Chapter 4. Di Ujung Tanduk
“Terus kita diam saja sampai batas waktu habis?” tanyaku, suaraku lebih tajam dari yang kuinginkan. “Lalu delapan puluh tujuh orang itu kita biarkan kecewa? Bu Rohimah yang sudah menabung dua belas tahun? Pak Hasan yang ingin meninggal di Tanah Suci?”
Rizal duduk di lantai di depanku, kepalanya tertunduk. “Aku takut, Amy. Takut anak-anak kita harus mengunjungi orang tua mereka di penjara. Takut mereka malu punya Umi dan Abi yang dituduh penipu jemaah Umroh.”
Aku meraih tangannya. Tangan itu dingin dan kasar. “Aku juga takut, Mas. Tapi semakin kita tunda, semakin dalam lubang yang kita gali sendiri. Setiap hari kita berbohong kepada jemaah, kepada karyawan, kepada anak-anak kita lewat telepon. Ini bukan lagi soal uang. Ini soal iman kita yang sedang diuji.”
Ia diam lama. Hanya suara hujan yang memenuhi ruangan.
“Kita lapor besok,” katanya akhirnya, suaranya hampir hilang. “Pagi-pagi sekali.”
Tapi besok paginya, Rizal kembali menunda.
“Ada panggilan dari hotel di Madinah. Mereka kasih ultimatum tiga hari lagi. Kalau aku pergi ke polisi sekarang, aku takut tidak sempat mengurus ini-itu…” alibinya kali ini.
Aku tidak lagi menjawab. Aku hanya masuk ke kamar, mengunci pintu, dan menangis tanpa suara. Bukan karena marah padanya. Tapi karena aku melihat diriku sendiri di dalam dirinya—dua orang yang sangat mencintai keluarga ini, tapi semakin lama semakin terpojok oleh ketakutan.
1569Please respect copyright.PENANAcZNTe4ultW
1569Please respect copyright.PENANAfMG6gQwLNW
Malam harinya, Rizal pulang dengan wajah lebih pucat dari biasanya. Ia duduk di meja makan tanpa menyentuh makanan.
“Ada lima jemaah yang datang ke kantor tadi sore,” katanya pelan. “Mereka minta kejelasan. Aku hampir tidak bisa menjawab, Amy. Mereka bilang… kalau sampai keberangkatan dibatalkan, mereka akan bawa kasus ini ke media dan polisi.”
Kami saling pandang. Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.
Aku menggenggam tangannya erat. “Kita tidak bisa lari lagi, Mas. Besok kita ke polisi. Bersama. Kita bawa semua bukti. Kita ceritakan semuanya—tentang Andini, tentang uang, tentang ketakutan kita. Biarlah Allah yang mengatur sisanya.”
Rizal mengangguk pelan. Kali ini matanya tidak menghindar. “Ya. Besok. InsyaAllah.”
Tapi di balik kata-kata itu, aku masih melihat bayangan keraguan. Ketakutan telah mengakar terlalu dalam. Dan tenggat waktu terus bergerak mendekat, seperti pisau yang semakin tajam di leher kami.
Malam itu, untuk kesekian kalinya, aku sujud lama di tengah malam. Air mata jatuh ke sajadah.
“Ya Allah… kami sudah di ujung tanduk. Kalau ini ujian, berikanlah kami kekuatan. Kalau ini jalan untuk mendekatkan kami pada-Mu, maka lapangkanlah dada kami. Jangan biarkan kami jatuh ke dalam dosa karena putus asa. Tunjukkanlah jalan keluar yang Engkau ridhoi…”
Di luar, angin malam bertiup lagi, lebih dingin dari biasanya. Tapi di dalam dada, meski masih kecil dan rapuh, ada secercah keyakinan yang masih bertahan.
Bahwa meski manusia sudah sampai di titik paling gelap, Tuhan tidak pernah kehabisan cahaya.
***
"Mas..." bisik suatu malam saat tenggat waktu makin dekat, suaraku nyaris hilang di tengah kegelapan kamar. "Kalau aku memang mau menerima tawaran itu, demi menyelamatkan semuanya, apa Mas rela? Apa Mas bisa menerima istrinya melakukan hal seperti itu?"
Pertanyaanku menggantung di udara seperti pedang yang siap menebas. Rizal diam. Lama sekali. Detik-detik terasa seperti jam yang berputar di dalam lumpur. Ia menunduk dalam-dalam, tangannya mengepal kuat di pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, seolah sedang menahan badai di dalam dada yang kalau dilepaskan akan menghancurkan seluruh ruangan.
