Lampu-lampu kristal di ballroom hotel bintang lima itu berkilauan seperti ribuan bintang yang jatuh ke bumi, memantulkan cahaya ke segala arah. Musik gamelan yang dipadukan dengan string quartet mengalun lembut, menciptakan suasana megah sekaligus intim. Aroma melati dan mawar segar memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi parfum mahal para tamu undangan yang datang dari berbagai kalangan. Ini adalah resepsi pernikahan yang sempurna—setidaknya itulah yang kupikirkan saat aku berdiri di panggung utama, tersenyum lebar dengan tangan memegang gelas champagne.
6191Please respect copyright.PENANAEOedDo4rML
Namaku Pramudya. Tiga puluh empat tahun, pengusaha properti yang sukses di kota ini. Tubuhku tegap, rahang tegas, dan rambutku selalu disisir rapi. Orang-orang bilang aku pria yang beruntung. Malam ini, aku menikahi perempuan paling cantik yang pernah kukenal: Larasati.
6191Please respect copyright.PENANAuiXHGIU1bv
Larasati berdiri di sampingku dengan gaun pengantin putih yang menempel sempurna di tubuhnya. Kain satin itu mengalir lembut mengikuti lekuk pinggulnya yang lebar namun proporsional, turun hingga menyapu lantai. Bagian dada gaunnya rendah cukup untuk memperlihatkan belahan dada yang montok dan kencang, kulitnya yang putih mulus seperti susu segar terpapar cahaya lampu. Payudaranya yang besar—ukuran 36D yang selalu membuatku gila—terangkat indah oleh korset dalam gaun, dengan puting yang samar-samar terbayang saat ia bergerak. Pinggangnya ramping, bokongnya bulat sempurna seperti dua buah persik matang yang siap dipetik. Kakinya panjang, jenjang, dengan betis yang halus dan paha yang padat. Saat ia berjalan, setiap langkahnya seperti tarian yang menggoda, meski malam ini ia berusaha bersikap anggun sebagai pengantin baru.
6191Please respect copyright.PENANAz887QUhdwz
"Aku bahagia sekali hari ini, Mas Pram," bisik Larasati di telingaku, suaranya lembut dan manis seperti madu. Matanya yang bulat besar dengan bulu mata lentik menatapku penuh cinta. Bibirnya yang penuh dan merah alami tersenyum tipis.
6191Please respect copyright.PENANApLsOD3IBn9
Aku merangkul pinggangnya, merasakan kehangatan kulitnya melalui kain tipis gaun. "Aku juga, Sayang. Kamu istriku sekarang. Milikku sepenuhnya."
6191Please respect copyright.PENANAr7xa34gG39
Kami bertemu tiga tahun lalu di sebuah acara amal. Larasati adalah seorang arsitek interior berbakat, dua puluh delapan tahun, pintar, lembut, dan selalu penuh perhatian. Aku jatuh cinta pada senyumnya yang malu-malu, pada cara ia menggigit bibir bawahnya saat sedang berpikir, dan pada tubuhnya yang seolah diciptakan untuk memuaskan hasrat pria. Selama masa pacaran, aku selalu menghormatinya. Kami hanya berciuman, sesekali sentuhan intim di atas pakaian. Aku ingin menunggu malam pertama yang spesial setelah pernikahan. Bodohnya aku.
6191Please respect copyright.PENANAfNW41wmPGR
Malam itu, aku terlalu banyak minum. Bisnis baru-baru ini membuatku stres, dan champagne mengalir deras. Teman-teman lamaku dari kampus—sekelompok pria sukses yang suka bersenang-senang—datang dengan membawa botol-botol mahal. Mereka tertawa keras, menepuk bahuku, dan sesekali melirik Larasati dengan pandangan yang tak kupedulikan saat itu.
6191Please respect copyright.PENANAukElRi0y2V
"Pram, lo beruntung banget dapetin bini segini. Badannya... wah, juara," kata Budi, salah satu temanku, sambil tersenyum lebar. Matanya menelusuri tubuh Larasati dari atas ke bawah tanpa malu.
