmawan. Suaranya hangat, tapi ada nada yang membuatku menoleh. Ia menatap Indah lebih lama dari biasanya. “Cantik, rajin, dan… tubuhmu sehat. Cocok untuk punya anak banyak nanti.”
5173Please respect copyright.PENANA87Ju9jDceW
Indah tertawa kecil, pipinya semakin merah. “Bapak bisa saja bicara. Kami belum punya rencana anak tahun ini. Keuangan masih…”
5173Please respect copyright.PENANAuC0uCco8aU
“Aku bisa bantu kalau memang waktunya,” potong Pak Darmawan pelan. “Rumah ini kan juga rumahku sekarang. Kalau kalian butuh, bilang saja. Bapak masih kuat bekerja di halaman, bantu jaga rumah ketika Bayu kerja di Semarang.”
5173Please respect copyright.PENANAVqJgEsv5Xn
Aku mengangguk, “Terima kasih, Bapak. Kami bersyukur sekali Bapak mau tinggal di sini.”
5173Please respect copyright.PENANAJPR1o0DBTc
Tapi di dalam hati, ada sesuatu yang bergerak gelisah. Bantuan Pak Darmawan memang meringankan. Tapi setiap kali ia menawarkan “bantu jaga rumah”, aku teringat pada cara ia memandang Indah tadi. Dan cara Indah tersenyum padanya—senyum yang sopan, hormat, tapi ada kehangatan yang biasanya hanya ia berikan padaku.
5173Please respect copyright.PENANAOKzxkwoTuo
Setelah makan, Indah berdiri untuk membersihkan meja. Aku membantu membawa piring ke dapur. Di dapur yang sempit, lampu neon menyala redup, aku memeluk Indah lagi dari belakang saat ia mencuci piring di bak cuci.
5173Please respect copyright.PENANA3zRqhbEMBK
“Kamu capek sekali malam ini,” bisikku, tanganku melingkar di perutnya yang rata di balik daster tipis.
5173Please respect copyright.PENANAzxncoA00vf
Indah mengangguk, punggungnya bersandar ke dadaku. “Pundak dan pinggang pegal. Tadi sore aku angkat ember air dua kali karena sumur agak dalam.”
5173Please respect copyright.PENANAoGZXmjALdH
“Kenapa tidak panggil aku?”
5173Please respect copyright.PENANAQY2vVfHrNZ
“Kamu capek kerja. Bapak tadi tawarin bantu, tapi aku malu. Akhirnya aku angkat sendiri.”
5173Please respect copyright.PENANAoiiJyrBXkY
Aku mencium tengkuknya. “Lain kali panggil aku atau Bapak. Jangan sendirian.”
5173Please respect copyright.PENANA6oXGySch4z
Indah memutar badan sedikit, tersenyum. “Iya, sayang.”
5173Please respect copyright.PENANA9qJBk27q8t
Kami kembali ke ruang tamu. TV masih menyala. Pak Darmawan sudah pindah ke kursi goyang di dekat jendela, rokok kretek murah di tangan, asap tipis mengepul pelan.
5173Please respect copyright.PENANADq5QwrBXfZ
Indah duduk di lantai di depan sofa, dekat kakiku. Ia menghela napas panjang. “Aduh, pundakku rasanya mau copot.”
5173Please respect copyright.PENANA5g0c6KpNTT
Pak Darmawan memandangnya dari kursi goyang. Matanya yang tajam meneliti wajah Indah sebentar. “Masih pegal, Nak? Tadi sore Bapak tawarin pijit, kamu tolak. Sekarang biar Bapak bantu. Dulu Bapak biasa pijit ibu ketika beliau pegal masak atau cuci baju. Tangan Bapak masih kuat.”
5173Please respect copyright.PENANAeNUFpjr0if
Indah ragu. Ia menoleh ke aku, mata hitamnya bertanya. “Bayu?”
5173Please respect copyright.PENANAJn9nJ1ZqJY
Aku merasa ada yang mendorongku dari dalam—rasa ingin tahu yang aneh, campuran antara ingin melindungi dan ingin melihat apa yang akan terjadi. “Boleh. Biar Bapak bantu. Kamu kan capek sekali.”
5173Please respect copyright.PENANA0bhEzDrjP3
Indah tersenyum tipis, “Terima kasih, Bapak.”
5173Please respect copyright.PENANAm5CcnTjPml
Ia duduk bersila di lantai, punggung menghadap Pak Darmawan yang masih di kursi goyang. Pak Darmawan menggeser posisi, meletakkan rokok di asbak, lalu tangannya yang besar dan agak kasar—tangan pria yang biasa bekerja di tanah—mulai meremas bahu Indah dengan lembut tapi tegas.
5173Please respect copyright.PENANA9EcRPwZf5J
Aku duduk di kursi kayu, berpura-pura menonton berita politik di TV, tapi seluruh perhatianku tertuju ke sana.
5173Please respect copyright.PENANADvm2TbR8Wx
Tangan Pak Darmawan bergerak pelan dan berirama. Jari-jarinya yang tebal menekan otot bahu Indah, lalu naik ke tengkuk, ibu jarinya memutar pelan di titik-titik tegang. Indah menutup mata, kepalanya sedikit miring ke belakang. Bibirnya yang penuh sedikit terbuka. Napasnya keluar pelan melalui hidung.
