Bab 2
886Please respect copyright.PENANAwmRvbWzmMm
Dua hari setelah pengajian pertama, undangan untuk kajian lanjutan datang lagi ke rumah Syarah. Kali ini Habib Zain sendiri yang mengirim pesan melalui ketua jamaah, mengajak keluarga Syarah dan Laila untuk hadir di pesantren kecil miliknya di pinggir kota. Syarah membaca pesan itu berulang kali sambil duduk di ruang tamu, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya panggilan ilmu agama biasa, tapi tatapan tajam Habib malam itu masih membekas di benaknya seperti bara api yang tak kunjung padam.
886Please respect copyright.PENANAExizTwMlVv
“Sayang, kita datang ya malam ini?” tanya Syarah pada Irfan saat suaminya pulang kerja. Suaranya lembut seperti biasa, tapi ada getaran halus yang tak disadari Irfan.
886Please respect copyright.PENANAo78iAHMkL7
Irfan mengangguk sambil melepas sepatu. “Tentu, Habib Zain orang penting. Siapa tahu ada berkahnya buat kita.” Ia mendekat, memeluk pinggang istrinya dari belakang. Tangan kasar karyawan swasta itu meraba lembut perut rata Syarah, naik pelan ke arah payudara montok yang tersembunyi di balik gamis rumah. “Kamu hari ini kelihatan lebih cantik. Apa karena pengajian kemarin?”
886Please respect copyright.PENANADIZa8U4PNV
Syarah tersenyum tipis, tapi tubuhnya bereaksi berbeda. Sentuhan Irfan terasa biasa, hangat tapi tak membakar. Bayangan tangan tegap Habib yang memegang tangannya dua malam lalu malah membuat putingnya mengeras pelan. Ia menggeleng dalam hati, berusaha mengusir pikiran terlarang itu. “Mungkin karena cuaca dingin. Ayo mandi dulu, nanti kita jemput Laila.”
886Please respect copyright.PENANAkRJS5OL3Om
Malam itu, ketiganya tiba di pesantren Habib saat maghrib baru saja usai. Bangunan pesantren sederhana namun megah dengan aula besar yang sudah penuh jamaah. Syarah dan Laila duduk di barisan depan bagian wanita lagi, tepat di bawah mimbar. Kali ini Syarah memilih gamis yang sedikit lebih pas di tubuh, meski masih syar’i, sehingga garis pinggul lebar dan payudara E-cupnya terlihat lebih jelas saat ia bernapas.
886Please respect copyright.PENANAySaEiV3gAV
Habib Zain naik ke mimbar dengan langkah mantap. Tubuhnya tegap, jubah putihnya menonjolkan dada bidang dan lengan kuat. Suaranya yang dalam dan penuh wibawa langsung memenuhi ruangan saat membahas tema “Ujian Nafsu dan Takdir Pernikahan”. Matanya kembali menemukan Syarah. Tatapan itu lebih lama, lebih intens. Syarah merasa kulit kuning langsatnya panas, seperti disentuh sinar matahari langsung. Ia menunduk, tapi telinganya terus mendengar setiap kata Habib seolah ditujukan padanya.
886Please respect copyright.PENANAuGHpg4WIg3
“...kadang Allah mengirimkan ujian dalam bentuk kenikmatan yang tak terduga. Istri salehah harus bisa membedakan mana yang haq dan mana yang hanya godaan,” kata Habib, suaranya menggema. Saat mengucapkan itu, matanya tertuju tepat ke arah dada Syarah yang naik-turun karena napasnya yang mulai tak teratur.
886Please respect copyright.PENANAxPMKQosU1m
Laila di sampingnya berbisik pelan, “Umi Syarah, Habib Zain lagi-lagi lihat ke sini. Kamu kenal beliau sebelumnya?”
886Please respect copyright.PENANAxttY4ro1cj
“Tidak, Laila. Jangan berpikir aneh-aneh,” jawab Syarah cepat, tapi pipinya memerah. Di antara kedua pahanya, ada kelembapan hangat yang mulai muncul tanpa izin. Tubuh sensitifnya yang mudah terangsang ini mulai berkhianat. Ia menekan paha rapat-rapat, berusaha fokus pada ayat-ayat yang dibacakan, tapi aroma maskulin samar dari arah mimbar seolah menyeruak ke hidungnya.
