Chapter 1. Antara Iman dan Keputusasaan
Malam itu angin terasa lebih menusuk dari biasanya, seolah ikut membekukan hatiku yang sudah rapuh sejak beberapa minggu terakhir. Aku duduk di teras rumah mungil kami di pinggiran Depok, tanganku memainkan layar ponsel tanpa tujuan, mataku menatap kosong ke arah cahaya-cahaya kota yang berkedip di kejauhan. Lampu-lampu itu berkelap-kelip seperti bintang-bintang yang tak lagi bisa kugapai, indah sekaligus dingin, persis seperti hatiku malam ini.
Dua setengah miliar rupiah.
Angka itu terus berputar di kepalaku seperti roda rusak yang tak mau berhenti. Uang tiket pesawat, booking hotel di Mekkah dan Madinah, transportasi darat, visa, semuanya seharusnya sudah disetorkan dua minggu lalu. Delapan puluh tujuh jemaah yang telah membayar lunas, yang telah mempersiapkan diri lahir dan batin untuk Umroh dua bulan lagi, masih menunggu kabar baik yang tak kunjung datang dari kami. Dari aku.
Aku tidak pernah menyangka Andini bisa melakukan itu. Wanita yang selama lima tahun kupercayai sepenuh hati sebagai kepala keuangan perusahaan kami telah menghilang tanpa jejak, membawa uang jemaah yang seharusnya dia setorkan ke maskapai dan hotel. Entah dia lari ke mana, aku tidak tahu. Mungkin dia lari keluar negeri. Nomornya sudah tidak aktif lagi. Yang jelas, bersama dia lenyap pula mimpi kami, dan mimpi delapan puluh tujuh calon jemaah umroh yang sudah menitipkan kepercayaan mereka kepada kami.
"Mas Rizal.." gumamku pelan, nyaris tak terdengar oleh siapa pun kecuali malam itu sendiri.
Suamiku sedang tidur di dalam. Aku bisa membayangkan wajahnya yang semakin tirus, semakin pucat dari hari ke hari sejak bencana ini muncul ke permukaan. Setiap malam aku pulang ke kamar itu dan menatap punggungnya yang tidur gelisah, dan setiap malam aku memilih untuk tidak membangunkannya. Bukan karena tidak ada yang perlu dibicarakan, melainkan justru sebaliknya, karena terlalu banyak yang harus diucapkan dan aku belum tahu dari mana harus memulai.
Pikiranku kemudian melayang ke Jawa Timur, ke sebuah pesantren yang jauh, tempat Faisal dan Farhan sedang mondok. Dua anak laki-laki kami yang tidak tahu apa-apa tentang badai yang sedang menghantam keluarga ini. Apa yang akan mereka rasakan jika kelak tahu bahwa nama baik ayah dan ibu mereka sedang dipertaruhkan? Jika para jemaah tahu bahwa uang yang mereka setorkan telah lenyap dan mereka melaporkan kami ke pihak kepolisian. Sementara Andini tidak berhasil ditemukan, maka posisi kami sangat sulit. Bisa-bisa kami yang dianggap ikut menggelapkan dana, kami yang merasakan dinginnya borgol, sementara dia mungkin sedang menikmati uang yang dia bawa kabur entah di mana.
Aku menarik kerudungku lebih rapat, meski tidak ada siapa pun yang melihat. Sudah menjadi kebiasaan, gerakan kecil yang selalu kulakukan tanpa sadar setiap kali gelisah menyerang. Aku, Aminah, seorang muslimah yang selalu berusaha menjaga amanah dalam setiap langkah hidupnya, kini merasakan amanah itu berubah wujud menjadi gunung yang perlahan-lahan bergeser, siap menimpa pundakku yang sudah hampir tidak sanggup berdiri tegak.
***
Pagi harinya, kemacetan Jakarta terasa seperti siksaan yang sempurna untuk menyiksa pikiranku. Tangan kiriku mencengkeram setir hingga buku-buku jari memutih, sementara tangan kananku sesekali menyeka keringat dingin di dahi. Jantungku berdegup tak karuan, seolah ingin melompat keluar dari dada.
