Rahma – Api yang Tersembunyi di Balik Gamis ( pov Rahma)
5927Please respect copyright.PENANARCCaskKrxM
Nama aku Rahma Putri Ananda. Dua puluh satu tahun. Aku lulusan pondok pesantren putri di Jawa Tengah yang terkenal ketat. Dari kecil aku diajarkan untuk menjaga pandangan, menjaga jarak dengan lawan jenis, dan menjadikan ilmu agama sebagai prioritas utama. Gamis lebar, jilbab panjang sampai dada, dan sikap diam bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. Itu sudah menjadi bagian dari diriku sejak kecil.
5927Please respect copyright.PENANAOTP7g2FyAS
Di kampus Universitas swasta Islam di Jakarta, aku selalu menjadi mahasiswi yang “alim” di mata semua orang. Aku jarang ikut acara malam, tidak pernah pacaran, dan selalu duduk di barisan paling depan saat kuliah. Teman-teman cewekku sering bilang aku terlalu kaku, tapi aku tidak peduli. Fokusku hanya kuliah dan ibadah. Semester 1 sampai 4 berjalan begitu itu. Aku bahkan tidak pernah merasakan degup jantung karena seorang laki-laki.
5927Please respect copyright.PENANAStlUn2CbPE
Semuanya berubah di semester 5.
Awalnya hanya hal biasa. Namanya Kak Farid, kakak kelas jurusan Pendidikan Agama Islam juga. Farid dikenal sebagai pelajar yang rajin, suaranya merdu saat mengaji, dan selalu membantu adik-adik kelas yang kesulitan mata kuliah fiqih dan tafsir. Aku pertama kali berinteraksi dengannya saat aku kesulitan mengerjakan tugas makalah besar tentang “Hakikat Takwa dalam Kehidupan Modern”. Saya bertanya melalui grup kelas, dan Farid menawarkan bantuan.
5927Please respect copyright.PENANAZLIdzzvLOz
“Kalau mau, kita ketemu di perpustakaan kampus sore ini. Aku jelasin pelan-pelan,” katanya lewat chat.
5927Please respect copyright.PENANAGvA3Tetc5J
Aku ragu. Tapi karena tugas itu sangat penting untuk nilai akhir, akhirnya aku setuju. Kami bertemu di perpustakaan yang sepi di lantai 3. Farid duduk di seberangku dengan jarak yang sopan, menjelaskan materi dengan suara pelan dan sabar. Aku mencatat setiap katanya. Saat itu aku merasakan sesuatu yang aneh di dada — degup jantung yang lebih cepat dari biasanya. Aku cepat menepisnya. “Ini hanya karena dia baik,” kataku dalam hati.
5927Please respect copyright.PENANAGvw6oLzRKB
Pertemuan demi pertemuan berlanjut. Kadang di perpustakaan, kadang di masjid kampus setelah ashar. Awalnya murni bantuan belajar. Tapi lama-kelamaan pembicaraan kami meluas. Farid bercerita tentang mimpi menjadi ustadz, tentang keluarga, tentang perjuangannya kuliah sambil mengajar ngaji di masjid dekat kosnya. Aku juga mulai sedikit bercerita tentang pondokku, tentang betapa ketatnya aturan di sana, dan betapa aku takut mengecewakan orang tua.
5927Please respect copyright.PENANAtkTG6UIEZW
Suatu sore, setelah kami selesai membahas tugas, Farid melihatnya lebih lama dari biasanya. “Rahma… kamu beda dari cewek lain. Aku suka kamu.”
5927Please respect copyright.PENANADi7cFWVSqD
Wajahku langsung panas. Aku menunduk ke dalam-dalam, jari-jari memainkan ujung jilbab. “Kak… jangan bicara seperti itu. Kita hanya teman belajar.”
5927Please respect copyright.PENANApfQuVZODga
Tapi Farid tidak berhenti. Dia bilang dia sudah lama memperhatikanku. Dia mengaku bahwa dia juga belum pernah pacaran serius karena alasan yang sama denganku — fokus ibadah dan kuliah. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan apa yang disebut “cinta”. Degup jantung yang tidak bisa dikendalikan, pipi yang memerah sendiri, dan pikiran yang selalu mengingatkannya.
5927Please respect copyright.PENANAdLSwqdR6C2
Hubungan kami dimulai secara sembunyi-sembunyi. Tidak ada status di medsos, tidak ada pegangan tangan di depan orang, tidak ada kencan di luar kampus. Kami hanya bertemu di tempat-tempat “aman”: perpustakaan, masjid, atau kadang-kadang di taman belakang kampus saat sore sepi. Farid selalu menjaga batas. Dia berkata, “Aku tidak mau fitnah buat kamu, Rahma.”
5927Please respect copyright.PENANAaZofyw8Fep
Namun manusia adalah manusia.
