Namaku Arga. Umur 21 tahun, mahasiswa semester akhir di salah satu kampus swasta di Semarang, tapi rumah tetap di Kudus karena nggak mau kos. Aku anak tunggal, Ayah kerja di perusahaan minyak yang bikin dia bolak-balik luar kota sejak aku SMA. Pulang cuma sebulan sekali atau pas Lebaran. Jadi rumah besar ini sebenarnya cuma ada aku sama Ibu. Bu Rina. Umur 42 tahun, tapi kalau orang liat sering salah sangka dia masih akhir 30-an.
19952Please respect copyright.PENANAywtC4FPtzA
Hari itu hujan deras banget. Jam setengah enam sore, langit gelap kayak malam, angin bawa bau tanah basah masuk lewat jendela dapur yang setengah terbuka. Aku baru pulang dari kampus, kaos polo abu-abu basah kuyup di pundak sama dada. Tas ransel kulempar di lantai ruang tamu, sepatu sneakers dilepas pakai kaki sambil jalan ke dapur.
19952Please respect copyright.PENANA2JC8UG1vSb
“Ibuuu… Arga pulang!” teriakku sambil buka kulkas langsung nyari air dingin.
19952Please respect copyright.PENANAKNM5RAQzFq
Dari ruang keluarga terdengar suara lembut yang sudah ribuan kali aku dengar.
19952Please respect copyright.PENANAFEMdiR0x4q
“Masuk dulu, ganti baju. Nanti masuk angin, Arga.”
19952Please respect copyright.PENANAFjDnRB5uV6
Itu Ibu. Bu Rina. Tinggi semampai, kulit putih kuning khas orang Jawa yang jarang kena matahari, rambut hitam lurus sebahu selalu diikat ponytail sederhana. Badannya proporsional—pinggang ramping, bokong bulat penuh, payudara ukuran 36C yang selalu terlihat berat meski pakai baju rumah longgar. Dia tipe ibu rumah tangga yang selalu rapi meski cuma di rumah: kaos polos longgar sama legging hitam atau celana pendek kain.
19952Please respect copyright.PENANAimdWFcGBUb
Aku ambil segelas air es, minum setengah, baru sadar ada suara ketawa pelan dari ruang tamu.
19952Please respect copyright.PENANAElqO3fqwjg
“Eh, ada tamu ya, Bu?”
19952Please respect copyright.PENANAL4kccP4EHJ
“Iya. Mas Dimas datang.”
19952Please respect copyright.PENANAblcHYBggcr
Jantungku langsung lompat kecil. Dimas. Teman SD sampe kuliah, beda jurusan tapi masih sering ketemu. Dia satu-satunya orang yang bisa masuk rumah ini sesuka hati tanpa permen apa yang besar. Ayah jarang pulang, jadi Dimas sering mampir. Katanya numpang wifi, katanya ngerjain tugas bareng, katanya kangen masakan Tante Rina.
19952Please respect copyright.PENANAiHOmQ9XKCw
Tapi aku tahu. Aku tahu banget.
19952Please respect copyright.PENANAJsFVsH7ahA
Aku tahu caranya Dimas ngeliatin Ibu waktu Ibu lagi nyanyi kecil sambil nyapu halaman. Aku tahu caranya Ibu pura-pura nggak sadar tapi pipinya merah. Aku tahu caranya mereka ketawa kecil pas aku ke kamar mandi sebentar. Dan aku… benci diri sendiri karena malah nggak marah. Malah penasaran. Malah pengen tahu lebih jauh.
19952Please respect copyright.PENANAmTLFRgkyN2
Aku masuk ruang tamu bawa gelas.
19952Please respect copyright.PENANAjhJBPgRZlr
“Yo, bro. Lagi ngapain lo di sini? Lagi-lagi numpang makan ya?”
19952Please respect copyright.PENANADr1MT4D41K
Dimas duduk santai di sofa panjang, kaki selonjor, remot TV di tangan sambil nyalain Netflix. Kaos hitam polos, celana pendek olahraga. Badannya lebih berotot dari aku—dia rutin gym sama futsal. Rambut cepak rapi, kulit sawo matang, senyum lebar yang bikin cewek-cewek di kampus sering lirik.
19952Please respect copyright.PENANACKGRNgHKPO
“Eh, Arga pulang. Gue cuma nemenin Tante bentar. Hujan deras banget, males balik kos.”
19952Please respect copyright.PENANABZkFXK7mnh
Ibu keluar dari dapur bawa nampan kecil: teh hangat sama pisang goreng masih ngepul.
19952Please respect copyright.PENANAHfH8vgVYvM
“Ini, diminum dulu. Dingin banget badan kamu, Mas Dimas. Dari tadi basah kuyup.”
19952Please respect copyright.PENANA9Cwhbv7tqa
Waktu Ibu membungkuk meletakkan nampan, kaos rumahannya longgar ke depan sedikit terbuka. Bra hitam renda tipis membungkus payudara penuhnya. Bentuk bulat sempurna, berat, puting samar tercetak karena dingin—cokelat muda, lingkaran areola kecil rapi.
19952Please respect copyright.PENANAjmNOCSfDLb
Dimas ngeliat ke situ. Cuma sepersekian detik. Matanya melebar, lalu cepat balik ke TV.
19952Please respect copyright.PENANAanNgXox7QP
“Makasih, Tante. Wanginya enak banget pisang gorengnya.”
19952Please respect copyright.PENANAjfHJkGZ8b6
Ibu tersenyum. Senyum lembut, mata sipit di ujung, gigi depan rapi, bibir tebal alami merah muda tua.
19952Please respect copyright.PENANAadAA5LaZyq
“Masih hangat. Makan selagi panas ya.”
19952Please respect copyright.PENANAu56iuE7Gmt
Dia duduk di sofa sebelah Dimas—jarak cuma satu bantal. Lutut Ibu hampir nyentuh paha Dimas yang terbuka karena celana pendek naik.
19952Please respect copyright.PENANAnMKjNHEHgu
Aku duduk di kursi single sebelah, buka HP, scroll Instagram sambil sesekali lirik.
19952Please respect copyright.PENANAL7z9K8KNNT
“Eh, tadi Tante cerita, dulu pas SMA Tante suka banget nonton konser band indie ya?” tanya Dimas.
19952Please respect copyright.PENANA3B3GGZ3GYh
Ibu ketawa kecil.
19952Please respect copyright.PENANA6KbFAVqKi6
“Iya, band favorit Tante Superman Is Dead. Tante sering bolos les buat nonton mereka di kota.”
19952Please respect copyright.PENANAsSGnQIVweR
“Serius, Tante? Gue kira Tante tipe pendiam, nurut aturan.”
19952Please respect copyright.PENANArnN8aNXruw
“Ya dulu nakal juga,” jawab Ibu sambil nyengir. “Tapi cuma sama temen deket yang tahu.”
19952Please respect copyright.PENANAsTS20D3Ti5
Dimas nyengir lebar. “Berarti sekarang Tante udah nggak nakal lagi dong?”
19952Please respect copyright.PENANApiVxCFfTyZ
Ibu memandang Dimas lama. Tatapan dari samping, bibir melengkung tipis.
19952Please respect copyright.PENANA7r7nyWdf30
“Siapa bilang?”
19952Please respect copyright.PENANAgrcjQqJELe
Satu kalimat itu kayak petir kecil nyambar ruangan.
19952Please respect copyright.PENANAJ4emB64bFX
Aku batuk kecil, pura-pura minum air.
19952Please respect copyright.PENANAOU7ZxxHIk9
“Eh, Arga mau ganti baju dulu. Basah nih.”
19952Please respect copyright.PENANAmyjU3JWEhq
Ibu menoleh. “Iya, cepet ganti. Nanti masuk angin.”
19952Please respect copyright.PENANABxKF0EUP5N
Aku naik ke lantai atas, masuk kamar, tutup pintu. Tapi aku nggak ganti baju langsung. Aku berdiri di belakang pintu, telinga menempel ke celah. Pengen tahu apa yang mereka omongin pas aku nggak ada.
19952Please respect copyright.PENANA7Q5bL5O7cr
Suara Dimas pelan.
19952Please respect copyright.PENANASKuViOXFHl
“Tante… serius tadi?”
19952Please respect copyright.PENANAkFV1ACQBes
Suara Ibu lebih pelan, hampir bisik.
19952Please respect copyright.PENANATXbtAif3oQ
“Serius apa?”
19952Please respect copyright.PENANAJnLILnOkfd
“Bahwa Tante… masih nakal.”
19952Please respect copyright.PENANAQwXt6fKAA6
Jeda panjang.
19952Please respect copyright.PENANAyvmKCfstt4
Lalu suara Ibu.
19952Please respect copyright.PENANA5nVTCfv4r2
“Mungkin ada. Tapi… nggak semua sisi itu boleh keluar, Mas.”
19952Please respect copyright.PENANAw1inH0lkPo
“Kenapa nggak boleh?”
19952Please respect copyright.PENANAmuKgqhoyNQ
“Karena… nanti orang-orang terluka.”
19952Please respect copyright.PENANA7jk2a2xyTC
Aku tahu “orang-orang” itu termasuk aku. Tapi bukannya marah, aku malah ngerasa panas aneh naik dari perut ke leher.
19952Please respect copyright.PENANA4egUkgpRz0
Aku akhirnya ganti baju. Turun lagi.
19952Please respect copyright.PENANAKESUcaKkDr
Mereka sudah nggak di sofa. TV nyala kecil. Suara dari dapur.
19952Please respect copyright.PENANAy2xqV9RmxO
Ibu lagi cuci piring. Dimas bantuin nyeka piring pake lap.
19952Please respect copyright.PENANAcBsF8JEyOR
Mereka berdiri dekat banget. Punggung Ibu melengkung lembut waktu membungkuk bilas piring. Bokongnya bulat penuh di balik legging hitam tipis, garis celah terlihat jelas. Dimas ngeliat ke bawah. Sebentar. Tapi aku tahu.
19952Please respect copyright.PENANAKI5Gjjw2Jn
“Udah malem nih,” kataku tiba-tiba.
19952Please respect copyright.PENANAn491COVg7f
Dimas menoleh. “Oh iya, bro. Gue balik dulu ya.”
19952Please respect copyright.PENANAujSWTz9ohc
Ibu menoleh. Pipinya agak merah.
19952Please respect copyright.PENANAjdkJ4iz2pd
“Mas Dimas hati-hati ya di jalan. Hujan masih deres.”
19952Please respect copyright.PENANAaP9twq3t8j
Dimas nyengir. “Makasih, Tante. Besok aku boleh mampir lagi nggak? Pengen makan soto Tante lagi.”
19952Please respect copyright.PENANA18F7i4O8w9
Ibu tersenyum tipis. “Boleh. Pintu rumah ini selalu terbuka buat kamu.”
19952Please respect copyright.PENANAzVO1zGMvrN
Kata-kata itu polos. Tapi nada di belakangnya… nggak polos.
19952Please respect copyright.PENANAbgqOgm14lC
Dimas pamit. Aku antar sampai pagar. Motornya hidup, menjauh.
19952Please respect copyright.PENANA7sFmXDDoeo
Pas balik masuk, Ibu sudah naik ke atas. Lampu dapur mati. Tinggal lampu teras sama lampu kamar Ibu menyala samar.
19952Please respect copyright.PENANAw82sbs8Mb8
Aku berdiri di tangga bawah, ngeliat ke atas.
19952Please respect copyright.PENANAt1Hp8PAlhc
Pintu kamar Ibu setengah terbuka. Suara air mengalir—dia lagi mandi.
19952Please respect copyright.PENANA4xH70l9YWM
Aku naik pelan. Bukan ngintip. Cuma pengen tahu.
19952Please respect copyright.PENANAhr2gZb5FTR
Suara air berhenti. Lalu Ibu nyanyi kecil. Lagu lama, “Cinta Dalam Hati” versi Ungu.
19952Please respect copyright.PENANAQ9DtTVvQgg
“Aku tak bisa menahan… perasaan ini…”
19952Please respect copyright.PENANAmjIwoqUzvk
Suara bergetar. Bukan dingin. Tapi karena sesuatu yang lain.
19952Please respect copyright.PENANAeXtfDyn8mr
Aku balik ke kamar. HP bergetar. WA dari Dimas.
19952Please respect copyright.PENANAoZkQO7PzEg
Dimas:
“Bro, makasih ya hari ini. Tante baik banget.”
19952Please respect copyright.PENANAVsHbDPLgyt
Aku:
“Iya. Lo emang sering banget ke sini akhir-akhir ini.”
