Seorang anak kecil laki-laki berusia setahun lebih berlari kecil dengan riang gembira memasuki sebuah toko roti ternama yang terletak di lantai dasar sebuah perkantoran elit di tengah kota. Di dalam toko yang terbilang sepi itu, karena belum jam pulang kantor, seorang pegawai toko wanita terkejut dengan kedatangan bocah lelaki itu. "Eh, ada anak ganteng. Sama siapa, sayang? Sama ayah ya?" Tanyanya sumringah. Lalu matanya celingukan mencari sosok yang dia barusan tanyakan itu. Senyumnya mengembang melihat sesosok lelaki tampan bertubuh tinggi dengan potongan rambut rapi berjalan menghampiri dirinya & anak kecil yang sedang bersamanya.
Pegawai toko roti bertubuh sintal itu bernama Santi. Kesempatan untuk menggoda Yusuf, ayah dari bocah lelaki di hadapannya, tak dia sia-siakan. 2 kancing kemeja seragamnya dia buka hingga belahan payudaranya terlihat jelas. Sengaja dia tidak berdiri agar Yusuf bisa menikmati pemandangan indah itu. Lelaki tampan itu hanya bisa menelan ludah beberapa kali melihat gundukan payudara bulat yang tercetak jelas dibalik seragam toko roti.
Menyadari Santi memperhatikan matanya yang tertuju ke belahan dada di depannya, pipi Yusuf memerah & dia langsung mengalihkan pandangannya. "Udah salim belum sama tante Santi? Kok main langsung peluk aja" Tanya Yusuf ke anaknya yang langsung mematuhi perintah ayahnya. "Ih, ga papa kok, mas. Ayahnya kalo mau ikutan peluk juga boleh hehehe" Goda Santi. Yusuf hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wanita ini selalu membuatnya salah tingkah setiap bertemu. Di dalam hatinya, Santi bersorak kegirangan karena berhasil menggoda lelaki idamannya itu.
Tapi senyum Santi langsung hilang ketika dia melihat seorang wanita anggun bertubuh tinggi semampai dalam balutan hijab modern menyambangi mereka bertiga. Ngapain sih dia ke sini juga, gerutu Santi dalam hati. "Hai, mbak Gendis. Apa kabar? Tumben nih ke sini. Lagi libur ya?" Tanyanya ke istri Yusuf yang baru saja tiba, tentunya dengan senyum yang dipaksakan. "Hai, San. Ga libur kok cuma tadi pulang cepet aja trus si Rama minta jemput ayahnya sekalian beli roti katanya. Ya udah kita ke sini deh" Jawab Gendis. "Kamu gimana persiapan pernikahannya? Mau dibantu apa?" Tanya Gendis. "Udah cukup, mbak. Makasih. Jangan lupa bulan depan dateng ya" Jawab Santi. "Pasti dong" Balas Gendis.
Keluarga kecil itu lalu sibuk memilih roti. Tawa riang Rama kecil & senyuman kedua orang tuanya membuat Santi terbakar api cemburu. Seandainya gue jadi mbak Gendis punya suami ganteng & anak yang lucu, pasti gue bakalan bahagia banget, batin Santi.
Sayang, calon suaminya terbilang cukup jauh dari kata tampan. Tubuhnya kurus & lebih pendek sedikit dari pada Santi. Untungnya calon mertua Santi adalah juragan kontrakan & kos-kosan, di mana Santi adalah salah satu penghuninya. Jadi, dia mau saja ketika diajak berpacaran hingga kini akan ke pelaminan bersama anak pemilik kos, hitung-hitung tinggal gratis.
Santi, di lain sisi, bertubuh cukup tinggi untuk ukuran wanita, meski tidak setinggi Gendis yang tinggi semampai seperti model catwalk. Wajahnya cukup cantik untuk ukuran pegawai toko roti dengan rambut sebahu yang membuat dirinya bertambah manis. Badannya montok sintal yang bisa membuat banyak lelaki meneteskan liurnya. Banyak yang bilang calon suami Santi adalah lelaki yang beruntung, tapi sayangnya tidak dalam cerita ini.
2 hari kemudian Yusuf kembali mampir ke toko roti untuk membeli pesanan istri & anaknya. "Udah balik lagi aja, kangen Santi ya, mas?" Tanya wanita itu genit. Yusuf hanya tersenyum kikuk seperti biasa lalu mengambil sekotak cheese roll. "Mas ga mau cobain yang bulet besar? Lebih enak loh daripada yang kurus-kurus gitu" Goda Santi lagi. Yusuf paham maksud Santi, tapi dia ragu untuk membalasnya. "Kalo Mas mau cobain, bilang aja. Santi pasti kasih spesial buat mas Yusuf" Lanjut wanita sintal itu dengan lembut sambil mengedipkan mata. Tambah kikuk Yusuf dibuatnya.
Di meja kasir, Santi sengaja memperlama proses pembayaran. Badannya sedikit dibungkukkan hingga belahan payudara montoknya terlihat jelas dari balik kemeja yang tak dikancing bagian atasnya itu. Yusuf termakan jebakan Santi; pandangan matanya seakan tak mau lepas dari dada putih mulus di depannya. Celananya terasa semakin sempit. "Suka ya, mas?" Tanya Santi. "Eh, s-s-suka .. Iya, suka. Gede" Jawab Yusuf gelagapan. "Kok gede? Cheese roll kan panjang .. Apa ayo yang gedee?" Goda Santi lagi. Yusuf tak bisa menjawab, hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Esok harinya Yusuf lembur di kantor sampai malam. Ketika dia turun, hampir semua tenant di gedung itu sudah tutup. Matanya tertuju ke hape di tangannya yang sibuk membalas pesan dari istrinya di rumah. Tetiba dia mendengar teriakan dari dalam toko roti. Langsung dia berlari ke arah suara itu.
Di dalam toko roti yang sebagian lampunya sudah padam & rolling door yang sudah tertutup setengah, Santi berdiri dalam sambil tersenyum. "Kenapa, San? Kamu ga papa?" Tanya Yusuf. "Ga papa, mas. Santi teriak cuma mo ngetes mas Yusuf peduli ga. Eh, ternyata peduli sama Santi. Makasih ya, mas" Jawab Santi sambil mengelus lengan Yusuf. "Abis lembur ya, mas? Cape? Santi pijitin ya? Atau laper & aus? Santi punya donat yang lubangnya kecil & susu loh, mas" Tawar Santi genit sambil memijit dada bidang lelaki itu & menempelkan payudara besarnya.