5927Please respect copyright.PENANAQ5r69m5tv0
Suatu malam, setelah kami belajar sampai larut di perpustakaan yang hampir tutup, Farid mengajakku ke mobilnya yang diparkir di pojok kampus yang gelap. “Cuma sebentar, aku ingin mengatakan sesuatu,” katanya.
5927Please respect copyright.PENANATBA8oz5W5c
Di dalam mobil yang gelap, setelah berbicara panjang lebar tentang perasaan kami, Farid memegangnya untuk pertama kalinya. Tangannya hangat. Aku gemetar. Lalu dia mendekat, dan kami berciuman untuk pertama kali. Ciuman itu lembut, penuh rasa takut dan penasaran. Aku merasa dunia berhenti berputar. Malam itu, di kursi belakang mobil Farid, aku memberikan keperawananku padanya.
5927Please respect copyright.PENANAkWvexQX5Xv
Aku menangis setelah itu. Bukan karena sakit, tapi karena campuran rasa bersalah, bahagia, dan ketakutan yang luar biasa. Farid memelukku erat. “Rahma… aku akan nikahin kamu. InsyaAllah. Aku serius. Tunggu aku lulus dulu ya?”
5927Please respect copyright.PENANAOgFuPf7N4N
Dari situ, aku ketagihan.
5927Please respect copyright.PENANAxLAouyQ3Bp
Farid selalu mengajakku ke mana pun dia bisa. Kadang ke kosannya yang sepi saat teman sekosnya pulang kampung, kadang ke hotel murah di pinggir Jakarta dengan alasan “kita butuh waktu berdua yang lebih aman”. Aku yang dulu tidak pernah bisa menolak permintaan orang tua, sekarang juga tidak bisa menolak Farid. Setiap kali dia berkata “Aku kangen memek kamu yang sempit itu”, tubuhku langsung bereaksi. Nafsu yang selama ini aku tekan rapat-rapat di pondok, meledak begitu saja.
5927Please respect copyright.PENANA7LzysBMezL
Kami melakukannya hampir setiap minggu. Kadang cepat dan tergesa-gesa di mobil, kadang lama dan penuh detail di kosannya. Farid suka sekali dengan dadaku yang besar. Dia bilang itu “rezeki yang Allah kasih buat aku”. Aku yang dulu malu dengan ukuran payudaraku, sekarang merasa bangga setiap kali Farid meremas dan menghisapnya dengan rakus.
5927Please respect copyright.PENANAG3tZViGeG7
Tapi KKN ini memisahkan kami.
5927Please respect copyright.PENANAJVJWZ3FZbT
Farid tidak bisa ikut KKN bersamaku karena jadwal skripsinya yang bertabrakan. Dia harus tetap di Jakarta. Dua bulan tanpa bertemu secara fisik terasa sangat berat. Kami hanya bisa video call setiap malam saat orang lain sudah tidur. Awalnya hanya percakapan biasa, tapi lama-lama nafsu kami tidak terganggu. Farid mulai memintaku menunjukkan tubuhku. Menurutku. Aku merasa bersalah, tapi juga sangat ingin merasakan sentuhannya meski hanya lewat layar.
5927Please respect copyright.PENANAQUO8EcS2mc
Malam ini, malam ketiga di desa, hujan deras turun di luar. Udara sangat dingin. Aku berbaring di kasur pojok ruang cewek, tirai tebal sudah menutup rapat. Teman-teman yang lain sudah tidur pulas. Sinta mendengkur pelan, Nadia tidur menghadap dinding, Rina bernapas teratur.
5927Please respect copyright.PENANASFAJa2zijU
Saya mengambil HP, memastikan volume kecil dan kecerahan rendah. Farid sudah menunggu di video call. Wajahnya muncul di layar, senyumnya nakal.
5927Please respect copyright.PENANA1D6QgqYt7l
“Sayang… aku kangen banget. Malam ini dingin ya di desamu?”
5927Please respect copyright.PENANATa83M86xzU
“Iya Mas… dingin sekali. Aku kangen kamu,” bisikku pelan.
5927Please respect copyright.PENANA1Os7sKm5Ow
Farid langsung ke inti. “Buka gamisnya pelan-pelan, Rahma. Aku mau lihat dada kamu yang besar itu.”
5927Please respect copyright.PENANARFnysmNgYe
Jantungku berdegup kencang. Aku duduk bersandar di dinding kayu. Dengan tangan gemetar, aku gulung gamis kremku sampai pinggang. Jilbab panjangku masih terpasang rapi, karena aku takut ada yang bangun tiba-tiba. Aku tarik bra hitamku ke bawah. Kedua payudaraku yang besar dan putih langsung terbebas. Putingku sudah menekan karena dinginnya udara desa.
5927Please respect copyright.PENANA3kxAra6jTu
Farid mendesah di layar. “Cantik sekali… remas pelan, sayang.Bayangin itu rasanya.”
