Semenjak hari pernikahan aku tinggal di rumah suamiku yg baru, Pak Agung, hanya berdua dengannya. Aku terbangun dari tidurku, mendapati hari sudah mulai senja, sinar matahari yg teduh menerobos melewati jendela kamar kami. Disampingku masih tertidur Pak Agung, dengan mengenakan kaos singlet dan celana pendek.
engan gugup. Beliau hanya tersenyum, menyaksikan aku yg kikuk sampai lupa menyebutnya dengan sapaan mas. Memang setelah menikah rasanya lebih nyaman dengan sebutan mas, meskipun beliau tak mempermasalahkannya.
1758Please respect copyright.PENANA127pTMdDjP
Belum berhenti rasa kikukku, tangan beliau tiba-tiba berpindah menangkup kedua buah susuku yg menantang itu. Kurasakan putingku mulai mengeras karena rangsangan beliau di perut dan segala pujiannya tadi. Aku mendesah ketika jari-jarinya yg besar memijit putingku dari luar,
“aahhhhhhh, mas…” Beliau hanya diam sambil tersenyum.
Aku yg sudah keenakan dan merem melek harus menahan diri. Beliau tdk jadi meneruskan permainnya, rupanya ia begitu ahli dalam mengendalikan nafsu perempuan, pikirku
“Aku tak mandi dulu ya dik, biar segar, dan capekku hilang, nanti kita teruskan.” Ucapnya sambil mengecup pundakku dari belakang, beliau melangkah kekamar mandi.1758Please respect copyright.PENANAeynUDEBsTW
“Hufftttt, kenikmatanku tertunda,” bathinku..
Sambil menunggu Mas Agung selesai mandi. Aku sempatkan untuk mengeringkan rambut yg masih sedikit basah karena mandi tadi, sambil melihat pekarangan rumah dari jendela kamar. Entah kenapa, pekarangan rumah ini begitu indah dan asri, membuat hatiku menjadi tenang. Sampai tiba-tiba Mas Agung telah di belakangku.
“Hayo, ngelamun ya?” Sambil tangannya memelukku dari belakang.1758Please respect copyright.PENANA9u83KfTVN3
“Ahh, nggak kok mas,” jawabku sekenanya.1758Please respect copyright.PENANAd2FwdRA1vB
“Ayo kita mulai !”, ucapnya dengan antusias.
Beliau langsung menerkam susuku dengan kedua tangannya, diremasnya dengan perlahan, sambil bibirnya yg berkumis tebal mengulum kupingku. Akupun geli di buatnya. Tangannya kini tak lagi hanya meremas dengan perlahan, tapi di selingi dengan cubitan ketika menemukan putingku yg telah mengeras itu.
Tangan kirinya berpindah dan bergerilnya ke bawah, menyelusup dari belakang, dang bermain-main di belahan pantatku, sambil meremas-remasnya. Akupun hanya melenguh dibuatnya. Akupun tak mau kalah, dengan susah payah, tanganku yg tadinya memegang tangan Mas Agung yg meremasi payudaraku, berpindah kebelakang dan kutarik ikatan handuk yg dikenakannya. Jadilah beliau sekarang telanjang bulat di belakangku. Hingga kurasakan k0ntolnya menyentuh tangan dan bokongku..
“Ahh, kamu udah ndak sabar ya?” tanpa menjawab, akupun langsung menggenggam k0ntolnya itu dengan manja.
Ternyata k0ntolnya sudah sangat tegang. Ukurannya cukup besar dan panjang, tanganku agak kesulitan menggenggamnya.
“Ahhhh, dik Atik.” Beliau meracau ketika ku sentuh lubang kencingnya.
Karena terlalu asik bermain di belakang, aku tak sadar ternyata kembanku telah luruh sebagian, hanya tersangkut tangan beliau yg kini telah berpindah bermain di memekku. Payudaraku yg bergantung indah, dan menantang itu sekarang lebih leluasa untuk di remasnya. Jari-jarinya kadang berhenti untuk memilin dan menarik putingku. Menciptakan sensasi yg enak,
“Ahhhh, terusss masss”, desahanku lebih keras ketika jari tengahnya mulai menelusup masuk ke liang vagianaku, menggeseknya dengan perlahan.
Aku merasakah memekku telah mulai basah dengan cairanku sendiri, aku sudah tdk cukup kuat berdiri dengan tegak. Tangan beliau yg kanan berpindah ke mulutku, memasukkan jari telunjuknya ke mulutku. Akupun paham dan langsung mengulumnya dengan manja.
