"Maksud Nyai, kenapa aku harus pergi dari tempat ini? Apa Nyai takut perbuatan kita akan...!" sebuah tamparan keras menghentikan perkataanku. Aku tidak percaya, wanita selembut Nyai Jamilah yang sudah menyerahkan keperawanannya bisa berlaku kasar.
"Jaga mulutmu, itu sebuah kesalahan yang seharusnya tidak perlu terjadi lagi, tolong lupakan itu." kata Nyai Jamilah menangis membuatku merasa sangat heran kenapa perasaannya begitu cepat berubah, masih terbayang jelas dengan kata kata yang diucapkan Nyai Jamilah yang menginginkanku memperlakukannya sebagai pelacur.
"Saya tidak mengerti maksud Nyai, sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku heran. Ternyata benar kata orang, seorang wanita sangat sulit diterka.
"Akku menyesal sudah berbuat dosa, kenapa kamu masih mengungkit masalah tersebut?" kata Nyai Jamilah, tangisannya semakin kencang membuatku sangat takut ada yang mendengar. Apa lagi setahuku Nabila yang menyuruhku datang ke sini, di mana gadis itu sekarang? Apa dia sedang bersembunyi dan mendengar percakapan kami? Celaka, posisiku akan semakin sulit.
Aku memandang setiap sudut yang bisa saja digunakan Nabila bersembunyi atau bahkan santri lainnya yang tidak sengaja mendengar percakapan kami. Aku harus menyudahi semua percakapan kami.
"Nyai, nanti kita bicarakan lagi baik baik, lebih baik sekarang Nyai pulang dan bertaubat. Ini semua kesalahan yang bisa menimpa siapa saja." kataku berusaha menyudahi perdebatan kami secepatnya, sekilas aku melihat semak semak di sampingku bergoyang keras padahal tidak ada angin sama sekali.
"Kenapa? Kamu takut ada yang dengar tentang ini?" tanya Nyai Jamilah membuatku gugup, kenapa dia malah menekanku.
"Aku tidak takut, lebih baik Nyai pulang. Kita lupakan semua yang sudah terjadi." kataku berusaha mengingatkan Nyai Jamilah, kami berada di tempat terbuka. Kehormatan dan nama baiknya bisa hancur dalam sekejap. Itu tidak boleh terjadi.
"Aku sudah tidak perduli lagi dengan nama baik dan kehormatanku setelah keperawananku kamu renggut, aku sudah berkubang di lumpur hina." darrrrr apa yang keluar dari mulut Nyai Jamilah membuatku shock, rahasia ini sebentar lagi akan tersebar dan mereka pasti akan menyalahkanku walau aku berusaha membela diri. Posisiku sudah tidak bisa diselamatkan, aku harus segera pergi meninggalkan tempat ini sebelum semua penghuni pondok tahu siapa aku sebenarnya.
"Istighfar, Nyai..?" kataku lemah, semak semak yang tadi kulihat bergoyang, kini goyangannya semakin keras, orang itu pasti sangat terkejut mendengar perkataan Nyai Jamilah. Aku harus menangkap dan memaksanya untuk tutup mulut, cara yang sudah biasa aku lakukan terhadap korban perampokanku. Semoga ini berhasil membungkam mulutnya atau aku harus benar benar pergi mencari tempat persembunyian lain yang lebih aman.
"Siapa itu, keluar..!" bentakku sambil mengambil sepototong bambu yang tergeletak di kakiku. Aku bergerak cepat menghampiri semak semak yang goyangannya semakin keras, menutup arah pelarian orang itu.
"Innni....!" kata seorang gadis cantik yang muncul dengan wajah sangat pucat, Nabila.
"Nabila...!" seruku kaget, bambu terlepas dari peganganku. Dugaanku benar, Nabila bersembunyi dan mendengar percakapan kami.
"Nabila!" Nyai Jamilah terpaku melihat kehadiran Nabila, wajahnya terlihat lebih pucat dibandingkan Nabila.
"Sayyyya janjiii, nggak akan bilang siapa siapa.." kata Nabila ketakutan.
"Mau bilang juga tidak apa apa, aku sudah hancur, tidak ada lagi tempat buatku di Pondok ini." kata Nyai Jamilah putus asa.
"Istighfar Nyai, Nabila pasti bisa menutup rahasia." kataku menatap tajam wajah Nabila, sebuah isyarat agar Nabila bisa menutup mulut.
