73Please respect copyright.PENANAnk8Hl9WjNh
Hujan turun seperti bilah tipis dari langit kelabu, menggores aspal Serpentina yang selalu bising bahkan di tengah malam. Lampu-lampu toko memantulkan cahaya di kolam udara, membentuk bayangan retak—persis seperti hidup Ara Salvatore sejak lima belas tahun lalu.
73Please respect copyright.PENANAkHUvTX3f2a
Ia berdiri di bawah naungan atap kafe kecil di distrik selatan, tangannya memegang secangkir kopi yang sejak tadi dingin. Dari jauh, sirene polisi melolong, tetapi tidak ada satu pun orang yang memperhatikannya. Di kota ini, suara seperti itu hanyalah musik latar kehidupan sehari-hari.
73Please respect copyright.PENANAhSiEOKKheI
“Ara.”
73Please respect copyright.PENANAiIewtnkMmE
Ia menoleh dengan cepat. Seorang pria tua dengan jas kusam mendekatinya. Paman Dario—mantan tangan kanan ayahnya. Guratan di wajahnya tampak semakin dalam, seolah-olah waktu tak lagi bersahabat.
73Please respect copyright.PENANA555csABXoT
“Aku sudah bilang, jangan muncul di tempat umum seperti ini,” bisik Ara sambil menarik tudung mantel.
73Please respect copyright.PENANAFEaGbt1WqE
"Kau pikir aku ingin? Keadaan memaksa." Nada suara Dario berat. “Ada masalah.”
73Please respect copyright.PENANAVwXe867hCn
“Aku tidak tertarik pada urusan keluarga. Sudah cukup.” Ara hendak pergi, tapi Dario menahan lengan bajunya.
73Please respect copyright.PENANAcsTMflPFYx
“Ini tentang adikmu.”
73Please respect copyright.PENANAP6AfGQ3Lp6
Darah Ara seakan membeku. "Leon? Ada apa di sini?"
73Please respect copyright.PENANARAyX1BW3Q4
Wajah Dario menegangkan. “Dia hilang.”
73Please respect copyright.PENANAntkszj99WQ
Untuk sesaat dunia terasa hampa. Hujan reda menjadi rintik-rintik halus, namun detak jantung Ara justru menggema keras.
73Please respect copyright.PENANAmHOu2gUKVZ
“Hilang bagaimana?” suaranya serak.
73Please respect copyright.PENANAgPMGPO2JeO
"Diculik. Kami menemukan simbol serpihan bulan. Tanda pecahan pecahan La Notte—Luna Spezzata."
73Please respect copyright.PENANATRIhqmDcpw
Ara menatap kosong. Tanda itu… simbol pengkhianatan. Faksi yang dulu membantai ayahnya.
73Please respect copyright.PENANAzcBB7U6WkZ
"Mengapa mereka mengambil Leon? Dia tidak ada hubungannya dengan mereka!"
73Please respect copyright.PENANAHHdsYW9r1r
“Karena kau.Karena darah keluargamu.” Dario menghela napas. "Dan mereka sudah mengirim pesan. Mereka ingin kau datang sendiri."
73Please respect copyright.PENANACVgj0Rw3Y8
Ara memukul meja besi di belakangnya. “Itu jebakan.”
73Please respect copyright.PENANAnHaBXYcA1K
“Tentu saja.” Dario mengangguk pelan. “Tapi kita tak punya pilihan.”
73Please respect copyright.PENANA2IbMkSypgE
Ara menatap hujan yang kembali membasahi jalan. Lima belas tahun ia berusaha keluar dari bayang-bayang mafia. Lima belas tahun mencoba hidup normal. Namun dunia gelap itu selalu tahu cara menariknya kembali.
73Please respect copyright.PENANAZiAQTKC48G
“Saya akan menghubungi pihak berw—”
73Please respect copyright.PENANAeys3p8T7L3
“Tidak!” Dario memotong dengan cepat. “Jika polisi tahu, Leon mati sebelum kita sempat mendekat.”
73Please respect copyright.PENANA1k1S18XUxi
Ara menggigit bibir hingga terasa asin darah. “Lalu apa yang harus kulakukan?”
73Please respect copyright.PENANAWM9JgSOCCs
Dario ragu. “Ada seseorang yang bisa membantu.”
73Please respect copyright.PENANA2xq1bm0LMy
Ara mengerutkan kening. “Siapa?”
73Please respect copyright.PENANA824SatB9Hx
Dario menelan ludah sebelum menyebutkan nama yang paling enggan Ara dengar.
73Please respect copyright.PENANAqysRuPXmo3
“Riven D'Amato.”
73Please respect copyright.PENANAum8hFXZV1L
Ara merasa udara di paru-parunya terhenti. "Tidak. Aku tidak akan pernah bekerja sama dengan keluarga itu!"
73Please respect copyright.PENANAMqrE9E0BtQ
“Riven bukan ayahnya.” Dario menatap ke dalam. "Dan dia kini pemimpin La Notte. Satu-satunya yang punya kekuatan menantang Luna Spezzata."
73Please respect copyright.PENANAOMhVgqm2zA
Ara membuang ke jalanan, mencoba menenangkan diri. Nama itu memancing kenangan pahit: malam kelam ketika ayahnya ditembak, dikhianati, darah, dan dinginnya keluarga D'Amato.
73Please respect copyright.PENANAcJtXlX233R
“Dia tidak akan membantuku,” gumam Ara.
73Please respect copyright.PENANAY7DXPoF7JY
“Dia akan,” jawab Dario. “Karena mereka menculik orang yang berada di bawah perlindungan La Notte. Dan itu pelanggaran langsung terhadap posisinya.”