Yusuf hanya tersenyum kikuk seperti biasa lalu mencoba pergi tapi dihalangi oleh Santi. "Temenin Santi beberes ya, mas. Nanti Santi kasih hadiah deh" Ucap Santi centil. Yusuf mengangguk pelan. Ternyata beberes yang dimaksud Santi hanya mematikan sakelar lampu hingga kini seluruh toko roti itu gelap, hanya lampu dari luar yang menjadi penerangan. Jantung Yusuf berdebar ketika Santi berjalan menghampirinya.
"Makasih ya, mas" Ucap Santi pelan seraya tangan kanannya memegang tengkuk Yusuf lalu dengan sedikit berjinjit dia mencium lembut bibir lelaki pujaannya itu. Yusuf terkesiap. Bibir Santi terasa sangat lembut & manis di bibirnya. Untuk beberapa saat dia menikmati ciuman itu lalu dia melepaskannya, "Nanti ada yang liat, San. Bisa gawat" Ucapnya pelan. "Kalo ga ada yang liat, berarti ga papa dong" Balas Santi cuek. "Di luar udah sepi, mas. Cek aja" Lanjutnya lagi. Ternyata benar, gedung perkantoran ini sudah sepi. Mereka lalu kembali berpagutan.
Jemari Santi dengan cekatan melepas kancing kemejanya. Lalu tangan Yusuf diarahkan ke buah dadanya yang kembang kempis karena nafasnya yang memburu. Santi menarik branya ke samping hingga payudaranya terlihat sangat menantang dengan puting yang mencuat ke depan seakan meminta untuk dihisap dalam-dalam. Yusuf seketika lupa akan istri & anaknya di rumah. Dia membungkukkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan payudara padat berisi itu, lalu dia mulai meremas, menghisap & mengulum puting susu serta payudara indah itu. Santi mendesah pelan di telinga Yusuf, membuatnya semakin bernafsu. Belum pernah selama hidupnya dia merasakan payudara senikmat ini.
Jemari Santi lalu bergegas melepas ikat pinggang & menurunkan celana yang dipakai Yusuf. Belum sempat lelaki itu bereaksi, Santi sudah bersimpuh di lantai. Dengan cekatan wanita itu mengeluarkan penis Yusuf dari balik boxernya, lalu mulai mengulum kepala penis & mengocok batang penis itu. Yusuf yang tak siap dengan serangan Santi hanya bisa berpegangan ke rak roti di belakangnya. Baru kali ini dia melihat seorang wanita dengan sangat bernafsu mengoral penisnya. Yusuf mendesah pelan menikmati rongga mulut Santi yang terasa cukup hangat di penisnya.
Santi merasakan penis Yusuf berkedutan di dalam mulutnya. Dia tahu sebentar lagi lelaki itu akan mencapai puncaknya. Kocokannya dipercepat & lidahnya dimainkan di bibir penis Yusuf, membuat tubuh lelaki itu bergetar saking enaknya. Yusuf mengerang panjang seraya menyemprotkan spermanya di buah dada montok Santi. "Banyak banget, mas. Suka deh toket Santi dipejuin gini" Ujar Santi pelan. Lalu dia membersihkan penis yang masih tegang itu dengan mulutnya.
Kembali Yusuf mendesah pelan. Tak hanya itu, sperma Yusuf diambil dengan jarinya lalu dimasukkan ke mulutnya kemudian ditelan. "Enak peju kamu, mas. Gurih" Ujarnya genit. "Ga jijik kamu, San?" Tanya Yusuf yang masih ngos-ngosan. "Ga ada dari mas Yusuf yang bikin Santi jijik. Semua Santi suka. Kali aja lewat mulut juga bisa jadi dedek bayi hihihi" Jawab Santi. "Ya mana bisa" Balas Yusuf serius. "Nah, itu tau. Mas tau kan harus keluarin di mana biar jadi dedek bayi hihihi" Goda Santi lagi. Yusuf mengangguk pelan. Senang sekali Santi melihat respon Yusuf. Lalu dengan telaten dia memakaikan kembali celana Yusuf & merapikan kemejanya.
Malam itu Yusuf pulang ke rumah dengan hati gundah. Dia telah menghianati istrinya. Tapi di di sisi lain dia sangat menyukai perlakuan Santi kepadanya tadi, ditambah dengan tubuh Santi yang tak pernah berhenti menghiasi otaknya. Sedangkan Santi malam itu pulang ke kosannya dengan hati riang. Usahanya menggoda Yusuf selama ini akhirnya mulai membuahkan hasil. Tak lama lagi dia pasti jatuh ke pelukanku, batinnya.
Keesokan paginya Yusuf tak bisa fokus bekerja. Di dalam otaknya hanya ada Santi. Bisa gila aku kalo gini jadinya, pikir Yusuf. Lalu di jam makan siang dia segera turun ke bawah menuju toko roti berharap bisa bertemu dengan Santi. Mungkin dengan begitu apa yang dia rasakan saat itu bisa terobati. Ketika dia sampai di toko roti tempat Santi bekerja, dilihatnya wanita itu sedang dikelilingi oleh teman-temannya & juga oleh manager toko. Mereka terlihat saling berpelukan & bersalaman. Ada apa ini, tanya Yusuf dalam hati.
"Eh, ada mas Yusuf. Tumben mas siang-siang ke sini. Biasanya makan di mall" Sapa Santi ketika melihat Yusuf terdiam di dalam toko. "I-iya .. Ini mo beli donat bulet sama susu .. Eh, bukan .. Maksudnya mauu .. Eeemmm" Yusuf tetiba tak tahu harus berkata apa. Dia masih penasaran atas apa yang tadi dilihatnya. "Kangen yang semalem ya, mas? Mau lagi?" Bisik Santi pelan sambil tersenyum genit. Respon Yusuf pun bisa ditebak, hanya menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Mmmh itu tadi ada apa?" Tanya Yusuf pelan. "Ooh, itu tadi Santi lagi perpisahan sama temen-temen. Kan hari ini Santi terakhir kerja di sini" Jawab Santi santai. Yusuf tertegun. Hatinya kecewa mendengar berita itu. "Mas mau perpisahan sama Santi juga ga?" Tanya Santi dengan senyum genitnya. "Berduaan aja" Bisiknya pelan. Yusuf mengangguk dengan senyum kikuknya. "Nanti WA Santi ya" Wanita itu lalu pamit karena harus melayani pelanggan. Yusuf pun ikut pergi sambil otaknya sibuk mencari alasan agar tidak dicurigai oleh istrinya.
Sorenya Santi menerima pesan berisi rencana malam itu. Yusuf pulang ke rumah dengan hati berdegub kencang. Belum pernah dia begini sebelumnya. Dia selama ini telah menjadi suami yang setia, tapi tidak lagi sejak semalam. "Bun, Ayah harus gantiin mas Fajar ikut konferensi besok pagi di kota selatan. Dia tiba-tiba sakit. Ayah pulang cuma mandi trus langsung berangkat" Ujar Yusuf ke istrinya. Untungnya Gendis tidak banyak tanya. Deg-degan Yusuf sedikit berkurang. Selesai beberes, Yusuf langsung pergi kembali ke kantornya guna menjemput Santi yang sebentar lagi akan menyelesaikan shift terakhirnya di toko roti yang sudah bertahun menjadi tempatnya bekerja.