Dengan jari yg basah oleh air liurku, beliau mempermainkan putingku dengan intens. Memencet, memilinnya, cukup lama beliau mempermainkan putingku seperti itu, bergantian yg kiri dan kanan. Beberapa saat kemudian beliau berindah ke depan, beliau memagut bibirku dengan lembut dan rakus, kumisnya yg tebal itu begitu menggelitik bibirku. Cumbuan beliau turun ke dadaku, mula-mula hanya dijilatinya saja, namun kini sudah di lahap, nampaknya Mas Agung berusaha melahap seluas-luasnya. Kadang giginya mengenai putingku yg sudah sangat mengeras. Membuatku tambah mengerang kenikmatan. Cukup lama Mas Agung bermain dan menyedoti payudaraku dan putingnya.
“Mmmmbb, payudaramu enak sekali sayang, kenyal.” Gumamnya sambil terus menyenyot puting susuku.
Sesekali di gigitnya kecil-kecil putingku, dan dicupanginya payudaraku hingga menciptakan beberapa bekas kemerahan. Setelah cukup puas bermain di dadaku. Cumbuannya berpindah turun ke selangkanganku. Lidahnya dan kumisnya yg kasar itu begitu membuat kau melayg, hingga,
“maasssss, aku tak tahaaaaaaan laaagiii !” Akupun mencapai orgasmeku dengan dahsyat, orgasme yg tercapai tanpa penetrasi dari beliau. Hebat sekali Mas Agung, bathinku..
Akupun lemas tak berdaya, peganganku pada kusen jendela mulai tdk erat lagi. Mas Agung dengan paham langsung menangkap tubuh lemas ku yg telah terpuaskan dengan permainan jari dan mulutnya itu. Beliau kemudian membopongku ke tempat tidur dan merebahkanku di sana. Aku melihat beliau berdiri di samping tempat tidur, raut muka yg bahagia, dan kumisnya yg kembang kempis dan basah di beberapa bagian, mungkin terkena cairan cintaku tadi, pikirku.
Tubuhnya penuh keringat, membuatnya begitu menggairahkan. K0ntolnya kini masih belum tegak sempurna. K0ntol yg berukuran besar dengan panjang sedikit di atas rata-rata itupun seperti mengengangguk-ngangguk mendiami bulu kemaluannya yg tdk terlalu lebat. Dengan tenaga yg tersisa, akupun segera bangun dan menarik tubuh Mas Agung hingga terduduk di sampingku. Akupun segera mendorongnya hingga rebah di samping tempatku tadi.
“Sekarang giliranku Mas,” bathinku.
Akupun segera menciumi bibirnya dan bermain-main dengan kumisnya yg menggemaskan itu. Lidah kami saling bertaut, kami berciuman dengan panasnya. Tanganku pun tak tinggal diam, sambil meraba dadanya yg liat dan mempermainkan puting susunya itu.
Kini ciumanku berpindah ke dadanya yg berbulu lebat itu, aku jilati setiap bagian dada bidangnya itu, tak kulewatkan sedikitpun tubuh tegap dengan dada yg indah, berbulu, dan menggairahkannya. Sampailah akau pada puting susunya yg berwarna coklat muda, berdiri dengan kokohnya di bulu dadanya yg membelukar. Aku jilati dan aku emuti puting susunya, sambil sedikit menggigiti dan menarik-nariknya.
Rupanya beliau terangsang cukup hebat keperlakukan seperti itu. Kepalaku ditekannya sambil tangannya menyosongkan dadanya agar bisa lebih dalam akau mengenyotinya. Kini jilatanku terus berpindah ke bawah hingga ku temukan kejantanan beliau yg telah menantang. K0ntol beliau sesuai dengan tubuhnya, bersih, coklat kekuningan, dengan otot-otot yg sangat menonjol. Membuatnya menjadi sangat indah dan kokoh. Tanpa basa-basi lagi aku jilat lubang kencingnya. Beliau tersentak,
“aaaaaaaahhhhh”. Tangannya kini memegangi tanganku yg satunya yg dari tadi mempermainkan puting susunya tanpa bosan.
Aku semakin giat dan semangat mengulum dan menjilati k0ntol Mas Agung, sambil kusertai dengan menyedotnya sekuat tenaga agar beliau cepat keluar. Sesekali ku kulum sambil aku tarik kepala k0ntolnya yg menyerupai jamur itu dengan rakus. Akhirnya tak salah, lenguhan Mas Agung semakin keras, tangannya kini memegangi dan menenggelamkan wajahku ke selangkangannya, membuatku menelan lebih jauh k0ntolnya itu, meskipun tak sepenuhnya muat. Akhirnya muncratlah sperma Mas Agung ke mulutku,
“aahhh, sayanggggg, aku keluaaaarr…”1758Please respect copyright.PENANAj3z9bcLQCI
“Minum dulu mas..”