73Please respect copyright.PENANAfvNPIYiKsF
Ara mengusap wajahnya. “Di mana dia sekarang?”
73Please respect copyright.PENANAN5HWI5tdXx
Dario menatapnya seolah bersiap menerima amarah Ara. "Di markas pusat. Dan dia menunggumu."
73Please respect copyright.PENANABGxzfm2QeE
73Please respect copyright.PENANA6HjOdoScTk
---
73Please respect copyright.PENANAO9f1kQO7BU
Markas utama La Notte tersembunyi di gedung tua yang tampak seperti bangunan biasa. Namun setiap jendela, setiap pintu, dan setiap bayangan terlindungi.
73Please respect copyright.PENANApaGPrB1WZr
Ara melangkah masuk dengan nadi berdebar. Dua pria berbadan besar memeriksa tasnya sebelum mengizinkannya lewat.
73Please respect copyright.PENANAifMTl6u7WW
Lorong panjang dengan dinding marmer hitam membawa Ara ke ruang utama. Ruang itu luas, hening, dan diterangi lampu keemasan. Di tengah ruangan, seorang pria berdiri membelakanginya, mengamati pecahan kaca jendela yang memantulkan cahaya kota.
73Please respect copyright.PENANAp0a4y185M4
“Riven,” panggil Ara dingin.
73Please respect copyright.PENANAnuFvtla6iN
Pria itu berbalik perlahan. Wajahnya tenang, rahangnya tegas, mata sehitam malam—mata yang bisa membaca ketakutan dan kengerian sekaligus. Usianya sekitar awal 30-an, namun auranya seperti seseorang yang sudah berjuang melawan dunia sejak lama.
73Please respect copyright.PENANAEBp7aOYdae
“Ara Salvatore.” Senyum tipisnya muncul, entah menyambut atau mengejek. “Sudah lama.”
73Please respect copyright.PENANAHf31nEi0EI
Ara tidak membalas senyumnya. “Langsung saja. Aku butuh bantuanmu.”
73Please respect copyright.PENANA49GZyHBFbU
“Aku tahu.” Riven mendekat, gerakannya ringan namun penuh kendali. "Leon diculik. Dan kau datang ke tempat yang selama ini kau hindari."
73Please respect copyright.PENANAxSRLkn2JzT
“Aku datang untuk adikku, bukan untukmu.”
73Please respect copyright.PENANAHttmkMMDFm
“Sama saja.” menatapnya menusuk. “Kau membawa konflik keluargamu ke pintuku.”
73Please respect copyright.PENANAxcAZTzXZ9J
Ara menggenggam tangan. "Riven, berhenti bermain kata. Jika Luna Spezzata berani menyerang anggota keluargaku, berarti mereka juga menantang posisimu. Kau lebih berkepentingan dariku."
73Please respect copyright.PENANAOe1jfxgQ34
Riven tersenyum sinis. "Benar. Dan aku akan menanganinya." Ia mendekati hingga jarak mereka hanya satu langkah. “Tapi semuanya punya harga.”
73Please respect copyright.PENANAbGlZ8uLXxS
“Berapa?” Ara melawannya.
73Please respect copyright.PENANAmCpkNRRBXd
“Kesetiaanmu,” bisik Riven. “Hanya sampai Leon ditemukan.”
73Please respect copyright.PENANA8n8asWCUPP
Ara setuju. Riven D'Amato bukan pria yang memberi bantuan tanpa memastikan dia menang di akhir permainan.
73Please respect copyright.PENANA686BQV70va
“Apa maksudmu?”
73Please respect copyright.PENANAGFJclNMpeA
“Kau akan bergabung denganku sementara waktu. Sebagai rekan.” Nada suaranya tenang, tapi ada ketegangan yang tersembunyi. "Aku butuh seseorang yang memahami pecahan itu dari luar lingkaranku. Kau punya Salvatore. Itu berarti kau punya sesuatu yang tidak dimiliki orang lain."
73Please respect copyright.PENANASDupcjaM0e
“Aku bukan bagian dari mafia,” desis Ara.
73Please respect copyright.PENANAKpKM5yhqKu
“Mulai malam ini, kau adalah bagian dari peperangan.”
73Please respect copyright.PENANAVMC6xS2o87
Hening terdiam. Ara menatap mata Riven—mata yang menyembunyikan sesuatu yang lebih dari sekedar ambisi. Mata yang seolah mengenal rasa hancur.
73Please respect copyright.PENANAcGsb7os83Q
“Jika aku menolak?” tanya Ara.
73Please respect copyright.PENANAWAjACruwHZ
“Leon mati,” jawab Riven tanpa ragu.
73Please respect copyright.PENANAUfzH7WQAIo
Dunia Ara seperti runtuh. Perlahan, dia mengangguk—bukan karena dia percaya pada Riven, tapi karena dia tak punya pilihan.
73Please respect copyright.PENANAE3OOVydW81
"Baik. Aku bekerja sama denganmu." Napasnya berat. “Tapi ingat, Riven—jika kau menyentuh keluargaku lagi, aku sendiri yang akan menghabisimu.”
73Please respect copyright.PENANAygZ0HXrGLR
Senyum Riven melebar tipis
73Please respect copyright.PENANA9baOSQi0U6
, samar-samar seperti bayangan.
73Please respect copyright.PENANAedQpVE0ZsC
“Kau boleh mencoba.”
73Please respect copyright.PENANAgnnRxXQRrs
Pada malam itu, tempat paling berbahaya di Serpentina pun dimulai.
ns216.73.216.67da2