5173Please respect copyright.PENANAwdR63Kahtx
“Ah… di sana, Bapak… enak,” katanya dengan suara agak parau, hampir seperti desahan.
5173Please respect copyright.PENANAaFlzPaSDDd
Pak Darmawan tidak menjawab. Ia terus memijat, tangannya turun sedikit ke punggung atas Indah. Daster tipis itu tertarik mengikuti gerakan tangan, memperlihatkan bentuk payudara Indah yang montok dari samping. Aku melihat bayangannya di balik kain—bulat, penuh, dan sedikit bergoyang setiap kali Pak Darmawan menekan bahunya. Putingnya tampak sedikit mengeras, menonjol pelan di balik daster.
5173Please respect copyright.PENANAwYSnRQYloj
Indah membungkuk sedikit ke depan agar Pak Darmawan bisa menjangkau punggungnya lebih baik. Dari posisiku, aku bisa melihat lekuk pinggulnya yang bulat dan kenyal di balik daster, serta sedikit paha mulus yang terbuka dari belahan kain. Kulitnya putih mulus, sedikit berkilau karena keringat ringan.
5173Please respect copyright.PENANAHkjsKaLup7
Tangan Pak Darmawan terus bergerak. Sekarang ke pinggang, jari-jarinya menekan sisi tubuh Indah dengan tekanan yang lebih dalam. Indah menggigit bibir bawahnya, matanya masih tertutup, tapi aku melihat bulu kuduknya berdiri. Tubuhnya sedikit bergoyang mengikuti ritme pijatan.
5173Please respect copyright.PENANApkMSzRortE
“Di situ… agak sakit tapi enak, Bapak,” bisik Indah.
5173Please respect copyright.PENANA8k5FU9TsCl
Pak Darmawan mengangguk pelan. Suaranya dalam dan pelan. “Ya, Nak. Biarkan Bapak urut. Kamu tegang sekali. Mungkin banyak pikiran atau kerja keras di rumah. Bayu, kamu harus perhatikan istri lebih banyak. Jangan biarkan dia capek sendiri.”
5173Please respect copyright.PENANAUCJrMLbJpf
Aku mengangguk kaku. “Iya, Bapak.”
5173Please respect copyright.PENANAk4wX1OPcQd
Tapi mataku tak bisa lepas dari tangan itu. Sekarang Pak Darmawan memijat pinggang Indah, jari-jarinya hampir menyentuh sisi payudaranya dari belakang. Indah mendesah pelan lagi, “Hhh…” Suara itu kecil, tapi jelas terdengar di ruangan yang hanya diisi suara kipas angin dan TV yang volume-nya rendah.
5173Please respect copyright.PENANAanncL1IXxQ
Aku merasa darah mengalir deras ke selangkangan. Ereksiku tumbuh perlahan di balik celana pendek, keras dan panas. Aku merasa malu, cemburu, dan… excited secara bersamaan. Ini ayah tiriku. Ini istriku yang sedang dipijat seperti anak kecil. Tapi mengapa melihat tangan kasar itu di tubuh Indah membuatku merasa seperti ada api kecil yang menyala di dada dan turun ke bawah?
5173Please respect copyright.PENANAnkKUAlfW0K
Pijatan berlanjut hampir dua puluh menit. Pak Darmawan tidak terburu-buru. Ia bekerja dengan sabar, kadang bertanya “Di sini enak, Nak?” atau “Lebih keras atau pelan?” Indah menjawab dengan suara pelan, kadang hanya desahan atau anggukan kepala. Tubuhnya semakin rileks, tapi ada ketegangan lain di wajahnya—bibirnya sering digigit, napasnya tidak lagi teratur.
5173Please respect copyright.PENANAxqtgUPjzQF
Akhirnya Pak Darmawan berhenti. Tangan besarnya menepuk pelan bahu Indah. “Sudah cukup untuk malam ini. Nanti kalau lagi pegal, panggil Bapak saja. Bapak senang bisa membantu.”
5173Please respect copyright.PENANADbobeCsGhZ
Indah membuka mata pelan. Wajahnya merona merah, pipi dan lehernya agak basah oleh keringat tipis. Ia berdiri dengan agak goyah, dasternya kusut di bagian bahu dan pinggang. “Terima kasih banyak, Bapak. Rasanya… jauh lebih enak.”
5173Please respect copyright.PENANACBnN8zmzUH
Ia menoleh ke aku, senyumnya sedikit malu. “Bayu, kamu mau dipijit juga?”
5173Please respect copyright.PENANAhOlthj5NW2
Aku menggeleng cepat. “Tidak usah. Aku… tidak pegal.”
5173Please respect copyright.PENANAPOCga9di5x
Sebenarnya aku takut jika Indah menyentuhku sekarang, ia akan merasakan ereksiku yang masih keras.
5173Please respect copyright.PENANAHP8Dwpcc0N
Indah mengangguk, lalu berjalan ke dapur untuk mencuci piring yang tersisa. Punggungnya yang indah menghilang di balik dinding pembatas.