Aku membawakannya teh manis sebelum meneruskan permainan kami yg begitu hebat tadi. Sambil beliau meminum tehnya, aku duduk di sampingnya menunggu, sambil tak bosan-bosan tanganku merangkul punggungnya yg kokoh, dan membelai dadanya yg bidang dan berbulu lebat itu serta mempermainkan putingnya.
“Ahh segarrrr,” ucapnya setelah menghabiskan segelas teh manis buatanku.
Sambil beliau mengeluarkan ekspresi siap tempur, dengan kumis lebatnya yg mengembang. Akupun tertawa melihatnya. Tanpa basa-basi lagi beliau langsung merebahkanku, dan menindihku. Bibir kami berciuman dengan ganasnya, lidah kami saling melilit. Ciuman beliau turun ke payudaraku yg masih penuh dengan bekas air liur dan cupangannya tadi. Kumisnya yg tebal itu mencoba menggelitik dengan menggesek-gesekkan pada susuku. Mulutnya tak kuasa untuk membiarkan putingku terpampang begitu saja.
Dikulumnya putingku dengan gemas, sambil sekali-kali di sedotnya dengan kuat-kuat. Menimbulkan sensasi luar biasa ketika sedotan kuatnya itu beradu dengan rangsangan dari kumis lebatnya itu. Akhirnya beliau bangkit, memposisikan diri diantara selangkanganku, dibukanya kakiku untuk menciptakan ruang yg lebih luas. Kini k0ntolnya telah tegang kembali, siap untuk menyetubuhiku, memberikan kepuasan seksual lebih jauh.
Pada mulanya beliau hanya menggesek-gesekkan ujung k0ntolnya pada mulut memekku,
“masss, masukkkinn, aku sudahhh tak tahannn,”
Ceracauku menahan nafsu yg sudah mencapai ubun-ubun.. Beliau hanya tersenyum menyaksikan aku begitu gelisah tak sabar menanti kan batang nya itu masuk ke dalam liang memekku. Akhirnya beliau memasukkan sedikit demi sedikit.
“Ahhh”, aku menggigit bibir bawahku sambil menahan sedikit rasa sakit.
Mungkin karena telah cukup lama liang kenikmatan ini tak menerima tongkat pemuas, pikirku.
“Arrgghhh, punyamu sempit sekali dik”. Beliau berhenti sebentar untuk mengambil nafas, dan membiarkanku terbiasa dengan k0ntolnya yg besar itu.
Dengan penuh semangat, Mas Agung terus mengayunkan pantatnya ke depan, mendorong kejantanannya agar lebih masuk ke dalam.
“Ahhhh, desahnya, Begitu legit”, ceracaunya. Akhirnya k0ntol Mas Agung benar-benar terbenam seutuhnya dalam liang kewanitaanku.
Rasanya penuh sesak, dan begitu mengganjal di bawah sana. Beliau membiarkan k0ntolnya terbenam sepenuhnya di dalam memekku, sambil tangannya meremasi payudaraku.
“Ahhh, dik, sempppit sekali memekmu ini”. Beliau mulai mengayunkan pantatnya maju mundur, batang itupun mulai ke luar masuk liang kewanitaanku dengan lebih lancar sekarang.
Semakin cepat, dan semakin cepat mas Agung menggenjotku, bagai tak kenal lelah, kuat sekali stamina Mas Agung, pikirku. Aku hanya mendesah dan menjerit kecil sambil menggigit bantal. Staminaku pun rasanya seperti terkuras, di genjot habis-habisan oleh Mas Agung, tangannya yg kekar itu kini bertumpu di samping tubuhku, kadang meremasi susuku dengan gemasnya. Akupun tak tinggal diam, aku remasi dada Mas Agung, aku tarik-tarik putingnya, aku belai dadanya yg berbulu yg meneteskan keringat pada tubuhku dikarenakan genjotannya yg semakin keras.
“Massssss, aku keluarrr”. Aku berteriak tertahan, sambil tanganku merangkul lehernya. Hingga tubuhnya itu ambruk, lengket menimpa tubuhku.
1758Please respect copyright.PENANAYZe54qgmQC
Tubuh kami yg penuh dengan peluh pun berpelukan dengan eratnya. Dadanya yg berbulu begitu menggelitik ketika bergesekan dengan payudaraku. Orgasme kedua yg hebat telah aku alami, dan Mas Agung sepertinya belum apa-apa. Dengan sabar dan telaten beliau membiarkanku menikmati gelombang orgasmeku, mendiamkan posisi berpelukan kami.
Sesaat setelah merasa telah cukup, Mas Agung bangkit dan menciumi ku, dari bibir, hingga payudara ku yg montok itu kembali di susunya. Setelah birahiku sedikit bangkit dan aku telah siap, Mas Agung merebahkan tubuhnya disampingku. Rupanya beliau begitu telaten, tdk egois dengan memaksakan pemuasan nafsunya, tapi dengan sabar menungguku hingga siap, dan birahiku timbul kembali.
