Chapter 2. Dua Tawaran yang terlarang
Aku sadar bahwa sangat berat untuk menemukan solusi untuk masalah kami ini. Kami dalam posisi sangat genting. Kami menghadapi ancaman kehancuran yang terbuka lebar. Kemungkinan besar kami akan kehilangan segalanya, rumah, reputasi, kebebasan, nama baik yang tak pernah ternoda. Anak-anakku akan merasakan dampaknya dengan cara yang tidak akan pernah bisa kutebus. Rizal dan aku bisa berakhir di balik jeruji besi, dicap sebagai penipu jemaah Umroh oleh orang-orang yang tadinya menyebut nama kami dengan hormat.
Tidak ada pilihan yang baik. Hanya ada dua jalan yang berbeda menuju kehancuran.
***
Sore menjelang perlahan. Cahaya matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit Jakarta dengan warna jingga yang ironis indahnya, seolah langit tidak tahu atau tidak peduli bahwa di bawahnya seorang perempuan sedang mencoba tidak tenggelam. Ruangan kecilku semakin senyap seiring karyawan berpamitan satu per satu, suara langkah kaki mereka menjauh di koridor, dan aku membiarkan kesunyian itu memelukku tanpa berusaha mengisinya.
Aku duduk di kursi, menatap layar komputer yang sudah lama kubiarkan mati. Tangan kananku memegang ponsel, nomor Albert terpampang di layar seperti pertanyaan yang tidak mau pergi.
Jari-jariku gemetar di atas tombol panggil.
Lalu, tanpa benar-benar menyadari apa yang kulakukan, aku meletakkan ponsel itu menghadap ke bawah di atas meja. Bukan karena sudah tahu jawabannya. Melainkan karena tiba-tiba aku teringat sesuatu yang sudah lama tidak kulakukan dengan sungguh-sungguh.
Aku menggeser kursi, berlutut di atas sajadah kecil yang selalu tergeletak di sudut ruangan, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, aku berdoa tanpa menyusun kata-kata terlebih dahulu.
Hanya menangis. Hanya itu.
Dan entah mengapa, di tengah badai yang belum juga reda, sunyi setelah tangis itu terasa seperti sesuatu yang mendekati jawaban.
1508Please respect copyright.PENANApkR4jcvGOW
***
Malam itu, makan malam terasa seperti abu di lidahku. Nasi, sayur, dan ikan goreng yang biasanya kumasak dengan penuh kasih, malam ini hanya meluncur paksa ke kerongkongan. Aku dan Rizal duduk berhadapan di ruang tamu yang temaram, hanya diterangi lampu meja kecil. Wajah suamiku semakin tirus, seperti habis direnggut oleh beban yang tak terlihat. Rambutnya yang mulai beruban terlihat lebih banyak akhir-akhir ini, seolah usia dan kekhawatiran datang sekaligus dalam hitungan minggu.
"Aku sudah coba semua, Amy," katanya dengan suara parau, tangannya memegang gelas teh yang sudah dingin tak tersentuh. "Rumah dan mobil, kalau dijual cepat, paling mentok dapat 1,2 miliar. Masih kurang 1,3 miliar lagi. Belum lagi biaya hidup setelah itu. Kita harus pindah ke rumah kontrakan, Amy. Bayangkan, kita yang dulu punya rumah sendiri, sekarang harus menyewa. Anak-anak bagaimana nanti?"
Aku hanya bisa menunduk, menatap lantai keramik yang sudah kusam. Air mata kembali menggenang di pelupuk, tapi aku menahannya sekuat tenaga. Bayangan Faisal dan Farhan muncul begitu jelas di benakku. Mereka berdua mondok jauh di Jawa Timur, percaya bahwa Umi dan Abi sedang berjuang keras membawa orang-orang ke Tanah Suci. Anak-anak yang tidak tahu apa-apa, yang setiap minggu menelepon dengan suara riang dan bertanya kapan bisa pulang untuk makan masakan Umi. Kalau semuanya hancur, bagaimana aku menjelaskan bahwa mimpi suci kami berubah menjadi mimpi buruk karena pengkhianatan orang yang paling kami percayai?
