Malam itu hujan deras mengguyur Kudus, membasahi jalan-jalan sepi yang biasanya ramai oleh suara becak dan klakson motor. Aku, seorang pria berusia 48 tahun bernama Budi, baru saja turun dari mobil setelah seharian penuh rapat di kantor. Tubuhku terasa lelah, pundak tegang karena deadline proyek yang tak kunjung selesai. Kemeja putihku sudah agak kusut, dasi longgar di leher, dan tas kerja kulit hitam tergantung berat di bahu kanan. Aku menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa penat itu sambil memandang rumah dua lantai kami yang berdiri tenang di ujung gang.
603Please respect copyright.PENANAn7VOODcrXp
Rumah ini selalu menjadi pelabuhan pulang. Dinding cat krem yang sedikit pudar karena usia, taman kecil di depan dengan bunga mawar yang dirawat istriku, Maya, dan lampu teras yang menyala hangat. Maya, istriku selama 22 tahun, adalah wanita yang masih memikat di usia 45 tahun. Tubuhnya tetap padat, pinggulnya lebar dan menggoda, payudaranya yang besar dan berat selalu terlihat menonjol di balik baju rumah sederhana yang biasa dipakainya. Kulitnya kuning langsat, rambut hitamnya yang panjang sering diikat asal, dan senyumnya selalu bisa melunakkan hari-hariku yang berat.
603Please respect copyright.PENANAOe2Qc9C3e0
Kami punya satu anak perempuan, Laras. Usianya baru menginjak 20 tahun, mahasiswi semester tiga di universitas swasta di Semarang. Laras mirip sekali dengan ibunya—wajah oval yang lembut, bibir penuh yang alami merah, mata besar dengan bulu mata lentik, dan tubuh yang... ya Tuhan, tubuh yang semakin hari semakin matang. Payudaranya yang kencang dan besar, ukuran setidaknya 36D, selalu membuatku gelisah saat melihatnya memakai kaos ketat di rumah. Pinggulnya lebar, bokongnya bulat dan montok, kakinya jenjang dengan paha yang padat tapi halus. Aku tahu ini salah, tapi sebagai ayah, aku tetap memperhatikan bagaimana anakku tumbuh menjadi wanita dewasa yang luar biasa cantik.
603Please respect copyright.PENANAH5hJ9NoxIX
Aku memasukkan kunci ke lubang pintu, memutarnya pelan. Hujan di belakangku masih deras, suara gemuruhnya menyatu dengan detak jantungku yang mulai sedikit tidak biasa. Malam ini seharusnya biasa saja. Maya bilang tadi siang via chat bahwa dia sudah masak rendang kesukaanku. Laras katanya sedang belajar di kamar atas bersama teman-temannya. Tapi entah kenapa, ada firasat aneh yang merayap di dada.
603Please respect copyright.PENANABcotYSEIPu
Pintu terbuka dengan suara pelan. Aku melangkah masuk, meletakkan tas di sofa ruang tamu yang kosong. Lampu ruang tengah menyala redup, hanya lampu meja kecil yang menyala. Aroma masakan rendang samar-samar tercium dari dapur, tapi rumah terasa terlalu sepi. Biasanya Maya akan menyambutku dengan pelukan hangat, tubuhnya yang empuk menempel sebentar, payudaranya yang besar dan lembut sedikit tertekan di dadaku.
603Please respect copyright.PENANAcb09cdzFos
"Maya? Laras?" panggilku pelan, suaraku agak serak karena capek.
603Please respect copyright.PENANAOlBJ8B6gsn
Tak ada jawaban. Aku melepas sepatu, berjalan menuju dapur. Meja makan sudah tertata rapi, rendang, sambal, dan sayur asem sudah tersaji. Tapi tak ada orang. Aku mengambil segelas air putih, meneguknya perlahan sambil memandang ke atas tangga yang menuju lantai dua. Kamar Laras ada di sana, kamar utama kami juga.
603Please respect copyright.PENANAu5ynYd77OI
Aku naik tangga pelan-pelan, langkahku tertahan di setiap anak tangga. Entah kenapa jantungku berdegup lebih kencang. Mungkin karena hujan yang membuat suasana semakin intim, atau mungkin karena kelelahan yang membuat pikiranku melayang. Sudah lama aku dan Maya jarang berhubungan intim. Rutinitas kerja dan urusan rumah membuat api kami meredup. Tapi Maya selalu bilang dia mengerti. Bahkan, belakangan ini dia sering tersenyum aneh saat membicarakan Laras yang sudah punya pacar.