6191Please respect copyright.PENANAnIXuVXZ4oe
Larasati hanya tersipu, merapatkan tubuhnya ke sisiku. "Mas, jangan lama-lama di sini ya. Aku capek, mau istirahat di kamar."
6191Please respect copyright.PENANAVUnUPwQQ9V
"Ayo kita dansa dulu, Sayang," kataku sambil menariknya ke lantai dansa. Tubuhnya menempel padaku. Aku bisa merasakan kelembutan payudaranya yang penuh menekan dada ku. Pinggulnya bergoyang pelan mengikuti irama musik. Tanganku turun ke pinggangnya, lalu sedikit lebih bawah, merasakan lekukan bokongnya yang kenyal. Ia menggigil kecil tapi tak menolak.
6191Please respect copyright.PENANAismsq4PpCw
"Mas... orang banyak," bisiknya di telingaku, napasnya hangat.
6191Please respect copyright.PENANAjYVrb0gKKd
"Ini malam kita. Biarkan mereka iri," jawabku sambil tertawa pelan.
6191Please respect copyright.PENANAi8AzoafWMn
Kami berdansa lama. Aku mencium lehernya, menghirup aroma parfum vanila yang manis. Kulitnya halus sekali. Jari-jariku menyusuri tulang belakangnya yang ramping. Larasati mendesah pelan, tubuhnya semakin menempel. Aku merasakan hasratku bangkit, kejantanan ku mengeras di balik celana tuxedo.
6191Please respect copyright.PENANAzkgBR5VIsU
"Malam ini aku akan memilikimu sepenuhnya," bisikku di telinganya. "Aku akan mencium setiap inci tubuhmu, menyentuh payudaramu yang indah, menghisap putingmu sampai kau mengerang, lalu menjilat vaginamu yang pasti sudah basah untukku."
6191Please respect copyright.PENANAIiXJlOQ8bV
Wajahnya memerah hebat. "Mas... jangan bicara seperti itu di sini."
6191Please respect copyright.PENANAjgJFmEP2zj
Tapi matanya berkaca-kaca penuh gairah. Ia menggigit bibir bawahnya lagi—kebiasaan yang selalu membuatku ingin melahapnya.
6191Please respect copyright.PENANAhQTMUhlhKs
Kami kembali ke meja. Aku minum lagi. Kepalaku mulai pusing. Larasati duduk di sampingku, kakinya yang panjang bersilang, gaunnya tersingkap sedikit memperlihatkan paha mulusnya. Beberapa tamu pria terus meliriknya. Aku bangga, tapi juga mulai merasa linglung.
6191Please respect copyright.PENANAEMfGJRN6jo
"Mas, kamu minum terlalu banyak," katanya khawatir sambil mengusap lenganku. "Kita ke kamar suite yuk. Aku sudah siap untukmu."
6191Please respect copyright.PENANA9fHidwVixM
Aku tersenyum lebar, tapi saat itu teman-temanku datang lagi. Mereka mengajakku ke pojok ruangan untuk "toast khusus". Aku ikut, meninggalkan Larasati sebentar di meja.
6191Please respect copyright.PENANAti0LGIexXY
Itu kesalahan terbesarku.
6191Please respect copyright.PENANAYqwcJCm88x
Saat aku kembali lima belas menit kemudian—kepalaku semakin berat—Larasati tidak ada di tempat. Aku mencarinya ke toilet, ke taman dalam ruangan, tapi tak ketemu. Beberapa pelayan bilang melihatnya berjalan ke arah lift dengan beberapa pria.
6191Please respect copyright.PENANAqUsU21hAlt
Hati ku berdegup kencang. Aku naik ke lantai suite kami. Pintu kamar sedikit terbuka. Dari celahnya, aku mendengar suara.