"Saya janji, Nyai." kata Nabila gelisah.
"Kamu tidak perlu berjanji, aku tidak butuh janjimu." kata Nyai Jamilah tidak merespon saat Nabila memeluknya.
Nyai Jamilah dan Nabila
"Saya tahu yang Nyai rasakan, karena saya juga mengalaminya saat harus kehilangan kesucian karena diperkosa paman saya. Makanya saya mondok untuk lari dari perbuatan terkutuk paman saya." kata Nabila membuatku kaget, ternyata dia mengalami nasib buruk yang terus menghantuinya. Nasib burung yang akan terus menghantuinya seumur hidup.
"Ka kamu..!" seru Nyai Jamilah menatap Nabila yang berlinang air mata. Mereka saling berpelukan dan menangis bersama. Pemandangan yang membuatku tidak mampu berpikir, serumit itukah sifat wanita.
"Iya Nyai, saya diperkosa paman saya waktu kelas dua SMP, setelah kejadian itu paman sering memaksa saya melayani nafsu bejatnya." kata Nabila menyusupkan wajahnya di dada Nyai Jamilah.
"Sabar sayang, rahasia kamu aman." kata Nyai Jamilah membuatku merasa aneh, situasi perasaan Nyai Jamilah berubah dengan cepat. Aku seperti melihat berbagai macam karakter yang berada di Nyai Jamilah, apakah ini sebuah kelainan atau hanya reaksi spontan karena melihat ada yang lebih buruk nasibnya.
"Saya percaya Nyai bisa menyimpan aib saya, tapi...!" seru Nabila menoleh ke arahku dan kemudian kembali membenamkan wajahnya di dada Nyai Jamilah.
"Zaka, berjanjilah untuk tidak menyebarkan aib ini." kata Nyai Jamilah menatapku tajam. Tatapan yang membuat matanya terlihat semakin menawan.
"Tentu, tapi ada syaratnya.,!" kataku tidak meneruskan ucapan yang sudah berada di ujung lidah, aku melihat sebuah peluang yang bisa kumanfaatkan. Sebuah peluang yang tidak boleh aku sia siakan, tapi kenapa aku ragu untuk mengatakannya.
"Apa...?" tanya Nyai Jamilah menatapku curiga.
Sesaat aku terdiam, seberapa besar kemungkinanku bisa mengintimidasi mereka agar mau menuruti kemauanku. Sebagai seorang perampok aku sudah terbiasa mengintimidasi dan mengancam korban korbanku untuk mengikuti kemauanku. Kenapa aku sekarang aku menjadi ragu, apa karena pakaian mereka yang tertutup.
"Apa syaratnya?" tanya Nyai Jamilah, suaranya terdengar sangat tegas. Padahal selama ini suaranya terdengar lemah lembut, cenderung pelan.
"Aku mau Nabila melayaniku..!" kataku pelan, berharap Nyai Jamilah tidak mendengar apa yang aku ucapkan, karena aku sendiri kaget dengan keberanianku. Aku seorang perampok dan pencuri, belum pernah aku memperkosa atau melecehkan seorang wanita. Aku selalu berhubungan sex dengan pelacur yang aku bayar mahal untuk melayani syahwatku.
"Kurang ajar, jangan samakan Nabila dengan diriku..!" seru Nyai Jamilah, suaranya pelan tapi seperti menusuk hatiku.
Tidak ada jalan lagi buatku menghindar, Nyai Jamilah bisa mendengar apa yang baru saja aku katakan. Menyerah bukanlah pilihan baik, karena posisiku sama terancamnya dengan mereka, bisa saja sewaktu waktu Nyai Jamilah benar benar mengusirku lewat Kyai Amir, walaupun aku mengatakan aku sudah berhubungan sex dengan Nyai Jamilah, aku yakin tidak akan ada yang percaya bahkan posisiku akan semakin terjepit dan berbahaya. Jalan satu satunya adalah menaklukkan kedua wanita ini, bagaimanapun caranya dan satu satunya cara adalah memaksa dan mengancam mereka agar tidak bicara kepada siapapun. Tapi kalau hanya sekedar mengancam, mereka hanya takut saat aku ada.
"Terserah, aku punya bukti saat kita ngentot dan juga punya bukti cerita Nabila yang sudah tidak perawan karena diperkosa pamannya." kataku mengambil hp dari balik lipatan sarung, hp yang sudah dua malam ini mati karena baterainya habis tapi masih bisa aku gunakan untuk mengancam Nyai Jamilah dan Nabila sebelum mereka sadar sudar terjebak oleh siasatku.
