Kembali kupacu Revi montokku menuju toko Gajah Emas, Kurang lebih 1800 detik aku sampai di toko emas, tepat jam setengah tiga. Aku serahkan gambar cincin kepada penjaga toko. Penjaga toko memperlihatkan cincin yang sama dengan di gambar. Tinggal satu dan untunglah harganya tidak lebih dari 4 juta serta ukurannya cocok dengan pesanan ibu. Masih sisa 200rb lumayan. Tak lupa aku bungkus cincin itu dengan wadah cincin yang terbuat dari kaca, jadi tidak sisa.
Kuselesaikan semua urusan di toko kembali kupacu Revi, setelah Kurang lebih setengah jam lamanya aku di toko emas itu. Bergegas aku pulang kerumah, coba bayangkan dari rumah ke kampus 1 jam, dari kampus ke toko kurang lebih setengah jam, total perjalanan pulang memakan waktu 90 menit. Jam setengah lima aku sampai dirumah, kumasukan motorku ke garasi, garasi rumah tak terkunci bahkan tak tertutup mungkin sejak tadi pagi aku berangkat, kemudian kututup gerbang, dan masuk rumah melaui garasi sekalian mengunci pintu garasi.
"Sepi sekali, dimana Ibu? Kok wangi banget.... bathinku.
"Buuu....." dan tak ada jawaban.
Kulirik kamar ibu, tapi kelihatannya dikunci. Lebih baik aku mandi, dan segera mandi, istirahat. Rasa lelah perjalanan hari ini begitu meguras tenagaku. Hingga aku terlelap dan tidak ada satupun mimpi yang hinggap di dalam tidurku. Aku terbangun, kulihat jam dinding kamarku yang tampak buram menunjukan pukul 18.30. kulangkahkan kaki menuju kamar mandi dan bergegas kembali ke dalam kamarku. Kulihat telepon cerdasku berbunyi cicit cicit cuit cit cicit cuit. Kubaca sms yang masuk.
Dari : Ibu tercantik Untuk : Arya
Pakai pakaian yang rapi, Ibu tunggu di bawah nak.
Dari : Arya
Untuk : Ibu tercantik Inggih Bu siap, Mau kundangan ya bu?tunggu sebentar ya bu.
Tak ada balasan sms dari ibu, kupercepat berganti pakaianku. memakai baju rapi, dengan celana kain formal berwarna hitam. Bagian atas aku memakai baju berwana hitam dengan garis-garis vertikal tipis terukir dibajuku. Sambil berganti pakaian tak lupa aku menyulut rokok dunhill mild. Aku ambil parfum warna hitam bertuliskan 'kapak'. Ku semprotkan ke seluruh tubuh pakaian yang aku kenakan hingga kedalam mulutku. Wangi semerbak toko parfum membalut kegundahanku dan ketakutanku. Aku turun ke bawah menuju ke bawah, tak lupa kukantongi telepon pintarku dan cincin pesanan Ibu dengan penuh harapan kelakuanku dimaafkan olehnya. Hingga sampai dibawah aku tidak menemukan Ibuku
"Bu..... Arya sudah siap," teriakku sambil duduk di kursi ruang keluarga
"Ibu di kamar tamu nak, lagi nata kamar, sini sebentar" teriak Ibu keras.
"Hah males banget! Masa mau kundangan suruh beres-beres? Sudah wangi lagi," bathinku kesal.
Kulangkahkan kakiku menuju kamar tamu, kubuka pintu kamar tamu. Dan.....
Kleeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeek..........Deg janntung serasa berhenti berdenyut, semua tempat tampak begitu gelap. Kenapa kamar tamu gelap sekali, dimana Ibu sebenarnya. Klik. Kunyalakan lampu kamar tamu dan tak kutemukan keberadaan Ibu.
"Bu...... Ibu......."
"Ibu dimana to?" Teriaku memanggil Ibu.
"Di kamar tamu depan nak...." terdengar suara Ibu dari dalam kamar tamu depan.
Hadeeeeeeeh, kenapa ini telinga tadi aku dengar Ibu teriak seakan-akan dikamar tamu belakang. Hantu? Hiiiiiii....... Mungkin telingaku yang kurang jelas dalam mendengar. Di rumahku ini ada dua kamar tamu, sebenarnya cuma satu kamar tamu dan yang satunya lagi adalah kamarku sampai umur 12 tahun. Baru kemudian aku meminta kepada orang tuaku untuk dibangunkan kamar dilantai yang lebih tinggi. Bekas kamarku pun dijadikan kamar tamu, sehingga terdapat dua kamar tamu, kamar tamu depan dan kamar tamu belakang. Ku melangkah ke sumber suara dimana Ibu berada, ketika sampai didepan kamar tamu.
Asalamualaikum uuk uuk uukk aiaya yaiaya iya iya aiyaiya yaiya iyaiya. Bunyi telepon cerdasku berbunyi, kulihat sebuah nama yang tak asing lagi, Rahman.