19952Please respect copyright.PENANAq2cKbAWz9W
Dimas:
“Emang kangen sih. Kangen masakan Tante. Kangen ngobrol sama Tante.”
19952Please respect copyright.PENANAEn5USXQ8Yv
Aku nggak bales lagi.
19952Please respect copyright.PENANAbqZ8ldvstO
Malam itu aku berbaring di kasur, mata nggak bisa merem.
19952Please respect copyright.PENANAwNz6x54AB4
Di kepalaku muter terus: tatapan Dimas ke bra Ibu, bokong Ibu waktu membungkuk, senyum Ibu yang beda.
19952Please respect copyright.PENANAawhiA06MSu
Dan suara nyanyian Ibu tadi.
19952Please respect copyright.PENANAqOLcci2V5o
“Aku tak bisa menahan… perasaan ini…”
19952Please respect copyright.PENANAtNKwHqTeNn
Pagi berikutnya aku bangun dengan kepala berat, seperti ada kabut tipis yang nggak mau hilang dari pikiran. Jam di HP menunjukkan pukul 07:18. Sabtu, nggak ada kuliah. Badan terasa lengket meski AC nyala semalaman. Aku turun ke bawah masih pakai kaos oblong sama boxer tidur, bau kopi hitam sudah tercium dari dapur.
19952Please respect copyright.PENANA6SvKlT4bvJ
Ibu lagi berdiri di depan kompor, punggung menghadap pintu. Dia pakai daster tipis warna biru muda yang bahan katunnya agak tembus pandang kalau kena sinar matahari pagi dari jendela belakang. Rambut masih basah setelah mandi, diikat handuk kecil di atas kepala. Lehernya putih mulus, ada setetes air mandi yang mengalir pelan dari tengkuk ke tulang selangka, lalu hilang di balik kerah daster yang agak rendah.
19952Please respect copyright.PENANA8QHVFaHshR
“Pagi, Arga,” katanya tanpa menoleh. Suaranya lembut seperti biasa, tapi ada nada hangat yang beda hari ini.
19952Please respect copyright.PENANAUsXY2dM1lT
“Pagi, Bu. Mau sarapan apa?”
19952Please respect copyright.PENANApzGMH2RVD0
Ibu menoleh. Senyumnya pagi ini terasa lebih… dalam. Pipinya agak merona, mungkin karena uap panci atau karena sesuatu yang lain.
19952Please respect copyright.PENANABmMdW3fZIi
“Wah, anak ibu lagi mager nih. Nanti ibu bikin telur dadar keju sama roti bakar aja ya. Kopi mau?”
19952Please respect copyright.PENANAHuvrmdzFhY
“Iya, Bu. Hitam, nggak pake gula.”
19952Please respect copyright.PENANAJgMKi0DDst
Dia balik lagi ke kompor. Aku perhatiin gerakannya. Cara dia mengaduk telur di wajan, lengan naik-turun pelan, membuat daster bergoyang di bagian dada. Payudaranya bergerak lembut mengikuti irama—tanpa bra pagi ini, putingnya samar tercetak di kain tipis, dua titik kecil yang mengeras karena udara pagi dingin. Bentuknya bulat sempurna, berat tapi kencang, ukuran yang selalu bikin orang salah sangka Ibu masih muda.
19952Please respect copyright.PENANALTXnX839MI
Aku duduk di kursi makan, tarik napas dalam. Pikiranku balik ke malam tadi. Tatapan Dimas ke bra Ibu. Bokong Ibu waktu membungkuk di dapur. Senyum Ibu yang beda. Pesan Dimas yang nggak aku bales.
19952Please respect copyright.PENANAxtjt92gUYk
Tiba-tiba HP bergetar di meja. Notif WA.
19952Please respect copyright.PENANAZ22rRzhj50
Dimas:
“Pagi bro. Tante udah bangun belum? Gue mau mampir bentar, bawa oleh-oleh klepon sama getuk dari warung Bu RT.”
19952Please respect copyright.PENANAsuNASIMPAV
Aku baca dua kali. Jantung mulai berdegup agak kencang lagi.
19952Please respect copyright.PENANAjf0l790Y8G
Aku bales singkat.
19952Please respect copyright.PENANA09Bj708Krj
Arga:
“Udah. Lagi masak sarapan. Mampir aja.”
19952Please respect copyright.PENANAMGALRZDHj5
Dimas langsung balas.
19952Please respect copyright.PENANAhwYv1mKaox
Dimas:
“Oke. 15 menit gue sampe.”
19952Please respect copyright.PENANANgY1dfsGie
Aku taruh HP. Ibu lagi nyusun piring.
19952Please respect copyright.PENANAExcWoUlURl
“Ada Dimas mau mampir, Bu. Bawa makanan.”
19952Please respect copyright.PENANAZxZzNgu0EO
Ibu berhenti sejenak. Sendok kayu di tangannya diam di udara.
19952Please respect copyright.PENANA7VAQAMOSqU
“Oh… iya? Cepet banget dia datang lagi.”
19952Please respect copyright.PENANAS9KSlWYpsy
Nada suaranya nggak marah. Malah ada sedikit… senang yang tersembunyi.
19952Please respect copyright.PENANAHfUj6tz6MI
“Emangnya kenapa, Bu? Biasa kan dia sering ke sini.”
19952Please respect copyright.PENANAf1I7ArtvUI
Ibu tersenyum kecil, balik fokus ke wajan.
19952Please respect copyright.PENANAVeDIH1MIyI
“Iya sih. Cuma… ibu seneng aja. Rumah jadi rame.”
19952Please respect copyright.PENANAbGHwXcPBLY
Dia meletakkan piring di depanku. Waktu membungkuk, kerah daster terbuka sedikit lebih lebar. Aku lihat lekuk payudaranya dari atas—putih lembut, garis vena biru samar di samping, puting cokelat muda menonjol karena dingin.
19952Please respect copyright.PENANAYYkh0fUPw6
Aku cepat-cepat ambil sendok, pura-pura fokus makan.
19952Please respect copyright.PENANAzGaKxpfYTo
Ibu duduk di seberangku. Kakinya di bawah meja hampir nyentuh kakiku. Dia nggak sadar, atau pura-pura nggak sadar.
19952Please respect copyright.PENANANVFEKaeJtU
“Kamu kok diem aja dari tadi?” tanyanya sambil mengoles selai kacang di roti.
19952Please respect copyright.PENANArvH99E7TUI
“Nggak apa-apa, Bu. Masih ngantuk.”
19952Please respect copyright.PENANA2J08ceoBsQ
Dia memandangku lama. Mata cokelat tua, bulu mata panjang alami.
19952Please respect copyright.PENANAYyI5PmRGdC
“Kalau ada apa-apa bilang ya sama ibu. Jangan dipendem sendiri.”
19952Please respect copyright.PENANABCr03sTz4c
Aku mengangguk. Dalam hati pengen bilang:
“Bu, aku tahu ada sesuatu antara Ibu sama Dimas. Dan aku… entah kenapa nggak bisa marah. Malah pengen lihat lebih jauh.”
19952Please respect copyright.PENANAcdKliRPi7p
Tapi tentu saja aku nggak bilang. Aku cuma senyum tipis.
19952Please respect copyright.PENANAkttVxiHdbZ
“Iya, Bu.”
19952Please respect copyright.PENANA3IKSjN6oyW
Sepuluh menit kemudian bel rumah berbunyi. Ibu bangun duluan.
19952Please respect copyright.PENANAfwPvmiUdfc
“Aku buka pintu ya.”
19952Please respect copyright.PENANAAXbUl3hel3
Dia jalan ke pintu depan. Daster biru mudanya bergoyang pelan mengikuti langkah. Bokongnya membulat lembut di balik kain tipis itu.
19952Please respect copyright.PENANAr9sJuyB1rR
Aku ikut berdiri, ngintip dari sudut dapur.
19952Please respect copyright.PENANAvIupVKVOmX
Dimas masuk sambil bawa dua kantong kresek.
19952Please respect copyright.PENANAF7NixSCXbf
“Pagi Tante! Ini oleh-oleh dari Bu RT. Klepon sama getuk lindri masih hangat.”
19952Please respect copyright.PENANAN9DXgRKV79
Ibu tersenyum lebar. Pipinya langsung merona lagi.
19952Please respect copyright.PENANAEiNHKLXdJG
“Wah, makasih banyak, Mas. Masuk dulu, sarapan bareng.”
19952Please respect copyright.PENANAqMd6h6cz3S
Dimas melirik ke arahku.
19952Please respect copyright.PENANAIOXF9GrV0t
“Eh bro, lo udah sarapan?”
19952Please respect copyright.PENANAbUYy3LzC0i
“Baru mulai,” jawabku datar.
19952Please respect copyright.PENANA4DVMsC0ygW
Dia masuk, taruh kantong di meja, lalu duduk di sebelah Ibu. Bukan di seberang. Di sebelah.
19952Please respect copyright.PENANAs7hNaGXbBg
Ibu ambil piring tambahan, nyuapin klepon ke piring kecil.
19952Please respect copyright.PENANAENuvvhuYE5
“Ini masih hangat. Cobain dulu.”
19952Please respect copyright.PENANAMIhL0Ira5z
Dimas ambil satu, masukin ke mulut. Matanya melebar.
19952Please respect copyright.PENANAmtDJa87UrW
“Enak banget! Tante harus belajar bikin klepon dari Bu RT nih.”
19952Please respect copyright.PENANApJO4QZNJYo
Ibu ketawa kecil.
19952Please respect copyright.PENANAM3V3WRYWTZ
“Ibu bisa kok. Cuma males aja ngulek kelapa parutnya.”
19952Please respect copyright.PENANAuRn20UFylp
Mereka ngobrol ringan. Cuaca, harga beras, tetangga baru beli mobil. Tapi aku notice sesuatu.
19952Please respect copyright.PENANAE2aHWDvet2
Cara Dimas ngeliat Ibu. Matanya sering turun ke leher, ke dada, ke tangan Ibu waktu narik rambut jatuh ke depan. Dan Ibu… nggak menutup kerah daster. Malah kadang membungkuk sedikit waktu ngambil sesuatu dari meja, membuat lekuk payudaranya terlihat lebih jelas.
19952Please respect copyright.PENANApWKdw3XWnG
Aku ngerasa panas di telinga. Bukan cemburu biasa. Lebih ke campuran aneh antara malu, penasaran, dan sesuatu yang bikin perut bergetar.
19952Please respect copyright.PENANAMfHggJodAm
Setelah sarapan, Dimas bilang mau bantuin cuci piring. Ibu awalnya nolak, tapi Dimas ngotot.
19952Please respect copyright.PENANAvLiDhmaZjE
“Ya udah, bantuin aja. Biar cepet.”
19952Please respect copyright.PENANAc2ciKxmczH
Mereka berdua di depan wastafel. Aku duduk di meja makan, pura-pura scroll TikTok, tapi mata nggak lepas.
19952Please respect copyright.PENANARQSNOvhZyu
Dimas berdiri di sebelah kiri Ibu. Bahunya nyaris nyentuh bahu Ibu. Waktu Ibu nyodorkan piring basah, tangan mereka bersentuhan. Lama. Jari Dimas melingkar sebentar di pergelangan tangan Ibu sebelum ambil piring.
19952Please respect copyright.PENANAchRZxNbf0W
Ibu nggak narik tangan. Dia cuma menoleh sedikit, senyum tipis.
19952Please respect copyright.PENANAYRKnRL8s7L
“Mas Dimas… hati-hati, licin.”
19952Please respect copyright.PENANAM77iXyzi5f
Dimas nyengir.
19952Please respect copyright.PENANAj3m0jqCYPL
“Iya Tante. Tapi tangan Tante lembut banget, nggak licin kok.”
19952Please respect copyright.PENANAj8IlsyS0im
Ibu ketawa pelan. Pipinya merah lagi.
19952Please respect copyright.PENANADpcNyHTz14
Aku bangun tiba-tiba.
19952Please respect copyright.PENANAJJyF70gZwH
“Gue ke kamar dulu ya. Mau tiduran bentar.”
19952Please respect copyright.PENANA7yv6y3aVrl
Ibu menoleh.
19952Please respect copyright.PENANAY6MT68TDAn
“Jangan lama-lama, nanti masuk angin.”
19952Please respect copyright.PENANAcuCAczVPFb
Dimas cuma nyengir ke arahku.
19952Please respect copyright.PENANApZIlxpSY1W
“Tidur aja bro. Santai.”
