113Please respect copyright.PENANA9561x2V9zI
Bab 2
113Please respect copyright.PENANASuAoROzIDF
Pagi berikutnya datang dengan hujan deras yang seolah mencerminkan kegelapan hati Grace dan Markus. Mereka berdua hampir tidak tidur semalaman. Grace terus berdoa di kamar tidur, lututnya pegal karena berjam-jam berlutut di lantai dingin, tapi pikirannya terus melayang pada sentuhan Lucius di gereja. Setiap kali ia memejamkan mata, ia merasakan kehangatan jari-jari pria itu di bahu dan pinggangnya, membuat “memek” suci di antara kedua pahanya terasa lembab dan berdenyut pelan. Ia malu pada dirinya sendiri. “Ini godaan iblis,” bisiknya berulang-ulang sambil menangis.
113Please respect copyright.PENANAz0ynXCsZSR
Markus duduk di ruang kerja, membaca Alkitab dengan tangan gemetar. Ia mencoba mencari kekuatan iman, tapi bayangan istrinya disentuh pria lain membuat darahnya mendidih campur sensasi aneh yang membuat “kontol”-nya menegang di balik celana. Ia benci dirinya karena itu. “Tuhan, berikan kami jalan keluar,” gumamnya. Tapi tidak ada jawaban. Hanya ancaman video yang terus menggantung seperti pedang di leher mereka.
113Please respect copyright.PENANAemkd0ASPLd
Siang harinya, sesuai perintah Lucius, mereka mengemudi menuju alamat yang dikirim melalui pesan anonim. Klinik gelap itu berada di pinggiran kota, tersembunyi di balik gedung tua yang tampak seperti rumah sakit terbengkalai. Pintu masuk bawah tanah, diterangi lampu merah samar. Saat mereka masuk, udara terasa dingin dan berbau antiseptik bercampur aroma dupa yang manis-gelap, seperti campuran sperma dan sulfur.
113Please respect copyright.PENANAVJ4ESylzu1
Seorang wanita tinggi berpakaian serba hitam menyambut mereka. Sister Lilith, sekitar 35 tahun, dengan rambut merah menyala, bibir merah gelap, dan mata hijau yang tajam penuh nafsu. Tubuhnya melengkung sempurna, penuh tato samar di leher dan lengan. Ia tersenyum lebar, seperti predator yang melihat mangsa.
113Please respect copyright.PENANAAjM1SVFdTZ
“Selamat datang, Grace yang salehah. Dan Pendeta Markus yang malang,” kata Lilith dengan suara lembut namun penuh kuasa. “Master Lucius sudah menunggu hasil pemeriksaanmu. Ikut aku ke ruang dalam.”
113Please respect copyright.PENANAztwCfdLKKq
Grace menggenggam tangan Markus erat, keringat dingin membasahi telapaknya. Ruang pemeriksaan itu luas, dindingnya hitam dengan simbol-simbol aneh bercahaya samar. Di tengah ada meja pemeriksaan stainless steel yang dingin, lengkap dengan stirrup untuk kaki, tali pengikat, dan berbagai alat medis yang tampak terlalu intim. Ada juga kamera di setiap sudut, merekam segalanya.
113Please respect copyright.PENANAmczjMawbOk
“Tanggalkan semua pakaianmu, Grace,” perintah Lilith sambil memakai sarung tangan lateks hitam. “Kita harus memeriksa setiap inci tubuh suci ini sebelum modifikasi pertama.”
113Please respect copyright.PENANAwi923b7OxK
Grace ragu, pipinya memerah hebat. “Di depan suamiku… dan Anda?”
113Please respect copyright.PENANAizKfw5pVtM
Markus ingin protes, tapi ingatan video membuatnya diam. Ia hanya bisa berdiri di sudut ruangan, wajahnya pucat.
