Tidak Mbah, saya cuma mau tahu kayu bakarnya sudh cukup apa belum." jawabku merasa malu, berbohong ke Mbah Kholil tidak akan ada artinya. Justru membuatku merasa sangat berslah karena aku yakin. Mbah Kholil tidak pernah berbohong.
"Kamu ditunggu Kyai Amir, biar kerja kamu diteruskan oleh Rahmat." kata Mbah Kholil.
"Baik, Mbah." jawabku segera mencium tangan Mbah Kholil, aku harus segera pergi sebelum Ahmad keluar.
Aku berjalan cepat ke rumah kyai Amir, masih sempat aku melihat ke bakang. Mbah Kholil dan Ahmat terlihat bercakap cakap, entah apa yang mereka bicarakan, aku yakin mereka tidak akan membicarakanku. Lebih tepatnya Ahmad tidak akan berani bertanya tentang aku ke Mbah Kholil.
"Assalam mu'alaikum..!" aku mengucapkan salam di pintu rumah yang terbuka.
"Wa 'alaikum salam, masuk!" kata suara tiga orang berbarengan. Aneh, kenapa ad suara Nyai Jamilah di dalam?
Aku masuk, tidak bisa terus memikirkan keberadaan Nyai Jamilah di dalam. Benar, Nyai Jamilah dan Nyai Nur duduk di pojok sehingga aku tidak bisa melihat ke hadiran mereka, sedangkan Kyai Amir duduk di samping pintu. Aku segare mencium Kyai Amir.
"Duduk, Mas. Ada hal penting yang harus kita bicarakan." kata Kyai Amir mempersipahkanku duduk di hadapannya. Aku tidak berani menoleh ke arah Nyai Jamilah walau sebenarnya aku sangan imgin melihat wajahnya setelah kejadian malam itu di kebun.
"Iya, Pak Yai. Kalau boleh tahu ada masalah apa sampai Pak Yai memanggil saya?" tanyaku heran. Menurut akhlaq, sebenarnya aku tidak boleh langsung bertanya begitu kepada Kyai Amir, tapi aku adalah seorang residivis yang lama berkecimpung di dunia hitam sehingga tata krama seperti itu hanya aku ketahui tanpa pernah aku praktekkan dalam kehidupan sehari hari.
"Kamu itu seperti bukan santri, datang langsung bertanya ada apa." kata Kyai Amir membuatku yerkejut, tebakannya tepat. Dia mempunyai kecerdasan dan pengetahuan batin yang mumpuni.
"Maaf, Pak Kyai." jawabku. Aku menunduk tidak lagi berani menatap wajahnya seperti tadi, karena aku takut penyamaranku semakin terlihat jelas di mata Kyai Amir. Situasinya sangat berbeda kalau yang mengetahui penyamaranku adalah Mbah Kholil.
"Ini tentang masalah yang terjadi di hutan, kamu tahu siapa yang paling rugi?" tanya Kyai Amir, ketegasannya diimbangi oleh kearifan seorang alim yang paham dengan Ushul Fiqh dan Aqidah.
"Shinta dan Nabila." jawabku. Tentu aku tahu karena mendengar percakapan Surti dn Si Mbok, yang menjadi persoalan dari mana asala muasal gosip itu beredar.
"Benar, Nabila dan Shinta yang harus menanggung aib, hal yang tidak akan kamu rasakan karena bagi seorang pria itu adalah kebanggan bisa berduaan di tempat sepi dengan seorang wanita." kata Kyai Amir, tatapan matanya yang tajam membuatku semakin menunduk, sangat berbeda dengan tatapan mata Mbah Kholil yang lembut dan menganggap semuanya adalah urusan Allah. Tatapan mata Kyai Amir adalah tatapan mata seorng hakim yang siap menjatuhkan vonis.
"Saya mengerti Pak Kyai. Boleh saya menjelaskan kronologi kejadiannya?" tanyaku pelan, aku tidak boleh terlalu agresif di hadapan Kyai Amir. Bisa saja sifat agresif dianggap sebagai membangkang.
"Sudah, maksudnya aku sudah dengar dari Nyai Jamilah yang mendengar langsung dari Shinta dan Nabila serta dari Ahmad yang mendengar pengakuan Farhan, tapi aku juga harus mendengar penjelasan kamu biar adii apa lagi dalam kejadian tidak ada saksi, yang ada hanya pelaku." jawab Kyai Amir, ternyata Kyai Amir tidak seseram yang aku bayangkan, dia masih meminta keterangan langsung dariku, tidak langsung menjatuhkan vonis bersalah seperti yang aku takutkan.
