Bab 1
129Please respect copyright.PENANALzAXpIXfoc
Malam itu gereja mewah di pinggir kota terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya lilin di altar utama berkelap-kelip, menerangi patung Yesus yang tergantung di kayu salib besar. Grace Theresia, 26 tahun, berlutut di depan altar dengan tangan terlipat rapi di dada. Gaun putih sederhana yang dikenakannya menutupi tubuh rampingnya dengan sempurna, rambut hitam panjangnya terurai lembut di punggung. Wajahnya cantik, polos, dan penuh kesalehan—mata cokelatnya tertutup rapat saat bibirnya bergerak pelan membaca doa malam.
129Please respect copyright.PENANAQPHtoEjpMv
“Ya Tuhan, lindungilah rumah tangga kami… lindungilah pelayanan suamiku…” bisiknya lembut. Suaranya halus seperti hembusan angin malam. Grace adalah istri ideal bagi seorang pendeta. Selama lima tahun pernikahan, ia selalu mendampingi Markus dengan setia, mengajar sekolah minggu, mengunjungi janda-janda, dan menjaga rumah tangga mereka tetap suci. Tubuhnya yang alami, payudaranya yang sedang, pinggang ramping, dan kulit putih mulus selalu ia jaga agar tidak menjadi godaan bagi siapa pun. Ia malu bahkan jika suaminya melihatnya tanpa busana di kamar tidur.
129Please respect copyright.PENANAJkKtmLQRvl
Tak jauh darinya, Pendeta Markus Lukas, 31 tahun, berdiri di mimbar dengan jubah hitam khas pendeta. Wajahnya tampan, kharismatik, dengan rahang tegas dan senyum yang selalu menenangkan jemaat. Ia sedang memeriksa catatan khotbah besok. Kontolnya yang biasa, ukuran normal, tersembunyi rapi di balik celana. Markus bangga dengan imannya. Ia sering berkhotbah tentang kesucian pernikahan dan perlawanan terhadap godaan dunia.
129Please respect copyright.PENANAsHjz4kTO28
Tiba-tiba, pintu samping gereja berderit pelan. Langkah kaki berat mendekat. Grace membuka mata, tubuhnya menegang. Seorang pria tinggi, 187 cm, berpakaian hitam elegan berdiri di ambang pintu. Rambutnya hitam legam, mata tajam seperti elang, dan tubuhnya penuh tato samar yang terlihat dari kerah kemeja. Master Lucius Black. Ia tersenyum tipis, karismatik namun gelap.
129Please respect copyright.PENANAFqAUikpt6s
“Pendeta Markus… dan istri yang salehah,” sapanya dengan suara dalam yang menggetarkan. “Maaf mengganggu doa malam.”
129Please respect copyright.PENANApwmjU5dVKC
Markus berbalik cepat, wajahnya waspada. “Siapa Anda? Gereja sudah tutup.”
129Please respect copyright.PENANAcJdNuXmxBe
Lucius mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari saku jasnya dan melemparkannya ke arah Markus. Flashdisk itu mendarat di lantai kayu dengan bunyi kecil. “Lihat dulu. Baru kita bicara.”
129Please respect copyright.PENANAsbckzYHyzj
Grace bangkit perlahan, jantungnya berdegup kencang. Ia merasa ada yang tidak beres. Markus memungut flashdisk dan memasukkannya ke laptop di ruang pendeta. Layar menyala. Video mulai diputar.
129Please respect copyright.PENANAQjmmG3Y1KP
Di layar, terlihat Grace—istri salehahnya—dalam situasi yang mustahil. Tubuhnya telanjang, terikat longgar di sebuah ruangan gelap, wajahnya memerah penuh kenikmatan terlarang saat tangan seseorang menyentuhnya. Suara erangannya yang pelan terdengar jelas. “Ahh… jangan…” tapi tubuhnya melengkung minta lebih. Video itu direkam secara diam-diam, sepertinya saat Grace pernah mengikuti acara malam di gereja lama yang ternyata jebakan.
129Please respect copyright.PENANAVOSGAfABuO
Markus wajahnya memucat. “Ini… ini palsu! Grace, katakan ini bukan kamu!”
129Please respect copyright.PENANAvAnNdJGSdz
Grace mendekat, melihat video itu, dan langsung menutup mulutnya. Air mata menggenang di matanya. “Aku… aku tidak ingat… Tuhan, ampuni aku…” Tubuhnya gemetar. Ia benar-benar tidak sadar pernah direkam. Kultus iblis telah memasang kamera tersembunyi bertahun-tahun lalu.
129Please respect copyright.PENANAG9DL3ndoTU
Lucius tertawa pelan, suaranya bergema di gereja suci. Ia melangkah mendekat ke Grace. “Video ini akan dikirim ke seluruh jemaat, media, dan pejabat kota besok pagi jika kalian tidak bekerja sama. Gereja ini akan hancur. Karier pendeta Markus yang suci akan berakhir dalam skandal mesum.”
129Please respect copyright.PENANAokaMYU8v29
Markus jatuh berlutut, tangannya mengepal. “Apa yang Anda inginkan? Uang? Saya akan bayar!”
129Please respect copyright.PENANADFMDc5qNsF
“Bukan uang,” jawab Lucius sambil menatap Grace dari atas ke bawah. Matanya penuh nafsu gelap. “Saya ingin istrinya. Tubuh suci ini… akan menjadi milik kami.”