603Please respect copyright.PENANAewEUMRFO67
Pacarnya Laras bernama Dika, pemuda 22 tahun, mahasiswa teknik yang tinggi tegap, kulit sawo matang, dan tubuh atletis karena sering main basket. Aku pernah bertemu dengannya dua kali. Sopan, tapi matanya selalu penuh nafsu saat memandang Laras. Aku tahu mereka sudah dekat, tapi sejauh ini kupikir masih batas wajar.
603Please respect copyright.PENANA3GTnFFDE5s
Sampai di koridor lantai dua, aku mendengar suara samar. Suara desahan pelan. Suara yang basah, penuh nafsu. Napasku tertahan. Aku berjalan lebih pelan mendekati pintu kamar Laras yang sedikit terbuka. Cahaya kuning lembut keluar dari celah itu.
603Please respect copyright.PENANAU04oOWxd4m
"...ahh... Dika... pelan dulu sayang..." suara Laras, manja dan terengah.
603Please respect copyright.PENANA85opTCIhCK
Jantungku seperti mau copot. Aku mengintip dari celah pintu, dan dunia seolah berhenti berputar.
603Please respect copyright.PENANAhUGR01nOUI
Di atas tempat tidur Laras yang besar, dengan seprai biru muda yang kusut, Laras sedang duduk di atas pangkuan Dika. Tubuh telanjang sempurna anakku itu bergerak naik turun dengan lambat, penuh kendali. Payudaranya yang besar, kencang, dan montok bergoyang-goyang indah setiap kali ia turun. Putingnya cokelat muda, mengeras dan menonjol, seolah meminta untuk dihisap. Kulitnya yang halus berkilau oleh keringat tipis, perutnya rata dengan sedikit garis otot halus karena senam.
603Please respect copyright.PENANAxrnggmJOIa
Aku melihat jelas bagaimana vagina Laras yang pink, rapat, dan sudah basah sekali menelan kontol Dika yang tebal dan panjang masuk keluar. Bibir vaginanya yang montok membuka lebar setiap kali ia turun, cairan beningnya melumasi batang Dika yang mengkilap. Bokong Laras yang bulat sempurna, kenyal, dan putih terangkat lalu turun dengan ritme yang menggoda. Paha dalamnya yang halus menjepit pinggul Dika, kakinya yang jenjang terbuka lebar, jari-jari kakinya menekuk karena kenikmatan.
603Please respect copyright.PENANA87kwHrv2zh
Dika berbaring di bawahnya, tangannya meremas payudara Laras dengan rakus. Jari-jarinya tenggelam di daging payudara yang lembut dan kenyal itu, puting Laras terjepit di antara jari telunjuk dan jempolnya, dipilin pelan.
603Please respect copyright.PENANAK8vDBuC5Bj
"Ya ampun Laras... memekmu enak banget... ketat sekali... basahnya bikin kontolku licin semua," desah Dika dengan suara berat penuh nafsu.
603Please respect copyright.PENANAgQAWlkn5PG
Laras menggigit bibir bawahnya, matanya setengah terpejam, rambut hitam panjangnya menjuntai di bahu. Ia mencondongkan tubuh ke depan, payudaranya yang berat menekan dada Dika.
603Please respect copyright.PENANA4rwOcqrQwy
"Iya sayang... kontolmu besar sekali... ngisi penuh memek Mama Laras ini... ahh... dalem banget... goyang pinggulmu pelan dulu... biar aku rasain ujungnya nempel di dinding memekku..."
603Please respect copyright.PENANAoNb1hy0bwm
Aku berdiri membeku di depan pintu. Darahku mendidih, campuran marah, kaget, dan... entah kenapa ada getar aneh di selangkanganku. Aku tahu seharusnya aku marah besar, menerobos masuk, tapi kaki ini seperti terpaku.
603Please respect copyright.PENANAWvneq5R9Ix
Tiba-tiba aku merasakan tangan lembut di punggungku. Maya.
603Please respect copyright.PENANASS4R3s523p
"Istriku berdiri di belakangku, tubuhnya menempel pelan. Aku bisa merasakan payudaranya yang besar dan hangat menekan punggungku melalui kain daster tipis yang dipakainya.
