Chapter 3. Dilema
Marahku mengalir pelan, tidak seperti air bah yang meledak tapi seperti air yang merembes dari dalam tanah, tenang di permukaan tapi tidak bisa dihentikan dari bawah. Aku marah. Aku sangat marah. Bukan dengan cara yang ingin melempar sesuatu atau berteriak di tengah malam, tapi dengan cara yang lebih menyakitkan dari itu. Marah yang diam. Marah yang duduk bersamamu di sofa dan menatap dinding berjam-jam.
Tapi bersamaan dengan itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih lembut dan lebih menyedihkan.
Rasa kasihan.
Kasihan pada Rizal yang sudah sampai di titik semacam itu. Kasihan pada laki-laki yang kukenal sebagai orang yang paling menjaga kehormatannya, yang mengajarkan anak-anak kami tentang halal dan haram dengan telaten, yang tidak pernah sekalipun melewatkan sholat lima waktu bahkan di hari-hari paling sibuk sekalipun, kini terpojok hingga menyampaikan tawaran sehina itu. Entah karena keputusasaan yang sudah melewati batas akal sehat, entah karena ia tidak lagi tahu di mana batas antara mencari jalan keluar dan menjual harga diri.
Ini bukan cerita tentang suami yang jahat.
Ini cerita tentang dua orang yang sangat lelah, yang sangat takut, yang sudah mencoba segalanya dan masih belum menemukan jalan keluar. Dan dalam kelelahan dan ketakutan yang separah itu, manusia bisa memikirkan hal-hal yang tidak akan pernah ia pikirkan dalam keadaan normal. Hal-hal yang memalukan. Hal-hal yang menakutkan. Hal-hal yang kalau ia ucapkan di depan orang lain, ia sendiri tidak akan percaya itu keluar dari mulutnya.
Aku tahu itu karena aku sendiri mengalaminya.
Tapi mengetahui alasannya tidak serta merta membuat rasanya hilang. Aku masih duduk di sofa dengan duri kecil itu di dalam dada, dan duri itu tidak berkurang keperitannya hanya karena aku sudah bisa memberi nama pada sumbernya.
Pikiranku kemudian bergerak ke arah yang tidak terduga.
Delapan belas tahun yang lalu.
Waktu itu aku baru saja memutuskan hubungan dengan Albert karena perbedaan keyakinan yang tidak bisa dijembatani oleh cinta sebesar apa pun. Aku muslimah. Albert penganut Kristen yang taat dengan cara yang tenang dan tidak pernah ia jadikan senjata, tapi juga tidak pernah ia pertimbangkan untuk ditinggalkan. Aku mencintainya dengan tulus, dengan cara yang hanya bisa dimiliki oleh perempuan muda yang belum tahu betapa banyak yang akan terjadi setelah itu. Aku berdoa bertahun-tahun agar ia diberi hidayah. Aku percaya doaku akan dikabulkan karena aku tidak bisa membayangkan Tuhan yang Maha Pengasih membiarkan dua orang yang saling mencintai dipisahkan hanya oleh perbedaan yang bisa berubah.
Tapi doa itu tidak terkabul dengan cara yang aku minta.
Albert tidak bersedia pindah ikut keyakinanku. Ia justru memintaku ikut agamanya, dengan lembut, tanpa paksaan, tapi tetap saja memintaku meninggalkan apa yang paling mendasar dalam diriku. Dan aku yang waktu itu masih muda dan masih sangat mencintainya harus memilih antara dua hal yang sama-sama terasa seperti kehilangan.
Aku memilih imanku.
Dan perpisahan itu menyakiti dengan cara yang tidak pernah benar-benar bisa kuceritakan kepada siapa pun. Berminggu-minggu aku menangis di kamar kos kecil di Depok, meragukan keputusanku di siang hari lalu memperbaruinya lagi di malam hari, berputar dalam lingkaran yang terasa tidak akan pernah selesai.
Dua tahun kemudian, di sebuah acara pengajian yang aku datangi bukan karena semangat melainkan karena tidak tahu harus pergi ke mana lagi, aku bertemu Rizal. Ia bukan Albert. Ia tidak punya karisma yang membuat orang berbalik di jalan. Ia biasa saja, dengan kemeja yang selalu sedikit kusut dan cara tertawa yang terlalu keras untuk situasi yang tidak terlalu lucu. Tapi ia jujur dengan cara yang tidak pernah bisa kusangsikan, dan ia mencintaiku dengan cara yang membuat aku merasa cukup, bukan merasa harus selalu membuktikan sesuatu.
Setahun kemudian kami menikah.