129Please respect copyright.PENANAvjo8y1ISbK
Grace mundur selangkah, punggungnya menyentuh altar. “Tidak… saya istri pendeta… saya tidak bisa…”
129Please respect copyright.PENANAZng7690PbA
Lucius mengulurkan tangan besarnya dan menyentuh bahu Grace dengan lembut namun penuh kuasa. Jari-jarinya yang hangat menekan kulit halus di balik gaun tipis. Grace merasa getaran aneh menjalar dari titik sentuhan itu ke seluruh tubuhnya. Putingnya (puting kecil) tanpa sadar mengeras di balik kain bra, napasnya menjadi pendek.
129Please respect copyright.PENANAaHadIpYdEl
“Tubuh suci ini akan jadi milik iblis,” bisik Lucius tepat di telinga Grace. Bau maskulin pria itu menyeruak, campuran kayu manis dan sesuatu yang gelap, memabukkan. “Kau akan diselamatkan… gereja ini akan diselamatkan… asal kau menyerahkan diri untuk modifikasi.”
129Please respect copyright.PENANA9IErBhS38B
Grace menggigit bibir bawahnya. Sensasi sentuhan sederhana itu membuat “memek”-nya terasa hangat dan sedikit basah, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sekuat ini. Ia malu, sangat malu. Air mata jatuh di pipinya. “Markus… tolong…”
129Please respect copyright.PENANA2gfs0dC8Pv
Markus hanya bisa diam, wajahnya penuh penderitaan. Ia tahu jika video ini bocor, segalanya berakhir. Jemaat akan meninggalkan gereja, donatur akan mundur, dan ia akan jadi bahan tertawaan.
129Please respect copyright.PENANA6wk7q5ceWe
Lucius tersenyum puas. “Besok malam, kalian datang ke klinik gelap milik kami. Sister Lilith akan memeriksa tubuh Grace. Modifikasi pertama akan dimulai. Payudara yang indah ini… akan menjadi lebih sempurna, penuh berkah iblis.”
129Please respect copyright.PENANAaRtuQMe6Jw
Tangan Lucius turun perlahan ke pinggang Grace, meraba lembut lekuk tubuhnya melalui gaun. Grace menggigil. Sensasi panas menyebar ke perut bawahnya. Ia merasa kakinya lemas, “ceri” kecil di puncak “memek”-nya berdenyut pelan. Bau tubuh Lucius membuat kepalanya pusing. Ia ingin lari, tapi ancaman video itu mengikatnya di tempat.
129Please respect copyright.PENANA05NTGtaXLy
“Bayangkan,” lanjut Lucius dengan suara rendah, “payudara besar yang selalu mengeluarkan ASI manis… bokong yang montok… dan lubang-lubang suci yang siap melayani ritual. Semua demi gereja. Demi suamimu.”
129Please respect copyright.PENANAoiNbIxRrBE
Markus menunduk, tangannya gemetar. Ia merasa kontolnya menegang karena campuran amarah dan rasa aneh yang muncul saat melihat istrinya disentuh pria lain. Rasa itu membuatnya jijik pada dirinya sendiri.
129Please respect copyright.PENANA2hAWsAZVY7
Grace menutup mata, berdoa dalam hati. Tapi doanya terganggu oleh bisikan Lucius yang terus mengalun: “Kau akan menikmatinya, Grace… tubuh salehah ini dirancang untuk dikotori.”
129Please respect copyright.PENANAmJ5KeifiJl
Mereka meninggalkan gereja malam itu dengan hati hancur. Di mobil dalam perjalanan pulang, Grace duduk diam, tangannya memegang dada yang masih terasa hangat bekas sentuhan Lucius. Putingnya masih tegang, dan ada kelembapan kecil di celana dalamnya yang membuatnya malu sekali. Markus mengemudi dengan rahang mengeras, sesekali melirik istrinya dengan tatapan penuh konflik.
129Please respect copyright.PENANAEBm5HX0bLE
Di rumah pendeta yang sederhana, mereka duduk di ruang tamu tanpa kata. Grace akhirnya berbicara pelan, suaranya bergetar. “Kita harus lakukan ini, Markus… untuk gereja… untuk kita.”
129Please respect copyright.PENANAI5TUWTgcsT
Markus mengangguk lemah. “Aku akan lindungi kau sebisa mungkin.” Tapi dalam hatinya, ia sudah merasakan retakan pertama pada imannya.
129Please respect copyright.PENANAFegosZA2wO
Malam itu, Grace mandi lama. Air hangat mengalir di tubuhnya. Saat tangannya tanpa sadar menyentuh payudara, ia membayangkan tangan Lucius yang lebih besar, lebih kuat. Getaran itu datang lagi. Ia menggeleng keras, berusaha mengusir pikiran dosa. Tapi tubuhnya sudah mulai merespons. “memek”-nya terasa penuh dan sensitif. Ia menyentuh pelan, lalu menarik tangan seolah terbakar.
129Please respect copyright.PENANAwibTJPOaCJ
“Ya Tuhan… ampuni hamba-Mu,” bisiknya sambil air mata bercampur air shower.
129Please respect copyright.PENANAIPc8iyV3o8
Sementara itu, di villa pegunungan, Lucius Black tersenyum di depan layar monitor. Ia memutar ulang rekaman kamera tersembunyi di rumah pendeta. Melihat Grace yang gemetar di kamar mandi membuat “kontol”-nya yang besar mengeras. “Segera, Pelacur Iblis… kau akan menjadi milikku sepenuhnya.”
129Please respect copyright.PENANAKiw739rFPq
Malam semakin larut. Angin dingin berhembus melalui jendela gereja yang ditinggalkan kosong. Salib besar di altar seolah menyaksikan awal kehancuran suci yang akan datang. Besok, modifikasi pertama akan dimulai. Dan Grace Theresia, gadis gereja yang salehah, akan melangkah ke dunia gelap yang tak bisa ia bayangkan.
129Please respect copyright.PENANAojQga9Lfys