"Waktu tinggal satu setengah bulan lagi," bisikku, suaraku hampir hilang. "Kalau jemaah tahu bahwa uang mereka dibawa kabur Andini, habislah kita, Mas."
Rizal mengusap wajahnya kasar, seperti ingin mengusir seluruh masalah ini dari kepalanya. "Kalau kita lapor polisi sekarang, cepat atau lambat kita berdua yang jadi tersangka utama. Orang akan bilang kami yang menggelapkan uang itu bersama Andini. Reputasi kita selesai, Amy. Semua orang akan menjauhi kita. Anak-anak akan malu punya orang tua seperti ini."
Kami diam lama. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan, seolah menghitung mundur waktu yang semakin sempit. Tidak ada yang berani mengucapkan apa yang sama-sama kami pikirkan, bahwa mungkin tidak ada jalan keluar yang tidak melukai salah satu dari hal-hal yang paling kami jaga.
Malam itu, aku tak bisa memejamkan mata.
Aku berbaring di samping Rizal yang akhirnya tertidur karena kelelahan luar biasa, napasnya pelan dan berat, wajahnya dalam tidur terlihat lebih damai dari wajahnya saat terjaga dan itu justru membuatku semakin hancur di dalam. Mataku terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang gelap. Bayang-bayang pohon di luar jendela menari-nari ditiup angin malam, bergerak-gerak seperti makhluk yang tidak bisa tidur, seperti aku.
Dan suara itu datang lagi.
Bukan suara dari luar. Suara dari dalam diriku sendiri, yang licik dan halus dan penuh keputusasaan yang sudah terlalu lama dipendam.
Terima saja tawaran Albert. Hanya satu malam, Amy. Tidak ada yang akan tahu. Semalam saja. Setelah itu lupakan. Uang masuk, jemaah berangkat, keluarga selamat. Rizal tak perlu tahu. Kamu bisa bertaubat setelahnya. Allah Maha Pengampun.
Aku langsung bangun duduk, tangan kananku menekan dada. Jantungku berdegup kencang seolah ingin meledak menembus tulang rusuk. Keringat dingin membasahi punggungku, merembes ke baju tidur hingga terasa lengket dan dingin sekaligus.
"Tidak!" bisikku keras, suaraku pecah di tengah kegelapan. "Astaghfirullah... Astaghfirullahal'adziim..."
Aku turun dari tempat tidur, berjalan mondar-mandir di kamar kecil itu seperti orang yang sedang mencari sesuatu yang tidak tahu di mana letaknya. Kakiku bergerak sendiri, pikiran berputar tanpa henti. Kerudung tidurku sudah basah oleh air mata yang tidak kusadari kapan mulai jatuh.
Bagaimana mungkin aku bisa memikirkan hal seperti itu? Aku, Aminah, hingga umurku yang mencapai 39 tahun ini, aku bersusah payah menjaga setiap jengkal aurat dan amanah, yang bahkan saat remaja di depan orang yang dicintai pun aku hanya mau berciuman dan berpelukan tidak lebih. Itupun aku merasa sangat berdosa. Lebih dari itu aku tidak pernah. Aku tidak berani melewati batas yang sudah ditetapkan oleh keyakinanku. Tapi malam ini suara itu berbicara dengan begitu fasih, dengan logika yang terasa masuk akal, dan itu justru yang paling menakutkan.
Aku berhenti di depan jendela. Di luar, langit hitam tanpa bintang, mendung tebal menutupi semuanya. Di dalam kamar, suara napas Rizal yang tertidur terdengar teratur, tidak tahu bahwa istrinya sedang berdiri di tepi jurang yang tidak pernah ia bayangkan ada.
Aku mengambil sajadah dari atas lemari, membentangkannya pelan agar tidak membangunkan Rizal, dan berlutut di atasnya dalam gelap.
Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Tidak ada kata-kata yang terasa cukup atau pantas. Maka aku hanya diam dulu, sangat lama, membiarkan keheningan itu menjadi doa yang belum berbentuk.
Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, aku mulai berbicara kepada Tuhan yang tidak pernah tidur.