603Please respect copyright.PENANAgHX9xVStDy
"Sst... jangan ganggu mereka dulu, Mas," bisik Maya pelan di telingaku, suaranya lembut tapi ada nada bergairah. "Mama sudah tahu dari awal. Laras sudah cerita. Mama izinkan... asal mereka aman dan tidak ada yang tahu di luar."
603Please respect copyright.PENANAkOhKAImb1Q
Aku menoleh, wajah Maya merah, bibirnya basah, matanya berkaca-kaca penuh nafsu yang lama terpendam. Tangan kanannya turun pelan, meraba selangkanganku yang sudah setengah mengeras tanpa sadar.
603Please respect copyright.PENANAcezUr2LHZj
"Kamu... tahu?" bisikku, suara gemetar.
603Please respect copyright.PENANATrfAr2srCj
Maya mengangguk, bibirnya menyentuh daun telingaku. "Iya... Mama suka lihat Laras bahagia. Dan... entah kenapa, Mama juga basah lihat mereka. Mas mau masuk dan lihat lebih dekat? Atau... mau Mama layani dulu di kamar kita?"
603Please respect copyright.PENANAIhP3g8acG7
Di dalam kamar, Laras semakin cepat gerakannya. Ia sekarang menggoyang pinggulnya memutar, vagina yang basah itu menggiling kontol Dika dengan rakus. Suara cipratan cairan mesum terdengar jelas di antara desahan mereka.
603Please respect copyright.PENANAFx5wjf1Bql
"Aahh... Dika... aku mau keluar lagi... jempolmu di klitorisku... ya gitu... putar pelan... ahh! Payudaraku remas lebih keras... gigit putingku sayang..."
603Please respect copyright.PENANALS8RIjjxFy
Payudara Laras bergoyang liar, bokongnya naik turun dengan suara plok-plok pelan yang basah. Kakinya gemetar, paha dalamnya mengejang. Aku melihat jelas bagaimana bibir vaginanya menggenggam batang Dika, cairan beningnya menetes ke bola-bola zakar pemuda itu.
603Please respect copyright.PENANArE7ngEsat2
Aku berdiri di sana, tangan Maya sudah meremas kontolku dari luar celana, napasnya panas di leherku. Laras mendongak, matanya bertemu dengan mataku melalui celah pintu. Bukan kaget, tapi ia tersenyum tipis, penuh godaan, lalu menggigit bibirnya lebih kuat sambil terus menggenjot kontol pacarnya dengan lebih dalam.
603Please respect copyright.PENANA7SxYxYOGPU
Tubuh Laras mengejang hebat. "Aku keluar... Dika... aku squirt lagi... ahhhhh!!!"
603Please respect copyright.PENANA0Le14E7Ejf
Cairan menyembur pelan dari vaginanya yang terbuka lebar, membasahi perut Dika. Payudaranya naik turun cepat, putingnya mengeras maksimal.
603Please respect copyright.PENANAWfAseIZCwE
Aku merasa dunia berputar. Maya menggenggam tanganku erat.
603Please respect copyright.PENANAyfqOFT0O61
Maya menarik tanganku pelan ke arah kamar kami di ujung koridor, jari-jarinya yang hangat dan lembut melingkar erat di pergelangan tanganku. Tubuhku masih membeku di depan pintu kamar Laras yang sedikit terbuka, telingaku terus menangkap suara desahan anakku yang belum reda. "Papa... lihat ya... Laras enak sekali..." kata Laras dengan suara manja yang terengah-engah, penuh godaan yang tak tertahankan. Suaranya seperti cambuk halus yang menyentuh langsung ke selangkanganku, membuat kontolku yang sudah setengah mengeras semakin tegang di dalam celana.
603Please respect copyright.PENANAhCFCpc13xC
Aku menoleh ke belakang sekali lagi. Melalui celah pintu, aku melihat Laras masih duduk tegak di atas pangkuan Dika. Tubuh telanjangnya yang sempurna berkilau oleh keringat. Payudaranya yang besar dan kencang, dengan kulit kuning langsat yang halus, bergoyang pelan mengikuti gerakan pinggulnya yang memutar. Putingnya cokelat muda, mengeras seperti dua permata kecil yang menonjol, basah oleh ludah Dika yang tadi menghisapnya rakus. Vaginanya yang pink cerah dan rapat masih menelan kontol Dika yang tebal, bibir luarnya yang montok dan bengkak terbuka lebar, menggenggam batang itu dengan kuat. Setiap kali ia mengangkat bokongnya yang bulat sempurna, kenyal, dan putih, cairan beningnya yang kental menetes panjang, membasahi bola zakar Dika yang penuh dan berat.