19952Please respect copyright.PENANAY5ScFsX9XQ
Aku naik ke atas. Tapi nggak masuk kamar. Aku berdiri di tangga atas, ngintip dari celah pagar anak tangga.
19952Please respect copyright.PENANAl8EIsQFiPT
Mereka masih di dapur. Sekarang Ibu lagi nyeka meja. Dimas berdiri di belakangnya, pura-pura bantu angkat piring kering ke rak.
19952Please respect copyright.PENANAgLgiH8I6pZ
Tapi aku lihat. Tangan Dimas menyentuh pinggang Ibu. Cuma sebentar. Kayak nggak sengaja. Tapi Ibu nggak menghindar. Malah badannya agak mundur sedikit, punggungnya hampir nyentuh dada Dimas.
19952Please respect copyright.PENANAdhoY4Ird50
Mereka diam beberapa detik.
19952Please respect copyright.PENANAz3sVjOJbHy
Lalu Ibu berbalik pelan. Mereka saling berhadapan. Jarak cuma beberapa senti.
19952Please respect copyright.PENANA6EM0Bzd9Cb
“Mas Dimas…” suara Ibu pelan banget. “Kamu… kenapa sih akhir-akhir ini sering banget ke sini?”
19952Please respect copyright.PENANAAgPeRQSHsG
Dimas nggak langsung jawab. Matanya turun ke bibir Ibu, lalu naik lagi ke mata.
19952Please respect copyright.PENANAHXE4FCnUZV
“Karena aku suka ngeliat Tante senyum. Aku suka denger Tante cerita. Aku suka… deket sama Tante.”
19952Please respect copyright.PENANAk7cMG54TG0
Ibu menelan ludah. Dadanya naik-turun lebih cepat.
19952Please respect copyright.PENANAYwo1DBB312
“Itu… nggak boleh, Mas. Kamu tahu kan.”
19952Please respect copyright.PENANA2FEz6uhnqn
Dimas maju setengah langkah. Dada mereka hampir bersentuhan.
19952Please respect copyright.PENANADdAf4h7JV5
“Aku tahu. Tapi aku nggak bisa bohong sama perasaan sendiri, Tante.”
19952Please respect copyright.PENANAHn1M8GrlpI
Ibu memandang Dimas lama. Matanya berkaca-kaca. Bukan sedih. Lebih ke campuran takut dan rindu.
19952Please respect copyright.PENANADASkk5AJgA
“Kalau Arga tahu…”
19952Please respect copyright.PENANAazlz2Tye1Y
Dimas menggeleng pelan.
19952Please respect copyright.PENANAnc7xBjJOZy
“Dia nggak akan tahu. Kita… bisa jaga.”
19952Please respect copyright.PENANABHKBqZVHNS
Ibu menunduk. Rambut setengah basah jatuh menutupi sebagian wajah.
19952Please respect copyright.PENANAxGWDdgJHRi
“Mas Dimas… aku ibunya temenmu.”
19952Please respect copyright.PENANAo2sSn9YVS7
Dimas angkat tangan kanannya pelan, menyentuh dagu Ibu, mengangkat wajahnya supaya saling tatap lagi.
19952Please respect copyright.PENANAXMHEKF1Hnd
“Justru karena itu… aku nggak bisa berhenti mikirin Tante.”
19952Please respect copyright.PENANAoLognyh4lt
Mereka diam lagi. Lama.
19952Please respect copyright.PENANA9GenSOnTeC
Aku ngerasa jantung mau copot. Aku pengen teriak. Aku pengen turun dan nendang Dimas keluar. Tapi kakiku nggak gerak. Malah… aku ngerasa ada sesuatu yang keras di boxerku. Aku malu sendiri.
19952Please respect copyright.PENANAlFB9va7iCO
Akhirnya Ibu mundur satu langkah. Suaranya bergetar.
19952Please respect copyright.PENANAUALuWxqCYh
“Mas Dimas… pulang dulu ya hari ini. Ibu… butuh mikir.”
19952Please respect copyright.PENANAjI6t7D3V6W
Dimas mengangguk pelan. Matanya masih nggak lepas dari wajah Ibu.
19952Please respect copyright.PENANA4XZbzuLn05
“Iya, Tante. Aku nggak mau maksa. Tapi… aku bakal balik lagi. Besok. Lusa. Sampai Tante bilang berhenti.”
19952Please respect copyright.PENANAZLZy8byl7E
Ibu cuma mengangguk kecil. Nggak bilang apa-apa lagi.
19952Please respect copyright.PENANA4wsnfCcqhI
Dimas pamit. Aku buru-buru masuk kamar sebelum dia naik tangga. Aku dengar pintu depan ditutup. Motor Dimas hidup, lalu menjauh.
19952Please respect copyright.PENANAAIxVfqZow5
Beberapa menit kemudian aku dengar langkah Ibu naik tangga. Pelan. Berat.
19952Please respect copyright.PENANA6qWt3oOAdU
Dia berhenti di depan pintu kamarku. Ketuk pelan.
19952Please respect copyright.PENANAIwSiYwdpD9
“Arga… ibu masuk ya?”
19952Please respect copyright.PENANARSl0Qf9tuK
Aku buka pintu. Ibu berdiri di sana, matanya merah. Tapi nggak nangis.
19952Please respect copyright.PENANAFuiEkTGzJB
“Ibu cuma mau bilang… ibu sayang kamu. Selalu.”
19952Please respect copyright.PENANAs4ZmMDblDn
Aku mengangguk. Tenggorokanku kering.
19952Please respect copyright.PENANAjM0FWSg1ln
“Iya, Bu. Aku tahu.”
19952Please respect copyright.PENANAhHAGo83n9W
Dia tersenyum tipis. Lalu masuk ke kamarnya sendiri. Pintu ditutup pelan.
19952Please respect copyright.PENANAP5c1JsPHhx
Malam itu aku nggak bisa tidur lagi.
19952Please respect copyright.PENANACMKTgwGAx9
Aku tahu garis itu sudah mulai kabur.
19952Please respect copyright.PENANAGYETuWBSfn
Dan aku, Arga… entah kenapa… malah pengen lihat seberapa jauh garis itu bisa hilang.
19952Please respect copyright.PENANAuGbOEY9lGx
Malam itu hujan lagi. Bukan deras seperti kemarin, tapi gerimis halus yang bikin jendela kamar berembun tipis. Aku, Arga, duduk di kasur, punggung bersandar ke headboard, HP di tangan tapi layarnya gelap. Jam sudah lewat tengah malam, pukul 00:47. Rumah sepi. Ayah nggak pulang akhir pekan ini—katanya ada meeting mendadak di Surabaya. Jadi cuma ada aku sama Ibu di rumah besar ini.
19952Please respect copyright.PENANAk27EkMefba
Aku nggak bisa tidur. Pikiranku muter terus ke adegan pagi tadi di dapur. Sentuhan tangan Dimas di pinggang Ibu. Cara Ibu nggak langsung menjauh. Cara matanya berkaca-kaca pas bilang “aku ibunya temenmu”. Dan cara Dimas jawab, “justru karena itu… aku nggak bisa berhenti mikirin Tante.”
19952Please respect copyright.PENANAkMFMPS3U5z
Aku tarik napas panjang. Dada terasa sesak. Tapi anehnya, bukan sesak marah. Lebih ke… gelisah yang panas. Yang bikin tangan dingin tapi telapak tangan berkeringat.
19952Please respect copyright.PENANAVAPWbaNhFD
HP bergetar pelan di kasur. Notif WA.
19952Please respect copyright.PENANARcaRPVpWyr
Dimas.
19952Please respect copyright.PENANAQcsWI6ReKW
Arga:
“Bro… lo udah tidur?”
19952Please respect copyright.PENANANsuAPIGts1
Aku liat status online-nya. Dia masih aktif. Jari aku ragu-ragu di atas keyboard.
19952Please respect copyright.PENANAywQ5XgBkfm
Arga:
“Belum. Lo kenapa?”
19952Please respect copyright.PENANA4zkGXwmEuz
Dimas:
“Nggak bisa tidur. Mikirin tadi pagi.”
19952Please respect copyright.PENANAacZjcIcWxR
Jantungku langsung lompat. Aku tahu apa yang dia maksud.
19952Please respect copyright.PENANAYXrHRbN9Cf
Arga:
“Mikirin apa?”
19952Please respect copyright.PENANA2t07x7kufJ
Dimas typing lama. Titik-titiknya muncul hilang muncul lagi.
19952Please respect copyright.PENANAdaip34w5ZX
Dimas:
“Tante.
Aku tahu aku salah. Tapi aku beneran nggak bisa bohong lagi. Setiap kali ke rumah lo, aku cuma pengen ngeliat Tante. Denger suaranya. Liat senyumnya.
Dan tadi… waktu tangan kita nyentuh… rasanya listrik gitu, bro.”
19952Please respect copyright.PENANA3BegsncOZ1
Aku baca pesan itu berkali-kali. Dada panas. Aku nggak bales langsung. Malah aku buka chat Ibu. Dia online juga. Pukul 00:52.
19952Please respect copyright.PENANAXJhGS4dEQh
Aku nggak tahu kenapa, tapi aku ngetik pesan ke Ibu.
19952Please respect copyright.PENANABzp9nHXV46
Arga:
“Bu… masih bangun?”
19952Please respect copyright.PENANAFDnWoumn7B
Pesan terkirim. Dia langsung read.
19952Please respect copyright.PENANAnxcIgM8Cww
Ibu:
“Iya Arga. Ibu lagi di kamar. Kamu kenapa belum tidur?”
19952Please respect copyright.PENANAcbBqizXbcb
Arga:
“Nggak bisa tidur aja. Mikirin banyak hal.”
19952Please respect copyright.PENANAKlwgOtJitB
Ibu:
“Apa yang dipikirin?”
19952Please respect copyright.PENANAWEgot7jIbU
Aku ragu. Jari gemetar sedikit.
19952Please respect copyright.PENANApwEgeuLQxr
Arga:
“Bu… kalau misalnya ada orang yang suka sama Ibu… Ibu bakal gimana?”
19952Please respect copyright.PENANACYr0Mg2mcM
Jeda panjang. Dia nggak langsung bales. Aku bisa bayangin dia lagi duduk di ranjang, mungkin pakai daster tipis lagi, rambut terurai, matanya menatap layar HP dengan ekspresi bingung.
19952Please respect copyright.PENANA2UV4dI7kns
Akhirnya balesannya masuk.
19952Please respect copyright.PENANA5Djb7s5bYj
Ibu:
“Kenapa tiba-tiba nanya gitu, Arga?”
19952Please respect copyright.PENANAq8gyV08cOE
Arga:
“Cuma penasaran aja.”
19952Please respect copyright.PENANA7QYRKJVVd4
Ibu:
“…Ibu nggak tahu. Ibu udah lama nggak mikirin hal-hal kayak gitu.
Tapi kalau orang itu… bikin Ibu merasa dilihat lagi, merasa diinginkan lagi… mungkin Ibu bakal takut. Takut salah langkah. Takut nyakitin orang lain.”
19952Please respect copyright.PENANAAvPOkE38Z6
Aku baca pesan itu. Tenggorokanku kering.
19952Please respect copyright.PENANAVGLgU5TyRI
Arga:
“Termasuk nyakitin aku?”
19952Please respect copyright.PENANAvl8c7Y2TGb
Ibu:
“Terutama kamu.”
19952Please respect copyright.PENANAD7XvH4JwvZ
Aku taruh HP di dada. Mata terpejam. Aku ngerasa ada sesuatu yang retak di dalam diri aku. Bukan marah. Lebih ke… rela? Aku nggak ngerti sendiri.
19952Please respect copyright.PENANAAk4FvVpGij
Tiba-tiba HP bergetar lagi. Dimas.
19952Please respect copyright.PENANAD5Gj2Dv1d6
Dimas:
“Bro… lo marah nggak kalau gue bilang gue suka sama ibu lo?”
19952Please respect copyright.PENANAqtzcVbEIFe
Pertanyaan itu kayak tamparan. Tapi anehnya, nggak sakit. Malah bikin aku penasaran lebih dalam.
19952Please respect copyright.PENANA9onOLJ8V0c
Arga:
“Lo beneran suka? Atau cuma nafsu?”
19952Please respect copyright.PENANAcETIwVPJHW
Dimas bales cepet.
19952Please respect copyright.PENANAIn03aF7P5t
Dimas:
“Awalnya mungkin nafsu. Tapi sekarang… lebih dari itu.