"Ya Allah, aku tidak tahu jalan keluarnya. Aku tidak melihat celahnya. Tapi aku mohon, jangan biarkan aku membayar keselamatan keluargaku dengan cara yang akan menghancurkan diriku sendiri. Jangan biarkan aku membayar amanah jemaah-Mu dengan pengkhianatan kepada-Mu."
Air mata jatuh ke sajadah, membuat noda gelap kecil di kainnya.
"Tunjukkan jalan, ya Allah. Jalan yang tidak mengharuskan aku memilih antara kehormatan dan keselamatan. Karena aku tidak kuat memilih. Aku tidak cukup kuat untuk itu."
Di luar, angin malam bertiup pelan, menggerakkan daun-daun pohon dengan suara yang menyerupai bisikan. Dan untuk pertama kalinya sejak bencana ini dimulai, hatiku tidak sepenuhnya sunyi karena putus asa saja, tapi ada sesuatu yang lain, tipis dan rapuh seperti benang, tapi nyata.
Harapan bahwa mungkin ada jawaban yang belum aku lihat.
Bahwa mungkin Tuhan sedang mengatur sesuatu di tempat yang mataku belum bisa menjangkau.
1508Please respect copyright.PENANAGL2j9108mZ
Tiba-tiba Rizal bergerak. Ia terbangun, duduk di tepi ranjang dengan mata masih sayu karena kelelahan, rambutnya berantakan di satu sisi, pipinya membekas lipatan bantal.
"Amy... kamu belum tidur?" tanyanya lembut.
Aku menggeleng. Rizal menarik napas panjang, seolah mengumpulkan sisa tenaganya yang sudah hampir habis.
"Aku ada tawaran bantuan," katanya pelan. "Tapi sangat berat. Aku tak yakin kamu mau menerima."
Jantungku berdegup lebih kencang. "Tawaran dari siapa, Mas?"
"Dari mantan bosku saat aku masih belum nikah dengan kamu. Dulu aku pernah jadi sopir pribadinya. Namanya Koh Steven. Pengusaha keturunan Tionghoa yang cukup kaya. Aku hubungi dia kemarin malam dalam keadaan putus asa."
"Terus?" tanyaku, suaraku bergetar.
Dia diam sejenak, tatapannya menghindar ke sudut kamar yang gelap. Ada sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat dalam sebelas tahun pernikahan kami, semacam rasa malu yang begitu dalam hingga ia tidak sanggup mengangkat dagunya.
"Dia mau membantu. Bisa kasih pinjaman tanpa bunga, bahkan hampir full dua setengah miliar. Tapi ada syaratnya. Aku tidak yakin kamu bakal setuju. Tapi aku pikir ini satu-satunya jalan yang tersisa."
"Syaratnya apa, Mas? Bunganya tinggi? Dia minta jaminan rumah?"
Rizal menatapku lama. Matanya penuh penyesalan, rasa malu, dan keputusasaan yang dalam, campuran yang menyakitkan untuk dipandang pada wajah orang yang paling kau cintai. Suaranya hampir tak terdengar saat akhirnya keluar.
"Dia ingin... tidur sama kamu. Satu malam."
Astaghfirullah.
Dunia seolah berputar ke arah yang salah. Aku mundur selangkah, punggungku membentur dinding kamar dengan bunyi pelan yang terasa sangat keras di telingaku. Tubuhku gemetar hebat, dari ujung kaki hingga ke ujung jari. Bukan hanya satu tawaran gila dari Albert, tapi sekarang ada yang kedua, dari orang yang bahkan tak pernah kukenal dekat, yang namanya baru kudengar malam ini.
"Astaghfirullah... Astaghfirullah..." ucapku berulang-ulang, suaraku pecah menjadi serpihan yang tidak karuan. Air mata mengalir deras tanpa bisa kutahan. Aku merosot ke lantai, punggung menyusuri dinding, lutut tertekuk ke dada, memeluk diriku sendiri karena tidak ada yang lain untuk dipeluk malam ini.
Rizal langsung turun dari tempat tidur, berlutut di depanku di atas ubin dingin, tapi ia tidak menyentuhku. Tangannya terangkat sebentar lalu turun lagi, seperti seseorang yang ingin menolong tapi tidak tahu apakah ia berhak. Wajahnya pucat pasi di bawah cahaya remang yang masuk dari celah jendela.