6191Please respect copyright.PENANAxc8jJb9pAj
Suara Larasati yang gemetar.
6191Please respect copyright.PENANA1mKYgXLezS
"Mas... tolong... jangan..."
6191Please respect copyright.PENANAf6Vy5IyMCP
Tapi suara itu diikuti tawa pria yang kasar.
6191Please respect copyright.PENANAaW1S8ZKjAT
Aku mendorong pintu perlahan, dan dunia seolah runtuh sekaligus terbakar api gelap yang aneh.
6191Please respect copyright.PENANA1bkwpL57xa
Di dalam suite mewah itu, Larasati sudah telanjang bulat. Gaun pengantinnya tergeletak di lantai seperti kain yang tak berguna. Tubuh indahnya terpapar sempurna di bawah cahaya lampu kamar yang redup. Payudaranya yang besar dan kencang bergoyang-goyang saat ia berusaha menutupi diri dengan tangan. Putingnya yang kecil, pink kecokelatan, sudah mengeras karena udara dingin AC. Perutnya rata, pinggul lebar, dan di antara pahanya yang mulus terlihat vagina yang dicukur rapi, bibirnya yang tebal dan lembut masih tertutup rapat, tapi sudah mulai mengkilap basah entah karena ketakutan atau...
6191Please respect copyright.PENANAKL2VG5v1SQ
Empat pria—teman-temanku sendiri—mengelilinginya. Budi, Dika, Rendra, dan Satya. Mereka sudah melepas jas, celana mereka terbuka, kejantanan mereka yang keras menjulur.
6191Please respect copyright.PENANA4fXpTGdum7
Budi memegang dagu Larasati, memaksa ia menatapnya. "Kamu istri Pram yang cantik. Dia bodoh sekali ninggalin kamu sendirian. Sekarang kami yang akan menikmati malam pertamamu."
6191Please respect copyright.PENANAhMPwCZpPVI
Larasati menangis, air mata mengalir di pipinya yang halus. "Jangan... aku istri Pram... tolong lepaskan..."
6191Please respect copyright.PENANARwQbhU8yAy
Aku berdiri di pintu, tubuhku membeku. Seharusnya aku masuk, memukul mereka, menyelamatkan istriku. Tapi ada sesuatu yang aneh di dalam diriku—campuran amarah, sakit hati, dan hasrat gelap yang tak kupahami. Aku hanya bisa menonton dari balik pintu yang sedikit terbuka.
6191Please respect copyright.PENANATiPXjKBApH
Dika mendekat dari belakang, tangannya meremas payudara Larasati dengan kasar. Jari-jarinya mencubit putingnya yang sensitif hingga Larasati menjerit pelan. "Lihat nih, teteknya besar banget. Kenyal sekali. Pasti enak dihisap."
6191Please respect copyright.PENANAUBMhEz71Kt
Ia menunduk, menghisap puting kiri Larasati dengan rakus. Mulutnya mengulum kuat, lidahnya berputar-putar. Larasati menggeliat, tubuhnya melengkung, bokongnya yang bulat dan putih bergoyang. Rendra dari samping meremas payudara kanannya, menarik putingnya panjang-panjang.
6191Please respect copyright.PENANApidjSkYXM8
"Ahh... sakit... jangan..." erang Larasati, tapi suaranya mulai bergetar aneh.
6191Please respect copyright.PENANAURoC5AcuNu
Satya berlutut di depannya, membuka paha mulus Larasati lebar-lebar. "Vaginanya cantik sekali. Bibirnya tebal, pink, dan sudah basah. Bau harum."
6191Please respect copyright.PENANAML6o6VwEDW
Ia mendekatkan wajahnya, lidahnya menjilat klitoris Larasati dengan lambat. Larasati tersentak hebat, pinggulnya naik turun tanpa sadar. "Tidak... ahh... jangan di situ..."