"Jangan gila, kamu...!" kata Nyai Jamilah, suaranya bergetar ketakutan.
"Katanya Nyai tidak peduli berita hubungan kita tersebar, kenapa sekarang Nyai jadi ketakutan?" tanyaku dengan nada suara yang kubuat sedingin mungkin, nada suara yang selalu berhasil membuat korban perampokanku ketakutan setengah mati.
"Kamu boleh menghancurkanku, tapi jangan Nabila." kata Nyai Jamilah, suaranya begitu memelas dan hampir saja meruntuhkan tekadku. Tapi aku sudah tidak mempunyai pilihan lain lagi.
"Nggak apa apa, Nyai. Saya sudah bukan perawan, nama baik Nyai lebih penting. Aku akan melayani kamu, di mana?" tanya Nabila pelan seolah takut suaranya akan terdengar oleh orang lain.
"Di gubuk sebelah sana.!" kataku menunjuk ke arah gubuk yang tersembunyi di balik rimbunan pohon dan semak. Gubuk yang yang menghadap ladang para santri, digunakan untuk beristirahat. Jam 16:30 tempat itu pasti sepi karena para santri sedang mengaji, sedangkan penduduk desa tidak ada yang pernah berani ke tempat itu.
"Jangan gila kamu, bagaimana kalau ada yang lihat?" kata Nyai Jamilah gelisah, aku bisa melihat ada keraguan di matanya.
"Terserah Nyai, rekaman suara Nyai dan Nabila akan menjadi bukti bahwa aku benar." kataku mempermainkan HPku yang habis batreinya, tidak ada rekaman suara Nyai Jamilah maupun Nabila. Aku hanya menggertak mereka, aku memasukkan hp ke dalam lipatan sarung.
"Kita tidak punya pilihan lain, Nyai." kata Nabila membuatku senang karena sudah membuat ancamanku berjalan mudah.
"Buruan, sebelum ada yang mencariku." kata Nyai Jamilah menyerah. Nyai Jamilah menarik tangan Nabila mendahuluiku, berjalan setengah menyeret Nabila ke arah gubuk.
Aku mengikuti mereka dengan senyum penuh kemenangan, ternyata ini adalah tempat persembunyian yang paling menyenangkan, ada dua bidadari yang akan melayaniku dengan gratis tanpa mengeluarkan uang sepeserpun.
"Sekarang buruan kamu tuntaskan syahwatmu sebelum ada yang melihat." kata Nyai Jamilah gelisah, matanya berkeliling memastikan tempat ini benar benar aman.
Aku hanya diam, berpikir siapa dulu yang akan kunikmati. Kalau aku langsung menikmati Nyai Jamilah, rasanya terlalu mudah dan itu tidak akan meninggalkan kesan untuknya. Aku harus menikmati Nabila lebih dahulu agar Nyai Jamilah merasa cemburu dan marah karena aku lebih memilih Nabila, rasa cemburu dan marah akan membuat Nyai Jamilah kehilangan akal sehatnya sehingga aku bisa menundukkannya dengan mudah.
"Buruan kita selesaikan sekarang." kata Nyai Jamilah mengangkat gamisnya dan membuka celana dalamnya yang berwarna putih, sekilas aku melihat bercak noda pada celana dalamnya dan aku yakin itu adalah noda dari memeknya yang mulai basah karena terangsang, bercak noda pada celana dalam yang sering aku lihat pada celana dalam Dewi.
Aku pura tidak melihat Nyai Jamilah, aku malah memeluk Nabila yang terlihat gelisah. Tanpa memberinya kesempatan untuk menyadari apa yang sedang terjadi, aku melumat bibir Nabila yang terkatup karena kaget. Aku terus menciumi bibir Nabila dengan bernafsu, membiarkan Nyai Jamilah menatap kecewa karena aku telah mengabaikannya begitu saja. Aku semakin bernafsu karena Nabila tidak berusaha meronta, hanya diam pasrah menerima apa yang kulakukan.
"Kamu cantik, sayang aku tidak bisa mendapatkan perawan kamu." kataku berbisik setelah puas mengulum bibirnya. Tanganku meraba payudaranya yang lumayan besar, tidak kalah dengan payudara Dewi. Perlahan aku meremasnya, lebih kenyal dibandingkan payudara Dewi yang lembek karena sudah puluhan pria yang menjamahnya.