Jam 9 lewat Santi datang, lalu mereka berdua segera pergi. "Kita ke mana, mas?" Tanya Santi sambil bersandar di pundak Yusuf yang sedang menyetir. "Mmmh tadi mas book vila di kota utara. Ga papa kan?" Jawab Yusuf. "Eciyeee beneran pengen berduaan aja ya sama Santi" Balas Santi menggoda. Yusuf gelagapan tak tahu harus merespon apa. "Santi suka, mas. Ke mana aja asal sama mas, Santi ikut" Balasnya lembut lalu mengecup pipi kiri Yusuf. Di tol yang untungnya tak begitu padat itu Yusuf mempercepat laju mobilnya.
"Ga sabar mau cepet sampe ya, mas?" Bisik Santi di telinga Yusuf. "Santi kasih pemanasan dulu ya" Lanjutnya lalu menjilat daun telinga kiri Yusuf. Lelaki itu kegelian & hampir hilang kendali ketika dengan cepat tangan Santi membuka celananya lalu mengeluarkan batang penisnya yang sudah tegang dari tadi. Tangan kiri Yusuf dilampirkan ke pundaknya agar tangan lelaki itu bisa memainkan buah dadanya sebebas mungkin. Kesempatan yang tak mungkin dilewatkan oleh Yusuf. Baru pertama kali ini dia merasakan dioral & dikocok ketika sedang menyetir. Sayang, Santi tidak mengizikan spermanya keluar dulu, "Simpen dulu ya mas nanti keluarin di dalem".
Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam, mereka tiba di sebuah vila privat di kaki bukit. Baru saja mereka masuk kamar, Yusuf langsung memeluk & menciumi Santi. Tak ingin dia membuang banyak waktu. "Santi mandi dulu ya, mas. Kalo udah wangi bersih kan tambah enak" Ucap Santi manja. "Tapi mas udah ga tahan nih" Balasnya dengan muka memelas menahan nafsu. "Sabar, mas sayang. Santi aja sabar nungguin momen kaya gini bertahun-tahun. Pokoknya nanti mas ga akan kecewa" Ucap Santi lagi. Lalu dia pergi meninggalkan Yusuf yang sedikit frustasi karena nafsunya belum terpenuhi. Akhirnya waktu luangnya dia gunakan untuk menghubungi anak istrinya di rumah.
"Udah dulu ya, nanti ayah telepon lagi. Sakit perut nih" Ucap Yusuf & langsung menutup teleponnya. Dilihatnya Santi sudah selesai mandi & keluar dengan mengenakan lingerie hitam tipis yang memperlihatkan seluruh lekuk tubuh montoknya. Sekali lagi Yusuf menelan ludah melihat pemandangan indah di depan matanya. "Seksi banget kamu, San" Ucap Yusuf mengagumi keindahan wanita di depannya. "Mas juga ganteng" Balas Santi. Lalu bibir mereka bertemu. Lidah mereka saling berpagutan. Tangan-tangan mereka sibuk menjamah setiap inci bagian tubuh satu sama lain. "Cintai Santi malam ini, mas" Ucap Santi lirih di telinga Yusuf.
Wanita itu kemudian merebahkan tubuh sintalnya di atas ranjang. "Indah sekali tubuhmu, Santi" Ucap Yusuf kagum. "Malam ini Santi cuma milik mas seorang. Lakukan apa pun yang mas mau dengan tubuhku ini. Santi cuma minta satu, tanam benihmu di rahimku, mas" Bisik Santi manja di telinga Yusuf. "Kamu yakin?" Tanya Yusuf memastikan. "100%, mas. Mengandung anakmu adalah impianku sejak lama" Jawab Santi. "Hari ini adalah masa suburku. Benih cintamu pasti akan tumbuh subur di rahimku" Lanjut Santi lalu menciumi bibir Yusuf dengan penuh nafsu sambil mengeluarkan desahan manja.
Perlahan Yusuf meloloskan lingerie yang Santi kenakan hingga wanita itu kini telanjang bulat di hadapannya. Kulit putih bersihnya semakin terlihat bersinar di bawah cahaya lampu kamar. Vaginanya yang tanpa bulu itu terlihat sangat menggoda. Yusuf menciumi sekujur tubuh Santi. Wangi sabunnya membuat Yusuf semakin bernafsu. "Boleh?" Tanya Yusuf di depan selangkangan Santi yang terbuka lebar. Santi mengangguk manja sambil menggigit bibir bawahnya. Desahannya mengeras & tangannya sibuk mencengkeram seprai ketika lidah Yusuf menari-nari di bibir vaginanya. "Aaahhh enak masss .. Geliii .. Terus maaas .. Isep-isep klit Santi pleeease .. Bikin Santi melayang, maaas .. Aaaahh aaahhh" Desah Santi liar. Vaginanya terasa sangat basah.
Nafsu Santi semakin terbakar. Tak sabaran dia melepas kancing kemeja Yusuf lalu dilemparkan kemeja itu entah ke mana. Diciuminya dada bidang Yusuf sambil tangannya mencopot celana yang dipakai pria idamannya itu hingga kini dia berdiri telanjang dengan penis berdiri tegak mengacung ke arahnya. Baru kali ini dia melihat penis Yusuf dengan sangat jelas. Tak ada bulu kemaluan di selangkangannya. Tampaknya Yusuf juga sudah mempersiapkan diri untuk momen ini. "Malam ini, penis gantengmu jadi milik Santi ya, mas?" Pintanya manja. Yusuf mengangguk. Dibiarkannya Yusuf menjambak rambutnya ketika pria itu keenakan penisnya dioral oleh mulut Santi. "Gagahi Santi, mas" Pinta wanita itu manja.
Direbahkannya kembali tubuh Santi lalu diarahkan penisnya yang basah oleh liur Santi ke vaginanya. Dengan satu dorongan keras, penis Yusuf tertancap dengan sempurna. "Aaah hangat sekali vaginamu, Santiii" Desah Yusuf. "Penis mas enaaaak .. Besar & panjaaang .. Santi suka banget, mas" Balasnya. Yusuf menggoyangkan pinggulnya perlahan. Dia ingin merasakan batang penisnya mengoyak setiap senti dinding vagina Santi. Keduanya tak berhenti mendesah.