603Please respect copyright.PENANAJ92IPpeeSz
Dika mendesah berat, tangannya meremas bokong Laras dengan penuh nafsu, jari-jarinya tenggelam di daging lembut yang kenyal itu. "Memekmu masih berdenyut, Ras... masih mau keluar lagi ya? Squirt tadi banyak banget, basahin perutku semua."
603Please respect copyright.PENANA4Y0mEMdZil
Laras tersenyum nakal, matanya setengah terpejam tapi sesekali melirik ke arah pintu, ke arahku. Ia menggoyang pinggulnya lebih dalam, naik turun dengan ritme lambat yang sengaja dibuat untuk memperpanjang kenikmatan. "Iya... kontol Dika masih keras banget di dalam... nempel di titik G Laras... ahh... pelan dulu, jangan cepat... biar Papa lihat betapa enaknya anaknya ini..."
603Please respect copyright.PENANAR1QdPJYX83
Maya menarikku lebih kuat sekarang. "Mas... ayo ke kamar kita dulu. Biarkan mereka menikmati. Mama mau bicara banyak sama Mas malam ini." Suaranya lembut, tapi ada getar gairah yang tak bisa disembunyikan. Kami masuk ke kamar utama, Maya menutup pintu pelan tapi tidak mengunci. Cahaya lampu tidur kuning lembut menyinari ruangan, tempat tidur king size kami yang rapi, seprai putih bersih, dan aroma sabun mandi yang masih menempel di tubuh Maya.
603Please respect copyright.PENANAyyYU6LD8MI
Istriku berbalik menghadapku. Daster tipis berwarna merah maroon yang dipakainya hampir tembus pandang. Payudaranya yang sangat besar dan berat, ukuran 38E yang masih kencang meski usia 45 tahun, menonjol jelas. Putingnya sudah mengeras, menekan kain tipis itu. Pinggulnya lebar, bokongnya montok dan sedikit turun tapi tetap menggoda, kakinya yang tebal dan mulus terlihat di bawah daster yang pendek.
603Please respect copyright.PENANAHvHfUyEZPQ
"Mas duduk dulu," kata Maya sambil mendorongku lembut ke tepi tempat tidur. Ia berdiri di depanku, tangannya menyentuh dada ku pelan, membuka kancing kemeja satu per satu. "Mama tahu Mas kaget. Tapi ini bukan pertama kali. Sudah hampir tiga bulan Laras dan Dika sering begini di rumah. Mama izinkan... karena Mama lihat Laras bahagia. Dan... jujur saja, Mas... Mama jadi basah setiap kali dengar mereka."
603Please respect copyright.PENANANHXkMGotsr
Aku menelan ludah, napasku berat. Tangan Maya turun ke sabuk celanaku, membukanya perlahan. "Kamu... tidak marah? Dia anak kita, Maya..."
603Please respect copyright.PENANAPDps9NV7gz
Maya tersenyum lembut, matanya penuh kasih dan nafsu yang bercampur. Ia berlutut di antara kakiku, wajahnya dekat sekali dengan selangkanganku. "Marah? Awalnya iya. Tapi setelah Mama lihat betapa Laras menikmatinya... payudaranya yang besar itu bergoyang, memeknya yang pink dan ketat itu menggenggam kontol Dika... Mama malah merasa hidup lagi. Kita sudah lama jarang begini, Mas. Mama kangen sentuhan Mas, tapi juga... entah kenapa, melihat Laras seperti itu membuat Mama ingin lebih."
603Please respect copyright.PENANAN6WTVuwh1N
Ia menarik celanaku turun bersama boxer, kontolku yang sudah keras tegak melompat keluar. Maya menggenggamnya dengan kedua tangan, mengusap pelan dari pangkal hingga ujung. Jari-jarinya halus, hangat, dan penuh pengalaman. "Lihat... kontol Mas sudah sekeras ini. Mas suka lihat Laras ya? Payudaranya lebih besar dari Mama dulu, bokongnya lebih bulat, vaginanya masih sangat rapat..."
603Please respect copyright.PENANA4gAPYGRcjS
Aku mendesah saat Maya menjulurkan lidahnya, menjilat ujung kontolku perlahan. Lidahnya basah dan hangat, berputar di sekitar kepala kontol yang sudah mengeluarkan cairan bening. "Maya... ahh..."