"Mas, langsung saja masukin. Takut ada yang datang." kata Nabila pelan.
"Aku pengen ngerasain ngenyot payudara santriwati." bisikku, terus meremas payudara Nabila.
"Takut ada yang lihat, ohhhh Masssss...!" kata Nabila mendorongku agar menjauh darinya.
"Kenapa?" tanyaku jengkel karena keasikanku terganggu.
Nabila tidak menjawab, dia melihat ke arah Nyai Jamilah yang menatapnya cemburu. Nabila membuka kancing bajunya dan mengeluarkan payudaranya dari balik BH yang berwarna krem, membuatku menatap takjub. Payudara Nabila mengingatkan ku dengan payudara Dewi sebelum menjadi seorang pelacur.
"Buruan kalau kamu mau nyusu, mumpung nggak ada orang." kata Nabila gelisah, sewaktu waktu akan ada orang yang melihat perbuatan kami.
Suguha pembuka dari seorang santriwati cantik yang tidak mungkin aku sia siakan begitu saja, dengan bernafsu aku meremas payudara Nabila dan menjilatinya. Halus sekali, seperti menyentuh kulit bayi, baunya yang alami membuatku semakin bernafsu mengeksploitasi payudara indahnya.
"Och, Nyai...!" Nabila merintih saat aku menghisap puting payudaranya yang semakin mengeras karena birahi.
"Zak, jangan kelamaan ngenyot susu Nabila, nanti ada yang datang." kata Nyai Jamilah, suaranya bergetar melihatku begitu asyik dengan payudara Nabila.
"Iya Zak, gantian Nyai Jamilah sepertinya pengen." kata Nabila membuatku hampir tertawa geli.
"Bukan begitu, nanti ada yang lihat." kata Nyai Jamilah membela diri, namun dari nada suaranya aku tahu Nyai Jamilah semakin terangsang. Aku melihat Nyai Jamilah meremas payudaranya.
"Nyai juga ingin diginiin?" tanyaku menggoda Nyai Jamilah dengan memelintir puting payudara Nabila,. Aku berusaha membayangkan, seperti apa payudara Nyai Jamilah karena aku belum pernah menyentuhnya.
"Ochhhhh ennnnak, sudddah Zak, langsung masukin. Takut ada orang." kata Nabila bergerak mundur sehingga membuatnya terjengkang ke belakang karena kakinya membentur bale bale gubuk yang berada tepat di belakangnya.
"Aduhhhh...!" jerit Nabila kaget.
"Kamu nggak apa apa Nabila?" tanya Nyai Jamilah ikut kaget karena suara tubuh Nabila yang jatuh menimpa bale bale bambu terdengar keras.
"Nggak apa apa, Nyai." jawab Nabila malu. Nabila segera menaikkan kakinya ke atas bale bale dang menarik rok lebarnya hingga perut, wajahnya tidak menunjukkan tanda tanda jengah atau sejenisnya. Pengalamannya yang selalu melayani syahwat pamannya membuat Nabila terbisa bagian intimnya dilihat pria.
Tapi bagiku terasa istimewa karena wanita yang sedang menurunkan celana dalamnya adalah seorang santriwati cantik, bukan lagi seorang pelacur yang terbisa menggoda lelaki demi uang. Inilah memek ke tiga dari wanita baik baik yang pernah aku lihat dengan jelas bentuknya. Wanita pertama adalah Teh Nyai guru ngaji yang merenggut perjakaku, kedua adalah Dewi sebelum dia menjadi pelacur dan ketiga adalah Nabila. Sedangkan Nyai Jamilah, aku belum sempat melihat memeknya karena kami melakukannya dengan cepat di tempat yang gelap.
"Buruan Mas, masukin...!" kata Nabila pelan, matanya terpejam tidak berani menatap wajahku yang terpesona melihat keindahan memeknya, tanpa membuang waktu aku segera membenamkan wajahku di selangkangan Nabila, kesempatan yang sangat jarang kudapatkan.
"Massssss, jijikkkk ittttu najissssss....!" teriak Nabila membuatku terkejut, khawatir akan ada yang datang karena mendengar suara teriakannya.
"Ssssttttt, nanti ada yang dengar..!" kata Nyai Jamilah membekap mulut Nabila karena tahu resiko yang akan kami jika ada orang yang memergoki perbuatan kami.