5173Please respect copyright.PENANABDV1H8EkYb
Pak Darmawan berdiri dari kursi goyang, meregangkan badan. Tulang-tulangnya berderak pelan. Ia mengambil rokok kretek lagi, menyalakannya dengan korek api murah. Asap tipis mengepul, aroma cengkeh menyebar di ruangan.
5173Please respect copyright.PENANAzAlwJRmB6Z
“Kamu istirahat dulu, Nak,” katanya padaku. “Besok pagi Bapak mau bantu perbaiki pagar belakang sebelum kamu berangkat kerja. Biar tidak miring lagi.”
5173Please respect copyright.PENANAwV5b4pgklL
“Iya, Bapak. Terima kasih.”
5173Please respect copyright.PENANAmRvEDmi5Jl
Pak Darmawan mengangguk, lalu berjalan ke kamarnya di sebelah. Pintunya tertutup pelan, tapi tidak sampai rapat. Cahaya lampu kecil dari dalam terlihat samar.
5173Please respect copyright.PENANAqn4WPMSYUp
Aku duduk sendirian di ruang tamu beberapa menit. TV masih menyala, tapi aku tak melihat apa-apa. Pikiranku penuh dengan bayangan tangan Pak Darmawan di bahu Indah, desahan pelan Indah, dan ereksiku yang tak mau reda. Aku merasa seperti orang asing di tubuh sendiri. Aku mencintai Indah. Kami punya kehidupan seks yang baik—dia selalu hangat, responsif, dan penuh kasih sayang. Tapi malam ini… ada sesuatu yang terbuka. Sesuatu yang gelap dan manis sekaligus.
5173Please respect copyright.PENANA67OPNfKjSa
Aku bangun, berjalan pelan ke dapur. Indah masih mencuci piring, air keran mengalir pelan. Aku mendekat, memeluknya dari belakang, mencium lehernya yang masih agak basah.
5173Please respect copyright.PENANAmAEfcbpZU7
“Kamu sudah selesai?” tanyaku pelan.
5173Please respect copyright.PENANACurrawl4VV
“Sebentar lagi,” jawabnya. Ia memutar badan, memelukku singkat. “Kamu kenapa? Wajahmu tegang.”
5173Please respect copyright.PENANAagn5Td9pZn
“Aku… tidak apa-apa. Hanya lelah.”
5173Please respect copyright.PENANAug5396LFIx
Indah menatapku sebentar, seolah ingin bertanya lebih dalam, tapi ia hanya tersenyum dan mencium pipiku. “Yuk tidur. Besok kamu harus bangun pagi.”
5173Please respect copyright.PENANAUWW0L4cTm6
Kami berjalan ke kamar tidur kami. Kamar kecil dengan ranjang double kayu jati tua, lemari pakaian yang sudah agak retak, dan jendela kecil yang menghadap halaman belakang. Aku berbaring di sisi kiriku, Indah di kanan. Ia mematikan lampu meja. Hanya cahaya remang dari lampu jalan di luar yang masuk melalui jendela.
5173Please respect copyright.PENANAVEFkz3BijX
Indah memelukku dari belakang, dadanya yang hangat dan montok menempel di punggungku. Aku merasakan napasnya yang pelan di tengkuk. Biasanya aku akan memutar badan, menciumnya, dan kami akan berhubungan intim pelan sebelum tidur. Tapi malam ini aku hanya memeluk tangannya yang melingkar di perutku. Ereksiku masih ada, tapi aku tak bergerak. Aku takut jika aku menyentuhnya sekarang, pikiranku akan kembali ke bayangan Pak Darmawan.
5173Please respect copyright.PENANAQwbgkHTiie
Indah tertidur duluan. Napasnya menjadi teratur dan dalam. Aku tetap terjaga. Jantungku berdetak agak kencang. Aku memikirkan pijatan tadi. Cara Indah mendesah. Cara tubuhnya merespons tangan Pak Darmawan. Cara Pak Darmawan menatapnya.
5173Please respect copyright.PENANAbtuFtz0aq1
Aku bangun pelan dari ranjang, berjalan keluar kamar tanpa sepatu. Aku haus. Aku ingin minum air dari dispenser di ruang tamu.
5173Please respect copyright.PENANAeKrI5pEUit
Saat melewati koridor sempit menuju ruang tamu, aku melihat cahaya remang dari kamar Pak Darmawan. Pintunya tidak tertutup rapat—ada celah sekitar lima senti. Aku mendengar suara pelan dari dalam. Bukan TV. Bukan radio. Suara napas yang agak berat, dan… bisikan pelan yang tak jelas.
5173Please respect copyright.PENANAJbmf2IvBfE
Aku berhenti di depan pintu tanpa sadar. Aku tak berniat mengintip. Tapi kaki-ku seperti tak mau bergerak. Aku mendengar suara Pak Darmawan—suara dalamnya yang berwibawa—berbisik pelan, hampir tak terdengar.
5173Please respect copyright.PENANAvr3Mjvjxhx
“…Indah… Nak…”
5173Please respect copyright.PENANAnVraLIOcih
Hanya itu. Dua kata. Tapi cukup untuk membuat darahku mengalir deras lagi. Aku mundur cepat, jantung berdegup seperti mau copot. Aku kembali ke kamar dengan langkah hati-hati, berbaring lagi di samping Indah yang masih tidur pulas.