Dua bulan lagi keberangkatan. Maskapai penerbangan dan hotel sudah menanyakan lagi pembayaran untuk bookingan yang telah kami lakukan. Kami meminta waktu dan mereka memberi kami waktu hingga dua minggu kalau lewat maka mereka membatalkan semuanya. Kami berdua memutuskan untuk menutup rapat masalah ini, tidak ada yang boleh tahu, bahkan orang tua dan saudara kandung sekalipun. Satu bocoran saja, reputasi perusahaan yang kami bangun bertahun-tahun akan hancur dalam semalam. Lebih buruk lagi, kami bisa dituduh sebagai dalang penggelapan dana jemaah, bukan sekadar korban.
Tiba-tiba ponsel di dashboard bergetar keras. Nama yang coba aku hubungi dengan membuang semua rasa tiga hari lalu menyala terang di layar.
Albert.
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. Suaraku nyaris hilang. "Halo..."
"Amy," sapanya dengan suara bariton yang masih sama setelah delapan belas tahun. Tenang, dalam, dengan sedikit aksen yang tak pernah hilang meski ia sudah lama tinggal di luar negeri. "Kamu di mana sekarang?"
"Dalam perjalanan ke kantor," jawabku pelan, berusaha menjaga nada suara tetap stabil meski tenggorokanku tercekat. "Gimana... hasil pembicaraan kemarin?"
Albert diam sejenak. Aku bisa mendengar hembusan napasnya di seberang sana, berat dan terukur, seperti seseorang yang sedang menimbang-nimbang kata.
"Aku sudah pelajari semuanya. Dua setengah miliar bukan jumlah kecil, Amy. Tapi aku bisa bantu."
Sesaat, harapan yang sudah nyaris mati itu menyala kembali. Dengan membuang segala rasa malu aku nekad menghubungi mantan kekasihku itu semasa kuliah. Kami berpisah karena perbedaan keyakinan, perpisahan yang menyakitkan tapi aku yakini sebagai keputusan yang benar. Dulu aku mencintainya dengan tulus, tapi selalu menjaga batas, hanya ciuman dan pelukan, tidak lebih dari itu. Kini ia menjadi pengusaha sukses dengan jaringan yang luas dan dalam. Di saat semua jalan untuk bisa menemukan pinjaman telah buntu karena jumlah yang begitu besar, Albert adalah satu-satunya nama yang tersisa di daftar yang semakin pendek itu.
"Aku bisa transfer uangnya besok pagi. Paling lambat siang," lanjutnya.
Air mataku langsung menggenang. "Benarkah? Albert, aku... aku tidak tahu harus bilang apa."
"Tapi ada syaratnya."
Nada suaranya berubah. Sedikit lebih rendah, lebih berat, seperti seseorang yang sudah lama menyimpan sesuatu dan baru saja memutuskan untuk mengeluarkannya.
Aku menelan ludah. Perasaanku menjadi tidak enak. "Syarat apa?"
Albert tidak langsung menjawab. Detik-detik itu terasa seperti berjam-jam, udara di dalam mobil terasa semakin tipis. Lalu ia berbicara, pelan tapi tegas, setiap katanya jatuh seperti batu ke permukaan air yang tenang.
"Aku ingin satu malam bersamamu, Amy. Satu malam saja. Aku ingin merasakan apa yang dulu tak pernah kita miliki sepenuhnya."
Dunia seketika berhenti berputar.
Mobil di depanku mengerem mendadak. Aku menginjak rem kuat-kuat hingga ban berdecit keras di aspal. Tubuhku terdorong ke depan, sabuk pengaman menekan dada dengan menyakitkan. Amarah, malu, jijik, dan keputusasaan meledak dalam satu gelombang besar yang menghantam dadaku dari dalam.
"Apa katamu?!" Suaraku pecah, nyaring dan histeris di dalam mobil yang mendadak terasa pengap. "Albert, kamu gila?! Kamu benar-benar sudah gila!"
"Amy, dengar dulu..."