Perlahan aku mulai menjelaskan kejadian yang sebenarnya bagaimana aku mengintip dan mengagumi kecantikan k
Nabila dan Shinta dari tempat persembunyian, aku tidak mengatakan sengaja menguping percakapan Shinta dan Nabila. Aku yakin Shinta dan Nabila akan melakukan hal yang sama dalam versi yang lain namun pada dasarnya akan tetap sama.
"Secara fiqh, kamu dan Farhan bersalah karena beniat mencuri mangga seperti pengakuan Farhan dan juga kalian sudah berlari dari Mbah Kholil karena takut, padahal kalian tidak perlu lari karena pasti Mbah Kholil akan menuduh kalian pencuri, tapi hal itu sudah aku anggap selelsai karena kalian sekarang sedang menjalani hukumannya. Persoalannya sekarang adalah bagaimana cara menutup aib Shinta dan Nabila setelah beruta tentang kalian tersebar luas hingga desa desa terdekat, sekaligus untuk menjaga nama baik Mbah Kholil." kata Kyai Amir tegas. Menutup aib dan menjaga nama baik pesantren, apa yang dimaksud aku harus menikahi salah satu di antar kedua gadis itu atau mungkin keduanya, bukankah ini terlalu berlebihan.
"Maksud Pak Yai?" tanyaku berusaha mengendalikan diri.
"Ada dua solusi yanv bisa kita tempuh." kalimat Kyai Amir terhenti karena dipotong oleh Nyai Jamilah.
"Tiga, Pak Yai..!" kata Nyai Jamilah, seakan dia berusaha membelaku.
"Baik, anggap saja kterbaikpunyai tiga solusi untuk menjaga aib dua santriwati tersebut dan juga menjaga nama baik pesantren ini. Pertama, kita menyuruh ke dua santriwati tersebut pulang ke rumah orang tuanya, tapi menurut Nyai Jamilah ke dua santriwati itu menolak untuk dipulangkan. Ke dua, kamu menikahi salah satu diantara ke dua santriwati tersebut untuk menjaga nama baik mereka dan juga pesantren ini. Solusi ke tiga adalah, membiarkan gosip miring tentang kalian, seiring dengan berjalannya waktu gosip itu akan reda. Tapu aku merasa solusi ke tiga tidak bisa kita gunakan di sini, itu akan membuat para santri lain akan beranggapan, setiap kesalahan yang mereka perbuat tidak akan mendapatkan sanksi berat sehingga tidak menimbulkan efek jera di kalangan santri lainnya." kata Kyai Amir menjelaskan tiga solusi yang menurutnya terbaik.
"Tapi Pak Yai, menikahi mereka sepertinya terlalu berlebihan." kataku b3rusaha msnolak untuk bertanggung jawab, menurutku terlalu berlebihan. Apa lagi kedatanganku di sini untuk bersembunyi dari kenaran Polisi.
"Assalam mu'alaikum..!" percakapan kami langsung terhenti mendengar kedatangan seseorang.
"Wa 'alaikum salam.." kami semua menjawab ucapan salam dari Ahmad yang langsung masuk. Seperti lazimnya adab ke guru, Ahmad mencium tangan Kyai Amir.
"Ada apa, Mad?" tanya Kyai Amir ke Ahmad yang menjadi tangan kanannya di Pondok.
"Begini Pak Yai, sepertinya terlalu berlebihan kalau sampai Zakaria menutup aib Nabila atau Shinta dengan menikahinga." kata Ahmad langsung mengutarakan keberatannya membuatku merasa lega karena ada yang membelaku.
"Maksud kamu, kita akan membiarkan gosip yang berkembang reda dengan sendirinya atau kita akan mengirim Nabila dan Shinta ke orang tuanya atau bisa juga kita titipkan di Pomdok Pak Kyai Mahfud?" tanya Kyai Amir, sepertinya dia tidak keberatan dengan usulan Ahmad.