886Please respect copyright.PENANAI7bAFYTREL
Setelah pengajian selesai, jamaah berkerumun. Habib turun dan kali ini langsung mendekati kelompok Syarah. Ia menyapa Irfan dengan ramah, tapi tatapannya sering beralih ke Syarah. Saat bersalaman, tangan Habib lagi-lagi memegang tangan Syarah lebih lama. Jempolnya mengusap punggung tangan wanita itu pelan, gerakan kecil yang tak terlihat orang lain tapi cukup membuat Syarah gemetar.
886Please respect copyright.PENANAuVswyGpYAH
“MasyaAllah, Ummi Syarah. Kulitmu bersih sekali, seperti bidadari yang dijaga imannya. Semoga suamimu bisa menjaga amanah ini dengan baik,” kata Habib dengan suara rendah, hampir berbisik. Napas hangatnya menyentuh telinga Syarah sebentar, membuat bulu kuduknya berdiri. Payudaranya terasa penuh dan berat, putingnya mengeras menyakitkan di balik bra.
886Please respect copyright.PENANAMvL5QL0nBo
Syarah hanya bisa mengangguk, suaranya hampir hilang. “Terima kasih, Habib. Kami mohon doanya.”
886Please respect copyright.PENANAxGbvlhXm1Y
Irfan berdiri di samping, tersenyum hormat tapi ada kegelisahan kecil di matanya. Ia merasa tak nyaman dengan kedekatan itu, tapi tak berani berkata apa-apa. Siapa dia dibanding tokoh agama sekaliber Habib Zain?
886Please respect copyright.PENANAFBzEO863L7
Malam itu, setelah pulang, Laila menginap di rumah Syarah seperti biasa. Mereka bertiga makan malam bersama, lalu Laila dan Syarah mengobrol di kamar tamu sambil Irfan menonton TV di ruang tamu. Laila duduk dekat, tangannya memegang lengan Syarah.
886Please respect copyright.PENANAeoYYUOqriP
“Umi, jujur deh... Habib Zain tatapannya beda banget ke kamu. Kayak ada api gitu. Kamu nggak merasa apa-apa?” tanya Laila dengan mata berbinar penasaran.
886Please respect copyright.PENANAvCKEBK8iPU
Syarah menghela napas panjang. “Laila, beliau tokoh agama. Kita harus jaga hati. Tapi... ya, tatapannya memang kuat. Aku merasa... aneh. Seperti ada tarikan yang nggak bisa dijelaskan.” Ia tak menceritakan detail kelembapan di memeknya atau bagaimana fantasi singkat tentang tangan Habib meremas payudaranya muncul tadi di mobil.
886Please respect copyright.PENANAbq52lFKPqB
Laila tertawa kecil, pipinya merona. “Kalau aku sih, penasaran. Beliau ganteng, tegap, dan ilmunya dalam. Bayangin kalau... ah, nggak. Kita istri salehah kok.”
886Please respect copyright.PENANAYgJr8BKDqd
Obrolan mereka berlanjut hingga larut, penuh tawa dan bisik-bisik rahasia gadis-gadis. Tapi di dalam hati Syarah, benih ketertarikan itu tumbuh semakin subur. Tubuhnya terasa hidup, sensitif terhadap setiap hembusan angin yang menyentuh kulit lehernya.
886Please respect copyright.PENANA7f096N1Uk2
Ketika Laila sudah tidur, Syarah kembali ke kamar utama. Irfan sudah menunggu di ranjang, tubuhnya telanjang di balik selimut. Ia menarik Syarah lembut, mencium bibir istrinya dengan penuh kasih. “Malam ini aku ingin kasih kamu kenikmatan, Sayang,” bisik Irfan.
886Please respect copyright.PENANAiTaIwimOp3
Syarah membalas ciuman itu, membiarkan gamisnya dilepas. Tubuh montoknya terpapar: payudara E-cup yang indah dengan puting cokelat muda yang sudah mengeras, perut rata, pinggul lebar, dan memek mulus yang sudah basah karena godaan sepanjang malam. Irfan menciumi lehernya, turun ke payudara, mengisap puting dengan lembut. Syarah mendesah pelan, tapi dalam pikirannya, ia membayangkan mulut Habib yang lebih kuat, lebih rakus.