"Aaah Santi suka cara mas bercinta"
"Iya, sayang. Rasakan cinta mas ini yah aaahh"
"Santi mau bercinta terus sama mas Yusuuuf"
"Mas juga, sayang. Mas sayang Santii aaahhh"
"Santi cintaaa sama maaaas aaaah aahhh .. Sekarang entot Santi yang keras, maaaas .. Santi mau ngerasain memek Santi dientot kontol maaaas"
Yusuf mempercepat gerakan pinggulnya. Payudara montok Santi bergoyang naik turun. Yusuf langsung mencaplok buah dada padat berisi itu dengan mulutnya. Dengan nafsu membara dihisap & diremasnya kedua payudara itu bergantian. "Gede banget, sayaaang .. Memekmu sempit & angeeet .. Mas bisa ketagihan niiih aaaah" Desah Yusuf. "Iya maaas .. Santi juga nagih nih sama kontol gede maaas .. Ooohh ooohh" Desah Santi tak mau kalah. Pinggul Santi pun ikut bergoyang mengimbangi. Keduanya merasakan kelaminnya berkedut kencang tanda ingin segera melepaskan cairan kenikmatan.
"Keluar bareng ya, sayang" Ucap Yusuf. "Iya, mas. Sodok teruuus .. Tar lagi Santi sampe niiih .. Pejuin memek Santi, maaas" Pinta Santi manja. "Mas hamilin kamu, sayaaang .. Aaaah" Erang Yusuf panjang. Tubuh Santi bergetar hebat ketika cairan kewanitaannya keluar dibarengi dengan semburan sperma hangat di dalam vaginanya. "Oooh Santi suka, maaas .. Santi mau hamil anak mas Yusuf" Ucapnya lirih dengan mata terpejam. Lalu keduanya berciuman mesra dengan penis masih tertanam di vagina. "Rawat anak kita nanti ya, sayang" Ucap Yusuf membelai sayang rambut Santi. Wanita itu mengangguk senang. "Santi cinta mas Yusuf" Ujarnya pelan. "Mas juga cinta sama Santi" Balas Yusuf lalu mengecup lembut kening Santi.
Dengan tanpa sehelai benang pun, mereka berdua berpelukan erat sambil rebahan mengumpulkan tenaga. Dinginnya vila itu tak mereka rasakan karena kehangatan yang saling mereka berikan. "Mas beneran cinta atau karena tadi lagi keenakan aja?" Tanya Santi manja. "Jujur .. Beneran" Jawab Yusuf sambil membelai lembut rambut Santi. "Iiih seneng deeeh dengernya .. Makasih ya, mas" Balas Santi lalu mengecup mesra pipi Yusuf. "Mmmh kalo sama yang di rumah, enakan mana?" Tanya Santi lagi. Dengan menatap mata Santi dalam-dalam, Yusuf menjawab "100% kamu". Pelukan Santi pun bertambah erat.
"Santi udah lama tau suka sama mas. Tapi mas kayanya ga pernah sadar deh" Ucap Santi. "Apalagi waktu mas minta nomer WA. Seneng banget Santi. Kirain mau deketin. Eh ga taunya cuma mo mesen roti .. Sebel" Ujar Santi cemberut. "Maaf .. Mas mau deketin tapi malu" Jawab Yusuf. "Malu karena Santi cuma pegawai toko roti? Iya deh tau yang kerjanya di kantor" Santi tambah cemberut. "Iiih bukan gitu .. Sumpah" Jawab Yusuf mencoba meyakinkan. "Ga papa. Santi sadar diri kok. Dibanding mbak Gendis yang cantik & anggun itu, Santi mah ga ada apa-apanya" Ujarnya lagi. Yusuf sadar, percuma saja menghadapi wanita yang sedang cemburu. Dia hanya mengucapkan kata maaf lalu mengecup lembut kening Santi.
"Trus tau-tau denger mas pacaran sama mbak Gendis, bikin tambah gondok aja. Paling sedihnya pas denger mas & mbak Gendis mau nikah, Santi sampe nangis-nangis tauu. Udah gitu pake acara ngundang. Dulu tuh rasanya pengen jambak mbak Gendis di pelaminan tau ga sih .. Hiiih" Ujar Santi kesal karena teringat masa-masa itu. Yusuf hanya membalas dengan pelukan hangat. Lumayan mengobati kekesalan Santi rupanya.
"Satu lagi nih yang bikin gedeg segedeg-gedegnya" Ujarnya lagi dengan nada kesal. "Mbak Gendis hamil trus anaknya cakep bangeeeet .. Sumpah Santi iri banget liatnya" Lanjutnya masih dengan nada kesal. "Iya maaf. Mas mesti gimana nih sekarang?" Tanya Yusuf bingung. Santi lalu menatap dengan raut serius, "Cerein mbak Gendis trus nikahin Santi".
Yusuf terdiam tak mampu berkata mendengar permintaan Santi. Keduanya terdiam. Lalu Santi tertawa terbahak-bahak memecah keheningan, "Becanda, mas ganteeeng hahahaha .. Kan Santi udah bilang dapet benihnya aja juga udah cukup kok" Ucapnya sambil membelai pipi Yusuf. "Dasar ya kamu .. Gemesin" Balas Yusuf lalu menggelitik pinggang Santi. "Tapi kalo orangnya juga mau, Santi pasti jadi wanita paaaaling bahagia hehehe" Lanjut Santi lagi. "Mmmh benihnya dulu aja ya" Tawar Yusuf. "Mana sini" Balas Santi cepat lalu merangkak turun ke arah selangkangan Yusuf.
Penis setengah tegang itu dikocoknya perlahan sampai benar-benar tegang. "Aash enak banget kocokanmu, Santii .. Mas belum pernah dikocok seenak inii aaahhh" Desah Yusuf keenakan. "Masa? Kalo kontolnya dijepit toket kaya gini pernah, mas?" Tanya Santi sambil menaruh batang penis Yusuf di tengah kedua payudaranya lalu dijepitnya dengan buah dadanya yang montok itu. Penis Yusuf yang besar itu kalah besar dari payudara Santi. Tapi kepala penisnya berhasil melewati gundukan dada padat berisi itu & Santi pun menjilatinya dengan rakus. "Aaah lembut sekali toket gedemu, sayaaang .. Mas sukaaa iiissshh" Desah Yusuf lagi. "Oiya? Yang di rumah ga bisa ngejepit kaya gini ya, mas?" Sindir Santi menggoda. "Ga bisa, sayaang .. Toket dia kecil ga bisa jepit kontol mas kaya toket kamuuu" Yusuf mengakui perbedaan yang sangat signifikan itu. "Mas lebih suka toket gede kamu, sayaaang .. Enaaak aaaahhh" Desah Yusuf lagi. Santi pun semakin bersemangat mengocok penis pria pujaannya itu dengan dadanya yang aduhai.