6191Please respect copyright.PENANAlYQUalRRHq
Lidah Satya bergerak semakin cepat, menjilat celah vaginanya yang semakin basah, masuk ke dalam lubangnya yang sempit, lalu menghisap klitorisnya kuat-kuat. Sementara itu, Budi mencium mulut Larasati paksa, lidahnya menyelusup dalam. Larasati meronta, tapi tubuhnya mulai bereaksi. Payudaranya naik turun cepat, putingnya semakin keras.
6191Please respect copyright.PENANAKIOjMEse5i
Aku melihat semuanya. Jantungku berdegup kencang. Kejantanan ku mengeras luar biasa melihat istriku yang suci sedang diraba-raba beramai-ramai.
6191Please respect copyright.PENANAVlC7BfWoe3
Mereka mengangkat Larasati ke atas ranjang king size. Dika berbaring, menarik Larasati duduk di atas wajahnya. Lidahnya menyelam dalam ke vagina Larasati, fingering dua jari masuk keluar dengan cepat. Suara kecupan basah terdengar jelas.
6191Please respect copyright.PENANA2ktZ44M0Q5
"Basah sekali memek istri Pram ini," kata Dika di sela-sela jilatannya. "Manis."
6191Please respect copyright.PENANAZnGNRSvK73
Larasati mengerang keras, pinggulnya bergoyang sendiri di wajah Dika. "Ahh... stop... aku... aku tidak tahan..."
6191Please respect copyright.PENANAu5IKVjkNH3
Rendra berdiri di depannya, memasukkan kejantanannya yang besar ke mulut Larasati. "Hisap, Nyonya. Hisap baik-baik."
6191Please respect copyright.PENANAXF2d3QAHcH
Larasati terpaksa mengulum, air liurnya menetes-netes. Bokongnya yang indah tergoyang-goyang di atas wajah Dika. Budi dan Satya meremas payudaranya bergantian, mencubit putingnya, menjilat lehernya.
6191Please respect copyright.PENANAkPaQ3RKJNh
Tubuh Larasati mengejang. Ia mencapai orgasme pertama—tubuhnya kejang-kejang, cairan beningnya menyembur ke wajah Dika. "Aahhh...!!"
6191Please respect copyright.PENANAWoWnHwArHp
Mereka belum berhenti. Tubuh Larasati yang indah, yang seharusnya hanya menjadi milikku malam ini, kini menjadi pusat kenikmatan bagi empat pria yang rakus. Aku, Pramudya, masih berdiri di balik pintu suite yang sedikit terbuka, jantungku berdegup liar seperti genderang perang. Tangan kananku gemetar hebat, sementara tangan kiriku tanpa sadar meremas kejantanan yang sudah mengeras menyakitkan di balik celana tuxedo. Bagian dari diriku ingin menerjang masuk, meninju wajah mereka satu per satu. Tapi bagian yang lebih gelap, lebih dalam, justru ingin menyaksikan segalanya—mendengar istriku mengerang lebih keras, melihat tubuh sucinya yang montok dan mulus itu digenjot tanpa ampun.
6191Please respect copyright.PENANAgmxI1VosdG
Satya masih berlutut di depan Larasati yang terbaring telentang di ranjang king-size yang mewah. Tiga jarinya yang tebal dan kasar sudah terbenam dalam-dalam ke dalam vagina Larasati yang sudah banjir. Suara kecupan basah dan lengket terdengar jelas setiap kali jari-jarinya memompa keluar-masuk dengan irama cepat dan kuat. Bibir vagina Larasati yang tebal, merah muda, dan sekarang mengembang karena rangsangan, menggigit jari-jarinya seolah tak mau melepaskan.
6191Please respect copyright.PENANAI7q5v0UFfF
"Ahh... ahh... Satya... jangan... terlalu dalam..." erang Larasati, suaranya pecah antara tangis dan kenikmatan yang tak diinginkan. Kakinya yang jenjang dan mulus mengejang lurus ke atas, jari-jari kakinya yang indah melengkung tegang. Paha bagian dalamnya yang halus seperti sutra bergetar hebat, otot-ototnya menonjol samar karena kontraksi.