"Aku tidak tahu, Amy," jawabnya akhirnya. Suaranya pecah, serak, dan penuh kepedihan yang tidak bisa disembunyikan oleh laki-laki mana pun. "Aku ingin bilang aku mencintaimu. Bukan hanya sebagai istri, tapi sebagai Aminah yang aku kenal, muslimah yang kuat, yang selalu menjaga diri, yang menjadi teladan bagi anak-anak kita. Tapi bila itu terjadi, aku akan tetap mencintai kamu, Amy. Aku yakin aku akan tetap mencintaimu. Karena kamu melakukannya demi keluarga kita. Demi anak-anak kita."
Ia berhenti sejenak, napasnya berat seperti orang yang baru selesai berlari jauh. "Tapi aku sangat yakin kamu tidak akan melakukan itu. Aku kenal kamu. Aku tahu hatimu. Biarlah kita hadapi ini dengan apa adanya. Kalau harus jatuh, kita jatuh bersama. Dengan cara yang halal."
Air mata kami berdua jatuh bersamaan, seperti bendungan yang akhirnya jebol setelah terlalu lama menahan tekanan dari dua arah. Rizal meraihku dengan tangan gemetar. Kami akhirnya saling berpelukan di lantai kamar yang dingin dan keras itu, dua orang dewasa yang duduk di lantai seperti dua anak kecil yang tidak tahu apa yang harus dilakukan selain berpegangan. Pelukan yang penuh keputusasaan, penuh cinta yang rapuh, penuh ketakutan akan masa depan yang tidak bisa kami baca.
Bau keringat, air mata, dan kesedihan bercampur menjadi satu. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat dan tidak beraturan, sama kacau seperti jantungku sendiri. Tubuhnya yang biasanya hangat kini terasa dingin oleh keringat ketakutan, dan aku mencengkeram punggungnya lebih erat seolah kalau aku melepaskan genggaman ini sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.
Kami menangis lama. Tak ada kata-kata lagi yang keluar karena kata-kata sudah terlalu kecil untuk ruang yang perlu diisi. Hanya isak pelan yang tertahan, hembusan napas yang berat, dan sesekali getaran bahu yang tidak bisa dikendalikan. Hanya pelukan yang bisa sedikit menahan kami agar tidak hancur berkeping-keping malam itu.
Setelah tangis kami sedikit reda, Rizal mengusap punggungku pelan dengan telapak tangannya yang kasar karena kerja keras bertahun-tahun. Ada ketenangan dalam kekasaran telapak tangan itu, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan tapi selalu bisa kurasa.
"Kita sholat malam saja, Amy. Tahajud. Kita minta petunjuk pada Allah. Kita sudah berusaha dengan akal dan tenaga kita. Sekarang saatnya kita serahkan sisanya pada Yang Maha Kuasa."
Aku hanya mengangguk lemah, tak sanggup berkata-kata.
Kami berdua bangkit dengan tubuh lemas, berwudhu bersama dalam diam yang pekat. Air dingin dari keran menyentuh wajahku seperti cambukan kecil yang menyadarkan, setiap tetesnya terasa menyakitkan sekaligus membersihkan dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh logika. Aku berdiri di sajadah usang yang sudah banyak menampung air mata kami berdua selama bertahun-tahun, dan malam ini ia menampung lagi.
Aku mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi, dan air mata kembali mengalir deras bahkan sebelum bibirku mulai bergerak.
Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui kelemahan hamba-Mu ini. Berikanlah jalan keluar yang halal dan penuh berkah. Jangan biarkan aku goyah oleh godaan yang datang dari segala arah. Lindungi keluargaku, lindungi Rizal yang sedang berjuang, lindungi Faisal dan Farhan yang sedang belajar agama di pesantren. Lindungi delapan puluh tujuh jiwa yang mempercayakan mimpi suci mereka kepada kami. Aku lemah, Ya Rabb. Sangat lemah. Ampuni dosa-dosaku, kuatkan imanku, dan jauhkanlah aku dari pilihan-pilihan yang menghancurkan akhiratku.
Doa itu keluar dengan suara parau dan penuh isak yang tertahan. Rizal di sebelahku juga menangis pelan sambil berdoa dengan kata-katanya sendiri yang tidak bisa kudengar tapi bisa kurasa getarannya. Suara amin kami berdua bergema pelan di kamar kecil itu, bercampur dengan suara angin malam di luar jendela yang bergerak tanpa tahu atau peduli dengan apa yang sedang terjadi di dalam.