"Santi di atas ya, mas" Ucap wanita itu sambil bersiap memasukkan batang penis yang tegang itu ke vaginanya. "Sepongin dulu dong .. Mas kangen mulut hangat kamu, sayang" Pinta Yusuf. Permintaan itu dipenuhi. Santi kini sibuk mengulum dengan rakus sampai berisik batang penis Yusuf. Lelaki itu mendesah liar. "Enak kontol mas?" Tanyanya. "Bhaaah ngheettt" Jawab Santi dengan penis yang masih memenuhi mulutnya. "Santi udah boleh genjot kontol mas belum? Udah gatel banget nih memek Santi, maaas" Rengek Santi manja. Yusuf mengangguk. Mereka berciuman panas dulu sebelum vagina basah itu merasuki batang penis yang juga becek oleh liur.
Santi mengerang panjang ketika penis Yusuf merasuk ke dalam vaginanya. "Ooo yeaaah enak kontol kamu maaas .. Memek Santi keenakan nih masss" Desahnya. "Kontol mas juga keenakan, sayaaang .. Memek kamu gurih bangeet" Balas Yusuf. "Iya dong maaas kan Santi rawat khusus untuk mas Yusuf seorang .. Ayo mas nikmati tubuh Santi ini .. Santi milikmu, maaaass .. Aaaahhh" Desah Santi keenakan.
Kedua insan yang sedang mabuk kasmaran & terbakar nafsu itu saling memberikan kenikmatan. Tubuh sintal Santi bergoyang maju mundur. Pahanya menjepit pinggul Yusuf. Kepalanya menengadah ke langit-langit kamar. Setiap sodokan kepala penis Yusuf yang panjang itu menyentuh dinding rahimnya, dia merasa seperti terkena strum tegangan tinggi. "Aaaw ngentotin laki orang enak bangeeeet .. Kontolnya sedaaap aaaww" Racaunya liar. Yusuf terpana melihat tingkah liar Santi. Bahkan istrinya belum pernah berlaku seliar itu.
Santi melonggarkan jepitan pahanya lalu kedua paha putih mulus itu dibukanya lebar-lebar hingga Yusuf bisa melihat dengan jelas batang penisnya keluar masuk vagina Santi yang bertambah becek. Yusuf mengarahkan jempolnya ke klitoris Santi yang menonjol keluar lalu digesek-geseknya klit itu. Santi semakin liar. "Aaaww enaaak .. Mas Yusuuuf .. Pinter banget kamu, maassss .. Santi mau keluaaaarr aaahhhh" Desahnya. "Barengan ya sayang" Ajak Yusuf. "Iya maaasss .. Angetin memek Santi pake peju maasss .. Bikin Santi bunting maaasss .. Santi mau mengandung anakmu maasssss .. Ayooo cepeeett aahhhh" Santi semakin meracau tak karuan. Keduanya berpelukan erat. Selangkangan mereka saling beradu. Lalu erangan panjang keluar dari mulut mereka mengisi tiap sudut kamar. Setiap semburan sperma terasa seperti setruman hangat.
Yusuf memeluk Santi erat. Penisnya terasa seperti digigit-gigit oleh dinding vagina Santi. Puluhan juta sel spermanya telah dia kirimkan ke rahim Santi di mana sel telurnya menunggu untuk dibuahi. Yusuf merasakan ada tetesan air di pundaknya. Ketika ditengok, dilihatnya air mata Santi tumpah.
"Kamu kenapa, sayang? Mas ada salah? Maaf ya" Ucapnya lembut sambil mengusap pipi Santi. "Sebeeel!" Ucap Santi kesal lalu memukuli dada Yusuf. "Sebel kenapa?" Tanya Yusuf bingung. Baru saja mereka berdua sampai ke puncak kenikmatan bersamaan. Apa lagi ini, tanyanya dalam hati. "Mas Yusuf enak bangeeet .. Santi sebel soalnya mas Yusuf bukan punya Santi .. Hiks hiks" Lanjutnya sambil cemberut manja menahan tangis. "Ya ampun, sayaaang .. Kan malam ini mas punya kamu seperti kamu adalah milik mas .. Iya kan?" Yusuf mencoba menenangkan. "Tapi besok-besok? Sebel ih yang bisa nikmatin malah si Gendis tepos toket kecil itu .. Keseeel!" Santi mencoba menahan agar tak teriak keras. Yusuf memeluk wanita yang terbakar cemburu itu erat sekali.
"Kamu sadar ga sih kalo mas suka salting kalo ada kamu?" Tanya Yusuf. Santi tidak menjawab. Dia hanya memeluk badan Yusuf erat seakan tak rela melepasnya. "Apalagi kalo kamu udah mulai goda-godain" Lanjutnya lagi. "Pengennya tuh meluk kamu trus mas kitik-kitik abis iseng banget sih goda-godain mas mulu" Yusuf terus bercerita. "Tapi kenapa ga meluk?" Tanya Santi yang akhirnya merespon. "Ga berani lah .. Takut ditabok" Jawab Yusuf. "Iyalah Santi tabok" Balas Santi. "Tuh kan bener" Yusuf merespon. "Tabok muka mas pake nenen Santi" Ujar Santi genit lalu dia mengarahkan bongkahan payudara bulatnya itu ke wajah Yusuf & dia gesek-gesek wajah tampan itu dengan buah dada besarnya.
Tawa Yusuf lepas meski suaranya terbenam oleh payudara padat & puting Santi yang mancung. Wanita itu tersenyum senang lalu kembali memeluk pria yang dicintainya sepenuh hati itu. "Mas juga cemburu tau sama calon suami kamu. Beruntung banget dia dapetin kamu" Ujar Yusuf sambil menatap tubuh telanjang Santi. "Salah mas sendiri lebih milih si kutilang darat .. Huh!" Balas Santi pura-pura kesal. "Nyesel kaaan lebih enak Santi daripada dia" Lanjutnya lagi. "Ya jauh lah lebih enak kamu ke mana-mana, Santi sayaaang" Balas Yusuf lalu menciumi bibir Santi gemas. Senang bukan kepalang wanita itu dibuatnya.
"Mas ga perlu cemburu sama calonku. Justru dia yang harusnya cemburu sama mas kalo dia tau aku cintanya cuma sama mas" Ujar Santi sambil membelai lembut rambut Yusuf. "Terus kenapa kamu mau dinikahin?" Tanya Yusuf. "Abis yang tadi bilang cinta ke Santi juga udah nikah duluan sih sama yang lain" Sindir Santi manja. Yusuf kembali tertawa. "Ih kesel malah ketawa .. Tau ah!" Ucap Santi kesal lalu melepaskan pelukannya & membelakangi Yusuf.