6191Please respect copyright.PENANAHmgOMNSNto
Satya tersenyum licik, lidahnya yang panjang dan basah terus menghisap klitoris Larasati yang sudah membengkak merah. "Memekmu ini ternyata sangat rakus, Bu Laras. Sudah banjir begini, tapi masih menggigit jari aku. Kamu istri Pram yang sok suci, tapi ternyata jalang juga ya?"
6191Please respect copyright.PENANAQcHN0THn6R
Ia memompa jarinya semakin cepat, memutar-mutar di dalam, menyentuh titik sensitif di dinding depan vagina Larasati. Tubuh Larasati melengkung seperti busur, payudaranya yang besar dan kencang bergoyang-goyang liar, putingnya yang kecil dan pink kecokelatan berdiri tegak sempurna, mengeras seperti dua permata kecil. Dika dan Rendra di sampingnya tak tinggal diam. Mereka masing-masing mengulum satu payudara, menghisap putingnya dengan rakus, gigi mereka sesekali menggigit pelan hingga Larasati menjerit.
6191Please respect copyright.PENANADxHmD9DCQF
Orgasme kedua datang seperti gelombang tsunami. Larasati menjerit panjang, "Aaaahhhh!!! Tidak... aku... aku keluar lagi...!!" Tubuhnya kejang-kejang hebat. Cairan bening yang hangat menyembur dari vagina, membasahi tangan Satya hingga pergelangan. Kakinya menendang-nendang lemah di udara, bokongnya yang bulat sempurna terangkat dari kasur, otot-otot bokongnya menegang indah.
6191Please respect copyright.PENANA8qCXdqxYZc
Mereka tak memberi waktu istirahat. Dengan tawa kasar yang penuh nafsu, keempat pria itu membalik tubuh Larasati ke posisi doggy style. Bokongnya yang montok, putih mulus, dan berbentuk hati sempurna kini terangkat tinggi di udara, seperti persembahan untuk para dewa nafsu. Celah vagina yang masih berkedut-kedut terbuka lebar, mengkilap oleh cairan orgasmenya sendiri yang kental dan bening. Bibir vaginanya yang tebal sedikit terbuka, memperlihatkan dinding dalam yang merah muda dan basah menggoda.
6191Please respect copyright.PENANA5uINdDXrU7
Budi, yang paling besar kejantanannya, berdiri di belakang. Ia mengusap kepala batangnya yang tebal dan berurat di celah bokong Larasati, lalu mendorong masuk dengan satu hantaman kuat dan dalam.
6191Please respect copyright.PENANA74cODBecxV
"Aaahhh!! Sakit... besar sekali... keluar... tolong keluar..." jerit Larasati, tangannya mencengkeram seprai sutra hingga kusut. Air matanya mengalir deras di pipi halusnya.
6191Please respect copyright.PENANAL27yAXEdNA
Tapi Budi tak peduli. Ia memegang pinggul lebar Larasati dengan kuat, menariknya ke belakang sambil mendorong ke depan. "Sst... diam jalang. Memekmu ini sudah basah banget. Lihat, dia mengisap kontol aku sendiri." Ia mulai memompa dengan irama lambat dulu, tapi semakin lama semakin cepat dan kuat. Suara benturan daging ke daging memenuhi kamar suite yang mewah—plak... plak... plak...
6191Please respect copyright.PENANALdnnqnPQT2
Payudara Larasati yang besar bergoyang-goyang liar di bawah tubuhnya seperti dua buah melon matang. Putingnya menjuntai indah, bergesekan dengan seprai setiap hantaman. Dika berlutut di depan wajah Larasati, memegang rambutnya yang terurai indah, lalu memasukkan kejantanannya yang sudah basah oleh air liur ke dalam mulutnya yang penuh.