"Amy... maafkan aku. Aku... aku benar-benar sudah tidak tahu harus bagaimana lagi," bisiknya, suaranya bergetar seperti suara orang yang menahan sesuatu yang terlalu besar untuk ditahan. "Aku marah sekali waktu dia bilang begitu. Aku hampir membanting ponsel. Tapi dia bilang itu satu-satunya syarat. Kalau tidak, dia tidak mau membantu."
Aku tidak menjawab. Tidak sanggup.
Yang ada hanya isak yang pecah-pecah, yang kutekan sekuat tenaga agar tidak membangunkan tetangga, agar dunia di luar kamar ini tidak tahu betapa hancurnya malam ini.
Dua tawaran mengerikan dalam waktu yang hampir bersamaan. Dua pria dari latar belakang yang berbeda, dari masa dan cerita yang berbeda, sama-sama menawarkan sesuatu yang mereka sebut "keselamatan" dengan harga yang persis sama: kehormatanku. Tubuhku. Satu malam yang akan menghancurkan segala yang kuperjuangkan, sebagai muslimah, sebagai istri, sebagai ibu dari dua anak laki-laki yang sedang belajar menjadi orang baik jauh di sana.
Seolah semesta bersekongkol untuk menguji apakah ada harga yang bisa membuatku menjual diri.
"Kenapa?" bisikku akhirnya, bukan kepada Rizal, bukan kepada siapa pun yang ada di kamar itu. "Kenapa ujian ini datang seberat ini?"
Rizal tidak menjawab. Ia hanya duduk di lantai di depanku, kepalanya tertunduk, tangannya tergenggam di atas lutut. Dua manusia dewasa yang sudah membangun hidup bersama bertahun-tahun, kini duduk di lantai kamar sendiri seperti dua anak kecil yang tersesat dan tidak tahu jalan pulang.
Jam dinding di ruang tamu berdentang pelan, sekali, dua kali. Pukul dua dini hari.
Lama sekali kami diam. Hingga akhirnya aku yang berbicara lebih dulu, dengan suara yang sudah habis menangis dan terdengar aneh di telingaku sendiri, datar dan tenang dengan cara yang berbeda dari tenang yang sesungguhnya.
"Mas," kataku. "Aku mau tanya satu hal, dan aku minta jawaban yang jujur."
Rizal mengangkat wajahnya.
"Ketika kamu menelepon Koh Steven malam itu, ketika kamu tahu syaratnya, apakah ada bagian dari dirimu, sekecil apa pun, yang mempertimbangkan untuk menerimanya?"
Keheningan yang menyusul terasa seperti ujian tersendiri. Aku melihat rahang Rizal mengeras, matanya berkaca-kaca, dan untuk beberapa detik aku tidak tahu apakah aku siap dengan jawabannya.
"Tidak," katanya akhirnya, suaranya retak di tengah. "Tidak pernah. Aku langsung bilang tidak mungkin. Aku hanya menceritakannya kepadamu karena aku sudah tidak punya rahasia lain untuk disembunyikan, Amy. Karena aku takut kamu pikir aku menyembunyikan jalan keluar darimu."
Aku menatapnya lama.
Lalu, tanpa kata-kata, aku meraih tangannya. Menggenggamnya erat di antara kedua telapak tanganku yang masih dingin.
"Kita tidak akan menerima satu pun dari tawaran semacam itu," kataku pelan tapi jelas, setiap kata kuucapkan dengan seluruh sisa tenaga yang masih ada. "Kita akan cari jalan lain. Jalan yang tidak mengharuskan kita bermaksiat kepada Allah sang pencipta kita."
"Tapi Amy, kalau tidak ada jalan lain..."
"Maka kita hadapi konsekuensinya bersama-sama," potongku. "Seperti yang seharusnya kita lakukan sejak awal. Bukan dengan cara yang akan membuat kita tidak bisa lagi saling menatap di dunia ini maupun di akhirat."
Rizal memejamkan mata. Satu tetes air mata jatuh di pipinya, pertama yang pernah kulihat dalam sebelas tahun ini.