Dan dalam lima belas tahun yang menyusul, meski tidak selalu mudah, tidak selalu mulus, ada masa-masa ketika kami berbicara dengan nada lebih tinggi dari yang seharusnya dan tidur dengan punggung saling membelakangi, aku tidak pernah sekalipun menyesali keputusan yang dulu memilih putus dengan Albert yang sangat aku cintai. Aku telah benar-benar melupakan Albert. Telah benar-benar mencintai Rizal dengan cara yang berbeda dari cinta pertama, lebih dalam, lebih tenang, lebih seperti tanah daripada seperti api.
Tapi cobaan ini datang dan mengguncang segalanya. Aku sangat kecewa dan marah dengan sosok bernama Andini. Begitu tega wanita itu melakukannya.
Cobaan I I sangat berat, sampai-sampai aku yang putus asa itu akhirnya menghubungi Albert kembali, setelah delapan belas tahun, dengan harapan bahwa meski kami telah putus sekian lama tapi waktu tidak akan mengubahnya. Dia akan tetap sebagai Albert yang baik hati. Yang selalu mau membantu dengan ikhlas. Bahwa kenangan tentang kami dulu akan membuatnya berbelas kasih tanpa syarat.
Tapi ternyata aku salah. Albert telah berubah. Dengan posisinya sekarang dia bisa membantu dan mungkin aku bisa mencicil bayar bantuannya. Tapi Albert malah menafaatkan posisi aku untuk hasrat gilanya. Aku sangat kecewa.
Mirisnya dari Rizal, suamiku sendiri, aku mendapatkan tawaran solusi yang sama menjijikannya dengan cara yang berbeda tapi menyakiti lebih dalam karena datang dari orang yang seharusnya menjadi tempatku berlindung.
Aku mengambil ponsel dari meja, membuka aplikasi Al-Quran, dan membiarkan layarnya menyala di depan mataku. Mataku bergerak tanpa tujuan melewati ayat-ayat yang sudah lama kuhafal, sampai berhenti di satu tempat yang malam ini terasa seperti pertama kali kubaca.
"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
Aku membacanya dua kali. Tiga kali. Bukan mencari kenyamanan yang mudah, tapi mencoba meyakini bahwa kalimat itu bukan hiasan dinding. Bahwa ia adalah janji, bukan sekadar penghiburan.
Kemudahan itu di mana?
Aku meletakkan ponsel, bersandar ke sandaran sofa, dan memejamkan mata. Di balik kelopak mataku yang terpejam, wajah-wajah itu muncul bergantian. Rizal dengan air mata pertamanya. Albert dengan suara baritonnya yang masih sama. Bu Rohimah yang sudah menabung dua belas tahun. Pak Hasan dan istrinya yang ingin pergi ke Tanah Suci sebelum salah satu dari mereka lebih dulu dipanggil. Faisal dan Farhan yang tidak tahu apa-apa tentang badai yang sedang menghantam rumah mereka dari jauh.
Terlalu banyak wajah yang bergantung pada keputusan yang aku sendiri tidak tahu bagaimana cara membuatnya.
Aku membuka mata.
Menatap langit-langit ruang tamu yang gelap, pikiranku akhirnya bergerak ke tempat yang seharusnya dari tadi kujadikan tujuan pertama, bukan tempat terakhir setelah semua jalan lain terasa tertutup.
Besok aku harus berbicara dengan Rizal. Bukan dengan kemarahan yang meledak dan menghancurkan apa yang tersisa, bukan dengan tuduhan yang melukai dan tidak bisa ditarik kembali. Tapi dengan kejujuran yang menyakitkan dan diperlukan, kejujuran yang mengatakan bahwa aku tahu apa yang mungkin ada di balik keputusannya menceritakan tawaran itu, dan bahwa meski itu melukaiku, aku memilih untuk tidak menggunakannya sebagai senjata.
Karena kami tidak bisa melalui ini dengan saling menyerang.
Dan karena di dalam hancurnya malam ini, di balik semua kemarahan dan kekecewaan dan keputusasaan yang sudah menumpuk hingga hampir menutupi segalanya, aku masih mencintai laki-laki yang tidur di kamar itu. Laki-laki yang kemeja selalu sedikit kusut. Laki-laki yang tertawanya terlalu keras. Laki-laki yang malam ini sudah sampai di titik paling gelap dalam hidupnya, seperti aku, dan mungkin membutuhkan seseorang yang tidak pergi.
Matahari belum terbit ketika aku akhirnya berdiri dari sofa, mengambil sajadah dari rak kecil di sudut ruang tamu, dan membentangkannya menghadap kiblat. Waktu subuh masih tiga puluh menit lagi, tapi aku ingin memulai hari yang mungkin akan menjadi salah satu hari terberat dalam hidupku dengan cara yang benar.