"Tidak! Aku tidak mau mendengar apa pun darimu!" teriakku sambil menangis. Air mata mengalir deras, membasahi kerudung dan pipi hingga daguku. "Aku sudah bersuami! Aku punya dua anak laki-laki! Aku muslimah, Albert! Bahkan dulu saat pacaran denganmu, aku tak pernah memberikan lebih dari ciuman dan pelukan! Dan sekarang kamu berani meminta aku mengkhianati suamiku? Mengkhianati Tuhanku?!"
Aku memukul setir berkali-kali, bahuku terguncang hebat. Ponsel hampir terjatuh dari tanganku yang gemetar.
"Lebih baik usaha kami hancur! Lebih baik aku dan Rizal dipenjara! Daripada aku harus menjual kehormatanku..."
Aku langsung memutus sambungan. Ponsel jatuh ke pangkuanku dengan bunyi kecil yang terasa sangat keras di telingaku. Dengan kasar aku menepikan mobil ke bahu jalan, mematikan mesin, lalu membiarkan tangisku pecah sebebas-bebasnya. Bahuku terguncang, dadaku sesak, seolah ada tangan raksasa yang meremas jantungku tanpa ampun dan tidak berniat berhenti.
Kenapa takdir sekejam ini?
Aku tidak tahu berapa lama aku menangis di sana, di tepi jalan yang ramai, di antara suara klakson dan deru mesin yang tidak peduli. Yang aku tahu, ketika air mata akhirnya mulai mengering, yang tersisa hanyalah rasa marah yang begitu besar pada nasib buruk yang menimpa kami.
Di luar, kemacetan Jakarta terus mengalir tanpa peduli. Di dalam mobil yang panas ini, aku berdiri di persimpangan paling gelap dalam hidupku. Di satu sisi ada kehormatanku sebagai istri salehah dan muslimah yang selama ini berusaha menjaga amanah dan aurat. Di sisi lain ada masa depan keluargaku, masa depan dua anakku yang sedang belajar agama di pesantren, dan amanah delapan puluh tujuh jiwa yang mempercayakan perjalanan suci mereka kepadaku.
Albert datang bukan untuk jadi penyelamat. Ia datang untuk memanfaatkanku, menawarkan pertolongan dengan harga yang terlalu mahal.
Aku menatap langit melalui kaca mobil yang berembun. Tangan masih gemetar di atas setir.
Aku masih duduk di dalam mobil yang kuparkir sembarangan di bahu jalan, tubuhku gemetar seperti daun kering dihembus angin kencang. Air mata tak kunjung berhenti mengalir, membasahi kerudung yang sudah lepek menempel di pipi. Klakson mobil-mobil yang melaju kencang terdengar samar, seperti gema dari dunia lain yang tak lagi peduli pada kehancuran seorang perempuan di pinggir jalan. Berapa lama sudah aku di sini? Lima belas menit? Setengah jam? Satu jam? Waktu seolah kehilangan artinya.
Kata-kata Albert masih bergema keras di kepalaku, berulang seperti kaset rusak yang tak mau berhenti.
Satu malam. Hanya satu malam, Amy.
Aku mengusap wajah dengan kasar, seolah bisa menghapus bayangan wajahnya yang dulu pernah kucintai. Tangan kananku masih gemetar saat aku menyalakan mesin mobil lagi. Harus ke kantor. Harus pura-pura kuat. Harus tersenyum di depan karyawan dan berpura-pura bahwa semuanya masih baik-baik saja.
Mobil meluncur kembali ke arus kemacetan Jakarta yang tak pernah reda. Panas matahari pagi menyusup masuk melalui kaca, membuat udara di dalam mobil terasa semakin pengap. AC seolah tak mampu mendinginkan api yang berkobar di dadaku. Setiap deru mesin, setiap lampu merah, setiap kali aku berhenti, dilema itu datang menyerang seperti gelombang pasang yang tak henti-hentinya.
Bagaimana mungkin Albert berani meminta hal seperti itu?