6191Please respect copyright.PENANAnupMsiZ8qj
"Hisap, Nyonya Pengantin. Hisap dalam-dalam seperti istri baik. Lidahmu muter-muter di kepala kontol aku," perintah Dika sambil mendesah.
6191Please respect copyright.PENANA0D7Jl7HkkJ
Larasati terpaksa mengulum, bibirnya yang penuh dan merah meregang lebar mengitari batang Dika. Air liurnya menetes-netes dari sudut mulut, membasahi dagunya yang halus. Sementara itu, Rendra dan Satya di sampingnya meremas bokong Larasati dengan kasar, menepuk-nepuk pelan hingga kulit putihnya memerah. Jari mereka sesekali menyusup ke lubang anusnya yang kecil dan rapat, merangsangnya secara bersamaan.
6191Please respect copyright.PENANAxHF0jytqRz
"Ahh... ahh... mmphh..." Larasati hanya bisa mengerang tertahan karena mulutnya penuh. Tubuhnya bergoyang maju mundur mengikuti hantaman Budi. Vaginanya yang ketat kini sudah terbiasa, mengeluarkan cairan bening setiap kali kejantanan Budi menghantam titik G-nya.
6191Please respect copyright.PENANAsvx6OSqeiV
Budi menarik rambut Larasati ke belakang, membuat punggungnya melengkung indah. "Bilang, Laras. Bilang kamu suka digenjot beramai-ramai di malam pernikahanmu."
6191Please respect copyright.PENANAKQdrf7vP9G
Larasati menggeleng lemah, tapi suaranya keluar juga saat Budi memompa lebih ganas, "Aku... aku suka... ahh... kontol kalian... besar-besar..."
6191Please respect copyright.PENANAIhGc7yD7SU
Orgasme ketiganya datang lagi. Tubuhnya mengejang hebat, vagina berkedut kuat menggigit kejantanan Budi. Ia menyembur lagi, cairannya mengalir deras di paha dalamnya yang mulus.
6191Please respect copyright.PENANAsg2xKJHFnR
Mereka berganti posisi tanpa jeda. Kali ini Dika yang berbaring di ranjang, menarik Larasati duduk di pangkuannya menghadapnya—posisi cowgirl. Ia memasukkan kejantanannya perlahan ke dalam vagina yang sudah sangat licin, hingga masuk sampai pangkal. Larasati mendesah panjang, kepalanya mendongak, leher jenjangnya terpapar sempurna.
6191Please respect copyright.PENANArSHxqesX7u
"Gerak pinggulmu, Sayang. Goyang bokongmu yang montok itu. Tunjukkan pada suami bodohmu di luar sana betapa jalangnya kamu," bisik Dika sambil meremas payudaranya dari bawah, ibu jarinya memutar puting yang sudah sensitif sekali.
6191Please respect copyright.PENANAWV3kybVo1e
Larasati mulai menggoyang pinggulnya naik turun, lambat dulu, lalu semakin cepat. Bokongnya yang bulat sempurna naik turun indah, otot-otot pahanya yang padat bekerja keras. Payudaranya bergoyang liar di depan wajah Dika, yang langsung menghisap putingnya bergantian dengan rakus. Rendra berdiri di samping, memasukkan jarinya ke mulut Larasati, sementara Satya dan Budi meremas bokongnya, sesekali menjepit klitorisnya yang membengkak.
6191Please respect copyright.PENANAb0y1PaJCBJ
"Aduh... dalam sekali... aku... penuh..." erang Larasati. Keringat mengalir di antara belahan payudaranya, membuat kulitnya mengkilap seperti patung marmer hidup.
6191Please respect copyright.PENANAhQKyLVJ7iD
Ia mencapai orgasme keempat di posisi ini, tubuhnya ambruk ke depan, tapi mereka langsung membaliknya lagi ke posisi missionary. Budi kini di atasnya, kakinya yang jenjang diletakkan di bahu Budi, membuat vagina semakin terbuka lebar. Setiap hantaman terasa sangat dalam, menyentuh rahimnya.