Gue suka caranya Tante ketawa kecil pas cerita masa lalu. Gue suka caranya Tante nyanyi pelan waktu nyapu. Gue suka caranya Tante ngeliat gue… kayak gue bukan cuma temen lo, tapi… orang yang dia perhatiin.”
19952Please respect copyright.PENANALk3q8i9WYp
Aku nggak bales lagi. Aku matiin HP, taruh di meja samping. Lalu aku bangun. Kaki telanjang menyentuh lantai dingin. Aku jalan pelan ke pintu kamar, buka sedikit.
19952Please respect copyright.PENANAE9ESflmQkx
Koridor gelap. Cuma lampu tidur di ujung tangga yang nyala kuning redup.
19952Please respect copyright.PENANAhVv1rWsQJu
Aku jalan ke kamar Ibu. Pintunya setengah terbuka, seperti biasa kalau dia lagi sendirian di rumah. Aku berdiri di ambang pintu, nggak masuk.
19952Please respect copyright.PENANAiElIt6q6fc
Ibu duduk di ranjang. Punggungnya menghadap ke pintu. Dia pakai daster sutra tipis warna krem yang jatuh longgar di bahu. Rambut hitamnya tergerai sampai punggung tengah. Dia lagi pegang HP, tapi sekarang dia taruh di pangkuan. Kepalanya menunduk.
19952Please respect copyright.PENANAE9eY0tRhPg
Aku tahu dia nggak tidur. Napasnya terdengar pelan, agak cepat.
19952Please respect copyright.PENANAJfTQhxv7xg
Aku ketuk pintu pelan.
19952Please respect copyright.PENANAb9lfyP2VuP
“Bu…”
19952Please respect copyright.PENANARsinfR0JA6
Ibu menoleh. Matanya melebar sedikit, tapi cepat tenang lagi.
19952Please respect copyright.PENANAm8gXgqh8fQ
“Arga… kenapa belum tidur?”
19952Please respect copyright.PENANAmPhVxy3MV5
Aku masuk pelan, tutup pintu di belakangku. Nggak dikunci.
19952Please respect copyright.PENANAuIif40WKlz
“Aku… pengen ngobrol.”
19952Please respect copyright.PENANAw1Uc5S1CrB
Ibu menggeser badan, memberi ruang di sampingnya. Aku duduk di pinggir ranjang. Jarak kami cuma satu bantal.
19952Please respect copyright.PENANAuay8lQcst6
“Ngobrol apa?” tanyanya lembut.
19952Please respect copyright.PENANAPASuTNM7ai
Aku menatap lantai. “Bu… aku tahu Dimas suka sama Ibu.”
19952Please respect copyright.PENANA5CfxGhBLrD
Ibu diam. Napasnya terhenti sebentar.
19952Please respect copyright.PENANARVvNoLyJlP
“Lalu… kamu gimana?”
19952Please respect copyright.PENANAWZ13pdTQfV
Aku angkat muka, tatap matanya.
19952Please respect copyright.PENANAiuwqiwtUEa
“Aku… nggak marah. Aku cuma… bingung. Kenapa aku nggak marah.”
19952Please respect copyright.PENANAzl2a0GeiUt
Ibu menunduk. Jari-jarinya mainin ujung daster.
19952Please respect copyright.PENANAp86c1Sk7QA
“Mungkin karena kamu tahu Ibu juga… kesepian.”
19952Please respect copyright.PENANArydugK0jWT
Kata itu keluar pelan, hampir bisik. Tapi rasanya kayak bom kecil di dada aku.
19952Please respect copyright.PENANAafhISGWQFd
“Kesepian?”
19952Please respect copyright.PENANAndL6M4VmWb
Ibu mengangguk kecil. “Ayahmu… udah lama nggak pulang. Kalau pulang pun cuma sebentar. Ibu nggak nyalahin dia. Tapi… Ibu manusia biasa, Arga. Ibu juga butuh… perhatian. Sentuhan. Kata-kata manis. Ibu juga pengen merasa… cantik lagi.”
19952Please respect copyright.PENANA89V2wpawdC
Aku ngerasa tenggorokanku kering banget.
19952Please respect copyright.PENANAg7p1fS5ArW
“Dan Dimas… bikin Ibu merasa gitu?”
19952Please respect copyright.PENANAnKu7Z4Q6Ir
Ibu nggak langsung jawab. Dia memandang ke jendela. Gerimis masih turun pelan.
19952Please respect copyright.PENANAsdxYaAjwe2
“Dia… muda. Energik. Dia ngeliat Ibu bukan sebagai ibu rumah tangga yang udah tua. Dia ngeliat Ibu sebagai… wanita.”
19952Please respect copyright.PENANAlUuZAQKxBk
Aku menelan ludah. “Lalu Ibu… suka dia juga?”
19952Please respect copyright.PENANALni286Xko1
Ibu menoleh ke aku. Matanya basah.
19952Please respect copyright.PENANAQp8dwnOlSs
“Ibu takut jawab pertanyaan itu, Arga. Karena kalau Ibu bilang iya… berarti Ibu udah melanggar banyak hal.”
19952Please respect copyright.PENANApkBOSibJKt
Aku maju sedikit. Tangan aku menyentuh punggung tangan Ibu. Dingin.
19952Please respect copyright.PENANAe5XXAQHvTN
“Bu… kalau Ibu mau… aku nggak bakal halangin.”
19952Please respect copyright.PENANAQZBPPDLu3z
Ibu menatapku kaget. “Arga… kamu ngomong apa?”
19952Please respect copyright.PENANAtqhYqVDE8i
“Aku serius. Aku… pengen Ibu bahagia. Meski caranya… aneh. Meski orang bakal bilang salah.”
19952Please respect copyright.PENANAJI9pY8IFLH
Ibu diam lama. Lalu dia mengangguk kecil.
19952Please respect copyright.PENANAO7yNCyGvys
“Baiklah.”
19952Please respect copyright.PENANA8lV7sN251R
Malam itu kami nggak ngomong banyak lagi. Kami cuma duduk berdampingan. Tangan aku masih pegang punggung tangan Ibu. Jari kami saling kait pelan.
19952Please respect copyright.PENANA5geECIcqAs
Sekitar jam satu lewat, HP Ibu bergetar di meja samping.
19952Please respect copyright.PENANAEFt1fwxvvP
Dia melirik. Nama Dimas muncul di layar.
19952Please respect copyright.PENANAgBElgrTVRx
Ibu menatap aku. Seperti minta izin.
19952Please respect copyright.PENANA7a6gl7D7Br
Aku mengangguk kecil.
19952Please respect copyright.PENANAY9eLlobT4F
Ibu ambil HP, buka pesan.
19952Please respect copyright.PENANAVG5OWAkD50
Dimas:
“Tante… aku nggak bisa tidur. Mikirin Tante terus.
Boleh nggak aku telpon sebentar?”
19952Please respect copyright.PENANANMoRTCnRPr
Ibu menatap aku lagi.
19952Please respect copyright.PENANAJBzw8VdiKh
Aku bisik pelan.
19952Please respect copyright.PENANAoXSe96HISh
“Jawab aja, Bu.”
19952Please respect copyright.PENANAwy2UTUY3Z6
Ibu mengetik balasan.
19952Please respect copyright.PENANAr4yUEZEjwt
Ibu:
“Boleh. Tapi pelan-pelan ya. Arga lagi di kamar sebelah.”
19952Please respect copyright.PENANA7IivgCmmVA
Dia tekan tombol panggilan. Speaker off. Dia taruh HP di telinga.
19952Please respect copyright.PENANAy4dBdmrXko
“Halo… Mas Dimas…”
19952Please respect copyright.PENANAUbrlhwHdFe
Suara Dimas terdengar samar dari seberang.
19952Please respect copyright.PENANAusNj89kY04
“Tante… suara Tante lembut banget malam-malam gini.”
19952Please respect copyright.PENANAEUWvuZjvfO
Ibu tersenyum tipis. Pipinya merona.
19952Please respect copyright.PENANATYqeyaHgk5
“Mas Dimas juga belum tidur?”
19952Please respect copyright.PENANAHolKNnkT0u
“Enggak bisa. Kepikiran Tante terus. Tadi pagi… waktu tangan kita nyentuh… Tante ngerasa apa?”
19952Please respect copyright.PENANAMWDBKlEAC9
Ibu menelan ludah. Matanya melirik ke aku.
19952Please respect copyright.PENANAWTXCuhQwfx
“Ibu… ngerasa hangat. Dan takut.”
19952Please respect copyright.PENANA6ZXdDTsCuV
“Takut kenapa?”
19952Please respect copyright.PENANAZ6l2efn0Fk
“Takut… ini salah. Takut Arga tahu. Takut… kita nggak bisa berhenti kalau udah mulai.”
19952Please respect copyright.PENANA3WWnmJNRoi
Dimas diam sebentar.
19952Please respect copyright.PENANA5AtC4q1Elg
“Tante… kalau Tante mau berhenti, bilang sekarang. Aku bakal mundur. Tapi kalau Tante nggak bilang berhenti… aku bakal datang lagi besok. Dan lusa. Sampai Tante bilang iya.”
19952Please respect copyright.PENANAyJInJMWOx2
Ibu menutup mata. Napasnya bergetar.
19952Please respect copyright.PENANAjBVbdxsRpw
“Mas Dimas… Ibu nggak tahu harus bilang apa.”
19952Please respect copyright.PENANAp52BIsAmv0
“Tante nggak perlu bilang apa-apa sekarang. Cukup… jangan tolak aku besok. Biarin aku deket lagi. Biarin aku… sentuh tangan Tante lagi. Pelan-pelan aja.”
19952Please respect copyright.PENANAGH1wy1FXlw
Ibu membuka mata. Tatapannya ke aku penuh pertanyaan.
19952Please respect copyright.PENANAEQ53fCaoMQ
Aku mengangguk lagi. Pelan.
19952Please respect copyright.PENANAMXAA8jcSAx
Ibu berbisik ke HP.
19952Please respect copyright.PENANAZWVf1YeShz
“Besok… datang aja. Siang. Arga ada jadwal kelompok di kampus sampe sore.”
19952Please respect copyright.PENANAsA7K9EUqR7
Dimas terdengar napasnya lega.
19952Please respect copyright.PENANAvAKnnd8ZG4
“Makasih, Tante. Aku janji… aku bakal pelan. Aku nggak mau Tante takut.”
19952Please respect copyright.PENANAhHbnMtOdz7
Ibu tersenyum kecil. “Ibu percaya sama kamu.”
19952Please respect copyright.PENANANDRD5wxJ4D
Mereka ngobrol lagi beberapa menit. Hal-hal kecil. Tentang mimpi Dimas malam tadi yang ada Ibu di dalamnya. Tentang Ibu yang cerita dulu suka makan mie apa pas kuliah. Suara mereka lembut, seperti orang yang sudah lama saling kenal tapi baru mulai saling membuka.
19952Please respect copyright.PENANApoMk2sf8EF
Akhirnya panggilan selesai.
19952Please respect copyright.PENANA9z7WzREotf
Ibu taruh HP. Dia menatap aku lama.
19952Please respect copyright.PENANA9zLorHLJwH
“Arga… kamu beneran oke?”
19952Please respect copyright.PENANA6uhFCYAMd2
Aku tarik napas dalam.
19952Please respect copyright.PENANA537uMz36JS
“Aku oke, Bu. Aku cuma… pengen Ibu bahagia. Dan aku pengen tahu semuanya.”
19952Please respect copyright.PENANAAXtQglJE1S
Ibu maju pelan. Peluk aku dari samping. Kepalanya bersandar di bahuku. Bau sabun mandi malamnya tercium lembut.
19952Please respect copyright.PENANApAh3pJo6JU
“Makasih, Arga. Ibu sayang kamu.”
19952Please respect copyright.PENANAH8QhAx3Oc3
Aku balas pelukannya. Tapi di kepalaku, aku tahu.
19952Please respect copyright.PENANAIg8Yvcn1LH
Besok siang… sesuatu bakal berubah.
19952Please respect copyright.PENANA7NiOK5dadD
Dan aku… bakal ada di sini. Mungkin ngintip. Mungkin denger. Mungkin… ikut merasakan degup jantung yang sama.
19952Please respect copyright.PENANAou9hzx0NxI
Malam itu aku tidur di kamar Ibu. Di ranjang yang sama, tapi pisah bantal. Kami nggak ngapa-ngapain. Cuma tidur berdampingan. Tapi rasanya… lebih intim dari apa pun yang pernah aku rasain sebelumnya.