5173Please respect copyright.PENANAN1grA6yoCi
Aku memeluk istrinya lebih erat. Tubuhku panas. Pikiranku kacau. Apa yang baru saja kudengar? Hanya nama Indah. Mungkin Pak Darmawan hanya bermimpi. Mungkin hanya mengingat ibu. Tapi… mengapa suaranya seperti itu? Mengapa ada nada rindu dan hasrat di dalamnya?
5173Please respect copyright.PENANAE4BpQDpj5q
Aku menatap langit-langit kamar yang gelap. Di luar, suara jangkrik dan anjing tetangga terdengar samar. Di dalam dadaku, ada pertanyaan yang tak bisa kujawab.
5173Please respect copyright.PENANAYuSC0Jx4Br
Apa yang sedang terjadi dengan keluarga kami?
5173Please respect copyright.PENANA4iANI0D4pF
Dan mengapa, di lubuk hati yang paling gelap, aku merasa ada bagian dari diriku yang… tidak ingin menghentikannya?
5173Please respect copyright.PENANAffASmje4vk
Keesokan paginya, cahaya matahari Juni yang lembut menyusup melalui celah gorden tipis kamar tidur kami. Jam dinding tua menunjukkan pukul 05.40. Udara masih sejuk, tapi sudah membawa aroma tanah basah dan daun mangga yang jatuh di halaman belakang. Aku terbangun lebih cepat dari biasanya. Tidurku semalam gelisah. Setiap kali mataku terpejam, muncul bayangan tangan besar Pak Darmawan di bahu Indah, desahan pelan istriku, dan bisikan namanya dari kamar sebelah.
5173Please respect copyright.PENANA4RzA22S2id
Indah masih tidur di sampingku. Tubuhnya menghadap ke arahku, daster biru muda yang dipakainya semalam naik sampai pertengahan paha jenjang. Kulit mulus pahanya terlihat jelas di cahaya pagi. Rambut hitam panjangnya tersebar acak di bantal, beberapa helai menempel di pipi dan leher. Dasternya agak longgar di bagian dada, memperlihatkan belahan payudara montok yang naik turun pelan mengikuti napas. Putingnya samar terlihat menonjol di balik kain tipis karena udara pagi yang dingin.
5173Please respect copyright.PENANAahGNcPHEKH
Aku menatapnya lama. Dada terasa sesak. Aku mencintai perempuan ini. Kami menikah dua tahun lalu dengan penuh harapan. Tapi sejak Pak Darmawan tinggal di rumah ini, sesuatu yang gelap mulai tumbuh di antara kami. Aku mendekat pelan, mencium dahi Indah yang hangat. Indah bergeser, membuka mata hitamnya yang masih mengantuk.
5173Please respect copyright.PENANApzbSsiCwaJ
“Bayu… sudah pagi ya?” suaranya serak manis.
5173Please respect copyright.PENANA5JMCzmRm2k
“Iya. Aku harus berangkat lebih awal. Ada meeting penting pukul delapan.”
5173Please respect copyright.PENANAVvJa7M7lXA
Indah mengangguk pelan. Ia memeluk pinggangku sebentar, payudaranya yang hangat dan montok menempel di dadaku. Aku merasakan kelembutan itu, tapi pikiranku tidak tenang. Aku bangun, pergi ke kamar mandi kecil. Saat air dingin menyiram kepala, aku mencoba menghapus bayangan semalam. Tapi gagal.
5173Please respect copyright.PENANA7tNmmtqAUd
Ketika aku keluar, Indah sudah bangun. Ia mengganti daster dengan yang putih bersih bertabur bunga kecil merah. Kainnya tipis, dan di cahaya pagi yang masuk dari jendela dapur, siluet tubuhnya terlihat jelas: pinggul lebar yang menggoda, pinggang kecil, dan payudara penuh yang bergoyang pelan setiap kali ia bergerak mengaduk nasi goreng sisa semalam. Aku berdiri di ambang pintu dapur, menatap punggungnya. Pinggulnya yang bulat bergoyang pelan saat ia mengaduk. Aku merasa darah mengalir deras ke selangkangan meski otakku menolak.
5173Please respect copyright.PENANAEMnspdpdKz
Pak Darmawan sudah duduk di meja makan ketika kami sarapan. Ia memakai kain sarung dan singlet putih lagi. Rambutnya agak acak, kumisnya rapi. Matanya yang tajam langsung menatap Indah ketika Indah meletakkan piring nasi goreng dan telur mata sapi di depannya.
5173Please respect copyright.PENANAgHG6FVNJFe
“Pagi, Nak,” katanya dengan suara dalam. “Kamu semakin cantik saja setiap pagi. Daster putih ini… cocok sekali di kulit putihmu. Membuat payudaramu terlihat lebih montok.”
5173Please respect copyright.PENANANj8bgrm5fJ
Indah tersenyum sopan, pipinya memerah tipis. “Terima kasih, Bapak. Sarapan sudah siap.”
5173Please respect copyright.PENANApzBBWmuuN3
Kami makan dalam suasana yang tampak biasa, tapi aku merasakan ketegangan tebal di udara. Pak Darmawan memuji masakan Indah dengan berlebihan. Setiap kali Indah mengulurkan tangan untuk mengambil garam atau sendok, Pak Darmawan “tidak sengaja” menyentuh punggung tangan Indah dengan jari-jarinya yang kasar. Indah menarik tangan pelan, tapi tidak berkata apa-apa. Matanya menghindari tatapanku.