603Please respect copyright.PENANAflSCfFh4qq
Di kejauhan, dari kamar Laras, suara desahan masih terdengar samar tapi jelas. "Dika... hisap putingku lagi... gigit pelan... ya gitu... ahh! Memekku berdenyut lagi..."
603Please respect copyright.PENANA9MdbjhC30u
Maya tersenyum sambil mengulum kepala kontolku lebih dalam. Bibirnya yang tebal dan lembut membungkusnya rapat, lidahnya menekan urat-urat di bawahnya. Ia menggerakkan kepalanya naik turun dengan lambat, sangat lambat, membiarkan setiap inci kontolku merasakan kehangatan mulutnya. Air liurnya menetes ke bola-bolaku, membuat semuanya licin dan basah.
603Please respect copyright.PENANArepJ4yE2eW
Setelah beberapa menit yang terasa lama, Maya melepaskan kontolku dengan suara 'plop' basah. Ia berdiri, melepas dasternya perlahan. Tubuhnya terpapar sepenuhnya. Payudaranya yang besar dan agak kendur tapi masih sangat indah, turun sedikit karena gravitasi, dengan puting cokelat gelap yang panjang dan mengeras. Perutnya agak berisi, tapi pinggulnya lebar dan menggoda. Vaginanya yang sudah basah, bibir luarnya tebal dan gelap, klitorisnya sedikit menonjol. Bokongnya besar dan lembut, paha dalamnya halus dengan sedikit stretch mark yang justru membuatnya terlihat nyata dan seksi.
603Please respect copyright.PENANA1pOBIFXaNV
Ia naik ke pangkuanku, duduk menghadapku. Payudaranya yang berat menekan dada ku. "Sentuh Mama, Mas. Remas payudara Mama seperti Dika remas payudara Laras."
603Please respect copyright.PENANAHlmALO88Pv
Aku meremas payudaranya dengan kedua tangan. Dagingnya lembut, melimpah di antara jari-jariku. Putingnya keras, aku memilinnya pelan, menarik sedikit. Maya mendesah panjang, kepalanya mendongak. "Iya... seperti itu... lebih keras... Mama suka."
603Please respect copyright.PENANAvtu9WHqdSt
Kami berciuman dalam. Lidah kami saling menari, basah dan penuh nafsu. Tangan Maya menggenggam kontolku lagi, mengarahkannya ke mulut vaginanya yang sudah sangat basah. Ia menurunkan tubuhnya perlahan, sangat perlahan. Kepala kontolku menyentuh bibir vaginanya yang panas, lalu masuk pelan, membelah dinding-dindingnya yang lembut dan berkerut.
603Please respect copyright.PENANAZDTknO49mk
"Aaahhh... Mas... kontolmu masih pas di memek Mama... dalem... pelan dulu... biarkan Mama rasain penuh..."
603Please respect copyright.PENANAv1E1Nkvubh
Ia duduk sepenuhnya, kontolku tenggelam total di dalam vaginanya. Kami diam sebentar, saling memandang. Napas kami bercampur. Di luar, suara Laras semakin keras. "Papa... Laras lagi naik turun kontol Dika... lihat bokong Laras yang bergoyang ini... ahh!"
603Please respect copyright.PENANAOfS2PDOYMK
Maya mulai menggerakkan pinggulnya naik turun dengan ritme lambat. Setiap turun, payudaranya bergoyang berat di depan wajahku. Aku menghisap putingnya, menggigit pelan, lidahku berputar di sekitarnya. Tangan kananku meremas bokongnya, jari tengahku menyentuh lubang anusnya yang kecil dan berkedut.
603Please respect copyright.PENANAcwOL1M4uzV
"Mas... jari Mas di anus Mama... pelan... masukkan sedikit..." bisik Maya sambil mempercepat gerakan pinggulnya sedikit.
603Please respect copyright.PENANAVNiybxkZLK
Aku memasukkan ujung jari ke lubang anusnya yang sempit, merasakan kehangatannya. Maya mengejang, vaginanya menggenggam kontolku lebih erat.
603Please respect copyright.PENANAiV6Mcyfn6U
Kami terus seperti itu cukup lama. Foreplay yang panjang, penuh sentuhan, ciuman di leher, gigitan lembut di bahu, tangan yang menjelajah setiap inci tubuh. Maya berbicara banyak, suaranya manja dan kotor.