19952Please respect copyright.PENANAyzyP5qFpRw
Siang itu matahari Kudus terik sekali, tapi di dalam rumah terasa lebih panas—bukan karena suhu, melainkan karena apa yang sudah menggantung di udara sejak pagi. Aku, Arga, berangkat ke kampus jam sepuluh, pura-pura ada kelompok presentasi sampai sore. Padahal presentasinya selesai jam satu siang. Aku sengaja bilang ke Ibu bakal pulang jam enam atau tujuh, biar ada ruang yang cukup.
19952Please respect copyright.PENANA0QV73sy03X
Pas aku keluar pagar, aku sempat nengok ke jendela kamar Ibu. Tirai tipisnya bergoyang pelan, dan aku yakin Ibu lagi ngeliatin aku pergi dari balik kaca. Aku angkat tangan kecil, senyum tipis. Dia balas dengan senyuman yang sama—lembut, tapi ada getar di ujung bibirnya.
19952Please respect copyright.PENANAv8FNUyTxRu
Aku nggak langsung ke kampus. Aku muter ke warung kopi deket kampus, pesen es kopi susu, duduk di pojok sambil buka HP. Pikiranku cuma satu: apa yang bakal terjadi di rumah jam dua atau tiga siang nanti.
19952Please respect copyright.PENANArXgfRm0ug0
Jam 13:42, Dimas kirim pesan ke grup WA kami bertiga.
19952Please respect copyright.PENANAljhMYcPZWr
Dimas:
“Tante, aku otw. Bawa bakso urat kesukaan Tante dari Pak Joko. Masih panas nih.”
19952Please respect copyright.PENANAoaMBnFTSrF
Ibu bales cepet.
19952Please respect copyright.PENANA8miEISDBa9
Ibu:
“Makasih ya Mas. Pintu depan nggak dikunci. Langsung masuk aja.”
19952Please respect copyright.PENANAVbGjidJUVq
Aku baca chat itu dari HP. Jantung mulai berdegup kencang. Aku matiin notif grup, tapi tetep pantengin.
19952Please respect copyright.PENANANqxuGNCzCh
Jam 14:05, Dimas kirim foto ke chat pribadi sama Ibu—aku tahu karena aku sempat liat preview sebelum dia hapus.
19952Please respect copyright.PENANAxGDVnAWqnk
Foto itu cuma tangan Dimas pegang mangkok bakso plastik, tapi di background samar-samar keliatan pintu depan rumah kami yang udah terbuka. Artinya: dia udah sampe.
19952Please respect copyright.PENANA9Axk2TOjSE
Aku tarik napas dalam-dalam. Aku bayangin Ibu lagi berdiri di ruang tamu, mungkin pakai baju rumah yang biasa—kaos longgar sama celana pendek kain atau legging. Rambut diikat ponytail sederhana. Pipi merona meski dia coba sembunyiin.
19952Please respect copyright.PENANAnI0mBCtlzt
Aku mutusin buat pulang pelan-pelan. Nggak langsung masuk rumah. Aku parkir motor di gang belakang, masuk lewat pintu samping yang jarang dipake. Naik ke lantai atas pelan banget, masuk ke kamarku, tutup pintu tapi nggak dikunci. Dari sini aku bisa denger hampir semua suara di bawah—ruang tamu, dapur, bahkan tangga kalau orang naik.
19952Please respect copyright.PENANAWlOxKWMy6t
Aku duduk di lantai, punggung bersandar ke pintu, telinga menempel ke celah bawah. Suara mereka mulai terdengar.
19952Please respect copyright.PENANAINrRkLhBCm
Ibu:
“Wah, masih panas banget ya Mas. Makasih banyak.”
19952Please respect copyright.PENANArFD5dYaywi
Dimas:
“Sama-sama, Tante. Gue sengaja ambil yang baru mateng. Biar Tante bisa makan selagi hangat.”
19952Please respect copyright.PENANAMaAIxrD9Y9
Suara sendok plastik beradu sama mangkok. Mereka lagi makan bareng di meja makan kecil deket dapur.
19952Please respect copyright.PENANAkyBLkO0omo
Ibu:
“Enak banget kuahnya. Pedesnya pas. Mas Dimas tahu banget selera Ibu ya?”
19952Please respect copyright.PENANAq3hO1lXsGz
Dimas ketawa pelan.
“Ya iyalah, Tante. Gue kan sering liat Tante makan. Tiap kali gue mampir, gue perhatiin Tante suka tambah cabe berapa sendok.”
19952Please respect copyright.PENANAxlsZaEbYiM
Ibu ketawa kecil. Suaranya renyah, tapi agak bergetar.
19952Please respect copyright.PENANAiZonoiptZN
“Kok perhatiin banget sih?”
19952Please respect copyright.PENANAmN07iwl752
Dimas:
“Karena… gue suka ngeliat Tante. Semuanya. Cara Tante nyendok, cara Tante tiup kuah supaya nggak kepanasan, cara Tante senyum pas rasanya pas di lidah.”
19952Please respect copyright.PENANAOE0m1A5qcF
Jeda. Sendok berhenti bergerak.
19952Please respect copyright.PENANATioMO7fBcs
Ibu:
“Mas Dimas… jangan gitu. Nanti… Arga pulang tiba-tiba.”
19952Please respect copyright.PENANAjq6jBTn3IR
Dimas:
“Tante bilang sendiri tadi pagi dia pulang sore. Kita punya waktu.”
19952Please respect copyright.PENANA2zFaT2y5P5
Ibu diam. Aku bisa bayangin dia lagi nunduk, mainin sendok di mangkok.
19952Please respect copyright.PENANAxNi9PxgLZz
Dimas:
“Tante… liat gue dong.”
19952Please respect copyright.PENANAF8xBj4f6tO
Suara kursi bergeser pelan. Dimas pindah duduk lebih deket ke Ibu. Lutut mereka nyentuh di bawah meja.
19952Please respect copyright.PENANALhESe9uUgb
Dimas:
“Tante cantik banget hari ini. Kaos putihnya… cocok banget sama kulit Tante.”
19952Please respect copyright.PENANAqGoJ1MoQzt
Ibu:
“Ini kaos biasa aja, Mas. Udah lama.”
19952Please respect copyright.PENANAtomb5HgbSz
Dimas:
“Tapi pas dipake Tante… beda. Semuanya jadi keliatan… lembut. Hangat.”
19952Please respect copyright.PENANARdmzC3oybh
Aku ngerasa napas aku sendiri jadi pendek. Aku bayangin Ibu pakai kaos putih longgar yang agak tipis, tanpa bra lagi mungkin—putingnya samar tercetak kalau kena cahaya. Celana pendek kain abu-abu yang biasa dia pakai di rumah, memperlihatkan paha mulus putihnya yang nggak pernah kena matahari.
19952Please respect copyright.PENANAPDf3lrbT92
Dimas:
“Boleh nggak… gue pegang tangan Tante sebentar?”
19952Please respect copyright.PENANA8vIES6s7z6
Ibu nggak langsung jawab. Aku denger napasnya agak cepat.
19952Please respect copyright.PENANAk7NOq7dYFB
Ibu:
“Mas… ini… kita nggak boleh.”
19952Please respect copyright.PENANAiRjxySn9rG
Dimas:
“Cuma tangan. Gue janji nggak lebih. Gue cuma pengen ngerasain… hangatnya Tante.”
19952Please respect copyright.PENANA156gkl74lm
Jeda panjang.
19952Please respect copyright.PENANAdPMVVaXs1J
Lalu suara pelan—jari-jari yang saling bertemu.
19952Please respect copyright.PENANAOlCFqkxPbd
Dimas:
“Tangan Tante dingin. Gue hangatin ya.”
19952Please respect copyright.PENANAV4JZ1pUcsT
Ibu:
“Mas Dimas…”
19952Please respect copyright.PENANAgc7cKyLOgB
Suara itu hampir bisik. Bukan nolak. Lebih ke… menyerah pelan.
19952Please respect copyright.PENANA3qkfcTQWeT
Mereka diam beberapa menit. Cuma denger suara napas. Kadang suara jempol Dimas mengusap punggung tangan Ibu pelan-pelan, melingkar di tulang pergelangan.
19952Please respect copyright.PENANAujJpv1QFAV
Dimas:
“Tante tahu nggak… setiap kali gue pulang dari sini, gue nggak bisa tidur. Mikirin tangan ini. Mikirin senyum Tante. Mikirin… bau sabun mandi Tante yang masih nempel di baju gue pas gue peluk Tante kemarin pas pamitan.”
19952Please respect copyright.PENANAsASxuUJKOH
Ibu:
“Kemarin itu… cuma pelukan biasa.”
19952Please respect copyright.PENANAIURcL2i6St
Dimas:
“Bagi Tante mungkin biasa. Bagi gue… itu yang pertama kali gue ngerasa Tante balas peluk gue lebih erat dari biasanya.”
19952Please respect copyright.PENANAKiQMtXkSM8
Ibu diam lagi.
19952Please respect copyright.PENANAVlUTzqhSke
Dimas:
“Tante… boleh gue peluk lagi? Sekarang. Di sini. Cuma peluk. Gue janji nggak lebih.”
19952Please respect copyright.PENANAxAu9NpnqS3
Aku ngerasa dada sesak. Napas aku hampir berhenti.
19952Please respect copyright.PENANAK0zUpa1V9n
Ibu:
“Mas… kalau Arga tahu…”
19952Please respect copyright.PENANA55BwSBsetd
Dimas:
“Dia nggak bakal tahu. Dan… kemarin malam Tante bilang ke gue lewat chat… kalau Arga udah tahu. Dan dia… nggak marah.”
19952Please respect copyright.PENANA6aPfEVp7tG
Ibu terdengar menarik napas tajam.
19952Please respect copyright.PENANAWxzTk90iqO
Ibu:
“Kamu… tahu dari mana?”
19952Please respect copyright.PENANAfOo10pX3xv
Dimas:
“Tante sendiri yang cerita tadi pagi pas chat. Bahwa Arga bilang… boleh. Bahwa Arga pengen Tante bahagia.”
19952Please respect copyright.PENANADtCOPgutmr
Ibu:
“Aku… nggak nyangka dia bakal bilang gitu.”
19952Please respect copyright.PENANAbZYPJnRx2E
Dimas:
“Mungkin Arga lebih dewasa dari yang kita kira. Mungkin dia juga pengen Tante nggak kesepian lagi.”
19952Please respect copyright.PENANA9olPl9t8Gc
Ibu nggak jawab. Tapi aku denger suara kursi bergeser lagi. Mereka berdiri.
19952Please respect copyright.PENANAV0QwvVVyb8
Dimas:
“Sini… peluk gue pelan aja.”
19952Please respect copyright.PENANAuaPHPdxbsi
Suara kain bergesekan. Napas Ibu terdengar deket banget.
19952Please respect copyright.PENANA6ZoeDlELGe
Dimas:
“Tante… bau sabunnya enak banget. Sama kayak kemarin.”
19952Please respect copyright.PENANAhMxkNzFl2o
Ibu:
“Mas Dimas… jantung kamu deg-degan banget.”
19952Please respect copyright.PENANAM7qSBkSTq2
Dimas:
“Iya. Karena gue deket sama Tante. Karena gue akhirnya boleh pegang Tante kayak gini.”
19952Please respect copyright.PENANAMDAQEHdevm
Mereka diam lama. Cuma pelukan. Tangan Dimas pasti lagi di punggung Ibu, mengusap pelan dari atas ke bawah. Ibu pasti lagi bersandar, kepala di dada Dimas, tangan memeluk pinggangnya.
19952Please respect copyright.PENANA88U1hQxWfP
Dimas:
“Tante… boleh gue cium kening Tante?”
19952Please respect copyright.PENANAUyclRLq0w5
Ibu nggak jawab langsung. Tapi aku denger suara ciuman pelan—bibir Dimas menyentuh kening Ibu lama. Lembut. Penuh perasaan.
19952Please respect copyright.PENANAhpw1weVMU3
Ibu:
“Mas…”
19952Please respect copyright.PENANAZO5G1QpsIw
Dimas:
“Sekarang… boleh gue cium bibir Tante? Cuma sekali. Pelan. Gue pengen tahu rasanya… bibir Tante.”
19952Please respect copyright.PENANA9rWDn5W4E6
Ibu menarik napas panjang. Dadanya naik-turun cepat—aku bisa bayangin payudaranya menekan dada Dimas.
19952Please respect copyright.PENANADyLc1nexNt
Ibu:
“Mas… ini… titik nggak balik.”