5173Please respect copyright.PENANADVZkXdNO5U
Setelah sarapan, Indah berdiri membersihkan meja. Saat ia membungkuk untuk mengambil piring kotor, daster putihnya tertarik ke depan, memperlihatkan belahan dada yang dalam dan kulit putih mulus di atas payudaranya. Pak Darmawan berdiri untuk “membantu”. Tangan besarnya menyentuh pinggang Indah dari belakang, jari-jarinya menekan pelan di sisi tubuh Indah tepat di bawah payudara.
5173Please respect copyright.PENANAN3QcmV0PdU
“Hati-hati, Nak. Lantai dapur licin pagi ini,” katanya dengan senyum tipis.
5173Please respect copyright.PENANA5rINWKWVdL
Indah tersentak pelan. “Iya… Bapak. Terima kasih.”
5173Please respect copyright.PENANAA7dRFKvGcl
Aku melihat semuanya dari kursi. Dadaku terasa seperti ditindih batu. Tapi di balik rasa marah itu, ada panas yang naik dari perut bawah. Aku berdiri cepat.
5173Please respect copyright.PENANA4dBMAEQG6k
“Aku berangkat dulu,” kataku, suaraku agak serak.
5173Please respect copyright.PENANAdKURxOPj0z
Indah mengantar ke pintu depan. Aku memeluknya erat, mencium bibirnya lama. Tangan kananku tanpa sadar meraba pinggulnya yang lebar di balik daster tipis. “Hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa… telepon aku.”
5173Please respect copyright.PENANABNHPdE4IHd
Indah mengangguk. Matanya sedikit gelisah, tapi ia tersenyum. “Iya, sayang. Kamu juga hati-hati di jalan.”
5173Please respect copyright.PENANAB8FHqH6rQI
Aku naik motor bebek, melaju ke jalan raya menuju Semarang. Angin pagi menyapu wajah. Tapi setelah lima belas menit, perasaan tidak enak semakin kuat. Bayangan tangan Pak Darmawan di pinggang Indah tadi terus muncul. Bisikan “Indah…” dari kamar sebelah semalam terngiang. Aku merasa seperti meninggalkan istriku dalam bahaya. Perutku mulas. Aku berpura-pura lupa membawa dokumen meeting yang penting. Aku putar arah motor pulang.
5173Please respect copyright.PENANA0vF15ajl9r
Saat sampai rumah, aku parkir motor agak jauh di balik pohon mangga tetangga. Aku jalan kaki pelan ke pintu belakang yang biasanya tidak dikunci. Jantungku berdetak sangat kencang. Aku masuk diam-diam melalui dapur belakang. Suara pelan terdengar dari ruang tamu.
5173Please respect copyright.PENANADVhTCjiRMu
Aku mengintip dari balik tirai tipis yang memisahkan dapur dan ruang tamu.
5173Please respect copyright.PENANA2VRrFFsQoe
Pak Darmawan berdiri di dekat sofa tua. Tubuh besarnya menjulang di atas Indah. Indah berdiri dengan punggung menempel ke dinding, kedua pergelangan tangannya dijepit di atas kepala oleh tangan besar Pak Darmawan. Tangan satunya lagi meremas payudara Indah melalui daster putih dengan kasar. Indah menoleh ke samping, air mata sudah mengalir di pipi.
5173Please respect copyright.PENANAxCN7bONRKT
“Bapak… tolong… jangan… ini salah… Bayu akan marah…” suara Indah pecah, penuh ketakutan.
5173Please respect copyright.PENANAtqexkJjL2W
Pak Darmawan mendekatkan wajahnya yang kasar ke leher Indah. Suaranya rendah, mengandung ancaman dan hasrat. “Diam, Nak. Kamu sudah menggoda Bapak sejak semalam dengan tubuh montokmu ini. Payudaramu bergoyang-goyang saat dipijat. Vaginamu pasti sudah basah sekarang. Di rumah ini, Bapak adalah kepala keluarga. Istri kamu harus melayani Bapak juga. Bayu harus belajar posisinya.”
5173Please respect copyright.PENANAkkB32A7dhS
Indah menangis lebih keras, berusaha melepaskan tangan. “Tidak… Bapak… aku istri Bayu… jangan lakukan ini…!”
5173Please respect copyright.PENANAlXAkG4baut
Tapi Pak Darmawan tidak peduli. Ia menekan tubuhnya ke Indah, lututnya mendorong paha Indah yang jenjang terbuka paksa. Tangan yang bebas turun ke bawah daster, menyusuri paha mulus Indah, lalu langsung menyentuh vagina Indah tanpa celana dalam. Jari-jarinya yang kasar menggosok klitoris Indah dengan kasar.
5173Please respect copyright.PENANA9bevw5yhh8
Indah menggeliat, “Ahh… jangan… di sana… sakit…!”
5173Please respect copyright.PENANAecAeelMfki
Pak Darmawan tertawa pelan. “Sakit? Tapi basah, Nak. Lihat… jari Bapak sudah licin. Vaginamu mengalir untuk Bapak. Tubuhmu jujur meski mulutmu bohong.”