"Maaf ya, calon mama anakku" Ujar Yusuf sambil memeluk Santi dari belakang & mengelus lembut perut wanita itu. "Bilang apa tadi?" Tanya Santi masih dengan nada kesal. "Mamanya anakku" Bisik Yusuf lembut di telinga Santi. Wanita sintal itu langsung balik badan & memeluk erat tubuh Yusuf. "Aku cinta kamu, mas .. Banget" Ucapnya lirih. "Mas juga, sayang" Balas Yusuf. Keduanya lalu berciuman mesra sekali.
"Trus yang di rumah gimana?" Tanya Santi setelah mereka puas berciuman. "Tuh, nanya-nanya tar malah kesel sendiri" Balas Yusuf. "Yaudah sih jawab aja. Tar anaknya Santi buang nih" Santi pura-pura mengancam. "Eeeh jangaaan .. Jangan ya, mama sayang" Yusuf mencoba menenangkan. Santi tak bisa menahan senyumnya ketika Yusuf meyebutnya mama. "Pengen ya mas bikin Santi hamil? Suka liat Santi hamil anak mas?" Tanya Santi. "Bangeeet" Jawab Yusuf lalu mengecup lembut bibir Santi.
"Yang di rumah udah ga mau punya anak lagi" Ujar Yusuf pelan lalu merebahkan kepalanya ke bantal. Matanya menatap langit-langit kamar. Ada kesedihan di balik kalimat tadi & Santi bisa merasakannya. "Katanya biar sayangnya ga terbagi karena dia juga anak tunggal" Lanjutnya. "Kan mas juga anak tunggal" Potong Santi. "Iya, makanya mas tau gimana sepinya ga ada sodara di rumah. Mas tuh pengen punya anak banyak biar rumah selalu rame" Ujarnya lagi. "Udah. Mas tenang aja. Kalo si kerempeng itu ga mau kasih mas anak, Santi yang bakalan kasih mas anak. Sebanyak yang mas mau" Ujar Santi. "Heran Santi ada cewe sebego dia. Dikasih benih bagus malah ga mau" Lanjutnya dengan nada kesal.
Yusuf senang bukan kepalang mendengar respon Santi barusan. "Anak-anak kita pasti csntik kaya kamu" Ucap Yusuf. "Atau ganteng kaya papanya" Balas Santi. "Mamanya juga pasti tambah cantik kalo lagi bunting. Tambah semok. Tambah montok" Lanjut Yusuf. "Santi mau, mas. Ga sabar mau cepet hamil anak kamu" Ucap Santi manja. "Anak kita, sayang" Balas Yusuf dengan senyuman. Santi memeluk tubuh Yusuf erat.
"Mas .. " Panggil Santi. "Ya, sayang" Jawab Yusuf. "Mau .. " Pinta Santi manja. "Yuk .. " Ajak Yusuf. "Tapi Santi maunya bercinta, mas .. Santi mau anak kita dibuat dengan cinta, bukan cuma pake nafsu" Pinta Santi lagi. "Mas suka itu" Jawab Yusuf.
Tak ada kata-kata kotor kali ini, hanya kata-kata cinta yang terlontar dari mulut kedua manusia yang dimabuk kepayang ini. Tak ada ciuman, kuluman, hisapan & remasan liar penuh nafsu. Hanya ada desahan lembut & ciuman hangat efek dari goyangan pinggul yang pelan tapi bertenaga.
"Cepetin, mas" Pinta Santi manja. Yusuf mempercepat sodokan penisnya. Vagina Santi basah kuyub dibuatnya. Keduanya merasa puncak kenikmatan sebentar lagi akan mereka raih bersama. "Aaaah mas cinta kamu, Santiiii" Erang Yusuf sambil penisnya menyemprotkan sperma kental untuk ketiga kalinya di vagina itu. "Santi juga cinta mas Yusuuuuuuf aaaahhhh"
Keduanya lalu terkapar tak berdaya. Senyuman tersungging di bibir mereka. Mata mereka terpejam menikmati sisa-sisa persetubuhan tadi. Lalu keduanya berpelukan dengan mata terpejam. Mereka pun tertidur.
Esok paginya Santi terbangun tanpa Yusuf di sampingnya. "Maaas .. Kamu di mana?" Tanyanya dengan suara agak keras. Tidak ada jawaban. Tetiba Santi mendengar suara derap langkah. "Pagi, sayaaang .. Sarapan dulu yuk" Ajak Yusuf. "Santi kira mas pergi ninggalin Santi sendirian di sini" Ucap Santi manja sambil memeluk lengan Yusuf. "Ih, jelek banget sih pikiran kamu .. Rugi banget mas ninggalin cewe semok kaya kamu hehehe" Balas Yusuf sambil menowel hidung Santi.
"Waaaw floating breakfast nih, mas .. Makasih yaaa" Ucap Santi senang lalu mengecup pipi Yusuf. Di kolam privat di dalam vila mereka sudah tersedia 2 menu sarapan mewah yang mengapung di kolam. Yusuf menyopot boxer yang dia kenakan lalu menyeburkan dirinya yang bugil ke dalam kolam. "Ga dingin, mas?" Tanya Santi penasaran. "Hangat .. Seperti cintamu hehehe" Jawab Yusuf. "Wooo udah bisa gombal sekarang ya" Balas Santi. Lingerie semalam dia lepaskan lalu ikut masuk ke dalam kolam.
Dengan lahap mereka makan sambil bersenda gurau bermain air. Sesekali mereka berciuman sambil saling meraba tubuh telanjang mereka. "Badan mas bagus banget .. Santi suka liatnya" Ucap Santi memperhatikan setiap lekuk tubuh tegap & bersih milik Yusuf. Meski semalaman mereka bercinta habis-habisan, fokus Santi tidak pada bentuk tubuh pria pujaannya itu. Dia tahu Yusuf memiliki tubuh atletis & baru sekarang dia benar-benar bisa melihatnya tanpa sehelai kain menempel di tubuh Yusuf.
"Oya? Trus kalo suka mau ngapain?" Tantang Yusuf yang berdiri tepat di depan Santi. "Mau Santi pake tiap hari. Santi peres pejunya sampe kering cuma buat Santi biar si tepos itu ga kebagian" Jawab Santi sambil mendekatkan wajahnya ke muka Yusuf & tangannya memegang batang penis pria itu. "Buktiin dong" Tantang Yusuf lagi. Lalu Santi menyuruh Yusuf untuk duduk di pinggir kolam sedangkan dirinya tetap di dalam kolam. Dibuka kaki Yusuf lalu dia mulai mengoral sambil tangannya meraba-raba dada bidang pria itu.