603Please respect copyright.PENANAOl8HyGSbhg
"Bayangkan kalau Mas masuk ke kamar Laras sekarang... lihat vagina anak kita yang pink itu penuh kontol orang lain... mau Mas coba juga? Memek Laras pasti lebih ketat dari memek Mama..."
603Please respect copyright.PENANAbWDMCd9g2O
Aku semakin keras mendengarnya. Aku membalik posisi, menindih Maya. Kontolku keluar sebentar, licin oleh cairannya, lalu aku masukkan lagi dengan satu hentakan pelan tapi dalam. Kami berganti posisi missionary, lalu aku angkat satu kakinya yang jenjang ke bahuku, menembus lebih dalam.
603Please respect copyright.PENANAA6ol3mVMOP
Desahan Maya memenuhi kamar. "Terus... dorong lebih dalam... ujung kontol Mas nempel di rahim Mama... ahh! Remas payudara Mama sambil ngentot... ya... keras!"
603Please respect copyright.PENANANd1GR4CINU
Aku mempercepat, tapi tetap terkontrol. Setiap hentakan panjang, keluar hampir seluruhnya lalu masuk penuh. Suara plok-plok basah terdengar ritmis. Vaginanya semakin basah, cairannya menetes ke seprai.
603Please respect copyright.PENANAxKDZQMa4go
Maya mencapai orgasme pertama dengan tubuh mengejang hebat. "Aku keluar... Mas... aaahhhh!!!" Vaginanya berkedut kuat, memijat kontolku. Tapi aku tahan, terus gerakkan pelan sambil ia pulih.
603Please respect copyright.PENANAu5gPxGR6Ww
Kami berganti lagi ke doggy style. Maya berlutut, bokongnya yang besar terangkat tinggi. Aku meremas kedua sisi bokongnya, membuka lebar, lalu memasukkan kontol dari belakang. Tangan kiriku meraih payudaranya yang bergantung dan bergoyang, memilin putingnya.
603Please respect copyright.PENANAOhfcPMTReN
Di saat yang sama, suara Laras dari kamar sebelah semakin liar. "Dika... aku mau cum lagi... kontolmu goyang di dalam... ya... Laras squirt lagi... ahhhhh!!!"
603Please respect copyright.PENANAwevpCju7LA
Maya masih dalam posisi doggy style, bokongnya yang besar dan montok terangkat tinggi, vaginanya yang tebal dan basah masih menggenggam kontolku erat. Tubuhnya gemetar pelan sisa-sisa orgasme keduanya, cairan beningnya menetes pelan di sepanjang batang kontolku yang masih keras dan berdenyut. Aku belum keluar, napasku tersengal, tanganku masih meremas pinggulnya yang lebar.
603Please respect copyright.PENANAcyYITt4sej
Pintu kamar kami terbuka lebih lebar. Laras berdiri di ambang pintu, tubuh telanjangnya yang sempurna masih berkilau oleh keringat tipis yang membuat kulit kuning langsatnya semakin menggoda. Payudaranya yang besar dan kencang, ukuran 36D yang padat, naik turun mengikuti napasnya yang cepat. Putingnya cokelat muda masih mengeras, basah oleh ludah Dika, dengan areola yang lebar dan halus. Perutnya rata, pinggangnya ramping, lalu melebar ke pinggul yang lebar dan bokong yang bulat sempurna, kenyal seperti dua bola yang baru dipanggang. Vaginanya yang pink cerah masih terbuka sedikit, bibir luarnya bengkak dan mengkilap oleh cairan orgasmenya yang tadi menyembur. Paha dalamnya yang halus dan jenjang berkilau, kakinya yang panjang sedikit gemetar.
603Please respect copyright.PENANAS9gdq1JDmr
Di belakangnya, Dika berdiri tinggi dengan tubuh atletis, kontolnya yang tebal dan panjang masih setengah tegang, mengkilap oleh cairan Laras.
603Please respect copyright.PENANAExWifWAOw2
"Papa... Mama..." suara Laras lembut, manja, tapi ada nada berani yang baru. Matanya menatap langsung ke arahku, lalu turun ke kontolku yang masih tertanam dalam vaginanya Maya. "Laras tahu Papa lihat tadi di kamar Laras. Papa tidak marah?"
603Please respect copyright.PENANAXECmEUQRzf
Maya menoleh ke belakang, wajahnya masih merah karena kenikmatan. Ia tersenyum tipis, tidak buru-buru melepaskan kontolku. "Mas... biarkan Laras masuk. Mama sudah bilang, ini bukan rahasia lagi di antara kita."