"Bukan begitu maksudnya, Pak Yai. Begini, rasanya kita tidak mungkin menyerahkan Shinta santriwati terbaik kita ke orang yang ilmu agamanya belum kita ketahui kapasitasnya. Jadi saya bersedia menutup aib Shinta, agar Shinta tetap berada di Pondok." kaya Ahmad membuatku mengerti, ternyata diam diam Ahmad naksir Shinta.
"Kamu serius akan menutup aib, Shinta?" tabha Kyai Amir tersenyum menatap Ahmad yang menunduk malu, perasaan hatinya tergambar jelas dari perkataannya.
"Sayang." tanpa sadar aku bergumam pelkan, Shinta yang cantik tidak sepadan dengan Ahmad yang bisa dikatakan jelek.
"Apanya yang sayang?" tanya Kyai Ahmad membuatku menunduk melihat tatapan matanya yang sangat tajam seperti menusuk jantungku.
"Eh, titidak apa apa Pak Yai." jawabku gugup, mulutku terlalu lancang.
"Kamu benar benar ingin menutupi aib Shinta? Kamu sudah shalat Istikharah?" tanya Kyai Amir berusaha sekali lagi memastikan.
"Benar Pak Yai, saya sangat mencintai Shinta." kata Ahmad tegas.
"Saya setuju, Pak Yai." kata Nyai Jamilah membuatku menoleh ke arahnya.
=======≠=
"Mas Zaka, sudah dengar gosip terbaru belum?" tanya Rahmat yang sedang membelah kayu bakar yang berukuran terlalu besar untuk dijemur agar mudah digunakan.
"Gosip apa, Mat?" tanyaku mengumpulkan kayu bakar yang berukuran kecil dan sudah kering, aku menaruhnya di samping pintu dapur agar mudah mengambilnya saat dibutuhkan.
"Mas Ahmad mau dinikahkan dengan Shinta, biar terhindar dari aib." kata Rahmat, tentu saja aku tahu berita tersebut karena mendengarlangsung dari sumber berita.
"He em." jawabku tidak terlalu antusias dengan topik obrolan Rahmat.
"Sayang gadis secantik Shinta harus menikah dengan Mas Ahmad." kata Rahmat kembali membelah kayu bakar, dia terlihat sangat ahli melakukan pekerjaan yang belum tentu bisa aku lakukan.
[IMG]
"Kalian lagi ngomongin aku, ya? Ghibah itu dosa, seharusnya kalian tahu itu." kata Nabila yang tiba tiba muncul dengan Nur.
"Aku nggak ikutan." jawabku spontan, aku tidak mau kembali ribut dengan Nabila, ujung ujungnya aku akan kembali tertimpa sial, baru saja aku lolos dari lubang jarum menikahi salah satu diantara Shinta dan Nabila.
"Aku mau bicara denganmu." kata Nabila membuatku tidak senang, pasti Nabila sama dengan Shinta meminta pertanggung jawabanku. Tapi, nanti dulu, aku tidak melecehkan Nabila seperti yang kulakukan pada Shinta. Jadi aku tidak perlu takut padanya.
"Bicara apa? Di sini saja biar tidak menjadi Ghibah," kataku menolak kalau harus bicara berdua. Walau di masyarakat umum apa lagi perkotaan, bicara berduaan dengan seorang gadis adalah hal yang bisa. Di pondok hal yang dianggap wajar menjadi hal yang tidak boleh dilakukan, iti adalah aib dan mengundang setan.
"Tidak bisa, aku hanya mau bicara denganmu." kata Nabila tegas membuatku menoleh ke arah Rahmat, meminta pendapatnya. Aku tidak boleh terlalu gegabah mengambil keputusan yang menjadi sulit karena terjadinya di pondok.
"Nggak apa apa, aku bisa dipercaya mas." kata Rahmat seakan mengerti apa yang aku pikirkan.
Ya, sudah. Kamu jalan dulu biar tidak ada finah lagi." jawabku.
"Aku tunggu di tempat kemarin, jangan terlalu lama." jawab Nabila meninggalkan kami.
Aku memandang kepergian Nabila, pinggulnya bergerak menggoda mata. Bulat dan berlengak lengok seperti pragawati yang bernalan di atas catwalk.
"Pantat Nabila bagus, ya Mas. Kalau maen bslakang enak tuh, pasti goyangnya nggak akan kalah oleh Surti. " kata Rahmat mengingatkanku dengan Surti wanita pencari kayu bakar yang cantik.