Yusuf mendesah keenakan. Wanita yang dulu hanya ada dalam bayangannya itu kini benar-benar nyata sedang memberikannya kenikmatan lewat kocokan tangan & kehangatan mulutnya. "Enak, mas? Suka Santi sepong gini? Yang di rumah ga bisa ya?" Tanya Santi. "Aahh iya sayang .. Dia ga pernah sepongin mas .. Cuma kamu sayang yang bisa nyepong seenak ini .. Terus sayaang aaahhh" Desah Yusuf. "Bego banget tuh cewe, kontol seganteng & seenak ini ga dimasukin mulut" Balas Santi lalu kembali mengoral penis Yusuf dengan liar.
"Maass .. Santi sange nih jadinya" Ucap wanita itu manja. Yusuf mengangkat tubuh wanita itu dari kolam lalu didudukkan di pinggir kolam. Tangan Santi bersandar di lantai, kakinya dibuka lebar memberi jalan untuk Yusuf. "Ayo maaas .. Entotin Santi" Pintanya manja. Bagian kolam yang rendah itu ternyata pas sekali. Dengan kaki di dalam kolam yang hanya sebatas pahanya, Yusuf dengan mudahnya memasukkan penisnya ke vagina becek Santi. "Aaaww kontol mas gedeee .. Santi sukaaa" Desah wanita itu. "Nikmatin kontol mas, sayang .. Bikin kontol mas basah oleh cairanmu" Bisik Yusuf di telinga Santi membuat wanita itu semakin bergairah.
Tak henti-hentinya Santi memuji kepiawaian Yusuf dalam bercinta. Tangan Santi sibuk meraba-raba perut kotak-kotak Yusuf & tangan satunya lagi meremas payudara besarnya sambil dimainkan putingnya yang sudah tegak menantang itu. "Iiisshhh Santi bisa liat kontol gede mas nyodok-nyodok memek Santi .. Enak banget maaasss .. Kamu perkasa sekali aaahhh" Desahnya liar. Semua pujian itu membuat Yusuf semakin beringas menghentakkan penisnya dalam-dalam. "Mentok maaass .. Kontol mas panjaaang bisa mentokin ke rahim Santiii"
Yusuf menggesek-gesek klitoris Santi dengan jempolnya. Mulutnya menghisap puting mancung wanita itu dalam-dalam & tangannya meremas payudara montok itu dengan kasar. "Aaaww Santi suka dientot mas Yusuuuf .. Mas jago banget bikin Santi keenakaaan .. Ayo maaass bikin dirimu puas juga dengan tubuh Santiii .. Pejuin memek Santi, sayaaang .. Buntingin Santi, maaaasss aaahhhh" Desah Santi liar dengan erangan panjang. Matanya sayu mengharapkan segera disembur sperma hangat. "Aaahh ini sayaang .. Tampung peju mas di memek kamuuu .. Mas hamilin kamu, Santiiii aaaahhh" Erang Yusuf tak kalah panjang. Puluhan Juta sel sperma segar di pagi hari tersembur di dalam vagina yang berkedut kencang itu.
Yusuf menyandarkan kepalanya di pundak Santi. Nafas keduanya memburu. Sisa sperma hangat yang tak sanggup tertampung di vagina Santi menetes keluar & hanyut di kolam. Lalu keduanya tertawa senang. "I love you, mas Yusuf" Ucap Santi bahagia. "I love you more, Santi sayang" Balas Yusuf. "Mandi yuk" Ajak Yusuf. "Mandiin" Balas Santi manja. Sambil terus berpelukan & berciuman, mereka pindah ke kamar mandi. Tentu saja kegiatan mandi bareng itu diakhiri dengan persenggamaan liar hingga kamar mandi vila tempat mereka menginap itu porak poranda.
"Kita jalan-jalan ke kebun teh yuk" Ajak Yusuf setelah mereka berdua selesai berpakaian. "Ayo, mas" Jawab Santi antusias. "Tapi bra & celana dalem kamu dicopot dong, sayaang" Pinta Yusuf. "Mas Yusuf ih .. Nanti pentil Santi nyeplak dong. Udah tau pentilnya ngaceng mulu kalo ada mas" Tolak Santi. "Ga papa ya, mama sayang .. Kan katanya cinta" Bujuk Yusuf. Ah, lelaki ini tahu saja cara agar aku menurut, bantin Santi. Permintaan itu pun dikabulkan. Dibalik milkmaid dress putih bermotif bunga dengan belahan dada rendah & panjang di atas lutut itu tidak ada bra maupun celana dalam. Selama perjalanan, Santi merapatkan tubuh bahenolnya ke tubuh Yusuf. Tapi hal itu malah membuat putingnya yang tergesek dressnya sendiri semakin mancung tercetak dengan jelas.
Puas berjalan di kebun teh sambil bergandengan mesra layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk kasmaran, mereka kembali ke vila untuk bersiap pulang ke kenyataan hidup masing-masing. Tetiba hujan turun dengan derasnya sebelum mereka sampai di vila. Dengan tubuh basah mereka berteduh di sebuah gubuk. Dress Santi yang lepek itu membuat lekuk tubuh indahnya tercetak dengan jelas. Begitu juga perut kotak-kotak Yusuf tersembul dibalik kaos fit tipisnya.
Yusuf berjalan mendekat, "Indah sekali tubuhmu, Santi" Ucapnya. Mereka lalu berciuman hangat & lama-lama bertambah liar. Yusuf membalikkan tubuh Santi. Dia menurunkan celananya & mengeluarkan batang penisnya yang sudah mengeras. Lalu tubuh Santi dibuat sedikit menunduk & diangkat dressnya hingga bongkahan pantat putih mulus Santi terlihat. "Mas, jangan gila kamu .. Ini tempat terbuka" Wanita itu berusaha menolak. "Lagi sepi kok .. Sebentar aja .. Mas sange liat badan kamu yang semok" Bujuk Yusuf.
Tanpa permisi penisnya langsung ditancapkan ke vagina Santi yang masih kering itu. "Aaaaww sakiiiiit .. Pelan-pelan, maaasss" Rintih Santi. Yusuf tak mempedulikan rintihan Santi. Dengan kecepatan penuh dia menyodok-nyodok vagina Santi dari belakang. Dress bagian dada ditariknya kasar ke bawah hingga payudara putih bulat Santi menyembul keluar. "Maass udah masss di kamar ajaa .. Nanti keliatan sama oraang" Bujuk Santi tapi Yusuf yang sudah terbakar hawa nafsu terus menggenjot tubuh sintal itu. "Biarin aja ada yang liat .. Biar mereka iri liat mas lagi ngentotin cewe seksi hehehe"
Ucapan Yusuf barusan seperti bensin yang menyambar kobaran api di tubuh Santi. "Aahhh iya masss .. Mereka pasti iri liat kita ngentot enak gini masss .. Aaahh ahhh geli masss pentil Santi dipelintir kaya gituuu" Racau Santi. Melihat reaksi Santi, Yusuf langsung menyerang titik kelemahan Santi yaitu klitorisnya. Dengan tangan kirinya yang masih asik memainkan puting mancung Santi, tangan kanannya bergerilya di klitoris Santi yang menonjol keluar akibat sodokan buas penis Yusuf.