603Please respect copyright.PENANA3kbo75uZWd
Aku menarik kontolku perlahan dari vagina Maya, suara basah 'plop' terdengar jelas. Kontolku berdiri tegak, licin oleh cairan istriku. Aku duduk di tepi tempat tidur, mencoba mengatur napas. "Laras... kamu... ini... Papa tidak tahu harus bilang apa."
603Please respect copyright.PENANASYgK5tVo49
Laras melangkah masuk pelan, Dika mengikuti dan menutup pintu di belakang mereka. Laras mendekat ke tempat tidur, payudaranya bergoyang lembut setiap langkah. Ia berhenti tepat di depanku, aroma tubuhnya yang campur keringat dan gairah memenuhi hidungku.
603Please respect copyright.PENANAmEeOIBQlph
"Papa duduk saja dulu. Laras mau jelaskan semuanya pelan-pelan." Ia duduk di sampingku, paha halusnya menyentuh paha ku. Tangan kanannya menyentuh lengan Papa dengan lembut. "Sejak tiga bulan lalu, Dika sering ke sini saat Papa dan Mama sedang sibuk. Awalnya cuma kissing, touching... tapi Laras suka sekali rasanya. Memek Laras basah banget setiap Dika sentuh."
603Please respect copyright.PENANALEaarsx8Y5
Maya bangkit duduk, payudaranya yang besar bergoyang berat. Ia merangkul Laras dari sisi lain. "Mama tahu dari awal. Laras cerita jujur. Mama lihat sendiri suatu malam saat kalian di kamar. Mama... malah suka lihatnya. Melihat payudara Laras yang besar itu bergoyang, bokong Laras yang montok naik turun di atas kontol Dika... Mama jadi ingat masa muda kita dulu, Mas."
603Please respect copyright.PENANA3NR2X8H7xP
Dika berdiri agak menjauh, sopan tapi matanya penuh nafsu memandang ketiga kami. "Om Budi... saya minta maaf kalau ini keterlaluan. Tapi Laras yang minta saya datang. Dan... dia bilang Om dan Tante sudah tahu."
603Please respect copyright.PENANApEvma2F6EM
Aku menghela napas panjang, kontolku masih keras tak kunjung reda. Laras melihat itu, matanya berbinar. "Papa... kontol Papa besar juga ya. Lebih tebal dari Dika sedikit. Papa suka lihat Laras tadi? Lihat vagina Laras yang pink ini menelan kontol Dika?"
603Please respect copyright.PENANACTyTiZI6uR
Ia membuka kakinya sedikit di tepi tempat tidur, memperlihatkan vaginanya yang masih basah. Bibir luarnya tebal dan mengembang, klitorisnya kecil tapi menonjol, lubangnya masih berkedut pelan, mengeluarkan cairan kental yang bening.
603Please respect copyright.PENANA6Rkzq5Rb6I
Maya tersenyum, tangannya menyentuh payudara Laras pelan, meremas lembut. "Lihat ini, Mas. Payudara anak kita lebih kencang dari punya Mama. Putingnya sensitif sekali. Coba sentuh."
603Please respect copyright.PENANAarkv4p6nme
Laras mendesah pelan saat tangan Maya memilin putingnya. "Mama... ahh... pelan dulu. Laras masih sensitif setelah cum tadi."
603Please respect copyright.PENANAYJDTBwj3ok
Aku merasa kepalaku pusing, tapi gairah yang aneh ini semakin kuat. "Laras... kamu benar-benar mau Papa lihat?
603Please respect copyright.PENANApJbyW299CT
Laras mengangguk, wajahnya merah tapi matanya penuh keberanian. "Iya, Pa. Laras sering bayangin. Papa yang selalu sabar, yang sayang Laras. Sekarang Laras sudah dewasa. Laras mau Papa lihat betapa enaknya Laras sekarang.
603Please respect copyright.PENANAPPH4ykOhPI
Dialog mengalir lambat, penuh ketegangan. Maya mendekat ke arahku, tangannya kembali menggenggam kontolku, mengusap pelan naik turun. "Mas, jangan dipikir terlalu berat. Malam ini kita buka semua. Tidak ada yang salah kalau semua setuju dan senang."
603Please respect copyright.PENANAwZmsoJpVOf
Laras mendekatkan wajahnya ke wajahku. Bibirnya penuh dan merah alami. "Papa... cium Laras dulu.