113Please respect copyright.PENANA1XLlF2dwSG
Dengan tangan gemetar, Grace melepas gaun putihnya, lalu bra dan celana dalam. Tubuhnya yang alami terpapar: payudara sedang yang kencang, puting (puting kecil) berwarna pink lembut, pinggang ramping, “memek” yang ditutupi bulu halus rapi, dan bokong yang biasa-biasa saja. Udara dingin klinik membuat kulitnya merinding. Ia merasa sangat rentan, seperti domba di hadapan serigala.
113Please respect copyright.PENANAQzNfsCymkE
Lilith mendekat, matanya menyapu tubuh Grace dengan lapar. “Cantik sekali… tapi akan jauh lebih indah setelah dimodifikasi.” Ia mulai dengan pemeriksaan biasa, tapi sentuhannya sengaja lambat dan sensual. Jari-jari dingin lateks menyentuh leher Grace, turun ke bahu, lalu ke payudara. Lilith meremas pelan kedua buah dada itu, ibu jarinya memutar-mutar “puting” kecil yang langsung mengeras.
113Please respect copyright.PENANA1iUFgLSt5J
“Ahh…” Grace menggigit bibir, menahan erangan. Sensasi dingin dari sarung tangan kontras dengan panas yang muncul di perut bawahnya. Putingnya berdenyut, sensitif sekali. Bau parfum Lilith yang manis-gelap menyeruak ke hidungnya, membuat kepalanya pusing.
113Please respect copyright.PENANAckHsGJp21K
“Payudara ini responsif sekali,” komentar Lilith sambil meremas lebih kuat. “Bayangkan nanti ukurannya J-cup, selalu penuh ASI manis beraroma iblis. Setiap sentuhan akan membuatmu basah.”
113Please respect copyright.PENANAyWPwzz8rqk
Markus mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Ia melihat istrinya gemetar, napasnya cepat, dan “memek” Grace mulai mengkilap sedikit cairan bening. Rasa cemburu bercampur gairah terlarang membuat “kontol”-nya yang normal menegang menyakitkan di dalam celana.
113Please respect copyright.PENANAVuwpaRaB0u
Lilith melanjutkan pemeriksaan ke bawah. Ia menyuruh Grace naik ke meja dan membuka kaki lebar di stirrup. Posisi itu sangat memalukan—semua bagian intim Grace terbuka lebar di bawah lampu terang. Lilith duduk di kursi di antara kedua kaki Grace, wajahnya sangat dekat dengan “memek” yang sudah basah.
113Please respect copyright.PENANAusBQp7LshZ
“Tenang, sayang. Ini hanya pemeriksaan,” bisik Lilith. Jari dinginnya menyentuh bibir luar “memek”, membuka pelan. Bau intim Grace yang manis alami bercampur kelembapan tercium jelas. Lilith mengusap naik-turun, lalu menemukan “ceri” kecil di puncak yang langsung membengkak saat disentuh.
113Please respect copyright.PENANAZdPwp6AyzV
“Oh Tuhan… jangan di situ…” bisik Grace, suaranya bergetar. Kakinya ingin menutup, tapi stirrup menahannya. Sensasi jari Lilith yang ahli membuat getaran listrik menjalar ke tulang punggungnya. Cairan bening mulai mengalir lebih banyak, membasahi meja stainless yang dingin.
113Please respect copyright.PENANAfYruwqTFig
Lilith tertawa pelan. “Lihat ini, Pendeta. Istri salehahmu sudah banjir hanya karena pemeriksaan.” Ia memasukkan satu jari perlahan ke dalam “memek” hangat Grace, merasakan dinding dalam yang sempit dan berdenyut. “Sangat sempit… ototnya kuat. Cocok sekali untuk expandable nanti.”
113Please respect copyright.PENANA2ca6oaTgOg
Grace menggeleng, air mata jatuh ke pipinya. Tapi tubuhnya berkhianat—pinggulnya tanpa sadar bergerak pelan mengikuti gerakan jari Lilith. Suara basah kecil “slurp… slurp” terdengar saat jari keluar-masuk. Rasa penuh dan gesekan membuat “ceri”-nya berdenyut hebat. Bau cairannya sendiri membuatnya semakin malu.