"Bu bentar gih, mau angkat telepon dulu" teriakku, tak ada jawaban dari kamar tamu depan, aku melangkah ke ruang tamu.
"Tumben kang, Ada apa kang?"
"MMC punyamu rusak? Hahahahahahahaha.... tenang aja masih kang file-nya, memangnya tidak di simpan di komputer kang?"
"Kamu format ulang?lupa kamu pindah ke-D (baca Drive D)"
"Oke oke kang, besok ya aku mau mengantar Ibu kundangan dulu" klek... suara telepon cerdasku pertanda aku menutup telepon. Ada-ada saja kang Rahman, format ulang komputer sampai lupa pindahin semua file-file dari Drive C ke Drive yang lain. Membuat hatiku tertawa terpingkal-pingkal. Dengan masih menahan geli karena ulah kang Rahman yang 'menangis' sambil meneleponku hanya gara-gara file video panas, aku melangkah balik menuju kamar tamu depan. Dan....
Kamar yang terang tampak beberapa poster Batman, Superman, Robo Cop masih tertempel di dinding kamar ini, kamarku ketika aku masih berusia belia. Susunan kamar masih tampak sama dengan yang dulu, hanya saja kesan anak kecil sudah disulap menjadi kamar untuk orang dewasa. Sinar lampu yang terang berwarna putih membuat seisi kamar ini tampak begitu jelas. Pandanganku yang semula menelusuri kamar ini tertahan, terhenti pada sebuah pemandangan. Kulihat seorang wanita paruh baya nan Ayu, cantik berpakaian kebaya warna putih, ya dia Ibuku. Wanita dengan tinggi tubuhnya kira-kira 165 cm. Aku bisa memperkirakan tinggi tubuh ibuku karena ketika aku berada disamping Ibu, tinggi Ibu hanya sebatas tengah-tengah leherku. Pandanganku semakin berkeliling, balutan jarit warna coklat bermotif batik tulis pada bagian bawahnya sangat serasi dengan kebaya putih yang membungkus tubuh wanita. Riasan yang sederhana, tanpa sanggul hanya rambut yang digelung kebelakang hingga membuat leher jenjang indah itu tak tertutup rambut. Tampak sedikit rambutnya terurai kedepan menutupi sedkit wajah putih cantiknya. Kulitnya yang putih serasi dengan apa yang dipakai oleh wanita yang berada dihadapanku.
Wanita dengan wajah sendu itu kemudian berdiri, secara perlahan layaknya adegan slow motion wanita itu mendekat ke arahku. Dengan senyuman nan elok kepadaku, Ibu semakin dekat. Dengan jarak kurang dari 1000 milimeter, Ibu mengulurkan jari manis tangan kirinya. Tampak cahaya di wajahnya yang berbalutkan sinar kebahagiaan dan kasih sayang. Terpancar cinta seorang wanita kepada laki-laki.
"Ibu menunggumu terlalu lama."
"Sudah membeli cincin yang Ibu inginkan?" Suara yang lembuuuuuuuut sekali berbeda sekali dari yang pagi meluncur dari bibir indah bergincu tipis berwarna merah jambu.
Aku masih terdiam, melihatnya membuatku masih tertegun dengan apa yag aku lihat. Kecantikan khas dari daerah tempat tinggalku dengan sedikit tambahan kecantikan perpaduan dari negara lain.
"Naaaak...." suara lembut itu kembali mengalir dari bibir merah jambu itu.
"Ibu.... Ayu banget (cantik sekali)" kataku lirih, hanya dibalas dengan senyuman Ibu kepadaku.
"Mana?" lanjut Ibuku.
Kuambil kotak kaca yang berisikan cincin yang diinginkan Ibuku, sama persis dengan gambar yang diberikan kepadaku. Ketika aku mengeluarkan cincin itu, ibu semakin mendekat dan mengulurkan jari manis tangan kirinya kepadaku. Terasa sedikit aroma wangi parfum yang khas dari bunga melati dengan sedikit wangi dari bunga yang lain, entah bunga apa itu.
"Coba nak kau pakaikan cincin itu kejari Ibu nak" lembut suara itu kembali mengalir, suara yang seakan-akan telah di bubuhi pelembut pakaian.
Mendengar perintah Ibu aku langsung membuka kotak cincin pesanan Ibu. Kuambil dengan kedua jariku. Dengan sedikit gugup dan sisanya adalah sangat gugup, aku kemudian memakaikannya. Perasaan yang sangat gugup sekali hingga ketika aku memegang tangan itu serasa terpeleset berkali-kali walau pada akhirnya terpasang. Jelas saja, aku tidak pernah melihat Ibu secantik malam ini dan sangat berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Dan hap, cincin itu terpasang tapi dan dengan amat sangat tiba-tiba kulihat ada air yang keluar dari matanya turun deras seperti terpeleset karena mungkin sangat halusnya pipi Ibu .
ns216.73.217.151da2