Dalam keheningan rumah mungil kami yang mungkin tidak akan lama lagi menjadi milik kami, dengan masalah yang masih sama beratnya dan jalan keluar yang masih sama tidak terlihatnya, aku menyerahkan semua yang tidak mampu lagi kugenggam kepada tangan yang tidak pernah lengah.
***
1368Please respect copyright.PENANAPPz9UYxmm5
1368Please respect copyright.PENANANkdCbL5mZk
1368Please respect copyright.PENANAZtq0sqUV6J
Setelah sholat subuh berjamaah, kami duduk di ruang tamu dalam diam yang tidak nyaman. Aku yang memulai sholat dengan niat menemukan ketenangan, justru menemukan bahwa ketenangan itu tidak datang semudah yang kuharapkan. Ada yang belum selesai antara kami. Ada yang menggantung di udara sejak semalam dan tidak akan pergi hanya karena kami sudah bersujud bersama.
1368Please respect copyright.PENANAO3qpUUDh83
"Mas," kataku akhirnya, suaraku lebih tenang dari yang kurasakan di dalam. "Apakah Mas merasa bahwa aku ada kemungkinan, meski sangat kecil, untuk menerima tawaran gila itu?"
1368Please respect copyright.PENANAQ9XVC8g8Rx
Rizal tersentak. "Astaga Amy, aku tidak berpikir seperti itu."
1368Please respect copyright.PENANA8dxpOkdvlf
Ia menghela napas panjang, pundaknya merosot seolah seluruh tenaga telah meninggalkannya sekaligus. Ia duduk di lantai di depanku, tangannya terulur ragu-ragu sebelum akhirnya hanya menyentuh ujung kerudungku dengan lembut, sentuhan yang terasa seperti permintaan maaf yang tidak tahu bagaimana mengucapkan dirinya sendiri.
1368Please respect copyright.PENANAy0OGojialQ
"Aku sangat yakin kamu gak bakalan mau, Amy," katanya pelan, suaranya serak. "Aku juga tidak akan rela istriku disentuh pria lain. Apalagi hanya untuk uang. Aku hanya menceritakan bahwa ada tawaran seperti itu. Kalau memang kita tidak menemukan solusi lain, ya kita hadapi saja. Kita lapor polisi. Apapun hasilnya. Kalau kita malah dianggap ikut menggelapkan dana, kita coba buktikan bahwa kita benar-benar ditipu Andini. Kita kumpulkan semua bukti transfer, chat, dan dokumen. Kita pasrah saja. Yang penting kita sudah berusaha semampu kita."
1368Please respect copyright.PENANA5sExKOzIMx
Kata-katanya seharusnya membawa ketenangan. Seharusnya.
1368Please respect copyright.PENANApCNLHmtK8Q
Tapi justru ada sesuatu yang menusuk lebih dalam. Aku memandangi wajahnya dengan saksama, dengan cara yang tidak biasa kulakukan karena biasanya aku sudah cukup percaya untuk tidak mencari-cari sesuatu di balik wajah suamiku sendiri. Dan di sana, di balik kelelahan dan ketulusan yang nyata, ada sesuatu yang sangat kecil, sangat samar, yang mungkin hanya bisa kulihat karena aku sudah hidup bersamanya lima belas tahun dan hafal setiap lipatan ekspresinya.
1368Please respect copyright.PENANAtqfHT3liov
Sebuah harapan yang belum sepenuhnya mati.
1368Please respect copyright.PENANAbSxmVIbBIg
Atau mungkin aku yang terlalu lelah dan terlalu terluka sehingga mulai melihat sesuatu yang tidak ada. Aku tidak tahu lagi. Dan ketidaktahuan itu justru yang paling menyakitkan.
1368Please respect copyright.PENANA3InVrqiYHg
"Jadi Mas berpikir bisa saja aku setuju tawaran itu?" tanyaku, suaraku bergetar tapi tegas, setiap kata kuucapkan dengan hati-hati seperti seseorang yang berjalan di atas kaca. "Mas berharap sedikit, ya? Bahwa aku mungkin mau mengorbankan diri demi menyelamatkan keluarga ini?"
1368Please respect copyright.PENANAQeeOaBnqZg
Rizal tersentak seperti orang yang baru disengat. Matanya melebar, wajahnya langsung pucat hingga ke bawah rahangnya. Ia menggeleng cepat, tangannya terangkat seolah ingin menyentuhku tapi urung di tengah jalan, menggantung di udara sebentar sebelum turun kembali ke pangkuannya.