Merasa situasi bisa dikendalikan oleh Nyai Jamilah, aku kembali membenamkan wajahku di selangkangan Nabila, menghirup aroma alami memeknya. Seperti inikah bau memek seorang santriwati cantik, bentuk memeknya sangat indah dan jelas sangat terawat sehingga tidak ada bulu yang rajin dicukurnya.
"Aduhhhhh, Nabila kenapa tanganku di gigit?" teriak Nyai Jamilah kembali mengusik keasikanku menikmati memek Nabila.
"Maaf Nyai, nggak sengaja. Ennnnak banget." jawab Nabila tanpa merasa bersalah.
"Sudah Zak, masukin kontol kamu.!" seru Nyai Jamilah tegas. Birahinya terlihat jelas dari sorot matanya yang melihat ke arahku.
"Iya Mas, langsung entot memekku, kasian Nyai...!" kata Nabila memelas, memeknya terlihat berkilat, basah oleh lendir birahi.
"Aku jangan dibawa bawa..!" kata Nyai Jamilah protes.
Aku tidak perduli dengan perdebatan kedua wanita cantik ini, aku mengangkat sarung dan menurunkan celana dalamku hingga paha. Sudah saatnya kontolku yang tegak perkasa menunaikan misi sucinya, menuntun Nabila meraih surga dunia dambaan setiap insan.
"Masukkin apanya?" tanyaku menggoda Nabila, kontolku sengaja aku gesek gesekkan di belahan memeknya yang berwarna merah dan semakin merah karena birahinya.
"Iyyya, Mas...!" jawab Nabila, matanya terpejam tidak berani menatapku.
"Apanya yang dimasukin?" tanyaku sambil mendorong kontolku dan kembali menariknya sebelum benar benar tertelan memek mungil Nabila.
"Zaka, buruan masukin kontol kamu ke memek Nabila, aku sudah nggak tahan pengen dientot." kata Nyai Jamilah jengkel, wajahnya memerah begitu menyadari ucapannya. Dia menunduk melihat ke arah kontolku yang bergerak pelan membelah memek Nabila dengan perasaan iri.
"Masukin begini, Nyai?" kataku mendorong kontolku semakin dalam masuk membelah memek Nabila. Nyai menatap takjub, raut wajah iri terlihat dari wajahnya yang cantik.
"Aduhhhh apaan ini yang masuk memekku..?" kata Nabila mengangkat tubuhnya untuk melihat proses penetrasi kontol yang baru masuk setengahnya saja.
"Kontolku, masa pentungan hansip." kataku sambil menghentakkan kontolku amblas seluruhnya.
"Awwww, gendeng... Kontol kamu geddde mbanget, Mas...!" kata Nabila takjub melihat memeknya mampu menampung kontol jumboku. Aku berharap Nabila tidak kapok dengan kontolku seperti beberapa pelacur temannya Dewi yang kapok dan tidak mau melayaniku lagi.
"Ennak nggak, Bil?" tanya Nyai Jamilah menatap Nabila yang melotot melihat memdknya terbuaka semakin lebar dan saat aku menariknya, memeknya menjadi onyong maksimal.
"Agak ngilu, Nyai. Kegedean, pamanku kontolnya kecil." jawa Nabila menggesek gesek bagian atas memeknya untuk mengurangi rasa ngilu.
"Pelan pelan, Zak." kata Nyai Jamilah, aku hanya mengangguk dan memompa memek Nabila selembut yang aku bisa.
"Iyya gitu masss,...!" seru Nabila pelan, memeknya mulai terbiasa menerima kehadiran kontolku.
Aku menatap Nyai Jamilah yang juga sedang menatapku, kami saling bertatapan. Aku menatap kagum mata Nyai Jamilah yang. Entah siapa yang memulai, tiba tiba kami sudah berciuman. Semakin lama semakin panas sementara kontolku terus bergerak mengocok memek Nabila yang semakin licin.
"Masssss kokk memekku jadddddi ennnnnakkkk...!" seru Nabila membuatku lega, setidaknya Nabila tidak akan kapok ngentot denganku.
"Aku sudah memenuhi syarat mu, aku juga punya syarat untuk kamu." kata Nyai Jamilah setelah kami puas berciuman. Nyai Jamilah semakin berani menatap mataku langsung, padahal selama ini dia selalu menghindari beradu pandang.
"Apa, Nyai.....? Och memek kamu ennnak banget, Bil...!" kataku antara bertanya dan menikmati jepitan memek Nabila yang keras, sehingga gesekannya begitu terasa.