Mas Agung mulai memasukkan k0ntolnya dari arah samping, dengan aku yg masih rebah dengan telentang. K0ntolnya yg masih kokoh itupun menerobos memekku dengan sangat mulus karena melimpahnya cairan cinta yg baru aku keluarkan tadi. Beliau menempatkan kaki kananku di di atas pinggangnya. Tubuhnya sedikit miring dan mulai meggenjotku dari samping dengan perlahan, kemudian semakin cepat. Hanya desahan yg mengiringi sodokannya, aku hanya merintih kenikmatan sambil berpegangan pada tangan kekar beliau yg berpegangan lengan kiriku.
“Ahhh, enak maaas”. Kadang tangannya tak lagi berpegangan pada lenganku, tapi pada payudaraku, sambil meremas-remasnya.
Kini Mas Agung mencabut k0ntolnya yg mengkilat dan masih tegang itu, sambil memintaku berganti posisi merangkak. Dengan sigap Mas Agung menyodokkan k0ntolnya dengan cepat, bahkan sangat cepat, hingga terdengar nyaring bunyi kecipak benturan antara buah zakar dan kulit pahaku. Juga benturan kulitnya dengan pantatku.
Terasa sekali k0ntolnya masih keras, dan staminanya masih sangat kuat. Dengan cepat beliau mencabut k0ntolnya, dan memposisikan diriku telentang. Beliau lalu menubrukku dan memasukkan k0ntolnya dari arah depan. Mirip posisi yg pertama tadi, hanya saja kini tubuhnya sepenuhnya ambruk menimpa tubuhku. Tubuh kami lekat satu sama lain karena keringat yg cukup banyak. Mas Agung begitu cepat memompaku dengan tongkat kokohnya itu.
“Mas, aku mau saaampppaiii.” Aku meracau, berteriak tertahan.1758Please respect copyright.PENANAMXizAY9aEx
“Bareng dikkk, aku juga mau keluarrrr..” Kurasakan k0ntolnya mulai berkedut-kedut.1758Please respect copyright.PENANA7syaIk5jNR
“Ahghhghh, dik, aku mau keluarrrr…” Dengan sodokan yg lebih cepat dan keras, k0ntol Mas Agung seperti mencapai rahimku.
Akupun meracau, mendesah dengan keras, merasakan orgasmeku akan datang lagi.
“Aghghghhg, aku keluaaaarrrr.” Keluarlah cairan orgasmeku yg ketiga kalinya bersamaan dengan orgasme dahsyat Mas Agung. Di tembakkannya air mani yg begitu banyak bebarengan dengan cairan cintaku. Membuat selangkanganku begitu becek, sampai-sampai meluber ke pantat dan mengenai lubang anusku.
Sungguh persetubuhan ini begitu membuat tubuhku begitu terasa capek. Namun aku sangat puas dengan permainan yg begitu hebat dari suamiku ini. Setelah orgasme hebat tadi, kami masih saling berpelukan, tanpa merubah posisi tubuh kami, dengan Mas Agung yg masih menindihku. Beliau akhirnya mencabut k0ntolnya yg masih setengah ereksi dan menciumku dengan begitu hangat, dan merebahkan diri di sampingku.
“Ahhh, kamu hebat dik, vagianmu begitu keset, sempit..” puja-puji keluar dari mulutnya.
Aku sekali lagi dibuatnya tersanjung. Tanpa menjawab, aku pun mencium bibirnya dengan begitu lama dan erat, menikmati kegelian oleh kumis lebatnya itu, sambil mengucapkan rasa terimakasih dan kebanggan atas Mas Agung di dekat telinganya. Beliau hanya tersenyum dan kemudian memelukku dengan erat. Aku rebahkan kepalaku di dadanya yg menggairahkan itu, sambil terus membelai bulu dan perutnya yg kokoh. Tak Lama ternyata aku tertidur. Aku sadar ketika Beliau membangunkanku untuk makan malam.
“Dik, ayo bangun dulu,” sambil membelai wajahku.1758Please respect copyright.PENANAvXKcpxUWAC
“Sudah jam 9 malam lho, kamu pasti lapar, ayo makan dulu,” sambil dikecupnya puting susuku dengan mesra.
Tak bisa dipungkiri, perutku memang sudah sangat lapar, sejak persetubuhan luar biasa berjam-jam yg baru aku alami dengan Mas Agung tadi. Kamipun makan bersama, karena begitu lapar, aku tak sempat memakai pakaianku kembali, membiarkan tubuhku telanjang bulat tanpai sehelai benangpun. Mas Agung hanya senyum-senyum genit memperhatikan aku makan dengan lahapnya dengan keadaan tubuh yg polos terbuka.1758Please respect copyright.PENANAehHEuYA5uI