1368Please respect copyright.PENANA3vQ8DT2Z1f
"Astaghfirullah, Amy. Aku tidak pernah berpikir begitu," jawabnya buru-buru, suaranya penuh penyesalan yang terdengar nyata. "Aku hanya menyampaikan dengan jujur apa adanya. Aku tahu siapa kamu. Aku tahu betapa kuatnya imanmu selama ini. Aku hanya putus asa, Sayang. Aku takut kehilangan segalanya. Anak-anak, rumah, masa depan kita. Tapi aku tidak pernah, tidak sedikit pun, berharap kamu menerima tawaran kotor itu."
1368Please respect copyright.PENANAvNaXA5lBit
Kata-katanya terdengar meyakinkan. Dan aku ingin mempercayainya, sungguh ingin, dengan seluruh bagian dari diriku yang masih bisa percaya. Tapi luka di hatiku tidak bekerja dengan logika, tidak mendengarkan penjelasan yang masuk akal, dan tidak sembuh hanya karena seseorang sudah memberikan jawaban yang benar.
1368Please respect copyright.PENANA7n1htgP9oy
Aku memeluk lututku lebih erat, tubuhku masih gemetar meski subuh ini tidak dingin. Di luar jendela, langit mulai berubah dari hitam pekat menjadi biru gelap, pertanda fajar yang tidak peduli apakah manusia di bawahnya sudah siap atau belum untuk menghadapi hari baru.
1368Please respect copyright.PENANArzHm6r0gA4
Lama kami diam.
1368Please respect copyright.PENANAtAE7PuSNDf
Rizal tidak memaksaku berbicara. Ia hanya duduk di sana, di lantai di depanku, menunggu dengan cara yang entah mengapa justru membuatku ingin menangis lagi. Karena inilah Rizal yang aku kenal. Laki-laki yang tahu kapan harus diam dan kapan suaranya lebih penting dari kehadirannya. Laki-laki yang kemeja selalu sedikit kusut tapi hatinya tidak pernah.
1368Please respect copyright.PENANAa1NDQQPsGO
"Mas," kataku akhirnya, dengan suara yang sudah kehabisan kemarahan dan hanya menyisakan kelelahan. "Aku tidak tahu apakah Mas benar-benar tidak berharap seperti itu, atau apakah Mas sendiri tidak menyadari bahwa ada bagian kecil yang berharap. Aku tidak bisa masuk ke dalam kepala Mas. Yang aku tahu hanya apa yang aku rasakan. Dan yang aku rasakan tawaran itu sangat menyakitkan."
1368Please respect copyright.PENANASnZKNPp2Oi
Rizal menunduk. Ia tidak membantah. Matanya merah.
1368Please respect copyright.PENANA51yLqytR5o
"Kita tidak boleh sampai di titik di mana kita mempertimbangkan hal seperti itu, dalam bentuk apa pun, dari siapa pun. Bukan karena aku tidak paham betapa beratnya situasi ini. Tapi karena begitu kita membuka pintu itu, meski hanya selebar satu milimeter, kita sudah kehilangan sesuatu yang tidak bisa dikembalikan."
1368Please respect copyright.PENANAAg6uZOxYNk
Rizal mengangguk pelan. Satu kali. Kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya berguncang dengan cara yang diam tapi tidak bisa disembunyikan.
1368Please respect copyright.PENANAVOi7VaXHub
Aku menatapnya lama.
1368Please respect copyright.PENANAaKnuflqHFm
Kemudian, perlahan, aku turun dari sofa dan duduk di lantai di sebelahnya. Tidak memeluknya. Belum. Tapi cukup dekat untuk ia tahu bahwa aku masih di sini, bahwa aku belum pergi meski malam ini sudah memberikan cukup alasan untuk pergi.
1368Please respect copyright.PENANA864uMCn6Dk
"Kita lapor polisi," kataku akhirnya. "Hari ini. Kita kumpulkan semua bukti yang ada dan kita laporkan Andini. Apapun konsekuensinya untuk kita, kita hadapi bersama.”
1368Please respect copyright.PENANANqLLQuKrQx
Rizal menurunkan tangannya dari wajahnya. Ia menatapku dengan ekspresi yang sulit kuberi nama, campuran dari rasa syukur, rasa malu, kelegaan, dan sesuatu yang terasa seperti kagum.
1368Please respect copyright.PENANA4uLfTy1WuI
"Kamu selalu lebih kuat dari aku," bisiknya.
1368Please respect copyright.PENANAK1iAlIA0XN
"Tidak," jawabku jujur. "Aku hanya lebih keras kepala."