113Please respect copyright.PENANAohfxAQAr8O
Markus tidak tahan lagi. “Cukup! Jangan sakiti dia!”
113Please respect copyright.PENANA1X9zPS88OU
Lilith menoleh, tersenyum sinis. “Ini baru awal, Pendeta. Master Lucius ingin modifikasi payudara pertama hari ini. Suntikan hormon gelap yang akan membuat payudaranya membesar cepat dan memproduksi ASI manis. Tapi sebelum itu, kita harus memastikan tubuhnya siap.”
113Please respect copyright.PENANAoSNR24owPq
Ia menambahkan jari kedua, meregangkan “memek” Grace lebih lebar. Grace menjerit pelan, “Ahh… sakit… tapi… panas…” Sensasi meregang bercampur kenikmatan membuat kepalanya kosong. Ia merasa kakinya gemetar di stirrup, perutnya menegang. Lilith menggunakan ibu jari untuk memutar “ceri” dengan cepat, membuat Grace hampir mencapai puncak.
113Please respect copyright.PENANAnPzVz32fkQ
“Jangan tahan, Grace. Biarkan tubuhmu merasakan berkah iblis,” bisik Lilith di telinga Grace sambil membungkuk. Napas hangatnya menyapu kulit. Grace akhirnya menyerah—tubuhnya kejang hebat, cairan orgasme orgasme pertama menyembur kecil membasahi tangan Lilith. Suara erangannya memenuhi ruangan: “Aaaahhh… ampun…”
113Please respect copyright.PENANAlwdhgH7R6r
Markus melihat semuanya dengan air mata. Ia merasa hancur, tapi “kontol”-nya juga menetes cairan bening di celana.
113Please respect copyright.PENANAkmW3DFRjq6
Lilith menarik jari, menjilat sarung tangan dengan lidahnya. “Rasa manis sekali. Sekarang, suntikan pertama.”
113Please respect copyright.PENANArO8lOeR8ys
Ia mengambil jarum besar berisi cairan hitam mengkilap. Grace melihatnya dengan ketakutan campur antisipasi. Lilith menyuntikkan ke kedua payudara Grace bergantian, rasa dingin menusuk diikuti panas yang menyebar seperti api. Grace menjerit, tubuhnya melengkung. Payudaranya mulai terasa penuh, membengkak perlahan di depan mata.
113Please respect copyright.PENANAdXW6A6sgjt
“Besok pagi sudah terlihat perubahan,” kata Lilith puas. “Dan malam ini, ritual pertama di altar akan menguji hasilnya.”
113Please respect copyright.PENANAJrFhspobkC
Grace terbaring lemas di meja, napasnya tersengal. Payudaranya terasa berat, “puting”-nya lebih sensitif. Ia merasa sudah mulai berubah, imannya retak. Dalam hati, ada bisikan kecil yang menyenangkan: “Ini baru permulaan… dan rasanya… enak.”
113Please respect copyright.PENANA1aRmwWT69V
Markus mendekat, memeluk istrinya yang telanjang. Tapi pelukannya terasa dingin karena rasa bersalah. Lilith meninggalkan mereka sebentar, tapi kamera terus merekam.
113Please respect copyright.PENANAwjX1R1thTH
Di luar klinik, hujan semakin deras. Grace dan Markus pulang dengan hati yang semakin gelap. Grace menyentuh payudaranya yang membengkak di dalam mobil, sensasi panas dan penuh membuatnya menggigit bibir. Malam ini, di altar gereja, ujian pertama akan dimulai. Tubuh salehahnya akan dikotori untuk pertama kali di hadapan suaminya.
113Please respect copyright.PENANAadYGDhb9ga
Sister Lilith menelepon Lucius sambil tersenyum. “Tubuhnya sempurna, Master. Ia akan jadi Pelacur Iblis terbaik.”
113Please respect copyright.PENANA6FRMq58Gqf