Dulu, saat kuliah dan kami pacaran dia sangat menghargai batasanku tanpa pernah sekali pun memaksaku melewatinya. Kami berpisah dengan air mata karena aku memilih tetap pada keyakinanku, dan waktu itu aku pikir ia menerima keputusan itu dengan lapang. Kini ia kembali sebagai pria kaya raya dengan jiwa yang telah berubah sepenuhnya. Atau mungkin ini memang wajah aslinya yang selama ini tersembunyi di balik kelembutan yang ia pelajari untuk ditampilkan.
Aku menggenggam setir lebih erat hingga ruas-ruas jariku memutih untuk kedua kalinya pagi ini. Bayangan Rizal muncul di benakku. Wajah suamiku yang lelah tapi penuh kasih sayang, wajah yang setiap malam tetap tersenyum meski aku tahu ia menyimpan kepanikan yang sama beratnya dengan kepanikkanku. Bagaimana mungkin aku bisa menatap matanya lagi jika aku menerima tawaran itu? Bagaimana aku bisa memeluk Faisal dan Farhan, anak-anakku yang sedang belajar mengaji dan menghafal Al-Quran di pesantren, dengan tangan yang telah ternoda?
Semoga Rizal menemukan solusi lain hari ini. Semoga ada keajaiban yang belum kami lihat. Tapi hatiku pesimis dengan cara yang menyakitkan, karena aku tahu persis kondisi kami. Rizal hanyalah seorang guru di madrasah aliyah swasta dengan gaji yang tak pernah benar-benar cukup untuk kebutuhan bulanan kami. Meski ia selalu berusaha keras, selalu mencari tambahan di sana-sini tanpa pernah mengeluh, dua setengah miliar rupiah bukanlah angka yang bisa dicari dalam hitungan hari atau bahkan minggu. Bahkan jika kami menjual mobil ini sekarang juga dan melepas rumah mungil kami di Depok dengan harga berapa pun yang ditawarkan, hasilnya tak akan mencapai setengah dari jumlah yang lenyap bersama Andini. Perempuan itu telah membawa semuanya dengan sangat rapi, sangat terencana, hingga aku masih tidak habis pikir bagaimana ia bisa menyembunyikan niatnya selama bertahun-tahun di depan mataku sendiri.
Lampu merah menyala. Aku berhenti. Di trotoar sebelah kiri, seorang perempuan tua berjualan pisang goreng dengan senyum yang entah bagaimana masih mampu mengembang di wajahnya yang keriput dan kepanasan. Di sebelah kanan, seorang pengendara motor berhenti sambil berdoa kecil, bibirnya bergerak pelan, matanya terpejam sebentar sebelum lampu berganti hijau.
Aku iri pada mereka berdua.
Iri pada perempuan tua yang tampak damai dengan kesederhanaan hidupnya. Iri pada pengendara motor yang masih bisa berdoa dengan ringan di tengah terik pagi. Karena aku, Aminah, yang selama ini merasa sudah cukup menjaga diri dan menjaga amanah, kini berdiri di tepi jurang yang bahkan tidak tahu kapan mulai menganga di bawah kakiku.
Kantor Travel Umroh milikku di kawasan Tebet sudah terlihat dari kejauhan, bangunan ruko dua lantai dengan papan nama yang dulu kupasang dengan bangga bersama Rizal. Keseharian memang lebih banyak aku habiskan di sini, karena Rizal pekerjaan utamanya adalah guru di sebuah madrasah aliyah di Jakarta Selatan, dan kami sudah lama membagi peran dengan cara yang terasa alami dan menenangkan. Dulu.
Aku memarkirkan mobil, duduk sebentar tanpa bergerak. Di depan cermin kecil di atas dasbor, aku merapikan kerudung, menyeka bekas air mata dengan ujung jari, dan memaksakan senyum yang terasa seperti topeng yang terlalu ketat di wajah. Senyum itu tidak menjangkau mataku, tapi mudah-mudahan tidak ada yang cukup memperhatikan untuk menyadarinya.
Menarik napas dalam-dalam, aku melangkah masuk.
Aroma kopi dan suara ketik keyboard menyambutku seperti biasa, hangat dan teratur, seolah tidak ada yang berubah di dunia ini. Beberapa karyawan menoleh dan menyapa dengan ramah.