5173Please respect copyright.PENANAIIXVx37pnZ
Ia menarik daster putih Indah ke bawah dengan kasar sampai robek di bagian dada. Bra sederhana Indah ditarik ke bawah. Payudara Indah yang montok terlepas, bulat penuh, puting cokelat gelap sudah mengeras. Pak Darmawan meremas satu payudara dengan kasar, ibu jarinya menggosok puting yang mengeras sambil memelintirnya. Indah menjerit pelan.
5173Please respect copyright.PENANAog9wzmeYLG
“Payudaramu indah sekali, Nak. Montok, kenyal, dan putingnya sensitif. Bapak suka.”
5173Please respect copyright.PENANAnwjx1pxQlg
Pak Darmawan membungkuk, mulut kasarnya menangkap puting Indah, menghisap keras sambil menggigit pelan. Indah mendesah terpaksa, “Ahh… Bapak… jangan hisap… ahh…!”
5173Please respect copyright.PENANAOesF9699rC
Tangan Pak Darmawan di bawah terus bekerja. Dua jari masuk ke dalam vagina Indah yang basah, memompa pelan tapi dalam. Indah menggeleng kepala, air mata mengalir, tapi pinggulnya sedikit bergerak tak sadar mengikuti gerakan jari. Pak Darmawan menambahkan jari ketiga, ibu jarinya menggosok klitoris dengan ritme cepat.
5173Please respect copyright.PENANA6h4cNXKB3G
Indah mencapai orgasme pertama dengan tubuh bergetar hebat. Kakinya yang jenjang gemetar, vagina meremas jari Pak Darmawan kuat. “Ahhh… Bapak… henti… ahh…!”
5173Please respect copyright.PENANA5rxtl5fNZ1
Pak Darmawan menarik jari-jarinya yang basah berkilau, memperlihatkannya padaku yang masih tersembunyi. “Lihat, Bayu. Istri kamu sudah basah kuyup untuk Bapak. Sekarang giliran kontolnya Bapak.”
5173Please respect copyright.PENANAjsRWXTsXID
Aku membeku di tempat. Aku ingin berteriak, ingin lari ke depan. Tapi kaki-ku seperti tertancap. Dan yang lebih buruk, celana kerjaku sudah sesak. Aku keras melihat istriku diperlakukan seperti itu. Rasa malu dan gairah bercampur menjadi satu.
5173Please respect copyright.PENANAVFK5SyPtGt
Pak Darmawan membuka celananya. Kokonya besar, gelap, urat-urat menonjol tebal, panjangnya jelas lebih besar dari milikku, ujungnya sudah mengeluarkan cairan bening. Ia menggosokkan kepala kokonya yang basah ke vagina Indah yang bengkak dan mengkilap.
5173Please respect copyright.PENANAaCxI7lIIbY
“Terlalu besar… Bapak… sakit… tolong jangan masuk…” Indah menangis, berusaha menutup paha.
5173Please respect copyright.PENANAvbpyMiCM4B
Pak Darmawan mendorong pinggulnya pelan tapi tegas. Kepala kokonya masuk ke dalam vagina Indah. Indah menjerit, “Ahhh… sakit… Bapak… terlalu besar…!”
5173Please respect copyright.PENANAUPIP9Nc2Gx
Pak Darmawan mendorong lebih dalam, inci demi inci, sampai seluruh panjangnya tertelan oleh vagina Indah yang basah. Ia diam sebentar, menikmati kehangatan dan kerapatan Indah. “Ketat sekali. Vaginamu menggenggam Bapak seperti mau memeras. Lihat suamimu, Nak. Bayu sedang melihat dari belakang tirai.”
5173Please respect copyright.PENANAguzjwjzTsX
Aku tersentak. Pak Darmawan tahu aku di sana sejak awal. Ia menoleh ke arahku dengan senyum kemenangan. “Bayu, nak. Keluar saja. Duduk di kursi itu. Lihat baik-baik bagaimana ayah tirimu menggagahi istri kamu. Kalau kamu berani menghalangi, Bapak akan usir kalian berdua dari rumah ini dan hentikan semua bantuan. Pilih: duduk dan tonton, atau pergi sekarang.”
5173Please respect copyright.PENANARlk7CC5MXT
Aku melangkah keluar dari balik tirai dengan kaki gemetar. Aku duduk di kursi kayu di sudut ruang tamu. Indah melihatku, matanya penuh air mata, malu, dan… sesuatu yang lain. “Bayu… maaf… aku tidak mau… ahh…”
5173Please respect copyright.PENANAm82aGDSLcb
Pak Darmawan mulai bergerak. Ia menarik kokonya hampir keluar sampai hanya kepalanya yang tersisa di dalam, lalu mendorong keras dan dalam. Indah mengerang keras, “Ahh… Bapak… dalam… sakit…!”
5173Please respect copyright.PENANAWRUwWJI3G7
Pak Darmawan fuck Indah dengan ritme keras dan dalam. Suara kulit bertemu kulit “plak… plak… plak…” menggema di ruang tamu. Payudara Indah yang montok bergoyang-goyang hebat setiap kali ditabrak. Puting cokelatnya mengeras dan memantul. Vagina Indah basah, suara basah “crot… crot…” terdengar jelas setiap kali Pak Darmawan menarik dan mendorong.