Dan di sela-sela kehancuran malam itu, di lantai kamar yang dingin, dengan masa depan yang masih sama gelapnya, aku merasakan sesuatu yang tidak terduga mengakar di dalam dada.
Sebuah keyakinan kecil yang keras kepala, bahwa jalan yang benar tidak selalu jalan yang mudah, tapi ia tetap jalan yang benar. Dan bahwa Tuhan yang memberi ujian ini pasti sudah menyiapkan sesuatu di ujungnya yang belum bisa kami lihat dari sini.
***
Aku masih tidak bisa tidur.
Rizal sudah kembali tertidur sejak setengah jam yang lalu, napasnya pelan dan teratur, seolah percakapan tadi tidak meninggalkan beban apa pun di dadanya. Tapi aku masih di sini, duduk di tepi ranjang dengan punggung tegak dan mata yang tidak mau terpejam, menatap kegelapan kamar dengan pikiran yang berputar ke arah yang tidak kuinginkan.
Ada sesuatu yang tersangkut di dalam dadaku seperti duri kecil yang tidak terasa ketika pertama kali menancap, tapi semakin perih setiap kali napas masuk dan keluar.
Rizal menyampaikan tawaran itu dengan suara yang bergetar, dengan wajah yang pucat, dengan air mata yang untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun pernikahan kami jatuh di depan mataku. Ia bilang ia marah. Ia bilang ia hampir membanting ponsel. Ia bilang ia langsung menolak.
Aku tahu jawabannya sudah seperti itu yang paling masuk akal dan wajar. Dia menggungkapkan itu juga karena ia tidak mau menyembunyikan apa pun. Karena ia ingin jujur. Karena ia sudah kehabisan pilihan dan tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan selain meletakkan semua kartu di atas meja, termasuk kartu yang paling menjijikan sekalipun.
Tapi ada suara lain di dalam diriku yang lebih keras dari yang ingin kuakui.
Bagaimana kalau ia menceritakannya karena ada sedikit bagian dari dirinya yang berharap aku pasrah dan mau melakukannya? Agar masalah ini selesai dan kami terbebas dari ancaman masuk penjara?
Aku menekan mataku dengan telapak tangan. Astaghfirullah. Aku tidak seharusnya berpikir seperti ini tentang suamiku. Laki-laki yang sudah mendampingiku lima belas tahun, yang tidak pernah meninggikan suara di depanku, yang selalu menjadi orang pertama yang bangun ketika anak-anak demam di malam hari. Tapi pikiran itu tidak mau pergi, dan semakin aku mencoba mengusirnya, semakin ia mengakar.
Aku berdiri pelan, mengambil kerudungku dari gantungan di belakang pintu, dan keluar dari kamar dengan langkah yang tidak mengeluarkan suara. Di ruang tamu, lampu meja masih menyala redup, cahayanya kuning dan hangat dengan cara yang terasa sinis malam ini, seolah pura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Aku duduk di sofa, menarik lutut ke dada, dan membiarkan pikiran itu akhirnya kuhadapi dengan jujur di dalam kesendirian yang tidak pura-pura.
Apakah Rizal berharap aku menerima tawaran mantan bosnya itu?
Bukan berharap dengan cara yang sadar dan tersusun. Bukan berharap dengan kata-kata yang ia rencanakan. Tapi ada keputusasaan yang sudah mencapai tingkat tertentu di dalam diri manusia, ketika logika mulai mencari jalan pintas yang bahkan tidak ia sadari sedang dicarinya. Aku pernah merasakannya sendiri tadi malam, ketika suara licik itu berbisik dari dalam dadaku dan menggunakan bahasa yang terdengar masuk akal.
Mungkin Rizal juga punya suara seperti itu di dalam dirinya.
Dan mungkin itulah kenapa ia menceritakannya. Bukan untuk memaksaku. Bukan untuk menyuruhku. Tapi karena ia ingin melihat apa reaksiku. Ingin tahu apakah aku akan membuka pintu yang tidak berani ia buka sendiri, sehingga ia bisa berkata kepada dirinya sendiri bahwa itu bukan keputusannya.
1508Please respect copyright.PENANA8COWywvXZa
Bersambung
ns216.73.216.69da2