19952Please respect copyright.PENANA7WGxSRfhIr
Dimas:
“Gue tahu. Dan gue siap kalau Tante mau berhenti kapan aja. Tapi kalau Tante izinin… gue bakal cium Tante selembut mungkin.”
19952Please respect copyright.PENANAyE2msKwhKR
Jeda yang terasa abadi.
19952Please respect copyright.PENANAbFYRtVqPRC
Lalu suara pelan—bibir yang bertemu.
19952Please respect copyright.PENANAys5ju9IpII
Pertama cuma sentuhan ringan. Bibir Dimas di bibir Ibu. Nggak langsung dalam. Cuma nempel. Lama.
19952Please respect copyright.PENANAQncMqRjpyi
Ibu mengeluarkan suara kecil dari hidung—seperti desahan pelan yang tertahan.
19952Please respect copyright.PENANA7PI3n6yLjJ
Dimas:
“Tante… lembut banget.”
19952Please respect copyright.PENANAMqP20cWwTF
Dia cium lagi. Kali ini lebih dalam sedikit. Bibirnya menggerakkan bibir bawah Ibu pelan. Lidahnya menyentuh ujung bibir Ibu—nggak masuk langsung, cuma mengetuk pelan, minta izin.
19952Please respect copyright.PENANAfkOkxmQfwh
Ibu membalas. Bibirnya terbuka sedikit. Lidah mereka bertemu—pertama cuma ujung lidah yang saling sapa. Lalu pelan-pelan jadi lebih dalam. Suara ciuman basah terdengar samar—lembut, penuh ragu, tapi makin lama makin dalam.
19952Please respect copyright.PENANAQ90W9jR2TH
Tangan Dimas naik ke pipi Ibu, mengusap pelan. Ibu memeluk leher Dimas, jari-jarinya masuk ke rambut cepaknya.
19952Please respect copyright.PENANA8E0zin7GDe
Mereka ciuman lama. Mungkin lima menit. Kadang berhenti sebentar buat tarik napas, lalu balik lagi. Kadang cuma bibir yang saling tempel tanpa gerak, cuma ngerasain hangatnya satu sama lain.
19952Please respect copyright.PENANAaNm2wlfI8A
Dimas:
“Tante… gue suka banget rasanya. Manis. Hangat. Kayak… pulang.”
19952Please respect copyright.PENANARtOt0r0sLj
Ibu:
“Mas Dimas… aku… takut.”
19952Please respect copyright.PENANA2xdAiGU0WA
Dimas:
“Takut apa?”
19952Please respect copyright.PENANANs1yaUanF8
Ibu:
“Takut… aku nggak bisa berhenti. Takut… ini bikin semuanya hancur.”
19952Please respect copyright.PENANABRwnKMFhGC
Dimas:
“Gue janji… kita pelan-pelan. Kita jaga. Kita nggak buru-buru. Gue cuma pengen Tante tahu… gue sayang Tante. Bukan cuma badan Tante. Tapi… semuanya.”
19952Please respect copyright.PENANApp3SWbATdK
Ibu diam. Lalu dia cium Dimas lagi—kali ini dia yang mulai. Lebih berani sedikit. Lidahnya masuk lebih dalam, menjelajah mulut Dimas pelan.
19952Please respect copyright.PENANAfl8YtNsllW
Mereka pindah ke sofa ruang tamu. Aku denger suara badan jatuh pelan ke bantal sofa. Mereka duduk berdampingan, tapi badan saling menempel. Tangan Dimas di pinggang Ibu, Ibu bersandar di dada Dimas.
19952Please respect copyright.PENANA2FNzZ1YtHf
Mereka ciuman lagi. Lebih lama. Lebih dalam. Tapi tetap nggak lebih dari itu. Nggak ada tangan yang nakal ke dada atau ke bawah. Cuma pelukan, ciuman, usapan punggung, usapan pipi, bisik-bisik kata manis.
19952Please respect copyright.PENANAHdwy94u8P9
Dimas:
“Tante… matanya cantik banget pas ditutup gini.”
19952Please respect copyright.PENANABzE758SzYS
Ibu:
“Mas… jantung aku rasanya mau copot.”
19952Please respect copyright.PENANAnmMfpsd8d4
Dimas:
“Sama. Tapi gue seneng. Seneng banget akhirnya bisa gini sama Tante.”
19952Please respect copyright.PENANAywIFXemHPY
Mereka diam lagi. Cuma pelukan. Napas saling bercampur.
19952Please respect copyright.PENANABGyKvMmC70
Jam menunjukkan pukul 15:40. Mereka masih di sofa. Masih saling peluk. Masih sesekali cium pelan.
19952Please respect copyright.PENANAvVqjziPGeJ
Dimas:
“Tante… besok boleh lagi nggak?”
19952Please respect copyright.PENANA0D5s4TM0OD
Ibu:
“Mas… aku nggak tahu. Tapi… aku nggak bisa bilang nggak.”
19952Please respect copyright.PENANAQRF23UgBJV
Dimas:
“Makasih, Tante. Gue bakal datang lagi. Pelan-pelan. Sampai Tante siap… atau sampai Tante bilang berhenti.”
19952Please respect copyright.PENANApuDgWrNPg1
Ibu:
“Jangan bilang berhenti dulu. Aku… belum siap bilang itu.”
19952Please respect copyright.PENANAQNYnVAO44u
Mereka cium lagi. Lama.
19952Please respect copyright.PENANAV6MMzH6Sx1
Lalu suara Dimas.
19952Please respect copyright.PENANAK1KCXTwFGP
Dimas:
“Aku pulang dulu ya, Tante. Biar nggak ketahuan Arga pulang.”
19952Please respect copyright.PENANAgsZaO8fEYS
Ibu:
“Iya… hati-hati ya.”
19952Please respect copyright.PENANAU6VG5tgxPT
Suara pintu depan dibuka, ditutup pelan. Motor Dimas hidup, menjauh.
19952Please respect copyright.PENANAwkzN7XkL5i
Rumah kembali sepi.
19952Please respect copyright.PENANAHodmOXo5JL
Aku tunggu lima menit. Lalu aku turun pelan.
19952Please respect copyright.PENANAEWB4OuB4Hh
Ibu lagi duduk di sofa, sendirian. Matanya merah, tapi bibirnya bengkak sedikit—bekas ciuman. Pipinya merona. Rambut ponytailnya agak acak-acakan.
19952Please respect copyright.PENANAcnxB9QD80y
Dia menoleh ke aku. Kaget, tapi nggak panik.
19952Please respect copyright.PENANAnZuwKRgxLq
“Arga… kapan pulang?”
19952Please respect copyright.PENANA7W9ZZ8r0xf
Aku duduk di sebelahnya. Jarak deket.
19952Please respect copyright.PENANAIjk9yA0IfL
“Aku… udah dari tadi, Bu. Di atas. Denger semuanya.”
19952Please respect copyright.PENANAXQsgAW8oE9
Ibu menunduk. Air mata jatuh satu tetes ke paha.
19952Please respect copyright.PENANArMLmiUHjh0
“Maaf, Arga…”
19952Please respect copyright.PENANAScnYjUJwh0
Aku pegang tangannya. Dingin.
19952Please respect copyright.PENANA2cEEWNaO43
“Bu… aku bilang kan. Aku oke. Aku cuma… pengen Ibu bahagia.”
19952Please respect copyright.PENANAwkyYQ9LXTV
Ibu memeluk aku erat. Menangis pelan di bahuku.
19952Please respect copyright.PENANANP9G6TKdwy
“Aku sayang kamu, Arga. Selalu.”
19952Please respect copyright.PENANA1FvwwwsK7Q
Aku balas pelukannya.
19952Please respect copyright.PENANAA3Z5QlQm03
Di kepalaku, aku tahu.
19952Please respect copyright.PENANAeVqGPNV38I
Ini baru permulaan yang sebenarnya.
19952Please respect copyright.PENANAVAV30NnCZh
Dan besok… mungkin lebih dari ciuman.
19952Please respect copyright.PENANAsCJt8L1MUS
Mungkin lebih dalam.
19952Please respect copyright.PENANAM1Pxj7tX9Y
Mungkin… semuanya mulai terbuka.
19952Please respect copyright.PENANA1M5n6OwBH5
Hari berikutnya, Rabu. Langit Kudus cerah sejak pagi, tapi di dalam rumah terasa seperti ada awan tebal yang menyelimuti semuanya. Aku, Arga, bangun jam tujuh lewat, langsung ke kamar mandi, mandi cepat-cepat. Pas keluar kamar, aku dengar suara Ibu di dapur—lagi nyanyi kecil sambil goreng telur. Suara yang sama seperti dulu-dulu, tapi hari ini ada nada beda. Lebih… ringan. Lebih… genit.
19952Please respect copyright.PENANAwrr1mb3Zeq
Aku turun pelan, ngintip dari tangga. Ibu pakai kaos crop top putih tipis yang jarang banget dia pakai—potongannya pas di atas pusar, memperlihatkan perut rata yang masih kencang meski umur 42. Bawahnya celana pendek denim pendek banget, hampir nggak nutupin separuh paha mulus putihnya. Rambutnya dibiarkan terurai, agak bergelombang alami karena semalem dia keramas pake conditioner yang baunya manis. Dia lagi membungkuk ambil piring dari rak bawah, bokongnya terangkat sedikit, celana pendeknya naik sampe garis celah bokong terlihat jelas—bulat, penuh, kenyal.
19952Please respect copyright.PENANAcdlXkgsFZD
Aku langsung balik ke kamar, pura-pura belum turun. Jantung aku deg-degan. Aku tahu ini bukan kebetulan.
19952Please respect copyright.PENANAZhaJzTM7M7
Jam tujuh lewat, aku turun lagi. Ibu lagi nyusun sarapan di meja: nasi goreng, telur mata sapi, tempe goreng, sama segelas susu hangat buat aku.
19952Please respect copyright.PENANAWDn3D2ukaj
“Pagi, Arga,” katanya sambil senyum lebar. Matanya berbinar. Pipinya merah alami, bukan karena panas kompor.
19952Please respect copyright.PENANAI6pqusCmMZ
“Pagi, Bu. Kok hari ini… beda ya?”
19952Please respect copyright.PENANAqjj1SBPeeo
Ibu ketawa kecil, suaranya renyah.
19952Please respect copyright.PENANAP63oJiADP6
“Beda gimana? Ibu cuma pengen nyaman aja di rumah. Panas nih akhir-akhir ini.”
19952Please respect copyright.PENANAAt74ssCWHi
Dia duduk di seberang aku, kakinya di bawah meja sengaja nyenggol kakiku pelan. Nggak sengaja katanya, tapi aku tahu itu sengaja.
19952Please respect copyright.PENANAM9KZmNVtGX
“Bu… hari ini Dimas mau mampir lagi?”
19952Please respect copyright.PENANAU0SLBOvWdC
Ibu mengangguk sambil nyendok nasi goreng ke mulutnya pelan.
19952Please respect copyright.PENANADfPWG6p9O2
“Iya. Katanya abis siang kuliahnya langsung ke sini. Mau numpang makan siang katanya.”
19952Please respect copyright.PENANAT0pbjvbluc
Aku pura-pura biasa aja.
19952Please respect copyright.PENANAfkB4yGKF1T
“Aku ada kelas sampe jam empat. Pulang sore lagi.”
19952Please respect copyright.PENANA0Z3C7MsmqZ
Ibu menatap aku lama. Senyumnya lembut, tapi ada api kecil di matanya.
19952Please respect copyright.PENANAyd7A5oDpog
“Makasih ya, Arga. Ibu tahu kamu lagi kasih ruang buat Ibu.”
19952Please respect copyright.PENANApx9TjjOa9n
Aku cuma mengangguk. Tenggorokanku kering.
19952Please respect copyright.PENANAOxW1aRI2M0
Setelah sarapan, Ibu berdiri, beresin piring. Waktu dia membungkuk buat angkat piring kotor, crop top-nya naik sedikit, memperlihatkan bagian bawah payudaranya—putih, lembut, tanpa bra. Areolanya cokelat muda samar terlihat, putingnya sudah setengah mengeras karena AC atau karena pikiran yang lagi muter di kepalanya.
19952Please respect copyright.PENANAmDHh8hXd7c
Aku cepat-cepat pamit ke kampus. Tapi seperti biasa, aku balik lewat gang belakang jam satu lewat, masuk pintu samping, naik ke kamar, tutup pintu pelan, duduk di lantai, telinga menempel ke celah bawah. HP silent, tapi jantung berdegup kencang.