5173Please respect copyright.PENANAbBWnWUxeux
Pak Darmawan berbicara sambil menatap aku. “Lihat, Bayu. Lihat istri kamu. Vaginanya basah mengkilap membungkus kok Bapak. Kamu lihat? Kamu lihat istri kamu lebih suka ayah tirimu?”
5173Please respect copyright.PENANAaAtisYnqnU
Indah menangis, tapi pinggulnya mulai bergerak kecil mengikuti. “Bapak… jangan bilang begitu… Bayu… maaf… ahh…!”
5173Please respect copyright.PENANAyYhmWzAeBf
Pak Darmawan menarik Indah berdiri dengan kasar. Tubuh Indah yang lelah dan gemetar hampir jatuh, tapi tangan besar Pak Darmawan langsung membalikkan badannya dengan paksa. Indah sekarang menghadap sandaran sofa tua yang sudah agak penyok di tengah. Pak Darmawan menekuk punggung Indah ke bawah dengan satu tangan di tengkuknya yang jenjang, memaksa Indah membungkuk dalam-dalam sampai dadanya hampir menyentuh sandaran sofa. Bokong Indah yang bulat, putih mulus, dan kenyal terangkat tinggi ke udara, seperti persembahan yang tak bisa ditolak.
5173Please respect copyright.PENANAmiJbknkQ8n
Daster putih Indah sudah robek di bagian dada dan naik sampai pinggang, sehingga seluruh bokongnya yang montok dan mulus terpapar sepenuhnya. Pak Darmawan berdiri di belakangnya, matanya yang tajam menatap pemandangan itu dengan nafsu gelap. Bokong Indah yang bulat sempurna, pinggulnya yang lebar, dan paha jenjang yang sedikit gemetar karena ketakutan dan sisa orgasme sebelumnya. Di antara bokong itu, vagina Indah yang baru saja difingering terlihat jelas — bibir luarnya yang bengkak dan merah muda mengkilap karena cairan bening yang mengalir deras, klitorisnya yang kecil sudah menonjol, dan lubang vaginanya yang masih sedikit terbuka karena jari-jari Pak Darmawan tadi.
5173Please respect copyright.PENANACXvo4vGKGY
Pak Darmawan mengangkat tangan kanannya yang besar. Telapak tangannya yang kasar dan panas mendarat keras di bokong kanan Indah dengan suara “PLAK!” yang nyaring. Indah menjerit pelan, tubuhnya tersentak ke depan. Jejak merah langsung muncul di kulit putih bokongnya yang kenyal, bentuk telapak tangan Pak Darmawan terlihat jelas.
5173Please respect copyright.PENANAgeNsNscFZ6
“Bokongmu indah sekali, Nak,” kata Pak Darmawan dengan suara rendah dan penuh kepuasan. Tangannya mengusap pelan bekas tamparan itu, merasakan kehangatan kulit Indah yang baru saja terkena. “Bulat, kenyal, dan putih mulus. Bapak suka menamparnya. Setiap kali Bapak tampar, bokongmu ini bergoyang-goyang seperti mau mengundang Bapak masuk lebih dalam.”
5173Please respect copyright.PENANAktiQlR90r1
Indah menangis pelan, suaranya pecah. “Bapak… sakit… tolong jangan tampar lagi… ahh…”
5173Please respect copyright.PENANAgRmq3C5TCJ
Pak Darmawan tidak peduli. Ia mengangkat tangan lagi dan menampar bokong kiri Indah dengan kekuatan yang sama. “PLAK!” Indah kembali menjerit, bokongnya bergoyang hebat karena benturan. Dua jejak merah kini menghiasi bokong putih Indah yang sempurna. Pak Darmawan mengusap kedua bekas tamparan itu dengan telapak tangannya yang besar, meremas bokong Indah dengan kasar, jari-jarinya masuk ke celah bokong dan menyentuh anus Indah yang masih perawan sentuhan.
5173Please respect copyright.PENANAHereZ6Sd92
“Lihat, Bayu,” kata Pak Darmawan sambil menoleh ke arahku yang duduk kaku di kursi kayu. “Lihat bokong istri kamu ini. Cantik, bukan? Dan sekarang sudah penuh dengan tanda tangan Bapak. Kamu lihat bagaimana bokongnya bergoyang setiap kali Bapak tampar? Kamu suka melihat ini, Bayu? Kontolmu pasti sudah keras di dalam celana sekarang.”
5173Please respect copyright.PENANAqHYH2Il5eP
Aku tidak bisa menjawab. Celana kerjaku memang sudah sesak dan sakit. Aku melihat segalanya dengan jelas. Aku melihat bagaimana bokong Indah yang biasanya hanya aku yang sentuh sekarang penuh dengan jejak merah tangan ayah tiriku. Aku melihat vagina Indah yang basah mengkilap di bawah bokong itu, cairan bening mengalir pelan ke paha dalam Indah yang jenjang. Aku merasa malu yang luar biasa, tapi juga panas yang tak bisa kusangkal.
