Saat membuka mata, aku melihat langit malam dengan bulan purnama bersinar di antara awan tebal. tubuhku berbaring di tempat yang keras dan tidak nyaman. Aku mencoba meraba salah satu benda di bawahku, dingin, bundar tapi penyok dan keras—kaleng bekas? Aku tidak tahu pasti. Pencahayaan redup, tak ada lampu jadi susah untuk melihat.
“Ugh... di sini bau busuk!” aku menggerutu, seketika menutup hidungku. Baunya seperti nasi basi yang dibiarkan berhari-hari dalam keadaan basah. Dari mana bau ini berasal? Sekitarku hanya terlihat bukit-bukit sampah menjulang di segala arah, bau yang menyengat, tak ada lampu ataupun tanda-tanda manusia. Terlihat seperti TPA. Kenapa aku bisa ada di sini? Kepalaku berdenyut ketika aku berusaha mengingat apa yang sedang terjadi.
Aku tidak tahan lagi, terlalu bau! Harus sesegera mungkin turun dari tumpukan sampah ini. Terdengar suara rongsokan bergesekan saat aku bergerak, lalu beberapa ikut runtuh. Sebuah tongkat baseball hampir menimpa kepalaku. Aku harus lebih berhati-hati sebelum tertimbun longsor sampah.
Setelahnya, aku berjalan perlahan di jalan setapak sememperhatikan jalan yang hendak dilalui. Waspada dengan benda tajam atau berbahaya. Tapi ini terlalu gelap bahkan dengan bulan purnama di atas kepalaku. Kakiku bergesekan dengan sampah plastik dan kertas yang berserakan. Samar-samar terdengar juga suara lalat beterbangan. Perutku terasa mual ketika aku menginjak sesuatu yang lembek dan agak basah. Sial, sepertinya aku menginjak makanan busuk.
Angin berhembus membawa bau anyir dari sampah organik yang membusuk bersama. Aku menggigil, refleks memeluk tubuhku. Tunggu... aku tidak memakai busana.
Sebenarnya apa yang sudah terjadi? aku panik melihat sekeliling. Sepi—Itu melegakan. Tidak ada orang yang melihatku telanjang. Aku bisa dikata gila kalau ada yang melihatku seperti ini. Dapat dibayangkan siaran televisi dengan gambar diriku yang panik, kalang kabut. “Berita terkini: Seorang gadis aneh ditemukan dalam keadaan telanjang di TPA.” Tidak, tidak, tidak. Aku butuh pakaian- ...secepatnya!
Aku memutuskan untuk terus berjalan. Rasanya ingin pergi dari sini secepat mungkin. Namun penerangan semakin gelap ketika cuaca mulai mendung. Ini membuatku semakin takut. Di setiap langkah hanya terasa membawaku tersesat semakin jauh. Kepalaku juga berdenyut dan perutku mual hanya dengan menghabiskan waktu lebih lama di tempat ini.
Aku mendekati salah satu tumpukan sampah. Menggali dan mencari apapun yang bisa aku kenakan. Tanganku mengambil barang yang terlihat menarik lalu melemparnya begitu saja saat mengetahui itu tidak berguna.
“Oh... Apa itu? Ternyata cuma kaleng bolong”
“bagaimana denegan ini? Cuma botol”
“Bola kempes? tidak bisa dipakai”
Aku terus bermonolog dan sesekali menggerutu ketika tidak menemukan apa yang aku mau. Sekali lagi melempar secara acak sambil terus mencari. Lalu aku menemukan sesuatu di bawah timbunan sampah. Jaket tebal—hijau dan lusuh dengan lengan sebelah kanan robek parah. “Ini lebih baik dari pada tidak sama sekali” aku tersenyum getir dan menghela napas.
jaket itu ku bersihkan dengan mengibaskan keras ke udara. Saat dipakai rasanya agak kurang nyaman. Masih terasa kotoran yang masih menempel. Ya sudah lah, yang penting ini hangat. Jaket itu kebesaran untukku hingga panjangnya sampai tepat di atas lututku. Aku merobek paksa lengan kanan jaket yang sudah diambang batas. “Lebih baik aku simpan dulu kain ini. Setidaknya sampai aku ada ide akan dijadikan apa”
Aku kembali melanjutkan perjalanan. Namun suasana terasa semakin sunyi. Lagi-lagi hanya ada suara langkah kaki yang bergesekan dengan benda-benda sekitar, beberapa suara serangga bertebangan, serta suara benda jatuh akibat tikus yang melintas. Rasa kesepian mulai menggerogotiku secara perlahan.
Kenapa hanya aku yang sendirian di sini?
Bagaimana aku bisa di sini?
Aku tidak ingat siapa diriku.
Kepalaku terasa sakit sejak aku bangun.
Dan aku… takut sendirian.
Tak sempat berlarut terlalu lama, tiba-tiba setetes air menimpa hidungku. Petir menyambar keras disusul dengan gerimis hujan yang semakin lama semakin deras. "Aku harus cari tempat berteduh" Batinku. Kemudian, aku berlarian berusaha mencari tempat perlindungan.
ns216.73.217.39da2