886Please respect copyright.PENANAaYq2JV67bi
Irfan masuk ke dalam memek Syarah dengan kontolnya yang biasa saja. Gerakannya ritmis, penuh cinta, tapi tak cukup dalam, tak cukup tebal untuk memuaskan tubuh sensitif Syarah. Syarah berpura-pura mendesah keras, kakinya melingkar di pinggang suaminya, tapi ia merasa kosong. Setiap dorongan Irfan hanya membuatnya semakin membayangkan kontol besar yang mungkin dimiliki Habib. Bau keringat Irfan terasa biasa, sementara aroma maskulin Habib yang samar tadi di pesantren masih melekat di ingatannya.
886Please respect copyright.PENANAnT7ZZHIUOw
“Aaahh... Irfan...” desah Syarah, tapi matanya terpejam membayangkan Habib menindihnya. Tubuhnya mencapai orgasme kecil, tapi jauh dari ledakan yang ia inginkan. Irfan menyemburkan cairannya cepat, lalu ambruk puas di samping istrinya.
886Please respect copyright.PENANA04DyfZLKiG
Syarah terbaring diam, cairan Irfan menetes pelan dari memeknya. Tangan kanannya turun diam-diam, menyentuh klitoris yang masih berdenyut. Hanya dengan beberapa putaran jari sambil mengingat suara Habib, ia mencapai orgasme kedua yang lebih kuat. Tubuhnya gemetar pelan, kaki halusnya mengejang, napasnya tersengal. Air mata kecil menetes di sudut matanya campuran rasa bersalah dan kenikmatan terlarang.
886Please respect copyright.PENANA0btB0HWNFm
“Ya Allah... ampuni aku,” gumamnya pelan sekali.
886Please respect copyright.PENANA0l5Irl38GF
Keesokan paginya, Syarah bangun lebih awal untuk sholat Subuh. Tubuhnya terasa lebih ringan, lebih sensitif. Saat memasak sarapan, Laila membantu di dapur. Mereka berdua mengenakan hijab rumah yang rapi. Laila memeluk Syarah dari belakang sambil tertawa, payudara rampingnya menempel di punggung Syarah.
886Please respect copyright.PENANAeBhyOsHzRE
“Umi, kalau Habib Zain memang serius, bagaimana ya?” goda Laila setengah bercanda.
886Please respect copyright.PENANA3U7eiv0mjY
Syarah tertawa, tapi hatinya gelisah. “Itu tidak mungkin, Laila. Aku sudah punya Irfan.”
886Please respect copyright.PENANA4RDQjCHrLw
Tapi sepanjang hari itu, pesan dari ketua jamaah datang lagi: Habib ingin bertemu keluarga Syarah secara pribadi besok untuk “pembahasan ilmu lebih dalam”. Irfan setuju dengan berat hati, merasa tak enak menolak.
886Please respect copyright.PENANAeFfqwLZYGS
Sore harinya, saat Irfan masih di kantor, Syarah duduk sendirian di kamar. Tanganannya menyentuh payudaranya sendiri melalui kain gamis, meremas pelan. Putingnya langsung mengeras. Ia membayangkan tangan Habib yang besar meremasnya kasar, jari-jarinya yang tebal menekan putingnya. Memeknya basah lagi, cairan bening menetes ke celana dalamnya.
886Please respect copyright.PENANAhYjocDteHG
Ia cepat berwudhu dan sholat Dhuha, memohon kekuatan. Tapi nafsu yang baru terbangun ini sulit dikendalikan. Tubuh montoknya yang selama ini terkendali kini seperti terbakar pelan dari dalam.
886Please respect copyright.PENANA3zULHMmpsa
Malam semakin dekat dengan pertemuan pribadi besok. Syarah merasa takdir mulai berputar lebih cepat. Ia tak tahu bahwa godaan awal ini hanyalah permulaan dari badai kenikmatan yang akan merubah segalanya imannya, pernikahannya, dan tubuh salehahnya yang sempurna.
886Please respect copyright.PENANA8GE9jOeTzk
Di pesantren, Habib Zain tersenyum sendirian di kamar pribadinya, membayangkan tubuh Syarah yang montok akan segera menjadi miliknya. Kontol tebalnya berdenyut pelan di balik sarung, siap untuk merusak dan memuaskan istri salehah itu.
886Please respect copyright.PENANAE33zo3rSMH
886Please respect copyright.PENANA9weW2YEdPm
886Please respect copyright.PENANAdk8QkqLKgO