Setelah sholat tahajud selesai, kami berbaring kembali di tempat tidur. Rizal tertidur lebih dulu karena kelelahan luar biasa yang sudah menyiksa tubuh dan jiwanya berhari-hari. Napasnya pelan dan berat, wajahnya dalam tidur terlihat lebih tua dari usianya tapi juga lebih damai, seperti orang yang akhirnya meletakkan beban yang sudah terlalu lama digendong.
Tapi aku masih terjaga.
Mataku terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang samar-samar mulai terang oleh cahaya fajar yang menyingsing, dan pikiranku, tidak seperti tubuhku yang diam, masih terus bergerak.
Jawaban Rizal tadi masih berputar di kepalaku. Bila itu terjadi, aku akan tetap mencintai kamu, Amy. Karena kamu melakukannya demi keluarga kita.
Aku tahu ia mengucapkannya dengan cinta. Aku tahu di balik kata-kata itu ada seorang suami yang berusaha mengatakan bahwa cintanya tidak bersyarat, bahwa ia tidak akan meninggalkanku dalam kondisi apa pun. Dan bagian terbesar dari diriku menerima itu sebagai sesuatu yang indah.
Tapi ada bagian lain yang tidak bisa diam.
Karena ada perbedaan antara mencintai seseorang meski mereka jatuh, dan secara diam-diam membiarkan ruang untuk kemungkinan kejatuhan itu. Dan aku tidak tahu di mana letak jawaban Rizal di antara dua hal itu. Mungkin ia sendiri tidak tahu.
Aku memejamkan mata, tapi pikiran tidak ikut terpejam.
Besok kami akan pergi ke kantor polisi. Itu keputusan yang sudah kami buat, dan aku tidak akan mundur darinya. Kami akan membawa semua bukti yang ada, semua bukti transfer, catatan percakapan dengan Andini, dokumen perjanjian, semuanya. Kami akan menceritakan apa yang terjadi dengan sejujurnya dan menerima konsekuensinya, apapun bentuknya.
Mungkin mereka akan mempercayai kami. Mungkin tidak.
Mungkin nama kami akan dibersihkan. Mungkin justru sebaliknya.
Tapi yang aku tahu dengan pasti, dengan keyakinan yang anehnya terasa semakin kuat justru di titik yang paling gelap ini, adalah bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dibeli kembali setelah dijual. Kehormatanku adalah salah satunya. Imanku adalah salah satunya. Dan kepercayaan anak-anakku kepada ibu mereka adalah yang paling utama dari semuanya.
Faisal dan Farhan sedang belajar di pesantren untuk menjadi laki-laki yang baik. Mereka sedang belajar bahwa ada hal-hal yang tidak boleh dilakukan meski langit runtuh. Aku tidak bisa menjadi ibu yang mengajarkan itu dengan kata-kata di satu sisi, lalu menghancurkannya dengan perbuatan di sisi lain.
Di luar jendela, langit Jakarta berubah perlahan dari hitam menjadi biru gelap, kemudian ungu, kemudian kuning pucat di cakrawala timur. Adzan subuh belum berkumandang, tapi alam sudah mulai mempersiapkan diri.
Aku berbaring diam, mendengarkan napas Rizal yang teratur di sebelahku, dan untuk pertama kalinya sejak beberapa minggu terakhir aku tidak mencoba memaksa pikiranku untuk menemukan solusi. Aku hanya berbaring, membiarkan keheningan pagi itu menjadi sesuatu yang bisa kusandarkan, dan membiarkan kepercayaan itu, tipis dan rapuh tapi nyata, melakukan pekerjaannya dari dalam.
Tuhan tidak tidur.
Itu saja yang aku pegang malam ini. Bahwa di suatu tempat yang tidak bisa kulihat dari sini, sesuatu sedang bergerak. Sebuah rencana yang lebih besar dari kepanikanku, lebih luas dari keterbatasan pandanganku.
Aku tidak tahu apa itu.
Tapi aku memilih untuk percaya bahwa ada.
Adzan subuh akhirnya berkumandang dari masjid di ujung gang, suaranya memecah keheningan pagi dengan lembut tapi tegas, seperti tangan yang menepuk bahu seseorang yang hampir tertidur di tepi jurang.
Hayya 'alal falah.
Marilah menuju keberuntungan.
Aku bangkit pelan, tidak membangunkan Rizal yang masih terlelap, dan berjalan ke kamar mandi untuk berwudhu. Air dingin menyentuh wajahku untuk kedua kalinya malam ini, dan untuk kedua kalinya pula terasa seperti sebuah permulaan.