"Kamu sudah sering ngentot dengan Surti, ya ?" tanyaku tanpa tedeng aling lagi.
"Eh, badu lima kali mas, tapi aku nggak sendirian, sama Farhan." jawab Rahmat kembali menyibukkan diri membelah kayu bakar yang masih tersisa.
"Hati hati jangan sampai ketahuan, bisa digebukin warga sekampung kamu." kataku teringat dengan pengalamanku sendiri saat mondok di bogor, hampir saja diamuk masa marena kepergok berbuat mesum dengan janda muda yang sekaligus seorang guru ngaji anak anak.
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
"Teh, sudah tidur belum?" kataku sambil mengetu jsndela sebuah rumah panggung, rumah Teh Nyai, seorang janda muda beranak satu yang baru berusia dua puluh satu tahu. Orang di kampung mengenalnya sebagai guru ngaji anak anak kecil di sekitarnya. Suaminya meninggal dalam sebuah kecelakaan.
"Lewat belakang, Jaka..!" jawab Teh Nyai pelan. Ini adalah kali ke empat aku datang mengendap endap ke rumahnya. Ya, Yeh Nyai yang sudah mengajariku kenikmatan sex di sebuah sungai saat aku sedang memancing.
Perlahan lahan aku mengendap ke pintu dapur, tempat paling aman untuk masuk ke dalam rumah, kecil kemungkinanya ada orang yang melihatku masuk dari dapur. Aku sampai bertepatan dengan Teh Nyai yang membuka pintu.
[IMG]
"Ada orang nggak, Jak?" tanya Teh Nyai memperhatikan keadaan di luar untuk memastikan tidak ada orang, setelah merasa yakin aman, Teh Nyai menarikku masuk kamar. Kulihat anak Teh Nyai, tidur pulas.
"Kamu sudah kangen Teh Nyai, ya?" kata Teh Nyai memeluk leherku, pandangan matanya begitu menggoda.
Aku langsung melumat bibir Teh Nyai dengan bernafsu, birahiku sudah bangkit sejak ke luar duam diam dari Pondok. Tanganku meremas payudara Teh Nyai yang lumayan besar
"Kamu nggak sabar amat, maen remes tetek aja, pelan pelan ngeremesnya biar susunya tidak terbuang percuma.
"Jaka sudah nggak tahan pengen nyusu...!" kataku tidak menghiraukan protes Teh Nyai, aku terus menciumi pipinya dan meremas payudaranya yang masih terbungkus rapi.
"Iya, tapi buka dulu, baju Teteh nanti lecek, besok mau Teteh pake buat pengajian." kata Teh Nyai berontak dari pelukanku yang sudah sangat bernafsu.
"Iya iya..!" jawabku jengkel, kubiarkan Teh Nyai menjauh dariku dan membuka pakaiannya satu persatu dengan hati hati agar tidak menjadi kusut dan bau keringat. Salah sendiri kenapa dia tidak ganti baju tadi biar persoalannya menjadi lebih mudah dan aku bisa langsung menusuk memeknya.
"Kamu pengen nyusu bukan?" tanya Teh Nyai membelai payudaranya yang besar menggoda gairahku. Aku menelan air liur melihatnya dan tanpa menunggu aku menyambar payudara Teh Nyai yang justru menghindar dari sergapanku.
[IMG]
"Sabar sayang, masa kamu nggak sabar...!" goda Teh Nyai membuka BHnya perlahan lahan.
"Teh, jangan gitu donk." kataku menghiba karena hasratku belum juga tersalurkan.
.
Jangan gitu apanya, sayang?" tanya Teh Nyai semakin menggodaku, dia membelai permukaan payudaranya dan segera menghindar saat aku mendekatinya dengan perasaan tidak sabar. Untung saja lantai rumah ini terbuat dari kayu bukan bambu sehingga tidak terlalu berisik saat kami salaing bekejaran di dalam kamar.
"Teh Nyai...!" kataku menghiba karena tidak berhasil mengejarnya.
"Hahahaha, kamu lucu. Itu yang bikin aku tergila gila sama kamu, apa lagi sama kontol kamu." kata Teh Nyai tertawa dan kesempatan itu tidak kusia siakan begitu saja, aku berhasil memeluknya dari belakang. Tanpa memberinya kesempatan, aku mempermainkan payudaranya yang besar dengan bernafsu.