"Akkku juga ennnnakkkk massss...!" rintih Nabila, aku tidak bisa melihat wajahnya karena terhalang oleh wajah Nyai Jamilah yang tepat berada di hadapanku.
"Kamu tidak boleng ngebuang pejuh kamu di memek, Nabila. Jangan sampai Nabila hamil." kata Nyai Jamilah membuatku merasa keberatan, sudah kebiasaanku mengeluarkan pejuhku di memek pasangan ku, karena momen seperti itu menurutku sangatlah nikmat.
"Tapiiii Nyaiiii, memek Nabila ennak banget... Och padahal sudah nggak perawan." jawabku tidak memperdulikan permintaan Nyai Jamilah yang mengangkat bajunya dan mengeluarkan payudaranya tepat dihadapanku.
Untuk sesaat aku terpesona oleh keindahan payudara Nyai Jamilah yang sangat putih melebihi putihnya payudara Dewi sehingga aku bisa melihat garis garis biru uratnya membayang jelas. Puting payudaranya yang mungil berwarna coklat muda. Aku bingung kalau harus memberi nilai, payudara Nyai Jamilah atau payudara Nabila yang lebih indah, ukuran ke dua payudara itu sepertinya sama.
"Mulut kamu harus disumpal payudaraku biar nggak ngecrot di memek Nabila." kata Nyai Jamilah menjejalkan puting payudaranya ke mulutku, aku sengaja tidak menyentuhnya, untuk membuat Nyai Jamilah benar benar bertekuk lutut padaku.
"Zak, remas payudaraku...!" kata Nyai Jamilah yang sepertinya ingin merasakan hal yang sama dengan apa yang dialami Nabila saat aku meremas payudara Nabila.
"Ad....da...... syar.........ratnya..!" kataku terputus putus karena mulutku yang tersumpal payudara sehingga perlu perjiuangan ekstra keras untuk bicara.
"Apaaaa, cepat katakan...!" seru Nyai Jamilah tidak sabar, meraih tanganku ke arah memeknya yang mulus tidak berbulu.
"Nyai harus mau setiap kali aku pengen ngentot...!" kataku, mendiamkan tanganku yang menempel pada memeknya.
"Iyya,,,, !" kata Nyai Jamilah setuju membuatku tertawa dalam hati karena sudah mulai berhasil menaklukkannya.
"Massssss akkkku kelllluar...!" rintih Nabila yang menggeliat seperti cacing kepanasan mendapatkan orgasme.
"Sekarang giliranku...!" kata Nyai Jamilah mendorongku hingga kontolku tercabut dari memek Nabila.
"Masssss kennnnappppa dicabutttt...
!" seru Nabila kecewa, saat sisa sisa orgasmenya belum reda, kontolku sudah keluar dari memeknya.
"Sekarang giliranku, Bill..!" kata Nyai Jamilah rebah di samping Nabila, sama seperti Nabila, Nyai Jamilah hanya mengangkat roknya sampai perut, sedangkan celana dalamnya entah dia taruh di mana.
"Buruan Zakk, nggak hsah dijilat, sebentar lagi maghrib. Takut ada yang mencari kita di sini." kata Nyai Jamilah melarangku yang akan menjilati memeknya seperti yang aku lakukan ke Nabila.
Aku melihat ke jam tanganku, ternyata benar sudah hampir Maghrib, itu artinya aku harus bergerak cepat mengeluarkan pejuhku sebelum ada yang datang ke tempat ini. Kalau hal itu sampai terjadi, habislah kami bertiga. Tanpa menunda waktu lebih lama lagi aku segera memegang kontolku agar tepat pada pintu masuk memek Nyai Jamilah.
"Ochhhh masssssukkkk...!" seru Nyai Jamilah saat kontolku berhasil amblas seluruhnya, jepitan memek Nyai Jamilah benar benar dahsyat, gesekkan dinding memeknya begitu terasa pada kontolku.
"Nyai, kok bisa ya kontol sebesar ini masuk ke memek kita!" seru Nabila takjub melihat kontolku tertelan memek Nyai Jamilah.
Bletak, bletak, krosak.... Suara keras menimpa atap gubuk dan juga suara semak semak membuat kami terkejut, kami saling bertatapan dengan wajah pucat. Apa yang kami takutkan seperti terjadi.
ns216.73.216.204da2