6191Please respect copyright.PENANA1HDQpMapqY
Satya bergabung, memasukkan kejantanannya ke mulut Larasati dari samping. Dua pria lain bergantian meremas dan menghisap payudaranya. Adegan itu berlanjut panjang, penuh erangan, suara basah daging yang bertemu, dan dirty talk yang semakin kotor.
6191Please respect copyright.PENANArXXBS1CXlu
Larasati orgasme demi orgasme—kelima, keenam, ketujuh. Tubuhnya sudah lemas, tapi vagina dan mulutnya terus digunakan. Mereka berganti lagi ke spooning, lalu standing doggy di depan cermin besar kamar, memaksa Larasati melihat sendiri wajahnya yang merah, air mata, dan kenikmatan yang tak bisa disembunyikan.
6191Please respect copyright.PENANAgEQq24id6c
Aku masih di pintu, napasku tersengal. Kejantananku sudah basah total. Istriku yang dulu malu-malu kini mengerang seperti pelacur profesional di bawah hantaman keempat pria itu.
6191Please respect copyright.PENANAceqpRp66D4
Tubuh Larasati yang semula melawan kini mulai berubah. Getaran yang tadinya penuh penolakan perlahan berubah menjadi irama yang mengikuti. Matanya yang berkaca-kaca karena air mata kini berkabut oleh kabut kenikmatan yang pekat. Napasnya yang tersengal-sengal bukan lagi hanya karena ketakutan, melainkan karena hasrat yang mulai membakar dari dalam dirinya sendiri. Aku, Pramudya, masih berdiri membeku di balik pintu suite yang hanya terbuka sedikit, jantungku seperti mau meledak. Kejantanan ku sudah basah kuyup oleh cairan pra-ejakulasi yang tak henti-hentinya mengalir, saksi bisu dari kegelapan yang bangkit dalam diriku.
6191Please respect copyright.PENANA3ZhaelxNJD
Satya yang masih memompa tiga jarinya di dalam vagina Larasati tersenyum lebar melihat perubahan itu. "Lihat nih, teman-teman. Memek istri Pram sudah mulai menyambut. Dia basah banget, panas, dan menggigit jari aku seperti ingin ditambah lagi."
6191Please respect copyright.PENANAVnfDPSpQzw
Larasati menggigit bibir bawahnya yang sudah bengkak karena ciuman kasar sebelumnya. Suaranya keluar pelan, hampir tak percaya pada dirinya sendiri, "Lebih... kasar... tolong..."
6191Please respect copyright.PENANAbcapnxyfa2
Kata-kata itu keluar seperti bisikan dosa yang manis. Keempat pria itu tertawa pelan, penuh kemenangan.
6191Please respect copyright.PENANAA202ELahqm
Budi yang sedang menghantam dari belakang dalam posisi doggy mempercepat iramanya. Setiap hantaman kini lebih dalam, lebih kuat, hingga suara plak-plak-plak daging yang bertemu memenuhi seluruh kamar. Bokong Larasati yang bulat sempurna, putih mulus dengan sedikit merah bekas tamparan, bergoyang hebat setiap kali pangkal kejantanan Budi menghantam paha belakangnya.
6191Please respect copyright.PENANAn17hoypAul
"Kasar katamu? Baiklah, Nyonya Pengantin," geram Budi sambil menarik rambut Larasati ke belakang dengan kuat, membuat punggungnya melengkung indah seperti busur yang tegang. "Kamu mau digenjot kasar di malam pernikahanmu sendiri? Bilang lebih keras!"
6191Please respect copyright.PENANAw53pocEAkF
Larasati mengerang panjang, suaranya kini penuh gairah yang tak lagi ditahan, "Iya... genjot aku lebih kasar... hantam memekku kuat-kuat... ahh... aku sudah gila..."
6191Please respect copyright.PENANAivhonoBcgn
Kelanjutannya ada link di bawah ini