[IMG]
"Rasain nich, sudah menggoda Zaka." kataku terus meremas payudaranya sambil menciumi lehernya yang terhalang jilbab.
"Zaka nakal, santri mesum. Kamu nggak takut dosa?" tanya Teh Nyai diiringi desahannya yang membuatku semakin terangsang.
"Teh Nyai juga guru ngaji mesum asa aku diajarin ngentot." kataku tidak mau kalah terus mempermainkan payudaranya yang besar dn membuatku ketagihan sehingga rela dihukup oleh Ustad membersihkan toilet selama seminggu.
"Langsung saja, Jang...!" kata Teh Nyai berusaha melepaskan tanganku pada payidaranya. Dia mendorongku hingga terjatuh ke ranjang, untung saja tidak menimpa anaknya yang tertidur pulas.
"Teh Nyai, untung aku nggak nindihin si dede..!" kataku langsung terhenti saat Teh Nyai menarik celana pangsingku berikut celana dalamnya. Terlihat sekali Teh Nyai sudah sangat terangsang dan dia melakukannya dengan terburu buru.
"Aku sudah nggak tahan pengen ngisep kontolmu yang gede...!" jawab Teh Nyai memegang kontolku yang sudah tegang sempurna.
[IMG]
"Tehhhh...!" aku merintih nikmat saat kontolku mulai dikulum Yeh Nyai, wajahnya yang cantik dan tertutup jilbab berubah menjadi liar. Bibirnya yang sensual tidak mampu menampung kontolku yang besar.
"Teh, terusssss..... Gilaaaa nggak nyangka guru ngaji pinter nyepong." kataku tanpa sadar menarik kepalanya hingga membuat Teh Nyai berontak karena kontolku menyentuh kerongkongannya.
"Zaka, gimana kalau Teh Nyai mati gara gara kontol kamu?" kata Teh Nyai melotot membuat matanya terlihat semakin indah saja.
"Maaf Teh..!" kataku tertawa geli melihat wajahnya yang menjadi pucat.
"Awas, jangan begitu lagi." kata Teh Nyai mengancamku. Ancaman yang sama sekali tidak membuatku takut, aku menariknya agar rebah di sampingku.
"Gantian Teh, aku mau jilatin memek Teh Nyai...!" kata segera berjongkok di selangkangannya yang terbuka lebar.
"Zaka, kok langsung mau ngemut memek, nggak mau nyusu dulu?" tanya Teh Nyai heran, biasanya aku akan menghisap payudaranya dan menelan ASI yang terkandung di dalamnya. Bahkan selama ini aku belum pernah menjilati memeknya karena jijik.
"Zaka pengen nyobain ngejilat memek Teh Nyai...!" kataku.
"Apppa yang kalian lakukan? Haram jadah, guru ngaji mesum...!" teriak seseorang membuatku sangat terkejut, reflek aku berbalik dan melihat beberapa orang berdiri di pintu yang terbuka. Kapan mereka datang, aku tidak mendengar suara langkah kaki mereka.
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
"Mas, kamu kan ditunggu Nabila." kata Rahmat mengingatkanku.
"Eh iya, aku hampir lupa." kataku berusaha menyembunyikan rasa terkejutku.
"Iya Mas, kalau kamu tidak datang urusannya akan semakin panjang." kata Rahmat lagi.
"Iya." kataku meninggalkan Rahmat tanpa berpamitan. Aku berjalan dengan perasaan tidak menentu, kenapa persoalannya tidak juga selesai, bukankah sudah ada Ahmad yang akan menutup aib Shinta lalu Nabila mau apa lagi. Seharusnya persoalan ini sudah selesai sampai di sini.
Sampai di tempat Nabila menunggu, aku melihat sesuatu yang aneh karena yang ada di situ bukanlah Nabila melainkan Nyai Jamilah.
"Nyai...!" seruku heran.
"Seharusnya kita tidak melakukan perbuatan terkutuk itu, seharusnya kamu tidak ada di sini." kata Nyai Jamilah, air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang halus.
"Mak maksud, Nyai?" tanyaku heran, ada masalah apa lagi ini.
"Akkkku minta, hiks hiks hiks, kammmu pergii dari sini...! Jangan pernah....kembali ke pondok pesantreb ini." kata Nyai Jamilah membuatku sangat terkejut, kenapa tiba tiba Nyai Jamilah mengusirku.
ns216.73.216.204da2