1368Please respect copyright.PENANAo4NCjtkgKY
Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, di sudut bibir Rizal muncul sesuatu yang menyerupai senyum. Kecil, lelah, tidak sampai ke matanya, tapi nyata.
1368Please respect copyright.PENANAHTHcOqjB98
Di luar, langit Jakarta akhirnya memutih.
1368Please respect copyright.PENANAK9nnlv8Xx6
Hari baru dimulai, dengan masalah yang masih sama beratnya, dengan jalan yang masih belum jelas ujungnya. Tapi kami duduk di lantai ruang tamu dengan bahu yang hampir bersentuhan, dua orang yang masih memilih untuk menghadapinya bersama, dan untuk pagi ini itu sudah cukup.
1368Please respect copyright.PENANA19whwVCYlc
***
1368Please respect copyright.PENANAPn8mvZlO5M
1368Please respect copyright.PENANAcfIwiZjuD6
Aku sadar, bahwa aku juga tak sepenuhnya suci dalam pikiran. Aku pernah membayangkan tawaran Albert meski hanya sekilas, hanya satu detik yang gelap dan memalukan sebelum iman dan akal sehatku menarikku kembali. Godaan itu datang dari dalam diriku sendiri, merayap seperti ular berbisa yang tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Apakah ini artinya kami berdua sudah mulai goyah? Apakah iman kami ternyata rapuh ketika diuji dengan jumlah sebesar dua setengah miliar rupiah?
***
Hari-hari berikutnya berlalu seperti kabut tebal yang semakin menyesakkan. Setiap pagi aku bangun dengan harapan baru, tapi setiap malam aku tidur dengan beban yang semakin berat. Dua minggu telah berlalu sejak pagi itu kami berjanji untuk melapor ke polisi. Kertas-kertas bukti sudah kami susun rapi di dalam map cokelat: transfer bank, chat dengan Andini, bukti booking yang belum dibayar, semuanya. Tapi setiap kali Rizal hendak membawa map itu keluar rumah, ada saja alasan yang muncul.
“Besok saja, Amy. Hari ini aku ada janji dengan orang tua salah satu jemaah. Kalau kelihatan terburu-buru, nanti mereka curiga,” katanya suatu sore, suaranya lelah.
Aku hanya mengangguk, meski di dalam dada ada sesuatu yang berdenyut tidak nyaman. Aku tahu dia takut. Aku juga takut. Tapi ketakutan itu kini sudah berubah bentuk menjadi monster yang setiap hari menggerogoti kami berdua.
Tenggat waktu dari maskapai dan hotel tinggal dua puluh hari lagi. Telepon dari jemaah semakin sering. Mbak Siti di kantor sudah mulai kesulitan membendung pertanyaan-pertanyaan yang semakin tajam.
“Bu Aminah, Bu Rohimah tadi menelepon lagi. Dia bilang tabungannya sudah habis, dia tidak bisa bayar cicilan rumah bulan ini,” lapor Siti suatu siang, wajahnya pucat. “Dia menangis di telepon, Bu…”
Aku hanya bisa tersenyum tipis, mengucapkan kalimat yang sudah terasa pahit di lidah: “InsyaAllah sebentar lagi ada kabar baik, Siti. Doakan ya.”
Di rumah, suasana semakin tegang. Rizal semakin jarang bicara. Ia pulang malam, duduk di teras sendirian sambil merokok—kebiasaan yang sudah ditinggalkannya sejak sepuluh tahun lalu kini kembali lagi. Aku tidak menegur. Aku tahu ia sedang berjuang melawan dirinya sendiri.
Malam itu, hujan deras mengguyur Depok. Aku duduk di ruang tamu sambil menjahit kerudung Faisal yang robek, tanganku bergerak otomatis meski pikiranku melayang jauh. Rizal masuk dengan baju basah kuyup, rambutnya menempel di dahi.
“Aku ketemu teman lama tadi,” katanya pelan sambil melepas sepatu. “Dia bilang ada oknum polisi yang biasa ‘membantu’ kasus seperti ini. Tapi biayanya… mahal.”
Aku meletakkan jarum dan benang. “Maksud Mas?”
“Kalau kita lapor sekarang, besar kemungkinan kita berdua yang jadi tersangka dulu. Andini sudah hilang tanpa jejak. Bukti yang kita punya kuat, tapi… orang akan tetap bilang kami yang mengatur semuanya. Nama kita akan hancur sebelum kebenaran terungkap, Amy.”
Suara hujan semakin deras, seperti mengiringi keputusasaan yang semakin pekat.
1368Please respect copyright.PENANA0n9zMPu7g0
Bersambung
ns216.73.216.69da2