"Bu Aminah, pagi! Ada kabar dari jemaah batch depan?" tanya Mbak Siti, sekretarisku, dengan mata penuh harap yang justru membuat dadaku semakin sesak.
"InsyaAllah sebentar lagi ada kabar baik, Siti. Sabar ya," jawabku sambil tersenyum, suaraku terdengar jauh lebih tenang daripada yang kurasakan di dalam.
Aku berjalan menuju ruangan kecilku, menutup pintu pelan, lalu ambruk di kursi seperti boneka yang talinya baru saja digunting. Di meja kerja, tumpukan berkas pendaftaran jemaah tergeletak tidak beraturan. Foto-foto mereka tersebar di antara kertas-kertas itu, wajah-wajah yang tersenyum bahagia menghadap kamera dengan mata yang bercahaya penuh harap. Catatan doa yang mereka tulis sendiri sebelum mendaftar, tulisan tangan yang rapi dan ada pula yang gemetar karena usia. Delapan puluh tujuh jiwa.
Aku mengenal beberapa di antara mereka secara pribadi. Ada Bu Rohimah, ibu tujuh anak dari Bekasi yang sudah menabung dua belas tahun lamanya untuk biaya ini, menyisihkan uang belanja sedikit demi sedikit sampai akhirnya terkumpul. Ada Pak Hasan dan istrinya, pasangan lanjut usia dari Tangerang yang ingin menunaikan Umroh sebelum salah satu dari mereka lebih dulu dipanggil pulang. Ada juga Dimas, anak muda yang baru lulus kuliah dan memilih menghabiskan tabungan pertamanya untuk perjalanan ke tanah suci, bukan untuk liburan seperti teman-temannya.
Mereka mempercayaiku. Mereka mempercayai kami.
Air mataku hampir jatuh lagi, tapi aku cepat-cepat menahannya dengan menggigit bibir hingga terasa perih. Ponselku bergetar di atas meja.
Pesan dari Rizal.
Sayang, ada kabar? Aku sudah hubungi beberapa kenalan lagi. Doakan ya.
Aku menatap pesan itu lama sekali. Ada sesuatu di balik kalimat pendek itu, kelelahan yang ia sembunyikan di balik kata-kata yang teratur dan tenang. Suamiku sedang berjuang dengan caranya sendiri, diam-diam, tanpa mengeluh kepadaku supaya aku tidak semakin hancur.
Aku tidak sanggup membalas dengan kejujuran. Jari-jariku mengetik hanya dua kata, Masih berusaha, sebelum meletakkan ponsel dengan tangan yang terasa lemas seperti kapas basah.
Sepanjang siang itu aku bekerja seperti robot yang sudah hampir kehabisan daya. Rapat kecil dengan tim tentang persiapan keberangkatan yang entah akan terjadi atau tidak. Menjawab telepon jemaah yang gelisah dengan suara yang tetap kukondisikan agar terdengar meyakinkan. Menyusun laporan perkembangan yang sebagian besar adalah kebohongan terselubung, kalimat-kalimat halus yang menunda panik tanpa benar-benar memberikan jawaban, dan setiap kalimat itu membuat perutku semakin mual.
Di balik semua itu, pikiranku tidak pernah berhenti berputar pada dua pilihan yang sama-sama mengerikan.
Menerima tawaran Albert berarti mengkhianati segala yang kuperjuangkan selama ini, kehormatanku, pernikahanku, imanku, seluruh identitas yang terbangun dari didikan keluargaku yang sangat religius. Satu malam itu mungkin bisa menyelamatkan perusahaan, menyelamatkan delapan puluh tujuh jemaah, menyelamatkan masa depan anak-anakku. Tapi setelah itu, bagaimana aku bisa sholat tanpa merasa langit runtuh di atas kepalaku? Bagaimana aku bisa tetap menjadi Aminah yang dulu, Aminah yang solehah di mata Rizal suamiku yang aku cintai, Aminah seorang ibu yang memiliki dua putra yang aku dan Rizal besarkan dengan pendidikan agama yang kuat.
2003Please respect copyright.PENANALzGlpFmUAV
Bersambung
ns216.73.216.69da2