5927Please respect copyright.PENANARtdeJUJCPA
Aku meremas payudaraku sendiri. Rasanya enak, tapi tidak se-enak saat Farid melakukannya. Aku mencubit putingku pelan, desahan kecil keluar dari mulutku. “Mmmhh… Mas Farid… ini buat kamu…”
5927Please respect copyright.PENANA5PIWF9hQKh
Tangan kiriku turun ke celana dalam. Aku tarik ke samping, jari tengahku langsung menyentuh klitoris yang sudah basah. Aku menggosoknya melingkar, pelan dulu, lalu semakin cepat. Pinggulku naik-turun mengikuti gerakan jari. Memekku sudah licin sekali, suara basah kecil terdengar di telingaku sendiri.
5927Please respect copyright.PENANAIzIxnwDEF4
“Ahh… Mas… enak… aku bayangin titit Mas masuk ke sini…” desahku tertahan.
5927Please respect copyright.PENANA7nI8sM9ZU1
Farid di layar sudah membuka celananya, tangan bergerak cepat. “Desah lebih keras, Rahma. Aku mau denger suara kamu yang alim itu jadi nakal.”
5927Please respect copyright.PENANAbcsYviWLiz
Aku semakin pembohong. Aku menarik bra sepenuhnya ke bawah, kedua dada besarku bergoyang saat jari aku semakin cepat di memek. Cairanku sudah menetes ke kasur. “Ahh… ahh… Mas… aku mau keluar… jangan berhenti… mmmhhh…”
5927Please respect copyright.PENANAD0Q5DW5Zy0
Badanku melengkung. Orgasme datang dengan kuat. Aku gigit tangan sendiri agar tidak berteriak. Tubuhku kejang beberapa detik, cairan hangat muncrat kecil ke jari dan kasur. Napasku tersengal-sengal. Payudaraku naik turun dengan cepat.
5927Please respect copyright.PENANAkzp24QuTPe
Farid juga keluar di layar. "Bagus sayang… aku juga keluar. Kamu semakin pembohong ya di desa itu."
5927Please respect copyright.PENANAcMKoz7cvR5
Aku malu tersenyum, tapi juga puas. “Ini karena kangen Mas… satuan ini berat sekali.”
5927Please respect copyright.PENANAIm7OGDGeGf
Kami membeku sebentar setelah itu. Farid mengingatkan lagi, “Tunggu aku ya, Rahma. Nanti aku lamar kamu ke orang tua. Aku serius.”
5927Please respect copyright.PENANAfFZUhtNKUd
Panggilan selesai. Aku buru-buru merapikan bra, menarik celana ke posisi semula, dan menurunkan gamis sampai menutupi kaki. Jilbabku masih rapi. Aku menyeka keringat di dahi dengan ujung gamis, lalu berbaring dengan napas yang belum normal.
5927Please respect copyright.PENANAXMlPw0cKIq
Tapi tiba-tiba ada ketukan pelan di pintu.
5927Please respect copyright.PENANAzkIyGoJw4B
"Rahma… kamu belum tidur? Senterku mati total, boleh pinjem lampu minyak sebentar? Aku mau ke kamar mandi."
5927Please respect copyright.PENANAHsOyuCVhHT
Suara itu… Reza.
5927Please respect copyright.PENANAeKjgx4Yoo0
Jantungku hampir copot. Wajahku yang masih merah karena orgasme tadi pasti terlihat jelas. Aku duduk cepat, suaraku gemetar saat menjawab, “Eh… iya Mas Reza, tunggu sebentar…”
5927Please respect copyright.PENANAfmFrUOfuqi
Aku membuka pintu sedikit. Reza berdiri di depan dengan senter HP yang redup. Pandangan memandang lekat. Aku merasa dia tahu sesuatu.
5927Please respect copyright.PENANAK1kiXtqmkR
“Wajahmu merah banget, Rahma. Kamu baik-baik saja?”
5927Please respect copyright.PENANAwN0RbRCvI0
Aku menunduk ke dalam, memegang ujung gamis kuat-kuat. Dalam hati aku berdoa, “Ya Allah… jangan sampai dia tahu…”
5927Please respect copyright.PENANARDtAMbY7Kl
Tapi Reza tidak langsung pergi. Dia masuk sedikit ke dalam kamar, mengambil lampu minyak, lalu berdiri sangat dekat denganku. Cahaya lampu mencapai wajah kami berdua.
5927Please respect copyright.PENANAfPNbtmay2A
Dan saat itu terjadi ciuman kecil, ya aku masih nafsu sisa video call tadi
Cerita lengkap ada disini 23 bab
https://lynk.id/silviylstory
https://victie.com/novels/godaan-di-kkn
5927Please respect copyright.PENANAhpFRsNze8s
5927Please respect copyright.PENANAt1e9GjWJvD