19952Please respect copyright.PENANACe8w2cQZf1
Jam 13:55, suara motor Dimas terdengar di depan. Pintu dibuka.
19952Please respect copyright.PENANAxdRKtqsZJL
Dimas:
“Tante… aku datang. Bau masakan enak banget nih.”
19952Please respect copyright.PENANAuc8haqkner
Ibu:
“Masuk aja, Mas. Ibu lagi masak ayam goreng kecap. Mas Dimas suka kan?”
19952Please respect copyright.PENANAly8trq7UGM
Suara langkah masuk. Mereka ke dapur.
19952Please respect copyright.PENANAKPkiIO5F9F
Dimas:
“Wah… Tante hari ini… beda banget.”
19952Please respect copyright.PENANAKGLwCnmPQs
Ibu ketawa pelan.
19952Please respect copyright.PENANAmJFqfXe77R
“Beda gimana, Mas?”
19952Please respect copyright.PENANAHQOR1PflfR
Dimas:
“Kaosnya… pendek. Celananya… pendek banget. Tante lagi pengen bikin gue gila ya?”
19952Please respect copyright.PENANA8ZNqrIgJEy
Ibu:
“Siapa bilang? Ibu cuma pengen nyaman. Lagian… rumah sendiri. Nggak ada yang liat.”
19952Please respect copyright.PENANAiMRZrwyUoo
Dimas:
“Aku liat, Tante. Dan aku… suka banget.”
19952Please respect copyright.PENANAL3L7YRQSpb
Suara Ibu mendekat. Langkahnya pelan, seperti lagi mendekati mangsa.
19952Please respect copyright.PENANALAUIHfA7aM
Ibu:
“Mas Dimas… duduk dulu di meja. Ibu ambilin minum.”
19952Please respect copyright.PENANAKtx39sMI41
Dimas duduk. Aku denger kursi bergeser.
19952Please respect copyright.PENANAZ2qAS2RESL
Ibu:
“Ini es teh manis. Dingin ya.”
19952Please respect copyright.PENANA49COEOKPFC
Dia taruh gelas di depan Dimas. Tapi bukannya langsung mundur, Ibu malah berdiri di depan Dimas, badannya agak membungkuk ke depan waktu naruh gelas. Crop top-nya jatuh ke depan, payudaranya bergoyang lembut, hampir keluar sepenuhnya. Putingnya sudah keras jelas, cokelat muda, kecil tapi menonjol.
19952Please respect copyright.PENANAPbnaFuFnu8
Dimas:
“Tante… gue bisa liat semuanya.”
19952Please respect copyright.PENANAS3k1fej8rj
Ibu:
“Emangnya kenapa? Mas Dimas nggak suka?”
19952Please respect copyright.PENANAfHzPaRx9Y9
Dimas menelan ludah. Suaranya serak.
19952Please respect copyright.PENANAuX7eoWuirT
“Suka banget. Tante… lagi sengaja ya hari ini?”
19952Please respect copyright.PENANAU2XeHqNttJ
Ibu ketawa kecil. Dia maju setengah langkah, sekarang lututnya nyentuh lutut Dimas.
19952Please respect copyright.PENANAyZ3nCqOco7
“Mungkin iya. Kemarin… Ibu ngerasa enak banget. Jadi Ibu mikir… mungkin Ibu mau coba lebih berani sedikit.”
19952Please respect copyright.PENANAGwB8z2sayG
Dimas:
“Tante… jangan main-main. Gue udah keras dari tadi.”
19952Please respect copyright.PENANA1W0LZPJhss
Ibu:
“Ibu tahu. Ibu liat dari tadi celana Mas Dimas udah membusung.”
19952Please respect copyright.PENANAjejNhMneJO
Dia angkat tangan kanannya pelan, menyentuh pipi Dimas dulu. Lalu turun ke leher, ke dada, ke perut. Berhenti di pinggang.
19952Please respect copyright.PENANAgGiacbuVN9
Ibu:
“Mas Dimas… boleh Ibu pegang lagi? Kayak kemarin.”
19952Please respect copyright.PENANAjBtJ0Oq3Ve
Dimas:
“Boleh banget, Tante. Malah gue pengen.”
19952Please respect copyright.PENANAIeVXs90GVl
Ibu turunin tangan lebih bawah. Resleting celana Dimas diturunkan pelan oleh jari-jari Ibu yang gemetar tapi berani. Dia masukin tangan ke dalam boxer, menggenggam batang Dimas yang sudah keras penuh.
19952Please respect copyright.PENANApNtzeRxiqt
Ibu:
“Wah… makin keras dari kemarin. Panas banget di tangan Ibu.”
19952Please respect copyright.PENANAeLYS9cNHb2
Dimas mendesah pelan.
19952Please respect copyright.PENANAOYrWqtgIgr
Dimas:
“Tante… usap pelan aja dulu. Gue nggak mau cepet keluar.”
19952Please respect copyright.PENANAgMLKZNU1SK
Ibu mulai gerak tangan naik-turun pelan. Jempolnya mengusap kepala yang sudah basah.
19952Please respect copyright.PENANAmbCftf7aNV
Ibu:
“Mas… ujungnya licin. Ibu suka liatnya.”
19952Please respect copyright.PENANAB1j8wLVfMp
Dimas:
“Tante… gue pengen liat payudara Tante. Boleh angkat kaosnya?”
19952Please respect copyright.PENANAz9e7x9v0g1
Ibu berhenti sejenak. Lalu dia angkat crop top-nya pelan-pelan, sampai lepas dari kepala. Payudaranya terbebas—bulat sempurna, berat tapi kencang, puting cokelat muda mengeras tegak, areola kecil rapi.
19952Please respect copyright.PENANAQbNsg2YqIa
Dimas:
“Tante… indah banget. Putingnya… cantik. Keras gini karena gue ya?”
19952Please respect copyright.PENANArzWQqbDB8T
Ibu:
“Iya… karena Mas Dimas. Karena Ibu mikirin kamu terus dari kemarin.”
19952Please respect copyright.PENANAsHP22LK9En
Dimas angkat tangan, menyentuh payudara kiri Ibu pelan. Jempolnya mengusap puting dari luar kulit telanjang sekarang.
19952Please respect copyright.PENANAdE1SzVi45g
Dimas:
“Enak nggak, Tante?”
19952Please respect copyright.PENANA1w8HEaQPlR
Ibu mendesah pelan, kepalanya mendongak sedikit.
19952Please respect copyright.PENANA55tVYl9xYs
Ibu:
“Enak… usap lagi. Pelan aja.”
19952Please respect copyright.PENANAOopEucRJgP
Dimas usap kedua payudara bergantian. Kadang remas lembut, kadang cubit puting pelan. Ibu mengeluarkan suara kecil dari tenggorokan setiap kali jempolnya menyentuh titik sensitif.
19952Please respect copyright.PENANAWAVl1hq5u0
Ibu:
“Mas… puting Ibu… sensitif banget. Rasanya nyut-nyutan ke bawah.”
19952Please respect copyright.PENANAWM7VuGULqd
Dimas:
“Iya… gue ngerasain. Keras banget. Kayak lagi minta disentuh lebih.”
19952Please respect copyright.PENANABTBiZ3XcEn
Dia terus usap. Kadang tangannya melingkar di bawah payudara, angkat sedikit supaya merasakan beratnya, lalu jempol kembali ke puting, memutar pelan.
19952Please respect copyright.PENANAz9May33Q4x
Ibu:
“Aaah… Mas… Ibu basah di bawah. Celana dalam Ibu udah lembab dari tadi.”
19952Please respect copyright.PENANA3QKPr8fVxK
Dimas:
“Serius, Tante?”
19952Please respect copyright.PENANApMhNBQPy10
Ibu:
“Iya… gara-gara Mas pegang payudara Ibu gini. Ibu ngerasa panas di seluruh badan.”
19952Please respect copyright.PENANAIN8OALoAWX
Dimas turunin tangan kanannya pelan, ke pinggang Ibu, lalu ke depan celana pendek denimnya. Dia usap paha dalam Ibu dulu, lalu naik ke selangkangan dari luar kain.
19952Please respect copyright.PENANAu1javHPgqk
Dimas:
“Tante… di sini udah panas banget. Gue ngerasain kelembaban lewat celana.”
19952Please respect copyright.PENANAEN2OotRSEx
Ibu goyang pinggul kecil, menggesek tangan Dimas.
19952Please respect copyright.PENANAtVuZk63Sgi
Ibu:
“Usap lagi, Mas… di atas klitoris Ibu. Pelan aja.”
19952Please respect copyright.PENANAXC24H3soLa
Dimas menggosok pelan dari luar celana pendek. Ibu mendesah lebih keras, tangannya mencengkeram bahu Dimas.
19952Please respect copyright.PENANA8ILmdOoK2I
Ibu:
“Enak… terus… jangan berhenti…”
19952Please respect copyright.PENANA9fH7tNAxw9
Dimas percepat sedikit. Ibu menegang, napasnya cepat.
19952Please respect copyright.PENANASCWceS5WOd
Ibu:
“Mas… Ibu mau keluar. Terusin…”
19952Please respect copyright.PENANAWgK9gsLj9r
Badannya bergetar pelan. Orgasme pertama hari itu—pelan, emosional, penuh getar. Cairan bening netes sedikit ke celana pendeknya.
19952Please respect copyright.PENANA07eNFZ3HXS
Dimas tarik tangan, basah. Dia jilat pelan jarinya sendiri.
19952Please respect copyright.PENANAZ0ha0Y37JE
Dimas:
“Manis, Tante. Rasa Tante enak banget.”
19952Please respect copyright.PENANACv8Zcbkifc
Ibu masih napas ngos-ngosan. Dia tarik Dimas berdiri, peluk erat.
19952Please respect copyright.PENANAYFAN2iEZpH
Ibu:
“Mas… Ibu pengen cium kamu lagi. Di bawah.”
19952Please respect copyright.PENANAhkSus3DpCt
Dia berlutut pelan di lantai dapur. Tarik boxer Dimas turun. Batangnya tegak lurus, kepalanya merah basah.
19952Please respect copyright.PENANATjNxRydn9W
Ibu:
“Mas… kepalanya… merah. Basah di ujung.”
19952Please respect copyright.PENANATt5CWtuLKl
Dimas:
“Itu… karena gue udah keluar sedikit. Karena Tante.”
19952Please respect copyright.PENANAojRNCNZgos
Ibu mulai dengan jilat dari bawah ke atas. Lidahnya berputar di kepala, lalu masuk ke mulut pelan. Isap lembut, naik-turun setengah batang.
19952Please respect copyright.PENANAY79IZrAmt7
Dimas mendesah dalam.
19952Please respect copyright.PENANAlrNyDlLZ6U
Dimas:
“Tante… mulut Tante hangat. Lembut. Gue… nggak tahan.”
19952Please respect copyright.PENANAGTXrMM5XhP
Ibu terus. Suara isapan pelan terdengar. Kadang dia berhenti, cium batangnya dari samping, jilat dari bawah ke atas.
19952Please respect copyright.PENANA6E0n9BfyTX
Dimas:
“Tante… gue mau keluar. Boleh di mulut Tante?”
19952Please respect copyright.PENANADoyuR7gHVe
Ibu keluarin sebentar.
19952Please respect copyright.PENANA9nfYMs6vj8
Ibu:
“Iya… keluar aja. Ibu mau ngerasain.”
19952Please respect copyright.PENANAovZlPbdSvf
Dia masuk lagi. Lebih cepat sedikit. Tangan Ibu ikut pegang pangkal, usap pelan.
19952Please respect copyright.PENANAQ00J3wVVHT
Dimas mengerang keras.
19952Please respect copyright.PENANAlWH7XEv64g
Dimas:
“Tante… gue keluar… sekarang…”
19952Please respect copyright.PENANAuYsIG3urpl
Dia keluar di mulut Ibu. Ibu nggak narik, terus isap pelan sampai habis. Lalu menelan pelan.
19952Please respect copyright.PENANADzr3pbBbux
Ibu:
“Mas… asin. Tapi… enak.”
19952Please respect copyright.PENANAqc35VA5Iun
Mereka pelukan lagi. Duduk di lantai dapur, badan saling tempel.
19952Please respect copyright.PENANAcqWgVjGY6H
Ibu:
“Mas Dimas… Ibu mulai nggak bisa berhenti mikirin kamu. Tiap hari pengen gini lagi.”
19952Please respect copyright.PENANAhD7tXvxTXa
Dimas:
“Gue juga, Tante. Besok… boleh lagi?”