***
1569Please respect copyright.PENANACVGvwEVyaP
1569Please respect copyright.PENANA1paOBzdjkc
Saat di kantor, pikiranku melayang tak terkendali.
Tawaran memalukan dari Albert, mantan kekasihku yang muncul kembali seperti hantu dari masa lalu. Tawaran serupa dari Koh Steven, mantan bos Rizal yang tidak pernah kukenal dekat tapi rupanya sudah cukup mengenal keputusasaan kami dari jauh. Lalu senyum licik Andini yang dulu kupercaya seperti saudara sendiri, perempuan yang duduk di meja sebelah selama lima tahun, yang pernah kumintai tolong menjaga anakku ketika aku sakit, yang kini entah di negara mana sedang menghabiskan uang orang-orang yang sudah menabung bertahun-tahun demi menyentuh tanah yang paling suci di muka bumi.
Dan wajah Faisal dan Farhan. Wajah polos yang mungkin malam ini sedang tidur nyenyak di asrama pesantren, mungkin sedang bermimpi tentang hal-hal yang masih sederhana dan bersih seperti usia mereka.
Aku menutup laptop dan mendorong kursi menjauh dari meja. Ruang kerjaku yang kecil terasa semakin sempit, dindingnya seolah bergerak mendekat dengan sangat pelan, tidak terlihat tapi terasa.
Di luar pintu, suara kantor berjalan seperti biasa. Ketik keyboard. Suara telepon. Percakapan ringan antara karyawan yang tidak tahu bahwa atasan mereka sedang duduk di kursinya dengan dada yang hampir tidak sanggup mengembang untuk bernapas.
Aku menarik napas panjang, memaksanya masuk hingga ke bagian paru-paru yang paling dalam, lalu melepasnya perlahan.
Seharusnya pagi ini kami pergi ke kantor polisi.
Tapi Rizal mendapat telepon dari kepala sekolah madrasah tempat ia mengajar, ada masalah yang tidak bisa ditunda, dan ia memintaku untuk menunggu satu hari lagi. Satu hari lagi. Kata-kata yang sudah terlalu sering kami ucapkan kepada diri sendiri selama berminggu-minggu terakhir, seolah satu hari lagi selalu membawa kemungkinan yang kemarin tidak ada.
Aku tidak membantah. Hanya mengangguk dan mengendarai mobilku ke kantor sendirian, membawa semua beban yang tidak bisa ditaruh di kursi penumpang.
Dan kini aku duduk di sini, menatap berkas-berkas yang tidak bisa kuproses, dengan pikiran yang berlari ke segala arah kecuali ke arah yang seharusnya.
Entah berapa lama lagi aku bisa menahan ini.
Kalimat itu muncul di kepala dengan suara yang terasa sangat melelahkan, bukan seperti pertanyaan yang mencari jawaban tapi seperti orang yang sudah berjalan terlalu jauh dan mulai mempertanyakan mengapa ia masih berjalan. Entah berapa lama lagi imanku mampu bertahan di ujian yang begitu berat, yang datang tidak dari satu arah tapi dari semua arah sekaligus, seperti api yang mengepung.
1569Please respect copyright.PENANApv1SjdMzQs
***
1569Please respect copyright.PENANAXpqEkra7cu
1569Please respect copyright.PENANAtVlB1TquCN
Aku duduk di kursi kantor yang sudah terasa seperti penjara kecil, layar ponsel masih menyala di tanganku. Judul berita itu seperti pukulan di dada yang sudah memar:
"Pemilik Travel Umroh di kota Bogor Jadi Tersangka Penggelapan Dana Jemaah, Klaim Ditipu Tak Diterima Polisi"
Mataku membaca ulang paragraf demi paragraf. Pemilik travel itu bilang dia juga korban karyawannya yang kabur membawa uang. Tapi polisi malah menjadikannya tersangka utama. Bukti transfer ada, chat ada, tapi tetap saja. "Sulit membuktikan tidak terlibat," kata kuasa hukumnya dalam wawancara. Jemaah marah, media memberitakan sensasional, keluarganya hancur, rumah disita, anak-anaknya jadi bahan omongan tetangga.
Dua setengah miliar. Delapan puluh tujuh jemaah. Nama baik kami yang sudah bertahun-tahun dibangun.
Tanganku gemetar. Aku mematikan layar ponsel dan menutup mata. Astaghfirullah...
