Aku, Dodi, 37 tahun, adalah pegawai kantoran biasa yang hidupnya berputar di antara laporan bulanan, kopi instan, dan keluarga kecilku yang penuh warna. Rina, istriku, berusia 36 tahun, seorang wanita karir yang menjabat kepala staf di kantor sebelah, hanya dipisahkan oleh jalan kecil dan jendela kaca besar. Kami menikah 15 tahun lalu, saat aku masih cupu soal cinta dan Rina adalah bunga kampus yang bikin jantungan. Anak kami, Raka, sekarang kelas 2 SMP, lebih sering asyik dengan headset dan game online daripada ngobrol sama kami. Rumah tangga kami tidak sempurna, tapi penuh tawa, canda, dan sesekali cemburu yang bikin aku gelisah. Setiap pagi, kami sarapan bersama, Rina sibuk nyiapin bekal Raka sambil nyanyi lagu dangdut, sementara aku cuma bisa geleng-geleng kepala. Di rumah kecil kami di pinggiran Jakarta, hidup terasa sederhana tapi hangat, seperti kopi tubruk yang Rina buat tiap akhir pekan.
9449Please respect copyright.PENANAp7DXziMC61
Rina adalah wanita yang sulit dilupain, bahkan setelah 15 tahun menikah. Matanya lentik, seperti ditarik pelan oleh kuas seniman, selalu bikin aku lupa marah kalau dia lupa bayar tagihan listrik. Kulitnya putih mulus, wajahnya oval dengan senyum yang bisa bikin satpam kantornya lupa tugas. Tapi, yang bikin aku—dan sepertinya separuh pria di kantornya—gagal fokus adalah tubuhnya yang tetap aduhai meski sudah melahirkan Raka. Pinggulnya lebar, bergerak anggun saat dia berjalan, dan payudaranya, ya Tuhan, seperti pepaya lonjong yang seolah menantang gravitasi. Setelah menikah, Rina memutuskan memakai jilbab, katanya untuk menutup aurat dan mendekatkan diri pada Tuhan. Tapi, jilbabnya belum syar’i, katanya sih “pelan-pelan dulu, Dod,” sehingga lekuk tubuhnya masih terlihat jelas, terutama di bagian dada yang bikin aku deg-degan tiap dia keluar rumah.
9449Please respect copyright.PENANAuHmIsnpNkA
Awalnya, aku nggak terlalu mikirin soal jilbab Rina yang masih longgar itu. Dia bilang, dia ingin tetap tampil modis sambil belajar jadi lebih baik, dan aku cuma bisa mangut-mangut. Pakaiannya selalu rapi: blazer ketat, rok span selutut, dan jilbab yang kadang suka melorot kalau dia buru-buru. Aku ingat sekali, dulu, saat kami pacaran, Rina suka pakai kaus ketat dan jeans yang bikin aku susah tidur. Sekarang, meski berjilbab, auranya masih sama: menarik perhatian tanpa dia sadari. Di kantor, aku sering dengar desas-desus dari temen-temen soal betapa “elegan” penampilan Rina, tapi aku tahu kode “elegan” itu cuma eufemisme. Aku cuma bisa nyengir kecut, berusaha nggak overthinking, meski kadang otakku suka bikin skenario sinetron sendiri.
9449Please respect copyright.PENANAJb21byl95k
Kantor kami yang bersebelahan adalah anugerah sekaligus kutukan. Dari mejaku, aku bisa lihat Rina sedang rapat, ngobrol sama bawahan, atau cuma ngetik sambil nyanyi kecil. Dia tahu aku suka ngintip, makanya kadang dia sengaja ngelambai genit atau ngedipin mata, bikin jantungku kayak naik roller coaster. Tapi, kalau dia nggak ada di mejanya, otakku langsung lari marathon. “Ke mana dia? Rapat sama siapa? Kok lama?” Pikiran itu selalu datang, apalagi kalau aku lihat satpam kantornya, Mas Yanto, lelet banget buka pintu buat Rina sambil senyum-senyum. Aku tahu Rina setia, tapi cemburu itu kayak virus: sekali masuk, susah diusir. Dan jilbab longgar yang nggak nutupin lekuk “pepaya lonjong” itu nggak membantu sama sekali.
9449Please respect copyright.PENANAgai7K81JAR
Rina di kantor adalah bos yang disegani tapi disukai. Sebagai kepala staf, dia punya beberapa bawahan, pria dan wanita, yang selalu bilang Rina tegas tapi perhatian. Aku pernah dengar dari temen kantor Rina, seorang staf pria muda bernama Fajar, bilang kalau Rina “inspiratif” dan “penuh karisma”. Aku cuma bisa nyengir, dalam hati bertanya-tanya apakah “karisma” itu kode buat ngeliatin lekuk tubuh Rina. Bosnya, Pak Hadi, pria paruh baya yang sudah berkeluarga, juga sering memuji Rina di acara kantor, katanya “aset berharga”. Aku nggak mau curiga berlebihan, tapi tiap Pak Hadi ngomong gitu sambil senyum lebar, tanganku gatal pengen nimpuk stapler. Rina cuma ketawa tiap aku ceritain kekhawatiranku, bilang aku kebanyakan nonton drama Korea.
9449Please respect copyright.PENANAtwIjiqUlXo
Pagi ini, seperti biasa, aku dan Rina berangkat bareng naik motor, Raka sudah diantar ke sekolah lebih awal. Rina pakai blazer biru tua, rok span abu-abu, dan jilbab satin yang sedikit licin, bikin dia harus bolak-balik benahin posisinya. Di lampu merah, aku lihat beberapa pengendara motor melirik ke arahnya, dan aku cuma bisa menarik napas panjang. “Cantik banget, sih, istriku ini,” batinku, campur aduk antara bangga dan cemas. Sesampainya di kantor, kami pisah di trotoar, dia ngelambai sambil nyanyi pelan, “Cikini ke Gondangdia, aku suka sih apel dibandingkan anggur.” Aku cuma geleng-geleng kepala, tapi senyumku nggak bisa bohong: aku masih tergila-gila sama dia. Tapi, begitu masuk kantor dan lihat mejanya kosong dari jendela, perasaan cemburu itu mulai mengintip lagi.
9449Please respect copyright.PENANA0kBD49rK0S
Rumah tangga kami penuh warna, tapi jendela kantor ini yang bikin hidupku kayak sinetron komedi romansa dengan bumbu nakal. Rina, dengan jilbabnya yang belum syar’i dan pesonanya yang nggak pernah pudar, adalah bintang utama di hidupku—dan juga di kepala banyak pria lain, sepertinya. Aku cuma bisa berdoa, semoga cemburuku ini cuma jadi bumbu, bukan racun, buat cinta kami. Dan mungkin, besok aku harus beliin Rina jilbab yang lebih lebar—atau belajar buat lebih santai, seperti katanya. Tapi untuk sekarang, aku cuma bisa ngintip dari jendela, berharap dia cuma sedang ke toilet, bukan ngobrol sama Mas Yanto yang senyumnya terlalu lebar itu. Hidupku, penuh tawa dan deg-degan, berkat Rina, istriku yang terlalu cantik untuk ketenanganku.
ns216.73.217.22da2