5173Please respect copyright.PENANA0FuJSPcWas
Pak Darmawan menggenggam kokonya yang besar, gelap, dan penuh urat dengan tangan kanannya. Ia menggosokkan kepala kokonya yang basah dan mengkilap ke vagina Indah dari belakang, mengoleskan cairan beningnya ke bibir vagina Indah yang bengkak. Indah menggeliat, mencoba menutup paha, tapi Pak Darmawan menendang pelan kaki Indah lebih lebar dengan lututnya.
5173Please respect copyright.PENANAvgILrx2YdN
“Jangan tutup, Nak. Buka lebar-lebar untuk Bapak.”
5173Please respect copyright.PENANAOUiQkiwAF2
Ia mendorong pinggulnya ke depan dalam satu gerakan keras dan dalam. Kepala kokonya yang besar membelah vagina Indah yang basah dan memaksa masuk sampai ke pangkal dalam satu dorongan. Indah mengerang panjang dan pecah, “Ahhh… Bapak… dalam sekali…! Terlalu… ahh… dalam…!”
5173Please respect copyright.PENANAI35lMSKmGf
Pak Darmawan tidak berhenti. Ia langsung mulai bergerak. Ia menarik kokonya hampir keluar sampai hanya kepalanya yang tersangkut di pintu masuk vagina Indah, lalu mendorong kembali dengan keras sampai ujungnya menyentuh leher rahim Indah. Setiap dorongan membuat bokong Indah yang bulat dan kenyal bergoyang hebat ke depan dan ke belakang. Payudara Indah yang montok dan berat bergantung di bawah tubuhnya yang membungkuk, bergoyang-goyang mengikuti ritme dorongan Pak Darmawan. Puting cokelat Indah yang mengeras kadang menyentuh sandaran sofa yang kasar, menambah sensasi yang membuat Indah mengerang lebih keras.
5173Please respect copyright.PENANAWaHC3RKpyy
“Plak… plak… plak… plak…”
5173Please respect copyright.PENANAmKHCtLlBhM
Suara kulit bertemu kulit menggema di ruang tamu yang sunyi. Setiap kali Pak Darmawan mendorong dalam-dalam, bokong Indah bergoyang seperti ombak, dan jejak merah tamparan tadi semakin terlihat jelas. Vagina Indah yang basah mengeluarkan suara basah “crot… crot… crot…” setiap kali kokonya ditarik dan didorong. Cairan bening Indah mengalir deras, membasahi paha dalam Indah dan menetes ke lantai semen di bawah sofa.
5173Please respect copyright.PENANAEogMrGSSon
Pak Darmawan menggenggam pinggul Indah yang lebar dengan kedua tangannya yang besar. Jari-jarinya masuk ke dalam daging bokong Indah, meremas kuat sambil ia terus fuck Indah dari belakang dengan ritme yang semakin cepat dan dalam.
5173Please respect copyright.PENANA7JeFlnd3Dp
“Vaginamu ketat sekali, Nak,” geram Pak Darmawan sambil terus mendorong. “Menggenggam kok Bapak seperti mau memerasnya. Lihat, Bayu. Lihat bagaimana vagina istri kamu ini membungkus kontol Bapak dengan erat. Kamu lihat? Kamu lihat istri kamu basah kuyup untuk ayah tirimu?”
5173Please respect copyright.PENANAFMXurLOiG3
Indah menangis sambil mengerang. Air matanya menetes ke sandaran sofa. “Bapak… jangan… bilang begitu… Bayu… maaf… ahh… Bapak… dalam… terlalu dalam…!”
5173Please respect copyright.PENANA9pCYPmU0E0
Tapi tubuh Indah mulai berkhianat. Pinggulnya yang lebar sedikit bergerak ke belakang mengikuti dorongan Pak Darmawan. Vagina Indah semakin basah, cairan bening semakin banyak mengalir setiap kali kokonya ditarik keluar. Indah mulai mengerang dengan nada yang berbeda — bukan hanya kesakitan, tapi ada nada kenikmatan yang tak bisa ia sembunyikan.
5173Please respect copyright.PENANAONJle745Ma
Pak Darmawan menyadarinya. Ia tertawa kasar sambil terus fuck Indah dengan dalam. “Kamu mulai suka, Nak? Vaginamu semakin basah. Lihat, mengalir seperti air kencing. Kamu suka difuck dari belakang oleh Bapak, bukan? Kamu suka bokongmu ditampar dan kontol Bapak masuk dalam-dalam seperti ini?”
5173Please respect copyright.PENANA3s05jZbCZA
Indah menggeleng lemah, tapi mulutnya mengeluarkan erangan yang tak bisa ditahan. “Ahh… Bapak… jangan… ahh… enak… tidak… salah ini… ahh…!”
5173Please respect copyright.PENANAGWR8oormDE
Pak Darmawan melepaskan satu tangannya dari pinggul Indah. Tangan kanannya turun ke bawah, jari tengahnya menemukan klitoris Indah yang bengkak dan sensitif. Ia menggosok klitoris Indah dengan ritme cepat sambil kokonya terus menghantam vagina Indah dari belakang. Indah mengerang lebih keras, tubuhnya gemetar hebat.
5173Please respect copyright.PENANAjQculcPXah
“Ahh… Bapak… di sana… jangan gosok… ahh… aku… mau… ahh…!”
5173Please respect copyright.PENANAdqEGn7cqvW
Kelanjutannya ada link di bawah ini