Sepanjang siang, pikiranku seperti badai. Kalau kami lapor polisi hari ini, apa yang akan terjadi? Apakah polisi akan percaya bahwa Andini yang menghilang bersama uang itu? Atau kami berdua yang akan langsung ditetapkan sebagai tersangka? Bukti apa yang cukup kuat? Chat dan transfer bisa dimanipulasi, kata orang. Saksi? Hanya kami berdua.
Aku tidak sanggup membayangkan Faisal dan Farhan mendengar kabar bahwa Umi dan Abi ditangkap karena kasus penggelapan dana Umroh. Aku tidak sanggup melihat Rizal diborgol di depan murid-murid madrasahnya. Aku tidak sanggup menjadi Aminah yang dulu dipandang orang sebagai teladan, lalu menjadi bahan gunjingan seumur hidup.
Sore itu aku pulang lebih awal. Rizal sudah menunggu di ruang tamu, wajahnya lelah tapi penuh harap. Ia pikir hari ini kami akan ke kantor polisi.
"Mas," kataku pelan sambil duduk di sebelahnya. Suaraku serak. "Aku baca berita tadi..."
Aku tunjukkan artikel itu. Rizal membacanya diam-diam. Wajahnya semakin pucat. Kami diam lama sekali. Hanya suara jam dinding yang berdetak seperti hitungan mundur.
"Aku takut, Mas," bisikku akhirnya. "Kalau kita lapor, bisa-bisa kita yang jadi tersangka. Lihat kasus di Bogor itu. Mereka bilang bukti tidak cukup, malah pemiliknya yang dipersalahkan. Kita... kita bisa kehilangan segalanya. Anak-anak..."
Rizal mengusap wajahnya kasar. "Tapi Amy, kalau tidak dilapor, bagaimana kita jelaskan ke jemaah? waktu keberangkatan sudah semakin dekat. Mereka sudah bayar lunas."
"Aku tahu," jawabku, air mata mulai menggenang. "Tapi aku lebih takut kalau kita lapor lalu semuanya berbalik menyerang kita. Aku... aku tidak kuat, Mas. Aku putus asa."
Malam itu kami tidak membahas laporan polisi lagi. Keputusan tak terucap sudah dibuat: kami batalkan dulu. Kami pilih diam. Menunda. Berharap ada keajaiban yang datang sebelum semuanya terlambat.
Tapi diam itu justru terasa seperti racun yang pelan-pelan meresap.
***
Lanjutan update terbaru dan episode terpanjang di https://victie.com/novels/pengorbanan-seorang-istri-solehah
Keesokan harinya, kantor terasa lebih berat. Mbak Siti bertanya lagi soal kabar keberangkatan. Aku tersenyum tipis, mengulang kalimat yang sudah jadi kebohongan rutin: "InsyaAllah sebentar lagi ada kabar baik."
Di dalam ruangan, aku menutup pintu dan berlutut di sajadah. Tangisku pecah tanpa suara.
"Ya Allah... aku lemah. Sangat lemah. Aku takut berbuat benar karena takut dunia ini menghancurkanku. Aku takut menjaga amanah karena takut kehilangan anak-anakku. Ampuni hamba-Mu ini..."
Aku merasa kotor. Bukan karena dosa besar, tapi karena aku, Aminah yang dulu selalu mengajarkan kejujuran dan tawakal, kini memilih jalan diam yang penuh ketakutan. Aku mengkhianati nilai yang selama ini kugenggam erat, bukan dengan perbuatan haram seperti tawaran Albert atau Koh Steven, tapi dengan ketakutan yang membuatku mundur dari kebenaran.
Rizal pulang malam itu dengan bahu semakin bungkuk. Ia bilang beberapa jemaah sudah mulai curiga dan bertanya-tanya di grup. Ada yang mengancam akan melapor sendiri kalau tidak ada kejelasan dalam seminggu.
Kami duduk di teras rumah mungil kami, angin malam Depok kembali menusuk seperti malam-malam sebelumnya.
"Aku putus asa, Mas," kataku jujur. "Aku takut kita sudah terjebak. Kalau kita lapor, kita bisa jadi tersangka. Kalau kita diam, kita tetap akan hancur. Ke mana kita harus lari?"
Rizal meraih tanganku. Genggamannya lemah, tapi masih hangat. "Kita sudah salah langkah dengan menunda laporan, Amy. Tapi... aku juga takut. Aku takut kehilangan kamu, kehilangan anak-anak, kehilangan martabat kita sebagai orang tua mereka."
Kami saling pandang. Dua orang yang lelah, yang imannya sedang diuji bukan hanya oleh godaan harta dan nafsu, tapi juga oleh ketakutan yang sangat manusiawi.
Bersambung
ns216.73.216.69da2