603Please respect copyright.PENANAFO4OH6kxYF
Aku ragu sebentar, lalu bibir kami bertemu. Ciuman pertama dengan anak sendiri. Lemah lembut dulu, lalu lidahnya menyelinap masuk, manis dan basah. Tangan Laras menyentuh dada ku, jari-jarinya menelusuri otot yang sudah agak kendur karena usia.
603Please respect copyright.PENANArADk29m1pg
Sementara itu, Maya berlutut di lantai, kembali mengulum kontolku. Mulutnya hangat, lidahnya berputar di kepala kontol dengan ahli. Dika mendekat ke Laras, tangannya meremas payudara Laras dari belakang sambil Laras terus berciuman denganku.
603Please respect copyright.PENANAh9vBrNa3tB
"Puting Laras keras sekali, Om," kata Dika pelan. "Laras suka kalau putingnya dihisap sambil jari di memeknya."
603Please respect copyright.PENANAEHNgkwlriz
Laras melepaskan ciuman, napasnya tersengal. "Papa... boleh Laras sentuh kontol Papa?"
603Please respect copyright.PENANA9IqT9TZM5g
Tanpa menunggu jawaban penuh, tangannya yang halus menggenggam kontolku di samping mulut Maya. Mereka berdua sekarang bergantian mengulum. Maya mengambil pangkal, Laras menjilat sisi batang dan ujungnya. Sensasi dua mulut sekaligus membuatku mendesah keras.
603Please respect copyright.PENANAH8amVAVApy
"Ahh... Laras... Maya... pelan... ini terlalu..."
603Please respect copyright.PENANAH8zQ6zkiza
Laras tersenyum nakal. "Papa suka kan? Kontol Papa berdenyut di lidah Laras. Rasanya enak, asin-asin manis."
603Please respect copyright.PENANAEWNhex6swp
Foreplay berlangsung sangat lama. Mereka berdua menjilat, mengulum, menghisap bola-bolaku bergantian. Tangan Laras meremas payudara Mayanya sendiri sambil melakukannya, membuat putingnya semakin keras. Aku meraih payudara Laras, meremasnya untuk pertama kali. Dagingnya kencang, penuh, putingnya panjang dan keras di telapak tanganku. Aku memilinnya, menarik pelan, membuat Laras mendesah di sekitar kontolku.
603Please respect copyright.PENANAYJY7Z3Kjon
"Iya Pa... remas lebih keras... Laras suka payudaranya diremas kasar..."
603Please respect copyright.PENANACsUTxERmj5
Maya melepaskan kontolku, naik ke tempat tidur dan berbaring telentang. "Mas, coba hisap memek Laras dulu. Biar Papa rasain betapa manisnya anak kita."
603Please respect copyright.PENANAATMyQLRlRi
Laras berbaring di samping Maya, membuka kakinya lebar. Vaginanya terpapar sempurna: bibir luar tebal dan pink, bibir dalam lebih tipis dan basah, klitoris kecil yang mengkilap. Aku berlutut di antara kakinya, mencium paha dalamnya dulu, mengecup pelan naik ke atas.
603Please respect copyright.PENANAxpUeOpsGBo
"Pa... jangan buru-buru... cium dulu di luar... ya... seperti itu..."
603Please respect copyright.PENANAFPVJBUMj5L
Lidahku menyentuh bibir vaginanya, rasanya manis asin, sangat basah. Aku menjilat pelan dari bawah ke atas, berhenti di klitoris, mengisapnya lembut. Laras mengejang, tangannya menekan kepalaku.
603Please respect copyright.PENANArocRGtxQw5
"Aaahh... Papa... lidah Papa hangat... jilat lebih dalam... masukkan lidah ke dalam memek Laras..."
603Please respect copyright.PENANAtZGPFFfADF
Aku memasukkan lidahku ke lubangnya, mengecap dinding-dindingnya yang berkerut dan basah. Jari tengahku memainkan klitorisnya dengan putaran pelan. Sementara itu, Dika menghisap payudara Laras, dan Maya mencium bibir Laras dalam-dalam.
603Please respect copyright.PENANAiH7oxMAkiq
Suara desahan Laras memenuhi kamar. "Papa... enak sekali... Laras mau keluar kalau Papa terus begini... ahh... jari Papa masukkan satu... ya... dorong pelan... putar di dalam..."
603Please respect copyright.PENANAIw6XRAyyZc
Kelanjutannya ada link di bawah ini