Tubuh Santi bergetar hebat. Rintihan kenikmatan keluar dari mulutnya. Lalu dia terjatuh & dari vaginanya tersembur air seni bercampur dengan cairan kental kewanitaannya membasahi tanah. Tak dipedulikannya lutut & tangannya yang berlepotan tanah merah. Air matanya tumpah, bukan karena sedih tapi karena saking nikmatnya digagahi oleh Yusuf. "Enak ya dikontolin di tempat kaya gini? Sampe basah itu memek & matanya hehehe" Ucap Yusuf. Santi hanya mengangguk tak sanggup berkata-kata.
"Bajingan kamu, mas .. Enak banget kontol & entotan kamu .. Pokoknya mas harus tanggung jawab ya kalo Santi sampe ketagihan" Ujarnya lirih manja. "Giliran mas yang crot ya, sayang" Pinta Yusuf. "Iya, mas .. Crot yang banyak mas biar langsung jadi dedek bayi" Jawab Santi. Dengan pantat ditunggingkan, Santi membiarkan Yusuf menyetubuhinya dari belakang. Penis Yusuf terasa lebih nikmat dalam posisi ini.
Dari sisa tenaga yang ada, Santi mencoba menegakkan tubuhnya. Dressnya diangkat hingga perut putihnya terlihat. Tangannya mengelus-elus perutnya yang masih rata itu. "Aaaww dedeeek .. Mama lagi dientot sama papa kamu nih, sayaaang .. Kamu hati-hati ya di dalem perut mama soalnya papa kamu liar banget ngentotin mama, sayaaang aaahhh" Racau Santi. Yusuf pun ikutan mengelus perut Santi, "Memek mama enaaak .. Papa semprot lagi ya deek biar kamu cepet gedee" Ujarnya tak mau kalah. "Aaahh mama suka, papaaa .. Buruan crot sayang biar dedek bayi kita tambah gede .. Memek mama udah siap nampung niih" Pinta Santi manja. Erangan panjang & sodokan keras Yusuf mengantarkan sperma putih gading nan kentalnya ke dalam rahim Santi.
"Mas liar banget ih" Ucap Santi selesai membereskan sisa-sisa pertempuran mereka. "Kamu yang bikin mas jadi kaya gitu" Balas Yusuf. Santi tersenyum bangga. Sambil menunggu hujan reda, mereka bersandar di tembok gubuk. "Mas boleh nanya?" Selidik Yusuf. "Santi tau mas mau tanya apa. Mas mau tau nanti kalo Santi hamil itu anak siapa kan?" Balas Santi. Yusuf mengangguk. "100% anak kita, mas" Lanjut Santi. "Santi ga pernah melayani calon suami Santi di ranjang, bahkan dari sejak pacaran. Santi bilang kalo mau ya harus nikah dulu. Makanya baru pacaran sebentar dia langsung ngelamar & ajak nikah" Jelas Santi. Ya iyalah, siapa juga yang tahan liat bodi bahenol kaya gitu, batin Yusuf.
Mereka lalu kembali ke vila meski hujan masih rintik. Selesai beberes, mereka lanjut makan siang & kembali ke kota. Selama perjalanan pulang, tak ada satu kata pun yang keluar. Santi hanya memeluk lengan Yusuf erat-erat seakan tak rela melepaskannya. Begitu pula Yusuf yang berkali-kali mencium mesra kepala Santi. Dia tak ingin ini semua segera berakhir.
"Terima kasih buat semuanya ya, mas .. Santi seneng & bahagiaaa banget meski cuma sebentar. Santi ga akan pernah lupain & semoga mas juga sama" Ujar Santi mencoba tegar ketika mereka sampai di ujung jalan di mana Santi ngekos. "Santi cinta kamu banget, mas Yusuf" Ucapnya lirih. Air matanya menetes membasahi pipinya yang chubby. "Mas juga cinta kamu, sayang" Balas Yusuf membelai lembut wajah Santi. Ingin rasanya dia menahan Santi lalu pergi entah ke mana bedua saja, tapi Santi sudah kadung turun dari mobilnya & melangkah pergi. Air mata Yusuf pun ikut membasahi pipinya.
Berhari-hari sejak saat itu, hidup Yusuf & Santi menjadi tak tenang. Ingin sekali rasanya mereka bertemu walau sebentar tapi mereka tahu itu sulit, bahkan tak mungkin. Untuk mengirim pesan singkat pun terasa berat karena mereka berpikir tidak ingin mengganggu ketika sedang bersama pasangan masing-masing. Setiap malam, Yusuf menatap bulan berharap Santi juga melihat bulan yang sama, begitu pula Santi di tempat lain.
"Loh, kok ayah belum siap-siap? Kan kita mau ke akadnya Santi. Liat tuh anaknya udah siap dari tadi. Jangan sampe telat ah, ga enak kalo ganggu prosesinya" Ujar Gendis melihat suaminya masih duduk di sofa kamar. "Iya, bun" Jawab Yusuf pendek. Hatinya hancur menyadari wanita yang dicintainya akan menikah dengan lelaki lain. Tetiba hapenya bergetar. Dilihatnya nama Santi muncul di notifikasi. Segera dibukanya pesan singkat itu.
Wajah Yusuf langsung berubah melihat isi pesan yang hanya berisi foto sekali lihat. Ketika dibuka, hanya ada foto sebuah test pack dengan 2 garis biru. Santi hamil.
Di perjalanan, Yusuf hanya diam membisu memikirkan apa yang harus dia lakukan dengan informasi yang tadi dia dapat dari Santi. Begitu keluarga kecil itu tiba, proses akad nikah untungnya belum berjalan. "Sebelum akad dimulai, adakah dari hadirin sekalian yang keberatan dengan akan bersatunya kedua calon mempelai ini dalam ikatan pernikahan?" Tanya penghulu. Yusuf sedikit menegakkan tubuhnya, lalu ...
Menurut kalian, apa yang harus Yusuf lakukan?
Mengajukan keberatan lalu pergi berdua dengan Santi entah ke mana meninggalkan semua orang? atau
Kembali duduk & membiarkan Santi dinikahi pria lain yang akan menjadi ayah dari janin yang sedang dikandung oleh Santi?
5375Please respect copyright.PENANAOHhYCPhYDw
5375Please respect copyright.PENANA0mxdRe8akI