19952Please respect copyright.PENANAVOA3lTFlnp
Ibu:
“Boleh. Tapi… besok Ibu pengen lebih.
19952Please respect copyright.PENANAvDq5zcsIpd
Dimas diam sebentar. Lalu cium kening Ibu.
19952Please respect copyright.PENANADKNukmQyf9
Dimas:
“Besok. Pelan-pelan. Gue janji bikin Tante seneng.”
19952Please respect copyright.PENANAns8DGEvGvk
Mereka diam lama. Cuma pelukan.
19952Please respect copyright.PENANAxHyY749WBM
Aku di atas, badan panas membara. Aku tahu besok… mereka bakal bercinta pertama kali.
19952Please respect copyright.PENANA5qdphoCpeP
Dan aku… bakal denger semuanya.
19952Please respect copyright.PENANAYSA9ZrHJa1
Mungkin… lebih dari denger.
19952Please respect copyright.PENANAYrFAyfmDdZ
Kamis pagi, rumah terasa berbeda. Udara Kudus masih sejuk, tapi di dalam dinding ini ada panas yang sudah nggak bisa disembunyikan lagi. Aku, Arga, bangun jam tujuh, turun ke dapur. Ibu lagi berdiri di depan kompor, tapi gerakannya lambat, seperti pikirannya lagi jauh-jauh. Dia pakai daster tipis warna peach yang hampir tembus pandang kalau kena cahaya matahari pagi dari jendela belakang. Rambutnya diikat ponytail tinggi, leher putih mulusnya terlihat jelas, ada bekas merah kecil di tulang selangka—bekas gigitan pelan Dimas kemarin.
19952Please respect copyright.PENANA2Jh3TQFMPU
“Pagi, Arga,” katanya tanpa menoleh. Suaranya lembut, tapi ada getar yang aku tahu artinya: gugup, tapi juga excited.
19952Please respect copyright.PENANAOaYyxoRpvu
“Pagi, Bu. Hari ini… Dimas datang lagi?”
19952Please respect copyright.PENANAZe0yJVFD1L
Ibu matiin kompor, balik badan. Matanya langsung ketemu mataku. Pipinya merah, bibirnya agak menggigit bawah.
19952Please respect copyright.PENANAH9cqYaWb8O
“Iya. Siang nanti. Dia bilang… mau bawa makan siang dari luar. Katanya pengen kita… ngobrol lebih lama.”
19952Please respect copyright.PENANA4gz0jsx1Z2
Aku tahu itu bohong. Dia tahu aku tahu.
19952Please respect copyright.PENANADS647FeVjm
“Aku bakal keluar lagi siang ini. Ke perpustakaan kampus. Pulang sore.”
19952Please respect copyright.PENANAfqj0KqC9Re
Ibu mendekat, duduk di sebelahku. Tangan kanannya menyentuh punggung tanganku.
19952Please respect copyright.PENANAnFx3fDsaZX
“Arga… ibu takut. Tapi ibu juga… pengen banget. Udah lama ibu nggak ngerasa gini. Udah lama ibu nggak ngerasa… diinginkan seutuhnya.”
19952Please respect copyright.PENANAPIw2z3ZyY3
Aku balas pegang tangannya.
19952Please respect copyright.PENANAlCz20MBrzo
“Aku tahu, Bu. Dan aku… nggak bakal marah. Aku cuma minta satu: kalau selesai, cerita ke aku. Detailnya. Biar aku tahu Ibu bahagia.”
19952Please respect copyright.PENANAKSkS7XDali
Ibu menunduk sebentar, lalu angkat muka lagi. Matanya basah, tapi senyumnya hangat.
19952Please respect copyright.PENANAvQcgHPivOQ
“Iya, Arga. Ibu janji. Apa pun yang terjadi… Ibu cerita ke kamu.”
19952Please respect copyright.PENANAmoZkwVQSHQ
Aku pamit ke kampus jam sepuluh. Tapi seperti biasa, aku balik lewat gang belakang jam satu lewat. Masuk pintu samping, naik tangga pelan-pelan, masuk kamar, tutup pintu, duduk di lantai dengan telinga menempel ke celah bawah. HP silent, tapi jantung berdegup kencang kayak mau copot.
19952Please respect copyright.PENANARkXfYqSIbQ
Jam 13:48, suara motor Dimas. Pintu depan dibuka.
19952Please respect copyright.PENANA2NWMXJ417L
Dimas:
“Tante… aku datang. Bawa nasi goreng seafood sama es campur. Masih dingin nih.”
19952Please respect copyright.PENANA37OD3j2pM3
Ibu:
“Masuk aja, Mas. Taruh di meja makan. Ibu… lagi nunggu kamu dari tadi.”
19952Please respect copyright.PENANA4jspnE3kWZ
Suara langkah mereka ke ruang makan. Kursi bergeser. Mereka makan dulu—ngobrol ringan soal cuaca, soal kuliah Dimas, soal tetangga. Tapi nada suara mereka beda. Lebih rendah. Lebih deket.
19952Please respect copyright.PENANAzgbpokRuUv
Dimas:
“Tante… makan aja pelan-pelan. Hari ini kita nggak buru-buru.”
19952Please respect copyright.PENANAiuR1Uq2eKH
Ibu:
“Iya… Ibu juga pengen nikmatin setiap detiknya sama kamu.”
19952Please respect copyright.PENANAKw6Ezw6kgC
Makan selesai. Suara piring dibersihin. Lalu langkah mereka naik tangga—pelan, berat, seperti lagi naik ke sesuatu yang nggak bisa dibalik lagi.
19952Please respect copyright.PENANAJdIla8jzia
Pintu kamar Ibu dibuka. Ditutup pelan. Dikunci.
19952Please respect copyright.PENANAd7dGPuh6nZ
Aku hampir nggak bernapas.
19952Please respect copyright.PENANAAlfb57rrzJ
Di dalam kamar, suara Ibu terdengar pertama.
19952Please respect copyright.PENANAXZ7SeGAXLJ
Ibu:
“Mas Dimas… sini. Duduk di ranjang.”
19952Please respect copyright.PENANAL5pfj3I2Gl
Suara kasur berderit pelan. Mereka duduk berdampingan.
19952Please respect copyright.PENANA5rWMQxT3YA
Dimas:
“Tante… kamu gemetar.”
19952Please respect copyright.PENANAZf35o7C931
Ibu:
“Iya… takut. Tapi pengen. Mas… boleh Ibu cium dulu?”
19952Please respect copyright.PENANAAQr5KPyVUM
Suara bibir bertemu. Ciuman panjang, dalam. Lidah saling jelajah. Napas mereka saling campur. Kadang berhenti cuma buat tarik napas, lalu balik lagi.
19952Please respect copyright.PENANAPz5unm04Ho
Ibu:
“Mas… lepas baju kamu. Ibu pengen liat badan kamu.”
19952Please respect copyright.PENANAxdpTDw1GUs
Dimas lepas kaos. Suara kain jatuh ke lantai.
19952Please respect copyright.PENANA3Ii4BTsAxx
Ibu:
“Wah… dada kamu keras. Ototnya keliatan. Ibu suka.”
19952Please respect copyright.PENANAMUThJGQGet
Tangan Ibu menyentuh dada Dimas, usap pelan ke bawah, ke perut, ke pinggang.
19952Please respect copyright.PENANAN9K3jxUTLE
Dimas:
“Tante… gantian. Angkat daster kamu.”
19952Please respect copyright.PENANAnqcnJYnF1v
Ibu berdiri. Suara kain sutra bergesekan saat daster diangkat lepas dari kepala. Dia telanjang sekarang—cuma celana dalam renda hitam tipis yang sudah basah di tengah.
19952Please respect copyright.PENANAZooP8UUxo9
Dimas:
“Tante… tubuh kamu… sempurna. Payudara kamu bulat banget, putingnya keras tegak. Perut rata, pinggang kecil, bokongnya… ya Tuhan, bulat penuh. Kaki kamu panjang mulus.”
19952Please respect copyright.PENANAip3hCJqC2R
Ibu:
“Mas… liat vagina Ibu. Celana dalamnya udah basah banget karena kamu.”
19952Please respect copyright.PENANA6ZHbIKP6C5
Dia turunin celana dalam pelan. Vaginanya terbuka—rambut tipis rapi di atas, bibir luar tebal merah muda, bibir dalam sudah mengkilap licin, klitoris kecil bengkak.
19952Please respect copyright.PENANArBHuxVZHKx
Dimas:
“Tante… cantik banget. Basahnya banyak. Bau wanginya manis.”
19952Please respect copyright.PENANA8TR4lH3s9a
Dia tarik Ibu duduk lagi, lalu dorong pelan supaya rebah di ranjang. Dimas naik ke atas, tapi nggak langsung masuk. Dia mulai dari cium leher Ibu, turun ke tulang selangka, ke payudara.
19952Please respect copyright.PENANADjLRGnc3FM
Dimas:
“Puting Tante… enak banget. Gue hisap ya.”
19952Please respect copyright.PENANAPT0DRsrodt
Dia hisap puting kiri pelan, lidah berputar, gigit ringan. Ibu mengerang.
19952Please respect copyright.PENANAY4RXb1JyZk
Ibu:
“Aaah… Mas… enak. Hisap lagi. Yang satunya juga.”
19952Please respect copyright.PENANAYO77eKJUqK
Dimas pindah ke kanan, tangan kirinya remas payudara kiri pelan, cubit puting.
19952Please respect copyright.PENANAHSEIdgT8GB
Ibu:
“Mas… Ibu basah banget. Sentuh bawah.”
19952Please respect copyright.PENANAfg83z2v8bE
Dimas turun. Cium perut Ibu, pusar, lalu ke atas kemaluan. Dia buka paha Ibu lebar.
19952Please respect copyright.PENANA0SssNYK9Kf
Dimas:
“Tante… vagina kamu indah. Bibirnya tebal, klitorisnya bengkak. Gue jilat ya.”
19952Please respect copyright.PENANAo3Bz1tMN4a
Lidahnya menyentuh klitoris pelan. Menjilat dari bawah ke atas, berputar kecil.
19952Please respect copyright.PENANAzu4rj2FqwJ
Ibu:
“Aaaah… Mas… enak banget. Jilat lagi. Masukin lidah ke dalam.”
19952Please respect copyright.PENANACBckLStikW
Dimas masukin lidah ke lubang vagina, keluar-masuk pelan, sambil jempol menggosok klitoris.
19952Please respect copyright.PENANADzIj0gIk8W
Ibu mulai goyang pinggul.
19952Please respect copyright.PENANAhyqfOj9f4z
Ibu:
“Mas… Ibu mau keluar. Terusin… jangan berhenti…”
19952Please respect copyright.PENANAYVVhqTXCSP
Dimas percepat lidah. Ibu menegang, tangan mencengkeram seprai.
19952Please respect copyright.PENANA1xCiPFFfOW
Ibu:
“Aaaahhh… keluar… Ibu keluar… aaah!”
19952Please respect copyright.PENANATQu2gl4OGo
Orgasme pertama. Badannya bergetar hebat, cairan bening keluar banyak, Dimas jilat semuanya.
19952Please respect copyright.PENANAs3JIbWSQ2Y
Dimas:
“Tante… rasa kamu manis. Enak banget.”
19952Please respect copyright.PENANAHFOle5ZuxN
Ibu tarik Dimas naik, cium bibirnya yang masih basah oleh cairannya sendiri.
19952Please respect copyright.PENANAYl6oAvDF93
Ibu:
“Sekarang giliran Ibu. Lepas celana kamu.”
19952Please respect copyright.PENANABqRFZ06kwg
Dimas telanjang. Batangnya tegak keras, panjang sekitar 17 cm, tebal, urat-urat menonjol, kepala merah mengkilap.
19952Please respect copyright.PENANAtpbH53base
Ibu:
“Mas… kontol kamu gede banget. Ibu pengen nyedot dulu.”
19952Please respect copyright.PENANAlx1Bdk2Hsw
Dia berlutut di ranjang, ambil batang Dimas ke mulut. Isap pelan, lidah berputar di kepala, tangan usap pangkal.
19952Please respect copyright.PENANAQuGWIEAbUt
Dimas:
“Tante… mulut kamu panas. Enak banget. Sedot lebih dalam.”
19952Please respect copyright.PENANArsJjCb4hfT
Ibu masukin lebih dalam, hampir separuh. Kepala maju-mundur, isap kuat.
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/time47
ns216.73.216.38da2


